Anda di halaman 1dari 12

Aspek Budaya Berhubungan Dengan

Kesehatan Ibu
MAKALAH KOMPUTER

ASPEK BUDAYA BERHUBUNGAN DENGAN KESEHATAN IBU

Pembimbing :

Nur Cahyadi SST.,MM

Disusun Oleh :

Wahyuni Nur Hidayati

NIM : 1509.033

AKADEMI KEBIDANAN DELIMA PERSADA GRESIK

TAHUN PELAJARAN 2015/2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada tuhan YME atas rahmat-Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas makalah dengan judul “Aspek Budaya Berhubungan Dengan Kesehatan
ibu”. Terima kasih kami ucapkan kepada para pengajar atas bimbingan dan pendidikan yang
diberikan sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik.

Makalah ini merupakan hasil diskusi kelompok kami dengan materi aspek budaya tentang
kesehatan ibu. Pembahasan di dalamnya kami dapatkan dari kuliah browsing internet, diskusi
anggota dll. Dengan pemahaman berdasarkan pokok bahasan masalah aspek budaya tentang
kesehatan ibu .

Kami sadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan kritik dan saran yang membangun
dari semua pihak sangat kami harapkan demi kesempurnaanya.

Demikian yang dapat kami smpaikan, semoga makalh ini dapat bermanfaat khusunya bagi
kami yang sedang menempuh pendidikan dan dapat dijadikan pelajaran bagi teman-teman
dan kami khususnya.

Gresik, Maret 2016

penyusun

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Berdasarkan UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan, Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
adalah pelayanan kesehatan ibu dan anak yang meliputi pelayanan ibu hamil, ibu bersalin, ibu
nifas, keluarga berencana, kesehatan reproduksi, pemeriksaan bayi, anak balita dan anak
prasekolah sehat.

Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di Indonesia selalu menjadi masalah pelik yang tak kunjung
membaik keadaannya. Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak tersebut
diyakini memerlukan kondisi sosial politik, hukum dan budaya yang kondusif. Situasi
kesehatan ibu dan bayi baru lahir di Indonesia sama sekali belum bisa dikatakan
menggembirakan.

Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002/2003 angka
kematian ibu di Indonesia masih berada pada angka 307 per 100 ribu kelahiran. Tingginya
angka kematian ibu dan bayi sebesar 307 per 100 ribu kelahiran hidup, menjadi salah satu
indikatornya buruknya pelayanan kesehatan ibu dan anak. Kendati berbagai upaya perbaikan
serta penanganan telah dilakukan, namun disadari masih diperlukan berbagai dukungan.

Angka Kematian Ibu (AKI) menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 1994
masih cukup tinggi, yaitu 390 per 100.000 kelahiran. Penyebab kematian ibu terbesar
(58,1%) adalah pendarahan dan eklampsia. Kedua sebenarnya dapat dicegah dengan
pemeriksaan kehamilan (antenatal care/ANC) yang memadai. Walaupun proporsi perempuan
usia 15-49 tahun yang melakukan ANC minimal satu kali telah mencapai lebih dari 80%,
tetapi menurut SDKI 1994, hanya 43,2% yang persalinannya ditolong oleh tenaga
kesehatan.Persalinan oleh tenaga kesehatan menurut SDKI 1997, masih tetap rendah, di mana
sebesar 54% persalinan masih ditolong oleh dukun bayi.Usia kehamilan pertama ikut
berkontribusi kepada kematian ibu di Indonesia. Data Survei Kesehatan Ibu dan Anak
(SKIA) 2000 menunjukkan umur median kehamilan pertama di Indonesia adalah 18
tahun.SDKI 1997 melaporkan 57,4% Pasangan Usia Subur (PUS) menggunakan alat
kontrasepsi dan sebanyak 9,21% PUS sebenarnya tidak ingin mempunyai anak atau menunda
kehamilannya, tetapi tidak memakai kontrasepsi (unmet need). Krisis ekonomi yang terjadi
sejak pertengahan 1997 menjadi sebab utama menurunnya daya beli PUS terhadap alat dan
pelayanan kontrasepsi.

Angka kematian ibu adalah jumlah kematian ibu akibat proses reproduktif per 100.000
kelahiran hidup.Kematian ibu adalah kematian perempuan pada saat hamil atau kematian
dalam kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan
atau tempat persalinan, yakni kematian yang disebabkan karena kehamilannya atau
pengelolaannya, tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh dll (Budi,
Utomo. 1985).

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa saja kebudayaan yang dianut oleh masyarakat Indonesia pada ibu hamil, nifas
dan bersalin?
2. Apa yang dilakukan bidan untuk mengatasi presepsi kebudayaan yang berhubungan
dengan kesehatan ibu dimasyarakat?

C. TUJUAN

Untuk mengetahui kebudayaaan yang ada pada masyarakat mengenai kesehatan ibu dan cara
bidan menanggulangi masalah tersebut
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Kebudayaan

Kebudayaan atau yang disebut peradapan adalah pemahaman yang meliputi : pengetahuan,
kepercayaan, seni, moral, hukum, adatistiadat yang diperoleh dari anggota masyarakat (
Taylor 1997 ) Pendapat umum sesuatu yang baik dan berharga dalam kehidupan masyarakat.
( Bakker 1984 ). Pola tingkah laku mantap : pikiran, perasaan, dan reaksi yang diperoleh dan
terutama diwujudkan oleh simbul-simbul pada pencapaian tersendiri dari kelompok manusia
yang bersifat universal ( Kroeber & klukhon 1950 ).

Kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta “ budayah “ / “ bodhi “ yang berarti budi akal
atau segala sesuatu yang berkaitan dengan akal. Budaya dapat dipisahkan sebagai kata
majemuk Budi & Daya yang berupa : cipta , rasa, karsa, karya (kuncoroningrat 1980 ).

B. Jenis-jenis kebudayaan di Indonesia

1. Kebudayaan Modern

Kebudayaan modern biasanya berasal dari manca negara datang di Indonesia merupakan
budaya/ kesenian import. Budaya modern akting, penampilan, dan kemampuan meragakan
diri didasari sifat komersial.Budaya modern lebih mengesampingkan norma , gaya menjadi
idola masyarakat dan merupakan target sasaran Contoh : film, musik jazz.

1. Kebudayaan Tradisional

Bersumber dan berkembang dari daerah setempat. Penampilan mengutamakan norma dengan
mengedepankan intuisi bahkan bersifat bimbingan Dan petunjuk tentang kehidupan manusia.
Kebudayaan tradisional kurang mengutamakan komersial dan sering dilandasi sifat
kekeluargaan. Contoh : Ketoprak, wayang orang, keroncong, ludruk.

1. Budaya Campuran

Budaya campuran pada hakekatnya merupakan campuran budaya modern dengan budaya
tradisional yang berkembang dengan cara asimilasi ataupun defusi. Kebudayaan campuran
sudah memperhitungkan komersiel tapi masih mengindahkan norma dan adat setempat.
Contoh : Musik dangdut, orkes gambus, campur sari.

C. Kebudayaan Yang Berhubungan Dengan Kesehatan Ibu

Hingga saat ini sudah banyak program-program pembangunan kesehatan di Indonesia yang
ditujukan pada penanggulangan masalah-masalah kesehatan ibu dan anak. Pada dasarnya
program-program tersebut lebih menitik beratkan pada upaya-upaya penurunan angka
kematian bayi dan anak, angka kelahiran kasar dan angka kematian ibu. Hal ini terbukti dari
hasil-hasil survei yang menunjukkan penurunan angka kematian bayi dan anak, angka
kelahiran kasar. Namun tidak demikian halnya dengan angka kematian ibu (MMR) yang
selama dua dekade ini tidak menunjukkan penurunan yang berarti. SKRT 1994 menunjukkan
hahwa MMR sebesar 400 – 450 per 100.000 persalinan.

Selain angka kematian, masalah kesehatan ibu dan anak juga menyangkut angka kesakitan
atau morbiditas. Penyakit-penyakit tertentu seperti ISP A, diare dan tetanus yang sering
diderita oleh bayi dan anak acap kali berakhir dengan kematian. Demikian pula dengan
peryakit-penyakit yang diderita oleh ibu hamil seperti anemia, hipertensi, hepatitis dan lain-
lain dapat membawa resiko kematian ketika akan, sedang atau setelah persalinan.

Baik masalah kematian maupun kesakitan pada ibu dan anak sesungguhnya tidak terlepas
dari faktor-faktor sosial budaya dan lingkungan di dalam masyarakat dimana mereka berada.
Disadari atau tidak, faktor-faktor kepercayaan dan pengetahuan budaya seperti konsepsi-
konsepsi mengenai berbagai pantangan, hubungan sebab- akibat antara makanan dan kondisi
sehat-sakit, kebiasaan dan ketidaktahuan, seringkali membawa dampak baik positif maupun
negatif terhadap kesehatan ibu dan anak. Pola makan, misalnya, fakta dasarnya adalah
merupakan salah satu selera manusia dimana peran kebudayaan cukup besar. Hal ini terlihat
bahwa setiap daerah mempunyai pola makan tertentu, termasuk pola makan ibu hamil dan
anak yang disertai dengan kepercayaan akan pantangan, tabu, dan anjuran terhadap beberapa
makanan tertentu.

Membicarakan mengenai mitos dan fakta seputar kehamilan maupun kelahiran memang tidak
akan pernah ada habisnya. Tidak sedikit mitos yang hanya tinggal mitos, bahkan tidak layak
untuk sekedar diyakini. Namun ternyata banyak pula mitos yang dapat dinalar, diterima oleh
akal dan ternyata ada faktanya. Sehingga tidak ada salahnya apabila sekali waktu kita
mengulas soal mitos-mitos yang banyak ditemui di masyarakat sekaligus mengetahui
faktanya!

Berikut kebudayaan yang dianut oleh masyarakat Indonesia pada ibu hamil, nifas dan
bersalin:

1. Kebudayaan bagi wanita hamil :

Berbagai kelompok masyarakat di berbagai tempat yang menitik beratkan perhatian mereka
terhadap aspek kultural dari kehamilan dan menganggap peristiwa itu sebagai tahapan-
tahapan kehidupan yang harus dijalani didunia.Masa kehamilan dan kelahiran dianggap masa
krisis yang berbahaya,baik bagi janin atau bayi maupun bagi ibunya karna itu sejak
kehamilan sampai kelahiran para kerabat dan handai-tolan mengadakan serangkaian upacara
baggi wanita hamil dengan tujuan mencari keselamatan bagi diri wanita itu serta bayinya,saat
berada di dalam kandungan hingga saat lahir.

Orang jawa adalah salah satu contoh dari masyarakat yang sering menitikberatkan perhatian
pada aspek krisis kehidupan dari pertistiwa kehamilan,sehingga di dalam adat-istiadat mereka
terdapat berbagai upacara adat yang cukup rinci untuk menyambut kelahiran bayi.Biasanya
upacara dimulai sejak usia ketujuh bulan kandungan ibu sampai pada saat
kelahirannya,walaupun ada pula sebagian kecil warga masyarakat yang telah melakukannya
sejak janin di kandungan ibu berusia tiga bulan.upacara –upacara adat jawa yang bertujuan
mengupayakan keselamatan bagi janin dalam prosesnya menjadi bayi hingga saat
kelahirannya itu adalah upacara mitoni,procotan dan brokohan.
Sebagian masyarakat jawa juga percaya bahwa bayi yang lahir pada usia tujuh bulan
mempunyai peluang untuk hidup,bahkan lebih kuat daripada bayi yang lahir pada usia
kehamilan delapan bulan,walupun kelahiran itu masih prematur.Kepercayaan ini tampak
terdapat pula pada sejumlah suku bangsa di indonesia dan
malaysia(ladderman1987:86).Karna itu orang jawa menganggap usia tujuh bulan kandungga
sebagai saat yang penting,sehingga perlu dilakukan upacara yang disebut mitoni untuk
menyambutnya dan menangkal bahaya yang mungkin timbul pada masa itu.Upacara mitoni
yang umumnya hanya dilakukan pada kehamilan pertama dari seorang wanita,sebenarnya
dapat pula berfungsi untuk memberikan ketenangan jiwa bagi calon ibu yang belum pernah
mengalami peristiwa melahirkan.

Upacara mitoni dilakukan dengan cara memandikan sang calon ibu dengan air bunga,yang
biasanya dilakukan oleh orangtua pasangan suami-istri yang sedang menantikan
bayinya,ditambah sejumlah kerabat sepupuh terdekat atau sepupuh yang dihormati
Selanjutnya diadakan upacara memecah buah kelapa bergambar wayang dengan tokoh dewa
kamajaya dan dewi ratih oleh sang calon ayah,yang sebelumnya dimasukan ke dalam sarung
yang dikenakan oleh si calon ibu ketika dimandikan,mulai dari ujung sarung pada batas
menyentuh tanah.Namun sebelum menyentuh tanah,sang calon ayah harus bisa menagkap
buah kelapa itu pada ujung sarung dekat kaki istrinya.Upacara ini dimkasudkan agar kelak
proses kelahiran bayidapat berjalan lancar dan bayi yang akan lahir tampan atau cantik seprti
dewa dan dewi tersebut. Rangkain upacara mitoni pada dasarnya melambangkan harapan
baik bagi sang bayi,yakni harapan agar ia sempurna dan utuh fisiknya,tampan atau cantik
wajahnya,dan selamat serta lancar kelahirannya.

Upacara procotan dilakukan dengan membuat sajian jenang procot yakni bubur putih yang
dicampur dengan irisan ubi.Upacara procotan khusus bertujuan agar sang bayi mudah lahir
dan rahim ibunya.

Brokohan adalah upacara sesudah lahirnya bayi dengan selamat dengan membuat sajian nasi
urap dan telur rebus yang diedarkan pada sanak kluarga untuk memberitahukan kelahiran
sang bayi. Pusat perhatian orang jawa mengenai pelaksanaan upacara pada masa kehamilan
dan kelahiran terletak pada unsur tecapainya keselamatan,yang dilandasi atas keyakinan
mengenai krisis kehidupan yang mengandung bahaya dan harus ditangkal,serta harapan akan
kebaikan bagi janin dan ibunya.Maka upacara kelahiran seringkali tidak dilaksanakan dalam
bentuk kenduri besar dengan mengundang banyak handai-taulani.

Selain di jawa di Setiap daerah juga mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda dikalangan
masyarakat terhadap kesehatan ibu. Berikut budaya yang ada di beberapa daerah terhadap
kesehatan ibu hamil :

1. Jawa Tengah

Bahwa ibu hamil pantang makan telur karena akan mempersulit persalinan dan pantang
makan daging karena akan menyebabkan perdarahan yang banyak.

2. Jawa Barat

Ibu yang kehamilannya memasuki 8-9 bulan sengaja harus mengurangi makannya agar bayi
yang dikandungnya kecil dan mudah dilahirkan.
3. Masyarakat Betawi

Berlaku pantangan makan ikan asin, ikan laut, udang dan kepiting karena dapat menyebabkan
ASI menjadi asin.

4. Daerah Subang

bu hamil pantang makan dengan menggunakan piring yang besar karena khawatir bayinya
akan besar sehingga akan mempersulit persalinan. Dan memang, selain ibunya kurang gizi,
berat badan bayi yang dilahirkan juga rendah.Tentunya hal ini sangat mempengaruhi daya
tahan dan kesehatan si bayi. Selain itu, larangan untuk memakan buah-buahan seperti pisang,
nenas, ketimun dan lain-lain bagi wanita hamil juga masih dianut oleh beberapa kalangan
masyarakat terutama masyarakat di daerah pedesaan. (Wibowo,1993).

2. Kebudayaan ibu bersalin

Pada beberapa masyarakat tradisional di Indonesia kita bisa melihat konsepsi budaya yang
terwujud dalam perilaku berkaitan dengan kebudayaan ibu bersalin yang berbeda, dengan
konsepsi kesehatan modern. Beberapa hal yang dilakukan oleh masyarakat pada ibu bersalin:

1. Minum rendaman air rumput Fatimah akan merangsang mulas.


Memang, rumput Fatimah bisa membuat mulas pada ibu hamil, tapi apa
kandungannya belum diteliti secara medis. Rumput fatimah atau biasa disebut Labisia
pumila ini, berdasarkan kajian atas obat-obatan tradisional di Sabah, Malaysia, tahun
1998, dikatakan mengandung hormon oksitosin yang dapat membantu menimbulkan
kontraksi. Tapi, apa kandungan dan seberapa takarannya belum diteliti secara medis.
Jadi, harus dikonsultasikan dulu ke dokter sebelum meminumnya. Karena, rumput ini
hanya boleh diminum bila pembukaannya sudah mencapai 3-5 cm, letak kepala bayi
sudah masuk panggul, mulut rahim sudah lembek atau tipis, dan posisi ubun-ubun
kecilnya normal. Jika letak ari-arinya di bawah atau bayinya sungsang, tak boleh
minum rumput ini karena sangat bahaya. Terlebih jika pembukaannya belum ada, tapi
si ibu justru dirangsang mulas pakai rumput ini, bisa-bisa janinnya malah naik ke atas
dan membuat sesak nafas si ibu. Mau tak mau, akhirnya dilakukan jalan operasi.
2. Meluarnya lendir semacam keputihan yang agak banyak menjelang persalinan, akan
membantu melicinkan saluran kelahiran hingga bayi lebih mudah keluar.
Ini tak benar! Keluarnya cairan keputihan pada usia hamil tua justru tak normal,
apalagi disertai gatal, bau, dan berwarna. Jika terjadi, segera konsultasikan ke dokter.
Ingat, bayi akan keluar lewat saluran lahir. Jika vagina terinfeksi, bisa mengakibatkan
radang selaput mata pada bayi. Harus diketahui pula, yang membuat persalinan lancar
bukan keputihan, melainkan air ketuban. Itulah mengapa, bila air ketuban pecah
duluan, persalinan jadi seret.
3. Minum minyak kelapa memudahkan persalinan.Minyak kelapa, memang konotasinya
bikin lancar dan licin. Namun dalam dunia kedokteran, minyak tak ada gunanya sama
sekali dalam melancarkan persalinan. Mungkin secara psikologis, ibu hamil
menyakini, dengan minum dua sendok minyak kelapa dapat memperlancar
persalinannya. Jika itu demi ketenangan psikologisnya, maka diperbolehkan, karena
minyak kelapa bukan racun.
4. Minum madu dan telur dapat membantu tenaga dalam persalinan. Madu tak boleh
sembarangan dikonsumsi ibu hamil. Jika BB-nya cukup, sebaiknya jangan minum
madu karena bisa mengakibatkan overweight. Bukankah madu termasuk karbonhidrat
yang paling tinggi kalorinya? Jadi, madu boleh diminum hanya jika BB-nya kurang.
Begitu BB naik dari batas yang ditentukan, sebaiknya segera hentikan. Demikian juga
dengan telur, pada dasarnya selama telur itu matang maka tidak akan berbahaya bagi
kehamilan. Hal ini disebabkan karena telur banyak mengandung protein yang dapat
menambah kalori tubuh.
5. Makan Duren tape dan nanas dapat membahayakan persalinan. Ini benar karena bisa
mengakibatkan perndarahan atau keguguran. Duren mengandung alkohol, jadi panas
ke tubuh. Begitu juga tape serta aneka masakan yang menggunakan arak, sebaiknya
dihindari. Buah nanas juga, karena bisa mengakibatkan keguguran.
6. Makan daun kemangi membuat ari-ari lengket, hingga mempersulit persalinan.
Yang membuat lengket ari-ari bukan daun kemangi, melainkan ibu yang pernah
mengalami dua kali kuret atau punya banyak anak, misal empat anak. Ari-ari lengket
bisa berakibat fatal karena kandungan harus diangkat. Ibu yang pernah mengalami
kuret sebaiknya melakukan persalinan di RS besar. Hingga, bila terjadi sesuatu dapat
ditangani segera.

3. Kebudayaan ibu nifas.

Macam-macam mitos yang ada pada msyarakat mengenai ibu nifas diantaranya:

1. Tidak boleh bersenggama.

Dari sisi medis, jelas dr. Chairulsjah Sjahruddin, SpOG, MARS, sanggama memang dilarang
selama 40 hari pertama usai melahirkan. Alasannya, aktivitas yang satu ini akan menghambat
proses penyembuh- an jalan lahir maupun involusi rahim, yakni mengecilnya rahim kembali
ke bentuk dan ukuran semula. Selain karena fungsi hormonal tubuh yang bersang- kutan
belum kembali aktif bekerja. Kalau sanggama dipaksakan terjadi dalam tenggang waktu itu,
kemungkinan yang terjadi bisa macam-macam. Di antaranya infeksi atau malah perdarahan.
Sebabnya, mukosa jalan lahir setelah persalinan sangat peka akibat banyaknya
vaskularisasi/aliran darah, hingga terjadilah perlunakan mukosa jalan lahir. Dengan
berjalannya waktu, vaskularisasi ini kian berkurang dan baru akan normal kembali 3 bulan
setelah bersalin. Belum lagi libido yang mungkin memang belum muncul ataupun pengaruh
psikologis, semisal kekhawatiran akan robeknya jahitan maupun ketakutan bakal hamil lagi.

2. Kaki harus lurus.

Menurut Koesmariyah, baik saat berjalan maupun berbaring, kaki harus lurus. Dalam arti,
kaki kanan dan kiri enggak boleh saling tumpang tindih ataupun ditekuk. Selain agar jahitan
akibat robekan di vagina tak melebar ke mana-mana, juga dimaksudkan supaya aliran darah
tetap lancar alias tak terhambat. Secara medis, posisi kaki yang lurus memang lebih
menguntungkan karena membuat aliran darah jadi lancar. Sedangkan mobilisasi secara
umum, pada dasarnya boleh dan malah harus dilakukan. Makin cepat dilakukan kian
menguntungkan pula. Dengan catatan, kondisi si ibu dalam keadaan baik, semisal tak
mengalami perdarahan atau kelainan apa pun saat melahirkan. Selain patokan bahwa dalam 8
jam pertama setelah melahirkan ia sudah bisa BAK dan BAB serta selera makannya bagus.
Begitu juga tensi, denyut nadi, dan suhu tubuhnya dalam batas normal. Soalnya, jika tak bisa
BAK dan BAB berarti ada sesuatu yang enggak beres yang akan berpengaruh pada kontraksi
dan proses involusi (pengecilan kembali) rahim.

3. Tidak boleh tidur siang

Pantangan yang satu ini kedengarannya keterlaluan. Bayangkan, meski ngantuk setengah
mati lantaran sering terbangun malam hari karena harus menyusui dan menggantikan popok
si kecil, si ibu tak boleh tidur siang. Menurut Chairulsjah, tidur berkepanjangan memang
mengundang proses recovery yang lebih lambat. “Makin lama berbaring makin besar pula
peluang terjadi tromboemboli atau pengendapan elemen-elemen garam.” Lalu bila si ibu
bangun/berdiri mendadak, endapan elemen tersebut dikhawatirkan lepas dari perlekatannya di
dinding pembuluh darah. Padahal akibatnya bisa fatal, lo. Endapan-endapan tadi bisa masuk
ke dalam pembuluh darah lalu ikut aliran darah ke jantung, otak dan organ-organ penting lain
yang akan memunculkan stroke.

4. Tak boleh keramas.

Pantangan yang satu ini dicemaskan bisa membuat si ibu masuk angin. Itu sebab, sebagai
gantinya rambut cukup diwuwung, yakni sekadar disiram dengan air dingin. Lagi-lagi,
penyiraman ini diyakini agar darah putih bisa turun dan tak menempel di mata. Namun agar
tak bau apek dan tetap harum disarankan menggunakan ratus pewangi. Tentu saja pantangan
semacam itu untuk kondisi jaman sekarang dirasa memberatkan. Terlebih untuk ibu-ibu yang
harus sering beraktivitas di luar rumah. Sedangkan mandi boleh-boleh saja asal dilakukan
jam 5 atau 6 untuk mandi pagi dan sebelum magrib untuk mandi malam. Penggunaan air
dingin, katanya, justru lebih baik ketimbang air hangat karena bisa melancarkan produksi
ASI.

5. Hindari makan jemek

Golongan makanan yang harus dijauhi adalah pepaya, durian, pisang, dan terung. Karena
konon ragam makanan tadi bisa dikhawatirkan bikin benyek organ vital kaum Hawa.
Termasuk makanan bersantan dan pedas karena pencernaannya bakal terganggu yang bisa
berpengaruh pada bayinya. Begitu juga ikan dan telur asin serta makanan lain yang berbau
amis karena dikhawatirkan bisa menyebabkan bau anyir pada ASI yang membuat bayi
muntah saat disusui. Selain juga, proses penyembuhan luka-luka di jalan lahir akan lebih
lambat.

Secara medis, menurut Chairulsjah, tak benar anggapan untuk pantang pepaya dan pisang
yang justru amat dianjurkan karena tergolong sumber makanan yang banyak mengandung
serat untuk memudahkan BAB. Ikan dan telur juga merupakan salah satu sumber protein
hewani yang baik dan amat dibutuhkan tubuh. Sedangkan durian memang tak dianjurkan
karena kandungan kolesterolnya tinggi, selain memicu pembentukan gas yang bisa
mengganggu pencernaan.

6. Tidak boleh berpergian

Kalau dipikir-pikir larangan ini, bertujuan supaya si ibu tak terlalu letih beraktivitas. Kalau
capek bisa-bisa ASI-nya berkurang. Kasihan si kecil. Karena biasanya seumur ini sedang
kuat-kuatnya menyusu. Belum lagi kemungkinan si bayi rewel ditinggal ibunya terlalu lama.
Sementara kalau diajak pun masih kelewat kecil. Malah takut ada apa-apa di jalan, terutama
kalau menggunakan angkutan umum. Bepergian pun membuat si ibu jadi tak tahan
menghadapi aneka godaan untuk menyantap segala jenis makanan yang dipantang.

D. PENDEKATAN MELALUI BUDAYA DAN KEGIATAN KEBUDAYAAN


KAITANNYA DENGAN PERAN SEORANG BIDAN

Bidan sebagai salah seorang anggota tim kesehatan yang terdekat dengan masyarakat,
mempunyai peran yang sangat menentukan dalam meningkatkan status kesehatan
masyarakat, khususnya kesehatan ibu dan anak di wilayah kerjanya.

Seorang bidan harus mampu menggerakkan peran serta masyarakat khususnya, berkaitan
dengan kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, bufas, bayi baru lahir, anak remaja dan usia lanjut.
Seorang bidan juga harus memiliki kompetensi yang cukup berkaitan dengan tugas, peran
serta tanggung jawabnya.

Melihat dari luasnya fungsi bidan tersebut, aspek sosial-budaya perlu diperhatikan oleh
bidan. Sesuai kewenangan tugas bidan yang berkaitan dengan aspek sosial-budaya, telah
diuraikan dalam peraturan Menteri Kesehatan No. 363/Menkes/Per/IX/1980 yaitu: Mengenai
wilayah, struktur kemasyarakatan dan komposisi penduduk, serta sistem pemerintahan desa
dengan cara:

1. Menghubungi pamong desa untuk mendapatkan peta desa yang telah ada pembagian
wilayah pendukuhan/RK dan pembagian wilayah RT serta mencari keterangan
tentang penduduk dari masing-masing RT.
2. Mengenali struktur kemasyarakatan seperti LKMD, PKK, LSM, karang taruna, tokoh
masyarakat, kelompok pengajian, kelompok arisan, dan lain-lain.
3. Mempelajari data penduduk yang meliputi:

 Jenis kelamin
 Umur
 Mata pencaharian
 PendidikanAgama

1. Mempelajari peta desa.


2. Mencatat jumlah KK, PUS, dan penduduk menurut jenis kelamin dan golongan.

Agar seluruh tugas dan fungsi bidan dapat dilaksanakan secara efektif, bidan harus
mengupayakan hubungan yang efektif dengan masyarakat. Salah satu kunci keberhasilan
hubungan yang efektif adalah komunikasi. Kegiatan bidan yang pertama kali harus dilakukan
bila datang ke suatu wilayah adalah mempelajari bahasa yang digunakan oleh masyarakat
setempat.

Kemudian seorang bidan perlu mempelajari sosial-budaya masyarakat tersebut, yang meliputi
tingkat pengetahuan penduduk, struktur pemerintahan, adat istiadat dan kebiasaan sehari-hari,
pandangan norma dan nilai, agama, bahasa, kesenian, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan
wilayah tersebut.

Dengan kegiatan-kegiatan kebudayaan tradisional setempat bidan dapat berperan aktif untuk
melakukan promosi kesehatan kepada masyaratkat dengan melakukan penyuluhan kesehatan
di sela-sela acara kesenian atau kebudayaan tradisional tersebut. Misalnya: Dengan Kesenian
wayang kulit melalui pertunjukan ini diselipkan pesan-pesan kesehatan yang ditampilkan di
awal pertunjukan dan pada akhir pertunjukan.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Faktor-faktor sosial-budaya mempunyai peranan penting dalam memahami sikap dan prilaku
menanggapi kehamilan dan kelahira.Sebagian pandangan budaya mengenai hal-hal tersebut
telah diwariskan turun-temurun dalam kebudayaan masyarakat yang bersangkutan.Oleh karna
itu, meskipun petugas kesehatan mungkin menemukan suatu bentuk prilaku atau sikap yang
terbukti kurang menguntungkan bagi kesehatan,seringkali tidak mudah bagi mereka untuk
mengadakan perubahan terhadapnya,akibat telah tertanamnya keyakinan yang melandasi
sikap dan prilaku itu secara mendalam pada kebudayaan warga komuniti tersebut.

Kajian antropologi mengenai kehamilan dan kelahiran bagi wanita dengan segala
konsekuensi baik dan buruknya terhadap kesehatan ini perlu dijadikan bahan pertimbangan
bagi para personil kesehatan di indonesia dalam upaya meningkatkan keberhasilan pelayanan
kesehatan yang mereka terapkan bagi ibu.Khususnya,pemahaman yang menyeluruh dan utuh
terhadap berbagai pandangan,sikap dan prilaku kehamilan dan kelahiran dalam konteks
budaya masyarakat yang bersangkutan,sangat diperlukan bagi pembentukan strategi-strategi
yang lebih tepat dalam melakukan perubahan yang diinginkan.

Bidan sebagai salah seorang anggota tim kesehatan yang terdekat dengan masyarakat,
mempunyai peran yang sangat menentukan dalam meningkatkan status kesehatan
masyarakat, khususnya kesehatan ibu dan anak di wilayah kerjanya.

Seorang bidan harus mampu menggerakkan peran serta masyarakat khususnya, berkaitan
dengan kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, bufas, bayi baru lahir, anak remaja dan usia lanjut.
Seorang bidan juga harus memiliki kompetensi yang cukup berkaitan dengan tugas, peran
serta tanggung jawabnya. Agar bidan dapat menjalankan praktik atau pelayanan kebidanan
dengan baik, hendaknya bidan melakukan beberapa pendekatan misalnya pendekatan melalui
kesenian tradisional.

B. Saran

1. Saat ibu sedang hamil muda ( 1 sampai 3 bulan ) tidak melakukan pekerjaan yang
berat karena dapat menyebabkan keguguran pada janin.
2. Selalu mengkonsumsi makan yang banyak mengandung vitamin A , D , E , K.
3. Selalu rutin untuk memeriksakan kandungan kepada tim medis ( dokter kandungan
atau bidan ).
4. Bidan perlu mempelajari sosial-budaya masyarakat wilayah kerjanya, yang meliputi
tingkat pengetahuan penduduk, struktur pemerintahan, adat istiadat dan kebiasaan
sehari-hari, pandangan norma dan nilai, agama, bahasa, kesenian, dan hal-hal lain
yang berkaitan dengan wilayah tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

http://kti-akbid.blogspot.com/2011/03/makalah-aspek-sosial-budaya-yang.html/online
30/03/2016

http://siwisan.wordpress.com/2010/09/28/kesehatan-ibu-dan-anak-persepsi-budaya-dan-
dampak-kesehatannya/online 30/03/2016

http://shidiqwidiyanto.wordpress.com/2009/04/03/aspek-budaya-tentang-kesehatan-dan-
penyakit/online30/03/2011

F.Swasono,Meutia.(1998).Kehamilan,Kelahiran, Perawatan Ibu Dan Bayi Dalam konteks


Budaya. Jakarta:Salemba 4.

See more at: http://nyareelmo.blogspot.co.id/2013/01/makalah-aspek-budaya-berhubungan-


dengan.html#sthash.tfYs5pyx.dpuf

http://nyareelmo.blogspot.co.id/2013/01/makalah-aspek-budaya-berhubungan-dengan.html