Anda di halaman 1dari 61

LAPORAN

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK PADA Tn. A DENGAN


“GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI PENDENGARAN”
DI RUANG CAMAR RSJ Dr. RADJIMAN WEDIODININGRAT
LAWANG

DISUSUN OLEH :
ISTAJIB
1724201058

PROFESI NERS
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
STIKES MOJOPAHIT MOJOKERTO
LEMBAR PENGESAHAN

Lembar pengesahan di buat sebagai bukti bahwa Mahasiswa Stikes Mojopahit Mojokerto
atas nama Istajib

Telah melakukan Responsi Asuhan Keperawatan Gerontik pada Tn. A dengan Gangguan
Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran di ruang Betet RSJ. Dr. Radjiman Widyodiningrat
Lawang Malang

Malang, 28 September 2018

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

Dr. Abdul Muhith, S.Kep. Ns., M.M.Kes Hasim Asyari, S.Kep Ns.
NIK : 220 250 097 NIP : 197112021992031001

Mengetahui

Kepala Ruang Betet

Aman Wijayanto, S.Kep


NIP : 197501081995031001
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat karunia-
Nyalah penyusun dapat menyelesaikan makalah keperawatan jiwa yang berjudul “Asuhan
Keperawatan Jiwa Pada Tn. A Dengan Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi
Pendengaran”
Penulisan dan penyajian makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas praktek
Keperawatan Jiwa serta memberikan kontribusi positif bagi pengembangan ilmu
keperawatan khususnya keperawatan jiwa.
Proses penyelesaian makalah ini tidak terlepas dari dukungan dan bantuan serta
bimbingan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu dalam
kesempatan ini, penyusun menyampaikan ucapan terimakasih kepada :
1. Direktur Rumah Sakit Jiwa dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang
2. Kepala Bidang Perawatan RSJ dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang Beserta Staf
3. Para Dosen Stikes Mojopahit Mojokerto dan Pembimbing lahan Praktek Klinik
Keperawatan Jiwa
4. Kepala Ruang Camar RSJ dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang beserta Seluruh
Perawat Ruangan
5. Rekan-rekan mahasiswa kelompok 4

Penyusun menyadari bahwa makalah ini tidak luput dari kesalahan atau kekurangan baik
dari segi bahasa maupun isi. Untuk itu penyusun sangat mengharapkan adanya masukan dan
kritikan dari berbagai pihak demi kesempurnaan makalah ini.

Malang, 21 September 2018

Penyusun
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Gangguan jiwa adalah penyakit non fisik, seyogyanya kedudukannya setara dengan
penyakit fisik lainnya. Meskipun gangguan jiwa tersebut tidak dianggap sebagai gangguan
yang menyebabkan kematian secara langsung, namun beratnya gangguan tersebut dalam arti
ketidakmampuan serta invalisasi baik secara individu maupun kelompok akan menghambat
pembangunan, karena tidak produktif dan tidak efesien (Kusumanto Setjionegoro, 1981).
Menurut faham kesehatan jiwa seseorang dikatakan sakit apabila ia tidak lagi mampu
berfungsi secara wajar di lingkungan sosialnya. Salah satu faktor yang menyebabkan
seseorang mengalami ganguan jiwa adalah stressor psikososial adalah setiap keadaan atau
peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang, sehingga orang tersebut
terpaksa mengadakan adaptasi secara konstruktif (adaptif) tetapi jarang seseorang tidak
mampu beradapatasi dengan baik (mal adaptif) sehingga timbullah keluhan-keluhan di
bidang kejiwaan berupa gangguan jiwa ringan hingga yang berat.
Salah satu bentuk gangguan jiwa yang terdapat di seluruh dunia adalah
schizofrenia. Schizofrenia berasal dari bahasa yunani yang terdiri atas dua kata yaitu shizos
yang artinya retak atau pecah dan phren yang artinya jiwa. Dengan demikian seseorang yang
mengalami gangguan jiwa schizofrenia adalah orang yang mengalami keretakan jiwa /
kepribadian (splitting of personality). (Eugen Bleuter dalam Ilmu Kedokteran Jiwa,
Marasmis, 1994).
Di Indonesia angka penderita skizofrenia 25 penduduk yang proyeksi 25 tahun
mendatang mencapai 3 / 1000 penduduk (Hawari, 1993). Angka pevalansi adalah jumlah
kasus (penderita) secara keseluruhan dalam kurun waktu tertentu, dan didaerah tertentu,
dibagi dengan jumlah penduduk yang diperiksa, sedangkan angka insiden adalah kasusu
(penderita baru) dalam kurun waktu tertentu dan didaerah ditentu. Di Indonesia angka yang
tercatat di Departemen Kesehatan berdasarkan survei di Rumah Sakit (1983) adalah antara
0,05% sampai 0,15%.
Penelitian mengenai mekanisme terjadinya skizofrenia. Maju dengan pesat,
demikian pula kemajuan dibidang obat-obatan anti kematian skizofrenia (psikofarmaka).
Telah menjadikan penderita skizofrenia dapat dipulihkan sehingga dapat berfungsi kembali
secara optimal.
Untuk mengatasi hal itu maka perawat melakukan intervensi antara klien lain, bina
hubungan saling percaya antara perawat, klien dan keluarga, mengadakan kontak sering dan
singkat secara bertahap dengan klien, observasi tingkah laku klien terkait dengan
halusinasinya karena dampak dari skizofrenia karena dapat timbul perilaku kekerasan dan
adanya gangguan persepsi sensori (halusinasi).
1.2. Rumusan Masalah
Bagaimana asuhan keperawatan pada Tn. A yang mengalami Gangguan Persepsi Sensori
: Halusinasi Pendengaran dan tindakan keperawatan.
1.3. Tujuan
Tujuan Umum
Dapat melaksanakan asuhan keperawatan jiwa pada klien dengan Gangguan Persepsi
Sensori : Halusinasi Pendengaran.
Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi karakteristik klien yang mengalami Gangguan Persepsi Sensori :
Halusinasi Pendengaran
2. Mengidentifikasi intervensi yang dapat dilakukan pada klien yang mengalami masalah
Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran.
3. Mengevaluasi tindakan yang telah diberikan kepada klien dengan masalah Gangguan
Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran.
BAB 2

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Pengertian

Halusinasi merupakan gangguan persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu


yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penerapan panca indra tanpa ada rangsangan dari luar
(Maramis, 1998).

Sedangkan menurut Wilson de Kneil halusinasi adalah persepsi tentang objek


bayangan dan sensasi yang timbul tanpa stimulus eksternal. Halusinasi merupakan salah
satu gejala yang sering ditemukan pada klien dengan gangguan jiwa. Halusinasi sering
diidentikkan dengan skizofrenia. Dari seluruh klien skizofrenia 70% diantaranya
mengalami halusinasi. Gangguan jiwa lain yang sering juga disertai dengan gejala
halusinasi adalah gangguan manik depresif dan delirium.

Halusinasi merupakan salah satu respon maladaptif individu yang berada dalam
rentang respon Neurobiologi (Stuart dan Laria, 2001). Ini merupakan respon persepsi
paling maladaptif. Jika klien yang sehat persepsinya akurat, mampu mengidentifikasi dan
menginterpretasikan stimulus berdasarkan informasi yang diterima melalui panca indra
(pendengaran, penglihatan, penghidu, pengecapan dan perabaan). klien dengan halusinasi
mempersepsikan suatu stimulus panca indra walaupun sebenarnya stimulus tidak ada.

RESPON ADAPTIF RESPON MALADAPTIF

Pikiran logis Distorsi pikiran Gangguan pikiran/delusi


Persepsi akurat Ilusi Halusinasi
Emosi konsisten dengan pengalaman Reaksi emosi berlebih Sulit berespon emosi
Perilaku sesuai atau kurang Perilaku disorganisasi
Berhubungan sosial Perilaku aneh/tidak biasa Isolasi sosial
Menarik diri

2.2. Tanda dan gejala

Tanda dan gejala halusinasi penting perlu diketahui oleh perawat agar dapat
menetapkan masalah halusinasi ,antara lain :
1) Berbicara, tertawa dan tersenyum sendiri
2) Bersikap seperti mendengarkan sesuatu
3) Berhenti berbicara sesaat ditengah-tengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu
4) Disorientasi
5) Tidak mampu atau kurang konsentrasi
6) Cepat berubah pikiran
7) Alur pikir kacau
8) Respon yang tidak sesuai
9) Menarik diri
10) Suka marah dengan tiba-tiba dan menyerangorang lain tanpa sebab
11) Sering malamun

2.3. Fase halusinasi menurut Stuart dan Laria, 2001 : 424

FASE HALUSINASI KARAKTERISTIK PERILAKU KLIEN

Fase I : Comforting Klien mengalami ansietas, - Tersenyum, tertawa yang


Ansietas sedang kesepian, rasa bersalah tidak sesuai
Halusinasi- dan takut, mencoba untuk
- Menggerakkan bibir tanpa
Menyenangkan berfokus pada pikiran
suara
“Menyenangkan” yang menyenangkan
untuk meredakan - Pergerakan mata yang cepat
Ansietas.
- Respon verbal yang lambat
Individu mengenali bahwa
- Diam, dipenuhi rasa yang
pikiran-pikiran dan
mengasyikkan
pengalaman sensori
berada dalam kendali
kesadaran jika ansietas
dapat ditangani (non
psikotik).

Fase II : Condemning Pengalaman sensori - Meningkatkan tanda-tanda


Ansietas berat menjijikan dan sistem saraf otonom akibat
menakutkan klien lepas ansietas (Nadi, RR, TD↑)
Halusinasi menjadi
kendali dan mungkin
menjijikkan. - penyempitan kemampuan
mencoba untuk
“Menyalahkan” untukkonsentrasi
mengambil jarak dirinya
dengan sumber yang - Asyik dengan pengalaman
dipersepsikan. sensori dan kehilangan
kemampuan membedakan
Klien mungkin pernah
mengalami dipermalukan halusinasi dan realita
oleh pengalaman sensori
dan menarik diri dari
orang lain.

Psikotik Ringan.

Fase III : Controlling Klien berhenti atau - Lebih cenderung mengikuti


Ansietas berat menghentikan perlawanan petunjuk halusinasinya
terhadap halusinasi dan
Pengalaman sensori - Kesulitan berhubungan dengan
menyerah pada halusinasi
menjadi berkuasa orang lain
tersebut.
“Mengendalikan”
- Rentang perhatian hanya dalam
Isi halusinasi menjadi
beberapa menit atau detik
menarik, klien mungkin
mengalami pengalaman - Gejala fisik Ansietas berat,
kesepian jika sensori berkeringat, tremor, tidak
halusinasi berhenti. mampu mengikuti petunjuk

Psikotik.

Fase IV : Conquering Pengalaman sensori - Perilaku teror akibat panik


panic umumnya menjadi mengancam jika
- Potensial suicide atau
menjadi melebur klien mengikuti perintah
homocide
dalam halusinasinya. halusinasi.
- Aktivitas fisik merefleksikan
Halusinasi berahir dari
isi halusinasi seperti perilaku
beberapa jam atau hari
kekerasan, agitasi, menarik
jika tidak ada intervensi
diri, katatonia
terapiutik.
- Tidak mampu merespon
Psikotik Berat.
terhadap perintah yang
kompleks

- Tidak mampu merespon > 1


orang
2.4. Macam-macam halusinasi

Halusinasi dibagi menjadi 7 jenis, meliputi


1) Halusinasi Pendengaran
Mendengar suara-suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara bising mulai
dari yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien, bahkan
sampai ke percakapan lengkap antara 2 orang atau lebih tentang orang yang mengalami
halusinasi. Dalam pikiran yang terdengar adalah perkataan bahwa pasien disuruh untuk
melakukan sesuatu kadang dapat membahayakan.
2) Halusinasi Penglihatan
Stimulus visual dalam bentuk penglihatan kilatan cahaya, gambar geometris, gambar
kartoon, bayangan yang rumit atau kompleks. Bayangan bisa menyenangkan atau
menakutkan seperti melihat monster.
3) Halusinasi Penghirup/bau
Membaui bau-bauan tertentu seperti bau darah, urin atau feses. Umumnya bau yang
tidak menyenangkan. Halusinasi ini sering terjadi akibat stroke, tumor, kejang,
dimensia.
4) Halusinasi Pengecapan
Individu merasa mengecap suatu rasa dalam mulutnya, misalnya merasa mengecap rasa
darah, urin atau feses.
5) Halusinasi Perabaan
Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas. Rasa tersetrum listrik
yang datang dari tanah, benda mati atau orang lain.
6) Halusinasi Chenesthetic
Merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah di vena atau arteri, pencernaan makanan
atau pembentukan urine.
7) Halusinasi Kinesthetik
Merasakan pergerakan sementara berdiri tanpa bergerak.
(Stuart dan Laria, 1998)

2.5. Etiologi
Seseorang yang mengalami halusinasi beranggapan bahwa sumber atau penyebab
halusinasi berasal dari lingkungannya, padahal rangsangan primer halusinasi adalah
kebutuhan perlindungan diri secara psikologis, padahal rangsangan primer halusinasi
adalah kebutuhan perlindungan diri secara psikologis, terhadap kejadian traumatik
sehubungan dengan rasa bersalah, rasa sepi, rasa marah, dan rasa takut ditinggalkan oleh
yang dicintainya.
Tidak dapat meninggalkan dorongan ego, pikiran dan perasaan sendiri secara umum
dapat dikatakan segala sesuatu yang mengancam harga diri dan kebutuhan keluarga.
Penyebab terjadinya halusinasi ancaman terhadap harga diri dan kebutuhan keluarga
meningkatkan kecemasan.
2.6. Pohon masalah

Kerusakan Komunikasi
Resiko mencederai diri, orang lain
Bicara, tersenyum, tertawa sendiri dan likgkungan
Konsentrasi mudah berubah, kekacauan
arus pikir

Perubahan Proses Pikir Mendengar bisikan


Arus,Bentuk, Isi yang menyuruh untuk
membunuh/ dibunuh
Mempengaruhi neurotransmitter otak

Prubahan Persepsi sensori :


Stimulus SSO ,Internal meningkat, eksternal menurun Halusinasi
(Core Problem)

Tidak peduli dengan lingkungan sekitar


Merangsang keluarnya zat
Halusinogen
Fokus pada diri sendiri

HDR

Koping Maladaptif

Stress Psikologis

Faktro Presipitasi
Factor Predisposisi
Bicara nglantur
Kepribadian Introvet
Melakukan tindakan yang tidak biasa
Pendiam, pemalu
Klien sulit tidur
Merasa dibisiki setan ditelinganya
Klien akan membunuh penjual pisau
M
e
r
a
s
a

d
i
b
i
s
i
k
i

o
l
e
h
2.7. Proses keperawatan
1) Pengkajian
Pada tahap ini ada beberapa faktor yang perlu di eksplorasi baik pada klien sendiri
maupun keluarga berkenaan dengan kasus halusinasi yang meliputi :
a) Faktor predisposisi
1) Faktor Genetis
Telah diketahui bahwa secara genetis schizofienia diturunkan melalui
kromosom-kromosom tertentu. Namun demikian, kromosom yang ke beberapa
yang menjadi faktor penentu gangguan ini sampai sekarang masih dalam tahap
penelitian. Diduga kromosom schizofrenia ada kromosom gangguan dengan
kontribusi genetis tambahan nomor 4, 8, 15 dan 22 (Buchanan dan Carpenter,
2000)
2) Faktor Biologis
Adanya gangguan pada otak menyebabkan timbulkan respon
neurobiologikal maladaptif.peran pre frontal dan limbik cortices dalam regulasi
stres berhubungan dengan aktivitas dopamin. Saraf pada pre frontal penting
untuk memori,penurunan neuro pada area ini dapat menyebabkan kehilangan
asosiasi.
3) Faktor presipitasi Psikologis
Keluarga, pengasuh, lingkungan
Pola asuh anak tidak adequate
Pertengkaran orang tua, penganiayaan, tidak kekerasan
Sosial Budaya
Kemiskinan
Konflik sosial budaya, peperangan, kerusuhan

b) Faktor presipitasi
1) Biologi
Berlebihnya proses informasi pada sistem syaraf yang menerima dan memproses
informasi di thalamus dan frontal otak. Mekanisme penghantaran listrik di syaraf
terganggu (mekanisme gathing abnormal)
2) Stress lingkungan
Gejala-gejala pemicu seperti kondisi kesehatan, lingkungan, sikap, dan perilaku
(Stuart dan Laria, 2001 : 416)
c) Gejala-gejala pemicu seperti : kondisi kesehatan, lingkungan, sikap dan perilaku
1) Kesehatan Meliputi :
 Nutrisi yang kurang
 Kurang tidur
 Ketidakseimbangan irama sirkardian
 Kelelahan
 Infeksi
 Obat-obat sistem syaraf pusat
 Kurangnya latihan
 Hambatan untuk menjangkau pelayanan kesehatan
2) Lingkungan meliputi :
 Lingkungan yang memusuhi, kritis Misalnya di rumah tangga
 Kehilangan kebebasan hidup
 Perubahan kebiasaan hidup, pola aktifitas sehari-hari
 Kesukaran dalam berhubungan dengan orang lain
 Isolasi social
 Kurangnya dukungan sosial
 Tekanan kerja (kurang ketrampilan dalam bekerja)
 Stigmasisasi
 Kemiskinan
 Kurangnya alat transportasi
 Ketidakmampuan mendapat pekerjaan
3) Sikap atau perilaku :
 HDR
 Tidak PD (Putus Asa)
 Merasa gagal
 Kehilangan kendali diri (demoralisasi)
 Merasa punya kekuatan >> dengan gejala tersebut
 Tidak dapat memenuhi kebutuhan spiritual atau merasa malang
 Bertindak seperti orang lain dari segi usia atau budaya
 Rendahnya kemampuan sosialisasi
 Perilaku agresif
 Perilaku kekerasaan
 Ketidakadekuatan pengobatan
 Ketidakadekuatan penanganan gejala
4) Mekanisme Koping
 Mekanisme yang sering digunakan klien dengan halusinasi meliputi :
 Regresi : menjadi malas beraktifitas sehari-hari
 Proyeksi : mencoba menjelaskan gangguan persepsi dengan mengalihkan
klien
 Menarik diri : sulit mempercayai orang lain dan asyik dengan stimulus
internal
 Keluarga mengingkari masalah yang dialami oleh klien
5) Perilaku
Perilaku klien yang mengalami halusinasi tergantung jenis halusinasinya.
Untuk validasi tentang halusinasi diperlukan :
 Isi halusinasi yang dialami klien
 Waktu dan frekuensi halusinasi
 Situasi pencetus halusinasi dan peristiwa sebelum halusinasi muncul
 Respon klien; menentukan sejauh mana halusinasi yang telah
mempengaruhi klien
6) Masalah keperawatan yang mungkin muncul
 Resiko tinggi tindakan kekerasaan yang diarahkan pada diri, orang lain
dan lingkungan
 Halusinasi dengar atau lihat
 Perubahan proses pikir : Waham
 Penatalaksanaan regimen terapiutik yang tidak efektif, ketidak
mampuan

2) Diagnosa keperawatan
a) Resiko tinggi tindakan kekerasaan yang diarahkan pada lingkungan yang
berdasarkan halusinasi pendengaran dan penglihatan.
b) Halusinasi dengar atau lihat yang berdasarkan isolasi sosial
c) Perubahan proses pikir : Waham yang berdasarkan HDR kronis
d) Penatalaksanaan regimen terapiotik yang tidak efektif, ketidak mampuan yang
berdasarkan koping keluarga tidak efektif

3) Perencanaan dan intervensi


a. Resiko mencerai diri, orang lain dan lingkungan yang berdasarkan perubahan
persepsi sensori : halusinasi dengar atau visual
Tujuan Umum : Klien tidak mencederai diri, orang lain dan lingkungan
Tujuan Khusus 1: Klien mampu membina hubungan saling percaya dengan
perawat
TUK 1
Kriteris Hasil :
a) Klien kooperatif dan ada kontak mata
b) Ekspresi wajah Klien bersahabat
c) Klien menunjukkan rasa senang
d) klien mampu menjawab salam dan memperkenalkan dirinya
e) Klien mampu mengutarakan perasaannya
Intervensi :
a) Sapa klien dengan ramah baik verbal atau non verbal
b) Perkenalkan diri dengan sopan
c) Tanyakan nama lengkap klien dan panggilan kesukaan
d) Jelaskan tujuan pertemuan
e) Buat kontrak : topik, waktu dan tempat
TUK 2: Klien mampu mengenali halusinasi
Kriteria Hasil: Klien mampu menyebutkan waktu, isi, frekuensi dan respon saat
muncul halusinasi
Intervensi :
a) Lakukan kontak sering tapi singkat
b) Observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya
c) Bantu klien mengenali halusinasinya
d) Diskusikan dengan klien tentang situasi, waktu, frekuensi dan respon klien
waktu muncul halusinasi
e) Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan saat timbul halusinasi
TUK 3 : Klien mampu mengontrol halusinasinya
Kriteria Hasil :
a) Klien mampu menyebutkan tindakan yang biasanya dilakukan untuk
mengendalikan halusinasinya.
b) Klien dapat menyebutkan cara untuk mengontrol halusinasinya
c) Klien dapat memilih cara mengontrol halusinasinya
d) Klien dapat melaksanakan cara yang dipilihnya
e) Klien mau mengikuti kegiatan TAK
Intervensi :
a) Identifikasi cara yang dilakukan klien saat timbul halusinasi
b) Diskusikan manfaat dari cara yang digunakan, beri pujian jika bermanfaat
c) Diskusikan cara baru untuk mengontrol halusinasi
d) Bantu klien memilih dan melatih cara yang digunakan untuk mengontrol
halusinasi
e) Beri kesempatan klien untuk mencoba cara yang dipilihnya
f) Anjurkan klien mengikuti TAK Orientasi Realita.
TUK 4 : Klien mendapat dukungan dari keluarga untuk mengontrol halusinasi
Kriteria Hasil : Keluarga dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
Intervensi :
a) Diskusikan dengan keluarga tentang halusinasi
b) Tanda-tanda halusinasi
c) Cara yang dapat dilakukan keluarga dan klien untuk memutus halusinasi
d) Cara merawat klien dirumah
e) Beri informasi tentang kunjungan ulang atau kontrol

TUK 5: Klien dapat menggunakan obat dengan benar


Kriteria Hasil:
a) Klien dapat menyebutkan manfaat dan macam obat
b) Klien dapat mendemontrasikan penggunaan obat dengan benar
c) Klien dan keluarga mendapatkan informasi yang benar tentang efek samping
obat.
d) Klien dan keluarga memahami akibat dari putus obat tanpa konsultasi dengan
diri.
e) Klien dapat menyebutkan prinsip 5 benar dalam penggunaan obat
Intervensi :
a) Diskusikan dengan klien tentang macam dan manfaat obat.
b) Anjurkan klien untuk aktif meminta obat sendiri ke perawat
c) Diskusikan dengan klien tentang efeksamping obat
d) Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang efek putus obat tanpa
konsultasi lebih dulu dengan diri.
e) Bantu klien dan keluarga dalam menggunakan obat dengan prinsip 5 benar
(rute pemberian, obat, dosis, cara, waktu)

4) Evaluasi
Asuhan keperawatan berhasil jika klien menunjukkan :
a) Kemampuan mandiri untuk mengontrol halusinasi dengan cara yang
efektif yang dipilihnya.
b) Mampu melaksanakan program pengobatan berkelanjutan mengingat
sifat penyakitnya yang kronis.
c) Kemampuan menjadi sistem pendukung yang efektif untuk klien
mengatasi masalah gangguan jiwa
d) Kemampuan merawat di rumah dan menciptakan lingkungan yang
kondusif bagi klien di rumah
e) Pemahaman keluarga untuk merujuk ke fasilitas kesehatan jika tanda-
tanda halusinasi muncul
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA
PADA Tn. A DENGAN GANGGUAN PERSEPSI
SENSORI : HALUSINASI PENDENGARAN DI RUANG CAMAR
RSJ Dr. RADJIMAN WEDIODININGRAT LAWANG

1. IDENTITAS KLIEN
Nama : Tn. A
Umur : 35 Thn
Alamat : Permanu RT.2 RW.3 Pakisaji Malang
Pendidikan : SLTP
Agama : Islam
Status : Belum kawin
Pekerjaan : Pemulung
No.RM : 083544
Tanggal MRS : 18 September 2018
Tanggal Pengkajian : 18 September 2018
II. ALASAN MASUK
a. Data Primer : kx mengatakan dibawa masuk kesini karena tidak mau bekerja,
hanya diam di kamar
b. Data Sekunder : Klien marah-marah dan tidak bisa tidur 3 hari.
c. Keluhan utama saat pengkajian : merasa sering mendengar suara bisikan orang
laki-laki yang isinya mengajak joget dan jalan-jalan

III. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG DAN FAKTOR PRESIPITASI


klien kambuh lagi yang parah sejak 1 minggu sebelum MRS di RSJ karena
obatnya diganti oleh puskesmas yang tidak sama dengan yang biasanya
didapat dari RSJ sehingga tidak di minum dan akibatnya klien tidak bisa
tidur, marah- marah tanpa sebab, keluyuran, bicara dan tertawa sendiri,
merokok terus

IV. FAKTOR PREDISPOSISI


1. Gangguan jiwa di masa lalu :
Sakit sejak 3 tahun yang lalu setelah putus dengan pacarnya sehingga klien sering
termenung, mudah tersinggung sering marah-marah, oleh keluarga dibawa berobat
ke RSJ sampai 7 kali dirawat saat pulang sudah sembuh diambil oleh keluarga dan
sering kambuh karena tidak teratur minum obat.
Riwayat trauma
Pernah melakukan aniaya fisik sebagai pelaku memukul ibunya dan orang
disekitarnya
DX Kep : RPK, Regimen terapeutik inefektif
Percobaan bunuh diri :
Klien mengatakan pernah melakukan percobaan bunuh diri menggunakan tali untuk
gantung diri karena putus dengan pacarnya saat ini tidak ada keinginan untuk bunuh
diri
DX Kep : RBD
Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan:
Saat sekolah SMA pernah putus dengan pacar sehingga merasa sedih, sering marah-
marah mudah tersinggung bahkan sampai mencoba untuk bunuh diri dengan cara
gantung diri.
DX kep : respon paska trauma
Pernah mengalami penyakit fisik
Menurut klien tidak pernah mengalami sakit fisik yang parah sampai harus dirawat
di rumah sakit, hanya pernah sakit flu
DX Kep : -
Riwayat penggunaan NAPZA
Menurut klien tidak pernah mengunakan obat-obatan dan tidak [pernah minum-
minuman keras atau yang beralkohol.
DX Kep : -
Upaya yang dilakukan terkait kondisi diatas dan hasilnya:
-
DX Kep : -
Riwayat penyakit keluarga
Menurut klien anggota keluarga tidak ada yang sakit atau mengalami gangguan jiwa
seperti yang dialami klien.
Hubungan dengan klien : -
Riwayat pengobatan : -
DX Kep : -
V. PSIKOSOSIAL
1. Genogram

Keterangan:
: Meninggal : Laki-laki

: Meninggal : Klien

: Perempuan : Satu rumah

Pola asuh : saat kecil sampai dewasa cara mengasuh klien dengan sabar dan tidak
pernah dimarahi.
Pola komunikasi : keluarga jarang bicara dengan klien sehingga klien lebih sering
diam sendirian didalam kamar.
Pola pengambilan keputusan : bila klien mengalami suatu permasalahan klien
cenderung diam karena keluarga jarang bicara dengan klien
DX Kep : Koping keluarga inefektif
Konsep Diri
a. Citra Tubuh
Klien mengatakan menyukai bagian matanya karena bisa untuk melihat dan
klien tidak menyukai tanganya karena pernah memukul ibunya
b. Identitas Diri
Klien mengatakan dirinya seorang laki-laki yang bernama Tn. A, berusia 35
tahun, tinggal di Pakisaji malang dan klien mengatakan puas menjadi laki-laki.
c. Peran
Peran klien dirumah sebagai anak dan selalu membantu ibunya bersih-bersih
rumah dan cuci piring.
Peran saat dirawat : membantu kebersihan kamar mencuci alat makan
d. Ideal Diri
Klien mengatakan ingin segera sembuh dan jika sudah keluar rumah sakit
jiwa, klien ingin bekerja cari rongsokan seperti sebelum sakit dan klien
berharap bisa kumpul dengan keluarganya.
e. Harga Diri
Klien mengatakan malu karena sakit jiwa dan harus dirawat di rumah sakit jiwa
Diagnosa Keperawatan : HDR
Hubungan Sosial
a. Orang Klien yang berarti/terdekat : Orang yang paling terdekat dan paling
berarti bagi klien adalah ibunya. Di RSJ klien mengatakan mempunyai teman
dekat yaitu malik
b. Peran serta dalam kegiatan kelompok
Klien mengatakan tidak pernah ikut kegiatan di masyarakat, seperti karang
taruna, pengajian dan arisan.
Saat dirumah sakit klien ikut kegiatan direhabilitasi membuat kemucing
c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain
Klien mengatakan malas berbicara dengan temannya karena yang di ajak
mengobrol sering tidak nyambung, sehingga klien lebih sering menyendiri.
Diagnosa Keperawatan : Isolasi Sosial

Spiritual
a. Nilai dan keyakinan : Klien beragama islam dan menyakin bahwa Allah itu
satu dan segala hal sudah di atur oleh Allah
b. Kegiatan ibadah: klien mengatakan jarang sholat karena tidak ada tempet yang
khusus
Diagnosa Keperawatan : gangguan pemenuhan spiritual
VI. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum: cukup, kooperatif, tenang, pakaian rapi.
2. Tanda Vital:
TD :100/60 mmHg,
Nadi : 80 x/menit,
Suhu : 36,1 ºC.
RR : 20 x/menit.
VII. STATUS MENTAL
1. Penampilan
Penampilan klien sesuai dengan usianya ,rapi menggunakan seragam yang di
sediakan RSJ, bisa memakai pakaian seperti biasanya tidak terbalik, rambut
rapi dan selalu disisir setiap habis mandi, bersih, gatal – gatal (-).
Diagnosa Keperawatan : -
2. Pembicaraan
Klien bisa berbicara dengan jelas, tidak lambat, tidak cepat, tidak keras dengan
intonasi yang sedang.
Diagnosa Keperawatan : -
3. Aktivitas motorik/psikomotor
Mau membantu kegiatan di ruangan rawat , sering menyendiri
Diagnosa Keperawatan : -
4. Mood dan Afek
Mood : klien sering merasa khawatir tidak pulang diambil keluarganya karea
sampai saat ini belum pernah dikunjungi
Afek : saat menceritakan masalahnya klien sering menunduk ekspresi sedih
Diagnosa Keperawatan : ansietas
5. Interaksi selama wawancara
Kontak mata klien mau menatap lawan bicara
Diagnosa Keperawatan : -
6. Persepsi sensori
Klien merasa mendengar suara-suara bisikan orang laki-laki yang mengajak
joget dan jalan-jalan, suara tersebut muncul saat klien sedang sendirian dan
saat malam hari sehingga klien sering senyum-senyum sendiri dan keluyuran.
Klien tampak sering menyendiri, ngomong sendiri, ekspresi muka murung
Diagnosa Keperawatan : Gangguan persepsi sensori : Halusinasi
Pendengaran
7. Proses pikir
a. Arus pikir
Klien berbicara sesuai pada umumnya, tidak lambat, tidak cepat
dengan intonasi sedang dan bisa di mengerti. Dibuktikan dengan klien
mampu menjawab pertanyaan dengan benar. (koheren)
b. Isi pikir
Klien merasa malas berkumpul dengan orang lain. Klien lebih nyaman
sendiri.(pikiran isolasi)
c. Bentuk pikir
Klien merasa malas berkumpul dengan orang lain. Klien lebih nyaman
sendiri.(Autistik)
Diagnosa Keperawatan : Perubahan Proses Pikir
8. Kesadaran
Orientasi waktu :
Klien tidak mengalami disorientasi waktu ditandai dengan, klien mampu
mengatakan sekarang siang jam 13.00 Wib,
Orientasi tempat :
Klien tidak mengalami disorientasi tempat terbukti klien mengerti bahwa dia
sekarang berada di ruang Camar RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat.
Orientasi orang :
Klien juga tidak mengalami disorientasi orang terbukti klien mampu
menyebutkan nama teman dekatnya yaitu Manik.
Secara kualitatif : kesadaran berubah pada relasi dibuktikan dengan lebih
senang menyendiri sehingga halusinasi sering muncul.
Diagnosa keperawatan : Gangguan proses pikir
9. Memori
Jangka panjang :
Klien tidak mengalami gangguan daya ingat jangka panjang terbukti klien
mampu mengingat umurnya yaitu 35
Jangka pendek :
Klien tidak mengalami gangguan daya ingat jangka pendek terbukti dengan
klien mampu menceritakan kalau dia cuci tangan sebelum makan.
Saat ini :
Klien tidak mengalami gangguan daya ingat saat ini terbukti klien mampu
menceritakan kalau tadi pagi klien makan pagi dengan menu ayam.
Diagnosa Keperawatan : -
10. Tingkat konsentrasi dan berhitung
Konsentrasi :
Klien mampu berkonsentrasi dengan baik terbukti ketika disuruh mengulang
kembali beberapa alat transportasi klien mampu mengulang dengan benar.
Berhitung :
Klien mampu melakukan perhitungan sederhana, terbukti saat diberi
pertanyaan klien 100 – 7 klien menjawab 93 , 93 – 7 klien menjawab 86.
Diagnosa Keperawatan : -
11. Kemampuan penilaian
Bila halusinasi muncul yang dilakukan klien senyum-senyum sendiri dan
keluyuran.
Diagnosa Keperawatan : -

12. Daya tilik diri


Klien mengatakan bahwa dia mengalami sakit jiwa. Dan berobat agar cepat
sembuh
Diagnosa Keperawatan : -

VIII. KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG


Kemampuan klien memenuhi kebutuhan
Setelah pulang dari rumah sakit klien akan tinggal bersama keluarga seperti
sebelum sakit dan ingin akan bekerja kembali di pabrik rokok bila masih
diterima
Kegiatan hidup sehari-hari
a. Perawatan diri
Mandi : mandi sehari 2 kali memakai sabun dan gosok gigi. Makan : px
makan 3x sehari, porsi makan di tentukan oleh perawat dan pasien tidak
memiliki pantangan makanan dan makanan selalu habis.
b. Berpakaian : px mampu memakai pakaian sendiri, baju di tentukan oleh
perawat, px tidak bisa mencuci dan memyimpan pakain sendiri.
c. Makan : px makan 3x sehari, porsi makan di tentukan oleh perawat dan
pasien tidak memiliki pantangan makanan dan makanan selalu habis.
d. Toileting : klien mampu BAK dab BAB pada tempatnya dan dibersihkan
setelahnya.
DX Kep: -
Nutrisi:
Napsu makan klien baik satu porsi habis, sehari 3 kali , berat badan 58 kg
Tidur:
Kebutuhan istirahat tidur klien biasa tidur siang pukul 12.00 s/d 14.00 dan
tidur malam hari pukul 18.00 s/d 04.00 WIB.aktivitas sebelum tidur (-)
Gangguan tidur: bila halusinasi muncul klien sulit tidur.
DX Kep :-
Kemampuan lain:
Klien tidak mempunyai keahlian lain yang dapat digunakan untuk bekerja
menghasilkan uang hanya bisa bekerja di pabrik rokok sebagai tuklang
glinting rokok.
e. Penggunaan obat : klien dapat meminum obatnya sendiri dengan bantuan di
berikan oleh perawat.
f. DX Kep : -
g. Sistem pendukung :
Keluarga berusaha mengobatakan klien bila mengalami sakit.
Mekanisme koping:
Bila ada masalah klien cenderung diam tidak mau menceritakan pada orang
lain.
DX Kep : koping individu inefektif.
h. Pemeliharaan kesehatan : pasien bisa mandi secara mandiri.
MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN
 Masalah dengan dukungan kelompok
Ketika ditanya klien mengatakan hanya keluarganya jarang mengajak bicara
 Masalah berhubungan lingkungan
Klien mengatakan jarang keluar rumah dan kurang mampu beradaptasi
dengan lingkungannya.
 Masalah dengan pendidikan
Klien mengatakan lulusan SMP
 Masalah dengan pekerjaan
Klien mengatakan bekerja buruh di pabrik rokok
 Masalah dengan perumahan
Klien tinggal bersama ibunya.
 Masalah dengan ekonomi
Klien mengatakan bekerja sebagai pemulung tapi sekarang jadi malas
 Masalah dengan pelayanan kesehatan
Klien mengatakan kalau orang sakit itu ke rumah sakit.
Diagnosa Keperawatan : -

Aspek pengetahuan
Klien mempunyai masalah yang berkaitan dengan pengetahuan yang kurang
tentang penyakitnya saat ini
Diagnosa Keperawatan: Kurang pengetahuan tentang penyakit yang di derita.

IX. ASPEK MEDIS


 Diagnosa Medis:
- Axis 1 : Skizofrenia hebefrenik episodic berulang (F 20.13)
- Axis 2 : CK, terbuka,mudah bergaul,rajin bekerja.
- Axis 3 : lecositosis
- Axis 4 : primary suport
- Axis 5 : GAF : 20 - 25
 Terapi medik:
- Chlorpromazine 2x100 mg 0 1 1
- Haloperidol 3x5 mg 1 0 1
ANALISA DATA

No. Data Masalah/Diagnosa Keperawatan


1. Ds : Klien merasa mendengar suara-suara Gangguan persepsi sensori :
bisikan orang laki-laki yang mengajak halusinasi dengar
joget dan jalan-jalan, suara tersebut
muncul saat klien sedang sendirian
dan saat malam hari sehingga klien
sering senyum-senyum sendiri dan
keluyuran.
Do: menyendiri, ngomong sendiri, ekspresi
muka murung
2. Ds : Klien mengatakan pernah marah- Resiko perilaku kekerasan
marah sampai memukul ibunya.
Do : mau menatap lawan bicara
3. Ds: Klien mengatakan malas bergaul Isolasi sosial
dengan orang lain lebih suka berdiam
diri didalam kamar
Do: menyendiri, melamun, Klien berbicara
dengan temannya
jika ada perlunya saja.

4. Ds: Klien mengatakan putus dengan Respon pasca trauma


pacarnya
Do: klien murung , menunduk.
5 Ds: Klien mengatakan jika ada masalah Koping individu tidak efektif
klien jarang/tidak pernah cerita dengan
orang lain, banyak diam, dan menyendiri.
Do: klien tampak diam dan menyendiri di
kamar

X. DAFTAR MASALAH
1. Gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran
2. Resiko perilaku kekerasan
3. Isolasi sosial: Menarik diri
4. Respon pasca trauma
5. Kurang pengetahuan tentang penyakit
6. Koping individu tidak efektif
7. Koping keluarga tidak efektif

XI. POHON MASALAH

Resiko tinggi menciderai


diri sendiri, orang lain, Efek
dan lingkungan.

Gangguan persepsi Core


sensori : halusinasi problem

Isolasi sosial : menarik causa


diri

Respon pasca Koping individu tidak Koping keluarga


trauma efektif tidak efektif

XVI. PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN


a. Gangguan persepsi sensori: Halusinasi pendengaran
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA

Nama : Tn. A No. Reg : 083544


Jenis kelamin : laki-laki Ruang : Ruang Camar
Diagnosa Perencanaan
Tgl Rencana Tindakan Keperawatan Rasional
Keperawatan Tujuan Kriteria Evaluasi
Gangguan Persepsi TUM: Klien Setelah 1x pertemuan klien 1.1 Bina hubungan saling percaya Hubungan saling percaya
Sensori: Halusinasi dapat dapat membina hubungan dengan menggunakan prinsip merupakan langkah awal
Pendengaran mengontrol saling percaya dengan komunikasi terapeutik menentukan keberhasilan rencana
halusinasinya perawat dengan kriteria a. Sapa klien dengan ramah baik selanjutnya
yang evaluasi: ekspresi verbal maupun non verbal
dialaminya bersahabat, menunjukkan b. Perkenalkan nama, nama
TUK 1: rasa senang, ada kontak panggilan, dan tujuan perawat
- Klien dapat mata, mau berjabat tangan, berkenalan
membina mau menyebutkan nama, c. Tanyakan nama lengkap dan
hubungan mau membalas salam, mau nama panggilan yang disukai
saling berdampingan dengan klien
percaya perawat, dan mau d. Buat kontrak yang jelas
mengutarakan masalahnya. e. Tunjukkan sikap yang jujur
dan menepati janji setiap kali
interaksi
f. Tunjukkan sikap empati
menerima apa adanya. Untuk mengurangi kontak klien
g. Beri perhatian pada klien dan dengan halusinasinya dengan
perhatikan kebutuhan dasar mengenal halusinasi akan
klien membantu mengurangi dan
1.2 Beri kesempatan klien untuk menghilangkan halusinasi
mengungkapkan perasaannya
1.3 Dengarkan ungkapan klien
dengan penuh perhatian ekspresi
perasaan klien.
h.
TUK 2: Setelah 1x interaksi klien 2.1. Adakan kontak sering dan Mengetahui apakah halusinasi
- Klien dapat dapat menyebutkan: singkat secara bertahap datang dan menentukan tindakan
mengenal a. Isi 2.2. Observasi tingkah laku klien yang tepat untuk halusinasinya
halusinasin b. Waktu terkait halusinasinya, jika
ya c. Frekuensi menemukan klien yang sedang
d. Situasi dan kondisi yang halusinasi: bicara dan tertawa
menimbulkan halusinasi tanpa stimulus, memandang ke
kanan/ke kiri/ke depan seolah-
olah ada teman berbicara.
2.3. Bantu klien mengenal
halusinasinya:
a. jika menemukan klien yang Mengenalkan pada klien terhadap
sedang halusinasi, tanyakan halusinasinya dan mengidentifikasi
apakah ada bisikan yang faktor pencetus halusinasinya
didengar atau melihat
bayangan yang tanpa wujud
atau merasakan sesuatu yang
tidak ada wujudnya.
b. jika klien menjawab ada
lanjutkan apa yang
dialaminya
c. katakan bahwa perawat
percaya klien mengalami hal
tersebut, namun perawat
sendiri tidak mengalaminya
(dengan nada bersahabat
tanpa menuduh atau
menghakimi)
d. katakan bahwa klien jika ada
yang seperti klien
e. katakan bahwa perawat akan
membantu klien
2.4. Jika klien sedang tidak
berhalusinasi klarifikasi tentang
adanya pengalaman halusinasi,
diskusikan dengan klien:
a. Isi, waktu, dan frekuensi
terjadinya halusinasi (pagi,
siang, sore, malam, atau
sering dan kadang-kadang)
Setelah 1x interaksi klien b. Situasi dan kondisi yang
menyatakan perasaan dan menimbulkan atau tidak
responnya saat mengalami menimbulkan halusinasi
halusinasi: 2.5. Diskusikan dengan klien apa
 Marah yang dirasakan jika terjadi
 Takut halusinasi (marah/takut, sedih,
 Sedih senang, bingung) beri

 Senang kesempatan mengungkapkan


perasaan
2.6 Diskusikan dengan klien apa
yang dilakukan untuk mengatasi
perasaan tersebut
2.7 Diskusikan tentang dampak yang
akan dialaminya bila klien
menikmati halusinasinya
TUK 3: 1. Setelah 1x interaksi klien 3.1. Identifikasi bersama klien cara Menentukan tindakan yang sesuai
- Klien dapat menyebutkan tindakan tindakan yang dilakukan jika bagi klien untuk mengontrol
mengontrol yang biasanya dilakukan terjadi halusinasi (tidur, marah, halusinasinya
halusinasinya untuk mengendalikan menyibukkan diri, dll)
halusinasinya

2. Setelah 1x interaksi klien 3.2.Diskusikan cara yang digunakan


menyebutkan cara baru klien:
mengontrol halusinasi a. Jika cara yang digunakan
adaptif beri pujian
b. Jika cara yang digunakan
maladaptif diskusikan
kerugian cara tersebut
3. Setelah 1x interaksi klien 3.3.Diskusikan cara baru untuk
dapat memilih dan memutus/mengontrol timbulnya
memperagakan cara halusinasi:
mengatasi halusinasinya a. Menghardik halusinasi:
katakan pada diri sendiri
bahwa ini tidak nyata (“saya
tidak mau
dengar/lihat/penghidu/raba/ke
cap pada saat halusinasi
terjadi)
b. Menemui orang lain
(perawat/teman/anggota
keluarga) untuk menceritakan
tentang halusinasi
c. Membuat dan melaksanakan
jadwal kegiatan sehari-hari
yang telah disusun
d. Memberikan pendidikan
kesehatan tentang penggunaan
obat untuk mengendalikan
halusinasi
4. Setelah 1x interaksi klien 3.4.Bantu klien memilih cara yang
melaksanakan cara yang sudah dianjurkan dan lagi untuk
telah dipilih untuk mencobanya
mengendalikan 3.5.Pantau pelaksanaan yang telah
halusinasinya dipilih dan dilatih, jika berhasil
5. Setelah 1x pertemuan beri pujian.
klien mengikuti terapi
aktivitas kelompok 3.6.Anjurkan dan ikut sertakan klien
mengikuti terapi aktivitas
kelompok, stimulasi
persepsi/orientasi realita.
TUK 4: 1. Setelah 1x pertemuan 4.1. Buat kontrak dengan keluarga Membantu klien menentukan cara
- Klien dapat keluarga, keluarga untuk pertemuan (waktu, tempat mengontrol halusinasi. Periode
dukungan dari menyatakan setuju untuk dan topik) berlangsungnya halusinasi:
keluarga mengikuti pertemuan 4.2. Diskusikan dengan keluarga 1. Memberi support kepada
dalam dengan perawat (pada saat pertemuan keluarga) klien
mengontrol 2. Setalah 1x interaksi 1. Pengertian halusinasi 2. Menambah pengetahuan
halusinasinya keluarga menyebutkan 2. Tanda dan gejala halusinasi klien untuk melakukan
pengertian, tanda dan 3. Proses terjadinya halusinasi tindakan pencegahan
gejala proses terjadinya 4. Cara yang dapat dilakukan halusinasi
halusinasi dan tindakan klien dan keluarga untuk
untuk mengendalikan memutus halusinasi
halusinasi 5. Obat-obatan halusinasi
6. Cara merawat anggota
keluarga yang halusinasi di
rumah (beri kegiatan, jangan
biarkan sendiri, makan
bersama, berpergian
bersama, memantau obat-
obatan, dan cara
pemberiannya untuk
mengatasi halusinasi
7. Beri informasi waktu
kontrol ke rumah sakit dan
bagaimana cara mencari
bantuan jika halusinasi tidak
dapat diatasi di rumah
TUK 5: 1. Setelah 1x interaksi 5.1. Diskusikan dengan klien Membantu klien untuk beradaptasi
- Klien dapat klien menyebutkan: tentang manfaat dan kerugian dengan cara alternatif yang ada.
memanfaat a. Manfaat minum tidak minum obat, nama, warna,
kan obat obat dosis, cara, efek terapi, dan efek
dengan b. Kerugian tidak samping penggunaan obat
baik minum obat 5.2. Pantau klien saat penggunaan Memberi motivasi agar caranya
c. Nama, warna, dosis, obat diulang
efek terapi, dan efek 5.3. Anjurkan klien minta sendiri
samping obat obat pada perawat agar dapat
2. Setelah 1x interaksi merasakan manfaatnya
klien 5.4. Beri pujian jika klien
mendemonstrasikan menggunakan obat dengan benar
penggunaan obat 5.5. Diskusikan akibat berhenti
dengan benar minum obat tanpa konsultasi
3. Setelah 1x interaksi dengan dokter
klien menyebutkan 5.6. Anjurkan klien untuk konsultasi
akibat berhenti minum kepada dokter atau perawat jika
obat tanpa konsultasi terjadi hal-hal yang tidak
dokter diinginkan
CATATAN PERKEMBANGAN DAN TINDAKAN KEPERAWATAN JIWA
PADA Tn. A DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI PENDENGARAN
DI RUANG CAMAR RSJ Dr. RADJIMAN WEDIODININGRAT LAWANG

Nama pasien : Tn. A


Jenis Kelamin : Laki-laki
Ruang : Camar

Tgl & Dx.Keperawatan Implementasi tindakan keperawatan Evaluasi keperawatan


jam
18/9/2018 Gangguan SP 1: S : Klien merasa mendengar suara-suara bisikan orang laki-laki yang
persepsi sensori : Membina hubungan saling percaya mengajak joget dan jalan-jalan, suara tersebut muncul saat klien
Halusinansi 1. Mengidentifikasi jenis halusinasi klien sedang sendirian dan saat malam hari sehingga klien sering senyum-
pendengaran 2. Mengidentifikasi isi halusinasi klien senyum sendiri dan keluyuran.
3. Mengidentifikasi waktu halusinasi klien
4. Mengidentifikasi frekuensi halusinasi O: - Klien mondar – mandir
klien - Klien senyum-senyum sendiri
5. Mengidentifikasi situasi halusinasi klien - Klien tampak murung
6. Mengidentifikasi respon klien terhadap
halusinasi A :klien mampu bhsp
7. Mengajarkan klien menghardik klien 1. Klien mampu mengidentifikasi jenis halusinasi klien
8. Menganjurkan klien memasukkan cara 3. Klien mampu mengidentifikasi isi halusinasi klien
menghardik halusinasi dalam jadwal 4. Klien mampu mengidentifikasi waktu halusinasi klien
kegiatan harian. 5. Klien mampu mengidentifikasi frekuensi halusinasi klien
6. Klien mampu mengidentifikasi situasi halusinasi klien
7. Klien mampu mengidentifikasi respon terhadap halusinasi
8. Klien mampu klien menghardik halusinasi
9. Klien mampu memasukkan cara menghardik halusinasi dalam
jadwal kegiatan harian.
P perawat :
- Pertahankan hubungan saling percaya dengan klien
- Evaluasi cara menghardik
- Lanjutkan SP 2,
P klien :
- Anjurkan latihan cara menghardik halusinasi
19/9/2018 Gangguan S : - Klien mengatakan masih ingat cara mengontrol jika
persepsi sensori : SP 2 : halusinasinya datang, yaitu dengan berbincang – bincang
Halusinansi - Mempertahankan hubungan saling percaya dengan temannya.
pendengaran dengan klien - Klien mengatakan mengerti cara bagaimana mengontrol
2. Melatih klien mengendalikan halusinasi halusinasinya dengan cara mengobrol dengan orang lain.
dengan bercakap – cakap dengan orang lain. O : - klien tersenyum sendiri
3. Menganjurkan klien memasukkan kegiatan - Klien berbicara sendiri
bercakap – cakap dengan orang lain, ke dalam - Klien mampu mempraktekan kembali cara mengendalikan
kegiatan harian. halusinasi.
4. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian. A : 1. Klien mampu mengendalikan halusinasi dengan bercakap –
cakap dengan orang lain.
2.Klien mampu memasukkan kegiatan bercakap – cakap dengan
orang lain, ke dalam kegiatan harian.
3. SP 1, 2 tercapai
P perawat :
- Lanjutkan SP 3
- Evaluasi klien cara mengotrol halusinasi dengan bercakap –
cakap.
P klien :
- Anjurkan latihan mengendalikan halusinasi dengan bercakap –
cakap.
20/9/2018 Gangguan S : - Klien mengatakan masih ingat cara mengontrol jika
persepsi sensori : SP 3: halusinasinya datang, dengan melakukan kegiatan seperti
Halusinansi 1. Mengevaluasi jadwal kegiatan kegiatan harian mencuci piring.
pendengaran 2. Melatih klien mengendalikan halusinasi - Klien mengatakan masih mengerti cara bagaimana mengontrol
dengan melakukan kegiatan (kegiatan yang halusinasinya dengan cara mengobrol dengan orang lain
biasa di lakukan di rumah). O : - Klien mampu mempraktekkan cara menghardik jika
3. Menganjurkan klien memasukkan dalam halusinasinya datang
jadwal kegiatan. - Klien mampu mempraktekkan cara mengontrol halusinasinya
dengan cara mengobrol dengan orang lain.

A : 1. Klien mampu mengendalikan halusinasi dengan melakukan


kegiatan (kegiatan yang biasa di lakukan di rumah).
2. Klien mampu memasukkan dalam jadwal kegiatan.
3. SP 1, 2, 3 tercapai,
P perawat :
- Lanjutkan SP 4(mengajarkan cara minum obat teratur )
- Evaluasi klien cara mengontrol halusinasi dengan melakukan
aktifitas
P klien :
- Anjurkan latihan mengendalikan halusinasi dengan melakukan
kegiatan
21/9/2018 Gangguan S : Klien mengatakan sudah meminum obat yang di berikan perawat
persepsi sensori : SP 4: secara teratur dan mengerti fungsi obat yang di berikan.
Halusinansi 1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien.
pendengaran 2. Memberikan pendidikan kesehatan tentang O : - Klien tenang
penggunaan obat teratur. - Klien terlihat meminum obatnya setelah makan
3. Menganjurkan klien memasukkan dalam
kegiatan harian. A : 1. Klien mampu menerima dan mengerti pendidikan kesehatan
tentang penggunaan obat teratur.
2.Klien mampu memasukkan dalam kegiatan harian.

P perawat : mengulang Sp 1 – 4

P klien : Anjurkan klien untuk mempraktekkan cara


mengontrol halusinasi dengan minum obat.
ANALISA PROSES INTERAKSI
(API)
Inisial klien : Tn. A
Status interaksi Perawat - Klien : 1 (fase perkenalan)
Tempat : Ruang tamu
Lingkungan : Di ruang Camar berhadapan dengan klien, suasana tenang.
Deskripsi klien : Penampilan rapi, kontak mata kurang baik.
Tujuan komunikasi : membina hubungan saling percaya, dan mampu mengungkapkan masalahnya.
Komunikasi verbal Komunikasi non verbal Analisa berpusat pada Analisa berpusat pada klien Rasional
perawat
P : Selamat pagi mas? P : memandang klien P: ingin membuka K : merasa masih belum Kalimat pembuka dalam memulai
Boleh saya duduk di dengan tersenyum percakapan dengan klien mengerti tentang suatu percakapan adalah salah satu
samping mas? dan berharap dengan kedatangan perawat cara membina hubungan saling
K : pagi, boleh K: ekspresi wajah datar, sapaan yang diberikan percaya
klien mau perawat, bisa diterima
memandang perawat oleh klien

P : Perkenalan nama saya P: memandang klien P: perawat merasa klien K : mengerti dengan Memperkenalkan diri dapat
adalah istajib, biasa sambil tersenyum dan harus diberi pendekatan kedatangan perawat menciptakan rasa percaya pada klien
dipanggil tajib, saya menjulurkan tangan dan dijelaskan maksud terhadap perawat
mahasiswa stikes kepada klien kedatangan perawat
mojopahit mojokerto
yang praktek di
ruangan camar ini
selama 1 minggu dan
saya akan merawat
mas.
K: iya. . .
K: klien mau berjabat
tangan dan menyebut
nama.
P: nama mas siapa?
Umurnya berapa? P: memandang klien P : perawat ingin tahu nama K: klien bisa menerima Dengan mengenal nama klien dan
Berasal dari mana? sambil tersenyum klien dan merasa klien kedatangan perawat pasien sudah mengenal perawat maka
K: A., 35 tahun, pakisaji memulai bisa lebih dekat akan memudahkan proses interaksi
K: menyebutkan nama, dengan perawat dan
umur dan alamat butuh lagi waktu untuk
lebih mengenal dan dekat
P :lebih senang dipanggil dengan perawat
apa? Mas apa Pak?
K : mas P : memandang klien P : ingin melanjutkan K: sudah mengerti dengan Dapat mengetahui panggilan kesukaan
sambil tersenyum komunikasi dan interaksi kedatangan perawat dan pasien
K: klien mau memandang lebih dalam merasa mulai kenal
perawat dan dengan perawat
menjawab pertanyaan
P : bagaimana kabar mas perawat
pada pagi hari ini?
K: baik P: memandang klien P : mencoba menggali K : klien menjawab Menunjukkan perhatian sehingga bisa
P : apa yang terjadi sambil tersenyum kondisi klien dan merasa pertanyaan dengan menjalin rasa percaya
sehingga mas dibawa K: ekspresi wajah datar pertanyaan dijawab singkat
kesini dengan benar
K : kontrol disuruh P: memandang klien P : mencoba menggali K : menduga-duga arah Mengetahui kedatangan pasien ke RSJ
ngamar, mendengar penyebab klien dibawa pertanyaan dan mulai sehingga memudahkan dalam
suara-suara ke RSJ lawang dan berfikir dan merasa merumuskan masalah keperawatan
K: ekspresi wajah datar merasa senang dengan tidak terganggu oleh
P : saya senang bisa tanggapan klien perawat
berkenalan dengan
mas hari ini,
bagaimana kalau kita P: memandang klien P : ingin membantu klien K : mampu menjawab Kontrak berikutnya harus mendapat
berbincang-bincang sambil tersenyum mengenal halusinasinya. pertanyaan yang persetujuan klien.
untuk lebih saling diberikan perawat
mengenal.

K : iya. . .

P : apakah mas K : ekspresi wajah datar


mendengar suara – dan menatap pasien.
suara tanpa wujud?
K : Kadang – kadang. P : menatap klien P : ingin mengetahui isi K: mampu menjawab semua Dapat mengetahui isi halusinasi
P : Apa yang dikatakan halusinasi pertanyaan perawat.
suara itu?
K : mengajak joget dan K : menjawab singkat
jalan-jalan P : memandang klien P : memandang klien sambil K : merasa pertanyaan Isi halusinasinya merupakan isi yang
tersenyum. mendapat respon dari menyebabkan gangguan jiwa.
P : kapan suara itu K : memperhatikan klien
datang? perawat
K : biasanya malam pas
sendirian P : memandang klien P : ingin mengetahui waktu K : menjawab dengan Dapat mengetahui waktu halusinasi
sambil tersenyum halusinasi singkat. datang.
P : apa yang mbak K : menjawab.
lakukuan jika suara
itu datang? P : memperhatikan klien P : klien belum mengetahui K : menjawab apa yang Dapat mengetahui respon saat
K : kalo dia menghibur cara yang di gunakan dilakukan saat halusinasi
ya saya senyum untuk mengontrol halusinasi.
K : menjawab dengan halusinasi
singkat
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
PERTEMUAN 1

Masalah : Halusinasi pendengaran


SP :1
Hari/Tgl : 18/9/2018
Ruang :

A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Klien
DS : Klien merasa mendengar suara-suara bisikan orang laki-laki yang
mengajak joget dan jalan-jalan, suara tersebut muncul saat klien
sedang sendirian dan saat malam hari sehingga klien sering senyum-
senyum sendiri dan keluyuran.
DO : - Klien terlihat mondar mandir
- Klien senyum-senyum sendiri
- Klien tampak murung
2. Diagnosa Keperawatan
Gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran
3. Tujuan
Tujuan umum: Klien dapat mengontrol halusinasi yang di alaminya
Tujuan khusus
1). Klien dapat membina hubungan saling percaya
2). Klien dapat mengenal halusinasinya
3). Klien dapat menghardik halusinasi
4. Tindakan Keperawatan
1. Mengidentifikasi jenis halusinasi
2. Mengidentifikasi isi halusinasi
3. Mengidentifikasi waktu halusinasi
4. Mengidentifikasi frekuensi halusinasi
5. Mengidentifikasi situasi yang menimbulkan halusinasinya
6. Mengidentifikasi respon pasien terhadap halusinasi
7. Mengajarkan pasien menghardik halusinasinya
8. Menganjurkan pasien memasukkan cara menghardik halusinasi
dalam jadwal kegiatan harian
B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
 Orientasi
Salam terapiutik
“Selamat pagi mas?” perkenalkan nama saya istajib, saya senang di
panggil tajib, saya mahasiswi Stikes Mojopahit Mojokerto, di sini saya
praktek 1 minggu yang akan merawat .mas? Nama mas siapa? Mas
senang di panggil apa?Bagaimana perasaan mas hari ini?apa yang mas
rasakan saat ini?, Baiklah mas, bagaimana kalau kita berbincang
bincang tentang suara yang selama ini mas dengar? Dimana kita
duduk?disini (tempat tidur) atau ruang tamu, berapa lama? bagaimana
kalau 15 menit? Kalau masih kurang bisa kita tambahkan lagi.

 Fase kerja
“Apakah mas mendengar suara tampa wujud?, terdengar seperti apa
suara itu?, apakah mas mendengar suara itu terus menerus / sewaktu
waktu? Pada saat apa suara itu mas dengar? Berapa kali sehari mas
alami? Pada keadaan apa suara itu terdengar mas? Apakah ada waktu
tersendiri mas? Apakah yang mas rasakan saat mendengar suara itu?
Apakah yang mas lakukan jika mendengar suara itu? Apakah dengan
cara itu suara suara yang mbak dengar hilang? Bagaimana kalau kita
belajar cara cara untuk mencegah suara suara itu muncul? Cara
pertama yaitu dengan menghardik suara tersebut mbak, yang kedua
dengan cara bercakap cakap dengan orang lain, ketiga melakukan
kegiatan sesuai jadwal dan yang keempat minum obat secara teratur.
Bagaimana kalau kita belajar 1 cara dulu, yaitu dengan menghardik,
caranya begini mas, saat suara suara itu muncul, langsung mas tutup
telinga dan bilang, pergi..pergi…saya tidak mau dengar,saya tidak mau
dengar kamu suara palsu..begitu mbak di ulang ulang sampai suara itu
tidak terdengar lagi.
Coba mas peragakan !! nah ,begitu mas !coba lagi mas !! iya bagus
mas sudah bisa.
 Fase terminasi
1). Evaluasi subyektif
“ Bagaimana perasaan mas setelah peragaan latihan tadi?”
2). Evaluasi obyektif
“ Kalau suara itu muncul lagi, coba mas usir suara tersebut !
3). Rencana tindak lanjut
“ Bagaimana kalau kita buat jadwal latihan, mas mau jam berapa
latihannya?
4). Kontrak
“ Bagaimana kalau kita bertemu lagi untuk belajar dan latihan
mengendalikan suara suara dengan cara yang ke dua? Kapan mas?
Bagaimana kalau besok jam 11.00 selama 15 menit mas setuju?
Dimana tempat kita besok berdiskusi mas? Baiklah sampai bertemu
besok lagi ya mas!!
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
PERTEMUAN 2

Masalah : Halusinasi pendengaran


SP :2
Hari/Tgl : 19/9/2018
Ruang : Camar

A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Klien
DS : Klien mengatakan mendengar suara – suara perempuan
DO : - Klien terlihat mondar mandir
- Senyum-senyum sendiri
- Tampak murung

2. Diagnosa Keperawatan

Gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran


3. Tujuan
Tujuan umum: Klien dapat mengontrol halusinasi yang di alaminya
Tujuan khusus 3 :
1). Klien dapat mengontrol halusinasinya dengan cara bercakap - cakap
4. Tindakan Keperawatan
1). Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien
2). Melatih klien mengendalikan halusinasi dengan cara bercakap cakap
3). Menganjurkan klien memasukkan jadwal kegiatan harian.
B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
 Orientasi
Salam terapiutik
“Selamat pagi mas? Bagaimana perasaan mas hari ini? Apakah suara
suara bisikan itu masih muncul? Apakah sudah di pakai cara yang kita
pernah latihan ? apakah suara tersebut berkurang?” nah, sesuai kontrak
kita yang kemarin saya akan latih cara yang kedua untuk mengontrol
halusinasi dengan cara bercakap cakap dengan orang lain. Kita akan
latihan selama 15 menit.”
 Fase kerja
“cara ke dua untuk mencegah atau mengontrol halusinasi yang lain
adalah dengan cara bercakap cakap dengan orang lain. Jadi kalau mas
mendengar suara suara tersebut, mbak langsung saja cari teman untuk
di ajak ngobrol dengan mas contohnya begini saya mulai mendengar
suara suara ayo ngobrol dengan saya ! kalau mas ada di rumah
misalnya dengan ibunya atau saudaranya mas. Coba mas lakukan
seperti saya tadi, ya benar begitu mas, bagus mas, coba sekali lagi!
Nah seperti itu ya mas latihan terus.
 Fase terminasi
1). Evaluasi subyektif
“ Bagaimana perasaan mas setelah latihan tadi?” jadi sudah ada
beberapa cara yang bapak pelajari untuk mencegah suara suara bisikan
itu!
2). Evaluasi obyektif
Coba cara kedua ini kalau mas mendengar suara - suara itu lagi.
3). Rencana tindak lanjut
“ Bagaimana kalau kita memasukkan dalan kegitan jadwal harian , mas
mau jam berapa latihannya? Nanti lakukan secara teratur serta sewaktu
waktu suara itu muncul”.
4). Kontrak
“ Besok siang saya akan kemari lagi, bagaimana kalau kita lakukan
cara yang ketiga yaitu melakukan aktifitas terjadwal ? besok mas mau
jam berapa?dan diman kita berdiskusi ? sampai bertemu besok lagi ya
mas.
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
PERTEMUAN 3

Masalah : Halusinasi pendengaran


SP :3
Hari/Tgl : 20/9/2018
Ruang : Camar

A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Klien
DS : Klien mengatakan masih mendengar suara - suara
DO : - Klien mondar mandir
- Klien kadang senyum-senyum sendiri
- Klien tampak murung

2. Diagnosa Keperawatan

Gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran


3. Tujuan
Tujuan umum: Klien dapat mengontrol halusinasi yang di alaminya
Tujuan khusus 4 :
1). Klien dapat mengontrol halusinasinya dengan cara aktivitas terjadwal
4. Tindakan Keperawatan
1). Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien
2). Melatih klien mengendalikan halusinasi dengan cara melakukan
kegiatan (kegiatan klien yang bisa di lakukan klien di rumah.)
3). Menganjurkan klien memasukkan jadwal kegiatan harian.
5. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
 Orientasi
Salam terapiutik
“Selamat pagi mas? Bagaimana perasaan mas hari ini? Apakah suara
suara bisikan itu masih muncul? Apakah sudah di pakai cara yang kita
pernah latihan ? apakah suara tersebut berkurang?” nah, sesuai kontrak
kita yang kemarin saya akan latih cara yang ketiga untuk mengontrol
halusinasi dengan cara melakukan kegiatan terjadwal. Baiklah
bagaimana kalau kita duduk di ruang tamu, berapa lama kita bicara?
Bagaimana kalau 15 menit?
 Fase kerja
“Apa saja yang biasa mas lakukan ? pagi apa kegitan mas, terus jam
berikutnya? (terus ajak ngobrol biar di dapatkan kegiatannya samapai
malam) wah,,..banyak sekali kegiatannya, mari kita lakukan 2 kegiatan
hari ini (latihan kegitan tersebut) bagus sekali mas bisa lakukan.
Kegiatan ini dapat mbak lakukan untuk mencegah suara itu muncul.
Kegiatan yang lain akan latih lagi agar pagi sampai malam ada
kegiatan yang bisa mbak lakukan.
 Fase terminasi
1). Evaluasi subyektif
“ Bagaimana perasaan mas setelah kita bercakap cakap cara yang ke
tiga untuk mencegah suara suara?”
2). Evaluasi obyektif
Bagus sekali !!! coba sebutkan 3 cara yang telah kita latih dan
diskusikan untuk mencegah suara suara itu muncul?
3). Rencana tindak lanjut
Mari kita masukkan dalam jadwal kegiatan harian mas, coba lakukan
sesuai jadwal ( mas dapat melatih aktifitas yang lain pada pertemuan
berikut sampai terpenuhi seluruh aktifitas dari pagi sampai malam)
4). Kontrak
Bagaimana kalau menjelang makan siang? Kita membahas cara minum
obat yang baik serta guna obat, mas ingin jam berapa? Dan dimana
tempat kita berdiskusi?
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
PERTEMUAN 4

Masalah : Halusinasi pendengaran


SP :4
Hari/Tgl : 21/9/2018
Ruang : Camar

A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Klien
DS : Klien suara suaranya kadang masih muncul
DO : - Klien mondar mandir
- Klien kadang senyum senyum sendiri
- Klien tampak murung
2. Diagnosa Keperawatan

Gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran


3. Tujuan
Tujuan umum: Klien dapat mengontrol halusinasi yang di alaminya
Tujuan khusus 5 :
1). Klien dapat mengetahui penggunaan obat yang diberikan.
4. Tindakan Keperawatan
1). Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien
2). Memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan obat secara
teratur
3). Menganjurkan klien memasukkan jadwal kegiatan harian.
B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
 Orientasi
Salam terapiutik
“Selamat siang mas? Bagaimana perasaan mas hari ini? Apakah suara
suara bisikan itu masih muncul? Apakah sudah di pakai cara yang kita
pernah latihan ? apakah jadwal kegitan nya sudah di laksanakan?
Apakah siang ini sudah minum obat? Baik mas, hari ini kita akan
mendiskusikan tentang obat obatan yang mas minum. Kita akan
diskusi selama 15 menit sambil menunggu makan siang. Disini saja ya
mas??”
 Fase kerja
“ Mas, apakah ada perbedaan setelah minum obat secara teratur?
Apakah suara suara itu berkurang? Minum obat sangat penting mas,
supaya suara suara bisikan yang biasanya mas dengar dan mengganggu
selama ini tidak muncul lagi. “ sekarang akan saya jelaskan obat yang
mas minum” Berapa kali mas minum obat? Bagus sekali, iya betul mas
minum obat 2 kali sehari. Berapa macam obat yang mas minum? Ini
yang merah muda (Haloperidol) untuk menghilangkan suara – suara
yang orange untuk gunanya untuk pikiran biar tenang. Kalau suara –
suara sudah hilang obatnya tidak boleh dihentikan. “kalau minum obat
mas minta sendiri ke perawat atau mas masih diberi perawat?. Bagus
mas harus minta sendiri obatnya ke perawat, agar mas tau manfaat dan
kegunaan obat bagi mas ? “ dengan minum obat mas mungkin akan
merasakan perasaan ngantuk, lemas, dan pengen tidur terus, tapi
jangan khawatir, perawat akan selalu melihat keadaan mas. Ada 5 hal
yang harus diingat saat mas minum obat yaitu: benar obat, benar orang,
benar cara, benar waktu dan benar frekuensinya. Ingat ya mas? “ bagus
 Fase terminasi
1). Evaluasi subyektif
“ Bagaimana perasaan mas setelah kita bercakap cakap tentang
obat?”sudah berapa cara yang kita lakukan untuk mencegah suara
suara?
2). Evaluasi obyektif
“Coba sebutkan berapa kali mas minum obat ? Bagus, mas langsung
minta obat jika waktu pemberian obat sudah tiba karena mas sudah
paham tentang obat – obatan.

3). Rencana tindak lanjut


“ Mari kita masukkan jadwal minum obatnya pada jadwal kegiatan,
jangan lupa pada waktunya minum obat pada perawat atau keluarga
kalau berada di rumah.”.
4). Kontrak
“ Baiklah mas, besok kita bertemu lagi untuk melihat manfaat cara
mencegah suara yang telah kita bicarakan, mas besok ingin jam
berapa? Baik mas, sampai jumpa besok lagi”
BAB IV
PEMBAHASAN

Berdasarkan teori gangguan persepsi sensori halusinasi yang telah dijelaskan


didalam tinjauan pustaka dan studi kasus pada Tn. A dengan gangguan persepsi
sensori halusinasi yang berada diruangan Camar di dapatkan data sebagai berikut:

Aspek Teori Kasus kelolaan


Definisi Salah satu gejala gangguan jiwa dimana klien Klien kadang-kadang
mengalami perubahan persepsi sensori, seperti mendengarkan suara
merasakan sensasi palsu yang berupa suara, laki-laki yang
penglihatan, pengecap, perabaan, atau mengajaknya joget dan
penghidupan. Klien merasa stimulus yang jalan-jalan
sebetulnya tidak ada
Selain itu, perubahan persepsi sensori:
halusinasi juga bisa diartikan sebagai persepsi
sensori tentang suatu obyek, gambaran, dan
pemikiran yang sering terjadi tanpa adanya
rasangan dari luarmeliputi semua system
penginderaan (pendengaran, penglihatan,
penciuman, perabaan, dan pengecapaan)
Pasien memiliki ciri-ciri gangguan persepsi sensori halusinasi sesuai
dengan definisi gangguan persepsi sensori halusinasi yaitu klien
mengalami perubahan persepsi sensori, seperti merasakan sensasi palsu
berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan atau penghirupan. Klien
merasa stimulasi yang sebetulnya tidak ada.
Tanda dan  Menarik diri Klien marah – marah,
gejala  Tersenyum sendiri senyum - senyum
 Bicara sendiri sendiri, bicara sendiri,

 Memandang satu arah dan kadang – mengikuti

 Menyerang tiba-tiba suara yang

 Arah gelisah mengajaknya joget dan

Pada halusinasi dengar karakteristiknya yaitu: jalan-jalan.


 Mendengar suara-suara atau bisikan,
paling sering suara orang.
 Suara berbentuk kebisingan yang
kurang jelas sampai kata-kata yang jelas
berbicara tentang klien, bahkan sampai
ke percakapan lengkap antara dua orang
atau lebih tentang orang yang
mengalami halusinasi
 Pikiran yang terdengar dimana klien
mendengar perkataan bahwa klien
disuruh untuk melakukan sesuatu,
kadang-kadang dapat membahayakan.
Berdasarkan tanda dan gejala dari teori yang ditemukan di atas, pasien
memiliki tanda gejala gangguan persepsi sensori halusinasi. Hal ini
membuktikan pasien mengalami halusinasi khususnya yaitu halusinasi
pendengaran.
Faktor Factor predisposisi adalah factor resiko yang Factor klien mengalami
predisposisi mempengaruhi jeis dan jumlah sumber yang gangguan persepsi
dapat dibangkitkan oleh individu untuk sensori halusinasi
mengatasi stress. Factor predisposisi dapat adalah klien memiliki
meliputi: riwayat gangguan jiwa.
 Faktor perkembangan
 Faktor sosio kultur biokimia
 Faktor psikologis, dan
 Faktor genetik
Berdasarkan faktor predisposisi yang ada. Hal ini sudah membuktikan
klien memiliki faktor yang memang dimiliki oleh klien dengan gangguan
persepsi sensori halusinasi
Sumber Suatu evaluasi terhadap pilihan koping dan Kemampuan personal
koping strategi seseorang. Individu dapat mengatasi : jika ada masalah klien
stress dan ansietas dengan menggunakan tidak mau bercerita
sumber koping yang ada di lingkungan. kepada siapapun dan
Dukungan social dan keyakinan budaya dapat lebih banyak di pendam
membantu seseorang dapat mengintegrasikan sendiri.
pengalaman yang menimbulkan stress dan Dukungan sosial :
mengadopsi strategi koping yang efektif klien tidak pernah
bercerita tentang
masalahnya kepada
pasien lain tetapi tetapi
kadang temannya
kadang bertanya tetapi
tidak di jawab.
Keyakinan positif :
Klien memiliki
kemauan untuk sembuh
dan cepat pulang.
Dapat disimpulkan bahwa klien memiliki keyakinan positif yang dapat
memotivasi klien untuk melakukan usaha untuk sembuh
Mekanisme Mekanisme koping merupakan tiap upaya yang Mekanisme koping
koping diharapkan pada pengendalian stress, upaya yang di gunakan Tn. A
penyelesaian masalah secara langsung dan adalah maladaptive.
mekanisme pertahanan lain yang digunakan Terbukti klien berbicara
untuk melindungi diri. dengan satu klien saja
yang ada di ruangan,
dan klien menghindar
dari klien yang lainnya.
Mekanisme koping pasien adalah maladaptive

Dari pengkajian yang telah di lakukan, gangguan yang paling menonjol adalah
gangguan persepsi sensori halusinasi.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Setelah membandingkan teori dan pelaksanaan asuhan keperawatan
pada klien Tn. A. dengan gangguan persepsi sensori halusinasi. Dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:
1. Terdapat persamaan antara teori dasar gangguan persepsi sensori
halusinasi dengan pasien kelolaan gangguan persepsi sensori halusinasi
baik secara definisi, tanda dan gejala, factor predisposes, sumber koping,
mekanisme koping.
2. Membina hubungan saling percaya dengan klien gangguan persepsi
sensori halusinasi merupakan tindakan utama yang harus dilakukan oleh
perawat dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan
gangguan persepsi sensori halusinasi
3. Terapi aktifitas kelompok : gerak yang terprogram dapat membantu
memberikan kegiatan pada klien gangguan persepsi sensori halusinasi
selama di rumah sakit
4. Melatih klien berkenalan dan berinteraksi dengan orang lain secara terus
menerus penting dilakukan untuk mengatasi gangguan persepsi sensori
halusinasi

5.2 Saran

Dari kesimpulan diatas kami menyarankan sebagai berikut:


1. Dalam memberikan asuhan keperawatan gangguan persepsi sensori halusinasi
hendaknya hubungan salin percaya dilakukan secara bertahap, mulai dari
perawat kemudian perawat lain serta pada klien lainnya
2. Kontrak yang dibuat bersama klien hendaknya dilakukan secara konsisten
3. Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi hendaknya dilakukan secara teratur
4. Memberikan reinforcement positif setiap melakukan kegiatan
DAFTAR PUSTAKA

Keliat, Budi Anna, dkk. 2011. Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas CMHN
(Basic Course). Jakarta : EGC

Keliat, Budi Anna, dkk. 2009. Model Praktek Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta :
EGC

Keliat, Budi Anna, dkk. 2005. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC

Stuart, Gail W & Laraian. 2005. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta EGC

Wilkinson, Judith M. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Diagnosis NANDA,


Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC