Anda di halaman 1dari 24

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori
1. Lanjut Usia
a. Definisi Lanjut Usia
Ahli gerontologi mendefinisikan lanjut usia menjadi

beberapa kategori. Pertama, lansia kronologis (kalender) mudah

diketahui dan dihitung berdasarkan jumlah tahun sejak dilahirkan.

Kedua, lansia biologis yaitu berpatokan pada keadaan jaringan atau

organ tubuh (Rosita, 2012). Meskipun begitu, masih ditemukan

orang yang sudah termasuk kategori lansia biologis pada usia 50

tahunan dan terdapat juga orang yang masih tampak muda meski

usianya telah mencapai 80 tahun karena disfungsi fungsional tidak

bergantung pada hitungan waktu. Ketiga, lansia psikososial yaitu

berdasarkan perubahan psikologis dan sosial. Misalnya, seseorang

berusia 80 tahun yang masih mampu aktif dan dapat menjalankan

perannya dalam keluarga meski di atas kursi roda. Sebaliknya,

seseorang yang berumur 55 tahun namun sudah tidak berkerja,

tidak mampu menjalankan perannya dalam keluarga dan hanya

menunggu bantuan dari anak dan cucunya maka dapat disebut

sebagai lansia (Agoes, 2010).


b. Batasan-batasan Lanjut Usia
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang

Kesejahteraan Lanjut Usia pada Bab 1 Pasal 1 Ayat 2


menyebutkan bahwa batasan lanjut usia di Indonesia adalah

seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas, baik pria maupun

wanita. Batasan usia lansia dari waktu ke waktu berbeda. WHO

menggolongkan lansia menjadi 4 kelompok yaitu usia pertengahan

(middle age) antara usia 45 sampai 59 tahun, lanjut usia (eldery)

berusia antara 60 dan 74 tahun, lanjut usia tua (old) usia 75 sampai

90 tahun, dan usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun

(Kushariyadi, 2010).
c. Perubahan yang Terjadi pada Lanjut Usia
1) Perubahan fisik
a) Sel
i. Lebih sedikit jumlahnya
ii. Lebih besar ukurannya
iii. Berkurangnya jumlah cairan tubuh dan

berkurangnya cairan intraseluler


iv. Menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal,

darah, dan hati


v. Jumlah sel otak menurun
vi. Terganggunya mekanisme perbaikan sel
vii. Otak menjadi atrofis beratnya berkurang 5-10 %

(Bandiyah, 2009).
b) Sistem persyarafan
Lansia menjadi lambat dalam respon dan waktu

untuk bereaksi, khususnya dengan stress. Kemudian

mengecilnya saraf panca indra meliputi berkurangnya

penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya syaraf

penciuman dan perasa, lebih sensitif terhadap perubahan

suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin namun

kurang sensitif terhadap sentuhan (Bandiyah, 2009).


c) Sistem pendengaran
Membran timpani menjadi atrofi menyebabkan

otosklerosis dan terjadinya pengumpulan serumen dapat

mengeras karena meningkatnya kratin (Bandiyah, 2009).

Lansia juga mengalami presbiakusis (gangguan pada

pendengaran) dikarenakan hilangnya kemampuan (daya)

pendengaran pada telinga dalam terutama terhadap bunyi

atau suara-suara atau nada-nada tinggi, suara yang tidak

jelas, sulit mengerti kata-kata dan 50 % terjadi pada usia di

atas 60 tahun (Azizah, 2011).


d) Sistem penglihatan
i. Spingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon

terhadap sinar
ii. Kornea lebih berbentuk sferis (bola)
iii. Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa) menjadi

katarak, jelas menyebabkan gangguan penglihatan


iv. Meningkatnya ambang, pengamatan sinar,

dampaknya adaptasi terhadap kegelapan lebih

lambat, dan sulit melihat cahaya dalam gelap


v. Hilangnya daya akomodasi
vi. Menurunnya lapang pandang : berkurangnya luas

pandangnya
vii. Menurunnya daya membedakan warna biru atau

hijau pada skala (Bandiyah, 2009).


e) Sistem kardiovaskuler
i. Elastisitas, dinding aorta menurun
ii. Katup jantung menebal dan menjadi kaku
iii. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1%

setiap tahun sesudah berumur 20 tahun, hal ini


menyebabkan menurunnya kontraksi dan

volumenya
iv. Kehilangan elastisitas pembuluh darah, kurangnya

efektivitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi,

perubahan posisi dari tidur ke duduk (duduk ke

berdiri) bila menyebabkan tekanan darah menurun

menjadi 65 mmHg (mengakibatkan pusing

mendadak)
v. Tekanan darah meninggi diakibatkan oleh

meningkatnya resistensi dari pembuluh darah

perifer, siastolic normal ±170 mmHg. Diastolik

normal ±90 mmHg (Bandiyah, 2009).


f) Sistem pengaturan temperatur tubuh
Pada pengaturan suhu, hipotalamus dianggap bekerja

sebagai suatu termostat, yaitu menetapkan suatu suhu

tertentu, kemunduran terjadi berbagai faktor yang

mempengaruhinya. Yang sering ditemui antara lain :


i. Temperatur tubuh menurun (hipotermia) secara

fisiologik ± 35ºC ini akibat metabolisme yang

menurun
ii. Keterbatasan refleks menggigil dan tidak dapat

memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi

rendahnya aktivitas otot (Bandiyah, 2009).


g) Sistem respirasi
i. Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan dan

menjadi kaku
ii. Menurunnya aktivitas dari sillia
iii. Paru-paru kehilangan elastisitas, kapasitas residu

meningkat, menarik nafas lebih berat, kapasitas

pernafasan mekanism menurun, dan kedalaman

bernafas menurun
iv. Alveoli ukurannya melebar dari biasa dan

jumlahnya berkurang
v. O2 pada arteri menurun menjadi 75 mmHg dan CO2

pada arteri tidak berganti


vi. Kemampuan untuk batuk berkurang
vii. Kemampuan pegas, dinding dada dan kekuatan otot

pernafasan akan menurun seiring dengan

pertambahan usia (Bandiyah, 2009).


h) Sistem gastrointestinal
Pada lansia mengalami kehilangan gigi, penyebab

utamanya adalah periodental disease yang bisa terjadi

setelah umur 30 tahun, penyebab lain meliputi kesehatan

gigi yang buruk dan gizi yang buruk. Indera pengecap

mengalami penurunan, adanya iritasi yang kronis, dari

selaput lendir, atropi indera pengecap (80%), hilangnya

sensitifitas dari saraf pengecap di lidah terutama rasa

tentang asin, asam dan pahit (Azizah, 2011).


Lapisan otot polos pada kerongkongan mulai

melemah yang akan menyebabkan gangguan kontraksi

sehingga terjadi kesulitan menelan dan makan menjadi

tidak nyaman. Seiring bertambahnya usia, kasus penyakit

Gastro Esophangeal Reflux Disease (GERD) juga

meningkat, ini terjadi ketika katup kerongkongan bawah


tidak tertutup secara sempurna dan isi lambung naik

kembali ke kerongkongan (Atun, 2010).


Pada lambung, rasa lapar menurun (sensitifitas lapar

menurun), asam lambung menurun, waktu pengosongan

lambung menurun. Peristaltik lemah dan biasanya timbul

konstipasi. Fungsi absorpsi melemah (daya absorpsi

terganggu). Liver (hati) makin mengecil dan menurunnya

tempat penyimpanan, berkurangnya aliran darah. Kondisi

ini secara normal, tidak ada konsekuensi yang nyata, tetapi

menimbulkan efek yang merugikan ketika diobati.

Kecenderungan terjadinya peningkatan efek samping,

overdosis, dan reaksi yang merugikan dari obat. Oleh

karena itu, meski tidak seperti biasanya, dosis obat yang

diberikan kepada lansia lebih kecil dari dewasa (Azizah,

2011).
i) Sistem perkemihan
Fungsi ginjal menurun sekitar 55% antara usia 35 –

80 tahun. Banyak fungsi yang mengalami kemunduran,

contohnya kecepatan penyaringan (filtrasi), pengeluaran

(ekstkresi), dan penyerapan kembali (reabsorpsi) oleh

ginjal. Reaksi asam basa terhadap perubahan metabolisme

melambat. Pembuangan sisa-sisa metabolisme protein dan

elektrolit yang harus dilakukan ginjal menjadi beban

tersendiri (Atun, 2010).


Otot-otot kandung kemih menjadi lemah,

kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan

frekuensi buang air kecil meningkat, vesika urinaria susah

dikosongkan pada pria lanjut usia sehingga mengakibatkan

meningkatnya retensi urin (Bandiyah, 2009).


j) Sistem reproduksi
Pada laki-laki testis masih dapat memproduksi

spermatozoa meskipun adanya penurunan secara berangsur-

angsur. Pada wanita produksi selaput lendir vagina

menurun, permukaan menjadi halus, sekresi menjadi

berkurang, reaksi sifatnya menjadi alkali, dan terjadi

perubahan-perubahan warna (Bandiyah, 2009).


k) Sistem endokrin
Terjadi perubahan mendasar pada kelenjar yang

menghasilkan hormon. Dalam tubuh manusia terdapat

kelenjar yang menghasilkan hormon yang penting bagi

pertumbuhan dan metabolisme tubuh. Dengan menurunnya

aktivitas tyroid dan Basal Metabolic Rate (BMR)

menyebabkan menurunnya pertukaran zat dan reproduksi

aldosteron, estrogen dan tesosteron. Kematian sel mrupakan

hal yang mendominasi pada perubahan sistem endokrin

secara fisiologis, karena kematian sel inilah perubahan

sistem endokrin pada lansia hampir semua produksi

hormon berkurang. Salah satu contoh penurunan sistem

endokrin adalah terganggunya sekresi norepinephrine dan


serotonin. Keduanya berperan dalam hal terjaga dan rasa

kantuk. Hal ini lah yang mengakibatkan gangguan tidur

(Darmojo, 2009).
l) Sistem kulit (integumentary system)
Pada lansia kulit mengerut atau keriput akibat

kehilangan jaringan lemak. Permukaan kulit kasar dan

bersisik karena kehilangan proses keratinasi serta

perubahan ukuran dan bentuk-bentuk sel epidermis.

Menurunnya respon terhadap trauma serta mekanisme

proteksi kulit menurun. Kulit kepala dan rambut menipis

berwarna kelabu. Pertumbuhan kuku menjadi lambat serta

kuku menjadi keras dan rapuh, kuku kaki tumbuh

berlebihan dan seperti tanduk. Kelenjar keringat berkurang

jumlahnya dan fungsinya (Bandiyah, 2009).


m) Sistem muskuloskeletal
Lean Body Mass (Otot, organ tubuh, tulang) dan

metabolisme dalam sel-sel otot berkurang sesuai dengan

usia. Kekuatan otot menurun sehingga sering merasa letih

dan merasa lemah, daya tahan tubuh menurun karena

terjadi atrofi. Bertambahnya usia mengakibatkan kepadatan

tulang menurun. Kehilangan massa tulang terjadi secara

perlahan pada pria dan wanita dimulai sejak massa tulang

puncak tercapai yaitu usia 35 tahun. Dampaknya tulang

akan mudah rapuh (keropos) dan patah, mengalami cidera,


dan trauma yang kecil saja dapat menyebabkan keretakan

tulang (Atun, 2010).


2) Perubahan kondisi mental
Faktor-faktor yang memperngaruhi perubahan mental

adalah pertama-tama perubahan fisik (khususnya organ perasa),

kesehatan umum, tingkat pendidikan, keturunan (hereditas),

dan lingkungan. Perubahan kepribadian yang drastis, keadaan

ini jarang terjadi. Lebih sering berupa ungkapan yang tulus dari

perasaan seseorang, kekakuan mungkin karena faktor lain

seperti penyakit-penyakit (Bandiyah, 2009).


3) Perubahan psikososial
Perubahan psikososial yang dialami oleh lansia antara lain

pensiun, perubahan aspek kepribadian, perubahan dalam peran

sosial di masyarakat, dan perubahan minat (Azizah, 2011).


4) Perubahan kognitif
Pada lanjut usia, daya ingat (memory) merupakan salah satu

fungsi kognitif yang seringkali paling awal mengalami

penurunan. Ingatan jangka panjang kurang mengalami

perubahan sedangkan ingatan jangka pendek atau seketika 0-10

menit memburuk (Azizah, 2011).


Secara umum, fungsi kognitif yang tetap stabil adalah

konsentrasi, kemampuan komunikasi sehari-hari, kemampuan

berbahasa, dan gambaran yang dapat dibayangkan otak yang

sederhana (Atun, 2010).


5) Perubahan spiritual
Agama dan kepercayaan lansia makin berintegrasi dalam

kehifupan. Lansia makin teratur dalam kehidupan

keagamaannya. Hal ini dapat dilihat dalam berfikir dan


bertindak sehari-hari. Satu hal pada lansia yang diketahui

sedikit berbeda dari orang yang lebih muda yaitu sikap mereka

terhadap kematian (Azizah, 2011).


d. Gangguan Kesehatan yang Sering Diderita Lanjut Usia
Menurut Nina Kemala Sari (Divisi Geriatri Departemen

Ilmu Penyakit Dalam RS Cipto Mangunkusumo, Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia) beberapa gangguan yang terjadi

pada lansia disebut sebagai a series of I’s yang diantaranya adalah

immobility (imobilitas), instability (instabilitas dan jatuh),

incontinence (inkontinensia), intellectual impairment (gangguan

intelektual), infection (infeksi), impairment of vision and hearing

(gangguan penglihatan dan pendengaran), isolation (depresi),

inanition (malnutrisi), insomnia (gangguan tidur), hingga immunce

deficiency (menurunnya kekebalan tubuh) (Atun, 2010).


e. Permasalahan yang Terjadi pada Lanjut Usia
1) Permasalahan dari aspek fisiologis
Masalah fisik yang sehari-hari sering ditemukan pada lansia

adalah mudah jatuh, mudah lelah, berat badan menurun, sukar

menahan buang air besar, gangguan ketajaman penglihatan.

(Azizah, 2011).
2) Permasalahan dari aspek psikososial
Penurunan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan dan

stres lingkungan sering menyebabkan gangguan psikososial

pada lansia. Masalah kesehatan yang sering muncul pada lansia

adalah gangguan proses pikir, dementia, gangguan perasaan

seperti depresi, harga diri rendah, gangguan fisik dan gangguan

perilaku (Azizah, 2011).


2. Insomnia
a. Konsep tidur
Tidur merupakan keadaan tidak sadarkan diri yang relatif

bukan hanya keadaan penuh ketenangan tanpa kegiatan, tetapi

lebih mirip suatu urutan siklus yang berulang dengan ciri adanya

aktivitas yang berulang dengan ciri adanya aktivitas yang minim,

memiliki kesadaran yang bervariasi, terdapat perubahan proses

fisiologis dan terjadi penurunan respon terhadap rangsang dari luar

(Ihsan, 2012).
Siklus tidur normal manusia terdiri dari 2 fase yaitu NREM

(Non Rapid Eye Movement) dan REM (Rapid Eye Movement).

NREM merupakan fase awal yang terdiri dari 4 tahap. Tahap

pertama berlangsung 3–5 menit. Pada tahap kedua bola mata tidak

bergerak dan tidur lebih dalam. Tahap ketiga tidur lebih lelap dan

terakhir masuk dalam fase paling dalam sehingga sulit

dibangunkan. Fase NREM berlangsung selama 70–100 menit

dilanjutkan dengan REM. Fase ini berlangsung selama 5–30 menit

dan muncul kembali setiap 90 menit dan pada fase inilah mimpi

pada tidur terjadi. Pada tidur normal, siklus NREM dan REM

terjadi 4–7 kali setiap malam (Sayekti dan Hendrati, 2015).


b. Tujuan tidur
Tidur diperlukan untuk memperbaiki proses biologis secara

rutin. Selama tidur gelombang rendah yang dalam NREM, tubuh

melepaskan hormon pertumbuhan manusia untuk memperbaiki dan

memperbarui sel epitel dan sel khusus seperti otak. Sintesa protein
dan pembagian sel untuk pembaharuan jaringan seperti pada kulit,

sumsum tulang, mukosa lambung terjadi juga selama tidur dan

istirahat. Pada tidur REM terjadi perubahan dalam aliran darah

serebral, peningkatan aktivitas kortikal, peningkatan konsumsi

oksigen dan pelepasan epinefrin, sehingga membawa penyimpanan

memori dan pembelajaran maka tidur REM penting untuk

pemulihan kognitif. Kegunaan tidur yang lain adalah selama tidur

tubuh akan menyimpan energi (Arifin, Rahmawati dan Burhan,

2011). Tanpa kebutuhan tidur dan istirahat yang cukup, emosi

menjadi tidak stabil, lelah, terjadi penurunan konsentrasi dan

kemampuan pengambilan keputusan (Ihsan, 2012).


c. Fisiologis Tidur
Tidur yang normal melibatkan dua fase yaitu gerakan bola

mata cepat atau rapid eye movement (REM) dan tidur dengan

gerakan bola mata lambat atau non–rapid eye movement (NREM).

Selama NREM seseorang mengalami 4 tahapan selama siklus tidur.

Tahap 1 dan 2 merupakan karakteristik dari tidur dangkal dan

seseorang lebih mudah bangun. Tahap 3 dan 4 merupakan tidur

dalam dan sulit untuk dibangunkan. Lansia tidur 6 jam setiap

malamnya dan 20-25% adalah tidur REM. Perubahan tidur normal

pada lansia adalah terdapat penurunan pada NREM 3 dan 4, lansia

hampir tidak memiliki tahap 4 atau tidur dalam. Perubahan pola

tidur lansia disebabkan perubahan sistem neurologis yang secara

fisiologis akan mengalami penurunan jumlah dan ukuran neuron


pada sistem saraf pusat. Hal ini mengakibatkan fungsi dari

neurotransmiter pada sistem neurologi menurun, sehingga

distribusi norepinefrin yang merupakan zat untuk merangsang tidur

juga akan menurun. Lansia yang mengalami perubahan fisiologis

pada sistem neurologis menyebabkan gangguan tidur (Khasanah

dan Hidayati, 2012).

d. Kualitas Tidur
Kualitas tidur adalah kemampuan setiap orang untuk

mempertahankan keadaan tidur dan untuk mendapatkan siklus

tidur REM dan NREM yang tepat. Tidur yang berkualitas

merupakan suatu keadaan tidur yang dijalani seorang individu

menghasilkan kesegaran dan kebugaran di saat terbangun. Kualitas

tidur yang mencakup aspek kuantitatif dari tidur, seperti durasi

tidur, latensi tidur serta aspek subjektif, seperti tidur dalam dan

istirahat (Khasanah dan Hidayati, 2012).


Kualitas tidur biasanya dikaji menggunakan kuesioner.

Beberapa kuesioner yang digunakan sebagai instrumen untuk

pengkajian kebutuhan istirahat tidur adalah Stanford Sleepiness

Scale (SSS), The Epworth Sleepiness Scale (ESS), dan Pittburgh

Sleep Quality Index (PSQI). Dimana SSS dan ESS digunakan

untuk mengukur perasaan mengantuk atau kelelalahn pada waktu

tertentu, tetapi ESS lebih mengukur kecenderungan tidur dan jatuh

tidur pada waktu tertentu. Selain itu ada Sleep Quality Scale (SQS),

dimana kuesioner tersebut mempunyai enam komponen yaitu


gejala di siang hari, kebugaran setelah tidur, masalah saat memulai

tidur, mempertahankan tidur, kesulitan bangun dari tidur, dan

kepuasan terhadap tidur. Sedangkan PSQI yang terdiri dari tujuh

komponen meliputi latensi tidur, durasi tidur, efiseiensi tidur,

gangguan tidur, kebiasaan penggunaan obat tidur, gangguan saat

siang hari dan kualitas tidur subjektif (Smyth, 2012). Adapaun

faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas tidur yaitu :


1) Usia.
Penuaan menyebabkan perubahan yang dapat mempengaruhi

pola tidur. Bertambahnya usia juga berhubungan dengan

penurunan kualitas tidur malam, misalnya sekitar 30% individu

mengalami insomnia. Hal ini disebabkan oleh adanya

perubahan irama sikardian yang mengatur siklus tidur dan

menyebabkan gangguan siklus tidur dan terjaga (Rocchiccioli,

Julie dan Elizabeth, 2010). Usia memiliki pengaruh terhadap

kualitas tidur seseorang yang dikaitkan dengan penyakit yang

dialami dan kesehatan yang buruk (Khasanah dan Hidayati,

2012).
2) Penyakit fisik
Kualitas tidur yang buruk pada lansia usia 70-79 tahun

dikaitkan dengan penyakit somatik dan kesehatan yang buruk

(Oliveira dan Ceolim, 2010). Seseorang mengalami penurunan

pada fungsi organnya ketika memasuki masa tua yang

mengakibatkan lansia rentan terhadap penyakit seperti nyeri


sendi, osteoporosis, parkinson, hipertensi, dan sakit akibat jatuh

(Khasanah dan Hidayati, 2012).


3) Jenis kelamin
Jenis kelamin mempengaruhi kualitas tidur seseorang. Wanita

memiliki kualitas tidur yang buruk disebabkan karena terjadi

penurunan pada hormon progesteron dan estrogen yang

mempunyai reseptor di hipotalamus, sehingga memiliki andil

pada irama sirkadian dan pola tidur secara langsung. Kondisi

psikologis, meningkatnya kecemasan, gelisah dan emosi sering

tidak terkontrol pada wanita akibat penurunan hormon estrogen

yang bisa menyebabkan gangguan tidur (Khasanah dan

Hidayati, 2012).
4) Gaya hidup
Lansia yang ada di panti sebagian besar menggunakan ritual

tidur untuk membantu tidur seperti melakukan aktivitas

masing-masing individu dan kegiatan panti yang rutin.

Penggunaan ritual tidur dan menjaga lingkungan kamar tidur

agar tenang dapat membantu mengurangi keterjagaan pada

malam hari. Sebaiknya tempat tidur digunakan tidur dan

aktivitas seksual. Ritual tidur dengan nutrisi yang baik dan

olahraga dapat meningkatkan tidur malam yang yang lebih

baik. (Khasanah dan Hidayati, 2012).

5) Lingkungan
Lansia yang menggunakan ritual tidur namun masih memiliki

kualitas tidur yang buruk diakibatkan lingkungan kamar tidur

yang tidak tenang (Roccichelli, Julie dan Elizabeth, 2010).


Selain itu suhu kamar yang panas atau dingin menyebabkan

lansia mengalami kegelisahan (Khasanah dan Hidayati, 2012).


6) Stres emosional
Stress emosional membuat seseorang menjadi tegang dan

seringkali mengarah frustasi apabila tidak tidur. Stres juga

menyebabkan sesorang mencoba terlalu keras untuk tidur,

sering terbangun selama siklus tidur, atau terlalu banyak tidur.

Stres yang berlanjut dapat menyebabkan kebiasaan tidur yang

buruk. Pensiun, gangguan fisik, kematian orang yang dicintai,

dan kehilangan keamaan ekonomi merupakan contoh situasi

yang membuat seseorang cemas dan depresi (Hardy, 2008).


7) Asupan makanan dan kalori
Makan dalam porsi besar, berat dan berbumbu pada makan

malam menyebabkan sulit dicerna sehingga dapat mengganggu

tidur. Konsumsi bahan-bahan yang mengandung kafein, nikotin

dan alkohol juga mempengaruhi kualitas tidur. Kafein dan

nikotin adalah zat stimulan. Alkohol dapat mengacaukan pola

tidur (Sumirta dan Laraswati, 2014).

8) Obat-obatan dan zat tertentu


Beberapa obat dapat menimbulkan efek samping terhadap

penurunan tidur REM. Hipnotik dapat mengganggu tahap III

dan IV tidur NREM, betablocker dapat menyebabkan insomnia

dan mimpi buruk, sedangkan narkotik diketahui dapat menekan

tidur REM dan menyebabkan seringnya terjaga dimalam hari

(Potter dan Perry, 2010).


e. Gangguan Tidur (Insomnia)
1) Definisi
Insomnia dapat didefinisikan sebagai gangguan maupun gejala.

Insomnia sebagai gangguan merupakan keadaan di mana

seseorang mengalami kesulitan tidur, kesulitan dalam

mempertahankan tidur maupun kualitas tidur buruk dan disertai

keadaan penyulit (Buysse, 2008).


2) Etiologi
Spielman mengembangkan teori Insomnia melalui Model 3P

Insomnia yang menjelaskan faktor-faktor penyebab gangguan

tidur tersebut. Berdasarkan teori 3P, terdapat 3 faktor Insomnia,

yaitu predisposing, precipitating dan perpetuating. Faktor

predisposing terdiri atas karakteristik biologis, gaya hidup,

karakteristik sosial dan kondisi psikologis. Faktor precipitating

meliputi peristiwa traumatis yang pernah dialami, keberadaan

penyakit kronis serta gangguan mental. Faktor perpetuating

merupakan batas peralihan Insomnia akut dan kronis yang

meliputi sleep hygiene dan sleep believe (Sayekti dan Hendrati,

2015). Sleep hygiene merupakan salah satu faktor penting

dalam munculnya kasus Insomnia. Sleep hygiene terdiri dari

lingkungan tidur dan kebiasaan atau perilaku yang dilakukan

sebelum tidur. Perubahan sleep hygiene ke arah yang lebih baik

dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur (Nishinoue et

al, 2012). Penerapan sleep hygiene yang salah justru akan

menyebabkan seseorang mengalami Insomnia.


3) Klasifikasi
Klasifikasi Insomnia berbeda berdasarkan etiologi, durasi dan

tingkat keparahannya. Berdasarkan etiologinya, insomnia

diklasifikasikan menjadi 2 yaitu primer (Insomnia disorder)

dan sekunder (Comorbid Insomnia). Insomnia primer tidak

disebabkan buruknya kondisi psikologis atau medis.

Penanganan dan terapi yang dipilih cukup sulit karena

penyebabnya kurang jelas. Insomnia sekunder umumnya

disebabkan karena kondisi mental dan medis yang buruk

sehingga berpengaruh pada kualitas dan kuantitas tidur.

Gangguan tidur lain atau konsumsi obat-obatan juga menjadi

penyebab munculnya Insomnia sekunder (Ghaddafi, 2010).

Berdasarkan tingkat keparahannya, Insomnia dibedakan

menjadi 3 kategori, yaitu mild, moderate dan severe. Insomnia

dibedakan menjadi 2 berdasarkan durasinya yaitu Insomnia

akut yang terjadi secara cepat dan sementara. Insomnia kronis

lebih disebabkan karena faktor mental-psikologis dan kebiasaan

tidur yang salah (Sayekti dan Hendrati, 2015).


4) Tanda dan gejala
Terdapat 3 gejala yang umum untuk menentukan diagnosis

Insomnia, yaitu Diffi culty Initiating Sleep (DIS), Diffi culty

Maintaining Sleep (DMS) dan Early Morning Awakening

(EMA). Beberapa yang teori lain menyebutkan 1 gejala lain,

yaitu NRS atau Nonrestorating Sleep (Ghaddafi , 2010). Tanda-

tanda umum insomnia adalah tidur yang tidak memulihkan,


pikiran seolah dipenuhi berbagai hal, selalu kelelahan di siang

hari, mengantuk, sulit berkonsentrasi, merasa tidak pernah

mendapat tidur yang cukup (Widya, 2010).


5) Dampak

Para ahli banyak meneliti tentang dampak insomnia khusus

pada lansia. Selain meningkatkan risiko penyakit generatif

seperti hipertensi dan jantung, depresi dan stres ternyata juga

merupakan manifestasi gangguan tidur ini (Ghaddafi, 2010).

Insomnia juga meningkatkan risiko terjatuh pada lansia (Helbig

et al, 2013) serta keinginan bunuh diri dan penyalahgunaan

obat (Nadorff et al, 2013). Dampak jangka panjang dari

insomnia adalah mengubah pola tidur seseorang. Pada usia

sekitar 50 tahun, mulai terjadi penurunan gelombang tidur

sehingga pada usia tua kuantitas tidur yang dalam pada

seseorang akan berkurang (Cooke dan Ancoli-Israel, 2011).

Beberapa penyakit yang seringkali berhubungan dengan

insomnia namun juga dapat menjadi penyebab munculnya

Insomnia adalah arthritis, hipertensi, kanker dan diabetes

(Hellstrom, 2013). Insomnia juga berdampak pada kehidupan

sosial lansia. Selain itu dampak ekonomi yang disebabkan

insomnia juga cukup berat, diantaranya adalah hilangnya

produktivitas dan biaya pengobatan pada pelayanan kesehatan

(Ghaddafi, 2010).

6) Penatalaksanaan Gangguan Tidur (Insomnia)


a) Farmakologis

Benzodiazepine merupakan obat yang paling umum

digunakan untuk lansia karena lebih aman dan lebih efektif

dalam mengobati gangguan tidur. Benzodiazepine

mengubah tidur NREM dan REM dan meningkatkan total

waktu tidur. Namun hanya dapat digunakan untuk

pengobatan jangka pendek (3 minggu atau kurang) atau

digunakan berselang-seling untuk insomnia kronik (Meiner,

2011).

b) Non-farmakologis

Terapi non farmakologis dapat menggunakan terapi

komplementer. Terapi komplementer ini bersifat terapi

pengobatan alamiah. Salah satu terapi komplenter adalah

hidroterapi dimana dalam teknik ini memanfaatkan air

untuk menyembuhkan dan meringankan berbagai keluhan

sehingga dikenal sebagai metode terapi dengan pendekatan

lowtech yang mengandalkan pada respon-respon tubuh

terhadap air. Bentuk terapi ini dapat membantu seseorang

untuk mengurangi berbagai keluhan, salah satunya dengan

merendam kaki (Sulaiman, 2009).


3. Rendam Kaki Air Hangat
Merendam kaki dengan air hangat merupakan pemberian aplikasi

panas pada tubuh untuk mengurangi nyeri yang berhubungan dengan

ketegangan otot walaupun dapat juga dipergunakan untuk mengatasi

masalah hormonal dan kelancaran peredaran darah (Permady, 2015).


Pengobatan Tiongkok menyebut kaki adalah jantung kedua tubuh

manusia, abrometer yang mencerminkan kondisi kita. Ada enam

meridian (hati, empedu, kandung kemih, ginjal, limpa dan perut) ada di

kaki (Amot, 2009). Merendam kaki dengan air hangat yang

bertemperatur kisaran 40ºC bermanfaat dalam menurunkan kontraksi

otot sehingga menimbulkan perasaan rileks dan dapat menghilangkan

stres serta membuat kita tidur lebih mudah (Dinkes, 2014).


Kerja air hangat pada dasarnya meningkatkan aktivitas molekuler

(sel) dengan metode pengaliran energi secara konveksi (pengaliran

melalui medium cair) (Intan, 2010). Secara ilmiah air hangat

mempunyai dampak fisiologis bagi tubuh (Solechah, Masi, dan Rottie,

2017). Beberapa organ tubuh yang mengalami perubahan fisiologis

yaitu :
a. Jantung
Tekanan hidrostatik air terhadap tubuh mendorong darah dari kaki

menuju ke rongga dada dan darah akan berakumulasi di pembuluh

darah besar jantung. Air hangat akan mendorong pembesaran

pembuluh darah kulit dan meningkatkan denyut jatung sehingga

sirkulasi darah menjadi lancar, menstabilkan aliran darah dan kerja

jantung (Ningrum, 2012) (Solechah, Masi, dan Rottie, 2017).


b. Jaringan otot
Suhu air yang hangat akan meningkatkan kelenturan jaringan

(Khotimah, 2012). Tubuh yang lelah akan menjadi segar dan

mengurangi rasa letih yang berlebihan (Ningrum, 2012). Serta

faktor pembebanan didalam air yang akan menguatkan otot-otot

dan ligament yang mempengaruhi sendi tubuh (Solechah, Masi,

dan Rottie, 2017).


c. Organ pernafasan
Aliran darah yang lancar akan membawa nutrisi dan oksigen yang

cukup untuk dibawa ke rongga dada serta paru-paru. Peningkatan

kapasitas paru juga dapat terjadi, hal ini dapat mengurangi gejala

Sleep Disordered Breathing (SDB) (Ningrum, 2012).


d. Sistem endokrin
Berendam menggunakan air hangat dapat melepaskan dan

meningkatkan sekresi hormon pertumbuhan tubuh. Misalnya

sirkulasi hormon kortisol, air dapat meningkatkan sekresi hormon

tersebut sehingga menimbulkan rasa “gembira” pada seseorang.

Rendam kaki air hangat juga dapat menyebabkan efek sopartifik

(efek ingin tidur), hal ini kemungkinan disesabkan oleh

peningkatan sekresi hormon melatonin sebagai dampak dari

rendam air hangat pada kaki sehingga kualitas tidurnya dapat

meningkat (Ningrum, 2012).


e. Persyarafan
Efek merendam kaki dengan air hangat dapat mengurangi

gangguan sensori dan nyeri (Amot, 2009). Tidak hanya itu, jika

merendam kaki dilakukan lebih dari 10 menit akan menimbulkan

relaksasi (Permady, 2015).


B. Kerangka Teori

Proses Menua Perubahan Fisik


(Aging Process)
Sekresi norepineprine
dan serotoni terganggu

Gangguan tidur
Kualitas tidur
(insomnia)
1. Usia
2. Penyakit fisik Rendam kaki air
3. Obat-obatan dan zat hangat dengan
tertentu campuran garam
4. Asupan makanan dan
kalori
5. Gaya hidup (aktivitas
C. Kerangka Konsep
fisik)
Kerangka konsep penelitian merupakan suatu hubungan atau kaitan
6. Stres emosional

antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya dari masalah yang akan

diteliti. Kerangka konsep ini gunanya untuk menghubungkan atau

menjelaskan secara panjang lebar tentang suatu topik yang akan dibahas.
1. Variabel independen adalah rendam kaki air hangat dengan campuran

garam
2. Variabel dependen adalah kualitas tidur
3. Variabel confounding adalah obat penenang dan penatalaksanaan non

farmakologi

Rendam kaki air hangat dengan Kualitas tidur


campuran garam dan sereh

Penatalaksanaan farmakologi :
Misalnya pemberian benzodiazepine
= Variabel independen

= Variabel dependen

= Variabel confounding

Berdasarkan kerangka konsep diatas, peneliti ingin mengidentifikasi


apakah rendam kaki air hangat dengan campuran garam berpengaruh
terhadap kualitas tidur pada lansia yang mengalami gangguan tidur
(insomnia).

D. Hipotesis Penelitian
Ho : tidak ada pengaruh rendam kaki air hangat dengan campuran garam
terhadap kualitas tidur pada lansia yang mengalami gangguan tidur
(insomnia)
Ha : ada pengaruh rendam kaki air hangat dengan campuran garam
terhadap kualitas tidur pada lansia yang mengalami gangguan tidur
(insomnia)