Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

Hubungan dokter dan pasien dan informen concert

Disusun Oleh:

Livia Yunita (N1A117176)

Cindy permatasari (N1A117184)

Puspa Wardani (N1A117172)

Nurfadiah (N1A117193)

Siti Fatimah ANPA (N1A117182)

Reski Devita Sari (N1A117187)

Kelas : 3E

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS JAMBI

2018
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil
menyelesaikan makalah ini Alhamdulillah tepat pada waktunya, yang berjudul
“Sengketa Medis”
Makalah ini berisikan tentang hubungan dokter dan pasien serta informen
concert dan terdapat contoh kasus dan cara penyelesaian, Dimensi Hukum
Sengketa Medik Dalam Dimensi Pelayanan Kesehatan, Contoh Kasus Sengketa
Medis, Penyelesaian Kasus Sengketa Medis. Diharapkan makalah ini dapat
memberikan informasi kepada kita semua tentang Sengketa Medis.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami
harapakan demi kesempurnaan makalah ini.
Terimakasih kepada dosen mata kuliah Etika dan Hukum Kesehatan yang
telah meberikan tugas makalah ini, sehingga kami dapat mengetahui lebih dalam
tentang Sengketa Medis. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai usaha kita.
Amin.

Penyusun

[Type text] Page i


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................. i


DAFTAR ISI ................................................................................. ii

BAB II Pendahuluan
1.1 Latar Belakang .......................................................................................... 1
1.2 Tujuan ....................................................................................................... 2

BAB II ISI
2.1 Sengketa Medis ......................................................................................... 3
2.2 Dimensi Hukum Sengketa Medis Dalam Dimensi Pelayanan Kesehatan 4
2.3 dimensi hukum kesehatan dalamsegi profesi........................................... .. 8
2.4 Kasus Sengketa Medis .............................................................................. 9
2.5 Penyelesaian Kasus Sengketa Medis ........................................................ 9

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ............................................................................................... 11
3.2 Saran .......................................................................................................... 12

DAFTAR PUSTAKA

[Type text] Page ii


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Hukum kesehatan adalah semua ketentuan hukum yang berhubungan
langsung dengan pemeliharaan/pelayanan kesehatan. hal tersebut menyangkut hak
dan kewajiban menerima pelayanan kesehatan (baik perorangan dan lapisan
masyarakat) maupun dari penyelenggaraan pelayanan kesehatan dalam segala
aspeknya, organisasinya, sarana, standar pelayanan medik dan lain-
lain.(H.J.J.Leenen)
Kesehatan merupakan kebutuhan pokok manusia, karena kesehatan
merupakan modal utama manusia dalam menjalankan aktifitas sehari-hari. Dalam
kesehatan terdapat istilah kesehatan masyarakat dan kesehatan individu. Dalam
pelaksanaan pelayanan kesehatan tersebut perlu hukum kesehatan yang mengatur
sumber daya manusia kesehatan serta masyarakat. Dewasa ini sangat diperlukan
informasi yang akurat mengenai sengketa medik tentang bagaimana Peraturan
Perundang-Undangan dan Etika Profesi mengatur tentang ini, bagaimana
penyelesaiannya dan cara apakah yang terbaik bagi kedua belah pihak untuk
menyelesaikannya.
Bila terjadi sengketa medik, penyelesaiannya yang ada pada saat ini, ada
dua jalur yaitu jalur Litigasi dan jalur Non Litigasi. Dari ke 2(dua) jalur tersebut
ada 5 (lima ) lembaga penyelesaian. Ke 5 (lima) lembaga penyelesaian sengketa
medik tesebut adalah: Lembaga Peradilan Hukum Perdata, Lembaga Peradilan
Hukum Pidana, Majelis Kehormatan etika kedokteran Indonesia(MKEK), Panitia
Pertimbangan dan Pembinaan etik kedokteran (P3EK), serta melalui Majelis
Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia(MKDKI)

1.2. Tujuan umum


- Menambah Pengetahuan
- Memenuhi Tugas
- Membantu Masyarakat, Instansi dan Pembaca

[Type text] Page 1


1.3. Tujuan khusus
Masyarakat jadi mengetahui tentang penyebab,jenis,pendekatan hukum,manfaat
peraturan yang ada di bidang kesehatan sehingga tidak terjadi malpraktik.
1.4. Manfaat
Dengan adanya makalah ini pengetahuan masyarakat dalam ilmu hukum dan
kesehatan dapat terbantu,menambah wawasan masyarakat tentang malpraktik dan
hukum yang mendasari tentang kesehatan.

[Type text] Page 2


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sengketa Medis
Sengketa Medis adalah sengketa yang terjadi antara pasien atau keluarga
pasien dengan tenaga kesehatan atau antara pasien dengan rumah sakit / fasilitas
kesehatan. Biasanya yang di persengketakan adalah hasil atau hasil akhir
pelayanan kesehatan dengan tidak memperhatikan atau mengabaikan prosesnya.
Padahal dalam hukum kesehatan diakui bahwa tenaga kesehatan atau pelaksana
pelayanan kesehatan saat memberikan pelayanan hanya bertanggung jawab atas
proses atau upaya yang dilakukan (Inspanning Verbintennis) dan tidak menjamin/
menggaransi hasil akhir (Resultalte Verbintennis).
Biasanya pengaduan dilakukan oleh pasien atau keluarga pasien ke
instansi kepolisian dan juga ke media massa. Akibatnya sudah dapat diduga pers
menghukum tenaga kesehatan mendahului pengadilan dan menjadikan tenaga
kesehatan sebagai bulan-bulanan, yang tidak jarang merusak reputasi nama dan
juga karir tenaga kesehatan ini.
Sementara itu pengaduan ke kepolisian baik di tingkat Polsek, Polres
maupun Polda diterima dan diproses seperti layaknya sebuah perkara pidana.
Menggeser kasus perdata keranah pidana, penggunaan pasal yang tidak konsisten,
kesulitan dalam pembuktian fakta hukum serta keterbatasan pemahaman terhadap
seluk beluk medis oleh para penegakhukum di hampir setiap tingkatan
menjadikan sengketa medik terancam terjadinya disparitas pidana.
Sengketa yang terjadi antara dokter dengan pasien biasanya disebabkan
oleh kurangnya informasi dari dokter, padahal informasi mengenai segala sesuatu
yang berhubungan dengan tindakan medis yang dilakukan oleh dokter merupakan
hak pasien, hal tersebut terjadi karena pola paternalistik yang masih melekat
dalam hubungan tersebut. Upaya penyelesaian sengketa melalui peradilan umum
yang selama ini ditempuh tidak dapat memuaskan pihak pasien, karena putusan
hakim dianggap tidak memenuhi rasa keadilan pihak pasien. Hal ini disebabkan
sulitnya pasien atau Jaksa Penuntut Umum maupun Hakim untuk membuktikan
adanya kesalahan dokter. Kesulitan pembuktian dikarenakan minimnya

[Type text] Page 3


pengetahuan mereka mengenai permasalahan-permasalahan teknis sekitar
pelayanan medik.
Terkadang harapan pasien untuk mendapatkan kesembuhan dari penyakit
yang dideritanya tidak terpenuhi dan bisa jadi justru memperparah kondisi
tubuhnya, bahkan dapat menimbulkan kematian. Pasien atau keluarganya
kemudian menganggap bahwa mungkin telah terjadi suatu kelalaian medik atau
yang oleh media disebut dengan malpraktek medik. Walaupun setiap risiko
pengobatan yang tidak diinginkan tidak dapat dikatakan sebagai malpraktik medik
(Anny Isfandyarie), serta masih kaburnya ukuran malpraktik profesi kedokteran
(Agus Purwadianto), namun sebagai sebuah peristiwa hukum, malpraktik medik
telah banyak terjadi di Indonesia, baik seperti yang ramai diberitakan media
massa, yang sedang atau telah melakukan upaya hukum di pengadilan, atau hanya
didiamkan saja oleh para pihak yang berkepentingan.
Bagi pihak dokter atau sarana pelayanan kesehatan, penyelesaian sengketa
medik melalui pengadilan / secara litigasi berarti mempertaruhkan reputasi yang
telah dicapainya dengan susah payah, dan dapat menyebabkan kehilangan nama
baik. Meskipun belum diputus bersalah atau bahkan putusan akhir dinyatakan
tidak bersalah, nama baik dokter atau sarana pelayanan kesehatan sudah terkesan
jelek karena sudah secara terbuka di media diberitakan telah diduga melakukan
kesalahan dan akan menjadi stigma yang jelek pula dalam masyarakat yang pada
gilirannya menyebabkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap dokter atau
sarana pelayanan kesehatan tersebut akan turun.

2.2. Dimensi Hukum Kesehatan Sengketa Medis Dalam Dimensi


Pelayanan Kesehatan
Bila kita berbicara sengketa medis dalam pelayanan kesehatan ada dua hal
yang perlu mendapat perhatian serius karena kedua memberikan konsekwensi
hukum yang menuntut pertanggungan jawab dokter sebagai tenaga kesehatan dan
atau rumah sakit/klinik sebagai fasilitas kesehatan.

[Type text] Page 4


1.KELALAIAN MEDIS
Kelalaian medis adalah sebuah sikap atau tindakan yang dilakukan oleh
dokter/dokter gigi atau tenaga kesehatan lainnya yang merugikan pasien. Menurut
kepustakaan ada beberapa pandangan tentang kelalaian medis. Secara umum
kelalaian medis dimaknai sebagai melakukan sesuatu yang tidak semestinya
dilakukan atau tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan. Pendapat lain
juga mengatakan kelalaian adalah tidak melakukan sesuatu apa yang seorang yang
wajar yang berdasarkan pertimbangan biasa yang umumnya mengatur peristiwa
manusia, akan melakukan, atau telah melakukan sesuatu yang wajar dan hati-hati
justru tidak akan melakukan. Pandangan lain menyatakan kelalaian adalah suatu
kegagalan untuk bersikap hati-hati yang secara wajar dilakukan dalam ukuran
umum.
Risiko pengobatan yang tidak diinginkan dalam proses pengobatan dapat
terjadi karena empat hal, yaitu: Dokter yang mengobati melakukan praktik di
bawah standar profesi, melanggar etik, melanggar disiplin, dan melanggar
hukum“
Dalam perspektif hukum perdata, gugatan atas dugaan kelalaian medik
dapat menggunakan pasal-pasal sebagai berikut :
 Wanprestasi, dengan memakai pasal 1239 KUH Perdata. Pasal ini dapat dipakai
jika hubungan hukum yang terbentuk antara dokter-pasien adalah perjanjian yang
berorientasi hasil (resultaat verbintenis).
 Kelalaian dengan menggunakani pasal 1366 KUH Perdata sebagai berikut:
“Setiap orang bertanggungjawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan
perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan kelalaian atau kurang
hati-hatinya”.
Dalam perspektif hukum pidana dikenal adanya kesalahan (schuld), baik yang
berupa kesengajaan (opzet, dolus) maupun kelalaian / kealpaan (culpa).
Kesengajaan yang sering disebut Criminal Malpractice sangat kecil angka
kejadiannya; contohhya antara lain adalah melakukan abortus tanpa indikasi
medik dan euthanasia aktif.
Kelalaian yang dilakukan dokter sesuai tolak ukur kelalaian berat atau culpa
lata (grove schuld, gross negligence) seperti yang diatur dalam KUHP pada pasal

[Type text] Page 5


359 dan 360 . Berikut adalah pasal-pasal KUHP yang memungkinkan dikenakan
kepada dokter dan diindikasikan sebagai tindakan pidana adalah:
1. Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan.
2. Pasal 359 KUHP yaitu karena kesalahannya menyebabkan orang mati.
3. Pasal 360 KUHP yaitu karena kesalahannya menyebabkan orang luka berat.
4. Pasal 361 KUHP yaitu karena kesalahannya dalam melakukan suatu jabatan atau
pekerjaannya hingga menyebabkan mati atau luka berat akan dihukum lebih berat.
5. Pasal 322 KUHP tentang pelanggaran rahasia kedokteran.
6. Pasal 346, 347, 348 KUHP yang berkenaan dengan abortus provocatus
7. Pasal 344 KUHP tentang euthanasia.
8. Pasal 304 KUHP sebagai pembiaran.
Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai
kewajiban seperti yang disebutkan pada pasal 51 UU No. 29/2004, yaitu :
a. memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur
operasional serta kebutuhan medis pasien
b. merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau
kemampuan yang baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau
pengobatan
c. merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga
setelah pasien itu meninggal dunia
d. melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin
ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya
e. menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran atau
kedokteran gigi.
Tuntutan atau gugatan kelalaian medik yang dialamatkan ke dokter pada
hakekatnya adalah proses hukum yang ingin meminta pertanggungjawab atas
kesalahan yang dibuatnya, baik yang berupa kelalaian maupun kesengajaan.
Dengan kata lain tanggungjawab dokter lah yang menjadi obyek tuntutan
ataugugatan kelalaian medik, dengan wujud tanggung jawab dokter dapat
berbentuk ganti rugi atau hukuman lain sesuai keputusan hakim.

[Type text] Page 6


Tanggung jawab professional dokter diatur secara internal oleh Ikatan Dokter
Indonesia (IDI) sebagai organisasi profesi dokter, yang dituangkan dalam Kode
Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) serta peraturan lain yang dibuat oleh
Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). Sedangkan tanggungjawab hukum dokter
terletak dalam hubungan antara dokter dengan pribadi-pribadi orang (pasien) yang
dirawatnya. Selain itu hubungan dokter dengan pasien dan bahkan dengan Negara
(masyarakat) didasarkan pada peraturan perundang-undangan. Proses tuntutan dan
gugatan kelalaian medik dimulai dari membuktikan bentuk kesalahan apa yang
dilakukan dokter. Apakah kesalahan atasdasar ketentuan profesional, atau
kesalahan profesi atau atas dasar peraturanperundang-undangan.
Kemampuan profesional seorang dokter dapat diukur dari kemahiran
(bekwaamheid) atau kompetensi serta hak atau kewenangan untuk melaksanakan
profesi tersebut. Dari pengalaman dilapangan dokter dapat melakukan kesalahan
dalam melaksanakan profesinya karena:
 Kekurangan pengetahuan (olvoldoende kennis);
 Kekurangan pengalaman (olvoldoende ervaring);
 Kekurangan pengertian (olvoldoende inzicht)

2. PEMBIARAN MEDIS
Pembiaran medik secara umum belum dikenal secara luas di kalangan
masyarakat baik itu profesi hukum, pembiaran medik merupakan salah satu
tindakan kedokteran dimana dalam memberikan pelayanan kesehatan tidak sesuai
standar prosedur yang berlaku, adapun dapat dikatakan pembiaran medik adalah
suatu tindakan dokter tidak sungguh-sungguh atau tidak memberikan pelayanan
kesehatan kepada pasien dengan berbagai alasan yang terkait dengan sistem
pelayanan kesehatan.
Pembiaran medik ini sering kali terjadi di rumah sakit terlebih khusus bagi
masyarakat atau pasien miskin dengan alasan harus memenuhi beberapa syarat
administrasi, pembiaran medik juga sering terjadi pada Instalasi Gawat Darurat
(IGD) atau Unit Gawat Darurat (UGD) setiap pasien yang masuk ke unit tersebut
seringkali tidak diberikan pelayanan yang memadai sehingga dapat terjadi
pembiaran, dalam hal tersebut, dokter atau tenaga kesehatan yang bertugas di unit

[Type text] Page 7


tersebut harus bertanggung jawab, dalam pertanggung jawab tersebut juga tidak
lepas dari peran rumah sakit yang melaksanakan pelayanan kesehatan.
Kasus pembiaran medik yang berdampak pada kecacatan atau kematian kepada
pasien menimbulkan dampak hukum yang sangat besar, namun begitu karena
ketidaktahuan atau kurang pahamnya pasien dalam sistem pelayanan kesehatan
menjadi suatu hal yang biasa saja. Dalam sistem hukum Indonesia pembiaran
medik secara umum belum tercantum secara jelas namun dalam hal yang
demikian dapat diasumsikan kedalam beberapa peraturan perundang-undangan
yang ada misalnya :

1. KUHPerdata
Dalam pasal 1366 KUHPerdata, bahwa setiap orang bertanggung jawab
tidak saja untuk kerugian yang disebabakan perbuatannya tetapi juga untuk
kerugian yang disebabkan kelalaian atau kurang hati-hatinya, dalam asumsi pasal
tersebut kelalaian adalah merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh tenaga
kesehatan yang bertugas di rumah sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan
kepada pasien tentunya merupakan tanggung jawabnya, jika terjadi pembiaran
medik bahwa karena hal-hal yang berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang
mengabaikan pasien dengan alasan tertentu misalnya karena tidak ada biaya, atau
penjaminnya, sehingga mengakibatkan terjadinya kecacatan dan kematian bagi
pasien, maka tenaga kesehatan dapat di gugat perdata dalam hal kelalaian dari
tugas dan tanggung jawabannya yang seharusnya dikerjakan.

2. KUHP
Pasal 304 KUHP, Sengaja menempatkan atau membiarkan seseorang
dalam keadaan sengsara, padahal menurut hukum yang berlaku baginya, dia wajib
memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang itu. Dalam
hal demikian, tenaga kesehatan dengan sengaja membiarkan pasien yang masuk di
rumah sakit dan membutuhkan perawatan namun dengan kelalaiannya
membiarkan pasien sehingga pasien mengalami kecacatan dan atau kematian,
maka tenaga kesehatan tersebut dapat dituntut melakukan suatu tindakan
kejahatan pidana, berkaitan dengan kenyataan yang mempunyai arti dibidang

[Type text] Page 8


pidana, antara lain apakah tindakan, atau perbuatan dan sebab-akibat yang terjadi
tersebut memenuhi kualifikasi suatu kejahatan atau tidak. Berkaitan dengan
kenyataan yang dapat dijadikan perkara pidana yang artinya bahwa ada korban
yang terancam atau dibahayakan jiwanya dan apakah kejadian tersebut murni
karena faktor manusia dan bukan alam.

3. Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan


Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan dalam ketentuan
pidana tidak secara jelas mengatur tentang tindak pidana kesehatan. Pasal 190
menyebutkan pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan dan/atau tenaga kesehatan
yang melakukan praktik atau pekerjaan pada fasilitas pelayanan kesehatan yang
dengan sengaja tidak memberikan pertolongan pertama terhadap pasien yang
dalam keadaan gawat darurat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2) atau
Pasal 85 (ayat 2) di pidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan
denda paling banyak Rp. 200.000.000,-. Dalam hal pasal ini tidak dengan secara
tegas hanya mengatur tentang ketentuan pidana yang terjadi di unit gawat darurat
tetapi tidak dengan pasien umum yang berada di rumah sakit, untuk pembiaran
medik ini bisa terjadi pada unit gawat darurat ataupun untuk pelayanan umum
karena pembiaran medik terjadi pada pasien yang kurang mampu.

2.3. Tanggung Jawab sebagai Profesi


Tanggung jawab profesi dokter berkaitan erat dengan profesionalisme
seorang dokter. Hal ini terkait dengan12 :
a. Pendidikan, pengalaman dan kualifikasi lain
Dalam menjalankan tugas profesinya seorang dokter harus mempunyai
derajat pendidikan yang sesuai dengan bidang keahlian yang ditekuninya. Dengan
dasar ilmu yang diperoleh semasa pendidikan di fakultas kedokteran maupun
spesialisasi dan pengalamannya untuk menolong penderita.
b. Derajat risiko perawatan
Derajat risiko perawatan diusahakan untuk sekecil-kecilnya, sehingga efek
samping dari pengobatan diusahakan minimal mungkin. Di samping itu mengenai
derajat risiko perawatan harus diberitahukan terhadap penderita maupun

[Type text] Page 9


keluarganya, sehingga pasien dapat memilih alternatif dari perawatan yang
diberitahukan oleh dokter.
Berdasarkan data responden dokter, dikatakan bahwa informasi mengenai
derajat perawatan timbul kendala terhadap pasien atau keluarganya dengan tingkat
pendidikan rendah, karena telah diberi informasi tetapi dia tidak bisa menangkap
dengan baik.
c. Peralatan perawatan
Perlunya dipergunakan pemeriksaan dengan menggunakan peralatan
perawatan, apabila dari hasil pemeriksaan luar kurang didapatkan hasil yang
akurat sehingga diperlukan pemeriksaan menggunakan bantuan alat. Namun dari
jawaban responden bahwa tidak semua pasien bersedia untuk diperiksa dengan
menggunakan alat bantu (alat kedokteran canggih), hal ini terkait erat dengan
biaya yang harus dikeluarkan bagi pasien golongan ekonomi lemah.

2.4 Faktor yang mempengaruhi terjadinya malpraktek


Mal Praktek merupakan kesalahan pengambilan tindakan medis yang dilakukan
oleh tenaga medis professional maupun tenaga medis amatir baik secara disengaja
atau tidak disengaja. Saat ini Mal Praktek telah memakan banyak korban di
Indonesia salah satunya di Surabaya.
Mal praktek bisa terjadi karena beberapa factor berikut ini yaitu, minimnya
pengalaman tenaga medis, kesalahan diagnosis, dokter palsu (dokter yang
kurang mumpuni) dan juga karna factor ketidak sengajaan. Dan berikut
penjelasannya
1. Minimnya pengalaman tenaga medis menyebabkan peluang terjadinya
kesalahan tindakan medis (mal praktek ) saat memberikan tindakan kepada
pasien sperti contohnya, kesalahan pemberian obat, kesalahan
prosedur/tindakan yang semestinya harus dilakukan.
2. Kesalaan diagnosis dapat berakibat fatal bagi pasien, akibatnya bisa
bermacam-macam, seperti terjadinya kelumpuhan, kerusakan organ dalam,
dan juga dapat berakibat fatal yang berujung dengan kematian.

[Type text] Page 10


3. Dokter aspal (asali tapi palsu/dokter yang kurang mumpuni), di zaman
seperti ini banyak sekali orang yang memanfaatkan uangnnya untuk masuk
dalam sekolah kedokteran di universitas. Tak sedikit dari mereka mempunyai
gelar dokter tapi kurang menguasai ilmu kedokteran, sedangkan untuk
menjadi seorang dokter harus mempunyai kecerdasan yang benar-benar
mumpuni agar menjadi dokter yang sesungguhnya dan segala tindakan
medisnya bisa dipertanggungjawabkan.
4. Factor ketidaksengjaan, faktor ini bisa terjadi karena kelalaian dari petugas
medis, atau mungkin ketidak telitian petugas medis saat menangani pasien.

[Type text] Page 11


BAB III
TINJAUN KASUS DAN PEMBAHASAN
A. KASUS
kasus Josua Situmorang yang meninggal dunia setelah
menerima tindakan pencabutan gigi oleh drg.Didi Alamsyah. Tindakan tersebut
dilakukan tanpa adanya Informed Consent dan dilakukan pada saat Josua
mengalami pembengkakan pada gusinya. Saat ini keluarga Josua berniat untuk
menuntut drg. Alamsyah dengan dugaan malpraktek. Tuntutan atas drg. Alamsyah
dapat berupa tuntutan pidana dan perdata dan sekaligus secara etika karena bukan
hanya norma hukum yang dilanggar tetapi juga norma-norma dalam etika profesi
kedokteran atau etikolegal.
B. PEMBAHASAN
 Ada dua jalur penyelesaian kasus sengketa medis yaitu jalur Litigasi dan
jalur Non Litigasi. Dari ke 2(dua) jalur tersebut ada 5 (lima ) lembaga
penyelesaian. Ke 5 (lima) lembaga penyelesaian sengketa medik tesebut
adalah: Lembaga Peradilan Hukum Perdata, Lembaga Peradilan Hukum
Pidana, Majelis Kehormatan etika kedokteran Indonesia(MKEK), Panitia
Pertimbangan dan Pembinaan etik kedokteran (P3EK), serta melalui
Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia(MKDKI).
 Metode yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan
yuridis normatif jenis perbandingan, teknik pengumpulan data
menggunakan data sekunder dari bahan hukum primer, sekunder, dan
tersier. Meneliti masalah normatif, membuat perbandingan antar
penyelesaian sengketa medik melalui jalur litigasi dan nonlitigasi dengan
disertai contoh kasus-kasus penyelesaian sengketa, sehingga dapat
diketahui dengan jelas. Hasil penelitian penyelesaian sengketa medik
dapat dilakukan melalui jalur litigasi dan jalur nonlitigasi.
 Pada jalur litigasi diselesaikan melalui peradilan hukum perdata dan
peradilan hukum pidana, sedangkan melalui jalur nonlitigasi diselesaikan
melalui MKEK, P3EK, dan MKDKI. Proses penyelesaian sengketa medik
melalui peradilan perdata, dilaksanakan oleh lembaga pengadilan Negeri,

[Type text] Page 12


Pengadilan tinggi pada tingkat banding, Mahkamah Agung pada tingkat
kasasi dengan dugaan adanya perbuatan pelanggaran hukum-hukum
perdata, sedangkan penyelesaian perkara melalui peradilan pidana
diselesaikan melalui lembaga yang sama seperti peradilan perdata, dengan
dugaan adanya pelanggaran tindak pidana oleh dokter.
 Pada jalur nonlitigasi, proses penyelesaian sengketa medik dilaksanakan
oleh lembaga MKEK cabang, MKEK wilayah pada tingkat banding,
MKEK pusat pada tingkat banding kedua, bila diduga adanya pelanggaran
etik kedokteran terhadap tindakan dokter, demikian pula penyelesaian
sengketa medik melalui P3EK, bila pengaduan diduga berupa pelanggaran
etika kedokteran, sedangkan penyelesaian sengketa medik melalui
MKDKI bila diduga adanya perbuatan dokter yang melanggar disiplin
kedokteran.
 Perbandingan penyelesaian dari lembaga-lembaga yang ada dari ke 2(dua)
jalur tersebut dapat digambarkan sebagai berikut: Didapat banyak
perbedaan dari masing-masing lembaga tersebut antara lain: tentang badan
atau lembaga yang menanganinya, dasar hukum pelaksanaan penyelesaian
sengketa medik dari lembaga-lembaga tersebut, materi/objek sengketa,
pihak yang bersengketa, sifat persidangan dari lembaga-lembaga, prosedur
acara, lokasi persidangan, pejabat pelaksana, pendamping terhadap pihak
yang bersengketa.

[Type text] Page 13


Dalam kasus josua Terdapat dua cara penyelesaian sengketa medik
yaitu melalui Jalur hukum yang terdiri dari Hukum Pidana dan Perdata dan
melalui Jalur Etika Profesi Kedokteran Indonesia yaitu dengan MKEK dan
P3EK. Putusan dari pengadilan perdata berupa ganti rugi, putusan
pengadilan pidana ditentukan oleh pasal undang-undang sesuai dengan
pelanggaran yang dilakukan, sedangkan saksi menurut Etika Profesi
Kedokteran Indonesia hanya berupa sanksi administratif saja yaitu berupa
surat peringatan, skorsi sementara dari keanggotaan, pemecatan
keanggotaan atau pencabutan ijin praktek. Penyelesaian sengketa medik
melalui Jalur Etika Profesi Kedokteran Indonesia kurang disenangi oleh
pasien dan keluarganya karena putusan yang dikeluarkan tidak
berhubungan langsung dengan
kerugian yang diderita sedangkan penyelesaian dengan jalur hukum dihindari oleh
dokter karena penyelesaiannya yang bersifat terbuka dapat

mencemarkan nama baik dokter yang bersangkutan.

[Type text] Page 14


BAB IV
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Sengketa Medis adalah sengketa yang terjadi antara pasien atau keluarga
pasien dengan tenaga kesehatan atau antara pasien dengan rumah sakit / fasilitas
kesehatan. Sengketa yang terjadi antara dokter dengan pasien biasanya disebabkan
oleh kurangnya informasi dari dokter, padahal informasi mengenai segala sesuatu
yang berhubungan dengan tindakan medis yang dilakukan oleh dokter merupakan
hak pasien.
Dua hal yang perlu mendapat perhatian serius oleh dokter karena kedua
memberikan konsekwensi hukum yang menuntut pertanggungan jawab dokter
sebagai tenaga kesehatan dan atau rumah sakit/klinik sebagai fasilitas kesehatan,
yaitu :
1. Kelalaian Medis
Tuntutan atau gugatan kelalaian medik yang dialamatkan ke dokter
pada hakekatnya adalah proses hukum yang ingin meminta
pertanggungjawab atas kesalahan yang dibuatnya, baik yang berupa
kelalaian maupun kesengajaan.
Pasal-pasal yang dikenakan kepada dokter karena Kelalaian Medis :
 Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan.
 Pasal 359 KUHP yaitu karena kesalahannya menyebabkan orang
mati.
 Pasal 360 KUHP yaitu karena kesalahannya menyebabkan orang
luka berat.
 Pasal 361 KUHP yaitu karena kesalahannya dalam melakukan
suatu jabatan atau pekerjaannya hingga menyebabkan mati atau
luka berat akan dihukum lebih berat.
 Pasal 322 KUHP tentang pelanggaran rahasia kedokteran.
 Pasal 346, 347, 348 KUHP yang berkenaan dengan abortus
provocatus
 Pasal 344 KUHP tentang euthanasia.

[Type text] Page 15


 Pasal 304 KUHP sebagai pembiaran.

2. Pembiaran Medis
Kasus pembiaran medis yang berdampak pada kecacatan atau
kematian kepada pasien menimbulkan dampak hukum yang sangat besar,
namun begitu karena ketidaktahuan atau kurang pahamnya pasien dalam
sistem pelayanan kesehatan menjadi suatu hal yang biasa saja.
Peraturan perundang-undangan tengtang pembiaran medis :
 Pasal 1366 KUHPerdata
 Pasal 304 KUHP
 Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
Ada dua jalur penyelesaian kasus sengketa medis yaitu jalur Litigasi dan
jalur Non Litigasi. Dari ke 2(dua) jalur tersebut ada 5 (lima ) lembaga
penyelesaian. Ke 5 (lima) lembaga penyelesaian sengketa medik tesebut adalah:
Lembaga Peradilan Hukum Perdata, Lembaga Peradilan Hukum Pidana, Majelis
Kehormatan etika kedokteran Indonesia(MKEK), Panitia Pertimbangan dan
Pembinaan etik kedokteran (P3EK), serta melalui Majelis Kehormatan Disiplin
Kedokteran Indonesia(MKDKI).

3.2. Saran
Menurut saya masih banyak hal-hal yang harus di perbaiki untuk
mengurangi hal-hal yang menyebabkan terjadinya sengketa medis. Mulai dari
kelalaian dokter yang di sebabkan karena Wanprestasi dan ke kurang tahuan
pasien tentang hak dan kewajiban mereka sebagai pasien. Dalam hal ini saya
menyaranklan bahwa pihak dokter harus selalu meng-update pengetahuan mereka
di bidang medis, lalu selalu memperhatikan hak pasien. dengan demikian semoga
saja tidak kembali terjadi kasus-kasus sengketa medis di Indonesia, dan pelayanan
medis di Indonesiapun semakin di percaya oleh masyarakat indonesia maupun
luar negri, amin.

[Type text] Page 16


Daftar Pustaka

http://eprints.unika.ac.id/1058/

http://www.kebijakankesehatanindonesia.net/sites/default/files/file/2011/M%20N
asser.pdf

http://topihukum.blogspot.com/2013/06/prosedur-penyelesaian-kasus-
sengketa.html

https://lib.atmajaya.ac.id/default.aspx?tabID=61&src=k&id=121367
http://riofrans.blogspot.com/2013/02/faktor-penyebab-tindakan-mal-praktek.html