Anda di halaman 1dari 13

Perang Ketupat bangka beliutng

Suasana saat perang ketupat berlangsung

Lagu Timang Burong (Menimang Burung) pengiring tari serimbang itu dilantunkan secara lembut. Lagu itu, diiringi suara
gendang dari enam penabuh serta alunan dawai (alat musik), untuk mengiringi gerak lima penari remaja yang menyambut tamu.
Dengan baju dan selendang merah, kelima penari menyita perhatian ribuan pengunjung yang memadati Pantai Pasir Kuning,
Tempilang, Bangka Barat, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Tarian yang menggambarkan kegembiraan sekumpulan burung siang menyambut kehadiran seekor burung malam itu merupakan
pembukaan dari rangkaian tradisi perang ketupat, khas Kecamatan Tempilang di Bangka Belitung. Tradisi tersebut
menggambarkan perang terhadap makhluk-makhluk halus yang jahat, yang sering mengganggu kehidupan masyarakat.

Tradisi itu sebenarnya sudah dimulai pada malam sebelum perang ketupat dimulai. Pada malam hari sebelumnya, tiga dukun
Kecamatan Tempilang, yaitu dukun darat, dukun laut, dan dukun yang paling senior, memulai upacara Penimbongan.
Upacara dimaksudkan untuk memberi makan makhluk halus yang dipercaya bertempat tinggal di darat. Sesaji untuk makanan
makhluk halus itu diletakkan di atas penimbong atau rumah-rumahan dari kayu menangor.
Secara bergantian, ketiga dukun itu memanggil roh-roh di Gunung Panden, yaitu Akek Sekerincing, Besi Akek Simpai, Akek
Bejanggut Kawat, Datuk Segenter Alam, Putri Urai Emas, Putri Lepek Panden, serta makhluk halus yang bermukim di Gunung
Mares, yaitu Sumedang Jati Suara dan Akek Kebudin.
Menurut para dukun, makhluk-makhluk halus itu bertabiat baik dan menjadi penjaga Desa Tempilang dari serangan roh-roh
jahat. Karena itu, mereka harus diberi makan agar tetap bersikap baik terhadap warga desa.
Pada upacara Penimbongan itu digelar tari campak, tari serimbang, tari kedidi, dan tari seramo. Tari campak dilakukan dalam
beberapa tahap dengan iringan pantun yang dinyanyikan secara bersahut-sahutan. Tari ini juga biasa digelar dalam pesta
pernikahan atau pesta rakyat lainnya.

Tari kedidi lebih mirip dengan peragaan jurus-jurus silat yang diilhami gerakan lincah burung kedidi, sedangkan tari seramo
merupakan tari penutup yang menggambarkan pertempuran habis-habisan antara kebenaran melawan kejahatan.
Seusai upacara Penimbongan, para dukun itu kembali mengadakan upacara Ngancak, yakni pada tengah malamnya. Upacara
Ngancak dimaksudkan memberi makan kepada makhluk halus penunggu laut.
Diterangi empat batang lilin, dukun laut membuka acara itu dengan membaca mantra-mantra pemanggil makhluk halus penunggu
laut, di antara bebatuan tepi Pantai Pasir Kuning, Tempilang. Nama-nama makhluk halus itu diyakini tidak boleh diberitahukan
kepada masyarakat agar tidak disalahgunakan untuk kepentingan tertentu.
Seperti pada upacara Penimbongan, upacara Ngancak juga dilengkapi sesaji bagi makhluk halus penunggu laut. Sesaji itu
dipercaya merupakan makanan kesukaan siluman buaya, yaitu buk pulot atau nasi ketan, telur rebus, dan pisang rejang.

Perang ketupat

Pagi harinya, seusai tari serimbang digelar, dukun darat dan dukun laut bersatu merapal mantra di depan wadah yang berisi 40
ketupat. Mereka juga berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar perayaan tersebut dilindungi, jauh dari bencana.
Di tengah membaca mantra, dukun darat tiba-tiba tak sadarkan diri (trance) dan terjatuh. Dukun laut menolongnya dengan
membaca beberapa mantra, dan akhirnya dukun darat pun sadar dalam hitungan detik.
Menurut beberapa orang tua di tempat tersebut, ketika itu dukun darat sedang berhubungan dengan arwah para leluhur.
Kenyataannya, setelah siuman, dukun darat menyampaikan beberapa hal yang tidak boleh dilakukan (pantangan) warga selama
tiga hari, antara lain melaut, bertengkar, menjuntai kaki dari sampan ke laut, menjemur pakaian di pagar, dan mencuci kelambu
serta cincin di sungai atau laut.
Setelah semua ritual doa selesai, kedua dukun itu langsung menata ketupat di atas sehelai tikar pandan. Sepuluh ketupat
menghadap ke sisi darat dan sepuluh lainnya ke sisi laut. Kemudian, 20 pemuda yang menjadi peserta perang ketupat juga
berhadapan dalam dua kelompok, menghadap ke laut dan ke darat. Dukun darat memberi contoh dengan melemparkan ketupat ke
punggung dukun laut dan kemudian dibalas, tetapi ketupat tidak boleh dilemparkan ke arah kepala. Kemudian, dengan aba-aba
peluit dari dukun laut, perang ketupat pun dimulai.

Ke-20 pemuda langsung menghambur ke tengah dan saling melemparkan ketupat ke arah lawan mereka. Semua bersemangat
melemparkan ketupat sekeras-kerasnya dan berebut ketupat yang jatuh. Keadaan kacau sampai dukun laut meniup peluitnya
tanda usai perang dan mereka pun berjabat tangan. Selanjutnya, perang babak kedua dimulai. Prosesnya sama dengan yang
pertama, tetapi pesertanya diganti. Perang kali ini pun tidak kalah serunya karena semua peserta melempar ketupat dengan penuh
emosi.
Rangkaian upacara itu ditutup dengan upacara Nganyot Perae atau menghanyutkan perahu mainan dari kayu ke laut. Upacara itu
dimaksudkan mengantar para makhluk halus pulang agar tidak mengganggu masyarakat Tempilang

Kepulauan Bangka Belitung

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terdiri dari dua pulau utama
yaitu Pulau Bangkadan Pulau Belitung serta pulau-pulau kecil seperti P. Lepar, P. Pongok, P. Mendanau dan P. Selat
Nasik, total pulau yang telah bernama berjumlah 470 buah dan yang berpenghuni hanya 50 pulau. Bangka Belitung
terletak di bagian timur Pulau Sumatera, dekat dengan Provinsi Sumatera Selatan. Bangka Belitung dikenal sebagai
daerah penghasil timah, memiliki pantai yang indah dan kerukunan antar etnis. Ibu kota provinsi ini
ialah Pangkalpinang. Pemerintahan provinsi ini disahkan pada tanggal 9 Februari2001. Setelah dilantiknya Pj.
Gubernur yakni H. Amur Muchasim, SH (mantan Sekjen Depdagri) yang menandai dimulainya aktivitas roda
pemerintahan provinsi.
Selat Bangka memisahkan Pulau Sumatera dan Pulau Bangka, sedangkan Selat Gaspar memisahkan Pulau Bangka
dan Pulau Belitung. Di bagian utara provinsi ini terdapat Laut Cina Selatan, bagian selatan adalah Laut Jawa dan
Pulau Kalimantan di bagian timur yang dipisahkan dari Pulau Belitung oleh Selat Karimata.
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebelumnya adalah bagian dari Sumatera Selatan, namun menjadi provinsi
sendiri bersamaBanten dan Gorontalo pada tahun 2000. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung didirikan berdasarkan
Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2000 Tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tanggal 21
November 2000 yang terdiri dari Kabupaten Bangka, Kabupaten Belitung dan Kota Pangkalpinang. Pada tahun
2003 berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2003 tanggal 23 Januari 2003 dilakukan pemekaran wilayah
dengan penambahan 4 kabupaten yaitu Bangka Barat, Bangka Tengah, Bangka Selatan dan Belitung Timur. Provinsi
Kepulauan Bangka Belitung merupakan pemekaran wilayah dari Provinsi Sumatera Selatan.

Sejarah

Wilayah Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, terutama Pulau Bangka berganti-ganti menjadi daerah
taklukan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Setelah kapitulasi dengan Belanda, Kepulauan Bangka Belitung
menjadi jajahan Inggris sebagai “Duke of Island”. 20 Mei 1812 kekuasaan Inggris berakhir setelah konvensi London
13 Agustus 1824, terjadi peralihan kekuasaan daerah jajahan Kepulauan Bangka Belitung antara MH. Court
(Inggris) dengan K. Hcyes (Belanda) di Muntok pada 10 Desember 1816. Kekuasaan Belanda mendapat perlawanan
Depati Barin dan putranya Depati Amir yang di kenal sebagai perang Depati Amir (1849-1851). Kekalahan perang
Depati Amir menyebabkan Depati Amir diasingkan ke Desa Air Mata Kupang NTT. Atas dasar stbl. 565, tanggal 2
Desember 1933 pada tanggal 11 Maret 1933 di bentuk Resindetil Bangka Belitung Onderhoregenheden yang
dipimpin seorang residen Bangka Belitung dengan 6 Onderafdehify yang di pimpin oleh Ast. Residen. Di Pulau
Bangka terdapat 5 Onderafdehify yang akhirnya menjadi 5 Karesidenan sedang di Pulau Belitung terdapat 1
Karesidenan. Di zaman Jepang, Karesidenan Bangka Belitung di perintah oleh pemerintahan Militer Jepang yang
disebut Bangka Beliton Ginseibu. Setelah Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, oleh Belanda di bentuk
Dewan Bangka Sementara pada 10 Desember 1946 (stbl.1946 No.38) yang selanjutnya resmi menjadi Dewan
Bangka yang diketuai oleh Musarif Datuk Bandaharo Leo yang dilantik Belanda pada 11 November 1947. Dewan
Bangka merupakan Lembaga Pemerintahan Otonomi Tinggi. Pada 23 Januari 1948 (stb1.1948 No.123), Dewan
Bangka, Dewan Belitung dan Dewan Riau bergabung dalam Federasi Bangka Belitung dan Riau (FABERI) yang
merupakan suatu bagian dalam Negara Republik Indonesia Serikat (RIS). Berdasarkan Keputusan Presiden RIS
Nomor 141 Tahun 1950 kembali bersatu dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hingga berlaku
undang-undang Nomor 22 Tahun 1948. Pada tanggal 22 April 1950 oleh Pemerintah diserahkan wilayah Bangka
Belitung kepada Gubernur Sumatera Selatan Dr. Mohd. lsa yang disaksikan oleh Perdana Menteri Dr. Hakim dan
Dewan Bangka Belitung dibubarkan. Sebagai Residen Bangka Belitung ditunjuk R. Soemardja yang berkedudukan
di Pangkalpinang.Berdasarkan UUDS 1950 dan UU Nomor 22 Tahun 1948 dan UU Darurat Nomor 4 tanggal 16
November 1956 Karesidenan Bangka Belitung berada di Sumatera Selatan yaitu Kabupaten Bangka dan dibentuk
juga kota kecil Pangkalpinang. Berdasarkan UU Nomor 1 Tahun 1957 Pangkalpinang menjadi Kota Praja. Pada
tanggal 13 Mei 1971 Presiden Soeharto meresmikan Sungai Liat sebagai ibukota Kabupaten Bangka. Berdasarkan
UU Nomor 27 Tahun 2000 wilayah Kota Pangkalpinang, Kabupaten Bangka dan Kabupaten Belitung menjadi
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selanjutnya sejak tanggal 27 Januari 2003 Provinsi Kepualauan Bangka
Belitung mengalami pemekaran wilayah dengan menambah 4 Kabupaten baru yaitu Kabupaten Bangka Barat,
Bangka Tengah, Belitung Timur dan Bangka Selatan.

Keagamaan

Penduduk Kepulauan Bangka Belitung merupakan masyarakat yang beragama dan menjunjung tinggi kerukunan
beragama. Tempat peribadatan agama di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ada sebanyak 730 masjid,
454 musala, 115 langgar, 87 gereja protestan, 30 gereja katolik, 48 vihara dan 11 centiya. Pada pemberangkatan haji
tahun 2007 jumlah jemaah haji yang terdaftar dan diberangkatkan ke tanah suci sebanyak 1012 jemaah.

Kebudayaan dan Adat Istiadat Bangka

Bangka dikenal dengan pantainya , namun Bangka pun mempunyai keragaman budaya. Dari budaya lokal hingga
budaya “Import” yang dibawa para pendatang. Keragaman budaya inilah yang belakangan menjadi aset penting
untuk mengembangkan pariwisata dalam Bangka.

Pulau Bangka dikelilingi lautan, laksana surga-surga bagi para nelayan. Karena itu sebagian besar penduduk bekerja
sebagai nelayan. Dalam perkembangannya, latar belakang masyarakat Bangka yang sebagian besar nelayan itu,
ternyata turut mempengaruhi pertumbuhan kebudayaan lokal. Meski saat ini pola hidup masyarakat Bangka telah
mulai bergeser, kebudayaan lokal yang mengandung unsur nelayan masih tetap kental mewarnai sendi-sendi
kehidupan masyarakatnya. Paling tidak saat ini ada dua event budaya besar yang berhubungan dengan nelayan,
yakni, upacara rebo kasan dan buang jong. Selain itu ada ritual-ritual budaya yang dipengaruhi unsur religi,
sementara pertunjukan kesenian Barongsai mewakili kebudayaan masyarakat pendatang (Tionghoa)

Tapi diantara banyak ritual budaya di Bangka, upacara sepintu sedulang boleh jadi memiliki makna yang khusus.
Inilah ritual yang menggambarkan persatuan masyarakat Bangka.

Sepintu Sedulang

Kata sepintu sedulang adalah semboyan dan motto masyarakat Bangka yang bermakna adanya persatuan dan
kesatuan serta gotong royong. Ritual ini adalah satu kegiatan penduduk pulau Bangka pada waktu pesta kampung
membawa dulang berisi makanan untuk dimakan tamu tau siapa saja di balai adat. Dari ritual ini, tercermin betapa
masyarakat Bangka menjujung tinggi rasa persatuan dan kesatuan serta gotong royong, bukan hanya dilaksanakan
penduduk setempat melainkan juga dengan para pendatang.

Jiwa gotong royong masyarakat Bangka cukup tinggi. Warga masyarakat akan mengulurkan tangannya membantu
jika ada anggota warganya memerlukanya. Semua ini berjalan dengan dilandasi jiwa Sepintu Sedulang. Jiwa ini
dapat disaksikan, misalnya pada saat panen lada, acara-acara adat, peringatan hari-hari besar keagamaan,
perkawianan dan kematian. Acara ini lebih dikenal dengan sebutan “Nganggung”, yaitu kegiatan setiap rumah
mengantarkan makanan dengan menggunakan dulang, yakni baki bulat besar.

Selain itu juga ada berbagai macam kebudayaan dan adat istiadat bangka antara lain :

 Rebo kasan
 Buang Joang
 Ceriak Nerang
 Perang Ketupat
 Mandi Belimau serta,
 Kawin Masal
 Perang Ketupat
Bangka mempunyai kain khas untuk daerahnya yaitu Kain Cual
Rumah Adat

Rumah Panggung
Secara umum arsitektur di Kepulauan Bangka Belitung berciri Arsitektur Melayu seperti yang ditemukan di daerah-
daerah sepanjang pesisir Sumatera dan Malaka.

Di daerah ini dikenal ada tiga tipe yaitu Arsitektur Melayu Awal, Melayu Bubung Panjang dan Melayu Bubung
Limas. Rumah Melayu Awal berupa rumah panggung kayu dengan material seperti kayu, bambu, rotan, akar pohon,
daun-daun atau alang-alang yang tumbuh dan mudah diperoleh di sekitar pemukiman.
Bangunan Melayu Awal ini beratap tinggi di mana sebagian atapnya miring, memiliki beranda di muka, serta
bukaan banyak yang berfungsi sebagai fentilasi. Rumah Melayu awal terdiri atas rumah ibu dan rumah dapur yang
berdiri di atas tiang rumah yang ditanam dalam tanah.

Berkaitan dengan tiang, masyarakat Kepulauan Bangka Belitung mengenal falsafah 9 tiang. Bangunan didirikan di
atas 9 buah tiang, dengan tiang utama berada di tengah dan didirikan pertama kali. Atap ditutup dengan daun
rumbia. Dindingnya biasanya dibuat dari pelepah/kulit kayu atau buluh (bambu). Rumah Melayu Bubung Panjang
biasanya karena ada penambahan bangunan di sisi bangunan yang ada sebelumnya, sedangkan Bubung Limas
karena pengaruh dari Palembang. Sebagian dari atap sisi bangunan dengan arsitektur ini terpancung. Selain
pengaruh arsitektur Melayu ditemukan pula pengaruh arsitektur non-Melayu seperti terlihat dari bentuk Rumah
Panjang yang pada umumnya didiami oleh warga keturunan Tionghoa. Pengaruh non-Melayu lain datang dari
arsitektur kolonial, terutama tampak pada tangga batu dengan bentuk lengkung.

 Rumah Limas
 Rumah Rakit

Atraksi/ Event Budaya

 Perang Ketupat
 Buang Jong
 Mandi Belimau
 Ruwah
 Kongian
 Imlek
 Sembahyang Rebut
 Sembahyang Kubur
 Kawin Masal
 Nganggung
 Maulid Nabi Muhammad
 Isra’ Mi’raj
 Muharoman
 Selikur
 Nyukur
 Idul Fitri/Hari Raya Puasa
 Idul Adha/Hari Raya Haji
 Nujuh Hari
 Empat Puluh Hari
 Nyeratus Hari

Senjata tradisional Bangka


 Parang bangka bentuknya seperti layar kapal. Alat ini digunakan terutama untuk perkelahian jarak
pendek. Senjata ini mirip dengan golok di Jawa, namun ujung parang ini dibuat lebar dan berat guna
meningkatkan bobot supaya sasaran dapat terpotong dengan cepat. Parang yang berdiameter sedang atau sekitar
40 cm juga dapat digunakan untuk menebang pohon karena bobot ujungnya yang lebih besar dan lebih berat.
 Kedik adalah alat tradisional yang digunakan sebagai alat pertanian. Alat ini digunakan di perkebunan terutama
di kebun lada. Dalam menggunakannya si pemakai harus berjongkok dan bergerak mundur atau menyamping.
Alat ini digunakan dengan cara diletakkan pada tanah dan ditarik ke belakang. Alat ini efektif untuk
membersihkan rumput pengganggu tanaman lada. Kedik biasanya digunakan oleh kaum wanita karena alatnya
kecil dan relatif lebih ringan. Kedik hanya dapat digunakan untuk rumput jenis yang kecil atau rumput yang
tumbuh dengan akar yang dangkal, bukan ilalang.
 Siwar Panjang

Alat musik dan tarian tradisional


 Dambus
 Suling
 Gendang Melayu
 Tari Tanggai
 Tari Zapin
 Tari Campak
 Rebana
 Rudat
 Tari Bahtera Bertiang Tujuh
 Sekapur Sirih
Masakan /makanan tradisional

 Lempah kuning adalah masakan khas dari Pulau Bangka. Bahan dasar makanan ini adalah ikan laut dan dapat
juga memakai daging, yang kemudian diberi bermacam bumbu dapur seperti kunyit, bawang merah dan putih
serta lebngkuas dan terasi atau belacan yang khas dari daerah Bangka.
 Song Sui adalah merupakan kuliner khas bangka belitung yang dimasak dengan menggunakan daging Babi
beserta jeroan babi dicampuri dengan ANG CIU / Arak Anggur Merah.
 Getas atau Keretek adalah makanan yang berbahan dasar ikan dan terigu yang buat dengan berbagi bentuk yang
rasanya hampir sama dengan kerupuk.
 Rusip adalah makanan yang terbuat dari bahan dasar ikan bilis yang dicuci bersih dan diriskan secara steril,
kemudian dicampur dengan garam yang komposisinya seimbang. Di samping itu ditambahkan juga air gula
kabung agar aroma lebih terasa, kemudian disimpan sampai menjadi matang tanpa proses pemanasan. Adonan
ini harus ditutup dengan wadah yang rapat agar tidak tercampur dengan benda asing apapun. Dahulu biasanya
proses adonan ini ditempatkan dalam guci yang bermulut sempit. Suhu ruangan harus dijaga. Makanan ini dapat
dimasak dulu atau dimakan langsung dengan lalapan.
 Calok
Terbuat dari udang kecil segar yang disebut dengan udang cencalo/rebon. Udang dicuci bersih dan dicampur
dengan garam sebagai pengawet agar tahan lebih lama. sangat cocok untuk teman lauk nasi hangat dengan
lalapan ketimun, tomat dan sayuran segar lainnya. Calok juga enak sebagai campuran omelete telur, rasanya
akan lebih gurih dan nikmat.

 Teritip
Tetirip adalah sejenis tiram kecil yang biasanya hidup di tepi pantai dan melekat pada bebatuan. dagingnya
sangat kecil tapi memiliki rasa da tekstur seperti tiram pada umumnya. biasanya dimakan segar atau di asinkan
dengan garam jika ingin disimpan.Teritip sangat nikmat jika ditambahkan dengan cabe merah dan jeruk kunci
(sejenis jeruk asam khas bangka).

 Belacan
 Tembiluk
 Kempelang
 Kerupuk
 Lempah Darat
 Empek-empek Bangka
 Lakso
 Tempoyak
 Bergo
 Tekwan
 Laksan
 Otak-otak
 Sambellingkung
 Martabak Bangka atau Kue Van De Cock/Hok Lo Pan
 Lempok, makanan sejenis dodol yang terbuat dari campuran gula pasir dan buah-buahan tertentu (umumnya
cempedak, nangka dan durian). Buah yang digunakan dilembutkan sampai memyerupai bubur, kemudian
dicampur dengan gula pasir dengan perbandingan tertentu dan dipanaskan di atas api sampai kecoklatan dan
mudah dibentuk. Selama pemanasan, campuran harus selalu diaduk.
 Empek-empak udang, dibuat hanya oleh masyarakat nelayan yang tinggal di pesisir pantai, seperti di Desa Belo
Laut Kecamatan Muntok Kabupaten Bangka Barat, memiliki cita rasa khas udang yang sangat jarang ditemui di
wilayah-wilayah lain yang memproduksi makanan khas empek-empek.

Masyarakat keturunan Tionghoa dari daerah ini terkenal karena masakannya serta kue-kue basahnya. Mie
Bangka, Martabak Bangka atau Hok Lopan atau Van De Cock, Ca Kwedan berbagai jenis makanan lainnya sering
kali dijual oleh kelompok masyarakat ini yang merantau ke kota-kota besar di luar provinsi ini.

Tempat wisata

Pulau Bangka sangat terkenal dengan keindahan pantainya. Pada umumnya pantai di Bangka berpasir putih dan
halus namun ada juga yang berwarna kuning keemasan seperti bulir padi. Pantainya landai dengan ombak lumayan
besar dan dikelilingi oleh batu vulkanik yang unik dan indah. Beberapa pantai yang terkenal di Pulau Bangka antara
lain:

 Pantai Parai Tenggiri


 Pantai Matras
 Pantai Tanjung Pesona
 Pantai Rebo
 Pantai Batu Berdaun
 Pantai Pasir Padi
 Pantai Tanjung Ru Sadai,Bangka Selatan
 Pantai Tanjung Kerasak, Bangka Selatan
 Pantai Gunung Namak, Bangka Selatan
 Pantai Tanjung Kelian, Bangka Barat, Mentok
 Pantai Tanjung Ular, Bangka Barat, Mentok
 Pantai Rambat, Bangka Barat, Rambat, Simpang Teritip
 Pantai Tungau, Bangka Barat, Simpang Gong, Simpang Teritip
 Pantai Siangau, Bangka Barat, Teluk Limau, Parittiga
 Pantai Blembang, Bangka Barat, Jebu, Parittiga
 Pantai Pasir Kuning, Bangka Barat, Air Lintang, Tempilang

Selain objek wisata pantai terdapat juga obyek wisata lainnya antara lain:
 Pesanggrahan Bung Karno Bukit Menumbing
 Wisma Ranggam Mentok
 Rumah Mayor Mentok
 Masjid Jami’ di Mentok
 Tangga Seribu Mentok
 Museum Timah Pangkalpinang
 Masjid Jami’ Pangkalpinang
 Perkampungan Cina Tradisional Simpang Gedong
 Taman Pha Kak Liang di Belinyu
 Kolam Pemandian Air Panas di Pemali
 Vihara Dewi Kuan Im di Sungailiat
 Lokasi Film Laskar Pelangi di Gantung
 Vihara Budhayana Dewi Kwam In Damar
 Bendungan Pice Gantung
 A1 Bukit Samak Manggar
 Museum Buding
 Situs Raja Balok di Desa Balok Kecamatan Dendang
 Perigi Belande Buding

Nganggung adalah suatu tradisi turun temurun yang hanya bisa dijumpai di Bangka. Karena tradisi
nganggung merupakan identitas Bangka, sesuai dengan slogan Sepintu Sedulang, yang mencerminkan
sifat kegotong royongan, berat sama dipikul ringan sama dijinjing.
Dalam acara ini, setiap kepala keluarga membawa dulang yaitu sejenis nampan bulat sebesar tampah
yang terbuat dari aluminium dan ada juga yang terbuat dari kuningan. Untuk yang terakhir ini sekarang
sudah agak langka, tapi sebagian masyarakat Bangka masih mempunyai dulang kuningan ini.
Didalam dulang ini tertata aneka jenis makanan sesuai dengan kesepakatan apa yang harus dibawa.
Kalau nganggung kue, yang dibawa kue, nganggung nasi, isi dulang nasi dan lauk pauk, nganggung
ketupat biasanya pada saat lebaran.
Adapun nganggung merupakan suatu kegiatan yang dilakukan masyarakat dalam rangka memperingati
hari besar agama Islam, menyambut tamu kehormatan, acara selamatan orang meninggal, acara
pernikahan atau acara apapun yang melibatkan orang banyak. Nganggung adalah membawa makanan di
dalam dulang atau talam yang ditutup tudung saji ke masjid, surau, atau balai desa untuk dimakan
bersama setelah pelaksanaan ritual agama.
Perayaan selama satu minggu menyambut Tahun Baru Imlek yang diselenggarakan di Kota Sungailiat.
Merupakan agenda tahuuanan mengikuti hitungan Kalender Cina.
Upacara Adat Rebo Kasan

Upacara adat Tolak Bala disimbolkan dengan ‘ ketupat lepas ‘ dan ‘air wafa’ yang dilaksanakan secara
turun temurun oleh penduduk desa Air Anyir, Kecamatan Merawang. Merupakan agenda tahunan setiap
tanggal 24 safar (hijriyah).

Perayaan Maulid Nabi


Peringatan Kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diramaikan dengan Tradisi Ngangung ( dimana setiap
rumah membawakan makanan dengan menggunakan dulang, yakni baki bulat besar) dan dimeriahkan
dengan berbagai lomba kesenian Islami. Merupakan kegiatan agenda tahunan berdasarkan kalender
Islam yang dipusatkan di Kecamatan Mendo Barat.

Ritual Mandi Belimau


Upacara Adat membersihkan anggota tubuh dengan “air taubat”.
Kegiatan adat yang dilakukan masyarakat Dusun Limbung, Desa
Jada Bahrin dan Desa Kimak, Kecamatan Merawang. Kegiatan ini
dilaksanakan satu minggu sebelum datangnya bulan suci
Ramadhan, mengambil tempat di pinggir Sungai Limbung.

Lempah Darat

Lempah Darat merupakan makanan khas dari Pulau Bangka. Bahan pembuatan makanan ini terdiri dari
pucuk idat, talas (di Bangka disebut keladi), belacan (terasi), bawang merah, garam, dan cabe rawit
(cabe kecit). Lempah darat paling lezat bila dimakan bersama nasi dan ikan asin.

Tarian tradisional satu ini merupakan salah satu icon kesenian tradisional dari dearah Bangka Belitung. Namanya
adalah Tari Campak.

Apakah Tari Campak itu?

Tari Campak adalah tarian tradisional dari daerah kepulauan Bangka Belitung yang menggambarkan keceriaan
dalam pergaulan remaja di sana. Tarian ini biasanya dibawakan oleh para penari pria dan wanita dengan ekspresi
dan gerakan yang menggambarkan kegembiraan. Tarian campak ini biasanya dipentaskan dalam acara-acara
seperti penyambutan tamu besar, pernikahan dan lain-lain.

TARI SAMBUT
tari sambut sepintu sedulang yang mencerminkan adat istiadat masyarakat Bangka yang ramah tamah,
sopan santun, gembira dan bahagia, tulus dan terbuka terhadap siapa saja, khususnya tamu istimewa
yang datang berkunjung ke negeri sepintu sedulang semakin di paten kan dan di perkenalkan kepada
masyarakat luas termasuk sering kali di tampilkan pada saat menyambut tetamu agung Mulai dari
Presiden,menteri dan tamu tamu yang di anggap istimewa lainnya baik yang berasal dari luar maupun
dari dalam daerah.
Depati Amir

Depati Bahrin

Depati Hamzah
Depati Amir adalah putera sulung Depati Bahrin (Wafat tahun 1848), sedangkan
Hamzah adalah adik atau saudara kandung Amir.
Adam Cholik Abdul Somad Tholib

Ali Samid Apip Adi


Pakaian Adat Bangka Belitung Pakaian adat Bangka Belitung bernama baju seting dan kain cual.
Berdasarkan kepercayaan dan keterangan banyak orang tua asli penduduk Bangka Belitung, pakaian
adat tersebut awalnya dibawa oleh saudagar Arab yang menikah dengan gadis Cina di sekitar Kota
Mentok. Karena terbilang menarik, masyarakat asli Bangka Belitung kemudian mulai menggunakan jenis
pakaian yang sama dan memadukannya dengan budaya setempat.

1. PANGKAK IGIK KARET

Pangkak Igik Karet merupakan sebuah permainan tradisional yang digali dari kebiasaan kehidupan
masyarakat Bangka pada masa silam. Pangkak Igik Karet yang diartikan sebagai saling beradu
memecahkan buah karet. Lazim permainan ini dilakukan masyarakat tempo dulu usai bekerja di
kebun, sekedar untuk menghilangkan kejenuhan dan penatnya. Dan tak jarang dimainkan oleh
anak-anak. Sayangnya, permainan yang sarat makna nilai tradisi itu perlahan mulai hilang di
tengah-tengah peradaban masyarakat sekarang ini.

2. PANGKAK GASING

Permainan Gasing atau Gangsing sudah dikenal sejak dulu di Kepulauan Bangka Belitung.
Meskipun gasing ini juga dimainkan di daerah lain di Indonesia, namun gasing dari Bangka Belitung
mempunyai daya tarik tersendiri. Gasing berbahan dasar kayu ini diukir sedemikian rupa sehingga
menarik dan mampu bertahan hingga putaran yang lama sekali. Bahan dasar kayu yang menjadi
kesukaan adalah kayu pelawan. Saya Tekstur kayu pelawan yang keras dan juga kuat menjadi
andalan ketika bermain gasing ini. Gasing ini kemudian diadu, atau istilah di Bangka di pangkak.
Kata "Pangkak" kira-kira jika diartikan kedalam bahasa Indonesia adalah hantam; menghantam;
bentur; membenturkan dua buah benda dengan keras. Karena permainan pangkak gasing ini
dimainkan dengan cara membenturkan gasing lawan yang lebih dulu di mainkan dengan gasing kita.
Kemudian berlomba untuk lebih lama berputar di arena yang disediakan.
3. SEMBUNYI GONG

Sembunyi gong adalah nama yang sering disebut dalam istilah Bangka, nama dalam istilah
Indonesia adalah petak umpet. Permainannya pun hampir sama seperti permainan petak umpet
pada umumnya. Permainan ini sering dimainkan anak-anak setelah pulang sekolah. biasanya
mereka berkumpul disuatu tempat, bisa kebun untuk bermain sembunyi gong ini. Permainan ini
dimainkan secara berkelompok dan ada satu anak yang menjaga. Jika anak gagal menjaga
gongnya. Maka ia akan menjadi penjaga sampai semua anak yang sembunyi ditemukan.

4. SAK USEK

Sak usek adalah permainan kejar-kejaran, dimana ada satu anak yang bertugas untuk mengejar
anak yang lainnya. Sampai semua anak dapat dikejar maka permainan akan diulang dari awal, dan
yang menjadi pengejar selanjutnya adalah anak yang dapat ditangkap pertama kali.

5.ASAK-ASAK

Asak- asak adalah permainan yang sering dilakukan oleh anak-anak perempuan. Permainannya
adalah permainan masak-masak dari pasir, daunan dan sebagainya. Anak laki-lakipun sering ikut,
misalnya menjadi seorang ayah dalam permainan tersebut.

6. SETAL / KELERENG

Permaianan kelereng sering dimainkan anak-anak di Bangka, ada banyak tipe permainanya, seperti
pot, peris, tulang ikan, ceplok dan lainnya. Permainan kelereng ini dilakukan beramai-ramai.
Biasanya dimainkan di sore hari.

7. CAK LINGKING

Caklingking adalah permainan yang berjalan atau meloncat dengan kaki satu. Sebelum bermain ini anak-
anak haruslah membuat kotak-kotak yang akan mereka loncati. Dan mereka harus memiliki tago. Tago
yaitu batu yang akan mereka lempar kekotak berurutan.

8. Sembiloon

Fakta - Fakta Unik Khas Bangka Belitung


Fakta - Fakta Unik Khas Bangka Belitung - Setiap wilayah pasti memiliki kebiasaan, cerita,
legenda, mitos, budaya dan lain - lain. Kali ini kami akan mencoba menceritakan fakta - fakta apa
saja yang unik khas di Bangka Belitung. Fakta ini berasal dari pengalaman hidup kami sendiri dari
lahir hingga sampai saat ini dan cerita dari berbagai sumber . Di Bangka Belitung, setiap kampung
berbeda - beda versi walaupun masih dalam satu wilayah. Hal Berikut mungkin di anggap mitos /
tahayul, tapi sebagian masih berlaku di masyarakat dan sebagian lagi terkadang masih di alami
secara nyata ... mungkin saja kebetulan atau ada hal yang lain ( Hanya Tuhan Yang Maha Tahu ).

Sebagai masyarakat lokal yang awam kami pribadi menganggap fakta unik yang terjadi di
masyarakat bangka belitung ini sebenarnya bahwa alam ingin mengajarkan kita banyak hal tentang
keluhuran, sedangkan budaya atau mitos merupakan kekayaan budaya kita yang mengajarkan kita
untuk kembali menjadi masyarakat indonesia seutuhnya melalui kearifan budaya yang kita miliki
yang mulai terkikis. Berikut beberapa Fakta - Fakta Unik Dunia khas Bangka Belitung :

1. Taukah anda ada "mantra" khusus untuk masyarakat yang sudah kebelet ingin buang air kecil
dan besar di sembarang tempat. Mantra itu berbunyi " nek akak permisi ku nek ( buang air besar /
kecil ), k pacak ningok ku .. ku dak pacak ningok ka, permisi ok... " . artinya nenek kakek permisi
saya mau ( buang air besar / kecil ), kakek / nenek bisa lihat saya tapi saya tidak bisa melihat kakak
/ nenek, permisi ya... . Konon katanya hal ini di lakukan agar para jin yang berada di tempat kejadian
bisa menghindar ketika buang air besar / kecil nantinya . Bila hal ini di langgar maka "perabot" yang
bersangkutan bisa membesar. Namun sebagai umat beragama tentu selain "permisi" tersebut kita
juga harus berdoa sesuai dengan agama yang kita anut.

2. Bila anda di suguhi makanan / minuman oleh penduduk lokal bangka belitung, usahakan untuk
jangan menolak mencicipi. Tapi bila anda sedang benar - benar kenyang atau buru - buru ada
baiknya anda hanya cukup menyentuh hidangan tersebut dengan jari. lalu jari tersebut cukup di
sentuhkan di lidah anda. Terkadang bila kita mengabaikannya nanti kita akan tertimpa musibah.
mengapa demikian ? Di Bangka Belitung ada mitos dengan istilah "kepun", kepun bisa di artikan
dengan kualat kecil terhadap makanan / minuman. Sebagian berpendapat kepun adalah kualat
karena berlaku kurang sopan terhadap yang memberikan makanan / minuman. Logikanya ... Kalau
seseorang sudah repot-repot menyiapkan dan menghidangkan makanan/ minuman, tentu akan
terkesan tidak sopan bila kita menolaknya. Namun ada mitos lain mengatakan bahwa kepun yang
paling bahaya adalah kepun minuman kopi. Jadi menurut kami .. percaya atau tidak anda pada hal
ini bukankah tidak ada salahnya kita menghindari hal - hal yang tidak kita inginkan dengan hanya
cukup melakukan hal yang kecil

3. Ingin menyaksikan telur ayam bisa berdiri ? Di Bangka Belitung ada tradisi masyarakat tionghoa
yaitu sembahyang peh cun Setiap tanggal 5 bulan 5 penanggalan cina ada keunikan dimana telor
Ayam mentah yang masih segar dapat didirikan. Keunikannya bukan hanya sampai di situ saja,
pada hari itu juga air laut mengalami puncak surut yang sangat jauh hingga 1 Km. Biasanya pada
hari tersebut hampir di seluruh pantai di penuhi penduduk lokal.

4. Dulu masyarakat di larang menunjuk kuburan dengan telunjuk, konon katanya nanti "isi" dalam
kuburan tersebut akan menghampiri kita di lewat mimpi. Bila terlanjur menunjuk di wajibkan untuk
mengulum jari telunjuk yang konon tujuannyya untuk membatalkan kembali bahwa kita telah
menunjuk kuburan tersebut. Namun kebiasaan ini hampir sudah tidak di temui lagi di masyarakat.

5. Mitos tentang timah di bangka belitung

A. Walau Bangka Belitung di kenal dengan penghasil timah, tapi taukah anda tidak semua tempat di
bangka belitung mengandung timah. Konon katanya dulu orang - orang sakti di beberapa
perkampungan telah mengubah pasir timah menjadi pasir biasa ( masyarakat bangka belitung
menyebutnya "mengasal" maksudnya mengembalikan timah kembali ke asalnya yaitu pasir biasa
atau timah kosong ). Hal ini di karenakan masyarakat perkampungan tersebut tidak bersedia daerah
mereka di buka penambangan timah. Dan yang hanya bisa mengembalikan pasir timah tersebut
menjadi timah murni hanyalah orang sakti tersebut. Bila orang sakti tersebut meninggal dunia maka
timah yang telah menjadi pasir biasa akan tetep manjadi pasir biasa selamanya

B. Penambang timah di Bangka Belitung percaya bahwa alur timah di jaga oleh peri timah. Oleh
karena itu ada beberapa pantangan yang harus di patuhi oleh pekerja tambang timah yaitu : di
larang makan nasi di atas sakan ( sakan adalah tempat pencucian timah, memisahkan timah
dengan pasir ), di larang meludah di atas sakan, di larang membawa periuk ( untuk memasak nasi )
ke atas sakan, di larang buang air besar / kecil di atas sakan. Bila peraturan itu di langgar maka
timah yang akan di hasilkan akan hilang, atau timah yang akan di hasilkan jadi berkurang
9. Di Bangka Belitung terdapat banyak sekali kolong ( kolong = sungai bekas lobang tambang galian
timah ). Dan rata - rata setiap kolong biasanya di huni oleh buaya. Mitos yang beredar melarang
setiap orang untuk menepuk - nepuk ( memukul - mukul ) air kolong. Konon katanya hal ini bisa bisa
mngundang buaya penunggu kolong tersebut datang.

10. Sebagian Masyarakat bangka belitung percaya pada larangan bersiul di malam hari juga
membawa ketan, minyak tanah dan pisang di malam hari. konon katanya hal ini bisa mengundang
bangsa jin untuk datang dan membawa yang bersiul dan yang membawa minyak tanah, pisang dan
ketan ke dunia bangsa jin .

11. Fakta unik khas bangka belitung yang terakhir ini sebenarnya masih berupa mitos, namun
berhubung kami pernah bertemu dengan orang yang pernah mengalami berada "di alam lain" dan
ada saksi - saksi yang memperkuat cerita orang tersebut, jadi kami berpendapat bahwa fakta ini
pantas untuk di masukkan ke dalam artikel kali ini. Di Kabupaten Bangka tepatnya di desa aik abik -
mapur terdapat satu desa yang di kenal dengan desa "tujuh bubung"( desa 7 rumah ) yang hanya
terdiri dari 7 rumah panggung yang beratap daun nipah. Tujuh bubung adalah desa yang terdiri dari
rumah panggung yang tidak sembarang orang bisa menemukannya. Menurut cerita bahwa tujuh
bubung ini sangat misteri karena desa ini sering berpindah - pindah. Menurut kepercayaan suku
LOM yang merupakan suku asli daerah setempat bahwa Ada suatu kepercayaan yang masih
dipegang teguh masyarakat suku LOM hingga sekarang. Kepercayaan itu adalah bahwa tidak boleh
menceritakan dan membuka rahasia kekuatan magis dan supranatural yang terdapat di daerah
tersebut . Hal ini merupakan sumpah warisan pada leluhurnya, bila melanggar akan mati muda. Hal
inilah mungkin menjadi alasan masyarakat setempat merasa tabu ketika di tanya tentang misteri
desa 7 bubung. Hal yang menarik dari cerita nara sumber kami yaitu ketika mereka berada di alam
misteri tersebut mereka tidak menemukan siang dan malam. Suasana yang mereka alami selama
mereka berada di tujuh bubung adalah seperti suasana maghrib dan tidak pernah melihat cahaya
matahari.