Anda di halaman 1dari 4

Perkembangan CSR dibedakan menjadi dua fase.

Fase pertama pertanggungjawaban


sosial perusahaan kepada masyarakat bermula di Amerika Serikat sekitar tahun 1900 atau lebih
dikenal sebagai permulaan abad ke-19. Amerika sedang dalam pertumbuhan yang begitu pesat,
ditandai dengan banyaknya perusahaan-perusahaan raksasa yang muncul dan hidup
berdampingan dengan masyarakat, banyak perusahaan besar menyalahgunakan kuasa mereka
dalam hal diskriminasi harga, menahan buruh dan prilaku lainya yang menyalahi moral
kemanusiaan. Dengan kata lain, banyak perusahaan yang berbuat semena-mena terhadap
masyarakat. Hal itu jelas membuat masyarakat emosi.
Fase kedua evolusi munculnya CSR tercetus pada tahun 1930-an. Hal ini berawal dari
banyak protes masyarakat akibat ulah perusahaan yang tidak mempedulikan masyarakat
sekitarnya. Pada saat itu terjadi resesi dunia yang mengakibatkan pengangguran dan banyak
perusahaan yang bangkrut. Dunia berhadapan dengan kekurangan modal untuk input
produksinya, hingga buruh terpaksa berhenti bekerja, pengangguran sangat meluas dan
merugikan pekerjannya. Timbulah ketidakpuasan terhadap sikap perusahaan yang tidak
bertanggung jawab terhadap pekerjanya karena perusahaan hanya diam dan tidak bisa berbuat
apa-apa. Menurut masyarakat pada masa ini perusahaan sama sekali tidak memiliki tanggung
jawab moral.
Dari artikel yang kami dapatkan, sejarah perkembangan Tanggung jawab Sosial dibagi
enam:
1) Konsep Tanggung Jawab Sosial periode 1920-1959.
Gema Tanggung Jawab Sosial semakin terasa pada tahun 1950-an, ketika persoalan-
persoalan kemiskinan dan keterbelakangan yang semula tidak mendapat perhatian, mulai
mendapatkan perhatian lebih luas. Diterbitkannya buku yang bertajuk “social responsibilities
of the businessman” karya Howard R Bowen tahun 1953, menjadikan tahun tersebut sebagai
tonggak sejarah modern Tanggung Jawab Sosial. Selain itu, juga diramaikan oleh buku
legendaris yang berjudul “silent spring” yang ditulis oleh Rachel Carson, yang mengingatkan
kepada masyarakat dunia akan bahaya yang mematikan dari pestisida terhadap lingkungan
dan kehidupan.
2) Konsep Tanggung Jawab Sosial periode 1960-1969.
Konsep Tanggung Jawab Sosial adalah harga diri pengusaha itu sendiri berupa tanggung
jawab atas terwujudnya nilai-nilai kemanusiaan di masyarakat. Konsepnya adalah Tanggung
Jawab Sosial yang sebelumnya merupakan kewajiban moral yang bersifat kedermawanan
berkembang menjadi suatu tolok ukur harga diri dari pengusahanya.
3) Konsep Tanggung Jawab Sosial periode 1970-1979.
Terbitlah “the limits to Growth” yang merupakan hasil pemikiran para cendekiawan dunia
yang tergabung dalam Club of Rome. Buku ini mengingatkan bahwa bumi mempunyai
keterbatasan daya dukung. Oleh karena itu, eksploitasi alam harus dilakukan secara hati-hati
supaya pembangunan dapat dilakukan secara berkelanjutan.
4) Konsep Tanggung Jawab Sosial periode 1980-1989.
Konsep Tanggung Jawab Sosial adalah proses penambahan value perusahaan adalah
tergantung pada stakeholders operasional perusahaan. Konsep Tanggung Jawab Sosial dalam
periode ini mulai berkembangnya teori stakeholders (para pemangku kepentingan) dalam
melakukan Tanggung Jawab Sosial untuk meningkatkan nilai perusahaan.
5) Konsep Tanggung Jawab Sosial periode 1990-1999.
Ddiwarnai dengan beragam pendekatan seperti integral, pendekatan stakeholder maupun
pendekatan civil society. Di Indonesia, istilah CSR semakin populer digunakan sejak awal
tahun 1990-an. Beberapa perusahaan telah melakukan CSA (Corporate Social Activity) atau
“aktivitas sosial perusahaan”. Walaupun berbeda secara gramatikal, secara factual aksinya
mendekati konsep CSR dimana perusahaan peduli terhadap aspek sosial dan lingkungan.
Konsep Tanggung Jawab Sosial dalam periode ini berkembang ke konsep keberlanjutan
dalam pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial yang didasari aspek ekonomi, lingkungan, dan
masyarakat.
6) Konsep Tanggung Jawab Sosial periode 2000-saat ini.
Konsep Tanggung Jawab Sosial adalah strategi bisnis untuk pembangunan berkelanjutan.
Konsep Tanggung Jawab Sosial adalah pemberdayaan masyarakat untuk peningkatan
lingkungan dan kualitas hidup.

Sumber:
https://bangazul.com/sejarah-tanggungjawab-sosial-perusahaan-atau-history-of-corporate-social-
responsibility/
Piramida CSR yang dikembangkan oleh Archie B. Carrol harus dipahami sebagia satu
kesatuan, karena CSR merupakan kepedulian perusahaan atas tiga prinsip yang dikenal dengan
istilah triple bottom lines yaitu profit (berosientasi terhadap keuntungan ekonomi), people
(kepedulian akan kesejahteraan manusia), plannet (kepedulian lingkungan dan keberagaman
hayati). Dalam kaitan itulah CSR dipandang sebagai suatu kewajiban.

Tanggung jawab sosial dan lingkungan korporasi atau CSR telah menjadi pemikiran
kebijakan sejal lama. Namun, munculnya pandangan CSR modern yaitu tahun 1950an, dimana
munculnya literatur-literatur menganai CSR sebagai Social Responsibility. Dekade selanjutnya
kata corporate masuk, menjadi Corporate Social Responsibility. Keith menunjukkan tanggung
jawab sosial dan kedudukan sosial perusahaan adalah sama (social responsibility of businessmen
need to be commensurate with their social power) melalui Iron Lawof Responsibility.
Embrio CSR lahir tahun 1960an negara-negara berkembang bersama western union dan
aktivis menyerukan akan perlunya New InternationalEconomic Order yang mengatur aktivitas
korporasi trans-nasional.
Tahun 1980an terpadat usaha-usaha yang mengartikulasikan mengenai Corporate
Responsibility. Tahun 1987, PBB melalui World Commision on Environment and Development
(WCED) menerbitkan laporan Our Common Future, yang berisikan isu-isu lingkungan bertujuan
untuk mendorong kebijakan pembangunan yang berpihak pada isu lingkungan. Ini merupakan
dasar kerja sama dalam pembangunan keberlanjutan atau sustainable development.
Tahun 1992 dilaksanakan Earth Summit dengan tema lingkungan dan pembangunan
berkelanjutan di Rio de Janeiro oleh 172 negara, yang menekankan pentingnya Eco-efficiency
dalam bisnis dan pemerintahan.
Sementara di Indonesia, mulanya kegiatan CSR masih rendah. Namun, seiring
berjalannya waktu kegiatan CSR semakin meningkat yang dituangkan dalam berbagai kegiatan
sosial. Sebagian penerapan CSR banyak menerapkan program Community Development,
tujuannya mengembangkan masyarakat disekitar perusahaan. Dilihat dari pedekatanya,
Community Development adalah suatu bentuk CSR yang diwarnai motivasi filantropis.
Terhadap tiga tahap dalam memotivasi perusahaan melaksanakan CSR:
1) Corporate charity, yakni dorongan amal atau keagamaan.
2) Corporate philantrophy, yakni dorongan kemanusiaan dengan rtika dan berdasarkan
norma.
3) Corporate citizenship, yakni motivasi kewargaan demi keadilan sosial.