Anda di halaman 1dari 4

Pengertian Psikologi Industri

Psikologi industry adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hubungannya antar manusia
dalam industry (Hirman, Masita, dan Syawal, 2015:5)

Ruang Lingkup Psikologi Industri


Ada dua pandangan terhadap ruang lingkup psikologi industri (Hirman, Masita, dan Syawal, 2015:5),
yaitu:
1. Psikologi industri mempelajari prilaku tenaga kerja (sebagai komponen) dalam interaksinya dengan
organisasi perusahaan (sebagai sistem) di mana tenaga kerja/karyawan menjadi anggota.
2. Psikologi industri membahas perilaku manusia sebagai komponen di luar sistem organisasi yang
berinteraksi dengan sistem organisasi perusahaan tersebut.

Etos Kerja
Etos berasal dari bahasa yunani ethos yakni karakter, cara hidup, kebiasaan seseorang, motivasi atau
tujuan moral seseorang serta pandangan dunia mereka, yakni gambaran, cara bertindak ataupun
gagasan yang paling komprehensif mengenai tatanan. Dengan kata lain ethos adalah aspek evaluative
sebagai sikap mendasar terhadap diri dan dunia mereka yang direfleksikan dalam kehidupannya

Tasmara (2002) mengatakan bahwa etos kerja adalah suatu totalitas kepribadian dari individu serta cara
pandang individu mengekspresikan, memandang, menyakini dan memberikan makna terhadap sesuatu
yang mendorong individu untuk bertindak dan meraih hasil yang optimal(Wahyuningsih, 2016).

Sinamo (2003:2), Etos kerja dapat diartikan sebagai konsep tentang kerja atau paradigma kerja yang
diyakini oleh seseorang atau sekelompok orang sebagai baik dan benar yang diwujudnyatakan melalui
perilaku kerja mereka secara khas(Wahyuningsih, 2016).

Sifat-sifat Etos Kerja yang Baik


Sifat-sifat yang mencerminkan etos kerja yang baik menurut Khasanah (dalam Hirman, Masita, dan
Syawal, 2015:14) yaitu aktif, ceria, dinamis, disiplin, efisien, energik, fokus, gesit, ikhlas, interaktif, jeli,
jujur, kerja keras, kerja tim, konsisten, kreatif, lapang dada, membagi, menghargai, menghibur, optimis,
peka, rajin, ramah, sabar, semangat, tanggungjawab, tekun, teliti, tepat waktu, teratur, terkendali,
toleran, total, ulet.

Fungsi Etos Kerja


Menurut A. Tabrani Rusyan (Wahyuningsih, 2016) fungsi etos kerja adalah:
a) Pendorong timbulnya perbuatan
b) Penggairah dalam aktivitas
c) Penggerak, seperti: mesin bagi mobil, maka besar kecilnya motivasi yang akan menentukan cepat
lambatnya suatu perbuatan
Pelayanan
Monir (2003:16) mengatakan bahwa pelayanan adalah proses pemenuhan kebutuhan melalui aktivitas
orang lain secara langsung (Yahya, 2011)
Perkembangan pelayanan
Kajian dalam pelayanan juga mengalami perkembangan yang cukup signifikan, dalam jurnal
Sciencedirect, Fonseca (2014) menuliskan perpindahan pelayanan dari kosep klasik ke konsep sistim
servis.
Classical Paradigm (IHIP)
- Intangibility (goods vs abstract)
- Heterogeneity (customer different behavior)
-Inseparability (quick)
- Perishability (customer is partner)

Service Science (IBM)


- People
- Technologies
- Other resource
- Value co-creation
Prinsip-prinsip etika pelayanan
Prinsip-prinsip etika pelayanan publik yang dikembangkan oleh Institute Josephson America (Maani,
2010) dapat digunakan sebagai rujukan atau referensi bagi para birokrasi publik dalam memberikan
pelayanan, antara lain adalah sebagai berikut:
1. Jujur, dapat dipercaya, tidak berbohong, tidak menipu, mencuri, curang, dan berbelit-belit;
2. Integritas, berprinsip, terhormat, tidak mengorbankan prinsip moral, dan tidak bermuka dua;
3. Memegang janji. Memenuhi janji serta mematuhi jiwa perjanjian sebagaimana isinya dan tidak
menafsirkan isi perjanjian itu secara sepihak;
4. Setia, loyal, dan taat pada kewajiban yang semestinya harus dikerjakan;
5. Adil. Memperlakukan orang dengan sama, bertoleransi dan menerima perbedaan serta berpikiran
terbuka;
6. Perhatian. Memperhatikan kesejahteraan orang lain dengan kasih sayang, memberikan kebaikan
dalam pelayanan;
7. Hormat. Orang yang etis memberikan penghormatan terhadap martabat manusia privasi dan hak
menentukan nasib bagi setiap orang;
8. Kewarganegaraan, kaum profesional sektor publik mempunyai tanggung jawab untuk menghormati
dan menghargai serta mendorong pembuatan keputusan yang demokratis;
9. Keunggulan. Orang yang etis memperhatikan kualitas pekerjaannya, dan seorang profesional publik
harus berpengetahuan dan siap melaksanakan wewenang publik;
10. Akuntabilitas. Orang yang etis menerima tanggung jawab atas keputusan, konsekuensi yang diduga
dari dan kepastian mereka, dan memberi contoh kepada orang lain;
11. Menjaga kepercayaan publik. Orang-orang yang berada disektor publik mempunyai kewajiban khusus
untuk mempelopori dengan cara mencontohkan untuk menjaga dan meningkatkan integritas dan
reputasi prosses legislatif.

Daftar Pustaka
Fonseca, Fernando J., Carlos Sousa Pinto. 2014. From the classical concept of Services to Service
Hirman, Masita, dan Haddad Syawal. 2015. Psikologi Industri (Buku Ajar Administrasi Niaga). PNUP-
Makassar
Systems. Sciencedirect. Page 518-524.
Maani, Karjuni Dt. 2010. Etika Pelayanan Publik. DEMOKRASI Vol. IX No. 1 Th. 2010
Yahya, Andi. 2011. Buku Ajar Pelayanan Publik. Adm. Niaga PNUP
Wahyuningsih, Nining. 2016. MEMBANGUN SIKAP DAN ETOS KERJA PERSPEKTIF SYARIAH . Al-Amwal,
Volume 8, No. 2.