Anda di halaman 1dari 10

AKUNTANSI HOTEL

PERTEMUAN KE 2

PARIWISATA DAN JENIS INDUSTRI PARIWISATA LAINNYA

Oleh:

Kelompok 3

Ni Made Cintya Devi Ari Adi 1607531002/2

Ida Ayu Nyoman Utari Gandawati 1607531033/11

Ni Wayan Desi Antari 1607531036/12

Ni Wayan Nataliantari 1607531037/13

Devia Galuh Palupi 1607531039/14

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

TAHUN 2019
1.1 Konsep Dasar Pariwisata

Sektor pariwisata, telah berperan sebagai penyumbang devisa cukup besar


selain minyak dan gas bumi. Sektor pariwisata menjadi industri atau sektor
penting yang diandalkan pemerintah di masa depan dan menjadi pilar utama
pembangunan ekonomi nasional. Pembangunan kepariwisataan (UU No. 10
Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan) bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan
kuantitas destinasi pariwisata, serta mengomunikasikan destinasi pariwisata
dengan menggunakan media pemasaran secara efektif, efisien, dan
bertanggungjawab.

Kata “Pariwisata” berasal dari bahasa Jawa Kuna. Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia, kata “pari” berarti semua, segala, sekitar, sekeliling; kata
“wisata” berarti berpergian bersama-sama untuk memperluas pengetahuan,
bersenang-senang, dan sebagainya. Lingkup pariwisata meliputi:

1. Semua kegiatan yang berhubungan dengan perjalanan wisata.


2. Pengusahaan obyek dan daya tarik wisata, seperti kawasan wisata, taman
rekreasi, kawasan peninggalan sejarah, museum, waduk, pagelaran seni
budaya, tata kehidupan masyarakat, dan yang bersifat alamiah, seperti
keindahan alam, gunung berapi, danau, pantai, dan lain-lain.
3. Pengusaha jasa dan sarana pariwisata seperti biro perjalanan wisata,
pramuwisata, pameran, angkutan wisata, akomodasi, dan lain-lain.

Wisatawan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan kata nomina


yang berarti orang berwisata, pelancong, atau turis artinya orang yang memasuki
wilayah atau Negara lain dengan tujuan apapun asal bukan untuk tinggal menetap
atau melakukan usaha teratur, dan mengeluarkan uangnya di Negara yang
dikunjungi serta tidak memperoleh uang dari Negara tersebut.

Pemerintah Indonesia melalui UU No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan


telah mendefinisikan wisatawan, wisata, kepariwisataan, dan pariwisata sebagai
berikut:

1. Wisatawan adalah orang yang melakukan wisata.


2. Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau
sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi,
pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang
dikunjungi dalam jangka waktu sementara.
3. Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai
fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha,
pemerintah, dan pemerintah daerah.
4. Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata
dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud
kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan
masyarakat setempat, sesama wisatawan, pemerintah pusat, pemerintah
daerah, dan pengusaha.
5. Daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan,
dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil
buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisata.
6. Daerah tujuan pariwisata atau destinasi pariwisata adalah kawasan geografis
yang berada dalam satu atau lebih wilayah administratif yang didalamnya
terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas,
serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya
kepariwisataan.
7. Pengusaha pariwisata adalah orang atau sekelompok orang yang melakukan
kegiatan usaha pariwisata. Industri pariwisata adalah kumpulan usaha
pariwisata yang saling terkait dalam rangka menghasilkan barang dan/atau
jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dalam penyelenggaraan
pariwisata.

Setiap wisatawan yang berkunjung ke tempat wisata, mempunyai hak dan


kewajiban yang harus dipatuhi. Adapun kewajiban dari wisatawan adalah:

a. Menjaga dan menghormati norma agama, adat istiadat, budaya, dan nilai-nilai
yang hidup dalam masyarakat setempat.
b. Memelihara dan melestarikan lingkungan.
c. Turut serta menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan.
d. Turut serta mencegah segala bentuk perbuatan yang melanggar kesusilaan dan
kegiatan yang melanggar hukum.

Sedangkan wisatawan berhak memperoleh:

1) Informasi yang akurat mengenai daya tarik wisata.


2) Pelayanan kepariwisataan sesuai dengan standar.
3) Perlindungan hukum dan keamanan.
4) Pelayanan kesehatan.
5) Perlindungan hak pribadi.
6) Perlindungan asuransi untuk kegiatan pariwisata yang berlaku tinggi.

Untuk menjaga keharmonisasian hubungan antara wisatawan, masyarakat,


pemerintah, dan pengusaha pariwisata, maka dibuatkanlah slogan “SAPTA
PESONA”. Ketujuh unsur Sapta Pesona yang dimaksud yakni: Aman, Tertib,
Bersih, Sejuk, Indah, Ramah tamah dan Kenangan.

1.1 Contoh Jenis Pariwisata, Usaha Pariwisata

Dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan


mengklasifikasikan Usaha pariwisata yakni terdiri dari :

1) Daya Tarik Wisata. Merupakan segala sesuatu yang mempunyai keunikan,


kemudahan, dan nilai yang berwujud keanekaragaman, kekayaan alam,
budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau kunjungan para
wisatawan.
2) Kawasan Pariwisata. Merupakan usaha yang kegiatannya membangun atau
mengelola kawasan dengan luas wilayah tertentu untuk memenuhi kebutuhan
pariwisata.
3) Jasa Transportasi Wisata. Yakni merupakan usaha khusus yang menyediakan
angkutan untuk kebutuhan dan kegiatan pariwisata.
4) Jasa Perjalanan Wisata. Usaha biro perjalanan wisata meliputi usaha
penyediaan jasa perencanaan perjalanan atau jasa pelayanan dan
penyelenggaraan pariwisata.
5) Jasa Makanan dan Minuman. Merupakan usaha jasa penyediaan makanan dan
minuman yang dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan untuk proses
pembuatan dapat berupa restoran, kafe, rumah makan, dan bar/kedai minum.
6) Penyediaan Akomodasi. Merupakan usaha yang menyediakan pelayanan
penginapan yang dapat dilengkapi dengan pelayanan pariwisata lainnya.
7) Penyelenggaraan Kegiatan Hiburan dan Rekreasi. Merupakan usaha yang
ruang lingkup kegiatannya berupa usaha seni pertunjukan, arena permainan,
karaoke, bioskop, serta kegiatan hiburan dan rekreasi lainnya yang bertujuan
untuk pariwisata.
8) Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, konferensi, dan Pameran.
Merupakan usaha yang memberikan jasa bagi suatu pertemuan sekelompok
orang, menyelenggarakan perjalanan bagi karyawan dan mitra usaha sebagai
imbalan atas prestasinya, serta menyelenggarakan pameran.
9) Jasa Informasi Pariwisata. Merupakan usaha yang menyediakan data, berita,
feature, foto, video, dan hasil penelitian mengenai kepariwisataan yang
disebarkan dalam bentuk bahan cetak atau elektronik.
10) Jasa Konsultan Pariwisata. Merupakan usaha yang menyediakan sarana dan
rekomendasi mengenai studi kelayakan, perencanaan, pengelolaan usaha,
penelitian, dan pemasaran di bidang kepariwisataan.
11) Jasa Pramuwisata. Merupakan usaha yang menyediakan atau
mengkoordinasikan tenaga pemandu wisata untuk memenuhi kebutuhan
wisatawan dan kebutuhan biro perjalanan wisata.
12) Wisata Tirta. Merupakan usaha yang menyelenggarakan wisata dan olahraga
air, termasuk penyediaan sarana dan prasarana serta jasa lainnya yang dikelola
secara komersial di perairan laut, pantai, sungai, danau, dan waduk.
Spa. Usaha perawatan yang memberikan layanan dengan metode kombinasi
terapi air, terapi aroma, pijat, rempah – rempah dan olah aktivitas fisik
1.2 Motivasi Melakukan Perjalanan Wisata

Pada dasarnya seseorang melakukan perjalanan dimotivasi oleh beberapa hal.


Dari berbagai motivasi yang mendorong perjalanan, McIntosh (1977) dan Murphy
(1985) mengatakan bahwa motivasi dapat dikelompokkan menjadi empat
kelompok besar yaitu sebagai berikut:
1) Physical or physiological motivation (motivasi yang bersifat fisik atau
fisiologis), antara lain untuk relaksasi, kesehatan, kenyamanan, berpartisipasi
dalam kegiatan olah raga, bersantai dan sebagainya.
2) Cultural motivation (motivasi budaya), yaitu keinginan untuk mengetahui
budaya, adat, tradisi dan kesenian daerah lain. Termasuk juga ketertarikan
akan berbagai objek tinggalan budaya (banggunan bersejarah).
3) Social motivation atau interpersonal motivation (motivasi yang bersifat
sosial), seperti mengunjungi teman dan keluarga, menemui mitra kerja,
melakukan hal yang dianggap mendatangkan gengsi (nilai prestise),
melakukan ziarah, pelarian dari situasi-situasi yang membosankan dan
sebagainya.
4) Fantasy motivation (motivasi karena fantasi), yaitu adanya fantasi bahwa di
daerah lain seseorang kan bisa lepas dari rutinitas keseharian yang
menjemukan, dan ego-enhancement yang memberikan kepuasan psikologis.
Disebut juga sebagai status and prestige motivation.
1.3 Pemasaran Pariwisata

Pemasaran daerah tujuan wisata merupakan semua usaha untuk mengenalkan


produk wisata yang ditawarkan oleh daerah tujuan wisata baik yang tangiable
maupun intangiable produk, mengenali identitas wisatawan agar ingin berkunjung
kedaerah tujuan wisata. Aktivitas pemasaran parieisata meliuti penelitin pasar,
penjualan, dan usaha dalam meyakinkan wisatawan untuk tinggal lebih lama.
Tujuan utama pemasaran pariwisata lebih mengutamakan quality tourism agar
mencapai wisatawan yang sangat besar dan terjadi repeat guest. Dalam pemasaran
pariwisata memerlukan kerjasama dari pihak-pihak terkait seperti: pemerintah,
perusahaan jasa penerbangan dalam dan luar negeri, jasa transportasi darat, biro
wisata, travel, restoran dan hotel.

Pemasaran daerah wisata juga dapat dilakukan melalui kegiatan mengundang


penulis atau wartawan pariwisata asing agar penulis atau wartawan tersebut
menulis atau meliput hasil kunjungannya didaerah tujuan wisata. Dalam
manajemen pemasaran global, prinsip-prinsip dalam berlaku marketing mix
sebagai strategi pemasaran sebenarnya yang mempertemukan penawaran dan
permintaan pasar. Stanley (Spillance, 1989) dalam buku Akuntansi Hotel Unsur
marketing mix dalam pariwisata yaitu:

1) Product mix. Sarana wisata adalah sarana sosial ekonomi yang menghasilkan
barang atau jasa yang digunakan wisatawan. Seperti hotel, rumah makan,
kesenian, dll. Faktor penting dalam product mix adalah masalah pemeliharaan
warisan budaya, peninggalan sejarah, dan pemeliharaan fisik dan nonfisik.
2) Distribution mix, mencangkup jasa transportasi, biro perjalanan dan guide.
Kunci penting distribution mix yaitu layanan agar wisatawan memperoleh
kepuasan saat mengkonsumsi produk parwisata.
3) Communication Mix, diperlukan untuk mengenalkan, menginformasikan,
menarik, dan mendorong wisatawan agar mengentahui produk pariwisata.
Beberapa pendekatan communication mix yaitu:
a. Sales promotion. Kegiatan komunikasi yang diarahkan kepada wistawan
melalui media umum, e-commerce, biro perjalanan, serta hubungan
langsung dengan wisatawan.
b. Image promotion. Dilakukan dengan cara membujuk secara halus untuk
memberi kesan dan gambaran suatu daerah tujuan wisata melalui
kunjungan perkenalan juru foto spesialis, penulis atau wartawan
pariwisata, feature, khusus disurat kabar atau majalah, dan pengiriman
misi kesenian keberbagai negara.
c. Melalui pendidikan, pelatihan dan penyuluhan kepada semua staf
organisasi yang terkait dalam matarantai kegiatan pariwisata.
d. Melalui jasa penerangan kantor pariwisata, termasuk jasa surat menyurat
dan hubungan korespodensi melalui alat komunikasi.
e. Service mix. Kebijakan pemerintah untuk memperlancar perjalanan dan
persinggahan wisatawan, seperti kebijakan visa dan ketentuan bea cukai.
1.4 Aspek dan Dampak Pembangunan Pariwisata
1.4.1 Aspek Ekonomis Pariwisata

Industri pariwisata yang berkembang disuatu negara/daerah akan menarik


sektor lain untuk berkembang karena produk atau jasanya diperlukan untuk
menunjang industri pariwisata, seperti sektor pertanian, peternakan dan
perkebunan. Industri pariwisata dapat menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah
(PAD) adalah industri pariwisata yang dimiliki masyarakat daerah (community
tourism development )atau CTD. Dengan pengembangan CTD, pemerintah daerah
dapat memperoleh peluang penerimaan pajak dan beragam restribusi yang bersifat
legal. Adapun kegiatan CTD meliputi pengembangan dan pelestarian budaya,
kesenian dan budaya berbagai desa didaerah tujuan wisata.

Kegiatan industri pariwisata berkaitan dengan penerimaan daerah melalui


jalur PAD yang terdiri dari pajak daerah, restribusi daerah, pendapatan hasil
pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, bagi hasil kekayaan bukan pajak
dan pendapatan transfer yang terdiri dari dana bagi hasil pajak, dana bagi hasil
sumber daya alam, dana alokasi umum serta dana alokasi khusus.
1.4.2 Dampak Pembangunan Pariwisata
1) Manfaat ekonomi (kesejahteraan masyarakat) seperti: penerimaan devisa akan
meningkat; kesempatan berusaha yang semakin luas; terbukanya lapangan
pekerjaan baru disekitar daerah wisata dan meningkatnya pendapatan
masyarakat serta pemerintah.
2) Manfaat Sosial Budaya seperti: adanya upaya pelestarian budaya dan adat
istiadat dari masyarakat; meningkatkan kecerdasan masyarakat karena adanya
persaingan; meningkatkan kesehatan dan kesegaran jasmani ataupun rohani;
dan mengurangi konflik sosial karena meningkatnya kesejahteraan
masyarakat.
3) Manfaat dalam berbangsa dan bernegara seperti: mempererat persatuan dan
kesatuan daerah; menumbuhkan rasa memiliki, keinginan untuk memelihara
dan mempertahankan negara yang berujung pada tumbuh rasa cinta terhadap
tanah air; dan memelihara hubungan baik internasional dalam hal
pengembangan pariwisata.
4) Manfaat bagi lingkungan, dimana pembangunan dan pengembangan
pariwisata yang diarahkan dengan baik merupakan salah satu cara dalam
upaya untuk melestarikan lingkungan, disamping akan memperoleh nilai
tambah atas pemanfaatan dari lingkungan yang ada.
Adapun dampak-dampak yang tidak diinginkan (negatif) seperti: naiknya
harga barang-barang atau jasa pelayanan, perubahan pola hidup yang tidak sesuai
dengan budaya dan kepribadian bangsa sendiri, banyaknya pemanfaatan
wisatawan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab, dan terjadinya
pengerusakan lingkungan, baik karena pembangunan prasarana dan sarana
pariwisata.
REFRENSI

McIntosh. 1977. Karakteristik Wisatawan. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Murphy. 1985. Pengembangan Potensi Pariwisata. Bandung: Penerbit Alfabeta

Widanaputra, AAGP, Suprasto H Bambang riyanto, Dodik, Sari, Maria M Ratna.


2009. Akuntansi Hotel( Pendekatan Sistem Informasi)