Anda di halaman 1dari 6

TUGAS MATA KULIAH KOMPUTASI GIZI

ANALISIS HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN PRODUKTIVITAS TENAGA


KERJA PARA PEKERJA DI FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS AIRLANGGA
MENGGUNAKAN SOFTWARE EPI INFO

Disusun Oleh :
Yulianti Wulan Sari 101611233050

PROGRAM STUDI S1 GIZI


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2019
BAB I
Pendahuluan
Sebuah survey dilakukan pada mahasiswa S1 Ilmu Gizi FKM Unair semester VI
yang berjumlah 61 orang. Survey ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan
kejadian anemia pada populasi sampel dengan beberapa variabel independen. Dari 61
responden ditemukan 12 orang menderita anemia, sedangkan variabel-variabel
independen yang dimaksud antara lain: konsumsi jeroan dalam 24 jam terakhir, rata-
rata asupan protein, vitamin C dan besi dalam 2x24 jam terakhir, konsumsi
suplementasi besi, Indeks Massa Tubuh (IMT) serta status gizi. Hasil survey kemudian
dianalisis menggunakan software Epi Info dengan regresi logistik.

BAB II
Pembahasan
2.1 Hubungan Anemia dengan Konsumsi Jeroan
Berdasarkan analisis yang dilakukan, didapatkan nilai p sebesar 0.049 sehingga
anemia berhubungan dengan konsumsi jeroan. Responden yang mengonsumsi jeroan
dalam 24 jam terakhir memiliki risiko mengalami anemia sebanyak 0.27 lebih tinggi.
Hal ini dimungkinkan karena jeroan mengandung zat – zat inhibitor atau penghambat
penyerapan Fe.
Z-
Odds Coefficien P-
Term 95% C.I. S.E. Statisti
Ratio t Value
c
Hubungan
Anemia dengan
Konsumsi 0.2667 0.0716 0.9931 -1.3217 0.6708 -1.9703 0.0488
Jeroan dalam 24
Jam Terakhir
Constant -0.6931 0.4082 -1.6979 0.0895

Hubungan Anemia dengan Rata-Rata Asupan Protein


Berdasarkan analisis yang dilakukan, didapatkan nilai p sebesar 0.004 sehingga
anemia berhubungan dengan rata-rata asupan protein. Berikut adalah tabel hasil analisis
menggunakan software Epi Info. Hal ini dimungkinkan karena protein merupakan
bahan dasar dari transferin, yang merupakan alat transportasi Fe di dalam tubuh yang
merupakan bahan baku dari pembuatan hemoglobin.
Z-
Odds Coefficien P-
Term 95% C.I. S.E. Statisti
Ratio t Value
c
Hubungan
Anemia dengan
Rata-rata
0.8694 0.7908 0.9558 -0.1400 0.0483 -2.8950 0.0038
Asupan Protein
dalam 24 Jam
Terakhir
Constant 6.2282 2.4993 2.4920 0.0127
Hubungan Anemia dengan Rata-Rata Asupan Vitamin C
Berdasarkan analisis yang dilakukan, didapatkan nilai p sebesar 0.089 sehingga
anemia tidak berhubungan dengan rata-rata asupan vitamin C.

Z-
Odds Coefficien P-
Term 95% C.I. S.E. Statisti
Ratio t Value
c
Hubungan
Anemia dengan
Rata-rata
0.9741 0.9451 1.0040 -0.0262 0.0154 -1.6998 0.0892
Asupan Vitamin
C dalam 24 Jam
Terakhir
Constant 1.3223 1.3524 0.9778 0.3282
Hubungan Anemia dengan Rata-Rata Asupan Zat Besi
Berdasarkan analisis yang dilakukan, didapatkan nilai p sebesar 0.568 sehingga
anemia tidak berhubungan dengan rata-rata asupan zat besi.
Z-
Odds Coefficien P-
Term 95% C.I. S.E. Statisti
Ratio t Value
c
Hubungan
Anemia dengan
Rata-rata
1.0325 0.9251 1.1522 0.0320 0.0560 0.5706 0.5683
Asupan Zat Besi
dalam 24 Jam
Terakhir
Constant -1.9390 1.1683 -1.6597 0.0970

Hubungan Anemia dengan Konsumsi Suplemen Zat Besi


Berdasarkan analisis yang dilakukan, didapatkan nilai p sebesar 0.002 sehingga
anemia berhubungan dengan konsumsi suplemen zat besi. Odds ratio sebesar 0.1096
artinya, seseorang yang tidak mengonsumsi suplemen zat besi mempunyai risiko untuk
mengalami anemia sebesar 0,1096 kali lipat dibadingkan dengan yang mengonsumsi
suplemen zat besi. Hal ini terjadi dimungkinkan karena, suplemen zat besi merupakan
penambah Fe untuk tubuh yang kemudian digunakan untuk menyusun hemoglobin. Jika
Fe di dalam tubuh rendah, dan tidak ada tambahan (misal dari suplemen) maka
hemoglobin di dalam tubuh juga akan rendah dan seseorang akan mengalami anemia.
Z-
Odds Coefficien P-
Term 95% C.I. S.E. Statisti
Ratio t Value
c
Hubungan 0.1096 0.0269 0.4466 -2.211 0.7168 -3.0846 0.002
Anemia dengan
Konsumsi
Suplementasi
Besi
Constant 4.6046 1.9575 2.3523 0.0187
Hubungan Anemia dengan Indeks Massa Tubuh (IMT)
Berdasarkan analisis yang dilakukan, didapatkan nilai p sebesar 0.107 sehingga
anemia tidak berhubungan dengan Indeks Massa Tubuh (IMT).
Z-
Odds Coefficien P-
Term 95% C.I. S.E. Statisti
Ratio t Value
c
Hubungan
Anemia dengan
0.7834 0.5821 1.0545 -0.2441 0.1516 -1.6101 0.1074
Indeks Massa
Tubuh (IMT)
Constant 3.8909 3.189 1.2201 0.2224

Hubungan Anemia dengan Status Gizi


Berdasarkan analisis yang dilakukan, didapatkan nilai p sebesar 0.53 sehingga
anemia tidak berhubungan dengan status gizi.
Z-
Odds Coefficien P-
Term 95% C.I. S.E. Statisti
Ratio t Value
c
Hubungan
Anemia dengan 0.7261 0.2673 1.9725 -0.3200 0.5099 -0.6276 0.5302
Status Gizi
Constant -0.9413 0.6431 -1.4637 0.1433
Pada scatter plot diatas terlihat bahwa, rata- rata asupan Fe mempunyai korelasi
negatif dengan besar BMI dimana semakin tinggi rata – rata asupan Fe, semakin rendah
BMI.

Pada scatter plot diatas terlihat bahwa, rata- rata asupan protein mempunyai
korelasi positif dengan besar BMI dimana semakin tinggi rata – rata asupan protein,
semakin besar nilai BMI.
Pada scatter plot diatas terlihat bahwa, rata- rata asupan vitamin C mempunyai
korelasi positif dengan besar BMI dimana semakin tinggi rata – rata asupan vitamin C,
semakin besar nilai BMI.