Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

KONSEP LANJUT USIA


DI PANTI LANJUT USIA HARAPAN KITA INDRALAYA

OLEH :
MIA AUDINA, S.Kep
04064881820018

DOSEN PEMBIMBING
JAJI, S.Kep., Ns., M.Kep

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Lanjut usia adalah bagian dari proses tumbuh kembang. Manusia tidak
secara tiba-tiba menjadi tua, tetapi berkembang dari bayi, anak-anak, dewasa
dan akhirnya menjadi tua. Hal ini normal, dengan perubahan fisik dan tingkah
laku yang dapat diramalkan yang terjadi pada semua orang pada saat mereka
mencapai usia tahap perkembangan kronologis tertentu.
Lansia merupakan suatu proses alami yang ditentukan oleh Tuhan
Yang Maha Esa. Semua orang akan mengalami proses menjadi tua dan masa
tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir. Dimana seseorang
mengalami kemunduran fisik, mental dan sosial scara bertahap (Lilik
Ma’rifatul azizah, 2011).
Katarak merupakan penyakit pada usia lanjut akibat proses penuaan,
saat kelahiran (katarak kongenital) dan dapat juga berhubungan dengan trauma
mata tajam maupun tumpul, penggunaan kortikosteroid dalam jangka
panjang, adanya penyakit sistemik seperti diabetes atau hipoparatiroidisme
(Tamsuri, 2010).
Pembentukan katarak ditandai adanya sembab lensa, perubahan
protein, nekrosis, dan terganggunya keseimbangan normal serabut-serabut
lensa. Kekeruhan lensa ini juga mengakibatkan lensa transparan sehingga
pupil akan berwarna putih atau abu-abu, yang mana dapat ditemukan pada
berbagai lokalisasi di lensa seperti korteks dan nukleus. Katarak dapat
mengakibatkan bermacam-macam komplikasi pada penyakit mata seperti
glaukoma ablasio, uveitis, retinitis pigmentosa, dan kebutaan (Ilyas, 2010).
Menurut Revves (2004), Gout Artritis adalah asymmetric
(monoarticular) yang berhubungan dengan hyperurisemia, peradangan ini
biasanya mempengaruhi persendian perifer, yang disebabkan oleh deposisi
crystal urate monosodium.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk memahami tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan Gout
Artritis dan Katarak
2. Tujuan Khusus:
a) Untuk mengetahui tentang konsep dasar teori penyakit Gout Artritis
b) Untuk mengetahui tentang konsep dasar teori penyakit Katarak
c) Memberikan asuhan keperawatan pada klien lanjut usia dengan
penyakit Gout Artritis dan Katarak yang meliputi pengkajian sampai
intervensi dan rasionalisasi

C. Manfaat
1. Menambah pengetahuan dan keterampilan dalam menerapkan asuhan
keperawatan pada pasien dengan Gout Artritis dan Katarak
2. Memberi masukan dan menambah wawasan bagi mahasiswa tentang yang
berhubungan dengan penyakit Gout Artritis dan Katarak
BAB II
KONSEP TEORI

I. Konsep Dasar Teori Lanjut Usia


I. Definisi Lanjut Usia
Menurut Azizah (2011), lanjut usia adalah bagian dari proses
tumbuh kembang, manusia tidak secara tiba-tiba menjadi tua, akan tetapi
berkembang dari bayi, anak-anak, dewasa dan akhirnya menjadi tua. Hal
tersebut normal, dengan perubahan fisik dan tingkah laku yang dapat
diramalkan dan terjadi pada semua orang pada saat mereka mencapai
usia tahap perkembangan kronologis tertentu.
Lanjut usia adalah proses menghilangnya kemampuan jaringan
untuk meregenerasi sel-sel di dalam tubuh yang akan menimbulkan
masalah fisik, mental, sosial, ekonomi bahkan psikologis. Lanjut usia
terjadi secara alamiah dan tidak dapat dihindari oleh manusia
(Mujahidullah, 2012).
Pada usia lanjut, terjadi proses menua atau proses yang bersifat
regresif dan merupakan proses yang bersifat fisik, mental, dan sosial.
Proses menua adalah suatu proses alami pada semua makhluk hidup
(Setiawan, 2013). Laslett dikutip Setiawan (2013) menyatakan bahwa
menjadi tua merupakan proses perubahan biologis secara terus-menerus
yang dialami manusia pada semua tingkatan umur dan waktu.

II. Batasan Lanjut Usia


Menurut WHO (1999, dikutip Azizah, 2011) menggolongkan lanjut
usia berdasarkan usia biologis menjadi 4 kelompok yaitu:
a. Usia pertengahan (middle age) antara usia 45 sampai 59 tahun
b. Lanjut usia (elderly) berusia antara 60 sampai 74 tahun
c. Lanjut usia tua (old) berusia 75 sampai 90 tahun
d. Usia sangat tua (very old) berusia lebih dari 90 tahun.
III. Proses Menua (Aging Process)
Penuaan adalah proses menghilangnya kemampuan jaringan
memperbaiki diri/mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak
dapat bertahan akibat infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita.
Seiring dengan proses 10 menua, tubuh akan mengalami berbagai
masalah kesehatan yang biasa disebut sebagai penyakit degeneratif
(Maryam, dkk., 2008).

IV. Ciri-ciri Lanjut Usia


Menurut Reimer, et. al dikutip Azizah (2011), karakteristik sosial
masyarakat yang menganggap bahwa orang lebih tua jika menunjukkan
ciri fisik seperti rambut beruban, kerutan kulit dan hilangnya gigi.
Kriteria simbolik seseorang dianggap tua ketika cucu pertamanya lahir,
sedangkan dalam masyarakat kepulauan pasifik, seseorang dianggap tua
ketika ia berfungsi sebagai kepala dari garis keturunan keluarganya
(Setiawan, 2013).
Menurut Kuntjoro dikutip Azizah (2011), ada enam tipe
kepribadian pada lanjut usia, yaitu:
1. Tipe kepribadian konstruktif
Individu ini memiliki integritas baik, menikmati hidupnya, toleransi
tinggi dan fleksibel. Tipe kepribadian ini hanya mengalami sedikit
gejolak, tenang dan mantap sampai sangat tua.
2. Tipe kepribadian mandiri
Ada kecenderungan mengalami post power sindrome, apalagi jika
pada masa lansia tidak diisi dengan kegiatan yang dapat
memberikan otonomi.
3. Tipe kepribadian tergantung
Tipe ini biasanya dipengaruhi dengan kehidupan keluarga, apabila
kehidupan keluarga selalu harmonis, maka pada masa lansia
tidak bergejolak. Tipe ini pada saat mengalami pensiun biasanya
tidak mempunyai inisiatif, pasif tetapi masih tahu diri dan dapat
diterima masyarakat.
4. Tipe kepribadian bermusuhan
Lanjut usia pada tipe ini setelah memasuki lansia tetap merasa
tidak puas dengan kehidupannya, banyak keinginan yang tidak
diperhitungkan sehingga menyebabkan kegagalan, selalu mengeluh
dan curiga.
5. Tipe kepribadian defensif
Tipe ini selalu menolak bantuan, emosinya tidak terkontrol, bersifat
kompulsif aktif. Mereka takut menjadi tua dan tidak menyenangi
masa pensiun.
6. Tipe kepribadian kritik diri
Pada lansia tipe ini umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya
sendiri sulit dibantu orang lain atau cenderung membuat susah
dirinya. Selalu menyalahkan diri, tidak memiliki ambisi dan merasa
korban dari keadaan.

V. Teori Proses Menua


Ada beberapa teori yang berkaitan dengan proses penuaan, yaitu
teori biologi, teori psikologis, teori sosial, dan teori spiritual (Maryam,
dkk., 2008).
a. Teori Biologis
Teori biologis menjelaskan tentang proses perubahan fungsi,
lamanya usia dan kematian seseorang. Teori biologis mencakup
teori genetik, teori cross-linkage (rantai silang), teori radikal bebas,
teori immunologi, teori stress-adaptasi, teori wear and tear
(pemakaian dan rusak).
b. Teori Psikologi
Pada teori ini menjelaskan mengenai perubahan psikologis yang
terjadi dapat dihubungkan dengan keakuratan mental dan keadaan
fungsional yang efektif. Penurunan dari intelektualitas yang meliputi
persepsi, kemampuan kognitif, memori dan belajar pada usia lanjut
menyebabkan mereka sulit untuk dipahami dan berinteraksi.
c. Teori Sosial
Teori ini menjelaskan mengenai beberapa teori sosial yang berkaitan
dengan proses penuaan, yaitu teori stratifikasi usia (age
stratification theory), teori aktivitas (activity theory), teori
kesinambungan (continuity theory), teori perkembangan
(development theory), teori interaksi sosial (social exchange theory)
dan teori penarikan diri (disengagement theory).
d. Teori Spiritual
Pada teori ini menjelaskan mengenai komponen tumbuh kembang
dan spiritual kembang merujuk pada pengertian hubungan alam
semesta, persepsi dan individu tentang arti kehidupan.

VI. Perubahan Fisiologis Pada Lanjut Usia


Seseorang yang mengalami lanjut usia akan mengalami beberapa
perubahan fisiologis (Mujahidullah, 2012), yaitu:
a. Perubahan Fisik
1) Sel
Jumlah lebih sedikit, ukuran lebih besar, mekanisme perbaikan
sel terganggu, menurunnya proporsi protein di otak, darah, otot,
ginjal dan hati.
2) Sistem Persyarafan
Lambat dalam respons dan waktu untuk bereaksi, mengecilnya
saraf panca indera, kurang sensitif terhadap sentuhan, hubungan
persyarafan menurun.
3) Sistem Pendengaran
Gangguan pendengaran atau presbiakusis, terjadi penumpukan
seruman dan mengeras, hilang kemampuan pendengaran pada
telinga dalam terutama terhadap bunyi suara atau nada yang
tidak jelas dan tinggi dan sulit mengerti kata-kata.
4) Sistem Penglihatan
Spingter pupil timbul sklerosis, hilang respons terhadap sinar,
kornea lebih berbentuk sferis (bola), kekeruhan pada lensa dan
menurunnya lapang pandang.
5) Sistem Kardiovaskuler
Menurunnya elastisitas dinding aorta, kemampuan jantung
memompa darah menurun 1% pertahun, katub jantung menebal
dan menjadi kaku, tekanan darah meningkat dan kehilangan
elastisitas pembuluh darah.
6) Sistem Pengaturan Suhu Tubuh
Temperatur tubuh menurun secara fisiologis, keterbatasan
reflek menggigit dan tidak dapat memproduksi panas yang
banyak sehingga terjadi penurunan aktivitas otot.
7) Sistem Respirasi
Menurunnya aktivitas dari silia-silia paru-paru dan kehilangan
elastisitas kekuatan otot pernafasan, menurunkan O2 pada arteri
menjadi 75 mmHg, alveoli ukurannya melebar, menurunnya
batuk.
8) Sistem Gastrointestinal
Terjadi penurunan selera makan dan rasa haus, asupan makanan
dan kalori, mudah terjadi konstipasi, terjadi penurunan produksi
saliva, karies gigi, pertambahan waktu pengosongan lambung
dan gerak peristaltik usus.
9) Sistem Muskuloskeletal
Tulang makin rapuh dan kehilangan cairan, tafosis, tubuh
menjadi lebih pendek, persendian kaku dan membesar, tendon
mengerut dan sklerosis, atrofi serabut otot, pembengkakan
persendian dan pembengkakan akibat penumpukan kristal asam
urat.
b. Perubahan Psikososial
Seorang lansia akan mengalami penurunan produktivitas dan
identitas dalam pekerjaannya. Pada lansia akan mengalami
kehilangan-kehilangan seperti berikut:
1) Kehilangan finansial (income berkurang).
2) Kehilangan status.
3) Kehilangan teman/kenalan/relasi.
4) Kehilangan pekerjaan/kegiatan.
5) Merasakan atau sadar akan kematian (sense of awareness of
mortality).
6) Perubahan dalam hidup, yaitu memasuki rumah perawatan
bergerak lebih sempit.
7) Ekonomi akibat pemberhentian dari jabatan. Meningkatnya
biaya hidup pada penghasilan yang sulit, bertambahnya biaya
pengobatan.
8) Penyakit kronis dan ketidakmampuan.
9) Gangguan syaraf panca indra, timbul kebutaan dan ketulian.
10) Gangguan gizi akibat kehilangan jabatan.
11) Kehilangan hubungan dengan teman-teman dan keluarga besar.
12) Kehilangan kekuatan dan ketegangan fisik, perubahan terhadap
gambaran diri dan perubahan konsep diri.
c. Perubahan Spiritual
1) Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam
kehidupannya.
2) Lansia makin teratur dalam kehidupan keagamaan, hal ini
terlihat dalam bertindak dan berpikir dalam sehari-hari.
3) Perkembangan spiritual pada usia 70 tahun adalah
universalizing, perkembangan yang telah dicapai adalah
bertindak dan berpikir dengan cara memberikan contoh cara
mencintai dan keadilan.
d. Perubahan Mental
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental adalah:
1) Perubahan fisik, terutama pada organ perasa
2) Kesehatan umum
3) Hereditas (keturunan)
4) Lingkungan
5) Tingkat pendidikan
e. Perubahan Intelegensia Quantion (IQ)
Intelegensia Dasar (Fluid intelligence) yang berarti penurunan
fungsi otak bagian kanan yang antara lain berupa pemecahan
masalah, kesulitan dalam komunikasi nonverbal, mengenal wajah
orang, kesulitan dalam pemusatan konsentrasi dan perhatian.
f. Perubahan Ingatan (Memory)
Secara fisiologis, ingatan tertentu hanya berlangsung beberapa detik,
dan yang lainnya berlangsung beberapa jam, hari, minggu, bulan
atau bahkan bertahun-tahun. Untuk itu ingatan (memory) dapat
diklasifikasikan menjadi 3 yaitu ingatan jangka pendek, ingatan
jangka menengah dan ingatan jangka panjang.

VII. Pemeriksaan Penunjang


Menurut Stanley dan Patricia, 2011 Pemeriksaan laboatorium rutin yang
perlu diperiksa pada pasien lansia untuk mendeteki dini gangguan
kesehatan yang sering dijumpai pada pasien lansia yang belum diketahui
adanya gangguan / penyakit tertentu (penyakit degeneratif) yaitu :
a. Pemerikasaan hematologi rutin
b. Urin rutin
c. Glukosa
d. Profil lipid
e. Alkalin pospat
f. Fungsi hati
g. Fungsi ginjal
h. Fungsi tiroid
i. Pemeriksaan feses rutin.

II. Konsep Teori Asuhan Keperawatan Pada Lansia


A. Pengkajian
Perawat mengkaji perubahan pada perkembanga fisiologis, kognitif
dan perilaku sosial pada lansia
1. Perubahan fisiologis
Perubahan fisik penuaan normal yang perlu dikaji:
Sistem Temuan Normal
Integumen Warna kulit Pigmentasi berbintik/bernoda diarea yang terpajan
sinar matahari, pucat meskipun tidak anemia
Kelembaban Kering, kondisi bersisik
Suhu Ekstremitas lebih dingin, penurunan perspirasi
Tekstur Penurunan elastisitas, kerutan, kondisi berlipat,
kendur
Distribusi Penurunan jumlah lemak pada ekstremitas,
lemak peningkatan jumlah diabdomen
Rambut Penipisan rambut
Kuku Penurunan laju pertumbuhan
Kepala dan Kepala Tulang nasal, wajah menajam, & angular
leher
Mata Penurunan ketajaman penglihatan, akomodasi,
adaptasi dalam gelap, sensivitas terhadpa cahaya
telinga Penurunan menbedakan nada, berkurangnya reflek
ringan, pendengaran kurang
Mulut, Faring Penurunan pengecapan, aropi papilla ujung lateral
lidah
Leher Kelenjar tiroid nodular
Thoraxs & Peningkatan diameter antero-posterior, peningkatan
paru-paru rigitas dada, peningkatan RR dengan penurunan
ekspansi paru, peningkatan resistensi jalan nafas
Sist jantung Peningkatan sistolik, perubahan DJJ saat istirahat,
& vascular nadi perifer mudah dipalpasi, ekstremitas bawah
dingin
Payudara Berkurangnnya jaringan payudara, kondisi
menggantung dan mengendur
Sistem Penurunan sekresi keljar saliva, peristatik, enzim
pencernaan digestif, konstppasi
Sistem Wanita Penurunan estrogen, ukuran uterus, atropi vagina
reproduksi
Pria Penurunan testosteron, jumlah sperma, testis
Sist Penurunan filtrasi renal, nokturia, penurunan kapasitas
perkemihan kandung kemih, inkontenensia
Wanita Inkontenensia urgensi & stress, penurunan tonus otot
perineal
Pria Sering berkemih & retensi urine.
Sist Penurunan masa & kekuatan otot, demineralisasi
muskoloskele tulang, pemendekan fosa karena penyempitan rongga
tal intravertebral, penurunan mobilitas sendi, rentang
gerak
Sist Penurunan laju reflek, penurunan kemampuan
neurologi berespon terhadap stimulus ganda, insomia.
2. Pengkajian status fungsional
Pengkajian status fungsional adalah suatu pengukuran
kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari
– hari secara mandiri.Indeks Katz adalah alat yang secara luas
digunakan untuk menentukan hasil tindakan dan prognosis pada
lansia dan penyakit kronis. Format ini menggambarkan tingkat
fungsional klien dan mengukur efek tindakan yang diharapkan untuk
memperbaiki fungsi. Indeks ini merentang kekuatan pelaksanaan
dalam 6 fungsi: mandi, berpakaian, toileting, berpindah, kontinen
dan makan.
Tingkat Kemandirian Lansia:
A: kemandirian dalam hal makan, kontinen, berpindah, ke kamar
mandi, berpakaian dan mandi
B: kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari – hari,
kecuali satu dari fungsi tambahan
C: kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari – hari,
kecuali mandi dan satu fungsi tambahan
D: kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari – hari,
kecuali mandi, berpakaian dan satu fungsi tambahan
E: kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari – hari,
kecuali mandi, berpakaian, ke kamar kecil dan satu fungsi
tambahan
F: kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari – hari,
kecuali mandi, berpakaian, ke kamar kecil
G: Ketergantungan pada keenam fungsi tersebut.
3. Perubahan Kognitif
Kebanyakan trauma psikologis dan emosi pada masa lanisa muncul
akibat kesalahan konsep karena lansia mengalami kerusakan
kognitif. Akan tetapi perubahan struktur dan fisiologi yang terjadi
pada otak selama penuaan tidak mempengaruhi kemampuan adaptif
& fungsi secara nyata (ebersole &hess, 1994).
Pengkajian status kognitif
a) SPMSQ (short portable mental status quetionnaire)
Digunakan untuk mendeteksi adanya dan tingkat kerusakan
intelektual terdiri dari 10 hal yang menilai orientasi, memori
dalam hubungan dengan kemampuan perawatan diri, memori
jauh dan kemam[uan matematis.
b) MMSE (mini mental state exam)
Menguji aspek kognitif dari fungsi mental, orientasi,
registrasi,perhatian dank kalkulasi, mengingat kembali dan
bahasa. Nilai kemungkinan paliong tinggi adalaha 30, dengan
nialu 21 atau kurang biasanya indikasi adanya kerusakan
kognitif yang memerlukan penyelidikan leboh lanjut.
c) Inventaris Depresi Bec
Berisi 13 hal yang menggambarkan berbagai gejal dan sikap
yang behubungan dengan depresi. Setiap hal direntang dengan
menggunakan skala 4 poin untuk menandakan intensitas gejala
4. Perubahan psikososial
Lansia harus beradaptasi pada perubahan psikososial yang terjadi
pada penuaan. Meskipun perubahan tersebut bervariasi, tetapi
beberapa perubahan biasa terjadi pada mayoritas lansia.
5. Pengkajian Sosial
Hubungan lansia dengan keluarga memerankan peran sentral pada
seluruh tingkat kesehatan dan kesejahteraan lansia. Alat skrining
singkat yang dapat digunakan untuk mengkaji fungsi social lansia
adalah APGAR Keluarga. Instrument disesuaikan untuk digunakan
pada klien yang mempunyai hubungan social lebih intim dengan
teman-temannya atau dengan keluarga. Nilai < 3 menandakan
disfungsi keluarga sangat tinggi, nilai 4 – 6 disfungsi keluarga
sedang.
A: Adaptation
P: Partnership
G: Growth
A: Affection
R : Resolve
6. Keamanan Rumah
Perawat wajib mengobservasi lingkungan rumah lansia untuk
menjamin tidak adanya bahaya yang akan menempatkan lansia
pada resiko cidera. Faktor lingkungan yang harus diperhatikan:
a) Penerangan adekuat di tangga, jalan masuk & pada malam hari
b) Jalan bersih
c) Pengaturan dapur dan kamar mandi tepat
d) Alas kaki stabil dan anti slip
e) Kain anti licin atau keset
f) Pegangan kokoh pada tangga atau kamar mandi.

B. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul


Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul menurut NANDA (2011)
1) Defisit perawatan diri: berpakaian, makan, eliminasi
2) Gangguan sensori persepsi (tipe penglihatan, pendengaran, taktil,
olfaktori)
3) Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
4) Defisit pengetahuan berhubungan dengan keterbetasan kognitif,
salah interpretasi, kurang minat dalam belajar, kurang dapat
mengingat, tidak familier dengan sumber informasi
5) Resiko cedera
6) Hambatan interaksi sosial
7) Kerusakan memori.
Pathway Proses Menua
Proses Menua

Fase 1 subklinik Fase 2 transisi Fase 3 klinik

Usia 25-35 Penurunan hormon Usia 35-45 Usia 45 produksi hormon


(testosteron, growt hormon, estrogen) Penurunan hormon 25 % sudah berkurang
hingga akhirnya berhenti

Polusi udara, diet yang tak sehat dan stres

Peningkatan radikal bebas

Kerusakan sel-seDNA (sel-sel tubuh)

Sistem dalam tubuh mulai terganggu


spti : penglihatan menurun, rambut
beruban, stamina & enegi berkurang,
wanita (menopause),pria (andopause).

Penyakit degeneratif (DM,


osteoporosis, hipertensi,
penyakit jantung koroner)
DAFTAR PUSTAKA

Azizah, Lilik Ma’rifatul. (2011). Keperawatan Lanjut Usia. Yogyakarta: Graha


llmu.

Doenges., (2003). Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.

Fatimah., (2010).Merawat manusia Lanjut usia. Jakarta: Trans Info media.

Ilyas, Sidarta. (2010). Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : FK UI.

Ma’rifatul Lilik Azizah.,2011.Keperawatan lanjut usia. Jogjakarta: Graha ilmu.

Maryam, dkk. (2008). Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta:


Salemba Medika.

Mujahidullah, Khalid. (2012). Keperawatan Geriatrik Merawat Lansia Dengan


Cinta dan Kasih Sayang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Nurarif .A.H. dan Kusuma. H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan


Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta:
MediAction.

Nurmalasari, A. (2010). Bentuk dukungan keluarga terhadap sikap lansia dalam


menjaga kesehatan mentalnya [skripsi]. Jawa Timur: Universitas Jembr.
Tidak dipublikasikan.

Potter dan Perry. (2005). Fundamental keperawatan: Konsep, Proses dan Praktik.
Jakarta: EGC.

Stanley, M dan Patricia, G.B. (2006). Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Jakarta:
EGC.

Setiawan, B. M. (2013). Kesepian pada lansia di panti werdha sultan fatah demak
[skripsi]. Jawa Tengah: Universitas Negeri Semarang. Tidak
publikasikan.

Tamsuri, Anas. (2010). Gangguan Mata & Penglihatan : Keperawatan Medical


Bedah. Jakarta : EGC.