Anda di halaman 1dari 10

COMPANY ANALISYS PT KERETA API INDONESIA

This entry was posted on June 8, 2010, in Paper. Bookmark the permalink. 4 Comments

COMPANY ANALISYS

PT KERETA API INDONESIA

______________________________________________________________________________

1. 1. PENDAHULUAN

Sistem transportasi di Indonesia ada tiga jenis bidang transportasi yaitu transportasi darat,
transportasi laut dan transportasi udara. Kereta api merupakan salah satu transportasi masal yang
tertua di Indonesia. Tujuan penyelenggaraan perkerataapian nasionala adalah untuk
memperlancar perpindahan orang atau barang secara masal, menunjang pemerataan pertumbuhan
ekonomi, stabilitas serta sebagai pendorong dan penggerak pembangunan nasional. Dengan
demikian, terdapat harapan besar terhadap peran dan fungsi perkeretaapian nasional dalam
sistem pembangunan nasional maupun untuk pelayanan umum kepada masyarakat. Akan tetapi
masih banyak permasalahan ataupun tantangan yang masih dihadapi perkeretaapaian nasional
untuk mewujudkan harapan yang dibebankan pada perkeretaapian nasional tersebut. Undang-
undang No. 13 Tahun 1992 tentang Perkeretaapian mengamanatkan agar perkeretaapian di
Indonesia diselenggarakan berdasarkan asas manfaat, adil dan merata, keseimbangan
kepentingan umum, keterpaduan dan percaya diri sendiri. Penyelenggaraan perkeretaapian
nasional dituntut agar dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya untuk mencapai sasaran
pembangunan nasional. Pelayanan kereta api juga diharapkan dapat memberikan pelayanan
terbaik kepada masyarakat secara adil dan merata, serta manfaat yang seimbang untuk semua
pihak bagi operator maupun pengguna jasa kereta api. Keseimbangan dalam kepentingan umum,
berarti pelayanan tidak hanya memperhatikan kepentingan komersial, ataupun hanya melayani
sebagian golongan masyarakat tertentu saja, tetapi juga bagi pelayanan umum dan semua
golongan masyarakat. Keterpaduan penyelenggaraan kereta api berarti terjadi sinergi dan
keserasian terhadap pembangunan nasional, pengembangan wilayah, pengembangan sektor-
sektor lain serta keterpaduan dengan sistem transportasi secara antarmoda (jasa transportasi
kereta api dengan jasa transportasi lain seperti bis, kapal laut, pesawat dll) dan intermoda (PT.
Kereta Api di Indonesia). Percaya diri sendiri berarti ada kemandirian dan keberlanjutan
(sustainability) dalam sistem penyelenggaraan yang didukung oleh pengembangan
kelembagaan, sumber daya serta terjaga keseimbangan dan kualitas lingkungan. Sustainability
tersebut dapat dilihat dari aspek lingkungan, teknologi, Sumber Daya Manusia, finansial dan
Ekonomi.

Setiap organisasi atau instansi dalam melaksanakan program diarahkan selalu berdaya guna
mencapai tujuannya. Salah satu faktor kelacaran tujuan suatu perusahaan adalah
mengidentifikasi dan mengukur kinerjanya. Ketatnya persaingan bisnis saat ini menyebabkan
perusahaan berusaha semaksimal mungkin mengoptimasi proses bisnis yang ada di dalam
organisasi. Analisis proses bisnis merupakan salah satu alat untuk mengevaluasi dan melakukan
perbaikan atas proses bisnis. Melalui analisis proses bisnis maka perusahaan dapat memutuskan
proses mana yang dapat dikurangi, diserahkan ke pihak luar, dihilangkan sama sekali atau
ditingkatkan.

Tahapan awal dalam menganalisis proses bisnis adalah menggambarkan proses bisnis tersebut.
Agar proses bisnis ini dapat dikomunikasikan dengan mudah ke semua pihak yang terkait maka
diperlukan teknik analisis bisnis yang praktis tetapi cukup representatif mewakili proses yang
sebenarnya khususnya bagi PT. Kereta Api.

1.1 Profil Perusahaan

1. a. Sejarah Perusahaan

Kehadiran kereta api di Indonesia ditandai dengan pencangkulan pertama pembangunan jalan
kereta api di desa Kemijen Jum’at tanggal 17 Juni 1864 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda,
Mr. L.A.J Baron Sloet Van Den Beele. Pembangunan diprakarsai oleh “Naamlooze Venootschap
Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij” (NV. NISM) yang dipimpin oleh Ir. J.P de
Bordes dari Kemijen menuju desa Tanggung (26 Km) dengan lebar sepur 1435 mm. Ruas jalan
ini dibuka untuk angkutan umum pada Hari Sabtu, 10 Agustus 1867.

Keberhasilan perusahaan swasta, NV. NISM membangun jalan KA antara Kemijen hingga
Tanggung, yang kemudian pada tanggal 10 Februari 1870 dapat menghubungkan kota Semarang
hingga Surakarta sepanjang (110 Km), akhir-nya mendorong minat investor untuk membangun
jalan KA didaerah lainnya. Tidak mengherankan, kalau pertumbuhan panjang jalan rel antara
1864 – 1900 tumbuh dengan pesat. Kalau tahun 1867 baru 25 km, tahun 1870 menjadi 110 km,
tahun 1880 mencapai 405 km, tahun 1890 menjadi 1.427 km dan pada tahun 1900 menjadi 3.338
km.

Selain di Jawa, pembangunan jalan KA juga dilakukan di Aceh (1874), Sumatera Utara (1886),
Sumatera Barat (1891), Sumatera Selatan (1914), bahkan tahun 1922 di Sulawasi juga telah
dibangun jalan KA sepanjang 47 Km antara Makasar – Takalar, yang pengoperasiannya
dilakukan tanggal 1 Juli 1923, sisanya Ujungpandang – Maros belum sempat diselesaikan.
Sedangkan di Kalimantan, meskipun belum sempat dibangun, studi jalan KA Pontianak –
Sambas (220 Km) sudah diselesaikan. Demikian juga di pulau Bali dan Lombok, juga pernah
dilakukan studi pembangunan jalan KA.

Sampai dengan tahun 1939, panjang jalan KA di Indonesia mencapai 6.811 km. Tetapi, pada
tahun 1950 panjangnya berkurang menjadi 5.910 km, kurang lebih 901 km raib, yang
diperkirakan karena dibongkar semasa pendudukan Jepang dan diangkut ke Burma untuk
pembangunan jalan KA disana.

Jenis jalan rel kereta api di Indonesia semula dibedakan dengan lebar sepur 1.067 mm; 750 mm
(di Aceh) dan 600 mm dibeberapa lintas cabang dan tram kota. Jalan rel yang dibongkar semasa
pendudukan Jepang (1942 – 1943) sepanjang 473 km, sedangkan jalan KA yang dibangun
semasa pendudukan Jepang adalah 83 km antara Bayah hingga Cikara dan 220 km antara Muaro
hingga Pekanbaru. Ironisnya, dengan teknologi yang seadanya, jalan kereta api Muaro –
Pekanbaru diprogramkan selesai pembangunannya selama 15 bulan yang memperkerjakan
27.500 orang, 25.000 diantaranya adalah Romusha. Jalan yang melintasi rawa-rawa, perbukitan,
serta sungai yang deras arusnya ini, banyak menelan korban yang makamnya bertebaran
sepanjang Muaro – Pekanbaru.

Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, karyawan


perusahaan kereta api yang tergabung dalam “Angkatan Moeda Kereta Api” (AMKA)
mengambil alih kekuasaan perkeretaapian dari pihak Jepang. Peristiwa bersejarah yang terjadi
pada tanggal 28 September 1945, pembacaan pernyataan sikap oleh Ismangil dan sejumlah
anggota AMKA lainnya, menegaskan bahwa mulai tanggal 28 September 1945 kekuasaan
perkeretaapian berada ditangan bangsa Indonesia. Orang Jepang tidak diperkenankan lagi
campur tangan dengan urusan perkeretaapian di Indonesia. Inilah yang melandasi ditetapkannya
28 September 1945 sebagai Hari Kereta Api di Indonesia, serta dibentuknya “Djawatan Kereta
Api Republik Indonesia” (DKARI).

1. b. Visi dan Misi

Visi Perusahaan :

Menjadi penyedia jasa perkeretaapian terbaik yang fokus pada pelayanan pelanggan dan
memenuhi harapan stakeholders.

Misi Perusahaan :

Menyelenggarakan bisnis perkeretaapian dan bisnis usaha penunjangnya, melalui praktek bisnis
dan model organisasi terbaik untuk memberikan nilai tambah yang tinggi bagi stakeholders dan
kelestarian lingkungan berdasarkan 4 pilar utama : keselamatan, ketepatan waktu, pelayanan dan
kenyamanan.

1. c. Produk

PT Kereta Api Indonesia memiliki beberapa produk unggulan, yaitu :

1) Kereta Api Penumpang

Yang terbagi menjadi 3 kelas ( Eksekutif, Bisnis dan Ekonomi)

2) Kereta Wisata

Untuk menunjang kepariwisataan, PT. Kereta Api (Persero) memberikan pelayanan carter kereta
khusus wisata juga berbagai keperluan seperti : rapat, pesta pernikahan, ulang tahun, dsb di atas
Kereta Api menuju berbagai kota tujuan.

3) Kereta Barang
Kereta api khusus yang disesuaikan dengan spesifikasi produk, yang mana PT. Kereta Api
(Persero) memiliki gerbong yang digunakan untuk batu bara, pulp, Crude Pal oil, BBM, Peti
Kemas, Parcel BHP, Over Night Service, Semen.

4) Pengusahaan Aset

Disamping Angkutan Penumpang dan Angkutan Barang, PT. Kereta Api (Persero) juga
memberdayakan aset non produksi untuk dikomersialkan ke pihak eksternal. Beberapa produk
persewaan aset non produksi adalah sebagai berikut :

Wilayah stasiun dan sarana :

 Persewaan Gudang
 Persewaan gedung/ ruangan untuk Retail, Restaurant, Mini Market, Bookstrore, health
centre, ATM dll
 Periklanan di lingkungan stasiun (Billboard, TV Iklan, Iklan Megatron dll)
 Perparkiran (Parkir umum, Parkir Taxi, Parkir Inap, dan Parkir moda transportasi lain)
 Persewaan Kereta Makan
 Periklanan di kereta (bodyprinting, iklan interior, iklan TV dll)

Wilayah Right of Way (ROW) yaitu lahan sepanjang kiri kanan jalur kereta api dan lahan diluar
stasiun :

 Persewaan lahan ROW untuk utilitas: kabel listrik, kabel telekomunikasi, baik yang
ditanam/di atas maupun crossing.
 Periklanan di sepanjang ROW, perlintasan kereta api, jembatan (flyover kereta api) dan
di lahan kereta api yang lain.
 Persewaan tanah untuk usaha
 Persewaan Gudang
 Persewaan Gedung/Bangunan
 Persewaan Tower

1. d. Aset Perusahaan

PT. Kereta Api Indonesia memiliki harta lancar dan harta tetap, adapun asset bergerak di luar
kendaraan dinas yaitu :

Tabel 1

Harta Lancar

PT Kereta Api Indonesia Tahun per Tahun 2009

Tahun 2009
Uraian
Program Realisasi
Siap Operasi (SO)
Lokomotif 335 352
KRD 55 55
KRL 340 344
Kereta Raya 1.224 1.302
Kereta Lokal 12 11
Gerbong 3.551 3.554

Sedangkan Harta Tetap Non Produksi diluar bangunan yang telah jadi atau rumah dinas yang
diurai menjadi :

 Tanah Pemerintah
 Tanah PT. Kereta Api Indonesia
o Tanah Potensial
o Tanah Terkelola

1. e. Struktur Organisasi

Struktur organisasi PT Kereta Api (Persero) di tingkat Pusat terdapat Board of Directors terdiri
dari seorang Direktur Utama dan 5 Direktur lainnya, yang mengepalai Direktorat. Dimana setiap
Direktorat dibantu oleh beberapa Kepala Sub Direktorat atau Kepala Bidang.

Selain itu, juga terdapat dua Pusat, yaitu Pusat Keselamatan & Manajemen Resiko dan Pusat
Perencanaan & Pengembangan, serta tiga Divisi Tingkat Pusat, yaitu Divisi Sarana, Divisi
Pelatihan dan Divisi Properti.

Sedangkan di tingkat Daerah, terdapat 9 Daerah Operasi (DAOP) di Jawa serta 3 Divisi Regional
(DIVRE) Selain itu, PT Kereta Api juga memiliki 3 Anak Perusahaan, yaitu PT Reska, PT
Railink dan PT. KA Komuter JABODETABEK.

Gambar 1

Struktur Organisasi

PT Kereta Api Indonesia

1.2 Strategi PT. Kereta Api Indonesia

Tiga sasaran utama yang dikembangkan PT Kereta Api dalam upaya penerapan Sistem Informasi
dan Teknologi Informasi, yaitu :

 Memperbaiki efisiensi kerja dengan melakukan otomasi berbagai proses yang mengelola
informasi.
 Meningkatkan keefektifan manajemen dengan memuaskan kebutuhan informasi guna
pengambilan keputusan.
 Memperbaiki daya saing atau meningkatkan keunggulan kompetitif organisasi dengan
merubah gaya dan cara bertransaksi

1. 2. ANALISA

2.1. Analisa Produk Layanan Ticketing

PT Kereta Api Indonesia memiliki beberapa produk layanan dalam hal ticketing, diantaranya :

1. Pembelian ticket di setiap counter stasiun


2. Pembelian ticket di travel agent (untuk kelas Eksekutif)
3. Pembelian ticket melalui Call Center
4. Pembelian ticket secara online
5. Pembelian ticket melalui ATM

Permasalahan yang dihadapi PT. Kereta Api Indonesia saat ini tidak mudah diselesaikan. PT.
Kereta Api Indonesia menghadapi permasalahan yang serius akibat terjadinya berbagai
akumulasi permasalahan baik dari dalam maupun luar sistem. Selain itu PT. Kereta Api
Indonesia juga menghadapi berbagai tantangan perubahan lingkungan eksternal yang
berkembang semakin kompleks dan berlangsung cepat. Di sisi lain, pesatnya perubahan
lingkungan eksternal dan perkembangan global baik dari aspek teknologi, ekonomi, sistem
informasi, dan desentralisasi, menyebabkan semakin tingginya tuntutan terhadap akuntabilitas,
efisiensi dan kualitas pelayanan. Masalah kelembagaan yang dihadapi PT. Kereta Api Indonesia
terutama pada sistem birokrasi diantaranya banyaknya instansi pemerintahan yang terlibat. Dari
aspek finansial dan ekonomi, masalah PT. Kereta Api Indonesia umumnya sama yang dihadapi
oleh sistem perkeretaapian negara lain. Kendala tersebut pada umumnya terdiri dari defisit
pendanaan, kebutuhan subsidi yang semakin besar, serta kebutuhan biaya investasi yang besar.

2.2. Analisa Kompetitor

Pada dasarnya strategi itu dibuat karena adanya pesaing. Tujuan dari dikembangkannya
teknologi informasi adalah untuk meningkatkan kinerja perusahaan sehingga dapat menghasilkan
produk atau jasa yang lebih murah, lebih baik, dan lebih cepat dibandingkan dengan produk atau
jasa yang dihasilkan kompetitor. Sehingga jelas bahwa tujuan diadakannya analisa terhadap para
pesaing bisnis adalah untuk melihat seberapa murah, seberapa baik, dan seberapa cepat produk
dan jasa yang ditawarkan perusahaan lain sehingga hal tersebut dapat menjadi patokan target dari
PT. Kereta Api Indonesia.

Pesaing PT. Kereta Api dari sisi moda transportasi masal, kecepatan, kenyamanan, pelayanan
dan ketepatan waktu, yaitu :

 Bis Antar Kota Antar Provinsi


 Mobil Sewaan
 Pesawat Terbang

1. 3. PERANGKAT ANALISIS
Analisis SWOT

Pemindaian internal dan lingkungan eksternal merupakan bagian penting dari proses
perencanaan strategis. Faktor-faktor lingkungan internal perusahaan biasanya dapat
diklasifikasikan sebagai kekuatan atau kelemahan, dan bagian luar dari perusahaan dapat
diklasifikasikan sebagai peluang atau ancaman. Analisis lingkungan strategis ini disebut sebagai
analisis SWOT.

Para analisis SWOT memberikan informasi dan membantu perusahaan dalam mengolah sumber
daya dan kemampuan untuk lingkungan yang kompetitif di mana ia beroperasi. Dengan
demikian, perumusan strategi dan seleksi sangatlah penting. Diagram berikut menunjukkan
bagaimana analisis SWOT tepat sebagai alat pindai lingkungan.

1. 1. Strength (Kekuatan)

Sudah berbentuk PT, dan bukan PERUMKA lagi, artinya di sini PT. Kereta Api Indonesia
seharusnya sudah lebih profesional dibandingkan sewaktu PERUMKA dulu

 Monopoli di bidang Perkeretaapian


 Milik Pemerintah
 Jaringan Jalan Akses yang Luas
 Memiliki sarana yang tidak dimiliki oleh kompetitor lain
 Memiliki prasarana sinyal, telekomunikasi dan listrik yang tergolong baik
 Memiliki aset lain berupa TANAH PEMERINTAH, TANAH PT. KA, TANAH
POTENSIAL, TANAH TERKELOLA
 Biaya transportasi murah, relatif cepat dan bebas macet

1. 2. WEAKNESS (Kelemahan)

 Budaya kerja masih ada turunan dari budaya kerja Perumka, sehingga belum begitu
profesional
 Informasi dan sosialisasi kepada masyarakat tentang produk dan jasa layanan PT.KAI
 SDM kurang profesional, struktur pegawai dari tingkat pendidikan masih banyak yang
berlatar belakang SD
 Masih ada kereta api tua yang masih beroperasi menjadikan rawan kecelakaan
 Manajemen tidak profesional
 Fasilitas layanan yang kurang memadai
 Kurangnya tempat akses untuk pembelian tiket kerata api
 Kesan negatif tentang restorasi kerata api
 Tidak adanya jaminan ketepatan waktu

1. 3. Opportunities (Peluang)

 Jumlah penduduk Indonesia yang besar, besar pula kesempatan untuk menarik mereka
menggunakan kerata api
 Wilayah Indonesia yang luas, ekspansi membuat jalur baru
 Mengoptimalkan kereta api wisata
 Meningkatkan kenyamanan dan rasa aman berkereta api memberikan kesempatan
masyarakat untuk menggunakan jasa kerata api untuk transportasinya
 Mengoptimalkan gerbong kereta api menjadi tempat yang nyaman selama di perjalanan
 Ticketing on line

1. 4. Threats (Tantangan)

 Munculnya pemadu moda yang lebih nyaman, murah dan cepat


 Penggunaan kendaraan pribadi, baik kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat
yang semakin tinggi
 Menciptakan kereta api dengan jarak tempuh yang pendek, namun aman, nyaman dan
terjangkau.

The SWOT Matrix

Sebuah perusahaan seharusnya tidak hanya mengejar peluang yang menguntungkan.Sebaliknya,


dapat mengembangkan keunggulan kompetitif dengan mengidentifikasi sebuah perusahaan
kesesuaian antara kekuatan dan kesempatan mendatang. Dalam beberapa kasus, perusahaan
dapat mengatasi kelemahan dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengejar peluang usaha
yang lebih baik di masa yang akan datang. Untuk mengembangkan strategi dengan
mempertimbangkan analisis SWOT, dapat dilihat dari matrik di bawah ini :

Strategi S – O : mengejar peluang-peluang yang tepat untuk kekuatan perusahaan.

Strategi W – O : mengatasi kelemahan untuk mengejar peluang.

Strategi S – T : cara mengidentifikasi bahwa perusahaan dapat menggunakan kekuatan untuk

mengurangi kerentanan terhadap ancaman eksternal.

Strategi W – T : rencana membangun ketahanan untuk mencegah kelemahan perusahaan


dari

kerentanan terhadap ancaman eksternal.


SAP ERP

SAP SE (/ɛseɪˈpi/) (Systemanalyse und Programmentwicklung; Systems, Applications &


Products in Data Processing) is a German multinational software corporation that makes
enterprise software to manage business operations and customer relations. SAP is headquartered
in Walldorf, Baden-Württemberg, Germany, with regional offices in 130 countries.[2] The
company has over 293,500 customers in 190 countries.[2] The company is a component of the
Euro Stoxx 50 stock market index.[3]

Penggunaan SAP pada PT. Kereta Api Indonesia (PT.KAI) Penggunaan SAP pada PT. Kereta Api Indonesia
(PT.KAI) Al-Qodri Adi W F0311008 Bayu Bintoro S F0311027 Denny Bayu Y F0311038 Dibyo Gani W
F0311041 PROFIL PERUSAHAAN PT.KAI (Persero) adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang
menyelenggarakan jasa angkutan Kereta api yang meliputi angkutan penumpang dan barang. Pada akhir
Maret 2007, DPR mengesahkan revisi UU No.13/1992 yang menegaskan bahwa investor swasta maupun
pemerintah daerah dìberi kesempatan untuk mengelola jasa angkutan Kereta api di Indonesia.
Penggunaan SAP PT.SAP Indonesia mengumumkan bahwa PT.Kereta Api Indonesia, perusahaan kereta
api terbesar di Indonesia, secara resmi mengimplementasikan solusi SAP ERP (Enterprise Resource
Planning). Program SAP ini implementasinya dimulai pada tanggal 1 Juni 2010, dari hal teknis hingga
yang terkait masalah sumber daya manusia untuk mengoperasikan program. Pada tanggal 1 Januari
2011, Sistem SAP ERP telah go-live. Solusi SAP yang digunakan PT.KAI adalah MySAP CRM (Customer
Resource Management), sebuah strategi bisnis yang berbasis konsumen. Mereka juga mengadopsi
menggunakan dua jenis modul SAP. FI (Finance): mengurus segala hal yang berkaitan dengan keuangan
perusahaan. HR (Human Resource): yang berguna untuk mengurus segala hal yang berkaitan dengan
karyawan seperti penggajian, manajemen waktu, dan manajemen personalia. SAP ERP Sistem ERP
adalah sebuah aplikasi yang dapat mendukung transaksi atau operasi sehari-hari untuk pengelolaan
sumber daya sebuah perusahaan, seperti dana, manusia, mesin, suku cadang, waktu, material dan
kapasitas. ERP MRP II MRP Sistem ERP secara modular biasanya menangani proses manufaktur, logistik,
distribusi, persediaan (inventory), pengapalan, invoice dan akunting perusahaan. Keunggulan SAP :
Sebagai sebuah aplikasi ERP, SAP tergolong sangat lengkap karena terdiri dari berbagai macam modul
yang dapat memenuhi kebutuhan pengguna yang bergerak pada berbagai macam bidang usaha.
Implementasi SAP terbukti secara signifikan dapat mengurangi proses administratif, mendukung cost
reduction, dan meningkatkan produktifitas. Hambatan memperoleh informasi dapat dihilangkan karena
informasi yang ada bukan lagi milik unit kerja melainkan milik perusahaan. Kelemahan SAP : Untuk
mendapatkan keuntungan penuh dari penggunaan SAP harus terjadi penggantian 90% hingga 100%
teknologi yang ada sebelumnya. Hal ini menyebabkan berubahnya budaya kerja yang telah ada
sebelumnya. Penggantian system memerlukan biaya yang tinggi dan waktu implementasi bisa
berkepanjangan. Latar Belakang Penggunaan SAP Sistem yang ada dirasa belum mampu mencukupi
kebutuhan pelanggan. Sistem yang ada tidak mampu mengelola CRM (Customer Relation Management).
Sistem yang ada tidak mumpuni dalam pengelolaan aset, keuangan, dan sumber daya manusia yang
tersedia. Kinerja perusahaan yang perlu ditingkatkan dengan penggunaan sistem terbaru. Tujuan
Penggunaan SAP Menciptakan sebuah platform tunggal yang terinterkoneksi dengan keuangan, sumber
daya manusia, dan kegiatan operasional PT.KAI lainnya. Menentukan apakah sebuah rute yang dilalui
oleh kereta api bisa ditambah frekuensinya atau bahkan bisa dihapuskan. Meningkatkan pengawasan
dalam kegiatan operasional yang dilakukan bersama-sama. Merencanakan, melaksanakan, dan
memonitor rolling stock, serta kegiatan pemeliharaan terhadap infrastruktur yang dimiliki agar menjadi
lebih baik. Memberikan pelayanan yang terbaik bagi pengguna jasa kereta api. Kendala dalam
Penerapan SAP Sumber daya yang mampu mengoperasikan sistem baru karena apabila menggunakan
SAP, sistem lama akan diganti dengan presentasi sebesar 90 hingga 100%. Proses pembelajaran antar
cabang yang berbeda-beda. Misalkan apabila kantor pusat sudah mampu mengoperasikan sistem,
kantor cabang atau DAOP lainnya belum tentu sudah mahir. Tenggat waktu yang relatif singkat sekitar 6
bulan untuk pengoperasian total. Diperkenalkan bulan Juni 2010 dan mulai aktif sepenuhnya pada awal
tahun 2011. Solusi Meminimalisir Kendala Demi mendapatkan informasi yang komprehensif mengenai
implementasi System Application and Product (SAP) yang akan digunakan oleh PT. Kereta Api Indonesia
(Persero), beberapa unit Kantor Pusat, yang diantaranya unit Sistem Informasi, Kepegawaian dan
Keuangan, melakukan studi banding (benchmarking) ke PT. XL Axiata. Benchmarking yang dilakukan
pada Selasa (15/6) diikuti oleh 26 orang, langsung menuju ke gedung Graha XL yang bertempat di
kawasan Mega Kuningan, Jakarta Kunjungan benchmarking ke PT. XL Axiata selain dikarenakan sudah
terjalin lama hubungan baik kerjasama di kedua belah pihak, juga terlebih PT. XL Axiata telah
menggunakan SAP sejak 14 tahun yang lalu Kegiatan yang dimulai dari pukul 10 pagi hingga empat sore,
diisi oleh berbagai macam presentasi dari pihak PT. XL Axiata mengenai implementasi SAP. Contoh
Penggunaan SAP ERP berbasis CRM PT. Kereta Api mengganti sistem pemesanan tiket perjalanan KA
yang dilakukan secara bertahap mulai awal November 2011 dan telah dioperasikan penuh pada 1
Januari 2012. Sistem online ticketing akan diganti dengan sistem baru yang berbasis web dengan
nama Rail Ticketing System. Proses migrasi atau perpindahan ini dilakukan secara bertahap dan
dioperasikan penuh pada 1 Januari 2012 Pemesanan tiket, selain dipesan melalui stasiun, juga dapat
dilakukan melalui layanan PT. Pos Indonesia, Contact Center 121, drive thru, vending
machine, mobile phone (layanan telepon),mobile ticketing (mobil penjualan tiket), agen, Indomaret,
City Terminal Online System (Citos), dan internet. PT.KAI menggunakan sistem tiket tradisional yang
dikembangkan oleh internal PT.KAI yang kurang dapat mengakomodasi kebutuhan bisnis angkutan
penumpang kereta api di masa depan. Arsitektur sistem tiket yang lama memiliki kelemahan yang cukup
menonjol, antara lain : Reabilitas sistem yang kurang baik, Kurang mampu mengadopsi perkembangan
teknologi, serta Tidak dapat dimodifikasi untuk memenuhi perkembangan bisnis. Proyek Rail Ticketing
System (RTS) yang telah dijalankan oleh PT.Kai memiliki beberapa tujuan, antara lain : Memberikan
layanan tambahan kepada customer dengan memperbanyak channel dan memberikan pilihan opsi
mode pembayaran; Optimalisasi penjualan tiket penumpang dengan adanya kemudahan manajemen
tarif; Mempermudah aksesibilitas data yang terintegrasi dan real time untuk mendukung keputusan
manajemen Meningkatkan effektivitas dan effisiensi dalam pengelolaan sistem Ticketing Mengakomodir
kebutuhan pengembangan system ticketing saat ini dan di masa yang akan datang