Anda di halaman 1dari 27

6

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar Medis


1. Pengertian
Hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi adalah suatu
gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan supplay oksigen dan
nutrisi yang dibawah oleh darah terlambat samapai kejaringan tubuh yang
membutuhkannya. (Vitahealth, 2005)
Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah peristen dimana
tekanan sistoliknya diatas 90 mmHg dan tekanan diastolik di atas 90
mmHg dan pada populasi manula tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan
diastolik 90 mmHg. (Brunner, 2004)
`Hipertensi didefinisikan oleh Join Nasional Committee On
Detection, Evaluasition and Treatment Of Higt Blood Pressure (JIVC)
sebagai tekanan yang lebih tinggi dari 140/90 mmHg dapat diklafikasikan
sesuai derajat keparahanny, mempunyai rentang dari tekanan darah
normal, tinggi sampai maligna. (Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan
Gangguan System Kardiovaskuler /2006)

Kategori Tekanan darah sistolik Tekanan darah diastolik


Normal - Tinggi Dibawah 130 mmHg Dibawah 85 mmHg
Stadium 1
140 - 159 mmHg 85 - 89 mmHg
(Hipertensi Ringan)
Stadium 2
160 - 179 mmHg 100 - 109 mmHg
(Hipertensi Sedang)
Stadium 3
180 - 209 mmHg 110 - 119 mmHg
(Hipertensi Berat)
Stadium 4
210 mmHg 120 mmHg atau lebih
(Hipertensi Maligna)

Hipertensi dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu :


7

1. Hipertensi esensial (Primer) yang belum diketahui pasti


penyebabmya, namun diduga karena faktor stress, genetik,
obesitas, alkohol, rokok, pola makan yang salah, perubahan pada
jantung dan pembuluh darah.
2. Hipertensi sekunder yang penyebabnya karena adanya penyakit
jantung, DM, ginjal, dan kelainan hormonal.

2. Anatomi Fisiologi
a. Anatomi

Gambar 3.3 Peredaran besar dan kecil

b. Fisiologi
1) Sirkulasi dan Pembuluh Darah Jantung
a) Sirkulasi Darah
1) Sirkulasi Sistemik (Peredaran besar)
Darah meninggalkan vetrikel kiri melalui aorta dan
arteri. Arteri yang lebih kecil atau arteriola keseluruh tubuh.
Darah dari seluruh tubuh kembali ke jantung melalui vena
yang kemudian membentuk vena cava dan bermuara ke
atrium kanan jantung.
8

2) Sirkulasi Pulmonal (Peredaran darah kecil)


Darah yang kurang mengandung O2 dari ventrikel kanan
dialirkan ke paru-paru melalui arteri pulmonalis. Di paru-
paru terjadi paningkatan O2 dalam kapiler pulmonal yang
kemudian bergabung membentuk vena pulmonalis dan
membawa darah yang kaya O2 ke jantung melalui atrium kiri.
b) Penbuluh Darah Jantung
Pembuluh darah yang berada disekitar jantung dan membantu
dalam proses sirkulasi darah adalah
1) Aorta
2) Arteri pulmonalis
3) Vena pulmonalis
4) Vena cava superior dan vena cava inferior
2) Bagian Fungsional dari Sirkulasi
Fungsi sirkulasi adalah untuk melayani kebutuhan jaringan
untuk mentransfer produk-produk yang tidak berguna untuk
menghantar hormon dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh yang
lain, dan secara umum untuk memelihara lingkungan hidup secara
optimal dan untuk fungsi sel-sel.
3) Teori Dasar Fungsi Sirkulasi
Walaupun fungsi sirkulasi bersifat kompleks tetapi ada hal
prinsip dasar yang mendasari fungsi saluran sistem.
a) Darah yang mengalir kesetiap jaringan tubuh hampir selalu
aktif.
b) Curah jantung dikendalikan terutama oleh penjumlahan aliran
darah setempat.
c) Pada umumnya tekanan darah arteri dikendalikan secara mandiri
dari pengaturan aliran darah setempat atau pengaturan curah
jantung.
4) Hubungan antara Tekanan, Aliran, dan Tahanan
a) Tekanan darah
Satuan tekanan yang standar tekanan darah hampir selalu
dinyatakan dalam mililiter air raksa (mmHg) karena manometer
air raksa telah dipakai sebagai rujukan baku untuk tekanan
9

darah. Sebenarnya tekanan darah berarti kekuatan yang


dihasilkan oleh aliran darah terhadap setiap satuan luas
pembuluh darah. Bila seseorang mengatakan tekanan aliran
pembuluh darah atau 50 mmHg, itu berarti bahwa kekuatan
yang dihasilkan cukup untuk mendorong kolom air raksa sampai
50 mmHg. Bila tekanan atau 100 mmHg, itu berarti kolom air
raksa akan didorong setinggi 100 mililiter.
Pengukuran tekanan darah sebaiknya dilakukan setelah
pada saat istirahat yang cukup yaitu sesudah berbaring kurang
lebih 5 menit. Pengukuran sebaiknya dilakukan pada posisi
berbaring, duduk, dan berdiri sebanyak 2-3 kali dengan interval
2 menit serta sebaliknya dilakukan pemeriksaan pada kedua
lengan.
Ukuran manset harus cocok dengan ukuran lengan atu
harus melingkar palingsedikit 80 % lengan atas dan lebar manset
paling sedikit 2-3 kali panjang lengan atas. Pinggir bawah
manset harus 2 cm diatas fossa kubili. Sebaiknya tersedia
ukuran manset dewasa dan anak-anak. Balon dipompa sampai
tekanan sistolik kemudian diturunkan perlahan-lahan. Tekanan
sistolik pada saat terdengar bunyi pertama sedangkan tekanan
diastolik bila bunyi yang terakhir.
b) Aliran darah
Secara sederhana aliran darah berarti jumlah darah yang
mengalir melalui, suatu titik tertentu disirkulasi dalam satuan
waktu tertentu.
Aliran darah total pada sirkulasi orang dewasa dalam
keadaan istirahat dalam sekitar 5000 ml/mnt. Aliran darah ini
disebut curah jantung karena ini merupakan jumlah darah yang
dipompakan oleh jantung dalam satuan waktu tertentu.
Aliran melalui pembuluh darah ditentukan oleh kedua
faktor :
1) Perbedaan tekanan antara kedua ujung pembuluh yaitu tenaga
yang mendorong darah melalui pembuluh darah.
10

2) Rintangan bagi aliran darah melalui pembuluh yang disebut


tahanan vaskuler.
c) Tahanan terhadap aliran darah
Suatu tahanan oleh penghalang terhadap aliran darah
dalam pembuluh, tetapi tidak dapat diukur secara berlangsung
apapun. Sebaiknya tekanan harus dihitung dari pengukuran
aliran darah dan pembedaan tekanan pembuluh.
Bila perbedaan tekanan antara dua titik dalam pembuluh
darah 1 mmHg dan aliran adalah 1 ml/detik tahanan dikatakan
sebesar 1 satuan tahanan perifer.

3. Etiologi
Beberapa faktor penyebab terjadinya hipertensi (tekanan darah
tinggi) adalah :
a. Faktor predisposisi
1) Usia
Hipertensi yang banyak menyerang orang pada usia produktif
atau mulai pada usia 35 - 44 dan pada usia 65 - 74 prevalensianya
menjadi lebih tinggi.
2) Jenis kelamin
Hipertensi memiliki resiko paling tinggi pada usia 30-55 tahun.
Aktivitas pria yang berat, kerja keras dan kesibukan lainnya
menimbulkan tekanan dan pikiran berat sehingga menimbulkan
stress sebagai pemicu terjadinya hipertensi. Namun diatas 55 tahun
resiko terjadi hipertensi tinggi pada wanita setelah mengalami
monopause dan perubahan homonal.
3) Genetika dan penyakit jantung bawan
Hipertensi dapat dirujukkan, jika salah satu orang tua menderita
hipertensi, maka anak-anak memiliki resiko 50 % lebih tinggi untuk
terkena hipertensi.
b. Faktor pencetus
1) Stress
Seseorang dengan gaya hidup begitu moderen bekerja keras
dalam siatuasi penuh tekanan yang berat, kurang olahraga, sering
merokok, minum alkohol dan minum kopi dalam waktu yang
berkepanjangan akan menyebabkan stress dalam kondisi tersebut
11

adrenalin dan kortisol dilepaskan ke dalam aliran darah sehingga


menyebabkan peningkatan tekanan darah.
2) Pola makan
Kebiasaan makan-makanan yang biasanya diawetkan dan garam
dapur serta bumbu penyedap dalam jumlah yang tinggi, misalnya
monosudium glutamat (MSG) dapat menaikan tekanan darah karena
mengandung natrium dalam jumlah yang berlebihan. Itulah sebabnya
pola makanan yang salah dapat menjadi salah suatu penyebab
hipertensi.

3) Obesitas
Berat badan yang berlebihan akan membuat seseorang susah
bergerak dengan bebas. Jantung berkerja keras untuk memopa darah
agar bisa menggerakkan badan berlebihan dari tubuh. Disamping itu
pembuluh darah mengecil dan tersumbat dan sebagai akibat
penupukan lemak atau lipid didinding pembuluh darah sehingga
darah yang lewat tidak maksimal dan terjadi tekanan yang kuat dan
tinggi.
4) Gangguan ginjal
Gangguan pada ginjal dapat mengakibatkan perubahan pada
fungsi ginjal. Meningkat penahan air dan garam oleh ginjal dimana
ginjal tidak mampu membuang sejumlah garam dan air didalam
tubuh. Volume darah di dalam tubuh meningkat, sehingga tekanan
darah juga meningkat.
5) Kelainan hormon
Pelepasan hormon epinefrin (adrenalin) dan non-epinefrin
(nonadrenal) diduga sebagai salah satu penyebab
hipertensi.meningkatnya pengeluaran hormon insulin sebagai salah
satu hormon yang mengatur gula darah dapat menyebabkan
penebalan pembuluh darah dan karinanya meningkatkan resistensi
perifer.

4. Patofisiologi
12

Tekanan darah di pengaruhi oleh curah jantung dan tahanan perifer.


Faktor yang mempengaruhi curah jantung dan tahanan perifer akan
mempengaruhi tekanan darah seperti faktor genetik dan umur (faktor yang
tidak dapat di ubah), stress, obesitas, merokok, asupan Na yang
meningkat, kelainan hormonal dan penyakit ginjal. (faktor yang dapat di
ubah).
Perubahan fungsi membran sel pada kelaianan genetik diduga
terjadi perubahan pada membran sel yang dapat menyebabkan konstriksi
fungsional dan hipertensi struktural. Kontriksi yang terjadi pada pembuluh
darah yang mengakibatkan terjadi peningkatan tekanan perifer yang
kemudian menyebabkan peningkatan tekanan darah.
Perkembangan gerontologis. Perubahan struktural dan fungsional
pada sistem pembuluh darah perifer bertanggung jawab padaperubahan
tekanan darah yang terjadi pada usila. Perubahan tersebut meliputi
atereklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunsan relaksasi
oto polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan
ekstensi dan daya regang pembuluh darah konsekuensinya aorta dan arteri
besar berkurang. Kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah
yang di pompa oleh jantung menyebabkan peningkatan tekanan perifer54
yang pada akhirnya mengakibatkan peningkatan tekanan darah.
Sistemrenin anguiotensin dan aldosateron berperan dalam
timbulnya hipertensi. Produksi renin di pengaruhi oleh berbagai fakto
antara lain stimulasi sistem saraf simpatis yang merupakan respon dari
stress psikologis dan penurunan aliran darah ke ginjal . renin berperan
mengubah angiotensinogen menjadi angiotensi 1 kemudian di ubah
menjadi angiotensi 2 yang merupakan vasokonstriktor kuat yang pada
gilirannya merangsang pelepasan aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon
ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan
peningkatan tekanan intravaskular.
Hipertensi yang disebabkan oleh kelainan hormonal misalnya pada
sindrom chusing adanya pelepasan ACTH yang tidak adekuat akan
meningkatan konsentrasi glukokortikoid plasma sehingga meningkatkan
13

efek katekolamin (peningkatan curah jantung) dan kerja


mineralokortikoid, kortisol yang berkadar tinggi (retensi natrium).
Faktor gaya hidup yang dapat mempengaruhi hipertensi adalah
obesitas, merokok, asupan natrium yang meningkat.
Pasien Obesitas terjadi peningkatan glokosa dalam darah.
Peningkatan glukosa dalam darah dapat merusak sel endotel pembuluh
darah sehingga terjadi reaksi imun dan peradangan sehingga akhirnya
terjadi pengendapan trombosit, makrofag, dan jaringan fibrosa yang akan
menyebabkan penebalan dinding pembuluh darah sehingga terjadi
peningkatan tahanan perifer dan menyebabkan peningkatan tekanan darah.
Peningkatan intake sodium menyebabkan retenasi sodium di ginjal
yang mengakibatkan retensi cairan di ginjal yang akan meningkatkan
volume plasma. Dengan peningkatan volume plasma akan terjadi
peningkatan curah jantung dan peningkatan tekanan darah (Keperawatan
medikal bedah vol.2/2004).

5. Manisfestasi Klinik
Pada sebagian besar penderita hiperensi tidak menimbulkan gejala
meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan
dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi. Gejala-gejala yang
dimaksud adalah :
a. Sakit kepala
b. Jantung berdebar-debar
c. Mudah lelah
d. Pendarahan dari hidung
e. Wajah kemerahan
f. Penglihatan kabur
g. Sulit bernafas / sesak nafas
h. Mual dan muntah
i. Gelisah
j. Vertigo
k. Sering BAK
l. Leher terasa tegang
Dalam keadaan hipertensi berat penderita dapat mengalami
penurunan kesadaran dan bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak.
14

6. Tes Diagnostik
Pemeriksaan dignostik yang dapat dilakukan untuk mengetahui
seseorang telah mengalami hipertensi dan untuk mengetahui organ-oragan
yang rusak akibat hipertensi. Diantaranya sebagai berikut :
a. Pengukuran tekanan darah dengan menggunakan termometer air raksa
yang disebut tensimeter. Dikatakan tekanan darah tinggi jika pada saat
duduk tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih dan tekanan
sistolik mencapai 90 mmHg atau lebih. Jika pengukuran memberikan
hasil yang tinggi maka tekanan darah diukur kembali dan kemudian
ikur sebanyak 2 kali pada 2 hari berikutnya untuk memastikan apakah
seseorang karena hiperetnsi.
b. Elektro kardiogarafi (EKG)
Hipertropi atrium / ventrikel, menyimpan aksisi, iskemia dan kerusakan
pola bistritmia, takhikardia dan ibrilasi atrial yang enggambarkan
perubahan keadaan jantung.
c. Echocardiogram
Menunjukkan pembesaran bilik, perubahan dalam fungsi / struktur
katub dan penurunan kontrakfilitas ventrikular.
d. Rontgen Dada
Menujukkan pembesaran jantung ; dilatasi / hipertapi bilik atau
perubahan pebuluh darah.
e. BUN / Kreatinin
Memberikan informasi tentang perfusi / fungsi ginjal.
f. Glukosa
Hiperglikemia (diabetes militus adalah pencetus hipertensi) karena
peningkatan kadar ktekolamin.
g. Kalium Serum
Hipokalemia dapat mengidikasikan adanya aldosteron utama dan
menjadi efek samping terapi diuretik.

h. Kolesterol dan Trigeliserida Serum


Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk adanya
pembentukan plak ateromatosa.
i. Urnalis
Darah, protein, glukosa mengisayaraatkan disfusi ginjal dan adanya
diabetes.
15

7. Penatalaksanaan Medik
Tujuan tiap program penanganan hipertensi adalah mencegah
terjadinya morbiditas dan mortalitas penyerta dan dengan mencapai dan
mempertahankan tekanan darah seoptimal mungkin sambil mengontrol
faktor-faktor yang ada.
Terapi dan penanganan non farmakologi yang diberikan adalah :
a. Penurunan BB (berat badan) karena obesitas
Denagn penurunan berat badan (BB) maka dapat mengurangi bahkan
dapat mengendalikan TD, karena setiap penurunan BB1 kg maka TD
akan turun 1,5 mmHg, selain itu penurunan berat badan menurunkan
kadar kolesterol dalam darah dan mencegah resiko serangan jantung.
b. Diet
Diet tiak diartikan sebagai diet ketat namun diet yang dimaksud :
1) Mengurangi asupan garam (sodium klorida)
2) Menkonsumsi makanan berserat karena dapat menakhan atau
mengurangi asupan natrium.
3) Menghentikan kebiasaan buruk (rokok, alkohol)
4) Perbanyak asupan kalium dan magnesium.
c. Olahraga teratur dan klinik relaksasi, latihan fisik dapat
mengidentifikasi unutk mengurangi stress, karena dengan latihan fisik
dapat menjaga mekanisme pengaturan TD. Disamping penanganan
farmakologi, para medis juga memberikan terapi farmakologi obat-
obatan untuk menghambat hipertensi.

d. Diuretik
1) Diuretik thiazid seperti : cholothazid dan chlorth lidon
2) Diuretik loop seperti : fulrosemide (lasix)
Cara kerja :
a) Membantu ginjal membunag garam dan air, yang akan
mengurangi volume cairan di seluruh tubuh.
b) Melebarkan pembuluh darah dan keseimbangan natrium.
e. Inhibitor A drenergik
Beta-blocker dan alfa blocker seperti : propranadol, Hcl, nodolol,
dokzasoin, prazoin.
Cara kerja :
16

1) Menghambat sistem saraf simpatis


2) Mengurangi denyut jantung dan keluaran total darah dari jantung.
3) Menghambat produksi adrenalin
f. Vasodilator
ACE inhibitor dan pengubah angiotensi
Seperti : minoxidil, gaptopril, hifedipine, lisinopen, dihidrat.
Cara kerja :
1) Vasodilatasi langsung pada pembuluh antriol, merelaksasi otot polos.
2) Menurunkan kerja jantung dan konsumsi energi, meningkatkan
pengiriman oksigen ke jantung.
g. Pada hipertensi yang memerlukan TD segera turun (kedaruratan
hipertensi) biasanya diberikan :
1) Biozonde
2) Nitroprusside
3) Nitroglicerin
4) Labelatol

Semua jenis ini bekerja dengan cepat untuk menurunkan tekanan


darah yang diberikan secara intravena.

8. Komplikasi
Membiarkan hipertensi berarti membiarkan jantung bekerja lebih
keras dan membiarkan kerusakan dinding pembuluh darah. Jika keadaan
ini berlangsung dalam waktu yang lama dan tidak ditangani maka dapat
menimbulkan komplikasi diantaranya :
a) Kerusakan penglihatan
Tekanan darah yang sangat tinggi akibat dari adanya penyempitan
pembuluh darah. Penebalan serta pengerutan dinding pembuluh darah
dari berbagai sebab. Dalam keadaan ini jantung memompa darah
dengan kontraksi yang cepat sehingga darah yang keluar keseluruh
tubuh lewat pembuluh darah mengalami tekanan yang sangat kuat
akibat sumbatan dari dinding pembuluh darah. Akibatnya pembuluh
darah perifer pada mata dan organ pecah. Organ dimata tidak mendapat
17

suplay nutrisi dan oksigen lewat aliran darah, sehingga mengakibatkan


penglihatan menjadi kabur dan kebutaan.
b) Stroke
Hipertensi adalah faktor utama terjadinya stroke. Hal ini terjadi karena
tekanan darah yng terlalu tinggi menyebabkan perubahan struktur
arteri-arteri dan penyumbatan pembuluh darah. Pembuluh darah yang
menyempit menyebabkan darah terganggu sehingga pembuluh darah
yang mempengaruhi otak akan lemah dan pecah. Saat itu akan terjadi
perdarahan di otak sehingga akan timbul stroke.
Stroke juga dapat timbul akibat sumbatan dari gumpalan darah yang
tinggal dipembuluh darah yang sempit, yang akan memperburuk
keadaan pembuluh darah arteri ke otak.
c) Kerusakan ginjal
Kerusakan ginjaldiketahui dapat terjadi akibat hipertensi sebagai salh
satu komplikasi. Hal ini juga dapat terjadi karena volume darah yang
meningkat akibat vasokonstriksi pembuluh darah dalam tubuh akan
menyempit dan menebalkan aliran darah menuju ginjal akibat ginjal
tidak dapat membuang sejumlah air dan natrium dari dalam darah.
Natrium dan air menumpuk dalam jaringan tubuh kemudian terjadi
odem. Jika keadaan ini terus terjadi,ginjal akan bekerja terus sampai
tidak mampu bekerja dengan baik akhirnya terjadi disfungsi ginjal atau
gagal ginjal.
d) Payah jantung
Peningkatan tekanan darah sistemik meningkatan resistensi terhadap
pemompaan darah dari ventrikel kiri, sehingga beban kerja jantung
bertambah dan tidak mampu lagi memompa darah keseleruh tubuh
sehingga akibatnya terjadi hipertrofi ventrikel untuk meningkatakan
kekuatan kontraksi, akan tetapi kemampuan ventrikel untuk
mempertahankan curah jantung terlampauhi dan terjadi dilatasi
mengakibatkan payah jantung (Coungestive Heart Fleure).
18

B. Konsep Dasar Keperawatan


1. Pengkajian
a. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan
DS : Riwayat kebiasaan merokok, minum kopi dan alkohol, memiliki
gaya hidup yang modern, pola makan yang bdsalah serta fakto
stres.
DO : Mempunyai faktor-faktor resiko keluarga/genetik, hipertensi,
atrosklerosis, penyakit jantung, diabetes melitus, penyakit
cerebrovaskular/ginjal.
b. Pola nutrisi dan metabolik :
DS : Makanan yang disuikai, yang dapat mencakup makan yang
tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol (sperti mjakanan
yang di goreng, keju dan telur) gula-gula yang berwarna hitam,
kandungan tinggi kalori. Mual, muntah, perubahan berat badan
(meningkat/menurun). Riwayat penggunaan diuretik.
DO : Berat badan obesitas atau normal adanya edema (mungkin
umum atau tertentu), kongestive vena;glikosuria.

c. Pola eliminasi :
DS : gangguan ginjal saat ini atau yang lalu seperti infeksi/obstruksi.
DO : riwayat penyakit ginjal masa yang lalu.
d. Pola aktivitas dan latihan :
DS : Kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton.
DO : Frekuensi jantung meningkat , perubahan irama jantung,
takhikardi.
e. Pola tidur dan istirahat :
DS : Kelemahan,mudah lelah, gelisah dan mudah terbangun.
DO : Frekuensi jantung meningkat, dan perubahan irama jantung.
f. Pola persepsi kognitif :
DS : Gangguan proses berpikir, perubahan proses daya ingat dan
konsentrasi, penglihatan kabu/terganggu.
DO : Perubahan kemampuan berbicara.
g. Pola persepsi dan konsep diri
DS : Pemahaman tentang dirinya lebih, peran diri dan gambaran
diri,cemas, toidak mampu mengambil keputusan.
DO : Cemas, gelisah.
h. Pola peran dan hubungan dengan sesama.
19

DS : -
DO : -
i. Pola reprodusi dan seksualitas
DS : -
DO : -
j. Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress
DS : Riwayat perubahan kepribadiaan, anxietas, depresi, euforia tatu
marah kronis (dapat mengindikasikan kerusakan cerebral).

DO : Faktor-faktor stress, multipel (hubunganm keuangan, yang


berkaitan dengan pekerjaan) letupan suasana hati, gelisah,
penyempitan kontinue,peruhatian, tangisan yang meledak,
gerakan tangan yang empati, otot muka tegang, gerakan fisik
cepat, pernafasaan yang menghela, peningkatan pola bicara.
k. Pola sistem kepercayaan
DS : -

DO : -

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang ditegakkan untuk pasien dengan
hipertensi berdasarkan prioritas adalah :
a. Penuruan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterlood,
vasokonstriksi, iskemia miokardia, hipertropi / irgiditas (kelakuan)
ventrikulasi.
b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, ketidak
seimbangan antara suplay dan kebutuhan oksigen.
c. Nyeri akut, sakit kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan
vaskuler cerebral.
d. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
masukan berlebihan akibat kebutuhan metabolik, pola hidup monoton,
keyakinan budaya.
e. Perubahan pola eliminasi urinarius berhubungan dengan gangguan
dalam persyarafan kandug kemih.
f. Perubahan pola tidur berhubungan dengan fisiologis (kerusakan
neurologis).
g. Perubahan persepsi-sesori penglihatan berhubungan dengan kerusakan
status organ indra.
20

h. Ketidak efektifan koping idividual berhubungan dengan


krisissituasional, perubahan hidup beragama, relaksasi tidak adekuat,
sistem pendukung tidak adekuat, sakit atau tidak pernah olah raga,
nutrisi buruk, harapan yang tidak terpenuhi, kerja yang berlebihan,
persepsi tidak realistik, metode koping tidak efektif.
i. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, rencana pengobatan
berhubungan dengan kurang pengetahuan / daya ingat,
menginterprestasikan informasi, keterbatasan kognitif menyangkal
diagnosa.

3. Perencanaan keperawatan
a. Penuruan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterlood,
vasokonstriksi, iskemia miokardia, hipertropi / irgiditas (kekuatan)
ventrikulasi.
Hasil yang diharapkan :
1) Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah,
beban kerja jantung.
2) Mempertahankan TD dalam rentang individu yang dapat diterima,
memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil dalam renang
normal pasien.
Rencana tindakan :
1) Pantau tekanan darah, ukur pada kedua tangan / paha evaluasi awal
gunakan ukuran manset yang tepat dan teknik yang akurat.
R/ Perbandingan dari tekanan memberikan gambaran yang lebih
lengkap tentang keterlibatan / bidang masalah vaskular.
2) Catat perbedaan, kualitas denyutan sentral dan periver.
R/ Denyut karotis, jugularis, radialis dan femoralis mungkin
teramati / terpalpasi, denyutan pada tungkai mungkin menurun,
mencerminkan efek dari vasokostriksi dan kogesti vena.
3) Auskultasi tonus jantung dan bunyi nafas.
R/ S4 umum terdengar pada pasien hipertensi berat karena adanya
hipertrapi atrium (peningkatan volume/tekanan atrium).
Perkembagnan S3 menujukkan hipertrofi ventrikel dan
kerusakan fungsi.
4) Amati warna kulit, kelembapan, suhu dan masa pengisapan kaviler.
21

R/ Adanya pucat, dingin, kulit lembab, dan masa penghisapan


kapiler lambat mungkin berkaitan dengan vasokonstriksi atau
mecerminkan dekopensasi / penurunan curah jantung.
5) Catat edema umum / tertentu.
R/ Dapat mengidikasikan gagal jantung, kerusakan ginjal atau
vaskular.
6) Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktivitas / keributan
lingkungan. Batasi jumlah pengujungdan lamanya tinggal.
R/ Membantu untuk menurunkan rangsangan simpatis
meningkatkan relaksasi.
7) Pertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat ditempat tidur
kursi, batu pasien melakukan aktivitas perawatan diri sesuai
kebutuhan.
R/ Menurunkan sress dan ketegangan yang mempengaruhi
tekanan darah dan perjalanan penyakit hipertensi.
8) Lakukan tindakan-tindakan yang nyaman seperti pijat punggung
dan leher, meninggikan kepala tempat tidur.
R/ Mengurangi ketidak nyamanan dan dapat menurunkan
rangsangan sipatis.
9) Anjurkan teknik relaksasi, panduan imajinasi, aktivitas penglihatan.
R/ Dapat menurunkan rangsangan yang menimbulkan stress
mebuat efek tenang, sehingga akan menurunkan TD.
10) Beri tahu respon terhadap obat untuk mengotrol TD.
R/ Respon terhadap terpi obat “SI apped” (diuretik, inhibitor dan
vasilidator) tergantung pada individu dan efek sinergis obat.
11) Berikan obat sesuai indikasi contoh : diuretik trazid, diuretik loop,
diuretik hemat kalium, ihibitor simpatis, vasodlator kerja langsung,
vasodilator oral dan ganglion.
R/ Pemberian obat-obatan hipertensi memiliki kerja khusus yang
berbeda-beda namun secara umum obat-obatan tersebut
bekerja untuk menurukan TD.
12) Beri pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi.
R/ Pembatasan ini dapat menangani retensi cairan dan respon
hipertensi, dengan demikian menurunkan kerja jantung.
13) Siapkan untuk pembedahan bila ada indikasi.
R/ Bila hipertensi berhubungan dengan adanya feokromositoma,
maka pengangkatan tumor akan memperbaiki kondisi.
22

b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidak


seibangan antara suplay dan kebutuhan oksigen.
Hasil yang diharapkan :
1) Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan.
2) Melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat
diukur.
3) Menunjukkan penurunan dalam tanda-tanda intoleransi fisiologi.
Rencana tindakan :
1) Kaji respon pasien terhadap aktivitas, perhatikan frekuensi nadi
lebih dari 20 kali per menit di atas frekuensi istirahat.
R/ Menyebutkan parameter membantu dalam mengkaji respon
fisiologi terhadap sress aktivitas dan bila ada merupakan
indikator dari kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat
aktivitas.
2) Instruksikan pasien tentang teknik pengamatan energi misalnya :
Menggunakan kursi saat mandi, duduk saat menyisir rambutdan
mengikat gigi melakukan aktivitas dengan perilaku.
R/ Teknik menghemat energi mengurangi penggunaan energi.
Juga membantu keseimbangan antara suplay dan kebutuhan
oksigen.
3) Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas / perawatan diri
terhadap jika dapat ditoleransi. Berikan bantuan hanya sebatas
kebutuhan akan mendorong kemandirian dalam melakukan
aktivitas.
c. Nyeri akut, sakit kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan
vaskuler cerebral.
Hasil yang diharapkan :
1) Melaporkan nyeri / ketidak nyamanan hilang / terkontrol.
2) Menggunakan metode yang memberikan pengurangan.
3) Mengikuti regimen farmakologi yang diresepkan.
Rencana tindakan :
1) Mempertahankan tirah baring setelah fase akut.
R/ Meminimalkan stimulasi / menigkatkan relaksasi.
2) Beri tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala,
misalnya kompres dingin pada dahi, pijat punggung dan leher,
teknik relaksasi dan aktivitas waktu senggang.
23

R/ Tindakan yang menurunkan tekanan vaskular cerebral dan


yang memperlambat / memblok respon simpatis efektif dalam
menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya.
3) Hilangkan / minimalkan aktivitas konstriksi yang dapat
meningkatkan sakit kepala misalnya mengejan saat BAB, batuk
panjang, membungkuk..
R/ Aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan sakit
kepala adanya peningkatan tekanan vaskuler cerebral.
4) Batu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan.
R/ Pusing dan penglihatan kabur sering berhubungan dengan sakit
kepala. Pasien juga daat mengalami episode hipotensi posteral.
5) Berikan cairan, makanan lunak, perawatan mulut, yang teratur bila
terjadi perdarahan hidung atau kompres hidung telah dilakukan
untuk menghentikan perdarahan.
R/ Meningkatkan kenyamanan umum, kompres hidung dapat
mengganggu menelan atau embutuhkan nafas dengan mulut,
menimbulkan stagnasi sekresi oral dan mengeringkan
membran mukosa.

6) Berikan sesuai indikasi :


Analgetik.
R/ Menurunkan / mengontrol nyeri dan menurunkan rangsangan
sistem saraf simpatis.

d. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


masukan berlebihan akibat kebutuhan metabolik, pola hidup monoton,
keyakinan budaya.
Hasil yang diharapkan :
1) Mengidentifikasi hubungan antara hipertensi dan kegemukan
menunjukkan perubahan pola makan, mempertahankan BB yang
diinginkan dengan memperlihatkan kesehatan optimal.
Rencana tindakan :
1) Kaji pemahaman pasien tentang hubungan langsung antara
hipertensi dan kegemukan.
R/ kegemukan adalah resiko tambahan pada tekanan darah tinggi
karena diproposir antara kapasitas aorta dan peningkatan
massa tubuh.
24

2) Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi


masukan lemak, garam dan gula sesuai indikasi.
R/ Kesalahan kebiasaan makan menunjang terjadinya
aterosklerosis dan kegemukan yang merupakan predisposisi
untuk hipertensi dan komplikasinya misalnya : stroke, penyakit
ginjal, gagal jantung.
3) Tetapkan keinginan spine penurunan BB.
R/ Motivasi untuk penurunan BB adalah internal. Individu harus
berkeinginan untuk menurunkan BB, bila tidak maka program
sama sekali tidak berhasil.
4) Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diet.
R/ Mengidentifikasi kekuatan / kelemahan dalam program diet
terkhir. Membantu dalam menentukan kebutuhan individu
untuk penyesuaian penyuluhan.
5) Tetapkan rencana penurunan BB yang relistik dengan pasien
misalnya : penurunan BB 0,5 kg per minggu. .
R/ Penurunan masukan kalori seseorang sebanyak 500 kalori per
sehari secara teori menurunkan BB 0,5 kg/minggu.
6) Dorong pasien untuk mempertahankan asukan makanan harian
termasuk kapan dan dimana makan dan lingkungan dan perasaan
sekitar saat makan dimakan.
R/ Memberikan data dasar tentang keadekuatan nutrisi yang
dimakan dan kondisi emosi saat makan, membantu
emfokuskan perhatian pada faktor mana pasien telah / dapat
mengontrol perubahan.
7) Instrusikan dan batu memilih makanan yang tepat, menghindari
makaandengan kejenuhan lemak tinggi.
R/ Menghindari makanan tinggi lemak jenuh kolestrol penting
dalam pencegahan perkembangan aterogenesis.
8) Rujuk ke ahli gizi sesuai indikasi..
R/ Memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi
kebutuhan diet individual.

e. Perubahan pola eliminasi urinarius berhubungan dengan gangguan


dalam persyarafan kandug kemih.
Hasil yang diharapkan :
Mengungkapkan tentang pemahaman tentang kondisi
25

1) Mempertahankan keseimbangan masukan / haluaran dengan urine


jernih, bebas bau.
2) Mengungkapkan / mendemonstrasikan perilaku dan teknik untuk
mencegah reaksi / infeksi urinarius.

Rencana tindakan:
1) Kaji pola kemih, seperti frekuensi dan jumlahnya. Bandingan
haluran urine dan masukan cairan dan catat berat jenis urine.
R/ Mengidentifikasi fungsi kadung kemih (misalnya :
pengosongan kandung kemih, fungsi ginjal dan keseimbangan
cairan).
2) Palpasi adanya distensi kandung kemihdan obsevasi pengeluaran
urine.
R/ Disfungsi kandung kemih bervariasi, ketidak mampuan
berhubungan dengan hilangnya konstraksi kandung kemih
untuk merileksasikan sfingter urinarius (retensi / refluks).
3) Anjurkan pasien untuk minum dan masukan cairan termasuk juice.
R/ Membantu mempertahankan fungsi ginjal, mencegah infeksi
dan pembentukan batu.
4) Observasi adanya urine seperti awan atau perdarahan, bau yang
tidak enak.
R/ Tanda-tanda infeksi saluran perkemihan atau ginjal dapat
menyebabkan sepsis.
5) Jangan biarkan kandung kemih penuh, jika awalnya memakai
cateter mulai melakukan program kateterisasi secara intermitten
jika diperlukan.
R/ Cateter foley digunakan selama fase akut untuk mencegah
retensi urine dan untuk membantu haluaran.
6) Pantau BUN, kreatinin, SDP
R/ Menggambarkan fungsi ginjal, dan mengidentifikasi
komplikasi.
26

f. Perubahan pola tidur berhubungan dengan tekanan psikologi (kerusakan


neurologis) .
Hasil yang diharapkan :
Mampu menciptakan pola tidur yang adekut dengan penurunan
terhadap pikiran yang melayang-layang.
Rencana tindakan :
1) Berikan kesempatan untuk istirahat / tidur sejenak, anjurkan latihan
saat siang hari, turunkan aktivitas mental / fisik pada sore hari.
R/ Karena aktivitas fisik dan mental yang lama mengakibatkan
kebingungan, aktivitas yang terprogram tanpa stimulasi
berlebihan yang meningkatkan waktu tidur.
2) Evaluasi tingkat stress / orientasi sesuai perkembangan hari demi
hari.
R/ Peningkatan kebingungan, disorientasi dan tingkah laku yang
tidak koopertif dapat mengganggu waktu tidur.
3) Lengkapi jadwal tidur dan ritual secara teratur, katakan pada pasien
bahwa saat ini adalah waktu untuk tidur.
R/ penguatan bahwa saatnya untuk tidur dan mempertahankan
kestabilan lingkungan.
4) Berikan makanan kecil sore hari, susu hangat, mandi, dan masase
punggung.
R/ Meningkatkan relaksasi dengan perasaan mengantuk.
5) Turunkan minum sore hari, lakukan bekemih sebelum tidur.
R/ menurunkan kebutuhan akan bangun untuk pergi ke kamar
mandi / berkemih selama malam hari.

g. Perubahan persepsi sesori penglihatan berhubungan dengan kerusakan


status organ indra.
Hasil yang diharapakan :
Memperahankan lapang ketajaman penglihatan tanpa kehilangan lebih
lanjut.
27

Rencana tindakan :
1) Pasatikan derajat / tipe kehilangan penglihatan.
R/ mempengaruhi harapan masa depan pasien dan pilihan
intervensi.
2) Dorong mengekspresikan perasaan tentang kehilangan /
kemungkinan kehilangan penglihatan.
R/ sementara intervensi dini mencegah kebutaan, pasien
menghadapi kemungkinan atau mengalami pengalama
kehilangan penglihatan sebagian atau total.
3) Tunjukkan pemberian tetes mata, contoh menghitung tetesan,
mengikuti jadwal, tidak salah dosis.
R/ mengontrol TIO, mencegah kehilangan penglihatan lanjut.
4) Melakukan tindakan untuk membantu pasien menangani
keterbatasan penglihatan.
R/ menurunkan bahaya keamanan sehubungan dengan perubahan
lapang pandang / kehilangan penglihatan dan akomodasi pupil
terhadap sinar lingkungan.

h. Ketidak telitian koping idividual berhubungan dengan krisis situasional,


perubahan hidup beragama, relaksasi tidak adekuat, sistem pendukung
tidak adekuat, sakit atau tidak pernah olah raga, nutrisi buruk, harapan
yang tidak terpenuhi, kerja yang berlebihan, persepsi tidak realistik,
metode koping tidak efektif.
Hasil yang diharapakan :
1) Mengiden prilaku koping efektif dan konsikuennya.
2) Menyatakan kesadaran kemampuan koping / kekuatan pribadi.
3) Mengidentifikasi potensial situasi stress dan mengambil langkah
untuk menghindari dan mengubahnya.
4) Mendemostrasikan penggunaan keterampilan / metode koping.
Rencana tindakan :
28

1) Kaji ketidak efektifan strategi koping dengan mengobservasi


prilaku misalnya : kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian,
keinginan berpartisipasi dalam rencana pengobatan.
R/ Mekanisme adaptif perlu untuk mengubah pola hidup
seseorang, menghindari hipertensi kronik dan
mengintergrasikan terapi yang diharuskan kedalam kehidupan
sehari-hari.
2) Catat laporan gangguan tidur, peningkatan kelebihan, kerusakan
konsentras, peka rangsangan, penurunan toleransi sakit kepala,
tidak mampu untuk mengatasi / menyelesaikan masalah .
R/ Manisfestasi mekanisme koping maladaptif mungkin
merupakan indikator merah yang ditentukan dan diketahui
setelah menjadi penentu utama TD diasolik
3) Membantu pasien untuk menidentifikasi stressor spesifik dan
memungkinkan strategi untuk mengatasinya.
R/ Pengenalan terhadap stressor adalah langkah pertama dalam
mengubah respons seseorang terhadap sressor.
4) Melibatkan pasien untuk mengevaluasi prioritas / tujuan hidup.
R/ Keterlibatan memberikan pasien perasaan kontrol diri yang
berkelanjutan, memperbaiki keterampilan koping, dan dapat
meningkatkan kerja sama dalam regimen terapeutik.
5) Dorong pasien untuk mengevaluasi prioritas / tujuan hidup.
Tanyakan pertannyaan seperti “apa yang anda lakukan merupakan
yang anda inginkan ?”
R/ Fokus perhatian pasien pada realitas situasi yang ada relatif
terhadap pasien tentang apa yang diinginkan.
6) Bantu pasien untuk mengidentifikasi dan mulai dan merencanakan
perubahan hidup yang perlu dibantu untuk enyesuaikan
keseimbangan membatalkan tujuan diri / keluarga.
R/ Perubahan yang perlu diprioritaskan secara realistik untuk
menghindari rasa tidak menentu dan tidak berdaya.
29

i. Kurangpengetahuan mengenai kondisi, rencana pengobatan


berhubungan dengan kurang pengetahuan / daya ingat,
menginterprestasikan informasi, keterbatasan kognitif, menyangkal
diagnosa.
Hasil yang diharapakan :
1) Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan regimen
pengobatan.
2) Mengidentifikasi efek samping obat dan memungkinkan
komplikasi yang perlu diperhatikan.
3) Memperhatikan TD dalam parameter normal.
Rencana tindakan :
1) Kaji kesiapan damn hambatan dalam belajar, termasuk orang yang
terdekat.
R/ Kesalahan konsep dan menyangkal diagnosa karena perasaan
sejahtera yang sudah lama dinikmati mempengaruhi minat
pasien / orang terdekat untuk mempelajari penyakit, kemajuan,
dan prognosis.
2) Tetapkan dan nyatakan batas TD normal, jelaskan tentang
hipertensi dan efeknya pada jantung, pembuluh dara, ginjal, dan
otak.
3) Hindari mengatakan TD “normal” dan gunakan istilah “terkontrol
dengan baik” saat menggambarkan TD pasien dalam batas yang
diinginkan.
R/ Karena pengobatan untuk hepertensi adalah sepanjang
kehidupan, maka dengan penyampaian ide “terkontrol” akan
membantu pasien untuk memahami kebutuhan untuk
melanjutkan pengobatan.
4) Bantu pasien dalam mengidentifikasi faktor-faktor resiko
kardiovaskuler yang dapat diubah misalnya : obesitas, diit tinggi
30

lemak jenuh, dan kolesterol, pola hidup monoton, merokok dan


minum alkohol, pola hidup stress.
R/ Faktor-faktor resiko ini telah menunjukkan hubungan dalam
menunjang hipertensi dan penyakit kardiovaskuler serta ginjal.
5) Beri penguatan pentingnya kerja sama dalam regimen pengobatan
dan mempertahankan perjanjian tindak lanjut.
R/ Kurang kerja sama adalah alasan umum kegagalan tetapi
antihipertensif. Oleh karenanya, evaluasi yang berkelanjutan
untuk kepatuhan pasien adalah penting untuk keberhasilan
pengobatan.
6) Instruksikan dan pergerakkan teknik pemantauan TD mandiri.
Evaluasi pendengaran ketajaman penglihatan dan keterampilan
manual serta koordinasi pasien.
R/ Dengan mengajarkan pasien dan orang terdekat untuk
memantau TD adalah meyakinkan untuk pasien karena
hasilnya memberikan penguatan visual dan upayah pasien.
7) Bantu aspien untuk mengenbangkan jadwal yang sederhana
memudahkan untuk minum obat.
R/ Dengan mengindividualisasikan jadwal pengobatan sehingga
sesuai dengan kebiasaan / kebutuhan pasien dapat
memudahkan kerjasama dengan regimen jangka panjang.
8) Jelaskan tentang obat yang diresepkan dengan bersamaan, dengan
dosis rasional, efek samping yang diperkirakan dan efek yang
merugikan.
R/ Informasi yang adekuat dan pemahaman bahwa efek samping
adalah umum dan sering menghilang dengan berjalanya waktu
dengan demikian meningkatkan kerjasama rencana
pengobatan.
9) Anjurkan pasien untuk berkonsultasi dengan pemberi perawatan
sebelum menggunakan obat-obatan yang diresepkan atau tidak
diresepkan.
31

R/ Tindakan kewapadaan penting dalam pencegahan interaksi


obat yang kemungkinan berbahaya.
10) Berikan informasi tentang sumber-sumber di masyarakat dan
dukung pasien dalam membuat perubahan pola hidup.
R/ Sumber-sunber di masyarakatkan seperti yayasan lantung
indonsia “coronary club”, Klinik berenti merokok, rehabilitasi
alkohol, program penurunan BB, kelas penanganan stress, dan
pelayanan konseling dapat membantu pasien dalam upaya
mengawali dan mempertahankan pola hidup.

4. Perencanaan pulang (Dischange Planning)


Dischange Planning diberikan pada pasien hipertensi seltelah
menjalani perawatan, bertujuan untuk memberikan pemahaman proses
penyakit dan penanganannya, kepatuhan dengan perawatan diri, dan tidak
adanya komplikasi. Oleh sebab itu hal-hal yang perlu diperhatikan baik
pasien maupun keluarga adalah :
a. Mengontrol selalu tekanan darah dengan pengukuran memakai
tensimeter. Memberikan pemahanman tentang peningkatan TD, TD
normal, TD rendah, tekanan darah tinggi dapat terjadi tanpa gejala oleh
sebab itu sangat penting untuk pengontrolan.
b. Anjurkan untuk mematuhi program asuhan dini yaitu :
1) Mematuhi aturan diet sesuai yang dianjurkan seperti : mengurangi
asupan garam, makan-makanan berserat mengurangi asupan
natrium, kolestrol, kalori tinggi, dan mengurangi makanan lemak
dan tinggi minyak.
2) Menghentikan kebiasaan atau gaya dan pola hidup yang salah dan
terlalu modren seperti berhenti merokok, minum alkohol.
c. Anjurkan untuk berolah raga secara teratur dan cukup latihan fisik
misalnya : jalan santai, senam dan lain-lain, namun ketahui batas aman,
latihan dan jangan berolah raga melebihi batas kemampuan, jangan
terlalu lelah.
32

d. Mengajarkan pasien dan keluarga untuk mengatasi atau menghindari


stress dengan relaksasi, pengalihan perhatian kesituasi yang
menyenangkan dan positif.
e. Berikan informasi tentang sumber-sunber pengobatan seperti adanya
yayasan jantung di Indonesia, klinik, klembaga khusus penyakit
jantung.
f. Menginstruksikan kepada keluarga dan pasien untuk selalu mematuhi
jadwal minum obat secara tertur sesuai indikasi resep dokter.
g. Anjurkan untuk tertur kontrol, konsultasi / mengunjungi dokter
sepesialis jantung untuk kemajuan pengobatan.