Anda di halaman 1dari 9

Farmaka

Suplemen Volume 16 Nomor 2 547

STUDI KANDUNGAN KIMIA DAN AKTIVITAS FARMAKOLOGI TANAMAN


KUNYIT (Curcuma longa L.)

Chu Yuan Shan, Yoppi Iskandar


Falkutas Farmasi Universitas Padjadjaran
Jl. Raya Bandung Sumedang Km. 21 Jatinangot 45363 Telp. 0227996200,
E-mail : jessiechuyuanshan@gmail.com

ABSTRAK

Sejumlah besar jurnal yang berbincang terhadap aktivitas farmakologi tumbuhan kunyit,
Curcuma longa L. telah diterbitkan. Dalam jurnal-jurnal tersebut telah menunjukkan efek ter-
api seperti antiinflamasi, antioksidan, antivirus, antibakteri, dan antijamur dan aktivitas lain-
lain dari kunyit. Kurkumin atau diferuloylmethane dengan rumus kimia (1,7-bis (4-hidroksi-3-
methoxyphenyl) -1,6-heptadiene-3,5-dione) dan kurkuminoid lainnya merupakan zat
fitokimia yang terutama dari Curcuma longa L. Kurkumin adalah komponen yang penting
dalam kunyit yang bertanggungjawab atas aktivitas-aktivitas biologis tersebut. Tulisan ini
menyusun terhadap aktivitas farmakologi dan kandungan senyawa kimia dari tumbuhan
kunyit.
Kata kunci: aktivitas farmakologi, senyawa kimia, kunyit, kurkumin

ABSTRACT

There is a great variety studies about the pharmacological activities of turmeric, Curcuma
longa L. which exhibited anti-inflamatory, antioxidant, anti virus, anti bacteria, antifungal
and others activities. Curcumin or diferuloylmethane with chemical formula of (1,7-bis(4-
hydroxy-3-methoxyphenyl)-1,6-heptadiene-3,5-dione) and other curcuminoids compose the
main phytochemicals of Curcuma longa L. The responsible major compounds of biological
activity in Curcuma longa L is curcumin. The main purpose of this paper is to discuss and
summarize the pharmacological activities of the active ingredients in Curcuma longa L. and
its chemical compositions.
Keywords : pharmacological activities, chemical compositions, turmeric, curcumin

Diserahkan: 5 Juli 2018, Diterima 5 Agustus 2018

Pendahuluan han pewarna, obatan dan perasa sejak 600


SM. Kunyit dianggapkan sebagai salah
Kunyit, Curcuma longa L. (Zingiberace-
satu herba yang sangat bernilai kepada
ae) adalah tanaman tropis yang banyak
manusia. Dalam sejarah perobatan rakyat
terdapat di benua Asia yang secara ek-
India, kunyit dianggapkan sebagai bahan
stensif dipakai sebagai zat pewarna dan
antibiotik yang terbaik sementara pada
pengharum makanan. Kunyit adalah se-
masa yang sama kunyit juga digunakan
jenis tumbuhan yang dijadikan bahan
untuk memudahkan proses pencernaan
rempah yang memberikan warna kuning
dan memperbaiki perjalanan usus. Di In-
cerah. Kunyit juga digunakan sebagai ba-
dia, secara tradisional kunyit telah
Farmaka
Suplemen Volume 16 Nomor 2 548

digunakan sebagai pelawanan penyakit damar, gom, lemak, protein, kalsium,


yang berhubungan dengan empedu mau- fosfor dan besi. Kandungan kimia minyak
pun “hepato-biliary disorders”, batuk, di- atsiri kunyit terdiri dari ar-
abetes dan penyakit hepatik, reumatik dan tumeron, α dan β-tumeron, tumerol, α-
sinusitis [1]. Manakala di China , kunyit atlanton, β-kariofilen, linalol dan 1,8 sine-
digunakan untuk penyakit yang berhub- ol. Minyak esensial dihasilkan dengan
ungan dengan penyakit perut dan penyakit destilasi uap dari rimpang
kuning [2]. Tumbuhan ini berasal dari kunyit, mengandung a-phellandrene (1%),
Asia Tenggara dan pada masa sekarang sabinene (0.6%), cineol (1%), borneol
tumbuhan ini menjadi tanaman (0.5%), zingiberene (25%) and sesquiter-
perdagangan di China, India dan Indone- pines (53%). Kurkumin (diferuloylme-
sia. Morfologi akar kunyit adalah bentuk thane) (3–4%) merupakan komponen aktif
rimpangnya panjang dan bulat dengan di- dari kunyit yang berperan untuk
ameter sebesar 1-2 cm serta panjangnya 3- menghasilkan warna kuning, dan terdiri
6 cm. Kunyit dapat menumbuh tunas baru dari kurkumin I (94%), kurkumin II (6%)
yang akan berkembang menjadi tanaman and kurkumin III (0.3%)[3].
baru. Tangkai bunga berambut, bersisik,
Kunyit memiliki kandungan kimia yang
daun kelopak berambut, bentuk lanset.
bermanfaat untuk kesehatan tubuh dan
Kelopak bunga berbentuk tabung, panjang
mengandung senyawa yang berkhasiat se-
9-13 mm. Dalam rangkuman ini akan
bagai obat, yaitu kurkuminoid yang terdiri
membahaskan penelitian yang telah dil-
dari (kurkumin atau 1,7-bis(4-hidroksi-3-
akukan terhadap kunyit, C. longa yang
metoksifenil)-1,6-heptadiena-3,6-dion,
berhubungan dengan studi kimia, aktivitas
10% desmetoksikumin atau 1-(4-hidroksi-
farmakologi dan farmakokinetiknya.
3-metoksifenil)-7-(4-hidroksifenil)-1,6-
heptadiena-3,5-dion dan 1-5%
Kandungan Kimia dalam Curcuma
bisdesmetoksikurkumin atau 1,7-bis(4-
longa L.
hidroksifenil)-1,6-heptadiena-3,5-dion)
Kandungan kimia yang terdapat di rim- dan zat- zat manfaat lainnya seperti min-
pang kunyit akan lebih tinggi apabila be- yak atsiri yang terdiri dari (keton sesquit-
rasal dari dataran rendah dibandingkan erpen, turmeron, tumeon 60%, zingiberen
dengan kunyit yang berasal dari dataran 25%, felandren, sabinen, borneol dan
tinggi. Kandungan kimia yang penting sineil)[3]. Selain daripada senyawa kur-
dari rimpang kunyit adalah kurkumin, kuminoid, kunyit juga mempunyai senya-
minyak atsiri, resin, desmetoksikurkumin, wa lain yang merupakan senyawa turunan
oleoresin, dan bidesmetoksikurkumin, yaitu 4”-(3”‟-metoksi-4”‟-hidroksilfenil)-
Farmaka
Suplemen Volume 16 Nomor 2 549

2”-okso-enabutanil 3-(3‟-metoksi-4‟- [6]. Kurkumin mempunyai efek pengham-


hidroksifenil) propenoat atau disebut se- batan pada aktivitas fosfolipase D [7].
bagai calebin A , 1,7-bis(4-hidroksi-3- Kurkumin dapat menghambat ekspresi
metoksifenil)-1,4,6-heptatriena-3-on,1- cyclo-oxygenase-2 (COX-2) [8].
hidroksi-1,7-bis(4 -hidroksifenil)-3-
Antioksidan
metoksifenil)-6-heptena-3,5-dion, 1,7-
bis(4-hidroksifenil)-1-heptena-3,5- Kurkumin menunjukkan aktivitas anti-
dion,1,7-bis(4-hidroksifenil)-1,4,6- oksidan yang efektif dalam sistem emulsi
heptatrien-3-on dan 1,5-bis(4-hidroksi-3- asam linoleat. Efek dari berbagai konsen-
metoksifenil)-1,4-pentadien-3-on [4]. trasi (15–45 g / mL) kurkumin pada peng-
hambatan peroksidasi lipid emulsi asam
linoleat telah ditemukan efek yang sebesar
97,3, 98,8 dan 99,2%. Kegiatan antioksi-
dan kurkumin lebih besar dari 45 g / mL
BHA (95,5%), tocophero (84,6%) dan
trolox (95,6%), tetapi efeknya mirip
dengan BHT (99,7%). Laporan terhadap
Struktur kimia kurkumin bahwa kurkumin menunjukkan aktivitas
antioksidan yang kuat dalam studi lain
Aktivitas Curcuma longa L. Anti- adalah sebanding dengan vitamin C dan
inflamasi vitamin E[9]. Autooksidasi emulsi asam
Dalam beberapa kasus studi in vitro dan linoleat yang tanpa kurkumin menunjuk-
hewan telah menunjukkan kemungkinan kan peningkatan kandungan peroksida
mekanisme antiinflamasi dari kurkumin. secara cepat. Akibatnya, hasil ini menun-
Kurkumin telah ditampilkan dapat meng- jukkan bahwa kurkumin memiliki aktivi-
hambat sejumlah molekul yang terlibat tas antioksidan yang efektif dan kuat.
dalam peradangan termasuk fosfolipase, Kurkumin mempunyai sifat antiinflamasi
lipooxigenase, COX-2, leukotrien, trom- dan antioksidan yang telah dibukti dan
boksan, prostaglandin, oksida nitrat, kola- mempunyai beberapa efek terapi[10].
genase, elastase, hyaluronidase, MCP-1, Kurkumin menghambat peroksidasi lipid
interferon-inducible protein, faktor pada berbagai studi model hewan. Kur-
nekrosis tumor, dan interleukin-12[5]. kumin adalah senyawa antioksidan yang
Kurkumin menurunkan kegiatan katalitik sangat larut dalam lemak. Jadi di dalam
fosfolipase A2 dan fosfolipase C g1, membran sel, kurkumin akan bereaksi
dengan demikian mengurangi pelepasan
asam arakhadonat dari selular fosfolipid
Farmaka
Suplemen Volume 16 Nomor 2 550

dengan radikal lipid dan menghasilkan Staph. epidermidis, Staph. aureus, A. hy-
radikal fenoksil[11]. drophila, B. subtilis, B. cereus, dan Ed.
tarda [14].
Antibakteri
Antivirus
Studi tentang sifat antibakteri pada ekstrak
air C. longa rimpang mendemonstrasikan Terdapat banyak studi tentang kurkumin
konsentrasi MIC (minimum inhibitory memiliki berbagai aktivitas antivirus ter-
concentration) dari 4 hingga 16 g / L dan hadap virus yang berbeda. Kurkumin
MBC (minimum bactericidal menunjukkan aktivitas antivirus terhadap
concentration) dari 16 hingga 32 g / L virus influenza PR8, H1N1, dan
terhadap S. epidermis ATCC 12228, H6N1[34]. Hasilnya menunjukkan lebih
Staph . aureus ATCC 25923, Klebsiella dari 90% pengurangan virus dalam kultur
pneumoniae ATCC 10031, dan E. coli dengan menggunakan 30 μM kurkumin
ATCC 25922[12]. Ekstrak metanol kunyit [34]. Kurkumin menunjukkan aktivitas
menunjukkan nilai MIC 16 μg / mL dan penghambatan terhadap ezim IMPDH baik
128 μg / mL terhadap Bacillus subtilis dan secara tidak kompetitif atau kompetitif
Staph. aureus masing-masing[13]. disarankan sebagai senyawa antiviral yang
Penelitian ekstrak heksana dan etanol kuat. Kecepatan aktivitas enzim inosin
kunyit dan kurkuminoid terhadap 24 tenis monofosfat dehidrogenase (IMPDH) da-
patogen bakteri yang diisolasi dari daging lam proses sintesis nukleotida guanin
ayam dan udang menunjukkan ekstrak mempunyai pembatasan, jadi enzim ini
etanol mempunyai aktivitas antimikroba disarankan sebagai target terapi untuk an-
yang tertinggi, yaitu dengan rentang MIC tivirus dan antikanker[15]. Studi terhadap
dari 3,91 hingga 125 ppt [14]. Ekstrak berbagai biokonjugasi yang dari kur-
heksana dan metanol C. longa menunjuk- kumin, yaitu kurkumin di-O-
kan efek antibakteri terhadap 13 bakteri, tryptophanylphenylalanine, kurkumin di-
yaitu antara Vibrio harveyi, V. alginolyti- O-decanoyl, kurkumin di-O-pamitoyl,
cus, V. vulnificus, V. parahaemolyticus, V. kurkumin di-O-bis- (γ, γ) folyl, kurkumin
cholerae, Bacillus subtilis, B. cereus, Aer- C4-ethyl-O -γ-folyl, dan kurkumin 4-O-
omonas hydrophila, Streptococcus agalac- ethyl-O-γ-folyl dapat menghambat
tiae, Staph. aureus, Staph. intermedius, berbagai virus termasuk virus parainfluen-
Staph. epidermidis, dan Edwardsiella tar- za tipe 3 (PIV-3), Feline
da. Kurkuminoids juga menimbulkan ak- Infectious Peritonitis Virus (FIPV), virus
tivitas penghambatan terhadap 8 bakteri, stomatitis vesikular (VSV), virus simpleks
yaitu Str. agalactiae, Staph. intermedius, herpes (HSV), feline herpesvirus (FHV),
Farmaka
Suplemen Volume 16 Nomor 2 551

dan virus sinsitium pernafasan (RSV) menunjukkan efek antijamur terhadap dua
yang telah dinilai dengan uji MTT dan jamur fitofagus, yaitu, Fusarium solani
menunjukkan aktivitas antivirus yang kuat dan Helminthosporium oryzae. Minyak
dari kurkumin dan biokonjugasinya ter- kunyit menunjukkan aktivitas antijamur
hadap patogen virus. Selain itu, kurkumin yang paling efektif terhadap F. solani dan
di-O tryptophanylphenylalanine dan kur- H. oryzae dengan IC50 19.73 dan 12.7 μg
kumin di-O-decanoyl mengungkapkan ak- / mL masing-masing [18]. Ekstrak meta-
tivitas antivirus yang luar biasa terhadap nol C. longa memiliki efek penghambatan
VSV dan FIPV / FHV dengan nilai EC50 terhadap beberapa isolat dermatofita.
masing-masing yaitu 0,011 μM dan 0,029 Bahwa minyak atsiri yang baru didestilasi
μM[16]. dan diisolasi dari rimpang C. longa selama
18 bulan menunjukkan efek antijamur
Antifungi
yang paling kuat terhadap 29 isolat
Studi terhadap penambahan bubuk kunyit dermatofit dengan nilai MIC 7,2 dan 7,8
ke dalam kultur jaringan tanaman telah mg / mL masing-masing [19].
menunjukkan bahwa konsentrasi kunyit Trichophyton rubrum, T. mentagrophytes,
pada 0,8 dan 1,0 g / L memiliki aktivitas Epidermophyton floccosum, dan
penghambatan yang cukup besar terhadap Microsporum gypseum dihambat oleh
kontaminasi jamur [17]. Ekstrak metanol pengenceran minyak kunyit dengan per-
kunyit menunjukkan aktivitas antijamur bandingan 1: 40–1: 320.
terhadap Cryptococcus neoformans dan
Antimalaria
Candida albicans dengan nilai MIC 128
dan 256 μg / mL masing-masing [13]. Kurkumin menghambat pertumbuhan P.
Studi tentang ekstrak heksana C. longa falciparum bergantung pada
pada 1000 mg / L menunjukkan efek anti- konsentrasinya, yaitu IC50 dari 5–18
jamur terhadap Rhizoctonia solani, Phy- µM[20,21]. Peningkatan dosis kurkumin
tophthora infestans, dan Erysiphe grami- dapat menurunan viabilitas P. falciparum.
nis. Selain itu, 1000 mg / L ekstrak etil Dalam percobaan aktivitas antimalaria
asetat C. longa mempunyai efek peng- kurkumin dengan menggunakan tikus
hambatan terhadap R. solani, P. infestans, yang diinfeksi oleh P. berghei dan dijui
Puccinia recondita, dan Botrytis cinerea. secara in vivo , kurkumin memiliki efek
Kurkumin pada konsentrasi 500 mg / L penghambatan terhadap P. falciparum
juga menunjukkan aktivitas antijamur ter- yang signifikan. Pemberian kurkumin
hadap R. solani, Pu. rekondita, dan P. in- kepada tikus yang diinfeksi oleh P.
festans [17]. Kurkumin dan minyak kunyit berghei secara oral menunjukkan
Farmaka
Suplemen Volume 16 Nomor 2 552

penurunan parasitemia sebesar 80–90% Sifat antioksidan dan aktivitas pengham-


dan meningkatkan kelangsungan hidup batan radikal bebas dari kurkumin me-
mereka secara signifikan. Kurkumin mainkan peran yang penting dalam efek
mampu menunda kematian hewan sekitar penghambatan senyawa pada tahap awal
10 hari, mencegah malaria serebral, kom- karsinogenesis. Bahwa kurkumin memiliki
plikasi neurologis yang paling parah dan kemampuan untuk menghambat mutagen-
fatal yang cepat dari penyakit ini esis DNA yang diinduksi oleh sinar UV
[22,23,24,25]. [28]. Selain efek penghambatan produksi
nitrat oksida (NO) dan mampu mengais
Penyakit yang berhubungan dengan
radikal superoksida yang merusak DNA,
hepatoprotektor
kurkumin juga mempengaruhi aktivitas
• Lambung
fase I dan fase II enzim sitokrom p450 da-
Kandungan mucin pada cairan lambung lam sistem enzim hati yang terlibat dalam
kelinci yang digunakan untuk melindungi oksidasi dan detoksifikasi zat beracun.
lapisan mukosa lambung terhadap iritasi Kurkumin telah terbukti menghambat en-
dapat ditingkatkan oleh serbuk C. longa . zim fase I (termasuk isoform sitokrom
Kurkumin mempunyai aktivitas protektif p450 dan reduktase p450) yang diinduksi
terhadap perlukaan lambung yang di- sebagai respons terhadap paparan toksin
induksi oleh histamin. Batasan pemberian dan menciptakan sejumlah metabolit yang
serbuk C. longa secara oral adalah 100 karsinogenik [29]. Sebaliknya, kurkumin
mg/kg berat badan per hari selama 6 hari menginduksi enzim fase II yang terlibat
[26]. dalam detoksifikasi metabolit yang
beracun (termasuk glutathione S-
• Empedu
transferase, glutathione peroxidase dan
Penelitian terhadap pengaruhan natrium glutathione reductase) [30]. Efek peng-
kurkuminat pada sekresi empedu dari salu- hambatan kurkumin pada karsinogenesis
ran empedu terkanulasi pada anjing yang telah ditunjukkan pada beberapa studi dari
telah dibius menunjukkan natrium kur- berbagai jenis tumor termasuk kanker
kuminat menyebabkan penyembuhan mulut dan tumor usus[30].
sebesar 100% pada pemberian 25 mg/kg
secara intra vena.[27].

Farmakokinetik
Anticarsinogen
Farmaka
Suplemen Volume 16 Nomor 2 553

Sukarelawan yang sehat mengkonsumsi 2 Daftar Pustaka


g bubuk kurkumin setelah puasa menun-
1. P. K. Lai and J. Roy, “Antimicrobial
jukkan kurang dari 10 ng / mL kurkumin and chemopreventive properties of
di dalam plasma mereka setelah 1 jam herbs and spices,” Current Medicinal
Chemistry, vol. 11, no. 11, pp. 1451–
postdosis[31]. Kurkumin dikonsum ber- 1460, 2004.
sama dengan 20 mg piperin meningkatkan 2. R. K. Maheshwari, A. K. Singh, J.
Gaddipati, and R. C. Srimal, “Multi-
bioavailabilitas kurkumin sebanyak ple biological activities of curcumin: a
2000%. Konsentrasi kurkumin dalam short review,” Life Sciences, vol. 78,
no. 18, pp. 2081–2087, 2006
plasma telah ditemukan mencapai puncak
3. H. Hayakawa, Y. Minanyia, K. Ito, Y.
setelah 1-2 jam asupan dan menurun
Yamamoto, and T. Fukuda, “Differ-
secara bertahap dalam waktu 12 jam [32]. ence of curcumin content in Curcuma
longa L., (Zingiberaceae) caused by
Dosis 8-g / hari menghasilkan konsentrasi
Hybridization with oth-
serum yang tertinggi, yaitu 1,75 ± 0,80 er Curcuma species,” American Jour-
nal of Plant Sciences, vol. 2, no. 2,
M.[33].
pp. 111–119, 2011.
Simpulan 4. P. Anand, H. B. Nair, B. Sung et al.,
“Design of curcumin-loaded PLGA
Kesimpulannya, diperoleh bahwa kur- nanoparticles formulation with en-
hanced cellular uptake, and increased
kumin mempunyai aktivitas farmakologi bioactivity in vitro and superior bioa-
yang berefek serta bervariasi dari literatur vailability in vivo,” Biochemical
Pharmacology, vol. 79, no. 3, pp.
yang ditelaah. 330–338, 2010.

Ucapan Terima Kasih 5. Liebert, M. A. Safety and Anti-


Inflammatory Activity of Curcumin:
Penulis mengucapkan terima kasih kepa- A Component of Tumeric (Curcuma
longa). The Journal of Altermative
da : and Complementary Medicine. Vol-
ume 9, Number 1, 2003, pp. 161–168.
- Dr. Yoppi Iskandar, M.Si., Apt. sebagai 6. Rao CV, Rivenson A, Simi B, Reddy
dosen pembimbing yang telah memban- BS. Chemoprevention of colon car-
cinogenesis by dietary curcumin, a
tu penulis dalam pemilihan tema dan naturally occuring plant phenolic
materi serta selama proses pengerjaan compound. Cancer Res .1995;55:259–
266.
review jurnal ini
7. Yamamoto H, Hanada K, Kawasaki
- Bapak Rizky Abdullah, PhD., Apt se- K, Nishijima M. Inhibitory effect of
curcumin on mammalian Phospho-
bagai dosen pengampuh mata kuliah lipase D activity. FEBS Lett.
Metodologi Penelitian yang telah mem- 1997;417:196–198.
beri peluang penulis untuk mempub- 8. Goel A, Boland CR, Chauhan DP.
Specific inhibition of cyclooxygen-
likasi review jurnal ini.
ase-2 (COX-2) expression by dietary
Farmaka
Suplemen Volume 16 Nomor 2 554

cur- cumin in HT-29 human colon 16. R. K. Singh, D. Rai, D. Yadav, A.


cancer cells. Cancer Lett. Bhargava, J. Balzarini, and E. De
2001;172:111–118 Clercq, “Synthesis, antibacterial and
antiviral properties of curcumin bio-
9. S. Toda, T. Miyase, H. Arichi, et al., conjugates bearing dipeptide, fatty ac-
Natural antioxidant. III. Antioxidative ids and folic acid,” European Journal
components isolated from rhizome of of Medicinal Chemistry, vol. 45, no.
Curcuma Longa L., Chem. Pharm. 3, pp. 1078–1086, 2010.
Bull. 33 (1985) 1725–1728.
17. M.-K. Kim, G.-J. Choi, and H.-S. Lee,
10. A.C. Reddy, B.R. Lokesh, Studies on “Fungicidal property of Curcuma lon-
the inhibitory effects of curcumin and ga L. rhizome-derived curcumin
eugenol on the formation of reactive against phytopathogenic fungi in a
oxygen species and the oxidation of greenhouse,” Journal of Agricultural
ferrous iron, Mol. Cell. Biochem. 137 and Food Chemistry, vol. 51, no. 6,
(1994) 1–8. pp. 1578–1581, 2003.
11. N. Sreejayan, M.N. Rao, Curcumi- 18. H. Chowdhury, T. Banerjee, and S.
noids as potent inhibitors of lipid pe- Walia, “In vitro screening of Curcuma
roxidation, J. Pharm. Pharmacol. 46 longa L and its derivatives sa antifun-
(1994) 1013–1016 gal agents against Helminthosporrum
oryzae and Fusarium sola-
12. N. Niamsa and C. Sittiwet, “Antimi-
ni,” Pesticide Research Journal, vol.
crobial activity of Curcuma lon-
20, no. 1, pp. 6–9, 2008.
ga aqueous extract,” Journal of
Pharmacology and Toxicology, vol. 4, 19. M. Wuthi-udomlert, W. Grisanapan,
no. 4, pp. 173–177, 2009. O. Luanratana, and W. Caichompoo,
“Antifungal activity of Curcuma lon-
13. S. Ungphaiboon, T. Supavita, P.
ga grown in Thailand,” The Southeast
Singchangchai, S. Sungkarak, P. Rat-
Asian Journal of Tropical Medicine
tanasuwan, and A. Itharat, “Study on
and Public Health, vol. 31, no. 1, pp.
antioxidant and antimicrobial activi-
178–182, 2000.
ties of turmeric clear liquid soap for
wound treatment of HIV pa- 20. Reddy R.C., Vatsala P.G.,
tients,” Songklanakarin Journal of Keshamouni V.G., Padmanaban G.,
Science and Technology, vol. 27, no. Rangarajan P.N. Curcumin for malar-
2, pp. 269–578, 2005. ia therapy. Biochem. Biophys. Res.
Commun. 2005;326:472–474. doi:
14. O.A. Lawhavinit, N. Kongkathip, and
10.1016/j.bbrc.2004.11.051.
B. Kongkathip, “Antimicrobial activi-
ty of curcuminoids from Curcuma 21. Nandakumar D.N., Nagaraj V.A.,
longa L. on pathogenic bacteria of Vathsala P.G., Rangarajan P., Pad-
shrimp and chicken,” Kasetsart Jour- manaban G. Curcumin-artemisinin
nal—Natural Science, vol. 44, no. 3, combination therapy for malar-
pp. 364–371, 2010. ia. Antimicrob. Agents Chemoth-
er. 2006;50:1859–1860. doi:
15. I. Dairaku, Y. Han, N. Yanaka, and N.
10.1128/AAC.50.5.1859-1860.2006.
Kato, “Inhibitory effect of curcumin
on IMP dehydrogenase, the target for 22. Waknine-Grinberg J.H., McQuillan
anticancer and antiviral chemotherapy J.A., Hunt N., Ginsburg H., Golenser
agents,” Bioscience, Biotechnology J. Modulation of cerebral malaria by
and Biochemistry, vol. 74, no. 1, pp. fasudil and other immune-modifying
185–187, 2010. compounds. Exp. Parasi-
Farmaka
Suplemen Volume 16 Nomor 2 555

tol. 2010;125:141–146.doi: 29. Thapliyal R, Maru GB. Inhibition of


10.1016/j.exppara.2010.01.005. cytochrome p450 isoenzymes by cur-
cumins in vitro and in vivo. Food
23. Vathsala P.G., Dende C., Nagaraj Chem Toxicol. 2001;39:541–547. doi:
V.A., Bhattacharya D., Das G., 10.1016/S0278-6915(00)00165-
Rangarajan P.N., Padmanaban G.
Curcumin-arteether combination ther- 30. Iqbal M, Sharma SD, Okazaki Y, Fu-
apy of Plasmodium berghei-infected jisawa M, Okada S. Dietary supple-
mice prevents recrudescence through mentation of curcumin enhances anti-
immunomodulation. PLoS oxidant and phase II metabolizing en-
ONE. 2012;7:e29442 doi: zymes in ddY male mice: possible
10.1371/journal.pone.0029442. role in protection against chemical
carcinogenesis and toxici-
24. Mimche P.N., Taramelli D., Vivas L. ty. Pharmacol Toxicol. 2003;92:33–
The plant-based immunomodulator 38. doi: 10.1034/j.1600-
curcumin as a potential candidate for 0773.2003.920106.
the development of an adjunctive
therapy for cerebral malaria. Malar. 31. G. Shoba, D. Joy, T. Joseph, M.
J. 2011;10:S10. doi: 10.1186/1475- Majeed, R. Rajendran, and P. S. S. R.
2875-10-S1-S10. Srinivas, Influence of piperine on the
pharmacokinetics of curcumin in an-
25. Jain K., Sood S., Gowthamarajan K. imals and human volunteers. Planta
Modulation of cerebral malaria by Med 64, 353–356 (1998).
curcumin as an adjunctive thera-
py. Braz. J. Infect. Dis. 2013;17:579– 32. L. Cheng, C, H. Hsu, J. K. Lin, et al.,
591. doi: 10.1016/j.bjid.2013.03.004. Phase I clinical trial of curcumin, a
chemopreventive agent, in patients
26. Prasad, D.N., Gupta, B., Srivastava, with high-risk or pre-malignant le-
R.K., Setyavati, G. V. 1976. Effect of sions. Anticancer Res. 21, 2895–2900
high does of curcumin, Indian J. (2001).
Phisiol. Pharmacol. 20, p. 92
33. M. T. Ruffin, D. P. Normolle, D. D.
27. Ramprasad C, Sirsi M. Studies Heath, J. M. Bailey, S. I. Murray, M.
on Indian medicinal plants: Curcuma E. Boggs, J. A. Crowell, C. L. Rock,
longa Linn—Effect of curcumin and and D. E. Brenner, Dose escalation of
the essential oil of C.longa on bile se- curcumin in healthy adults. Cancer
cretion. J Sci IndRes.16C:108-110 Epidemiol Biomarkers Prev 12(Pt 2
(1957) Suppl S), 1324S–1324S (2003).
28. Oda Y. Inhibitory effect of curcumin 34. D.-Y. Chen, J.-H. Shien, L. Tiley et
on SOS functions induced by UV ir- al., “Curcumin inhibits influenza virus
radiation. Mutat Res. 1995;348:67– infection and haemagglutination ac-
73. doi: 10.1016/0165- tivity,” Food Chemistry, vol. 119, no.
7992(95)00048-8. 4, pp. 1346–1351, 2010.