Anda di halaman 1dari 36

TUGAS

HKPO DAN TOKSIKOLOGI


“REGULASI KEAMANAN PANGAN DI INDONESIA DIBANDINGKAN
DENGAN SINGAPURA”

DOSEN PENGAMPU:
Dr. Ir. CHRISTIANA RETNANINGSIH, MP.

DI SUSUN OLEH:
KELOMPOK IV

1. DJIMMY HERU PURNOMO B ( 17.C2.0001 )


2. DEVY DWI FAJARRANI ( 17.C2.0030 )
3. FLORENTINA NOVITASIA ( 17.C2.0033 )
4. YOVIA VALENTINA ASIPRAT ( 17.C2.0035 )

PROGRAM PASCA SARJANA HUKUM KESEHATAN


UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
TAHUN 2018
ABSTRAK

“Regulasi Keamanan Pangan di Indonesia dibandingkan dengan Singapura”


DJIMMY HERU P.B (17.C2.0001) DEVY DWI FAJARRANI (17.C2.0030)
FLORENTINA NOVITASIA ( 17.C2.0033 ) dan YOVIA VALENTINA
ASIPRAT ( 17.C2.0035 )
Mahasiswa Pascasarjana Hukum Kesehatan Universitas Soegijapranata Semarang
2018

Latar Belakang: Pangan adalah salah satu kebutuhan dasar manusia yang
sepenuhnya menjadi hak asasi manusia. Namun masalah keamanan pangan masih
menjadi hal yang memperihatinkan bagi rakyat Indonesia, berbeda dengan
Singapura yang telah mendapatkan peringkat ke-4 sebagai negara dengan tingkat
keamanan pangan terbaik.
Tujuan: Mengkaji perbedaan Sistem Regulasi Keamanan Pangan di Indonesia
dan Singapura.
Pembahasan: Keamanan pangan merupakan salah satu unsur penting yang harus
mendapat perhatian oleh dunia, termasuk perhatian dari negara-negara yang
tegabung dalam anggota Association of Southest Asian Nations (ASEAN). Di
Indonesia, regulasi menyangkut hal pangan telah diatur dalam Undang-Undang
nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Sedangkan Pemerintah Singapura pada
tahun 2000 membentuk suatu badan nasional yaitu Agri-Food and Veterinary
Authority (AVA) sebagai suatu badan yang mempunyai otoritas khusus untuk
keamanan pangan di Singapura.
Kesimpulan: Faktor regulasi dan kebijakan di Indonesia yang rumit; rendahnya
pengetahuan masyarakat tentang konsumsi makanan sehat, aman, bergizi dan
berkualitas, kebebasan masuknya barang pangan illegal, perhatian produsen
tentang keamanan pangan dan prinsip-prinsi pengolahan pangan yang rendah;
serta rendahnya peran pemerintah dalam hal regulasi dan pengawasan pangan
menjadikan Indonesia memiliki tingkat keamanan pangan yang lebih rendah
dibanding dengan Singapura.
Saran: Pihak-pihak yang berperan penting dalam menjamin keamanan pangan
masyarakat harus lebih memperhatikan implementasi peraturan keamanan pangan
yang telah ditetapkan.
Kata Kunci: Regulasi – Keamanan Pangan – Indonesia – Singapura
v + 27 hal + 4 Gambar
Kepustakaan: 17, 2006-2018

i
ABSTRACT

“Food Safety Regulations in Indonesia Compared to Singapura”


DJIMMY HERU P.B (17.C2.0001) DEVY DWI FAJARRANI (17.C2.0030)
FLORENTINA NOVITASIA ( 17.C2.0033 ) and YOVIA VALENTINA
ASIPRAT ( 17.C2.0035 )
Student of Magister Health Law at Soegijapranata University Semarang
2018

Background: Food is one of the basic human needs that is entirely a human right.
But food safety is still a matter of concern for the Indonesian people, unlike
Singapore which has been ranked 4th as the country with the best food safety
level.
Objective: To examine the differences of the Food Safety Regulatory System in
Indonesia and Singapore.
Discussion: Food safety is one of the most important elements to be noticed by
the world, including the attention of countries that are members of the Association
of South East Asian Nations (ASEAN). In Indonesia, the regulation concerning
the food has been regulated in Law number 18 of 2012 about Food. While the
Government of Singapore in 2000 established a national agency, namely Agri-
Food and Veterinary Authority (AVA) as a body with special authority for food
safety in Singapore.
Conclusion: Complex regulatory and policy factors; public knowledge about
healthy, safe, nutritious and quality food consumption are low; easy access of
illegal food; producer concern about food safety and food processing principles
are also low; and the low role of government in regulation and food control makes
Indonesia has lower food safety level than Singapore.
Suggestion: Institutions that play an important role in ensuring food safety should
pay more attention to the implementation of established food safety regulations.
Keywords: Regulation - Food Security - Indonesia – Singapore
v + 27 pages + 4 pictures
Refferences: 17, 2006-2018

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas

rahmat dan karunia-Nya peneliti dapat menyelesaikan Tugas Kelompok yang

berjudul “Regulasi Keamanan Pangan di Indonesia dibandingkan dengan

Singapura”.

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam

menyelesaikan Tugas HKPO dan Toksikologi. Penulis menyadari bahwa makalah

ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itulah penulis mengharapkan saran dan

kritik yang bersifat membangun demi perbaikan selanjutnya. Semoga makalah ini

bermanfaat bagi semua pihak yang membaca dan khususnya penulis.

Semarang, Februari 2018

Penulis

iii
DAFTAR ISI

Hal

HALAMAN JUDUL........................................................................................

ABSTRAK ....................................................................................................... i

KATA PENGANTAR .................................................................................... iii

DAFTAR ISI ................................................................................................... iv

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ....................................................................... 1

B. Pokok-Pokok Pikiran ............................................................................ 2

C. Tujuan Penulisan ................................................................................... 2

BAB II DESKRIPSI DAN ANALISIS MASALAH

A. Deskripsi ................................................................................................ 3

B. Analisis Masalah .................................................................................. 13

BAB III PEMBAHASAN

A. Regulasi dan Kebijakan Sistem Keamanan Pangan .............................. 14

B. Pengaruh Keamanan Pangan Indonesia Rendah dibandingkan Singapura

............................................................................................................... 22

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan ........................................................................................... 25

B. Saran ..................................................................................................... 25

iv
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 28

LAMPIRAN ...............................................................................................

v
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pangan adalah salah satu unsur penting yang harus dipenuhi oleh
setiap insan masyarakat dikerenakan pangan berpengaruh terhadap
eksistensi dan produktivitas hidup manusia itu sendiri, baik dipandang dari
segi kuantitas dan kualitas. Betapa pentingnya kebutuhan akan pangan
tersebut, membuat pemenuhan pangan dijadikan sebagai indikator dari
terpenuhnya hak asasi setiap warna negara di Indonesia. Tersedianya
pangan yang berkualitas dan aman untuk dikonsumsi merupakan tanggung
jawab yang harus dipenuhi oleh Pemerintah bersama kebijakannya dalam
upaya mewujudkan insan yang berharkat dan bermartabat serta
mempunyai basis sumber daya manusia yang berkualitas. Bangsa
Indonesia mempunyai basis sumber daya nasional yang tersebar di seluruh
wilayah, sebagai tumpuan bagi upaya pemantapan dan peningkatan
ketahanan pangan.

Salah satu lingkup pengaturan penyelenggaraan kebijakan pangan


yang harus diperhatikan oleh Pemerintah adalah keamanan pangan.
Sampai saat ini kasus-kasus kesehatan yang terjadi di dunia maupun di
Indonesia sendiri, penyebab utamanya adalah masalah kemanan pangan.
Keamanan pangan yang didalamnya termasuk masalah dan dampak
penyimpangan mutu, kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam
pengembangan sistem mutu pangan adalah merupakan tanggung jawab
bersama pemerintah, industri dan konsumen. Indonesia sebagai negara
yang berkembang, pada saat ini masih dikategorikan sebagai negara yang
mempunyai kondisi sistem kemanan pangan yang secara keseluruhan
tergolong masih rawan, dimana menurut data Global Food Security Index
(GFSI), Indonesia di tahun 2017 berada di peringkat ke-69 dari total 113
negara dan untuk kategori mutu dan kemanan pangan berada peringkat ke-

1
86 jauh di bawah negara-negara ASEAN lainnya. Hal ini mungkin
disebabkan masih banyakya ditemukan penggunaan bahan tambahan
pangan nonpangan seperti formalin, boraks dan pewarna tekstil pada
pangan yang beredar di masyarakat.

Masalah pangan disadari sebagai salah satu masalah keseharian


kehidupan orang ataupun komunitas warga bangsa-bangsa di dunia ini.
Berbeda dengan negara Singapura yang dikenal sebagai negara dengan
perekonomian terbaik se-Asia, walaupun memiliki luas wilayah yang kecil
dan sumber daya alam yang tidak melimpah dan terbatas untuk lahan
pertanian dibandingkan dengan Indonesia namun Singapura pada tahun
2017 mampu mendapatkan peringkat ke-4 dunia sebagai negara dengan
tingkat kemanan pangan terbaik. Berdasarkan penjelasan di atas penulis
tertarik untuk mengkaji terkait Sistem Regulasi Keamanan Pangan di
Indonesia dibandingkan dengan Singapura.

B. POKOK-POKOK PIKIRAN
1. Definisi Pangan
2. Definisi keamanan pangan
3. Sistem regulasi keamanan pangan di Indonesia dan Singapura
4. Pengaruh kebijakan kemanan pangan yang dilakukan di Indonesia dan
Singapura

C. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk mengetahui definisi pangan
2. Untuk mengetahui definisi keamanan pangan
3. Untuk mengetahui sistem regulasi keamanan pangan di Indonesia dan
Singapura
4. Untuk mengetahui kebijakan kemanan pangan bersama pengaruhnya
di Indonesia dan Singapura.

2
BAB II
DESKRIPSI DAN ANALISIS MASALAH

A. DESKRIPSI
1. Pangan
Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang
Pangan pasal 1 ayat (5) berbunyi bahwa “Pangan adalah segala
sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian,
perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air,
baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai
makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan
tambahan Pangan, bahan baku Pangan, dan bahan lainnya yang
digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau
pembuatan makanan atau minuman”.
Berdasarkan cara perolehannya, pangan dapat dibedakan menjadi 3
yaitu :
a. Pangan segar
Pangan segar adalah pangan yang belum mengalami
pengolahan. Pangan segar dapat dikonsumsi langsung atau
tidak langsung, yakni dijadikan bahan baku pengolahan
pangan.
b. Pangan olahan
Pangan olahan adalah makanan atau minuman hasil proses
pengolahan dengan cara atau metode tertentu, dengan atau
tanpa bahan tambahan. Contoh : teh manis, nasi, pisang goreng
dan sebagainya. Pangan olahan bisa dibedakan lagi menjadi
pangan olahan siap saji dan tidak saji. Pangan olahan siap saji
adalah makanan dan minuman yang sudah diolah dan siap
disajikan di tempat usaha atau di luar tempat usaha atau dasar
pesanan. Pangan olahan tidak siap saji adalah makanan atau
minuman yang sudah mengalami proses pengolahan, akan

3
tetapi masih memerlukan tahapan pengolahan lanjutan untuk
dapat dimakan atau diminum.
c. Pangan olahan tertentu
Pangan olahan tertentu adalah pangan olahan yang
diperuntukkan bagi kelompok tertentu dalam upaya
memelihara dan meningkatkan kualitas kesehatan. Contoh
ekstrak tanaman mahkota dewa untuk diabetes melitus, susu
rendah lemak untuk orang yang menjalankan diet rendah
lemak, dan sebagainya (Saprianto, 2006).

2. Keamanan Pangan
Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang
Pangan pasal 1 ayat (5) berbunyi bahwa “Keamanan Pangan adalah
kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah Pangan dari
kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat
mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia
serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya
masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi”.
Keamanan Pangan (food safety) menurut Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 tahun 2004 tentang
keamanan pangan, mutu dan gizi pangan adalah kondisi dan upaya
yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan
cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat menganggu,
merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia. Keamanan
pangan mengacu kepada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1096
tahun 2011 tentang Higiene, Sanitasi Jasaboga yang belum
berkaitan dengan sertifikasi halal yang dikeluarkan Majelis Ulama
Indonesia (MUI) terkait peraturan SK direktur LPPOM MUI
tentang ketentuan pengelompokan Produk bersertifikat halal MUI.

4
Penyebab ketidakamanan pangan adalah:
a. Segi gizi, jika kandungan gizinya berlebihan yang dapat
menyebabkan berbagai penyakit degeneratif seperti
jantung, kanker, diabetes.
b. Segi kontaminasi, jika pangan terkontaminasi oleh
mikroorganisme ataupun bahan-bahan kimia.
Penyebab pangan tersebut berbahaya karena, makanan tersebut
dicemari zat-zat yang membahayakan kehidupan dan juga karenan
di dalam makanan itu sendiri telah terdapat zat-zat yang
membahayakan kesehatan (Permatasari, 2014).

3. Sistem Regulasi Pangan di Indonesia


Pangan yang aman, bermutu dan bergizi sangat penting
peranannya bagi pertumbuhan, pemeliharaan dan peningkatan
derajat kesehatan serta peningkatan kecerdasan masyarakat.
Masyarakat perlu dilindungi dari pangan yang dapat merugikan
dan/atau membahayakan kesehatan. Memperoleh makanan yang
aman, cukup dan bergizi adalah hak setiap orang. FAO and WHO
meminta negara-negara untuk menerapkan standar keamanan dan
mutu pangan internasional untuk melindungi kesehatan dan
perdagangan pangan (WHO press release, 2001). Keamanan
pangan merupakan tuntutan global sebagai persyaratan ketat
negara-negara tujuan ekspor. Legilasi keamanan, mutu dan gizi
pangan di Indonesia :
a. Undang-Undang:
1) Undang-Undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan
2) Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan.
3) Undang-Undnag No 18 Tahun 2009 tentang
Peternakan dan Kesehatan Hewan
4) Undang-Undang No. 21 Tahun 2004 tentang

5
Pengesahan Cartagena Protocol on Biosafety to the
Convention on Biological Diversity (PROTOKOL
CARTAGENA TENTANG KEAMANAN HAYATI
ATAS KONVENSI TENTANG
KEANEKARAGAMAN HAYATI)
5) Undang-Undang No 31 tahun 2004 tentang Perikanan
6) Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintah Daerah
7) Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup
8) Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen
9) Undang-Undang No. 7 Tahun 1994 tentang Ratifikasi
Kesepakatan Internasional tentang Tindakan Sanitari
dan Fitosanitari.
10) Undang-Undang No. 5 Tahun 1994 tentang
Pengesahan United Nations Convention
11) Undang-Undang No. 16 Tahun 1992 tentang
Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan
12) Undang-Undang No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem
Budidaya Tanaman
13) Undang-Undang No. 9 Tahun 1985 tentang Perikanan
14) Undang-Undang No. 6 Tahun 1967 tentang Ketentuan
Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan
Diversity.
b. Peraturan Pemerintah
1) Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2001 tentang
Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan
Perlindungan Konsumen
2) Peraturan Pemerintah No. 102 Tahun 2000 tentang
Standarisasi Nasional

6
3) Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun
2000 Tentang Kewenangan Pemerintah Propinsi
sebagai daerah Otonom
4) Peraturan Pemerintah No. 69 Tahun 1999 tentang
Label dan Iklan Pangan
5) Peraturan Pemerintah No. 59 Tahun 2001 Tentang
Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya
Masyarakat
6) Peraturan Pemerintah No 58 Tahun 2002 tentang
Ketahanan Pangan
7) Peraturan Pemerintah No 28 Tahun 2004 tentang
Keamanan, Mutu, dan Gizi Pangan
8) Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 2005 tentang
Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetika
9) Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986
tentang Kewenangan Pengaturan, Pembinaan, dan
Pengembangan Industri
10) Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000
tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan
Provinsi sebagai Daerah Otonom
11) Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001
tentang Pembinaan dan Pengawasan Pemerintah
Daerah
c. Peraturan Presiden
Peraturan Presiden Nomor 83 tahun 2017 tentang
Kebijakan Strategis Pangan dan Gizi
d. Keputusan Presiden
1) Keputusan Presiden RI No. 102 Tahun 2001 tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan
Organisasi dan Tata Kerja Departemen.

7
2) Keputusan Presiden RI No. 62 Tahun 2001 tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan
Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non
Departemen.
3) Keputusan Presiden No. 43 Tahun 2001 Tentang
Susunan Organisasi dan Tugas Lembaga Pemerintah
Non Departemen.
4) Keputusan Presiden No. 13 Tahun 1997 tentang Komite
Akreditasi Nasional.
e. Keputusan Menteri dan Kepala Badan
1) Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No.
634/MPP/Kep/IX/2002 tentang Ketentuan dan Tatacara
Pengawasan Barang dan atau Jasa yang Beredar di
Pasar
2) Keputusan Menteri Pertanian No.
01/Kpts/OT.210/2/2001 tentang Penetapan Pusat
Standarisasi dan Akreditasi (PSA)
3) Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan no.
86 Tahun 2001 tentang Tugas Pokok dan Fungsi dari
Pusat Standarisasi dan Akreditasi.
4) Keputusan Kepala Badan POM No.
05018/SK/KBPOM/2001 tentang Organisasi dan Tata
kerja UPT di lingkungan Badan POM.
5) Keputusan Kepala Badan Standarisasi Nasional No.
965/BSN-I/HK.35/05/2001 tentang Organisasi dan Tata
Kerja BSN.
6) Keputusan Ketua KAN dengan SK no. 1038/BSN-
I/HK.41/99 tanggal 1 April 1999 tentang ruang lingkup
akreditasi
7) Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan
No.384/MPP/Kep/8/1999 tentang Standarisasi,

8
Sertifikasi, Akreditasi, dan Pengawasan Mutu Produk
di Lingkungan Departemen Perindustrian dan
Perdagangan.
8) Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan
No.108/MPP/Kep/5/1996 tentang Penerapan Standar
Perindustrian dan Perdagangan
9) Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan
No.164/MPP/Kep/6/1996 tentang Produk Ekspor yang
ditetapkan Pengawasan Mutunya secara Wajib.
f. Peraturan Menteri
1) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1096/
MENKES/PER/VI/2011 tentang Sanitasi Higiene
Usaha Jasa Boga
2) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor: 722/ MENKES /Per/IX/1988 Tentang Bahan
Tambahan Makanan
3) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor: 826/ MENKES /Per/XII/1987 Tentang
Makanan Iradiasi
4) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor: 712/MENKES/Per/X/1986 tentang Persyaratan
Kesehatan Jasa Boga
5) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor: 208/MENKES/Per/IV/1985 tentang Pemanis
Buatan
6) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor: 239/MENKES/Per/V/1985 tentang Zat Warna
Tertentu yang dinyatakan sebagai bahan berbahaya
7) Permentan No 20/2009 tentang Pemasukan dan
Pengawasan Peredaran Karkas, Daging&/Jeroan dari
LN

9
8) Peraturan Menteri Pertanian No 27 tahun 2009 tentang
Pengawasan Keamanan Pangan pada Pemasukan dan
Pengeluaran Produk Segar Asal Tumbuhan
Setiap orang yang bertanggung jawab dalam
penyelenggaraan kegiatan pada rantai pangan yang
meliputi proses produksi, penyimpanan, pengangkutan, dan
peredaran pangan wajib memenuhi persyaratan sanitasi
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

Gambar 1. Pasal Pengawasan Keamanan Pangan

Gambar 2. Sistem Pengamanan Pangan

10
Gambar 3. Pengawasan Keamanan Pangan

Gambar 4. Status Pengawasan Keamanan Pangan Nasional

4. Keamanan Pangan di Singapura


Singapura merupakan negara yang terkenal akan keamanan dan
kebersihan pangan dan menjadikannya sebagai negara yang dengan
hampir 90% menerima impor bahan makanan dari negara-negara
seperti Amerika Serikat, Australia, China, Malaysia, Indonesia dan
negara-negara lainnya. Ketergantungan akan impor makanan,
membuat Pemerintah Singapura memliki suatu regulasi dan sistem

11
penjamin mutu kualitas keamanan pangan yang sangat baik,
dimana hal ini dibuat dengan tujuan untuk memfasilitasi agar
pasokan bahan makanan yang ada di negaranya itu aman dan sehat
untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Singapura memiliki peraturan
yang ketat untuk memastikan keamanan pasokan makanan dan
makanan yang diimpor. Berikut ini merupakan produk hukum
negara Singapura dalam regulasi sistem kemanan pangan (sumber :
Singapore Statutes Online) :
1. Food Regulation Cap. 283, RG 1
2. Sale of Food Act Cap. 283
3. Sale of Food (Food Establishments) Regulations Cap. 283, RG
5
4. Sale of Food (Fees) Regulations Cap. 283, RG 4
5. Sale of Food (Composition of Offences) Regulations Cap. 283,
RG 3
6. Sale of Food (Amendment) Act (Commencement) Notification
2002 S 284/2002
7. Sale of Food (Prohibition of Chewing Gum) Regulations Cap.
283, RG 2
8. Environmental Public Health (Food Hygiene) Regulations Cap.
95, RG 16
9. Agri-Food and Veterinary Authority Act Cap.5
10. Agri-Food and Veterinary Authority (Certification Marks)
Regulations Cap. 5, RG 1
11. Agri-Food and Veterinary Authority (Certification Mark)
Notification 2014 S 535/2014
12. Agri-Food and Veterinary Authority (Certification Mark) (No.
2) Notification Cap. 5, N 2
13. Agri-Food and Veterinary Authority (Food Safety Excellence
Mark) Notification 2011 S 275/2011

12
14. Agri-Food and Veterinary Authority (Certification Mark)
Notification Cap. 5, N 1
15. Agri-Food and Veterinary Authority (Certification Mark) (No.
3) Notification Cap. 5, N 3
16. Housing and Development (Penalties for Late Payment —
Markets and Food Centres) Rules Cap. 129, R 16
17. Commissioner of Public Health to be Director of Food
Administration Cap. 283, N 1
18. International Organisations (Immunities and Privileges) (Food
and Agriculture Organisation) Order Cap. 145, OR 6
19. Tourist Promotion (Tourist Hotels, Tourist Food
Establishments and Tourist Public Houses) Notification Cap.
329, N 1
20. Singapore Tourism (Tourist Hotels, Tourist Food
Establishments and Tourist Public Houses) Notification 2014 S
327/2014

B. ANALISIS MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang dan deskripsi di atas, maka dapat
dirumuskan beberapa pokok permasalahan yang akan dianalisis adalah
sebagai berikut :
1. Bagaimana sistem regulasi keamanan pangan di Indonesia
dibandingkan dengan Singapura
2. Pengaruh kebijakan keamanan pangan yang dilakukan pemerintah
Indonesia dan Singapura
3. Penyebab tingkat kemanan pangan di Indonesia masih rendah
dibandingkan Singapura

13
BAB III
PEMBAHASAN

A. Regulasi dan Kebijakan Sistem Keamanan Pangan


Keamanan pangan merupakan salah satu unsur penting yang harus
mendapat perhatian oleh dunia, termasuk perhatian dari negara-negara
yang tegabung dalam anggota Association of Southest Asian Nations
(ASEAN), dengan keberagaman standar kemanan pangan yang berbeda
satu dengan yang lainnya yang disebabkan oleh perbedaan perilaku
konsumen, pola konsumsi, teknologi untuk produksi pangan, struktur
organisasi, karakteristik makanan dan hukum yang dimiliki oleh masing-
masing negara anggota ASEAN dan dalam memastikan pergerakan
pangan yang aman, sehat dan berkualitas, negara-negara anggota ASEAN
membentuk badan yang dinamakan ASEAN Experts Group on Food
Safety (AEGFS).
AEGFS merupakan suatu badan subsider ASEAN yang memiliki peran
penting untuk menigkatkan sistem keamanan pangan, mengembangkan
infastruktur program kemanan pangan dan menjaga keselamatan dan
kualitas makanan dalam perdagangan secara regional maupun
internasional. Keamanan pangan yang baik seyogianya harus ditangani
secara terpadu dengan melibatkan berbagai stakeholders baik dari
pemerintah, industri, dan konsumen. Sebagai dasar dalam setiap
pelaksanaan penjaminan keamanan pangan di setiap negara merupakan
tanggung jawab bersama (shared responsibility) oleh berbagai stakeholder
tersebut (WHO, 1996).
Tanggung jawab setiap pemerintah dalam menjalankan roda
pemerintahannya terkait pengawasan terhadap mutu dan keamanan pangan
adalah menyusun legislasi dan peraturan hukum di bidang pangan,
memberikan masukan dan bimbingan pada industri pangan, pemberian
edukasi bagi masyarakat sebagai produsen dan juga konsumen tentang
betapa pentingnya keamanan pangan, melakukan pengumpulan informasi

14
dan penelitian di bidang keamanan pangan, dan menyediakan sarana dan
prasarana pelayanan yang terkait dengan pangan.
1. Keamanan Pangan Indonesia
Secara umum di Indonesia, regulasi menyangkut hal pangan telah
diatur dalam Undang-Undang nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan
yang merupakan Undang-Undang Pangan yang menggantikan
Undang-Undang Pangan nomor 7 Tahun 1996. Dalam Undang-
Undang Pangan tersebut dijelaskan bahwa Pemerintah Pusat bersama
Pemerintah Daerah dalam melaksanakan penyelenggaraan pangan
secara terpadu bagi masyarakat perlu meperhatikan salah satu lingkup
rantai penyelenggaraan pangan yaitu kemanan pangan. Pasal 67 ayat
(1) dan (2) Undang-Undang nomor 18 tahun 2012 menjelaskan bahwa
keamanan pangan dilakukan untuk menjaga pangan agar tetap aman,
higienis, bermutu, bergizi dan tidak bertentangan dengan agama,
keyakinan dan budaya masyarakat dengan tujuan untuk mecegah
kemungkinan tidak terjadinya cemaran biologis, kimia dan benda lain
yang dapat mengganggu, merugikan dan mebahayakan kesehatan.
Pemerintah Indonesia dalam melaksanakan tanggung jawab di
bidang pangan menyadari bahwa upaya dalam pengelolaan keamanan
pangan harus melibatkan banyak unsur instansi pemerintahan dari
berbagai macam sektor. Sehingga pada tahun 2001 dibentuk suatu
lembaga Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) yang secara
langsung bertanggung jawab kepada Presiden dalam rangka
memberikan jaminan keamanan pangan melalui pembinaan dan
pengawasan yang akan dilakukan terhadap pangan di Indonesia dan
pada tahun 2004 dikeluarkannya Peraturan Pemerintah nomor 28
Tahun 2004 tentang Mutu, Gizi dan Keamanan Pangan yang
didalamnya secara khusus mengatur tugas dan fungsi dari berbagai
lembaga pemerintahan yang bertanggung jawab atas kemanan pangan
di Indonesia. Lembaga yang termasuk adalah Kementerian Kesehatan,
Kemenetrian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan,

15
Kementerian Perdagangan dan Perindustrian, Pemerintah Daerah dan
berbagai lembaga terkait lainnya termasuk didalamnya Badan
Pengawasan Obat dan Makanan dan Badan Standarisasi Nasional
(Codex Indonesia).
Pembagian tugas lembaga pemerintahan ini berdasarkan amanat PP
No. 28 tentang Keamanan Mutu dan Gizi Pangan. Namun pada
Peraturan Pemerintah tersebut belum terakomodasi kepentingan
konsumen dalam hal keamanan yaitu kehalalan. Hal ini disebabkan PP
No.28 tersebut masih merupakan turunan dari UU Pangan No.7/1996
yang belum mengakomodir halal sebagai definisi keamanan pangan
sebagaimana yang terdapat pada UU No.18 tahun 2012. Pengaturan
dan peredaran bahan pangan segar di Indonesia menjadi tanggung
jawab Kementerian Pertanian (Kementan). Sedangkan untuk bahan
pangan olahan pengaturan dan pengawasannya ada di Badan
Pengawasan Pangan dan Obat (BPOM). Untuk produk pangan PIRT
(Produk Industri Rumah Tangga) dan Pangan siap saji menjadi
tanggungjawab setiap kepala daerah (Gubernur, Bupati/Walikota) dan
Dinas Kesehatan maupun dinas terkait setempat. Sedangkan semua
produk yang mengandung hasil ikan dan laut dibawah pengawasan
Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Terkait dengan produksi pangan, pihak industri di Indoensia
memiliki peran untuk mengembangkan dan melakukan penjaminan
terhadap dilaksanakannya standar sesuai penetapan dari pemerintah
baik itu dalam pengolahan, penyimpanan sampai distribusi pangan,
pengendalian dan jaminan mutu pangan olahan, teknologi dan
pengolahan pangan, tersedianya manager dan tenaga pengolah pangan
yang terlatih, dan pelabelan yang informatif dan pendidikan konsumen.
Pada Pasal 1 ayat (5) Undang-Undang nomor 18 Tahun 2012 tentang
Pangan, telah dijelaskan bahwa pihak industri di Indonesia dapat
menggunakan teknologi nuklir untuk meningkatkan keamanan dan
daya simpan pangan agar tetap bergizi, dan tidak mengalami

16
perubahan cita rasa saat dikonsumsi sehingga menghindari pangan
yang membahayakan kesehatan. Teknik Penggunaan Nuklir untuk
Keamanan Pangan juga memiliki pembatasan dan sudah diatur dalam
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 701/MENKES/PER/VIII/2009
tentang Pangan Iradiasi. Penggunaan teknologi nuklir ini untuk
meningkatkan keamanan pangan juga didukung dengan adanya
pertemuan di Geneva pada bulan Mei 1992, World Health
Organization (WHO) menyatakan bahwa iradiasi merupakan cara yang
aman untuk mengawetkan suplai makanan dunia. Iradiasi lebih unggul
dibandingkan dengan teknik pengawetan konvensional, yaitu hemat
energi dan bahan, mudah dikontrol, dapat diproses dalam kemasan
yang tidak tahan panas, tidak meninggalkan residu, dan ramah
lingkungan.
Selain pihak industry, konsumen juga bertanggung jawab dalam
hal memperoleh pengetahuan umum yang berhubungan dengan
keamanan pangan, berperilaku selektif dalam menentukan pilihan
produk, melaksanakan praktek produksi dan penganganan olahan
pangan di rumah secara baik dan benar, membangun partisipasi
masyarakat, dan membangun kelompok-kelompok konsumen yang
aktif. Namun, kesadaran masyarakat di Indonesia terkait keamanan
pangan bagi kesehatan masih kurang, sebagian masyarakat hanya
melihat dari sisi bahwa makanan aman berlabel halal tanpa melihat
dari sisi kesehatan.
Indonesia memiliki banyak aturan terkait keamanan pangan hal ini
akan memperngaruhi berkurangnya beban ekonomi, meningkatnya
status kesehatan, meningkatnya kinerja SDM akan bermuara pada daya
saing nasional yang lebih baik untuk menguatkan komitmen
pemerintah dan semua stakeholder dalam kepentingan nasional untuk
lebih baik dalam memastikan keamanan pangan. Namun kondisi
keamanan pangan di Indonesia memiliki kondisi yang unik, dan rawan
seperti yang dilaporkan The Economist, Global Food Security Index

17
Indonesia pada tahun 2017 berada di peringkat 69 dari 113 negara hal
ini menunjukkan adanya tantangan yang harus dipecahkan. Tantangan
pertama keamanan pangan muncul sebagai akibat kondisi keamanan
pangan domestik yang dipicu oleh rendahnya praktek-praktek sanitasi
dan higiene oleh Industri Kecil dan Menengah (IKM) Pangan yang
menyebabkan penyakit seperti diare yang dikutip dari BPOM
diperkirakan 10-22 juta kasus dengan kerugian Rp 64-226 triliun.
Tantangan kedua keamanan pangan muncul dari sisi perdagangan
internasional, khususnya berkaitan dengan munculnya berbagai
kontaminan baru (emerging contaminants), semakin ketatnya standar
internasional keamanan pangan, pemalsuan pangan, dan ancaman
kontaminasi yang disengaja (intentional contamination) seperti
campuran formalin, boraks dan pewarna tekstil.
Tantangan keamanan pangan perlu dijawab dengan pembenahan
sistem keamanan pangan nasional, termasuk kemungkinan adanya
pembentukan lembaga yang diamanatkan dalam Undang-Undang
nomor 18 Tahun 2012 tentang pangan berupa Otoritas Nasional
Keamanan Pangan atau Badan Pangan Nasional untuk membuat
kebijakan keamanan pangan dan mengkoordinasikan semua lembaga
terkait pengawasan pangan sesuai Peraturan Presiden No 83 tahun
2017 tentang Strategi Pangan dan Gizi. Perlu komitmen pemerintah
untuk membenahi kebijakan keamanan pangan melalui pemberdayaan
IKM Pangan, memberikan akses terhadap prasarana dan fasilitas
keamanan pangan, bahan baku dan ingredien pangan aman, dan alat
bantu pengolahan (air bersih, es, listrik) serta bahan tambahan pangan.
Selanjutnya, diperlukan komitmen tinggi dari pemerintah Indonesia,
termasuk persiapan SDM diplomat keamanan pangan yang tangguh,
penyediaan dan pengelolaan data ilmiah yang digunakan sebagai basis
standar keamanan pangan nasional dan sekaligus basis negosiasi
standar keamanan pangan internasional. Arti penting keamanan pangan
bagi pembangunan dan daya saing bangsa ini perlu dipahami dengan

18
baik sehingga semua petinggi kepentingan pemerintah, masyarakat
(konsumen), industri, dan akademisi bisa menjalankan perannya
dengan penuh tanggungjawab dalam membangun ketahanan pangan
yang mandiri dan berdaulat.

2. Keamanan Pangan Singapura


Singapura merupakan negara yang memiliki wilayah demografis
yang kecil dibandingkan Indonesia dengan luas wilayahnya hanya
718,3 km² dengan memiliki jumlah total penduduk sekitar 5,4 juta
(katadata.com). Dikarenakan memiliki luas wilayah yang kecil dan
lahan pertanian yang tidak ada mengakibatkan negara Singapura lebih
mengandalkan hampir 90% sumber pangan yang dikonsumsi
masyarakatnya berasal dari impor negara-negara lain yang telah
bekerja sama dengan Singapura. Mendasari hal tersebut pemerintah
Singapura memiliki dan menerapkan standar keamanan makanan yang
sangat ketat.
Seperti yang dikutip pada jurnal “food safety regulatory framework
in selected places” dalam melindungi masyarakatnya terhadap
kemanan pangan, Pemerintah Singapura pada tahun 2000 membentuk
suatu badan nasional yaitu Agri-Food and Veterinary Authority (AVA)
sebagai suatu badan yang mempunyai otoritas khusus untuk keamanan
pangan di Singapura, AVA sendiri menerapkan sistem keamanan
pangan terpadu yang terintegrasi untuk memastikan bahwa makanan
aman untuk dikonsumsi dan menetapkan standar keamanan pangan
yang ketat yang sesuai dengan standar internasional.
Namun, bagi Pemerintah Singapura menyadari dalam
melaksanankan kebijakan kemanan pangan tidak ada sistem kebijakan
yang mudah yang akan dijalankan tanpa melakukan kerja sama dengan
industri dan konsumen di Singapura. Pemerintah beserta AVA dan
masyarakat Singapura berperan aktif dalam menangani, mengawasi
dan membina dalam hal kemanan pangan. Dengan demikian jaminan

19
keamanan pangan merupakan tanggung jawab bersama. AVA selalu
memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya pangan dan
bagaimana menjaga makanan tetap aman, dengan harapan dapat
meningkatkan kesadaran akan pentingnya keamanan pangan.
Singapura merupakan negara yang terkenal akan keamanan dan
kebersihan pangan, terbukti dengan sampai tahun 2017 Singapura
berada di peringkat ke-4 dunia dengan indeks tingkat mutu dan
kemanan pangan yang baik. Hal diatas mendasari bahwa pemerintahan
Singapura memiliki sistem yang baik dari segi peraturan maupun
kebijakan yang dibuat. Singapura dikenal dengan negara yang
mempunyai peraturan yang ketat untuk memastikan keamanan pasokan
makanan dan makanan yang di impor ke negaranya. Di Singapura,
semua makanan, minuman dan produk pertanian termasuk bahan
makanan baik itu buatan lokal maupun produk pangan impor yang
masuk di Singapura diwajibkan harus memenuhi segala persyaratan
yang telah ditetapkan oleh Undang-Undang dan Peaturan lainnya yang
diatur oleh AVA. Undang-Undang yang dikeluarkan oleh AVA yang
membahas secara umum untuk keutuhan dan kemurnian produk
makanan dan penetapan standar pangan di Singapura adalah Undang-
Undang Sale of Food Act. Dan yang membahas secara khusus terkait
kemanan pangan yaitu :
a. Animals and Birds Act, peraturan yang membahas pencegahan
masuknya dan menyebarnya penyakit hewan, burung dan ikan.
b. Control of Plants Act, peraturan yang mengatur budidaya, impor
ekspor, transhipment (pemindahan muatan) produk tanaman.
c. Feeding Stuffs Act, peraturan yang mengatur pengendalian dan cara
memberi makan hewan dan burung.
d. Fisheries Act, peraturan yang mengendalikan pengunaan pelabuhan
perikanan sebagai tempat distribusi dan pemasaran ikan secara
langsung yang didapatkan dari kapal penangkap ikan.

20
e. Wholesome Meat and Fish Act, peraturan yang mengatur tentang
pembantaian, pengolahan, pengemasan, inspeksi impor dan ekspor,
distribusi, penjualan, transshipment produk daging dan ikan.

Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah Singapura


dibawah kontrol AVA dalam meningkatkan produktivitas pangan dan
menghindari terjadinya pelanggaran-pelanggaran terhadap produk
pangan yang illegal dan pangan agar tidak terkontaminasi bahan kimia,
pemerintah Singapura menerapkan Food Safety Management System
(FSMS) dimana sistem ini menerapkan pendekatan preventif untuk
mengidentifikasi, mencegah dan mengurangi bahaya terhadap pangan.
Hal ini untuk memperkecil resiko keracunan makanan dan membuat
makanan aman dikonsumsi. FSMS yang dirancang dengan baik
dengan tindakan pengendalian yang tepat sehuingga membantu
perusahaan makanan mematuhi peraturan kebersihan makanan dan
memastikan bahwa makanan yang disiapkan untuk dijual higienis dan
aman bagi konsumen. Adapun ketentuan umum di Singapura untuk
regulasi pangan harus mengikuti persyaratan umum untuk pelabelan
seperti wadah diberi label, segel makanan diberi label, informasi
terkait nutrisi, larangan pernyataan palsu atau menyesatkan, penandaan
tanggal, dan pernyataan yang menyesatkan dalam iklan.
Salah satu kebijakan yang mendukung dari program pemerintah
Singapura yaitu Legislasi keamanan pangan di Singapura terkait
kehalalan berada dalam payung hukum Administration of Muslim Law
Act of Singapore (AMLA) 88A (1) dan AMLA 88A (5). Jaminan
kehalalan di Singapura kemudian dilakukan dengan aktifitas sertifikasi
yang berada di Majelis Ulama Islam sejak tahun 1972. Majelis Ulama
Islam (MUIS) berada di bawah Kementerian Pemuda. Adapun yang
bertanggungjawab terhadap pelaksanaan halal di Singapura adalah
Menteri yang beragama Islam dimanapun posisinya tidak hanya
sebagai Menteri Kepemudaan. Logo resmi halal tidak boleh digunakan

21
pada kemasan produk yang tidak memiliki sertifikat halal. Pelanggaran
terhadap penyalahgunaan logo halal atau klaim halal akan terkena
sangsi yang cukup keras seperti yang tertulis pada AMLA 8 (1).
Pengawasan dilakukan oleh kementerian pemuda Singapura atau
menteri yang beragama Islam yang ada di pemerintahan. Untuk setiap
produk pangan yang akan masuk ke Singapura, harus melalui Agri
Food & Veterinary Authority of Singapore atau AVA. Selain terkait
kehalalan tingkat kesadaran masyarakat Singapura akan kesehatan
terus meningkat hingga masyarakat menuntut produk yang lebih
kompleks dan dapat dijamin kesehatannya.
Selain dukungan dari pemerintah terhadap regulasi yang
diberlakukan secara ketat di Singapura, yang menjadi hal pembeda
dibandingkan Indonesia adalah kebijakan terkait kemanan produk
pangan yang diberlakukan bahwa setiap pelaku usaha makanan atau
toko makanan yang ada di singapura harus mendaftarkan diri sebagai
syarat registrasi untuk bisnis makanan sehingga mendapatkan lisensi
secara langsung dari AVA. Pedagang yang dimaksud diatas semua
yang terlibat dalam hal pangan yaitu pedangang yang terlibat dengan
bisnis impor, ekspor, pengangkutan buah dan sayuran dan pedagan
daging dan ikan, usaha yang berkaitan dengan pengolahan dan
penanganan makanan (pengolahan daging, ikan, telur), toko, rumah
produksi dan industri distribusi makanan.

B. Pengaruh Keamanan Pangan Indonesia Rendah dibandingkan


Singapura
Pada tahun 2016, WHO melaporkan bahwa terdapat sekitar 2
juta penduduk dunia yang meninggal setiap tahunnya akibat pangan
yang tidak aman. Di Indonesia sendiri, berdasarkan data BPOM pada
tahun 2016, tercatat 110 berita keracunan pangan yang diperoleh dari
berita online dan 60 Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat keracunan
pangan yang didapatkan berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan

22
Provinsi dan Kabupaten/Kota di 34 Provinsi di Indonesia, sedangkan
di Singapura untuk kasus keracunan pangan yang diakibatkan atas
rendahnya tingkat kemanan pangan, penulis tidak mendapatkan data
yang secara signifikan bahwa telah terjadinya KLB atas keracunan
pangan yang sama terjadi di Indonesia.
Deskripsi penjelasan diatas dapat menggambarkan bahwa
keamanan pangan dijadikan suatu unsur yang harus diperhatikan dan
diawasi baik itu dari Pemerintah, Pelaku industri, maupun masyrakat.
Indonesia sebagai Negara Kepulauan terbesar di dunia dan kaya akan
sumber daya alam yang melimpah serta lahan pertanian yang terkenal
luas dan subur tidak lantas membuat Indonesia dinilai memiliki
keamanan pangan yang baik. Terbukti bahwa tingkat keamanan
pangan di Indonesia sejauh ini masih kalah jauh dibandingkan dari
Singapura, Hal ini membuat penulis mendeskripsikan beberapa hal
yang menjadi bahan pembandingan dengan Singapura, diantaranya :
1. Kebijakan terkait regulasi keamanan pangan dalam pelaksanaan
pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia masih
tersebar di berbagai kementrian atau lembaga dan kebijakannya
belum memuat sinkoronisasi maupun standar yang baku yang
diberlakukan pada sistem keamanan pangan di Indonesia.
2. Tingkat ekonomi masyarakat Indonesia yang beragam dan
wilayah demografis Indonesia yang luas yang menjadikan
kebijakan pemerintah akan pentingnya kemanan pangan belum
secara merata bisa diaplikasikan di keseluruhan wilayah
Indonesia.
3. Masih banyak ditemukan produksi dan peredaran pangan secara
ilegal di Indonesia, dalam hal ini pangan yang diproduksi dari
rumah tangga atau industri kecil, masih banyak ditemukannya
penggunaan bahan pangan nonpangan, seperti formalin, boraks
dan pewarna makanan. Jelas ditetapkan bahwa makanan yang
kadaluarsa tidak boleh diperdagangkan bahkan makanan,

23
minuman yang dijual bebas wajib mencantumkan tanggal
kadaluarsa, artinya bahwa makanan dan minuman memiliki batas
akhir yang aman untuk dapat dikonsumsi dan dijamin mutunya,
dengan penyimpanan yang sesuai dengan petunjuk yang diberikan
oleh produsen atau pelaku usaha.
4. Kurangnya pengetahuan akan pentingnya makanan yang aman,
sehat dan bergizi. Yang terjadi di masyarakat indonesia pada
umumnya lebih mempercayai pada pangan yang halal daripada
melihat pangan yang mempunyai kualitas aman dan sehat untuk
dikonsumsi.

24
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Penulis menyadari regulasi-regulasi pangan yang telah
diterbitkan oleh Pemerintah Indonesia bersama kebijakannya terkait
keamanan pangan, sesungguhnya bertujuan baik untuk menjadikan
masyarakat Indonesia bisa hidup dan menghidupi dengan layak dan
menjaga kestabilan hidup masyarakat melalui pangan yang sehat,
bermutu dan terjaga keamanannya dari segi kuantitas dan kualitas
produk pangan yang dihasilkan dan dikonsumsi oleh masyarakat
sendiri.
Regulasi dan kebijakan pangan Indonesia yang banyak tidak
menjamin negara Indonesia terbebas dari masalah kemanan pangan itu
sendiri. Pemerintah Indonesia sebaiknya dapat mencontohi negara
Singapura baik dari sisi regulasi, kebijakan dan pengawasan yang di
berlakukan di masyarakatnya. Diperlukan pengawasan dan perhatian
secara intensif dari hulu sampai hilir. Bagaimana pangan yang
dihasilkan oleh petani kecil, produsen pangan rumah tangga, industri-
industri yang terlibat dalam pangan, sampai pangan yang di ekspor ke
luar negeri dan di impor ke dalam negeri dan pangan yang dikonsumsi
oleh masyarakat terbebas dari kontaminasi bahan-bahan yang
berbahaya.

B. SARAN
1. Bagi Pemerintah :
a. Pemerintah seharusnya lebih memperhatikan serta
mengawasi peraturan yang sudah di buat agar
terimplementasi secara benar.
b. Pemerintah seharusnya lebih berperan aktif dalam
pengawasan bahan pangan yang beredar di masyarakat,

25
alangkah lebih baik jika pemerintah lebih sering melakukan
kunjungan lapangan ke produsen agar lebih efektif
penerapan keamanan pangan.
c. Pemerintah sebaiknya lebih memperhatikan pelaksanaan
terkait kebijakan mutu dan keamanan pangan, dalam
menyusun legislasi dan peraturan hukum di bidang pangan,
memberikan masukan dan bimbingan pada industri pangan,
memberikan pendidikan bagi masyarakat sebagai
konsumen tentang pentingnya keamanan pangan.
d. Pemerintah seharusnya lebih memperkuat jaringan dalam
pengawasan dan pembinaan terkait keamanan pangan
nasional, yang dimaksudkan adalah sistem keamanan
pangan terpadu dan kebijakan satu pintu yang melibatkan
semua stakeholder pemerintah pusat sampai daerah. Dan
perbaikan sistem pelaporan, pengaduan, pencatatan, dan
penegakan hukum agar kasus-kasus keracunan pangan atau
penyelewengan keamanan pangan tidak terulang lagi.
e. Kerjasama internasional antar negara Indonesia dan
Singapura dalam hal kemanan pangan.
f. BPOM seharusnya lebih ketat lagi dalam menindaklanjuti
setiap produsen yang melakukan tindakan penipuan yang
dapat membahayakan konsumen, agar ada efek jera yang
dirasakan.
2. Bagi Masyarakat :
a. Masyarakat (konsumen) harus lebih teliti dalam memilih
atau mengkonsumsi bahan pangan agar terhindar dari
masalah kesehatan yang disebabkan oleh pangan.

26
3. Bagi Produsen dan Industri
a. Produsen sebaiknya lebih memperhatikan keamanan
pangan dalam memproduksi setiap bahan pangan.
b. Industri olahan juga seharusnya lebih memperhatikan status
gizi untuk meningkatkan derajat keamanan pangan
masyarakat.

27
DAFTAR PUSTAKA

Agri Food & Veterinary Authority of Singapore. 2018.


https://www.ava.gov.sg/explore-by-sections/food/food-safety-
quality/singapores-food-safety-standards (diakses 29 Januari
2018) Singapore Government

Agri Food & Veterinary Authority of Singapore. 2016. Food


Regulation. Singapore

Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2016. Laporan Tahunan.


Jakarta: BPOM

Anggrina, Retno. 2015. Majalah BPOM: Keamanan Pangan. BPOM:


Jakarta.

Food Station. 2016. Singapura Negara dengan Tingkat Keamanan


Pangan terbaik.
http://www.foodstation.co.id/index.php/berita/korporasi/696-
singapura-negara-dengan-tingkat-keamanan-pangan-terbaik
(diakses 29 Januari 2018)

Hariyadi, Purwiyatno. 2013. Isu Terkini Terkait Dengan Keamanan


Pangan. Institut Pertanian Bogor: Bogor

Kata Data. 2016. 10 Negara Dengan Tingkat Kepadatan Penduduk


Tertinggi.
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/09/25/10-
negara-dengan-tingkat-kepadatan-penduduk-tertinggi. (diakses
30 Januari 2018)

Lettice AU YEUNG. 2011. Food safety regulatory framework in


selected places. Research Division Legislative Council
Secretariat: Hongkong

Lukman, Adhi S. 2017. Satu Pintu Keamanan Pangan.


https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20171107/281
621010607976. (diakses 30 Januari 2018)

National Environment Agency.2018. http://www.nea.gov.sg/public-


health/food-hygiene/info-on-fsms#Intro (diakses 29 Januari
2018). Singapore

28
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor 83
Tahun 2017 Tentang KEBIJAKAN STRATEGIS PANGAN
DAN GIZI

Saprianto, Cahyo dan Diana Hidayati. 2006. Bahan Tambahan


Pangan. Yogyakarta : Kanisius.

Sulaeman, Ahmad. 2010. Food Safety Regulation. Bogor: Institut


Pertanian Bogor.

Surono, Ingrid Suryanti. 2016. Pengantar Keamanan Pangan Untuk


Industri Pangan. Yogyakarta : Deepublish

TANTANGAN GANDA KEAMANAN PANGAN DI INDONESIA:


PERANAN REKAYASA PROSES PANGAN (PDF
Download Available). Available from:
https://www.researchgate.net/publication/290789942_TANTA
NGAN_GANDA_KEAMANAN_PANGAN_DI_INDONESI
A_PERANAN_REKAYASA_PROSES_PANGAN [accessed
Jan 30 2018].

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA Nomor 18 Tahun


2012 Tentang PANGAN

Ye Htut Zwe, Hyun Gyun Yuk.2017. Food quality and safety in


Singapore: microbiology aspects. Singapore : Food Science &
Technology Programme, Department of Chemistry, National
University of Singapore

29
LAMPIRAN

30