Anda di halaman 1dari 1

WEB OF CAUSATION (WOC) Periode Perinatal 3.

Kelainan dalam
ETIOLOGI 2. Mutasi pada RET Proto-oncogene 4. Matriks Protein
PENGERTIAN (kromosom 10q11.2) → lingkungan mikro Ekstraseluler →
1. Pengeluaran mekonium yang terlambat (> 24 jam karena kegagalan migrasi sel-sel saraf kehilangan sinyal untuk dinding usus perlekatan dan
2. Muntahdisebut
Hirschsprung hijau juga kongenital aganglionik megakolon → parasimpatis myentericus dari cephalo perkembangan ganglia enterik peningkatan antigen perkembangan sel (Kadar
ke caudal. Sehingga sel ganglion selalu major
keadaan usus besar (kolon  usus halus) yang tidak punya glycoproteins laminin dan
3. Distensi abdomen tidak ditemukan dimulai dari anus dan Endothelin-B receptor gene histocompatibility kolagen tipe IV yang
persarafan (aganglionik) berupa sel ganglion parasimpatis maka
terjadi4.“kelumpuhan” usus besar dalam menjalankan fungsinya panjangnya bervariasi keproksimal. (EDNRB) kromososm 13q22 → sel complex (MHC) tinggi)
sehingga : neural crest (mempersarafi colon)
1. Ketiadaan sel-sel ganglion pada
 Usus membesar (megakolon) lapisan submukosa (Meissner) dan
pleksus myenteric (Auerbach) pada
 Obstruksi mekanik karena ketidakadekuatan motilitas mencegah migrasi sel-sel neural crest
sebagian usus. usus bagian distal (gagal migrasi)
dari esofagus ke anus pada minggu
ke 5-12 kehamilan
Pemeriksaan Penunjang

1. Barium enema
PATOFISIOLOGI
2. Foto polos abdomen (BNO)
3. Anorectal manometry
Kegagalan sel neural pada masa embrio dalam Kegagalan eksistensi dinding plexsus, down
4. Biopsy rectal dinding usus syndrome

Penatalaksanaan Medis

1. Penatalaksanaan bedah
Pembedahan ada 2 tahap : kolostomy loop Tidak adanya sel ganglion pada dinding mukosa kolon distal
(double-barrel) dilanjut salah satu prosedur (congenital aganglionik megakolon)
(duhamel/ swenson/soave)
2. Penatalaksanaan keperawatan
Obstruksi Parsial
(mencegah terjadi infeksi, makanan bergizi). Tidak adekuatnya gerakan tenaga pendorong
MANIFESTASI KLINIS (peristalitik) / motilitas)

KOMPLIKASI Refluk peristaltik


Periode Perinatal
a. enterokolitis post operatif Pergerakan makanan diusus (-)
a. Pengeluaran mekonium yang
b. konstipasi (paling sering) terlambat (> 24 jam pertama
c. struktur anatomosis kehidupan)
b. Muntah hijau Spingter rektum tidak dapat berelaksasi
d. Struktura ani (pasca bedah)
e. Inkontinensia (jangka panjang) c. Distensi abdomen
d. Diarrhea Feses tidak mampu
f. Obstruksi usus
e. Feces berbau busuk melewati spinkter
g. Ketidak seimbangan cairan dan Feses tidak dapat keluar dengan normal
f. Demam ani
elektrolit
h. Gawat pernapasan (akut) Anak
Akumulasi feses pada usus (sigmen aganglionik)
a. Konstipasi kronis
b. Gizi buru
c. Obstipasi
Prognosa d. BAB tidak teratur
e. Perut kembung berat Obstruksi pada kolon COLON MELEBAR
 Proses perbaikan ada yang mengalami kejadian signifikan (MEGACOLON)
konstipasi dan atau inkontinensia.
Refluks gas, feses
 1% dari pasien butuh kolostomi permanen untuk memperbaiki PATHWAYS dan air
inkontinensia
 90% pasien mendapat tindakan pembedahan mengalami Gangguan defekasi Resiko kekurangan
Intervensi
penyembuhan Resiko Tinggi Anoreksia mual, muntah
pembedahan volume cairan
 Kematian akibat komplikasi dari tindakan pembedahan pada bayi Infeksi
sekitar 20%. Konstipasi
Kurang informasi Resiko BB 
Perasaan penuh
NOC :
Ansietas
a. Immune Status NOC : NOC : Gangguan rasa nyaman Ketidakseimbangan
b. knowledge (infection control nutrisi kurang dari
- Nyeri akut
c. risk control a. Anxiety self-control a. Fluid balance kebutuhan tubuh
NOC : b. Hydration
b. Anxiety level
Kriteria Hasil : klien bebas dari tanda dan c. coping c. Nutritional status : food NOC :
gejala infeksi, mendeskripsikan proses a. Bowel elimination and fluid
penularan, pencegahan infeksi b. Hydration
Kriteria Hasil : klien mampu a. Pain level
identifikasi tanda dan gejala cemas, Kriteria Hasil : klien mampu b. Pain control
NIC : Kriteria Hasil : klien mampu memepertahankan urin
teknik untuk mengontrol cemas, c. Comfort level
memepertahankan bentuk feses lunak, output, tidak ada tanda
ekspresi, bahasa, aktivitas
1. Bersihkan Lingkungan Setelah Dipakai bebas dari ketidaknyamanan dehidrasi, turgor baik,
menunjukkan ber(-)nya kecemasan Kriteria Hasil : klien mampu
Tindkan konstipasi, identifikasi indikator membran mukosa lembab mengontrol nyeri, melaporkan bahwa
2. Cuci Tangan Sebelum Dana Sesudah mencegah konstipasi
NIC : nyeri berkurang, mengenali nyeri
Tindakan NIC :
3. Gunakan Abd Lengkap NIC :
1. gunakan pendekatan yang NIC :
4. Pertahankan Lingkungan Aseptik Selama menenangkan 1. Pertahankan intake dan
Pemasangan Alat 1. Monitor tanda dan gejala output
2. identifikasi tingkat kecemasan 1. Lakuakan pengkajian nyeri
5. Inspeksi Kondissi Luka/Insisis Bedah konstipasi 2. Monitor masukan
3. instruksikan pasien menggunakan 2. Gunakan teknik komunikasi
6. Ajarkan Tanda Dan Gejala Infeksi 2. Monitor feses cairan/makanan
teknik relaksasi terapeutik
3. Dukung intake cairan 3. Kolaborasi pemberian 3. Ajarkan teknik nonfarmakologi
4. Anjurkan diet tinggi serat cairan IV 4. Monitor vital sign
4. Monitor status nutrisi 5. Kolaborasi dengan dokter
(farmakologi)

DAFTAR PUSTAKA
NOC :
Betz, Cecily, L. Dan Linda A. Sowden 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Edisi ke-3. Jakarta : EGC.
Kartono, Darmawan. 2010. Penyakit Hirschsprung. Jakarta : Sagung Seto. a. Nutritional status : food and fluid
Mansjoer , Arif . 2000 . Kapita Selekta Kedokteran .Edisi Ke-3 . Jakarta : Media Aesulapius FKUI b. Intake
c. Nutritional status : nutrient intake
NANDA. 2012. Diagnosis Keperawatan NANDA : Definisi dan Klasifikasi. d. Weight control
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC
Kriteria Hasil : ada peningkatan BB, BB ideal, mampu identifikasi kebutuhan
Nurarif, Amin Huda dan Hardhi Kusuma. 2015. APLIKASI Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
nutrisi, tidak ada tanda malnutrisi
Medis dan NANDA. Yogyakarta : Media Action.
Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Sri Kurnianingsih (Fd), Monica Ester NIC :
(Alih bahasa) edisi – 4 Jakarta : EGC.
1. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
2. Monitor mual dan muntah
3. Kaji kemapuan untuk mendapatkan nutriri sesuai kebutuhan
4. Kolaborasi dengan ahli gizi