Anda di halaman 1dari 19

ASKEP ANEMIA

Oleh :
Kelompok 2
1. Tenty Yusepa
2. Mita Rusmi
3. Dewi Oktaria
4. Ida Aryani

PROGRAM STUDI RPL D3 KEPERAWATAN


POLTEKKES KEMENKES PALEMBANG
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat
serta kasih sayang dan karunia-Nya yang telah diberikan kepada seluruh ciptaan-
Nya, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi besar Muhammad
SAW.
Alhamdulillah berkat kemudahan yang diberikan Allah SWT, saya dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “ANEMIA”.
Adapun tujuan dari Penyusunan makalah ini adalah sebagai salah satu tugas
mataajar KAP (Kecakapan Antar Personil). Dalam Penyusunan makalah ini, saya
banyak mengalami kesulitan dan hambatan, hal ini disebabkan oleh keterbatasan
ilmu pengetahuan yang saya miliki.
saya berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi saya pada
khususnya, dan bagi para pembaca pada umumnya. Aamiin.
Saya sebagai penyusun sangat menyadari bahwa dalam Penyusunan
makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena
itu, saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang ditujukan untuk membangun.

Penyusun

Maternitas Page i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................1
1.3 Tujuan ...............................................................................................2
1.4 Manfaat Makalah ..............................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Anemia ................................................................................3
2.2 Penyebab Anemia .............................................................................4
2.3 Gejala Anemia ..................................................................................5
2.4 Jenis-jenis Anemia............................................................................6
2.5 Pencegahan Primer pada Anemia .....................................................9
2.6 Pencegahan Sekunder pada Anemia ...............................................10
2.7 Pencegahan Tersier pada Anemia ..................................................13
2.8 Pengobatan Anemia ........................................................................13

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan .....................................................................................14
3.2 Saran ...............................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA

Maternitas Page ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada masalah gizi dapat menimbulkan suatu tidak seimbangnya tubuh
manusia dan dapat menimbulkan penyakit lainnya. Masalah gizi adalah
masalah kesehatan masyarakat. Namun penanggulannya tidak dapat dilakukan
dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja. Penyebab timbulnya
masalah gizi adalah multi faktor, karena itu pendekatan penanggulangan harus
melibatkan berbagai sektor yang terkait.

Dan pada masalah gizi pada anemia gizi disini merupakan kondisi sakit
seseorang yang disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya yaitu:
perdarahan, kekurangan makanan yang mengandung besi, dan lain-lain.
Anemia gizi defisiensi besi dapat dilihat dari kadar Hb, dan penderita yang
sering mengalaminya yaitu pada wanita, disebabkan karena menstruasi,
kehamilan dan pada bayi: karena membutuhkan gizi zat besi yang tinggi
karena proses pertumbuhan yang cepat.

1.2 Rumusan Masalah


1. Definisi Anemia
2. Penyebab Anemia
3. Gejala Anemia
4. Jenis-jenis Anemia
5. Pencegahan Primer pada Anemia
6. Pencegahan Sekunder pada Anemia
7. Pencegahan Tersier pada Anemia
8. Pengobatan Anemia

Maternitas Page 1
1.3 Tujuan
Makalah ini tiada lain yaitu untuk memenuhi tugas ilmu gizi, dimana memberi
pengetahuan tentang kurangnya gizi yang lebih khususnya pada anemia
defisiensi besi dan juga memberi pengetahuan bagi pembaca.

1.4 Manfaat Makalah


1. Mampu mempermudah penyusun dan pembaca guna memahami
materi tentang sistem imunologi dan Hematologi yang berhubungan
dengan Anemia.
2. Menambah pengetahuan kita sebagai mahasiswa perawat tentang
system Imunologi dan Hematologi.

Maternitas Page 2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Anemia


Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahnya
hitungan sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit di
bawah normal (Smeltzer, 2002 : 935).
Anemia adalah berkurangnya hingga di bawah nilai normal sel
darah merah, kualitas hemoglobin dan volume packed red bloods
cells (hematokrit) per 100 ml darah (Price, 2006 : 256). Dengan
demikian anemia bukan merupakan suatu diagnosis atau penyakit,
melainkan merupakan pencerminan keadaan suatu penyakit atau
gangguan fungsi tubuh dan perubahan patotisiologis yang
mendasar yang diuraikan melalui anemnesis yang seksama,
pemeriksaan fisik dan informasi laboratorium.
Anemia , dalam bahasa yunani tanpa darah adalah penyakit
kurang darah yang ditandai dengan kadar hemoglobin (Hb) dan sel
darah merah (eritrosit) lebih rendah dibandingkan normal.Jika
kadar hemoglobin kurang dari 14g/dl dan eritrosit kurang dari 41%
pada pria , maka pria tersebut dikatakan anemia. Demikian pula
pada wanita , wanita yang memiliki kadar hemoglobin kurang dari
12 g/dl dan eritrosit kurang dari 37% , maka wanita itu dikatakan
anemia.Berikut ini katagori tingkat keparahan pada anemia.
• Kadar Hb 10 gram- 8 gram disebut anemia ringan.
• Kadar Hb 8 gram -5 gram disebut anemia saedang.
• Kadar Hb kurang dari 5 gram disebut anemia berat.
Karena hemoglobin terdapat dalam sel darah merah , setiap
ganguan pembentukan sel darah merah , baik ukuran maupun
jumlahnya , dapat menyebabkan terjadinya anemia.ganguan
tersebut dapat terjadi ‘’pabrik’’ pembentukan sel (sumsum
tulang)maupun ganguan karena kekurangan komponen penting

Maternitas Page 3
seperti zat besi , asam folat maupun vitamin B 12. (Soebroto
Ikhsan,Cara Mudah Mengatasi Problem Anemia,Cetakan 1,
Yogyakarta 2009)

2.2 Penyebab Anemia


Anemia umumnya disebabkan oleh perdarahan kronik. Gizi
yang buruk atau gangguan penyerapan nutrisi oleh usus. Juga
adapat menyebabkan seseorang mengal;ami kekurangan darah.
Demikian juga pada wanita hamil atau menyusui, jika asupan zat
besi berkurang, besar kemungkinan akan terjadi anemia.
Pendarahan saluran pencernaan, kebocoran pada saringan darah di
ginjal, menstruasi yang berlerbihan, serta para pendonor darah
yang tidak diimbangi dengan gizi yang baik dapat mjemiliki resiko
anemia.
Perdarahan akut juga dapat menyebabkan kekurangan
darah. Pada saat terjadi pendarahan yang hebat, mungkin gejala
anemia belum tampak transfusi darah merupakan tindakan
penanganan terutama jika terjadi pendarahan akut. Pendarahan
teresebut biasanya tidak kita sadari. Pengeluaran darah biasanya
berlangsung sedikit demi sedikit dan dalam waktu yang
lama.Berikut ini tiga kemungkinan dasar penyebab anemia :

1. Penghancuran sel darah merah yang berlebihan.


Bisa disebut anemia hemolitik ,muncul saat sel darah merah
dihancurkan lebih cepat dari normal (umur sel darah merah
normalnya 120 hari).Sumsum tulang penghasil sel darah
merah tidak dapat memenuhi kebutuhan tubuh akan sel
darah merah.
2. Kehilangan darah.
Kehilangan darah dapat menyebabkan anemia karena
perdarahan berlebihan,pembedahan atau permasalahan

Maternitas Page 4
dengan pembekuan darah.Kehilangan darah yang banyak
karena menstruasi pada remaja atau perempuan juga dapat
menyebabkan anemia.Semua faktor ini akan meningkatkan
kebutuhan tubuh akan zat besi ,karena zat besi dibutuhkan
untuk membuat sel darah merah baru.
3. Produksi sel darah merah yang tidak optimal.
Ini terjadi saat sumsum tulang tidak dapat membentuk sel
darh merah dalam jumpah cukup.ini diakibatkan infeksi
virus,paparan terhadap kimia beracun atau obat-
obatan(antibiotic, antikejang atau obat kanker).

2.3 Gejala Anemia


Gejala yang sering kali muncul pada penderita anemia di
antaranya:
 Lemah ,letih,lesu ,mudah lelah dan lunglai.
 Wajah tampak pucat.
 Mata berkunang-kunang.
 Sulit berkosentrasi dan mudah lupa.
 Sering sakit.
 Pada bayi dan batita biasanya terdapat gejala seperti kulit
pucat atau berkurangnya warna merah muda pada bibir dan
bawah kuku.Perubahan ini dapat terjadi perlahan-lahan
sehingga sulit disadari.
 Jika anemia disebabkan penghancuran berlebihan dari sel
darah merah ,makaterdapat gejala lain seperyi
jaundice,warna kuning pada bagian putih mata ,pembesaran
limpa dan warna urin seperti teh.

Maternitas Page 5
2.4 Jenis-jenis Anemia
a) Anemia Defisiensi zat besi
Anemia yang paling banyak terjadi adalah anemia
akibat kurangnya zat besi . Zat besi merupakan bagian dari
molekul hemoglobin.Oleh sebab itu , ketika tubuh
kekurangan zat besi , produksi hemoglobin akan menurun.
Meskipun demikian , penurunan hemoglobin sebetulnya
baru akan terjadi jika cadangan zat besi (Fe) dsala tubuh
sudah benar-benar habis .Kurangnya zat besi dalam tubuh
bisa disebabkan banyak hal .Kekurangan zat besi pada bayi
mungkin disebabkan prematuritas, atau bayi tersebut lahir
dari seorang ibu yang menderita kekurangan zat besi.Pada
anak-anak mungkin disebabkan oleh asupan makanan yang
kurang mengandung zat besi . Sedabgkan pada orang
dewasa , kurangnya zat besi pada prinsipnya hampir selalu
disebabkan oleh pendaraah menahun atau berulang-ulang
yang bisa berasal dari semua bagian tubuh.
Faktor resiko terjadinya anemia memang lebih besar
pada perempuan di bandingkan kaum pria .cadangan besi
dalam tubuh perempuan lebih sedikit daripada pria
,sedangkan kebutuhan perharinya justru lebih tinggin
.setiap harinya seorang wanita akan kehilangan sekitar 1-2
mg zat besi melalui ekskresi secara normal .pada saat
mentruasi ,kehilangan zat besi bisa bartambah hingga 1 mg
lagi.
Kebutuhan zat besi pada wanita juga meningkat
pada saat hamil dan melahirkan .ketika hamil seorang ibu di
tuntut untuk memenuhi kebutuhan zat besi untuk
dirinya,tetapi juga harus memenuhi kebutuhan zat besi
untuk pertumbuhan janinya.selain itu ,pendarahan saat

Maternitas Page 6
melahirkan juga dapat menyebabkan seorang ibu
kehilangan banyak zat besi.

b)Anemia Defisiensi Vitamin C


Anemia karena kekurangan vitamin c adalah sejenis anemia
yang jarang terjadi,yang disebabkan oleh kekurangan vitamin c
yang berat dalam jangka waktu lama. Penyebab kekurangan
vitamin c biasanya adalah kurangnya asupan vitamin c dalam
makanan sehari hari.
Salah satu fungsi vitamin c adalah membantu menyeret zat
besi,sehingga jika terjadi kekurangan vitamin c ,maka jumlah zat
besi yang diserap akan berkurang dan bisa terjadi anemia. Untuk
mendiagnosa penyakit ini dilakukan pengukuran kadar vitamin c
dalam darah. Pada anemia jenis ini sum-sum tulang menghasilkan
sel darah merah berukuran kecil.

c)Anemia Makrositik
Jenis anemia ini disebabkan karena tubuh kekurangan
vitamin B12 atau asam folat. Anemia ini memiliki ciri sel-sel darah
abnormal dan berukuran besar (Makrositer) dengan kadar
hemoglobin per eritrosit yang normal atau lebih tinggi (hiperkrom)
dan MCV tinggi. MCV atau Mean Corpuscular Volume
merupakan salah satu karakteristik sel darah merah. Sekitar 90%
anemia makrositik yang terjadi adalah anemia pernisiosa.
Selain menggangu proses pembentukan sel darah merah
kekurangan vitamin b12 juga mempengaruhi sistem saraf,sehingga
penderita anemia ini akan merasakan kesemutan ditangan dan kaki
,tungkai dan kaki,dan tangan seolah mati rasa,serta kaki dalam
bergerak.gejala lain yang dapat terlihat diantaranya adalah buta
warna tertentu,termasuk warna kuning dan biru,luka terbuka
dilidah atau lidah seperti terbakar,penurunan berat badan,warna

Maternitas Page 7
kulit menjadi lebih gelap,linglung,depresi,penurunan fungsi
intelektual.
Biasanya kekurangan vitamiin b12 terdiagnosis pada
pemeriksaan darah rutin untuk anemia.pada contoh darah yang
diperiksadibawah mikroskop ,tampak selah merah berukuran besar
.juga dapat dilihat perubahan sel darah putih dan
trombosit,terutama jika penderita anemia dalam jangka waktu yang
lama.jiika diduga terjadi kekurangan ,maka dilakukan pengukuran
kadar vitamin b12 dalam darah.

d) Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik terjadi bila sel darah merah dihancurkan
jauh lebih cepatdari normal.umur sel darah merah normalnya 120
hari .pada anemia hemolitik,umur sel darah merah lebih pendek
sehingga sumsum tulang penghasil sel darah merah tidak dapat
memenuhi kebutuhan tubuh akan sel darah merah.

e) Anemia Sel Sabit


Anemia sel sabit (sickle cell anemia) adalah suatu penyakit
keturunan yang ditandai dengan sel darah merah yang berbentuk
sabit ,kaku ,dan anemia hemolitik kronik.pada penyakit sel sabit,sel
darah merah memiliki hemoglobin(prootein pengangkut oksigen)
yang bentuknya abnormal,sehingga mengurangi jumlah oksigen
dalam sel dan menyebabkan bentuk sel menjadi seperti sabit.sel
yang berbentuk sabit akan menyumbat dan merusak pembuluh
darah terkecil dalam limpa ,ginjal,otak,tulang,dan organ lainnya
,dan menyebabkan kurangnya pasokan oksigen ke organ
tersebut.sel sabit ini rapuh dan akan pecah pada saat melewati
pembuluh darah,kerusakan organ ,bahkan sampai pada kematian.

Maternitas Page 8
f) Anemia Aplastik
Merupakan jenis anemia yang berbahaya, karena dapat
mengancam jiwa.

Anemia aplastik terjadi bila” pabrik”(sumsum tulang )pembuatan


darah merah terganggu .Pada anemia aplastik ,terjadi penurunan
produksi sel darah (eritrosit, leukosit dan trombosit).Anemia
aplastik disebabkan oleh bahan kimia ,obat-obatan ,virus dan
terkait dengan penyakit-penyakit yang lain.

2.5 Pencegahan Primer pada Anemia


a)Pendidikan
Pendidikan dan upaya yang ada kaitannya dengan
peningkatan asupan zat besi melalui makanan Konsumsi tablet zat
besi dapat menimbulkan efek samping yang mengganggu sehingga
orang cenderung menolak tablet yang diberikan. Agar mengerti,
harus diberikan pendidikan yang tepat misalnya tentang bahaya
yang mungkin terjadi akibat anemia, dan harus pula diyakinkan
bahwa salah satu penyebab anemia adalah defisiensi zat besi.
Asupan zat besi dari makanan dapat ditingkatkan melalui tiga cara
:
a) Pemastian konsumsi makanan yang cukup mengandung kalori
sebesar yang semestinya dikonsumsi.
b.) Meningkatkan ketersediaan hayati zat besi yang dimakan, yaitu
dengan jalan mempromosikan makanan yang dapat memacu
dan menghindarkan pangan yang bisa mereduksi penyerapan
zat besi.
c.) peningkatan gizi berupa makan makanan yang mengandung
vitamin zat bezi, seperti sayur-sayuran (bayam, kangkung,
jagung), telur, kismis.

Maternitas Page 9
b) Pola istirahat
Mengacu pada kegiatan/aktifitas yang mengakibatkan tubuh
mengalami/beresiko terkena anemia.menghindari kondisi dimana
tubuh mengalami gangguan pembentukan sel darah merah.dan
istirahat yang dianjurkan adalah minimal 8 jam per hari.

b) Pola Hidup
menjaga agar sedikitnya jumlah hemoglobin dalam eritrosit.
Kekurangan hemoglobin ini menyebabkan kemampuan darah
mengikat oksigen berkurang.

c) Pola Aktifitas
Menjaga kondisi dimana tubuh kekurangan zat gizi yang
diperlukan untuk sintesis eritrosit, antara lain besi, vitamin B12
dan asam folat. Selebihnya merupakan akibat dari beragam
kondisi seperti perdarahan, kelainan genetik, penyakit kronik,
keracunan obat, dan sebagainya. Menghindari situasi
kekurangan oksigen atau aktivitas yang membutuhkan oksigen.
Melakukan tes darah secara rutin untuk melihat profil darah
dan mencegah terjadinya anemia.
d) Melakukan tes laboratorium
Mengetahui kandungan B12 dalam darah sehingga bisa
membedakan antara anemia biasa dengan anemia pernicious.
Bila ternyata kadar vitamin B12 normal, maka dapat dilakukan
pemberian asam folat dengan dosis 0,1-1,0 mg/hari.

2.6 Pencegahan Sekunder pada Anemia


a) . Pengawasan penyakit infeksi
Pengobatan yang efektif dan tepat waktu dapat mengurangi
dampak gizi yang tidak diingini. Meskipun, jumlah episode
penyakit tidak berhasil dikurangi, pelayanan pengobatan yang

Maternitas Page 10
tepat telah terbukti dapat menyusutkan lama serta beratnya
infeksi. Tindakan yang penting sekali dilakukan selama
penyakit berlangsung adalah mendidik keluarga penderita
tentang cara makan yang sehat selama dan sesudah sakit.
Pengawasan penyakit infeksi memerlukan upaya kesehatan
seperti penyediaan air bersih, perbaikan sanitasi lingkungan
dan kebersihan perorangan. Jika terjadi infeksi parasit, tidak
bisa disangkal lagi, bahwa cacing tambang (Ancylostoma dan
Necator) serta Schistosoma yang menjadi penyebabnya.
Sementara peran parasit usus yang lain terbukti sangat kecil.
Ada banyak bukti tertulis, bahwa parasit parasit dalam jumlah
besar dapat menggaggu penyerapan berbagai zat gizi. Karena
itu, parasit harus dimusnahkan secara rutin. Bagaimanapun
juga, jika pemusnahan parasit usus tidak dibarengi dengan
langkah pelenyapan sumber infeksi, reinfeksi dapat terjadi
sehingga memerlukan obat lebih banyak. Pemusnahan cacing
itu sendiri dapat efektif dalam hal menurunkan parasit, tetapi
manfaatnya di tingkat hemoglobin sangat sedikit. Jika asupan
zat besi bertambah, baik melalui pemberian suplementasi
maupun fortifikasi makanan, kadar hemoglobin akan
bertambah meskipun parasitnya sendiri belum tereliminasi.

b) Fortifikasi makanan pokok dengan zat besi


Fortifikasi makanan yang banyak dikonsumsi dan yang
diproses secara terpusat merupakan inti pengawasan anemia di
berbagai negara. Fortifikasi makanan merupakan salah satu
cara terampuh dalam pencegahan defisiensi zat besi. Di negara
industri, produk makana fortifikasi yang lazim adalah tepung
gandum serta roti makanan yang terbuat dari jagung dan bubur
jagung. Di negara sedang berkembang lain telah

Maternitas Page 11
dipertimbangkan untuk memfortifikasi garam, gula, beras dan
saus ikan.
c). Tranfusi Darah
Suatu tindakan medis yang bertujuan mengganti kehilangan darah
pasien. Darah yang tersimpan di dalam kantong darah dimasukan
ke dalam tubuh melalui selang infus.

d) . Pemberian tablet atau suntikan zat besi


Pemberian tablet tambah darah pada pekerja atau lama
suplementasi selama 3- 4 bulan untuk meningkatkan kadar
hemoglobin, karena kehidupan sel darah merah hanya sekitar 3
bulan atau kehidupan eritrosit hanya berlangsung selama 120 hari,
maka 1/20 sel eritrosit harus diganti setiap hari atau tubuh
memerlukan 20 mg zat besi perhari. Tubuh tidak dapat menyerap
zat besi (Fe) dari makanan sebanyak itu setiap hari, maka
suplementasi zat besi tablet tambah darah sangat penting
dilakukan. Suplementasi dijalankan dengan memberikan zat gizi
yang dapat menolong untuk mengoreksi keadaan anemia gizi.
Karena menurut hasil penelitian anemia gizi di Indonesia sebagian
besar disebabkan karena kekurangan
zat besi.
e) .Melakukan tes laboratorium
Mengetahui kandungan B12 dalam darah sehingga bisa
membedakan antara anemia biasa dengan anemia pernicious. Bila
ternyata kadar vitamin B12 normal, maka dapat dilakukan
pemberian asam folat dengan dosis 0,1-1,0 mg/hari.
f). Suplemen asam folat dapat merangsang pembentukan sel darah
merah.

Maternitas Page 12
2.7 Pencegahan Tersier pada Anemia
a) pemberian suntikan untuk menghentikan pendarahan
pemberian suntikan untuk menghentikan pendarahan seperti
vitmin B12 atau B kompleks.
b) Mengonsumsi bahan makanan sumber utama zat besi, asam
folat, vitamin B6, dan vitamin B12 seperti daging dan sayuran
sesuai kecukupan gizi yang dianjurkan.
c) Melakukan tes laboratorium untuk mengetahui kandungan B12
dalam darah sehingga bisa membedakan antara anemia biasa
dengan anemia pernicious. Bila ternyata kadar vitamin B12
normal, maka dapat dilakukan pemberian asam folat dengan
dosis 0,1-1,0 mg/hari.
d) Mengkonsumsi Suplemen asam folat dapat merangsang
pembentukan sel darah merah.
e) Menjaga kondisi dimana tubuh kekurangan zat gizi yang
diperlukan untuk sintesis eritrosit, antara lain besi, vitamin B12
dan asam folat. Selebihnya merupakan akibat dari beragam
kondisi seperti perdarahan, kelainan genetik, penyakit kronik,
keracunan obat, dan sebagainya. Menghindari situasi
kekurangan oksigen atau aktivitas yang membutuhkan oksigen.

2.8 Pengobatan Anemia


Perlu diketahui, anemia hanyalah sebuah gejala dan
menemukan penyebabnya adalah langkah penting dalam
penanganan anemia.Pada dasarnya pengobatan akan disesuaikan
dengan penyebab terjadinya anemia .

Maternitas Page 13
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari, seperti kehilangan
komponen darah, eleman tidak adekuat atau kurang nutrisi yang dibutuhkan untuk
pembentukan sel darah, yang mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkut
oksigen darah dan ada banyak tipe anemia dengan beragam penyebabnya.
(Marilyn E, Doenges, Jakarta, 1999)

.Berikut ini katagori tingkat keparahan pada anemia.:


• Kadar Hb 10 gram- 8 gram disebut anemia ringan.
• Kadar Hb 8 gram -5 gram disebut anemia saedang.
• Kadar Hb kurang dari 5 gram disebut anemia berat.

Kemungkinan dasar penyebab anemia:

1.Penghancuran sel darah merah yang berlebihan.


Bisa disebut anemia hemolitik ,muncul saat sel darah merah dihancurkan
lebih cepat dari normal (umur sel darah merah normalnya 120 hari).Sumsum
tulang penghasil sel darah merah tidak dapat memenuhi kebutuhan tubuh akan sel
darah merah.

2.Kehilangan darah.
Kehilangan darah dapat menyebabkan anemia karena perdarahan
berlebihan,pembedahan atau permasalahan dengan pembekuan darah.Kehilangan
darah yang banyak karena menstruasi pada remaja atau perempuan juga dapat
menyebabkan anemia.Semua faktor ini akan meningkatkan kebutuhan tubuh akan
zat besi ,karena zat besi dibutuhkan untuk membuat sel darah merah baru.

Maternitas Page 14
3.Produksi sel darah merah yang tidak optimal.
Ini terjadi saat sumsum tulang tidak dapat membentuk sel darh merah
dalam jumpah cukup.ini diakibatkan infeksi virus,paparan terhadap kimia beracun
atau obat-obatan (antibiotic, antikejang atau obat kanker).

3.2 Saran
Bagi pembaca dan masyarakat sebaiknya harus menjaga kesehatan
lingkungan dan makanan serta pola makan agar memenuhi kecukupan akan Fe
pada tubuh kita.Sehingga kita terjauh dari penyakit terlebih anemia yang di
sebabkan karena kurangnya zat besi untuk memproduksi darah.

Maternitas Page 15
DAFTAR PUSTAKA

http://gejalapenyakitmu.blogspot.com/2013/05/gejala-anemia-penyebab-faktor-
risiko.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Anemia

http://anemia029.blogspot.com