Anda di halaman 1dari 15

Laporan kasus

HORDEOLUM EKSTERNA

Oleh :
Despi Safitri
NIM. 1608438324

Pembimbing :
dr. Yulia wardany, Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
RSUD ARIFIN ACHMAD PROVINSI RIAU
PEKANBARU
2018
BAB I
PENDAHULUAN

Latar belakang
Kelopak mata adalah bagian mata yang sangat penting. Kelopak mata
melindungi kornea dan berfungsi dalam pendistribusian dan eliminasi air mata.
Penutupan kelopak mata berguna untuk menyalurkan air mata keseluruh
permukaan mata dan memompa air mata melalui punctum lakrimalis. Kelainan
yang didapat pada kelopak mata bermacam-macam, mulai dari yang jinak sampai
keganasan, proses inflamasi, infeksi maupun masalah struktur seperti ektropion,
entropion dan bheleparoptosis.
Hordeolum adalah salah satu penyakit yang cukup sering terjadi pada
kelopak mata. Secara klinis kelainan ini sering sulit dibedakan dengan kalazion
akut. Hordeolum merupakan infeksi lokal atau proses peradangan pada kelopak
mata. Infeksi pada kelenjar meibom disebut hordeolum internum, sedangkan
infeksi pada kelenjar zeiss atau moll disebut hordeolum eksternum. Gejalanya
berupa kelopak mata yang bengkak dengan rasa sakit dan mengganjal, merah serta
nyeri bila ditekan.1

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Palpebra


Palpebra superior dan inferior adalah modifikasi lipatan kulit yang dapat
menutup dan melindungi bola mata bagian anterior. Berkedip melindungi kornea
dan konjungtiva dari dehidrasi. Palpebra superior berakhir pada alis mata;
palpebra inferior menyatu dengan pipi. Palpebra terdiri atas lima bidang jaringan
utama. Dari superfisial ke dalam terdapat lapis kulit, lapis otot rangka (orbikularis
okuli), jaringan areolar,jaringan fibrosa (tarsus), dan lapis membran mukosa
(konjungtiva pelpebrae).
1. Kulit
Kulit pada palpebra berbeda dari kulit bagian lain tubuh karena tipis,
longgar, dan elastis, dengan sedikit folikel rambut, tanpa lemak subkutan. Kulit
palpebra juga mengandung kelenjar sebasea , kelenjar keringat dan folikel rambut.
2. Muskulus Orbikularis okuli
Fungsi otot ini adalah untuk munutup palpebra. Serat ototnya mengelilingi
fissura palpebra secara konsentris dan meluas sedikit melewati tepian orbita.
Sebagian serat berjalan ke pipi dan dahi. Bagian otot yang terdapat di dalam
palpebra dikenal sebagai bagian pratarsal; bagian diatas septum orbitae adalah
bagian praseptal. Segmen luar palpebra disebut bagian orbita. Orbikularis okuli
dipersarafi oleh nervus facialis.
3. Jaringan Areolar
Terdapat di bawah muskulus orbikularis okuli, berhubungan degan lapis
subaponeurotik dari kulit kepala.
4. Tarsus
Struktur penyokong utama dari palpebra adalah lapis jaringan fibrosa
padat yang disebut tarsus superior dan inferior. Tarsus terdiri atas jaringan
penyokong kelopak mata dengan kelenjar Meibom (40 buah di kelopak atas dan
20 buah di kelopak bawah).

2
5. Konjungtiva Palpebrae
Bagian posterior palpebra dilapisi selapis membran mukosa, konjungtiva
palpebra,yang melekat erat pada tarsus. Tepian palpebra dipisahkan oleh garis
kelabu (batas mukokutan) menjadi tepian anterior dan posterior. Tepian anterior
terdiri dari bulu mata, glandula Zeiss dan Moll. Glandula Zeiss adalah modifikasi
kelenjar sebasea kecil yang bermuara dalam folikel rambut pada dasar bulu mata.
Glandula Moll adalah modifikasi kelenjar keringat yang bermuara ke dalam satu
baris dekat bulu mata. Tepian posterior berkontak dengan bola mata, dan
sepanjang tepian ini terdapat muara-muara kecil dari kelenjar sebasesa yang telah
dimodifikasi (glandula Meibom atau tarsal) Punktum lakrimalis terletak pada
ujung medial dari tepian posterior palpebra. Punktum ini berfungsi
menghantarkan air mata ke bawah melalui kanalikulus terkait ke sakus lakrimalis.
Fisura palpebra adalah ruang elips di antara kedua palpebra yang dibuka. Fisura
ini berakhir di kanthus medialis dan lateralis. Kanthus lateralis kira-kira 0,5 cm
dari tepian lateral orbita dan membentuk sudut tajam. Septum orbitale adalah
fascia di belakang bagian muskularis orbikularis yang terletak di antara tepian
orbita dan tarsus dan berfungsi sebagai sawar antara palpebra orbita. Septum
orbitale superior menyatu dengan tendo dari levator palpebra superior dan tarsus
superior; septum orbitale inferior menyatu dengan tarsus inferior.Retraktor
palpebrae berfungsi membuka palpebra. 1

1
Gambar 2.1 Potongan sagital palpebra

3
1
Gambar 2.1.1 Potongan sagital palpebra
Di palpebra superior, bagian otot rangka adalah levator palpebra
superioris, yang berasal dari apeks orbita dan berjalan ke depan dan bercabang
menjadi sebuah aponeurosis dan bagian yang lebih dalam yang mengandung
serat-serat otot polos dari muskulus Muller (tarsalis superior). Di palpebra
inferior, retraktor utama adalah muskulus rektus inferior, yang menjulurkan
jaringan fibrosa untuk membungkus muskulus obliqus inferior dan berinsersio ke
dalam batas bawah tarsus inferior dan orbikularis okuli. Otot polos dari retraktor
palpebrae disarafi oleh nervus simpatis. Levator dan muskulus rektus inferior di
inervasi oleh nervus okulomotoris. Pembuluh darah yang memperdarahi palpebrae
adalah a. Palpebra. Persarafansensorik kelopak mata atas didapatkan dari ramus
frontal nervus V, sedang kelopak mata bawah oleh cabang kedua nervus V.

2.2 Definisi
Hordeolum adalah infeksi kelenjar pada palpbera. Hordeoulum interna bila
kelenjar meibom yang terkena infeksi timbul pembengkakan, sedangkan
hordeolum eksterna adalah infeksi kelenjar zess dan moll yang lebih kecil dan
superfisial 2

4
2.3 Klasifikasi
Dikenal 2 bentuk hordeolum, yaitu hordeolum internum dan eksternum.
Penjelasannya adalah sebagai berikut 2,3
1. Hordeolum eksternum
Hordeolum eksternum merupakan infeksi pada kelenjar Zeiss atau Moll
dengan penonjolan terutama ke daerah kulit kelopak. Pada hordeolum eksternum,
nanah dapat keluar dari pangkal rambut. Tonjolannya ke arah kulit, ikut dengan
pergerakkan kulit dan mengalami supurasi, memecah sendiri ke arah kulit .1,3

Gambar 2.3.1 hordeolum eksterna 2


2. Hordeolum internum
Hordeolum internum merupakan infeksi kelenjar Meibom yang terletak di
dalam tarsus dengan penonjolan terutama ke daerah kulit konjungtiva tarsal.
Hordeolum internum biasanya berukuran lebih besar dibandingkan hordeolum
eksternum. Pada hordeolum internum, benjolan menonjol ke arah konjungtiva dan
tidak ikut bergerak dengan pergerakan kulit, serta jarang mengalami supurasi dan
tidak memecah sendiri.

Gambar 2.3.2 hordeolum interna2

5
2.4 Epidemiologi
Data epidemiologi internasional menyebutkan bahwa hordeolum
merupakan jenis penyakit infeksi kelopak mata yang paling sering ditemukan
pada praktek kedokteran. Insidensi tidak tergantung pada ras dan jenis kelamin.
Dapat mengenai semua usia, tetapi lebih sering mengenai dewasa muda.4

2.5 Etiologi
Hordeolum merupakan infeksi oleh bakteri staphylococcus dan
streptococcus pada kelenjar sebasea kelopak mata. Staphylococcus aureus
merupakan agen infeksi pada 90-95% kasus hordeolum. 5

2.6 Faktor risiko6


1. Blefaritis
2. Dermatitis seboroik
3. Acne rossasea.
4. Diabetes Melitus.

2.7 Patogenesis

Hordeolum eksterna timbul dari blockade dan infeksi dari kelenjar zeiss
dan moll, sedangkan hordeolum interna timbul dari infeksi pada kelenjar meibom
yang terletak didalam tarsus. Obstruksi dari kelenjar ini memberikan reaksi pada
tarsus dan jaringan disekitarnya. Hordeolum eksterna diawali dengan
pembentukan pus dalam lumen kelenjar oleh infeksi staphylococcus aureus .
proses tersebut diawali dengan pengecilan lumen dan statis hasil sekresi kelenjar.
Statis ini akan mencetuskan infeksi sekunder oleh staphylococcus aureus
sehingga terjadi pembentukan pus dalam lumen kelenjar. Nyeri, hiperemis, dan
edema palpebra. Intensitas nyeri mencerminkan beratnya edem palpebra. Pada
pemeriksaan terlihat benjolan, warna kemerahan, nyeri tekan, dapat disertai bintik
kuning atau putih yang merupakan akumuulasi pus pada folikel silia.1,2

6
2.8 Manifestasi Klinis7

Rasa nyeri, kemerahan, serta pembengkakan dikelopak mata. Pada


pemeriksaan mata, hordeolum eksterna menonjol kearah kulit (luar),
hordeolum interna dapat menonjol kearah konjungtiva.

2.9 Diagnosa Banding

Diagnosa banding hordeolum adalah : 7,3,1


1. Kalazion, peradangan granulomatosa kelenjar meibom yang tersumbat.
Pada kalazion terjadi penyumbatan kelenjar meibom dengan infeksi ringan
menyebabkan peradangan kronik kelenjar tersebut. Gejala adanya benjolan
pada kelopak mata, tidak hiperemis, tidak ada nyeri tekan, adanya
pseudoptosis, dan kelenjar preurikel tidak membesar.
2. Dakriosistitis., peradangan saccus lakrimal. Peradangan ini mulai oleh
terdapatnya obstruksi duktus nasolakrimal. Pada anak-anak biasanya
akibat tidak terbukanya membran nasolakrimal. Pada orang dewasa
akibatnya tertekan saluran nasolakrimal. Biasanya disebabkan oleh polip
hidung. Pada keadaan akut didapatkan epifora, daerah yang nyeri di
kantung air mata dan demam. Adanya pembengkakan kantung air mata
dan memerah di daerah saccus lakrimal, dan nyeri tekan di daerah saccus,
daerah kantung air mata berwarna merah meradang. Keadaan kronis tidak
terdapat nyeri, tanda radang ringan, mata berair.
3. Selulitis atau abses kelopak mata, peradangan supuratif jaringan ikat
dibelakang septum orbita. Gejala seperti demam, mata merah, kelopak
edema, mata proptosis atau eksoftalmus diplopia, nyeri jika digerakkan,
demam, dan tajam penglihatan menurun. Pada retina didapatkan tanda
stasis. Pembuluh vena dengan edema papil.
4. Moloskum kontagiosum, pada kelopak mata terlihat benjolan dengan
pengaungan di tengah biasanya terletak di tepi kelopak mata. Ditemukan
konjungtivitis.

7
2.10 Penatalaksanaan7

Biasanya hordeolum dapat sembuh sendiri dalam waktu 5-7 hari.

1. Non farmakologi

Kompres hangat 3 kali sehari selama 10 menit tiap kalinya untuk membantu
drainase. Lakukan dengan mata tertutup. Pengangkat bulu mata (epilasi ) dapat
memberikan jalan untuk drainase. Pada hordeolum yang tidak dapat sembuh
dengan terapi dapat dilakukan insisi.

2. Farmakologi

Antibiotik diindikasikan bila dengan kompres hangat selama 24 jam tidak ada
perbaikan dan bila proses peradangan menyebar ke sekitar daerah hordeolum.
a. Antibiotik topikal
Dapat digunakan salep mata kloramfenikol 1% tiap 1-3 jam atau
polymixin B / neomycin 0,35 % 1-4 kali sehari.
b. Antibiotik sistemik
Antibiotik oral dapat diberikan amoksisilin atau asam klavulanat 3
kali 500 mg.
3. Pembedahan3,7
Bila dengan pengobatan tidak berespon dengan baik, maka prosedur
pembedahan mungkin diperlukan untuk membuat drainase pada hordeolum. Pada
insisi hordeolum terlebih dahulu diberikan anestesi topikal dengan pantokain tetes
mata. Dilakukan anestesi infiltrasi dengan prokain atau lidokain di daerah
hordeolum dan dilakukan insisi:
a. Hordeolum internum dibuat insisi pada daerah fluktuasi pus, tegak lurus
pada margo palpebra.
b. Hordeolum eksternum dibuat insisi sejajar dengan margo palpebra.
Setelah dilakukan insisi, dilakukan ekskohleasi atau kuretase seluruh isi
jaringan meradang di dalam kantongnya dan kemudian diberikan salep
antibiotik.

8
2.11 Komplikasi
Komplikasi hordeolum adalah mata kering, simblefaron, abses, atau
selulitis palpebra yang merupakan radang jaringan ikat jarang palpebra di depan
septum orbita dan abses palpebra.

2.12. Prognosis
Prognosis umumnya baik, karena proses peradangan pada hordeolum bisa
mengalami penyembuhan dengan terapi yang sesuai dilakukan kompres hangat
pada mata yang sakit serta menjaga hygiene dan sanitasi mata.

9
RAHASIA BAB III
LAPORAN KASUS

STATUS BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU

IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. RD Pekerjaan : IRT


Umur : 24 tahun Pendidikan : SMA
Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Islam
Alamat : Siak Hulu Tanggal Pemeriksaan : 12/10/2018
MR : 998206

Keluhan Utama:
Benjolan pada kedua kelopak mata atas sejak 1 bulan SMRS

Riwayat Penyakit Sekarang


Benjolan pada kelopak mata kanan atas sejak 1 bulan SMRS, awalnya
benjolan kecil kemerahan lama kelamaan semakin besar sehingga menjadi
bengkak. Benjolan disertai rasa sakit dan gatal. Dua minggu setelah benjolan
dikelopak mata kanan atas, muncul benjolan di kelopak mata kiri atas awalnya
benjolan kecil kemudian semakin besar, bengkak dan merah. Benjolan terasa
gatal dan sakit apabila disentuh. Trauma (-), alergi (-) mata merah(-) pandangan
kabur (-).

Riwayat Penyakit Dahulu


- Riwayat hipertensi (-)
- Riwayat DM (-)
- Riwayat trauma pada mata (-)
- Riwayat infeksi pada mata sebelumnya (-)
- Riwayat alergi (-)

10
Riwayat Pengobatan
3 hari yang lalu, Pasien telah berobat ke dokter spesialis mata tetapi pasien jarang
menggunakan obat tetes mata dan melakukan kompres hangat.

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada anggota keluarga dengan riwayat penyakit yang relevan

Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Tampak sakit
Kesadaran : Komposmentis kooperatif
Tanda - tanda vital : TD : 130/80 mmHg
Nadi : 80 x/menit
Frekuensi napas: 20 x/menit
Suhu : 37ºC
Status Opthalmologi
OD OS
20/50 Visus Tanpa Koreksi 20/20
Sp- 1.50 menjadi (20/20) Visus dengan koreksi Tidak dilakukan
Ortoforia Posisi Bola Mata Ortoforia
Baik ke segala arah Gerakan Bola Mata Baik ke segala arah
20 Tekanan Bola Mata 18
Palpebra superior : Edema Palpebra superior : Edema
(+), hiperemis (+), nyeri (+), hiperemis (+), nyeri
tekan (+), pustul (+) dengan Palpebra tekan (+), pustul (+) dengan
ukuran 4 mm x 4 mm X 0,5 ukuran 4 mm x 4 mm x 0,5
mm mm
Tenang Konjungtiva Tenang
Jernih Kornea Jernih
Tenang Sklera Tenang
Dalam COA Dalam
Warna iris cokelat, Warna iris cokelat,
Pupil reguler, sentral, Ø 3 mm Iris/Pupil Pupil reguler, sentral, Ø 3 mm
refleks cahaya langsung (+), refleks cahaya langsung (+),

11
refleks cahaya tidak refleks cahaya tidak
langsung(+) langsung(+)
Jernih Lensa Jernih

Funduskopi:
Refleks (+) Refleks Refleks (+)

Bulat batas tegas, C/D R 0,3 Papil Bulat batas tegas, C/D R 0,3
A:V=2:3 Retina A : V = 2: 3
Normal Makula Normal

edema edema

hiperemis Pustul

hiperemis
Pustul

Gambar 3.1. Mata kanan Gambar 3.2. Mata kiri

12
Kesimpulan/resume :
Ny. RD, 24 tahun, benjolan di kelopak mata atas sejak 1 bulan, awalnya
benjolan kecil yang semakin membesar disertai dengan rasa gatal dan nyeri
apabila disentuh. Dari pemeriksaan ophtamologi didapatkan pada palpebra edema,
hiperemis dan nyeri tekan, pustul.
Diagnosis Kerja :
Hordeolum eksterna ODS
Miopia simpleks OD
Diagnosis Banding :
Kalazion
Terapi :
A . Non Farmakologi
a. Kompres hangat 3 kali sehari selama 10 menit tiap kalinya untuk
membantu drainase
b. Bersihkan kelopak mata dengan air bersih
c. Dilakukan epilasi
B . Farmakologi
a. Amoxicillin 3 x 500 mg
b. Ibuprofen 3 x 500 mg
c. Cendo mycos 3 tetes per hari
Prognosis:
ODS
Quo ad vitam : bonam
Quo ad functionam : bonam
Quo ad kosmetikum : dubia ad bonam

13
DAFTAR PUSTAKA

1. Asbury T, Augsburger JJ, Biswell R, Chan TYB, et al. Vaughan &


Asbury’s General Ophtanology. Edisi ke-18. New York: The McGraw-hill
Company; 2011. Hal. 29-31
2. Khurana A. Comprehensive Ophthamology. Edisi ke-4. New Delhi: New
Age International; 2007.Hal. 367-370
3. Sidarta I, SR Yulianti. Ilmu Penyakit Mata, Cetakan IV, Balai Penerbit FK
UI, Jakarta 2011: Hal1-2 ; 92-105
4. Panicharoen C, Hirunwiwatkul P. Current pattern treatment of hordeolum
by ophthalmologists in Thailand. J Med Assoc Thai. 2011;94(6):721-4
5. Neff AG, Carter CD. Benign eyelid lesions. In: Yanoff M, Duker JS.
Ophtalmology 2nd ed. Philadelphia, PA: Mosby;2004: 698-710
6. Mcalinden C, Andrades GM, Skiadaresi E. Hordeolum: Acute abscess
within an eyelid sebaceous gland. Cleveland Clinic Journal Of Medicine.
volume 83;2016.
7. Sitorus SR, Sitompul R, Widyawati S, Bani PA. Buku ajar oftamologi
edisi 1. Jakarta : 2017. Hal.413-415

14