Anda di halaman 1dari 1

Anestesi Intra-Operatif pada pasien gagal ginjal

Monitoring

Pasien dengan insufisiensi ginjal dan gagal ginjal beresiko tinggi mengalami komplikasi perioperative dan
tanda tanda vital dan prosedur operasi yang direncanakan harus dipantau dengan rutin. Pengukuran
tekanan darah dengan cuff lengan tidak dianjurkan karena terdapat resiko terjadinya thrombosis.
Tekanan darah sebaiknya diukur sepanjang operasi dengan arteri line terutama untuk pasien dengan
hipertensi tidak terkontrol.

Induksi

Pasien dengan mual, muntah dan pendarahan gastrointestinal harus menjalani induksi
dengan urutan cepat. Dosis dari obat induksi harus dikurangi untuk pasien sakit berat atau pasien yang
baru saja menjalani hemodialysis (dikarenakan hipovolemia relative setelah hemodialysis). Dosis
propofol 1-2 mg/kgBB atau etomidate 0,2-0,4 mg/kgBB sering digunakan. Pemberian opioid, Beta
Blocker( esmolol) atau lidokain dapat digunakan untuk mengurangi respon hipertensi pada saat
dilakukan pemasangan instrument jalan nafas dan intubasi. Succinylcholine digunakan untuk
memfasilitasi intubasi endotrakeal apabila pasien tidak ditemukan hiperkalemia. Sedangkan untuk
pasien dengan hyperkalemia dapat menggunakan pelumpuh otot seperti Vecuronium (0,1mg/kgBB) atau
cisatracurium (0,15 mg/kgBB), serta bisa menggunakan induksi propofol-lidokain tanpa pelumpuh otot.

Maintenance anestesi

Prinsip maintenance anestesi pada pasien gagal ginjal adalah melakukan kontrol terhadap
hipertensi seminimal mungkin. Karena peningkatan cardiac output adalah mekanisme kompensasi untuk
mendistribusikan oksigen ke jaringan pada anemia.

Anestesi volatile, propofol, fentanyl, sufentanil, alfentanil, dan remifentanil adalah pilihan
agen anestesi yang aman digunakan. Penggunakan N2O harus diwaspadai pada pasien dengan
penurunan fungsi ventrikel dan sebaiknya tidak digunakan pada pasien dengan kadar Hemoglobin
rendah (<7g/dl) untuk memaksimalkan distribusi oksigen yang merata (100%). Meperidine bukan
merupakan pilihan yang ideal pada anestesi pada gangguan ginjal karena menyebabkan akumulasi
metabolit normoperidin. Morfin boleh digunakan tapi efek jangka panjangnya harus dipertimbangkan.

Ventilasi terkontrol harus dipertimbangkan untuk pasien dengan gagal ginjal. Ventilasi
spontan yang tidak adekuat dengan kondisi hiperkarbia dalam pengaruh anestesi dapat menimbulkan
asidosis respiratorik yang akan memperberat asidemia yang sudah ada sebelumnya, depresi sirkulasi
berat dan meningkatkan konsentrasi serum kalium yang berbahaya. Sebaliknya, alkalosis respiratorik juga
merugikan karena menggeser kurva disosiasi hemoglobin ke kiri, memperberat hipokalsemi yang sudah
ada dan menurunkan aliran darah serebral.

Sumbernya morgan semua ini kk.