Anda di halaman 1dari 14

Hikmah Adzan, Keutamaan Dan Dalil Lengkap - Pada pembahasan kali

ini kami akan menjelaskan tentang Adzan. Yang meliputi hikmah dan
keutamaan adzan yang merupakan panggilan (seruan) kepada umat muslim
untuk segera meninggalkan segala macam aktifitas yang bersifat duniawi
untuk segera menghadap Allah SWT yaitu melaksanakan sholat wajib 5
waktu beserta dalilnya dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami.
Untuk lebih detailnya silahkan simak
ulasan Pengetahuanislam.com dibawah ini dengan seksama.

Hikmah Adzan

Adzan dikumandangkan sebanyak 5 kali dalam sehari. Adzan pertama kali


dikumandangkan sekitar 14 abad lalu hingga saat ini dan tak dapat
dihitung berapa juta kali adzan telah berkumandang. Dari berbagai masjid
atau mushola yang mengumandangkan adzan oleh seorang muazzin. Susul
menyusul dan saling saut-menyaut bergantian dari tempat yang satu ke
tempat yang lain. Selesai di negeri yang satu kemudian berpindah ke negeri
yang lain selama matahari masih terbit dan terbenam.

Jika kita ingin menghitung, anggaplah dalam setahun 356 hari. Jika 14
abad adalah 1.400 tahun, maka 1.400 tahun x 356 hari = 511.000 hari.
Dalam satu hari bila adzan 5x dikumandangkan. Sehingga sedikitnya adzan
telah dikumandangkan sekitar 2.555.000 kali. Jika dalam satu hari ada 1
juta muslim di dunia yang mengumandangkan adzan, jadi adzan telah
dikumandangkan kurang lebih sebanyak 2.555.000.000.000 kali.
Subhanallah

Keutamaan Adzan Dan Dalilnya


Banyak dalam riwayat dari Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang
keutamaan adzan dan muadzin (orang-orang yang menyerukan adzan),
diantaranya adalah sebagai berikut :

‫ِيَ إِذَا‬ َّ ‫طانَُ أ َ ْدبَ ََر ِلل‬


َ ‫صالََةِ نُ ْود‬ َ ‫ش ْي‬ َ ‫التَّأ ْ ِذيْنََ يَ ْس َم ََع‬، ‫ضى فَإِذَا‬
َّ ‫ض َُراطَ َولَ َهُ ال‬، ‫لَ َحتَّى‬ ََ َ‫ب إِذَا َحتَّى أ َ ْقب‬
َ َ‫ل النِِّ َدا ََء ق‬ َّ ‫أَ ْدبَر بِال‬
ََ ‫صالَةَِ ث َ َّو‬

Artinya :"Apabila diserukan adzan untuk shalat, syaitan pergi berlalu dalam

keadaan ia kentut hingga tidak mendengar adzan. Bila muadzin selesai

mengumandangkan adzan, ia datang hingga ketika diserukan iqamat ia

berlalu lagi …" (HR. Bukhari no. 608 dan Muslim no. 1267)
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu juga, ia mengabarkan sabda
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

َ‫اس يَ ْعلَ ُمَ َل ْو‬


َُ َّ‫اء فِي َما الن‬
َِ ‫ف النِِّ َد‬
َِ ِّ ‫ص‬
َّ ‫ل َوال‬ َْ َ َ‫لَ ْست َ َه ُم ْوا َعلَ ْي َِه يَ ْست َ ِه ُم ْوا أ‬
َِ ‫ن ِإ ِِ َّلَ يَ ِجدُوا لَ َْم ث ََُّم ْاْل َ َّو‬
Artinya :”Seandainya orang-orang mengetahui besarnya pahala yang

didapatkan dalam adzan dan shaf pertama kemudian mereka tidak dapat

memperolehnya kecuali dengan undian niscaya mereka rela berundi untuk

mendapatkannya…” (HR. Bukhari no. 615 dan Muslim no. 980)

Muawiyah radhiallahu ‘anhu berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah


shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

َ ‫ط َو ُلَ ْال‬
ََ‫مؤ ِ ِّذنُ ْون‬ ْ َ‫اس أ‬
َ ِ َّ‫ْال ِق َيا َم ِةَ َي ْو َمَ أ َ ْعنَاقًا الن‬

Artinya : "Para muadzin adalah orang yang paling panjang lehernya pada

hari kiamat.” (HR. Muslim no. 850)

Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu mengabarkan dari Rasulullah


shallallahu ‘alaihi wa sallam,

َ‫ل‬
َ َ‫ت َم َدى يَ ْس َم ُع‬
َِ ‫ص ْو‬ َِ ِّ‫لَ ِجنَ ْال ُم َؤ ِذ‬
َ ‫ن‬ َ ‫لَ إِ ْنسَ َو‬
َ ‫ش ْيءَ َو‬ َ ِ‫ْال ِقيَا َم َِة يَ ْو ََم لَ َهُ َش ِه ََد إ‬
َ َّ‫ل‬

Artinya : "Tidaklah jin dan manusia serta tidak ada sesuatu pun yang

mendengar suara lantunan adzan dari seorang muadzin melainkan akan

menjadi saksi kebaikan bagi si muadzin pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no.

609)

Ibnu ’Umar radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa


sallam bersabda,

َ‫طبَ ُكلَ لَ َهُ َو َي ْستَ ْغ ِف ُرَ أََِ ذَا ِن ِهَ ُم ْنت َ َهى ِل ْل ْم َؤ ِ ِّذ ِنَ يُ ْغفَ ُر‬
ْ ‫س َر‬
َ ‫َس ِم َع َهُ َو َيا ِب‬

Artinya : "Diampuni bagi muadzin pada akhir adzannya. Dan setiap yang

basah atau pun yang kering yang mendengar adzannya akan memintakan

ampun untuknya.” (HR. Ahmad 2: 136. Syaikh Ahmad Syakir berkata bahwa
sanad hadits ini shahih)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan para imam dan


muadzin,

َ‫ِللَ ْم َؤ ِذِّنِيْنََ َوا ْغ ِف َْر ْاْلَئِ ِّم َةَ أَ ْر ِش َِد اللَّ ُه َّم‬

Artinya : "Ya Allah berikan kelurusan bagi para imam dan ampunilah para

muadzin.” (HR. Abu Dawud no. 517 dan At-Tirmidzi no. 207, dishahihkan

Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 217)


Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ِ ْ َ‫امن‬
َ‫اْل َما ُم‬ ِ ‫ض‬َ َُ‫ ُمؤْ تَ َمنَ َو ْال ُم َؤ ِذِّن‬، ‫ش ََد‬
َ ‫للاُ فَأ َ ْر‬
َ َ‫ال ْم َؤ ِذِّنِيْنََ َع ِنَ َو َعفَا ْاْلَئِ ِّم َة‬

Artinya : “Imam adalah penjamin sedangkan muadzin adalah orang yang

diamanahi. Semoga Allah memberikan kelurusan kepada para imam dan

memaafkan paramuadzin.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no.1669,

dan hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah dalam

Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 239) (lihat Shahih Fiqih Sunnah, Bab

Adzan)

Itulah beberapa hikmah, keutamaan adzan dan muadzin yang sungguh


sangat luar biasa. Sebagai orang beriman, sudah selayaknya menghormati,
mengagungkan, dan memperhatikan azan karena pada hakikatnya azan
merupakan panggilan Allah SWT agar kita segera mendatangi rumah-Nya
untuk melaksanakan ibadah shalat secara berjamaah.
Hukum Menjawab Adzan Dalam Islam dan Dalilnya

Adzan merupakan bentuk panggilan kepada umat muslim yang merupakan


pengingat bahwa telah memasuki waktu sholat wajid. Islam memandang
adzan sebagai sesuatu yang wajib dilakukan sebelum melaksanakan sholat
wajib secara berjamaah sebagaimana juga hukum adzan dalam gereja .
Biasanya adzan dikumandangkan di tempat-tempat ibadah seperti masjid
atau musholah melalui pengeras suara. Dengan demikian maka umat
muslim yang ada diwilayah tersebut tidak lupa akan kewajibannya yaitu
melaksanakan sholat wajib lima waktu.

ads
Perkara azan dan keutamaan adzan serta keutamaan adzan subuh ini
juga banyak disinggung dalam hadist yang disampaikan secara langsung
oleh Rasulullah SAW. Salah satunya ialah hadist berikut ini yang berbunyi.

Beliau (Rasulullah SAW )berkata :

“Pulanglah kalian dan tinggallah bersama mereka, dan ajarilah mereka


(agama Islam) serta shalatlah kalian. Apabila datang waktu shalat, maka
hendaklah salah seorang dari kalian beradzan. Dan orang yang paling
dituakan mengimami shalat kalian”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

ْ ُْ‫لَ ي َُؤذَّن‬
‫لَ قَر َيةْ فِي ثَالَثَةْ ِمنْ َما‬ َّ ‫لَّ ال‬
ْ ‫صالَْة ُ فِي ِه ْم تُقَا ُْم َو‬ ْ ‫طانُْ َعلَي ِه ْم است َح َو ْذَ ِإ‬
َ ‫شي‬
َّ ‫أحمد رواه ال‬

“Tidak ada tiga orang di satu desa yang tidak ada adzan dan tidak
ditegakkan pada mereka shalat, kecuali setan akan memangsa mereka”.
Dengan melihat hadist diatas, maka adzan memiliki makna yang lebih
dalam dari sekedar panggilan Allah SWT. Adzan juga merupakan pelundung
dari pada godaan syetan yang terkutuk. Sebab dalam adzan terdapat
lantunan kalimat ajakan dan pujian kepada sang pencipta. Bagi umat
muslim menjawab adzan tentu merupakan bentuk amalan ketika
mendengar adzan yang memang dapat mendatangkan pahala tersendiri.
Untuk membahasnya lebih rinci maka silahkan simak pembahasan dalam
poin dibawah ini.

Hukum Menjawab Adzan Dalam Islam


Imam An Nawawi mengatakan: “Adzan dan iqamah disyariatkan
berdasarkan nash-nash syariat dan Ijma’. Dan tidak disyariatkan (adzan
dan iqamah ini) pada selain shalat lima waktu, tidak ada perselisihan
(dalam masalah ini)”

Dalam permasalahan wakti adzan semua ulama menyepakati bahwa, adzan


dan iqamah hanya diperuntukan pada saat akan masuknya waktu sholat
wajib. Diluar hal tersebut tidak ada keharusan untuk melantunkan adzan
atau iqamah. Sedangkan dalam hukum menjawab adzan sendiri terdapat
perbedaan antar ulama. Terdapat pendapat yang kemudian mewajibkan
dan hanya mensunnahkan hukum menjawab adzan. Agar lebih jelas maka
simak uraian singkat mengenai hukum menjawab adzan dalam islam.

1. Wajib
Ibnu Wahab, Mazhab Hanafi, sebagian ulama mazhab Maliki, dan mazhab
Zahiri berpendapat bahwa hukum menjawab seruan azan adalah
wajib. Imam ath-Thahawi juga menukil beberapa pendapat ulama salaf
yang menyatakan hukum menjawab seruan adzan adalah wajib. (Bada-i’
ash-Shana-i’, 1/660. Syarh Al-Kharasy alal Khalil, 1/233).

Sebagaimana Hadits Abu Said al-Khudhri radhiyallahu anhu, bahwa


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ُ‫س ِم ْعت ُ ْم ْال ُم َؤذِنَ فَقُ ْولُوا ِمثْ َل َما يَقُو ُل ْال ُم َؤ ِذن‬
َ ‫إِذَا‬

“Jika kalian mendengar seruan adzan, maka ucapkanlah sebagaimana yang


diucapkan muadzin.” (HR. Al-Bukhari, 611. Muslim, 383).

Hukum wajib menjawab adzan ini adalah bahwa seorang muslim


hendaknya tidak boleh berkata-kata atau sibuk ngobrol ketika adzan
berkumandang. Selain itu juga, seseorang juga harus berhenti dari segala
aktivitasnya seperti membaca alquran atau melakukam pekerjaan lainnya
dan fokus mendengarkan adzan saja yang di lantunkan oleh muazin.

Dalam hadist diatas juga disebutkan untuk menjawab atau mengikuti


perkataan muazin. Dalam ushul fikih jika terdapat kata perintah maka
hukumnya sama dengan wajib. Ditambah lagi tidak terdapat kata yang
menggeser hukum kepada selain hukum wajib.
2. Sunnah
Mazhab Syafi’i, Mazhab Hanbali, pendapat yang masyhur dalam mazhab
Maliki, dan sebagian ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa hukum
menjawab seruan adzan adalah sunnah, bukan wajib. Hal ini perpatokan
dalam hadist. Hadits Anas bin Malik radhiyallahu anhu berikut:

َ ‫ َوإِ هَّل أَغ‬، َ‫سك‬


َ َ‫ ف‬،‫َار‬
‫س ِم َع‬ َ ‫ فَإ ِ ْن‬، َ‫ َو َكانَ يَ ْست َِم ُع األَذَان‬،‫طلَ َع ْالفَجْ ُر‬
َ ‫ أَ ْم‬،‫س ِم َع أَذَانًا‬ ُ ‫سله َم يُ ِغ‬
َ ‫ير إِذَا‬ َ ‫صلهى هللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َ ‫َّللا‬ ِ ‫سو ُل ه‬ ُ ‫َكانَ َر‬
ْ ‫علَى ْال ِف‬
ِ‫ط َرة‬ َ :‫سله َم‬ َ ُ‫صلهى هللا‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َ ِ ‫َّللا‬
‫ه‬ ُ
‫ل‬ ‫و‬ ‫س‬
ُ ‫ر‬
َ ‫ل‬
َ ‫ا‬ َ ‫ق‬َ ‫ف‬ ، ‫ر‬
ُ ‫ب‬
َ ْ
‫ك‬ َ ‫أ‬ ُ ‫َّللا‬
‫ه‬ ، ‫ر‬
ُ ‫ب‬
َ ْ
‫ك‬ َ ‫أ‬ ُ ‫َّللا‬
‫ه‬ :ُ
‫ل‬ ‫و‬ُ ‫ق‬‫ي‬
َ ،‫َر ُج ًًل‬

“Rasulullah pernah hendak menyerang satu daerah ketika terbit fajar. Beliau
menunggu suara adzan, jika beliau mendengar suara adzan maka beliau
menahan diri. Namun jika beliau tidak mendengar, maka beliau menyerang.
Lalu beliau pun mendengar seorang laki-laki berkata (mengumandangkan
adzan), ‘Allaahu akbar, Allaahu akbar.’ Rasulullah bersabda: ‘Di atas
fithrah….’” (HR. Muslim no. 382).

Hadits Anas bin Malik tersebut sekaligus sebagai bantahan atas


argumentasi pendapat para ulama yang menganggap hukum menjawab
seruan adzan adalah wajib.

Imam asy-Syafi’I dalam kitab Al-Umm menyebutkan, Ibnu Abi Fudaik telah
berkata kepadaku, dari Ibnu Abi Dzi’b, dari Ibnu Syihab. Ia berkata,
Tsa’labah bin Abi Malik berkata kepadaku,
ْ ‫ي ْال ُخ‬
‫طبَتَي ِْن‬ ِ ‫ع َم ُر فَلَ ْم يَت َ َكله ْم أَ َح ٌد َحتهى يَ ْق‬
َ ‫ض‬ َ َ‫س َكتَ ْال ُم َؤ ِذنُ ق‬
ُ ‫ام‬ َ ‫س َعلَى ْال ِم ْنبَ ِر فَإِذَا‬ ُ ‫كَانُوا يَت َ َح هدثُونَ يَ ْو َم ْال ُج ُم َع ِة َو‬
ٌ ‫ع َم ُر َجا ِل‬
‫ع َم ُر ت َ َكله ُموا‬
ُ ‫ص ًَلة ُ َونَزَ َل‬‫ت ال ه‬ ْ ‫ِك ْلت َ ْي ِه َما فَإِذَا قَا َم‬

“Pada hari Jumat mereka (Jamaah shalat) saling berbicara ketika Umar bin
Khattab radhyallahu ‘anhu sedang duduk di Mimbar. Jika Muadzin telah
selesai adzan Umar berdiri dan tak ada seorangpun yang berbicara sampai
usai dua khutbah. Kemudian setelah shalat ditegakkan dan umar turun,
mereka saling berbicara kembali.” (Al-Umm, 1/175)

Syaikh Abdul Aziz bin Marzuq ath-Thurifi menjelaskan, “Hadits di atas


menunjukkan atas tidak adanya kewajiban menjawab dan mengikuti apa
yang dikatakan muadzin ketika ia adzan, berdasarkan perbuatan sahabat
yang meninggalkan itu dan disaksikan oleh Umar bin Khattab radhyallahu
‘anhu. (Al-Masa-il al-Muhimmah Fil Adzan wal Iqamah, Syaikh Abdul Aziz
bin Marzuq ath-Thurifi, 107).

Berdasarkan penjelasan mengenai hukum menjawab adzan yang diuraikan


di atas, maka sampailah kita kepada kesimpulan bahwa menjawah adzan
hukumnya adalah sunnah. Sebab pendapat ulama jumhur yang
mensunahkan hukum menjawab adzan lebih kuat dibanding dengan yang
mewajibkan menjawab adzan. Meakipun demikian, tentunya sebagai umat
muslim kita wajib menjunjung tinggi adab-adab keislaman. Dimana, kita
dianjurkan untuk menjawab adzan sebisanya sebagai bentuk mencari
keutamaan dalam ibadah.

Namun, jika memang kita sedang berada dalam sejumlah aktivitas dan
pekerjaan maka hendaknya kita meninggalkannya dan menyimak saat
adzan berkumandang. Jika dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk
menjawab panggilan adzan, maka anda tidak berdosa jika tidak
melakukannya. Sebab sebagaimana hukum sunnah, yakni apabila
dikerjakan mendapat pahala dan apabila jika tidak dikerjakan tidak apa-
apa. Sebaliknya jika kita mencela adzan maka niscaya azab menghina
adzan akan menimpa diri kita .

Itulah tadi, hukum menjawab adzan dalam islam. Tentunya semoga dapat
semakin meningkatkan kadar keimanan kita untuk semakin dekat kepada
sang pencipta sebagaimana kedudukan sholat dalam islam . Selain itu juga
merupakan sarana untuk semakin memperkaya diri dengan ilmu agama.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

ADZAN DAN IQAMAH

Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi

Pada edisi terdahulu, telah kami jelaskan tentang adzan dan iqamat. Yaitu
meliputi pengertian, perbedaan antara adzan dan iqamat, serta sifat dan
lafadznya, maka pada edisi kali ini, kami lanjutkan pembahasan tersebut,
yang merupakan bagian terakhir dari dua tulisan.

HUKUM DAN DISYARIATAN ADZAN


Disyariatkan adzan dan iqamah ini berdasarkan nash syariat, di antaranya
kisah Abdullah bin Zaid dan Umar bin Khaththab, sebagaimana tersebut
dalam hadits Abdullah bin Zaid yang telah kami jelaskan di depan, dan
merupakan ijma’ untuk shalat lima waktu.

Imam An Nawawi mengatakan: “Adzan dan iqamah disyariatkan


berdasarkan nash-nash syariat dan Ijma’. Dan tidak disyariatkan (adzan
dan iqamah ini) pada selain shalat lima waktu, tidak ada perselisihan
(dalam masalah ini)”.[1]

Awal disyariatkannya terjadi pada tahun pertama hijriyah. Tersebut di


dalam hadits Ibnu Umar yang berbunyi:

َْ‫صالْة َ فَ َيت َ َحيَّنُونَْ َيجت َِمعُونَْ ال َمدِينَ ْةَ قَ ِد ُموا ِحينَْ ال ُمس ِل ُمونَْ كَان‬
َّ ‫س ال‬ َْ ‫ل ذَ ِلكَْ فِي َيو ًما فَتَكَلَّ ُموا لَ َها يُنَا َدى لَي‬ َْ ‫ض ُهمْ فَقَا‬
ُ ‫َبع‬
ُ َّ
‫سا ات ِخذوا‬ ُ
ً ‫ل نَاقو‬ َْ ‫وس ِمث‬ ُ
ْ ِ ‫ارى نَاق‬ َ ‫ص‬ َّ
َ ‫ل الن‬ َ
َْ ‫ض ُهمْ َوقا‬ ً
ُ ‫ل بُوقا بَلْ بَع‬ َْ ‫ن ِمث‬ َ
ِْ ‫ل اليَ ُهو ِْد قر‬ َ َ
َْ ‫ع َم ُْر فقا‬ُ ‫ل‬ َ َ ُ ً
ْ ‫ال تَبعَثونَْ أ َو‬ ْ ‫يُنَادِي َر ُج‬
ِْ‫صالَة‬َّ ‫ل ِبال‬َْ ‫ل فَقَا‬
ُْ ‫سو‬ ُ ‫ال ِهََْ َر‬n ‫ل يَا‬ ُْ َ‫صالَْةِ فَنَا ِْد قُمْ ِبال‬
َّ ‫ِبال‬

Kaum muslimin, dahulu ketika datang ke Madinah berkumpul, lalu


memperkirakan waktu shalat, tanpa ada yang menyerunya. (Hingga) pada
suatu hari, mereka berbincang-bincang tentang hal itu. Sebagian mereka
berkata “gunakan saja lonceng seperti lonceng Nashara”. Dan sebagian
menyatakan “gunakan saja terompet seperti terompet Yahudi”. Maka Umar
berkata: “Tidakkah kalian mengangkat seseorang untuk menyeru shalat?”
Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Wahai, Bilal.
Bangun dan serulah untuk shalat.” [2]

Imam Asy Syaukani menyatakan, inilah yang paling shahih dari hadits Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam penentuan awal waktu disyariatkan
adzan [3]. Hal ini juga yang dirajihkan Imam Ibnu Hajar.[4]

Adapun hukumnya, para ulama berselisih dalam beberapa pendapat. Yang


mendekati kebenaran dari pendapat-pendapat tersebut, ialah pendapat
yang mewajibkannya, berdasarkan hadits Malik bin Al Huwairits :

ُْ‫ي أَت َيت‬ َّْ ‫ص َّلى النَّ ِب‬ َ ‫سلَّ َْم‬


َ ُ‫ال ْه‬n ‫ع َلي ِْه‬ َ ‫ِإلَى شَوقَنَا َرأَى فَلَ َّما َر ِفيقًا َر ِحي ًما َوكَانَْ لَيلَ ْةً ِعش ِرينَْ ِعن َدْهُ فَأَقَمنَا قَو ِمي ِمنْ نَفَرْ ِفي َو‬
َ
‫ل أهَا ِلينَا‬ َْ ‫صلُّوا َو َع ِل ُموهُمْ فِي ِهمْ فَ ُكونُوا ار ِجعُوا قَا‬ َ ‫ض َرتْ فَإِذَا َو‬َ ‫صالَْة ُ َح‬ َّ ‫رواه أَكبَ ُر ُكمْ َوليَ ُؤ َّم ُكمْ أ َ َح ُد ُكمْ لَ ُكمْ فَلي َُؤذِنْ ال‬
‫البخاري‬

Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama beberapa orang


dari kaumku, kemudian kami tinggal di sisinya selama 20 hari. Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang yang dermawan dan sangat lemah
lembut. Ketika Beliau melihat kerinduan kami kepada keluarga, maka
Beliau berkata : “Pulanglah kalian dan tinggallah bersama mereka, dan
ajarilah mereka (agama Islam) serta shalatlah kalian. Apabila datang waktu
shalat, maka hendaklah salah seorang dari kalian beradzan. Dan orang
yang paling dituakan mengimami shalat kalian”.[5]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

ْ ُْ‫لَ ي َُؤذَّن‬
‫لَ قَريَةْ فِي ثَالَثَةْ ِمنْ َما‬ َّ ‫طانُْ َعلَي ِهمْ است َح َو ْذَ ِإلَّْ ال‬
ْ ‫صالَْة ُ فِي ِهمْ تُقَا ُمْ َو‬ َ ‫شي‬
َّ ‫أحمد رواه ال‬

Tidak ada tiga orang di satu desa yang tidak ada adzan dan tidak
ditegakkan pada mereka shalat, kecuali setan akan memangsa mereka.[6]

Demikian pendapat yang dirajihkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Syaikh


Ibnu Al Utsaimin[7] dan Syaikh Al Albani.

Syaikh Al Albani mengatakan : “Sungguh, pendapat yang menyatakan


adzan hanyalah Sunnah jelas merupakan kesalahan. Bagaimana bisa,
padahal ia termasuk syi’ar Islam terbesar, yang jika Nabi n tidak
mendengarnya di negeri suatu kaum yang akan Beliau perangi, maka
Beliau akan memerangi mereka. Jika mendengar adzan pada mereka,
Beliau menahan diri, sebagaimana telah diriwayatkan dalam Shahihain dan
selainnya. Dan perintah adzan sudah ada dalam hadits shahih lainnya.
Padahal hukum wajib dapat ditetapkan dengan dalil yang lebih rendah dari
ini. Maka yang benar, adzan adalah fardhu kifayah, sebagaimana dirajihkan
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Fatawa (1/67-68 dan 4/20).
Bahkan juga bagi seseorang yang shalat sendirian”. [8]

Bahkan Syaikhul Islam menegaskan hukum ini dengan pernyataannya :


“Yang benar, adzan itu fardhu kifayah”.[9]

Ibnu Hazm mengomentari permasalahan ini dengan pernyataannya : “Kami


tidak mengetahui orang yang menyatakan tidak wajibnya adzan dan iqamah
(ini) memiliki hujjah. Seandainya Rasulullah tidak menghalalkan darah dan
harta suatu kaum yang Beliau tengarai dengan tidak adanya adzan pada
mereka, tentulah cukup untuk mewajibkannya”.[10]

HUKUM-HUKUM SEPUTAR ADZAN


Ada beberapa permasalahan seputar adzan yang cukup penting diketahui,
di antaranya:

1. Disunnahkan beradzan dalam keadaan berdiri.


Ibnu Al Mundzir berkata: “Para ulama yang saya hafal, (mereka) sepakat,
bahwa sunnah beradzan dengan berdiri” [11]. Hal ini sesuai dengan
perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Bilal dalam hadits
Abu Qatadah:

َ َ‫اسْ فَأَذِنْ قُمْ ِبالَ ُلْ يَا شَا َْء ِحينَْ َعلَي ُكمْ َو َر َّدهَا شَا َْء ِحينَْ أَر َوا َح ُك ْم قَب‬
ْ‫ضْ ال ْهَ ِإ َّن‬ ِ َّ‫صالَْةِ ِبالن‬
َّ ‫ِبال‬

Sesungguhnya Allah mencabut ruh-ruh kalian kapan (Dia) suka, dan


mengembalikannya kapan (Dia) suka. Wahai, Bilal! Bangun dan
beradzanlah untuk shalat. [HR Al Bukhari].

Juga disunnahkan menghadap kiblat [12]. Syaikh Al Albani menyatakan:


“Telah shahih dalil menghadap kiblat dalam adzan dari malaikat,
sebagaimana yang dilihat Abdullah bin Zaid Al Anshari dalam mimpinya”.
[13]

2. Disunnahkan beradzan di tempat yang tinggi, agar lebih keras terdengar


dalam menyampaikan adzan [14]. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits
seorang wanita dari Bani Najjar yang menyatakan:

َْ‫ل َوكَانَْ ال َمس ِج ِدْ َحو َلْ َبيتْ ْأ َط َو ِلْ ِمنْ َبيتِي كَان‬
ْ َ‫الفَج َْر َع َلي ِهْ ي َُؤذِنُْ ِبال‬

Rumahku, dahuku termasuk rumah yang tertinggi di sekitar masjid


(nabawi), dan Bilal, dulu beradzan fajar di atas rumah tersebut. [HR Abu
Dawud dan dihasankan Al Albani dalam Irwa’ Al Ghalil, hadits no. 229,
hlm. 1/246].
3. Muadzin disunnahkan memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri pada
hayya ‘ala ash shalat dan hayya ‘ala al falah (hai’alatain), berdasarkan
hadits Abu Juhaifah yang berbunyi:

ُ‫لً َرأَى أَنَّ ْه‬


ْ ‫انْ َو َه ُهنَا َه ُهنَا فَاْهُ أَتَتَبَّ ُعْ فَ َجعَلتُْ ي َُؤذِنُْ بِ َال‬
ِ َ‫بِاألَذ‬

Sesungguhnya Beliau melihat Bilal beradzan, lalu aku melihat mulutnya


disana dan disini mengucapkan adzan. [HR Al Bukhari].

Dan dalam riwayat Muslim dengan lafadz:

ُْ‫لً َي ِمينًا َيقُو ُلْ ُهنَا َوهَا ُهنَا َْها فَاْهُ أَتَتَبَّ ُعْ فَ َج َعلت‬
ْ ‫يْ َيقُو ُلْ َو ِش َما‬
َّ ‫صالَةِْ َعلَى َح‬ َّ ‫علَى َح‬
َّ ‫يْ ال‬ َ ِْ‫الفَالَح‬

Lalu mulailah aku memperhatikan mulutnya diputar kesana dan kesini,


yaitu ke kanan dan ke kiri mengucapkan hayya ‘ala ash shalat, hayya ‘ala al
falah.

Imam An Nawawi menjelaskan, disunnahkan memalingkan wajah dalam


hai’alatain ke kanan dan ke kiri. Dalam tata cara memalingkan wajah, yang
mustahab ada tiga cara, yaitu :

Pertama. Ini yang paling benar dan telah ditetapkan ahli Iraq dan sejumlah
ahli Khurasan (dalam madzhab Syafi’i), bahwa memalingkan ke kanan
dengan mengucapkan hayya ‘ala ash shalat, hayya ‘ala ash shalat,
kemudian berpaling ke kiri dan mengucapkan hayya ‘ala al falah, hayya ‘ala
al falah.

Kedua. Berpaling ke kanan dan mengucapkan hayya ‘ala ash shalat,


kemudian kembali menghadap kiblat, kemudian berpaling ke kanan lagi
dan mengucapkan hayya ‘ala ash shalat. Kemudian berpaling ke kiri dan
mengucapkan hayya ‘ala al falah, lalu kembali menghadap kiblat, kemudian
berpaling ke kiri lagi dan mengucapkan hayya ‘ala al falah.

Ketiga. Pendapat Al Qafal, yaitu mengucapkan hayya ‘ala ash shalat satu
kali berpaling kekanan, dan satu kali berpaling ke kiri; kemudian
mengucapkan hayya ‘ala al falah satu kali berpaling ke kanan dan satu kali
berpaling ke kiri.[15]

4. Disunahkan meletakkan kedua jemari di telinga, sebagaimana hadits


Abu Juhaifah dengan lafadz:

ُْ‫لً َرأَيت‬ ْ َ‫ل أُذُنَي ِْه فِي َوإِصبَعَاْهُ ُهنَا َوهَا ُهنَا هَا فَاْهُ َويُتبِ ُْع ي َُؤ ِذنُ َُْ بِال‬ ُ ‫صلَّى ال ِهََْ َو َر‬
ُْ ‫سو‬ َ ََُْ‫سلَّ َْم َعلَي ِْه اله‬
َ ‫لَ ْهُ قُْبَّةْ فِي َو‬
‫أ ُ َراْهُ َحم َرا َْء‬
Aku melihat Bilal beradzan dan memutar mulutnya ke sana dan ke sini
serta kedua jarinya di telinganya. [HR Ahmad dan At Tirmidzi, dan At
Tirmidzi mengatakan, bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani
menshahihkannya di dalam Irwa’ Al Ghalil, no. 230, hlm. 1/248].

Setelah menyampaikan hadits ini, Imam At Tirmidzi berkata: “Inilah yang


diamalkan para ulama. Mereka mensunnahkan seorang muadzin
memasukkan kedua jemarinya ke kedua telinganya dalam adzan. Dan
sebagian ulama menyatakan juga, di dalam iqamat memasukkan kedua
jemarinya ke kedua telinganya. Demikian ini pendapat Al ‘Auza’i”.[16]

5. Disunnahkan mengeraskan suara dalam adzan [17], berdasarkan sabda


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

ُ‫لَ فَإِنَّ ْه‬


ْ ‫تْ َم َدى َيس َم ُْع‬
ِ ‫صو‬ ْ ‫لَ ِج‬
َ ْ‫ن ال ُم َؤذ ِِن‬ ْ ‫لَّ شَيءْ َو‬
ْ ‫لَ ِإن‬
ْ ‫س َو‬ ْ ‫ال ِق َيا َم ِةْ َيو َْم لَ ْهُ َش ِه َدْ ِإ‬

Tidaklah mendengar suara muadzin bagi jin dan manusia serta (segala)
sesuatu, kecuali memberikan kesaksian untuknya pada hari Kiamat. [HR Al
Bukhari].

HUKUM MENDENGAR DAN MENJAWAB ADZAN DAN IQAMAT


Para ulama terbagi dalam dua pendapat berbeda berkaitan dengan hukum
mendengar dan menjawab adzan.

1. Hukumnya wajib.
Demikian ini pendapat madzhab Azh Zhahiriyah dan Ibnu Wahb. Dalil yang
dibawakan ialah hadits Abu Sa’id Al Khudri yang berbunyi :

ْ‫سو َلْ أَ َّن‬


ُ ‫ال ِهْ َر‬l ‫صلَّى‬ َ ‫سلَّ َْم‬
َ ُ‫ال ْه‬y ‫علَي ِْه‬ َ ‫ل فَقُولُوا النِ َدا َْء‬
َْ ‫س ِمعتُمْ إِذَا قَا‬
َ ‫ل َو‬ ُْ ‫ال ُم َؤذِنُْ يَقُو‬
َْ ‫ل َما ِمث‬

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Jika


kalian mendengar adzan, maka jawablah seperti yang disampaikan
muadzin”. (Muttafaqun ‘alaihi) [18].

Dalam hadits ini terdapat perintah menjawab adzan, dan perintah, pada
asalnya menunjukkan wajib.

2. Hukumnya sunnah.
Ini merupakan pendapat mayoritas ulama [19]. Mereka menyatakan, bahwa
hadits Abu Sa’id di atas dipalingkan dari wajib menjadi sunnah dengan
hadits ‘Aisyah yang berbunyi :

ْ‫سو َلْ أَ َّن‬


ُ ‫ال ِهْ َر‬a ‫صلَّى‬ َ ‫سلَّ َْم‬
َ ُ‫ال ْه‬n ‫علَي ِْه‬ َ ‫س ِم َْع إِذَا كَانَْ َو‬ َ َ ‫َوأَنَا َوأَنَا قَا َلْ يَت‬
َ َْ‫ش َّه ُْد ال ُم َؤذِن‬
Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika mendengar
muadzin membaca syahadat, maka Beliau berkata “dan aku dan aku”. [HR
Abu Dawud].

Dalam hadits ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjawab adzan
secara sempurna. Mereka juga berdalil dengan hadits Anas bin Malik :

َْ‫ل كَان‬ ُْ ‫سو‬ُ ‫ص َّلى ال ِْه َر‬ َ ُ‫ال ْه‬a ‫سلَّ َْم َعلَي ِْه‬
َ ‫ير َو‬ ُْ ‫طلَ َْع ِإذَا يُ ِغ‬ َ ‫سكَْ أَذَانًا‬
َ ‫س ِم َْع فَإِنْ األَذَانَْ يَست َِم ُْع َوكَانَْ الفَج ُْر‬ َ ‫لَّ أَم‬ َْ ‫س ِم َْع أَغ‬
ْ ‫َار َو ِإ‬ َ َ‫ف‬
ً‫ال‬
ْ ‫ل َر ُج‬ ُ ُ َ
ْ ‫ل أكبَ ُْر الهََُْ أكبَ ُْر ال ُهع يَقو‬ َ َ
َْ ‫ل فقا‬َ ُ
ْ ‫سو‬ ُ ‫صلى ال ِهََْ َر‬ َّ َ
َ ‫علي ِْه ال ُهق‬ َّ
َ ‫سل َْم‬ َ ُ َ َ
َْ ‫ل أنْ أش َه ُْد قا‬
َ ‫ل ث َّْم ال ِفط َرةِْ َعلى َو‬ َ َ َ َّ
ْ َ‫ل إِل ْه‬ ْ ِ‫للاُ إ‬
ْ
‫لَ أَنْ أَش َه ُْد‬
ْ َ‫لَّ ِإلَ ْه‬
ْ ‫ل ال ُهل ِإ‬َْ ‫ل فَقَا‬
ُْ ‫سو‬ُ ‫صلَّى ال ِْه َر‬ َ ُّ‫سلَّ َْم َعلَي ِْه ال ْه‬
َ ‫ار ِمنْ خ ََرجتَْ َو‬ ِْ َّ‫الن‬

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerang (suatu kaum) ketika


terbit fajar. Dan Beliau memperhatikan adzan. Apabila Beliau mendengar,
maka Beliau menahan. Dan bila tidak (mendengar), maka Beliau
menyerang. Lalu Rasulullah mendengar seseorang berkata: (ُْ‫) أَكبَ ُْر الهَُُْ أَكبَ ُْر اله‬,
maka Beliau menjawab: “Di atas fithrah” (‫) ال ِفط َرةِْ َعلَى‬, kemudian ia (seseorang
itu) mengatakan:
(ْ‫لَ أَن‬
ْ َ‫لَّ إِلَ ْه‬ ْ ‫لَ أَنْ أَش َه ُْد‬
ْ ِ‫للاُ إ‬ ْ ِ‫ ) أَش َه ُْد ال ُها إ‬dan Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam
ْ َ‫لَّ إِلَ ْه‬
menjawab: “Engkau telah keluar dari neraka”. [HR Muslim].

Dalam menjelaskan hadits ini, Ibnu Hajar menyatakan, ada sebagian


riwayat berkaitan dengan hadits ini yang menunjukkakan, bahwa hal ini
terjadi ketika waktu akan shalat [20]. Hal ini juga didukung oleh amalan
kaum mualimin pada zaman Umar, sebagaimana disampaikan Tsa’labah
bin Abi Malik :

‫ع َم ُْر َْو ال ُجمعَ ِْة يَو َمْ َيت َ َح َّدثُونَْ كَانُوا‬


ُ ْ‫سكَتَْ فَإِذَا ال ِمنبَ ِْر َعلَى َجا ِلس‬ ُ ْ‫أ َ َحدْ يَتَ َكلَّمْ فَلَم‬
َْ َ‫ع َم ُْر ق‬
َ ُْ‫ام ال ُم َؤذِن‬

Mereka dahulu berbincang-bincang pada hari Jum’at dan Umar duduk di


atas mimbar. Jika muadzin selesai adzan, maka Umar bangun dan tak
seorangpun berbicara. [HR Asy Syafi’i dalam Al Um, dan dishahihkan An
Nawawi, sebagaimana dijelaskan Albani dalam Tamamul Minnah, hlm.
339].

Riwayat ini juga dikuatkan dengan riwayat yang dikeluarkan Ibnu Abi
Syaibah dengan sanad shahih, sebagai berikut:

ُْ‫ع َم َرْ أَد َركت‬ ِ ‫ج ِإذَا‬


ُ ْ‫اإل َما ُْم فَكَانَْ عُث َمانَْ َو‬ َّ ‫ال َكالَ َْم ت ََركنَا تَكَلَّمنَا فَإِذَا ال‬
َْ ‫صالَْة َ ت ََركنَا ال ُجمعَ ِْة يَو َمْ خ ََر‬

Aku menjumpai Umar dan Utsman; jika seorang imam keluar (menuju
masjid), maka kami meninggalkan shalat, dan bila berbicara (berkhutbah),
maka kami meninggalkan perbincangan. [HR Ibnu Abi Syaibah dan
dishahihkan Al Albani dalam Tamamul Minnah, hlm. 340].
Pendapat ini yang dirajihkan Syaikh Al Albani [21] dan Syaikh Masyhur
Salman.

Syaikh Al Albani mengatakan: Dalam atsar ini, terdapat dalil yang


menunjukkan tidak wajibnya menjawab (seruan) muadzin, karena pada
zaman Umar terjadi amalan berbincang-bincang ketika adzan, dan Umar
diam. Saya banyak ditanya tentang dalil yang memalingkan perintah yang
menunjukkan kewajiban menjawab adzan. Maka saya menjawab dengan
atsar ini. Demikian juga iqamat, dalam hal ini sama hukumnya dengan
adzan, sebagaimana dinyatakan Lajnah Daimah Lil Buhuts Al Ilmiyah Wal
Ifta, dalam pernyataan mereka yang berbunyi “termasuk sunnah seorang
yang mendengar iqamat menjawab seperti ucapan muqim (orang yang
beriqamah); karena iqamat merupakan adzan kedua, sehingga dijawab
seperti dijawabnya adzan [22]. Wallahu a’lam.

MENJAWAB ADZAN DALAM KEADAAN SHALAT


Berdasarkan hukum di atas, maka muncullah permasalahan lainnya, yaitu
bagaimana hukum seseorang yang sedang shalat mendengar adzan, apakah
perlu menjawab ataukah tidak? Dalam hal ini terdapat tiga pendapat
ulama:

1. Wajib menjawab adzan walaupun dalam shalat, kecuali ucapan hayya


‘ala ash shalat dan hayya ‘ala al falah (hai’alatain). Demikian pendapat
madzhab Azh Zhahiriyah dan Ibnu Hazm.

Ibnu Hazm berkata: “Barangsiapa mendengar muadzin, maka jawablah


sebagaimana yang diucapkan muadzin sama persis dari awal adzan sampai
akhirnya. Baik ia berada di luar shalat atau di dalam shalat. Baik shalat
wajib ataupun sunnah. Kecuali hayya ‘ala ash shalat dan hayya ‘ala al falah
(hai’alatain), maka tidak diucapkan dalam shalat, dan diucapkan di luar
shalat”.
Dalilnya ialah hadits Abdullah bin Amru dan Abu Sa’id Al Khudri yang
berbunyi:

ْ‫سو َلْ أَ َّن‬


ُ ‫ال ِهْ َر‬i ‫صلَّى‬ َ ‫سلَّ َْم‬
َ ُ‫ال ْه‬u ‫علَي ِْه‬ َ ‫ل فَقُولُوا النِ َدا َْء‬
َْ ‫س ِمعتُمْ إِذَا قَا‬
َ ‫ل َو‬ ُْ ‫ال ُم َؤذِنُْ يَقُو‬
َْ ‫ل َما ِمث‬

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Jika


kalian mendengar adzan, maka jawablah seperti yang disampaikan
muadzin. [Muttafaqun ‘alaihi].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salalm tidak mengkhusukan hal itu dalam


shalat atau di luar. Sedangkan hai’latain merupakan ucapan manusia yang
mengajak kepada shalat. Adzan seluruhnya adalah dzikir, dan shalat
adalah tempat berdzikir”.[23]
2. Tidak menjawab adzan bila dalam keadaan shalat.
Demikian ini pendapat mayoritas ulama (jumhur), dengan berdalil hadits
Abdullah bin Mas’ud yang berbunyi:

َ ُ‫ي ِ َعلَى ن‬
‫س ِل ُْم ُكنَّا‬ ْ ِ‫صلَّى النَّب‬ َ ‫سلَّ َْم‬
َ ُ‫ع َلي ِْه )ال ْه‬ ْ ‫سلَّمنَا النَّ َجا ِش‬
َّ ‫ي ِ ِعن ِْد ِمنْ َر َجعنَا فَلَ َّما َعلَينَا فَيَ ُر ُّْد ال‬
َ ‫صالَةِْ فِي َوه َُوْ َو‬ َ ‫فَلَمْ َعلَي ِْه‬
‫ل َعلَينَا َي ُر َّْد‬
َْ ‫ن َوقَا‬َّْ ‫صالَِْة ِفي ِإ‬
َّ ‫ال‬ ً ْ
‫ال‬‫غ‬ ُ
‫ش‬

Kami, dahulu memberikan salam kepada Nabi n dalam keadan Beliau


shalat dan Beliau membalasnya. Ketika kami kembali dari negeri Najasi,
kami memberi salam kepada Beliau dan (Beliau) tidak menjawab salam
kami dan berkata: “Sesungguhnya dalam shalat adalah satu kesibukan”.
[Muttafaqun ‘alaihi].

Hadits ini, menurut jumhur menunjukkan makruhnya menjawab salam


yang hukumnya wajib, lalu bagaimana dengan adzan yang hukum
menjawabnya saja sunnah? Terlebih lagi dalam shalat, seseorang sedang
sibuk bermunajah kepada Allah, sehingga menjawab adzan dapat merusak
kekhususan tersebut.

3. Menjawab adzan pada shalat sunnah dan tidak menjawab dalam shalat
fardhu.
Demikian salah satu pendapat dalam madzhab Malikiyah.

Adapun menurut penulis, dalam hal ini cenderung menguatkan pendapat


jumhur, berdasarkan sunnahnya menjawab adzan yang telah dikemukan di
atas. Wallahu a’lam.

DISYARIATKAN MEMBACA SHALAWAT DAN DOA SETELAH ADZAN


Sebagaimana telah diajarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam
hadits Abdullah bin Amru yang berbunyi:

ْ ‫ن ال ِْه َعب ِْد َع‬


‫ن‬ ِْ ‫ن َعم ِرو ب‬ ْ ِ ‫س ِم َْع أَ َّن ْهُ ال َع‬
ِْ ‫اص ب‬ َ ‫ي‬َّْ ‫صلَّى النَّ ِب‬
َ ُ‫ال ْه‬d ‫سلَّ َْم َعلَي ِْه‬ َ ‫ل َو‬ ُْ ‫س ِمعتُمْ ِإذَا َيقُو‬ َ َْ‫ل فَقُولُوا ال ُم َؤذِن‬ ُْ ‫ث َُّْم َيقُو‬
َْ ‫ل َما ِمث‬
‫صلوا‬ُّ َ ‫ي‬ َّْ َ‫صلى َمنْ فَإِنَّ ْهُ َعل‬ َّ َ ‫ي‬ َّْ َ‫عل‬
َ ً ‫صالَْة‬
َ ‫ص لى‬ َّ ُ
َ ‫سلوا ث َّْم َعش ًرا بِ َها َعلَي ِْه ال ُهي‬ ُ َ ‫لَ ال َجنَّ ِْة فِي َمن ِزلَةْ فَإِنَّ َها ال َو ِسيلَ ْةَ ِلي ال َهو‬ْ
ْ ‫ل فَ َمنْ ه َُْو أَنَا أَ ُكونَْ أَنْ َوأَر ُجو ال ِهر ِع َبا ِْد ِمنْ ِل َعبدْ ِإ‬
‫لَّ تَن َب ِغي‬ َْ َ ‫سأ‬ ‫ي‬ ‫ل‬
َ ِ ِ َ َ ْ
‫ة‬ َ ‫ل‬ ‫ي‬‫س‬ ‫و‬ ‫ال‬ ‫ت‬
ْ َّ ‫ل‬ ‫ح‬
َ ُ ْ
‫ه‬ َ ‫ل‬ ُ ْ
‫ة‬ ‫ع‬
َ ‫ا‬ َ ‫ف‬‫ش‬َّ ‫ال‬

Dari Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash, ia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda: “Jika kalian mendengar muadzin, maka jawablah
seperti apa yang ia katakan, kemudian bershalawatlah untukku, karena
barangsiapa yang bershalawat untukku, maka Allah akan bershalawat
untuknya sepuluh kali. Kemudian mintakanlah kepada Allah untukku al
wasilah, karena ia adalah satu kedudukan di surga yang tidak sepatutnya,
kecuali untuk seorang hamba Allah; dan aku berharap, (bahwa) akulah ia.
Barangsiapa yang memohonkan untukku al wasilah, maka akan mendapat
syafaatku. [HR Muslim].
Permohonan wasilah ini dicontohkan dalam hadits Jabir yang berbunyi:

ْ‫ل أَ َّن‬ ُ ‫ال ِْه َر‬s ‫صلَّى‬


َْ ‫سو‬ َ ُ‫ال ْه‬c ‫علَي ِْه‬ َ ‫سلَّ َْم‬
َ ‫ل َو‬ َْ ‫ص َالةِْ التَّا َّم ِْة الدَّع َوةِْ َه ِذِْه َربَّْ اللَّ ُه َّْم النِ َدا َْء يَس َم ُْع ِحينَْ قَا‬
َْ ‫ل َمنْ قَا‬ َّ ‫ت القَائِ َم ِْة َوال‬
ِْ ‫آ‬
‫ضيلَ ْةَ ال َو ِسيلَ ْةَ ُم َح َّمدًا‬ َ ‫ف‬‫ال‬ ‫و‬ ُ
ِ َ َ َ ً َْ
‫ه‬ ‫ث‬‫ع‬‫اب‬ ‫و‬ ‫ا‬ ‫م‬ ‫ا‬ َ ‫ق‬‫م‬ ‫ًا‬
‫د‬ ‫و‬ ‫م‬‫ح‬
ُ َ ‫م‬ ‫ِي‬ ‫ذ‬ َّ ‫ل‬ ‫ا‬ ُ ْ
‫ه‬ َ ‫ت‬‫د‬ ‫ع‬ ‫و‬
َ َ ‫ت‬
ْ َّ ‫ل‬ ‫ح‬
َ ُ ْ
‫ه‬ َ ‫ل‬ ‫ي‬ ‫ت‬‫ع‬
َِ ‫ا‬ َ ‫ف‬‫ش‬َ ْ
‫م‬ ‫و‬‫ي‬ ْ
‫ة‬
َ َ ِ َ َِ‫م‬‫ا‬ ‫ي‬‫ق‬ ‫ال‬

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


“Barangsiapa yang ketika (selesai) mendengar adzan berkata:

ْ‫ص َالةِْ التَّا َّم ِْة الدَّع َوْةِ َه ِذِْه َربَّْ اللَّ ُه َّم‬ ِ َ‫َو َعدت َ ْه ُ الَّذِي َمح ُمودًا َمقَا ًما َواب َعث ْهُ َوالف‬
ِْ ‫ضيلَ ْةَ ال َو ِسيلَ ْةَ ُم َح َّمدًا آ‬
َّ ‫ت القَائِ َم ِةْ َوال‬

Maka mendapatkan syafaatku pada hari kiamat. [HR Al Bukhari].

Demikianlah sebagian hukum-hukum seputar adzan dan iqamat, yang


penulis sampaikan secara ringkas. Mudah-mudahan bermanfaat.