Anda di halaman 1dari 4

JENIS JENIS PENELITAN

Jenis Penelitian Berdasarkan Pendekatan

Berdasarkan pendekatan, secara garis besar dibedakan dua macam penelitian, yaitu

penelitian kuantitatif dan kualitatif. Keduanya memiliki asumsi, karakteristik dan

prosedur penelitian yang berbeda (Sugiono, 2005).

a. Asumsi tentang realita

Penelitian kuantitatif didasarkan atas konsep positivism yang bertolak dari

asumsi bahwa realita bersifat tunggal, fixed, stabil, lepas dari kepercayaan dan

perasaan-perasaan individual. Realita terdiri atas bagian dan unsure yang

terpisah satu sama lain dan dapat diukur dengan menggunakan instrument.

Penelitian kualitatif didasari oleh konsep kontruktivismie, yang memiliki

pandangan bahwa realita bersifat jamak, menyeluruh dan merupakan satu

kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisah. Realita bersifat terbuka, kontekstual,

secara sosial meliputi persepsi dan pandangan-pandangan individu dan

kolektif, diteliti dengan menggunakan manusia sebagai istrument.

b. Tujuan penelitian

Penelitian kuantitatif bertujuan mencari hubungan dan menjelaskan sebab-

sebab perubahan dalam fakta-fakta sosial yang terukur. Penelitian kualitatif

lebih diarahkan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari perspektif

partisipan. Ini diperoleh melalui pengamatan partisipatif dalam kehidupan

orang-orang yang menjadi partisipan.

c. Metode dan proses penelitian


Penelitian kuantitatif memiliki serangkaian langkah-langkah atau prosedur

baku yang menjadi pegangan para peneliti. Penelitian kualitatif menggunakan

strategi dan prosedur penelitian yang sangat fleksibel. Penelitian kualitatif

menggunakan rancangan penelitian terbuka (emergent design) yang

disempurnakan selama pengumpulan data. Penelitian kuantitatif

menggunakan rancangan penelitian tertutup, sudah tersusun sempurna sejak

awal.

d. Kajian khas

Penelitian kuantitatif menggunakan rancangan penelitian eksperimental atau

korelasional sebagai kajian khasnya (protypical studies) untuk mengurangi

kekeliruian, bias, variabel-variabel ekstraneus. Penelitian kualitatif

menggunakan kajian etnografis untuk memahami keragaman perspektif dalam

situasi yang diteliti, sebagai ciri khasnya. Dalam penelitian kuantitatif bias

dan subjektivitas sangat dihindari, sedang dalam penelitian kualitatif hal-hal

subjektif termasuk yang diperhitungkan dalam pengumpulan dan analisis data.

e. Peranan peneliti

Dalam penelitian kuantitatif peneliti terlepas dari objek yang diteliti, malah

dicegah jangan sampai ada hubungan atau pengaruh dari peneliti. Dalam

penelitian kualitatif peneliti lebur (immersed) dengan situasi yang diteliti.

Penelitian adalah pengumpulan data, orang yang ahli dalam memiliki

kesiapan penuh untuk memahami situasi, ia peneliti sekaligus sebagai

nstrument. Penelitian kualitatif disebut juga “penelitian subjektif” (

disciplined subjectivity) atau “penelitian reflektif “(reflexivity), peneliti


melakukan pengujian sendiri secara kritis (critical self examination) selama

proses penelitian.

f. Pentingnya konteks dalam penelitian

Penelitian kualitatif sebaliknya meyakini pengaruh situasi terhadap hal yang

dicermati. Seorang peneliti sosial tidak akan mendapat memahami prilaku

manusia tanpa memahami kerangka kehidupan dari situasi dimana orang-

orang itu berbeda. Mereka berfikir, berperasaan dan berbuat dalam konteks

kerangka kehidupannya. Penelitian kualitatif mengembangkan generalisasii

dalam kesatuan konteks. Penelitian kuantitatif dan kualitatif mempunyai

asumsi dan pijakan-pijakan filosofis dan konsep yang berbeda. Beberapa

peneliti memandang keduanya merupakan dua ekstrim yang sangat popular.

Dewasa ini beberapa ahli mempunya pandangan lain, bahwa keduanya bukan

mustahil untuk bisa dipertemukan bahkan disatukan. Perbedaan antara keduan

pendekatan bukan hal yang absolut. Para peneliti berpengalaman dapat

memadukan kedua pendekatan tersebut, yaitu penelitian kuantitatif dan

kualitatif untuk menelkiti sesuatu masalah penelitian (Sugiyono, 2005).

Jenis-jenis penelitian berdasarkan fungsinya

Secara umm penelitian mempunyai dua fungsi utama, yaitu mengembangkan ilmu

pengetahuan dan memperbaiki praktek. Pernyataan sederhana ini banyak

mengundang pertanyaan. Apakah penelitian dapat mengembangkan batang ilmu?

Bagaimana mungkin pengetahuan ilmiah dapat bersifat tidfak praktis dapat

memperbaiki praktik teknologi informasi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan hal


baru, selalu muncul terhadap fungsi penelitian. Pemehaman tentang bagaimana

penelitian berperan dalam mengembangkan pengetahuan dan memperbaiki praktek

teknologi informasi dikaitkan dengan perbedaan jenis-jenis penelitian berkenaan

dengan fungsinya. Secara umum dan mendasar dapat dibedakan tiga macam

penelitian, yaitu penelitian dasar atau basic research, penelitian terrapin atau applied

research dan penelitian evaluasi atau evaluative research ( Suwarsih, 2006).