Anda di halaman 1dari 6

KATA PENGANTAR

Upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan harus dilakukan


secara berkesinambungan. Pemahaman dan penerapan evidence-based
practice oleh dokter secara individual merupakan hal yang baik untuk
peningkatan kualitas pelayanan. Untuk penyakit atau kondisi klinis yang
jumlahnya banyak,berisiko tinggi,mahal,serta bervariasi dalam praktik
diperlukan standardisasi.

Upaya penting yang dilakukan oleh kemensek adalah pembuatan


standar pelayanan. Di tingkat nasional diperlukan penyusunan
Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) yang berisi
pernyataan yang sistematis,mutakhir ,evidence-based untuk membantu
dokter/pemberi jasa pelayanan lain dalam menangani pasien dengan
kondisi tertentu. PNPK disusun oleh panel pakar (dari organisasi
profesi,akademisi,klinis,pakar lain) dibawah koordinasi kemenkes dan
hasilnya disahkan oleh menteri kesehatan . PNPK harus diterjemahkan
menjadi Paduan Praktik Klinis (PPK) oleh masing-masing fasilitas
pelayanan kesehatan (fasyankes) sesuai dengan keadaan setempat.
PPk disusun oleh Staf Medis fasyankes, dengan mengacu pada PNPK
(bila ada),dan /atau sumber pustaka lain. Karena jumlah PNPK terbatas
,maka sebagian besar PPk dibuat dengan merujuk pada sumber
lain(artikel asli,mstaanalisis,PNPK Negara lain,buku ajar,panduan
organisasi profesi, petunjuk pelaksanaan program,dst).

PPK dapat disetai perangkat pelaksanaan langkah demi langkah


termasuk clinical pathway (CP) untuk penyakit yang perjalanannya
dapat diprediksi dan memerlukan penanganan multidisiplin,algoritme,
(diagram untuk pengambilan keputusan yang cepat), protokol (paduan
pelaksanaan tugas yang cukup kompleks ), prosedur (paduan langkah-
langkah tugas teknis ), dan standing orders (intruksi tetap kepada
perawat). Perlu ditekankan CP tidak dibuat untuk semua penyakit
namun terbatas pada penyakit atau kondisi klinis yang homogen
,perjalanan klinisnya dapat diprediksi ,serta memerlukan pendekatan
multidisiplin.

Pembuatan CP penting karena meningkatnya permintaan


berbagai pihak akan penggunaan teknologi yang tepat (termasuk tidak
berlebih), pelayanan yang lebih terkoordinasi ,komunikasi yang lebih
baik antara tenaga kesehatan dengan pasien, meningkatnya pertanyaan
dari masyarakat tentang profesionalisme dan kompentasi dari tenaga
kesehatan ,seta meningkatnya tuntunan malpraktek atas kelalaian
medis.

Penyebab masalah-masalah tersebut dapat dilacak dari


bervariasinya proses dan hasil dari sebuah pelayanan terhadap suatu
kasus dan kondisi yang sama/mirip ,sebagai contoh seiring terlihat
berbagai pendekatan/tindakan yang berbeda dalam menangani suatu
kasus ,dan juga ketidakjelasan rencana pulang dari seorang pasien yang
dirawat. Hal tersebut menunjukan tidak terdapatnya system
perencanaan pelayanan kesehatan yang baku sehingga memungkinkan
terjadinya variasi yang dapat dihindari bahkan kesalahan vital dalam
proses pelayanan.

Melihat ini maka diperlukan alat lain yakni clinical pathways.


Clinical pathways adalah salah satu alat manajemen penyakit yang
banyak dipakai dan telah berkembang pesat 10 tahun terakhir ini,
terutama sejak banyaknya laporan penelitian (meski masih
diperdebatkan) yang menunjukan bahwa clinical pathways memiliki
potensi dalam mengurangi variasi pelayanan yang tidak perlu sehingga
dapat meningkatkan outcome klinik dan juga penghematan pemakaian
sumber daya (baca:biaya). Di Indonesia , clinical pathways kembali
kembali dibicarakan setelah pemerintah /depkes menunjukan
komitmennya untuk menerapkan casemix/DRG’s.

Clinical pathways atau juga dikenal dengan nama lain seperti:


Critical care pathways ,integrated care pathways, Coordinated care
pathways ,caremap, atau Anticipated recovery pathways ,adalah
sebuah rencana yang menyediakan secara detail setiap tahap penting
dari pelayanan kesehatan ,bagi sebagian besar pasien dengan masalah
klinis (diagnosis atau prosedur )tertentu ,berikut dengan hasil yang
diharapkan.

Clinical pathways secara terstruktur memberikan cara bagaimana


mengembangkan dengan mengimplementasikan pedoman klinik
(clinical guideline/best practice) yang ada kedalam protokol local (yang
dapat dilakukan). Clinical pathways juga menyediakan cara untuk
mengidentifikasi alasan mengapa sebuah variasi (pelayanan tidak
sesuai dengan standar yang telah ditentukan) yang tidak dapat
diidentifikasi melalui audit klinik. Hal tersebut memungkinkan karena
Clinical pathways juga merupakan alat dokumentasi primer yang
menjadi bagian dari keseluruhan proses dokumentasi pelayanan dari
penerimaan hingga pemulangan pasien. Dengan kata lain, clinical
pathway menyediakan standar pelayanan minimal dan memastikan
bahwa pelayanan tersebut tidak terlupakan dan dilaksanakan tepat
waktu.
DAFTAR ISI

Kata pengantar …………………………………………………………………….. i

Daftar isi ……………………………………………………………………. iv

BAB I PANDUAN PRAKTEK KLINIS …………………………. 1

A. Pengertian PPK……………………………………….. 1

B. Tujuan PPK………………………………………………. 2

C. Penyusunan PPK……………………………………..

D. ISI PPK…………………………………………………………….. 3

E. Perangkat Pelaksana PPK…………………………………. 3

F. Penerapan PPK…………………………………………………

G. Revisi PPK………………………………………………………… 2

BAB II CLINICAL PATHWAY……………………………………………… 7

A.Pengertian Clinical Pathway ………………………………. 7

B. Tujuan Clinical Pathway……………………………………… 7

C. Penyusunan Clinical Pathway……………………………….

D. Evaluasi Clinical Pathway…………………………………… 11


BAB 1

PADUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)

A. PENGERTIAN PPK

Panduan praktik klinis (PPK) adalah istilah teknis sebagai


pengganti standar prosedur operasional (SPO) dalam Undang-W1dang
praktik kedokteran yang merupakan istilah administratif. Penggantian
ini perlu untuk menghindarkan kesalahpahaman yang mungkin terjadi,
bahwa “standar” merupakan hal yang harus dilakukan pada semua
keadaan. Jadi secara teknis SPO dibuat berupa PPK yang dapat berupa
atau disertai dengan salah satu atau lebih: alur klinis (clinical pathway),
protokol , prosedur , algoritme ,standing order. Berikut contoh-contoh
mengapa PPk dapat sama atau tidak di fasyankes yang berbeda:

 PPK untuk demam berdarah dengue (DBO) tanpa syok, karena


tidak memerlukan peralatan dan keahlian canggih sarana semua
fasyankes.
 Di suatu rumah sakit tipe A, PPK untuk penyakit jantung bawaan
biru mencakup pemberian prostaglandin, tindakan ballon atrial
septosomy (BAS), dilanjutkan dengan bedah korektii, karena
semua sumber daya tersedia. Di rumah sakit tipe A yang lain
fasilitas bedah jantung anak tidak tersedia , sehingga PPK-nya
adalah setelah pasien didagnosis, diberikan prostaglandin dan
dilakukan BAS, pasien harus dirujuk.
 Dirumah sakit tipe A dan rumah sakit tipe B yang memiliki ahli
bedah saraf , alur klinis (clinical pathway) stroke non-hemoragik
memerlukan pendekatan multidisiplin yang antara lain melibatkan
ahli bedah saraf.
Namun di rumah sakit tipe B yang lain ahli bedah saraf tidak
tersedia harus dibuat alur klinis yang berbeda.

B. TUJUAN PPK

1. Meningkatkan mutu pelayanan pada keadaan klinis dan


lingkungan tertentu.
2. Mengurangi jumlah intervensi yang tidak perlu atau berbahaya
3. Memberikan opsi pengobatan terbaik dengan keuntungan
maksimal
4. Memberikan opsi pengobatan dengan risiko terkecil
5. Memberikan tata laksana dengan biaya yang memadai

C. PENYUSUNAN PPK

PPK seharusnya dibuat untuk semua jenis penyakit/kondisi


klinis yang ditemukan dalam pasyankes. Namun dalam
pelaksanaan