Anda di halaman 1dari 3

PROSEDUR PENGELOLAAN MIOMA UTERI

NO. DOKUMEN NO. REVISI HALAMAN


1/3

RSUP.Dr.KARIADI
SEMARANG

TANGGAL TERBIT : Ditetapkan oleh Direktur Utama

PROSEDUR
TETAP

dr.Bambang Wibowo, Sp.OG (K)


NIP. 140 221 586

Suatu Tumor Jinak lapisan miometrium rahim dengan sifat :


PENGERTIAN 1. Konsisten padat kenyal.
2. Berbatas tegas dan mempunyai pseudokapsul
3. Tidak nyeri
4. Bisa Soliter atau multiple dengan ukuran mulai dari mikroskopik
sampai lebih dari 50 kg.

TUJUAN Memberikan pedoman pada petugas tentang langkah-langkah


pengelolaan Mioma Uteri sehingga tindakan yang dilakukan jelas dan
dapat dipertanggung-jawabkan.

PETUGAS Tenaga Medis di bagian Obstetri Ginekologi RSUP.Dr.Kariadi Semarang


PELAKSANA
SASARAN Wanita yang telah ditegakkan diagnosis Mioma Uteri di RSDK

UNIT TERKAIT 1. Poliklinik ginekologi


2. Bangsal ginekologi
3. Poliklinik Anestesi
4. Instalasi bedah sentral
5. Laboratorium
6. Radiologi

LANGKAH – LANGKAH PENGELOLAAN MIOMA UTERI


A.PENEGAKAN DIAGNOSTIK
ANAMNESIS Pembesaran uterus
Gejala Klinik
1. Dapat tanpa gejala atau timbul gejala berupa rasa penuh atau berat
pada perut bagian bawah sampai teraba benjolan yang padat kenyal.
2. Gangguan haid atau perdarahan abnormal uterus berupa : menoragia,
metroragia.
3. Gangguan akibat penekanan tumor (disuria/polakisuria, retensi urin,
Overflow incontines, konstipasi, edema tungkai, varises).

PEMERIKSAAN Abdomen : didapatkan tumor di daerah atas pubis atau abdomen bagian
FISIK bawah dengan konsistensi padat kenyal, berbenjol-benjol, tidak nyeri,
berbatas jelas, mudah digerakkan bila tidak ada perlengketan.

VT : didapatkan tumor tersebut menyatu atau berhubungan dengan rahim

PEMERIKSAAN 1. Ultrasonografi.
PENUNJANG 2. Pemeriksaan Histopatologi Kerokan Endometrium dan Endocervix

DIAGNOSIS Diagnosis pasti berdasarkan hasil pemeriksaan histopatologi yang didapat


dari kuretase bertingkat ( kerokan Endometrium dan Endocervix ).

STANDARD 1. Laboratorium darah dan urine.


PERSIAPAN PRA 2. Tes fungsi hepar dan ginjal.
BEDAH 3. Faktor pembekuan.
4. X-foto toraks.
5. Ultrasonografi.
6. Kerokan Endometrium dan Endocervix

B.PELAKSANAAN PENGOBATAN

TUJUAN Dengan pembedahan diharapkan dapat menentukan diagnosis dan


mengangkat jaringan Mioma.

PROSEDUR 1. Observasi
Bila besar uterus sama atau kurang dari ukuran uterus pada
kehamilan 12 mgg tanpa disertai penyulit yang lain. Pengawasan
dilakukan tiap 3 bulan sekali apabila terjadi pembesaran atau timbul
komplikasi dipertimbangkan tindakan operatif.

2. Bila disertai kelukan / komplikasi perdarahan


 Koreksi anemia dengan tranfusi sampai Hb> 10 gr%
 Kuretase dikerjakan bila Hb> 10 gr% kecuali pada perdarahan
yang profuse. Tujuan kuretase untuk menghentikan perdarahan
dan untuk pemeriksaan patologi anatomi guna menyingkirkan
kemungkinan keganasan atau penyakit lain.
 Setelah kuretase jika tidak didapatkan keganasan, tindakan
selanjutnya tergantung dari umur dan parietas penderita .
Umur < 35 th dan masih menginginkan anak dilakukan terapi
konservatif, bila gagal dipertimbangkan operatif, bila umur > 35 th
dan jumlah anak lebih dari 2 dilakukan tindakan operatif.\

3. Miomektomi.
Dikerjakan bila fungsi reproduksi diperlukan dan secara teknis
menurun
4. Histerektomi
 Fungsi reproduksi tidak diperlukan
 Pertumbuhahntumor sangat cepat
 Bila terdapat perdarahan yang membahayakan penderita (tindakan
hemostasis)
5. Keadaan Khusus
 Mioma pedunkulata atau wondering mioma selalu dilakukan
tindakan operatif
 Mioma dengan infertillitas penanganannya tergantung hasil evaluasi
factor penyebab infertile.
 Mioma dengan kehamilan penanganannya tergantung dari hasil
observasi selama kehamilan. Dilakukan operasi pada masa
kehamilan bila terjadi komplikasi akut.
 Mioma pada wanita menopause akan mengalami regresi tetapi bila
terjadi pembesaran perlu tindakan segera olh karena meningkatnya
resiko degenerasi sarkomatosus atau mungkin kesalahan diagnosis
tumor ovarium

PERAWATAN DI Dirawat bila terjadi perdarahan hebat / anemia gravis atau bila
RUMAH SAKIT direncanakan pembedahan.

PENYULIT 1. Perdarahan .
2. Anemia
3. Perlengketan pasca miomektomi
4. Torsi pada yang bertangkai