Anda di halaman 1dari 4

Vina Amellia (170351616605) P.

IPA Off C 2017

Koloid

Thomas Graham (1805-1809) telah melakukan penyelidikan mengenai difusi larutan


melalui embran dan berhasil membedakan zat koloid dan kristaloid. Dalam pengamatannya
didapatkan adanya partikel zat yang berdifusi cepat maupun lambat dalam larutan. Zat-zat
yang mudah berdifusi umumnya berbentuk kristal dan berupa padatan. Sedangkan zat-zat
yang sukar berdifusi seperti lem, agar-agar dan putih telur dinamakan koloid. Perbedaan
nyata antara koloid dan kristaloid adalah pada ukuran partikelnya. Pada kristaloid ukuran
partikelnya lebih kecil dari 1 nm, sedangkan pada koloid diameter ukurannya antara 1 nm-
100 nm. Partikel koloid masih cukup kecil untuk menembus kertas saring biasa, namun tidak
cukup kecil untuk melewati membran atau filter ultra.
Berdasarkan ukuran partikel, campuran dapat dibagi menjadi tiga golongan yaitu
larutan sejati, koloid, dan suspensi kasar. Ukuran (jari-jari) partikel dari larutan adalah 0,1 -
1mµ, koloid sebesar 1-100 mµ, dan suspensi kasar 100 mµ.
Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa larutan koloid dapat menembus
kertas saring biasa karena kertas saring biasa akan menahan partikel-partikel sampai
diameter 10-20 nm, namun tetap tidak bisa menembus membran karena pori-porinya lebih
kecil. Sehingga larutan koloid bukanlah larutan homogen, melainkan terdiri dari suspensi
partikel-partikel padat/cairan dalam suatu cairan. Campuran ini disebut dengan sistem
dispersi, cairannnya disebut medium dispersi (fase pendispersi) dan koloidnya disebut fase
dispersi (fase terdispersi). Fase terdispersi umumnya berjumlah lebih banyak dari fase
pendispersinya. Contoh seperti pada dispersi tanah liat, partikel tanah liat adalah fase
terdispersi sedangkan air adalah fase pendispersinya.
Fase terdispersi dan medium pendispersi dapat berupa zat padat, cair, dan gas.
Berdasarkan fase terdispersinya, sistem koloid dapat dikelompokkan menjadi:
1. Sol
Sol adalah sistem koloid yang memiliki fase terdispersi berupa zat padat.
Berdasarkan medium pendispersiannya dapat dibagi menjadi 3, yakni:
a. Sol padat
Memiliki medium pendispersi berupa zat padat. Contoh: paduan
logam, gelas warna, intan hitam.
b. Sol
Memiliki medium pendispersi berupa zat cair. Contoh: cat, tinta,
tepung dalam air, tanah liat.
c. Aerosol
Memiliki medium pendispersi berupa zat gas. Contoh: debu di udara
dan asap pembakaran.
2. Emulsi
Emulsi adalah sistem koloid yang memiliki fase terdispersi berupa zat cair.
Berdasarkan medium pendispersiannya dapat dibagi menjadi 3, yakni:
a. Emulsi padat
Memiliki medium pendispersi berupa zat padat. Contoh: jeli, keju,
mentega, dan nasi.
b. Emulsi cair
Memiliki medium pendispersi berupa zat cair. Contoh: susu,
mayonaise, dan krim tangan.
c. Emulsi gas
Memiliki medium pendispersi berupa zat gas. Contoh: hairspray dan
obat nyamuk semprot.
3. Buih
Buih adalah sistem koloid yang memiliki fase terdispersi berupa zat gas.
Berdasarkan medium pendispersiannya dapat dibagi menjadi 2, yakni buih padat
dan buih cair. Untuk pengelompokan buih, apabila fase terdispersi dan medium
pendispersinya sama-sama berupa gas maka campurannya tergolong larutan.
a. Buih padat
Memiliki medium pendispersi berupa zat padat. Contoh: batu apung,
marshmallow, karet busa, dan styrofoam.
b. Buih cair
Memiliki medium pendispersi berupa zat cair. Contoh: putih telur
yang dikocok dan busa sabun.
Adapun sifat-sifat koloid dapat dibedakan menjadi:
1. Efek Tyndall
Efek Tyndall adalah gejala menghamburnya berkas cahaya oleh partikel-
pertikel koloid. Hal ini disebabkan oleh ukuran molekul koloid yang cukup besar.
Pada larutan sejati apabila disinari cahaya maka larutan tersebut tidak akan
menghamburkan cahaya, karena partikel-partikelnya relatif kecil sehingga hamburan
yang terjadi hanya sedikit dan sangat sulit diamati. Dalam kehidupan sehari-hari,
efek Tyndall dapat diamati pada sorot lampu mobil pada malam yang berkabut atau
sorot lampu proyektor dalam gedung bioskop.
2. Gerak Brown
Gerak Brown adalah gerakan partikel-partikel koloid yang bergerak lurus tapi
secara acak/tidak beraturan. Gerakan ini dapat diamati melewati mikroskop ultra.
Pergerakan partikel akan berakibat tumbukan antar partikel itu sendiri. Oleh karena
ukuran partikel yang kecil maka tumbukan yang terjadi cenderung tidak seimbang
sehingga menghasilkan gerak acak/zigzag. Semakin kecil ukuran partikel koloid,
semakin cepat gerak Brown yang terjadi, demikian pula sebaliknya. Hal ini
menjelaskan mengapa gerak Brown sulit diamati dalam laruan dan tidak ditemukan
dalam zat padat (suspensi).
Gerak Brown juga dipengaruhi oleh suhu. Semakin tinggi suhu sistem koloid,
maka semakin besar energi kinetik yang dimiliki partikel-partikel medium pendispersi
sehingga gerak brown dari partikel-partikel fase terdispersinya semakin cepat, begitu
pula sebaliknya.
3. Absorbsi
Absorbsi adalah peristiwa penyerapan partikel atau ion atau senyawa lain
pada permukaan partikel koloid yang disebabkan oleh luasnya permukaan partikel.
Contoh: Proses pemutihan gula tebu dan penjernihan air.
4. Koagulasi
Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid dan membentuk endapan,
sehingga zat terdispersi tidak lagi berbentuk koloid. Apabila muatan koloid dilucuti
maka kestabilan akan berkurang dan dapat menyebabkan koagulasi/penggumpalan.
Koagulasi dapat terjadi secara fisik seperti pemanasan, pendinginan dan
pengadukan; maupun secara kimia seperti penambahan elektrolit dan pencampuran
koloid yang berbeda muatan. Contoh: Pembentukan delta di muara sungai terjadi
karena koloid tanah liat ( lempung ) dalam air sungai mengalami koagulasi ketika
bercampur dengan elektrolit dalam air.
5. Muatan Koloid (Sifat Listrik)
Partikel koloid yang telah mengadsorpsi ion akan bermuatan listrik sesuai
dengan muatan ion yang diserapnya. Muatan koloid dapat diketahui dengan
mencelupkan batang elektroda. Yang bermuatan positif akan tertarik (berkumpul) ke
elektroda negatif, sedangkan yang bermuatan negatif tertarik ke elektroda positif.
6. Koloid Pelindung
Koloid yang mempunyai sifat dapat melindungi koloid lain dari proses
koagulasi. Koloid pelindung akan membungkus partikel zat terdispersi sehingga tidak
dapat lagi mengelompok. Contoh: pada pembuatan es krim digunakan gelatin untuk
mencegah pembentukkan kristal besar es atau gula.
7. Dialisis
Dialisis ialah pemisahan ion dari koloid dengan difusi lewat pori-pori suatu
selaput semipermeabel.
8. Elektroforesis
Elektroforesis ialah pemisahan partikel koloid yang bermuatan dengan
menggunakan arus listrik.
Pembuatan partikel koloid terbagi atas dua cara, yakni cara kondensasi dan dispersi.
Pada cara kondensasi, molekul-molekul diubah menjadi partikel koloid, sedangkan cara
dispersi partikel-partikel besar diubah menjadi partikel-partikel dengan ukuran kolid. Cara
kondensasi umunnya terjadi dalam reaksi hidrolisis, reaksi penggantian pelarut, dekomposisi
rangkap maupun reaksi redoks. Sedangkan pada cara dipersi, gumpalan zar besar diperkecil
dengan cara mekanik berupa penggilingan atau penggerusan, cara peptisasi dengan
bantuan zat pemeptisasi (pemecah), ataupun cara unsur Bredig.
Dalam pengaplikasiannya, koloid telah banyak digunakan dalam kehidupan sehari
hari termasuk dalam berbagai industri seperti industri pertanian dan industri kosmetika
dalam pembuatan insektisida dan pasta gigi. Beberapa aplikasi koloid dalam kehidupan
sehari hari meliputi:
1. Pemutihan gula
Pemutihan warna gula dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan partikel
koloid yang akan mengadsorbsi zat warna sehingga gula tebu akan berwarna putih.
2. Penggumpalan darah
Darah mengandung sejumlah koloid protein yang bermuatan negatif. Jika
terjadi luka, maka luka tersebut dapat diobati dengan pensil stiptik atau tawas yang
mengandung ion-ion Al3+ dan Fe3+. Ion-ion tersebut membantu agar partikel koloid di
protein bersifat netral sehingga proses penggumpalan darah dapat lebih mudah
dilakukan.
3. Penjernihan air
Air keran (PDAM) yang ada saat ini mengandung partikel-partikel koloid
tanah liat, lumpur, dan berbagai partikel lainnya yang bermuatan negatif. Oleh
karena itu, untuk menjadikannya layak untuk diminum, partikel koloid tersebut
harus dipisahkan dengan cara menambahkan tawas (Al2SO4)3. Ion Al3+ yang terdapat
pada tawas tersebut akan terhidroslisis membentuk partikel koloid Al(OH)3 yang
bermuatan positif.
Setelah itu, Al(OH)3 menghilangkan muatan-muatan negatif dari partikel
koloid tanah liat/lumpur dan terjadi koagulasi pada lumpur. Lumpur tersebut
kemudian mengendap bersama tawas yang juga mengendap karena pengaruh
gravitasi.

Daftar Pustaka:
Keenan, C. W., dkk. 1984. Kimia Untuk Universitas. Jakarta: Erlangga

Oxtoby W., David H. P. Gillis dan Norman H. Nachtrieb. 2001. Prinsip-Prinsip Kimia Modern, Jilid 1,
Edisi keempat. Jakarta: Erlangga

Petrucci, Ralph H. 1987. Kimia Dasar: Prinsip dan Terapan Modern Jilid 1. Jakarta: Erlangga

Respati. 1992. Dasar-Dasar Ilmu Kimia. Jakarta: Rienika Cipta

Svehla, G. 1985. Vogel Analisis Anorganik Kualitatif Edisi Kelima. Jakarta: PT Kalman Media Pusaka

Syukri, S. 1999. Kimia Dasar 2. Bandung: ITB

Yazid, Estien. 2015. Kimia Fisika. Yogyakarta: Pustaka Pelajar