Anda di halaman 1dari 15

Laporan Praktikum Kimia Dasar II

Redoks dan Sel Elektrokimia

IX. Analisis Data dan Pembahasan


Pada percobaan pertama mengidentifikasi reaksi redoks berdasarkan
perubahan warna yang diamati.
Percobaan 1 A
Tabung 1:
Pada percobaan tabung 1, bahan yang dibutuhkan adalah larutan KI 0,1 M
yang tidak berwarna, larutan kanji yang tidak berwarna, H2SO4 1 M tidak berwarna
dan H2O2 3 %. Langkah pertama yaitu siapkan tabung yang telah di tempel label
angka 1. Kemudian dimasukkan KI sebanyak 1 mL dan ditambah dengan 5 tetes
larutan kanji. Setelah KI dan larutan kanji tercampur, ditambahkan H2SO4
sebanyak 1 mL. Ketika larutan KI + Larutan Kanji ditambah dengan H2SO4 larutan
tetap tidak berwarna. Terakhir ditambahkan H2O2 3% sebanyak 0,5 mL , larutan
berubah menjadi ungu.
KI ditambahkan larutan kanji dan ditambahkan H2SO4 larutan tidak
berwarna. Setelah ditetesi H2O2 3% larutannya berubah menjadi berwarna ungu
kehitaman. Hal tersebut mengindikasikan bahwa terjadi reaksi redoks yang
ditandai dengan perubahan warna . Reaksi redoks yang terjadi yakni:
 O pada H2O2 mengalami reduksi menjadi H2O
 I pada KI mengalami oksidasi menjadi I2.
Reaksinya sebagai berikut :
2I- → I2 + 2e-
2e- + 2H+ + H2O2 → 2H2O
2H+ + H2O2 + 2I- → I2 + 2H2O

-1 reduksi -2

H2SO4 (aq) + H2O2 (aq) + 2KI (aq) → I2 (aq) + 2H2O (l) + K2SO4 (aq)
-1 oksidasi 0

Tabung 2:
Pada percobaan tabung 2, bahan yang dibutuhkan adalah larutan KI 0,1 M
yang tidak berwarna, larutan kanji yang tidak berwarna, FeCl3 0,1 M berwarna
kuning. Langkah pertama yaitu siapkan tabung yang telah di tempel label angka 2.
Kemudian dimasukkan KI sebanyak 1 mL dan ditambah dengan 5 tetes larutan
kanji. Setelah KI dan larutan kanji tercampur, ditambahkan H2SO4 sebanyak 1 mL

14
Laporan Praktikum Kimia Dasar II
Redoks dan Sel Elektrokimia

lalu ditambahkan FeCl3 sebanyak 0,5 mL . Ketika larutan KI + Larutan Kanji


ditambah dengan FeCl3 larutan berubah menjadi ungu kehitaman.
KI ditambahkan larutan kanji dan ditetesi FeCl3 larutannya berubah warna
menjdi ungu kehitaman. Hal tersebut mengindikasikan bahwa terjadi reaksi redoks
yang ditandai dengan perubahan warna. Reaksi redoks yang terjadi yakni:
 Fe pada FeCl3 mengalami reduksi menjadi FeCl2
 I pada KI mengalami oksidasi menjadi I2.
Reaksinya sebagai berikut :
2I- → I2 + 2e- x1

e- + Fe3+ → Fe2+ x2

2I- + 2Fe3+ → I2 + Fe2+

-1 oksidasi 0

6KI (aq) + 2H2SO4 (aq) + 2FeCl3 → I2 + 2FeCL2 + KCl


+3 reduksi +2

Tabung 3:
Pada percobaan tabung 3, bahan yang dibutuhkan adalah larutan KI 0,1 M
yang tidak berwarna, larutan kanji yang tidak berwarna, HNO3 tidak berwarna.
Langkah pertama yaitu siapkan tabung yang telah di tempel label angka 3.
Kemudian dimasukkan KI sebanyak 1 mL dan ditambah dengan 5 tetes larutan
kanji. Setelah KI dan larutan kanji tercampur, ditambahkan HNO3 tetes demi tetes.
Ketika larutan KI + Kanji ditambah dengan HNO3 larutan berubah menjadi ungu
kehitaman.
KI ditambahkan amilum dan ditetesi HNO3 larutannya berubah warna
menjadi ungu kehitaman. Hal tersebut mengindikasikan bahwa terjadi reaksi
redoks yang ditandai dengan perubahan warna. Reaksi redoks yang terjadi yakni:
 N dalam HNO3 mengalami reduksi menjadi NO
 I pada KI mengalami oksidasi menjadi I2.
Reaksinya sebagai berikut :

2I- → I2 + 2e- x1

e- + 4H+ + NO3- → NO + 2H2O x2

8H+ + 2NO3- + 2I- → I2 + 2NO + 4H2O

15
Laporan Praktikum Kimia Dasar II
Redoks dan Sel Elektrokimia

-1 oksidasi 0

4HNO3 (aq) + 2KI (aq)  I2 (aq) + 2KNO3 (aq) + 2NO2 (aq) + 2H2O (l)
+5 reduksi +2

Tabung Pembanding :
Pada percobaan tabung pembanding, bahan yang dibutuhkan adalah larutan
I2 yang tidak berwarna, aquades tidak berwarna dan larutan kanji yang tidak
berwarna. Langkah pertama yaitu siapkan tabung yang telah di tempel label tulisan
pembanding. Kemudian dimasukkan I2 sebanyak 1 mL yang diencerkan dengan 5
tetes aquades dan ditambah dengan kanji. Saat I2 diencerkan dengan air, larutan
tidak berubah warna dan setelah ditambah larutan kanji, larutan berubah menjadi
ungu kehitaman.
I2 yang diencerkan dan ditambah larutan kanji, larutannya berubah warna
menjadi ungu kehitaman. Hal tersebut mengindikasikan bahwa terjadi reaksi
redoks yang ditandai dengan perubahan warna.

Percobaan 1 B
Pada percobaan 1B bahan yang dibutuhkan adalah H2SO4 1 M yang tidak
berwarna, K2Cr2O7 0,1 M berwarna orange, FeSO4 tidak berwarna dan KSCN 0,1
M tidak berwarna. Langkah pertama tabung pipa U diisi dengan H2SO4 1 M yang
tidak berwarna hingga tinggi masing-masing sisi larutan kurang dari 2 cm dari bibir
tabung.
Tabung kanan :
Langkah selanjutnya pada tabung kanan H2SO4 ditambahkan FeSO4
sebanyak 2 mL dan ditambahkan KSCN sebanyak 5 tetes, larutan tetap tidak
berwarna. Kemudian, dicelupkan elektroda karbon dan lama kelamaan larutan
berubah menjadi berwarna jingga pekat (kemerahan). Hal ini mengindikasikan
bahwa terjadi reaksi redoks dari perubahan warna tersebut yakni:
 Fe2+ dalam FeSO4 mengalami oksidasi menjadi Fe3+.
Dengan reaksi sebagai berikut :
3H2SO4(aq) + 6KSCN(aq) + 2FeSO4(aq) → 2FeSO4 (aq) + 3K2SO4(aq) + H2O(l)
+2 oksidasi +3

Dengan reaksi Ion

16
Laporan Praktikum Kimia Dasar II
Redoks dan Sel Elektrokimia

Fe2+ → Fe3+ + e-
Pada tabung kanan dihasilkan ion kompleks, yakni :
Fe3+ (aq) + SCN (aq)  [Fe(SCN)3]2+
Tabung kiri :
Langkah untuk tabung kanan ditambahkan K2Cr2O7 sebanyak 1 mL
kedalam H2SO4 dan larutan berubah menjadi berwarna jingga kekuningan, setelah
dicelupkan elektroda karbon larutan berubah warna menjadi jingga. Hal ini
mengindikasikan bahwa terjadi reaksi redoks yakni:
 Cr6+ dalam K2Cr2O7 mengalami reduksi menjadi Cr3+.
Dengan reaksi sebagai berikut :
+6 reduksi +3

K2Cr2O7 + 2H2SO4 → 2Cr3+ + SO2 + 2K+ + SO42- + 2H2O


Tabung Pembanding:
Tabung pembanding dibuat untuk dapat membedakan warna larutan pada
tabung kanan dan kiri, dan untuk mengetahui tabung mana yang memiliki
kandungan Fe lebih banyak didalam larutan tersebut. Maka, terdapat kesesuaian
antara hasil pengamatan dan hipotesis yaitu pada tabung kanan terbentuk Fe(SCN)3
dan pada tabung kiri terbentuk Cr3+.
Dengan reaksi sebagai berikut :
FeCl3 (aq)+ 3KSCN(aq)  Fe(SCN)3 (aq) + 3KCl(aq)
Fe3+ (aq) + SCN (aq)  [Fe(SCN)3]2+
Pada percobaan ini elektroda karbon berfungsi untuk mempercepat redoks
dan tempat terjadinya redoks. Sedangkan fungsi kabel yakni sebagai penyalur
elektron. Percobaan ini merupakan penerapan Sel Volta dengan ciri-ciri sebagai
berikut :
 Terjadi reaksi spontan
Adalah reaksi terjadi tanpa memerlukan sumber energi dan ditandai dengan
perubahan warna pada larutan setelah tidak beberapa lama diberi karbon.
 Terdapat jembatan garam
Ciri jembatan garam yang digunakan :
 Jembatan garam yang digunakan tidak harus berbentuk padatan
 Jembatan garam harus elektrolit
Maka dari itu digunakan larutan H2SO4

17
Laporan Praktikum Kimia Dasar II
Redoks dan Sel Elektrokimia

 Jembatan garam tidak harus asam atau garam

Percobaan 2
Pada percobaan kedua penentuan daya gerak listrik dari sel kimia.
Pada percobaan kedua kami menyediakan 2 buah gelas kimia 100 mL.
Untuk gelas kimia 1 diisi dengan 15 mL larutan CuSO4 0,1 M jernih tak berwarna
dan gelas kimia 2 diisi dengan 25 mL larutan ZnSO4 0,1 M jernih tak berwarna
kemudian dicelupkan lempeng tembaga ke dalam gelas kimia 1 dan lempeng seng
dimasukkan pada gelas kimia 2. Selanjutnya dibuat jembatan garam dari kertas
tissue yang digulung dan ditetesi larutan NaNO3, kemudian sisi salah satu
dimasukkan ke dalam gelas kimia yang berisi ZnSO4 dan sisi lainnya dimasukkan
ke dalam larutan CuSO4. Setelah itu, kedua lempeng tersebut dihubungkan ke
voltmeter. Reaksi yang terbentuk yaitu :
Katoda : Cu2+ + 2e → Cu
Anoda : Zn → Zn2+ + 2e-
Cu2+ + Zn → Cu + Zn2+
0 oksidasi 2+

Cu2+ + Zn → Cu + Zn2+
2+ reduksi 0

Proses pada percobaan ini yaitu, larutan ZnSO4 terionisasi menjadi Zn2+ dan
SO42- dan lempeng Zn mengalami oksidasi menjadi Zn2+ sehingga menyebabkan
lempeng Zn menjadi hitam dan ion Zn2+ yang terdapat di dalam larutan semakin
banyak yang membuat Zn2+ jumlahnya lebih banyak dari ion SO42-. Kemudian
elektron dari Zn tersebut bergerak dari anoda menuju katoda melewati kabel yang
tersambung dengan voltmeter. Yang terjadi adalah jarum penunjuk pada voltmeter
akan bergerak karena adanya elektron yang bergerak atau berpindah. Jarum
voltmeter bergerak kearah kanan. Selanjutnya Cu2+ mengalami reduksi menjadi Cu
dan menjadikan lempeng Cu menjadi coklat. Hal ini menyebabkan lempeng Cu
bertambah dan SO42- tetap sehingga jumlah Cu lebih banyak dibandingkan SO42-.
Karena terjadi ketidakseimbangan ion antara larutan ZnSO4 dan CuSO4 maka
dibuat jembatan garam yang berfungsi untuk menetralkannya serta menjadi alat
transfer elektron. Untuk mengimbangi kedua larutan di anoda dan katoda maka
NO3- pada jembatan garam mengalir ke larutan yang bermuatan positif yaitu di

18
Laporan Praktikum Kimia Dasar II
Redoks dan Sel Elektrokimia

anoda dan SO42- pada katoda mengalir ke jembatan garam dan berikatan dengan
Na+ pada jembatan garam. Voltmeter akan menunjukkan harga potensial selnya.
Potensial sel ini menunjukkan adanya aliran elektron (aliran listrik) dari logam Zn
ke logam Cu. Secara teori, potensial reduksi (Eo) Cu = + 0,337 V lebih besar dari
potensial reduksi (Eo) Zn = - 0,763 V. Sehingga lempeng tembaga (Cu) mengalami
reduksi sedangkan lempeng seng (Zn) mengalami oksidasi. Persamaan reaksinya:
Cu2+ + Zn Cu + Zn2+

Eosel = Eoreduksi - Eooksidasi,


Eosel = +0,337 – (-0,763) = +1,1 Volt
Namun pada percobaan kami tidak dihasilkan Eosel sejumlah +1,1 Volt
dikarenakan beberapa faktor diantaranya :

1. Lempeng Zn berkarat
2. Jembatan garam tidak diperas jadi larutan KCl ikut bereaksi
3. Kabel voltmeter mengalami eror

Diagram sel pada percobaan ini yaitu :

Zn | Zn2+ || Cu2+ | Cu
Pada jembatan garam terdapat NaNO3 yang terionisasi menjadi Na+ + NO3`
Karena pada larutan ZnSO4 Zn2+ kelebihan positif maka NO3- bergerak ke Zn dan
Na+ bergerak ke Cu.
Perbedaan sel volta dengan elektrolisis yakni :
1. Perubahan energi
Sel volta mengubah energi kimia menjadi energi listrik, sedangkan sel
elektrolisis mengubah energi listrik menjadi energi kimia.
2. Terjadinya reaksi redoks
Pada sel volta reaksi redoks terjadi secara spontan begitu batang logam
dimasukkan kedalam sel. Sebaliknya pada sel elektrolis reaksi redoks hanya terjadi
ketika arus listrik dilewatkan pada sel ini.
3. Sifat anoda dan katoda
Pada sel volta, anoda bersifat negatif dan katoda bersifat positif. Sedangkan
pada elektrolisis anoda bersifat positif dan katoda bersifat negatif.
4. Sumber elektron

19
Laporan Praktikum Kimia Dasar II
Redoks dan Sel Elektrokimia

Pada sel volta elektron berasal dari larutan atau senyawa yang mengalami
oksidasi, sementara pada elektrolisis elektron berasal dari sumber arus listrik.
Sehingga sel elektrolisis bergantung padasumber listrik di luar sel agar bisa terjadi
reaksi kimia.

Percobaan 3
Pada percobaan ketiga yaitu elektrolisis larutan KI. Tahap pertama larutan
KI 0,05 M dimasukkan ke dalam tabung U sekitar 2 cm dari mulut tabung.
Selanjutnya dicelupkan elektroda karbon pada bagian mulut tabung sebelah kanan
sekitar 2 cm dan dihubungkan dengan baterai kutub negatif. Pada mulut tabung
sebelah kiri dicelupkan elektroda karbon sampai terendam sekitar 2 cm dan
dihubungkan dengan bagian positif baterai. Setelah diamati, pada elektroda karbon
sebelah kanan terdapat gelembung-gelembung namun larutan tetap jernih tak
berwarna. Sedangkan pada mulut tabung sebelah kiri, larutan menjadi kuning.
Setelah 5 menit arus listrik diputuskan dan disiapkan 2 tabung reaksi. Alasan
diputuskannya aliran listrik setelah berjalan 5 menit yakni jika terlalu lama maka
I2 yang bercampur akan terlalu banyak atau bahkan tercampur rata. Sedangkan jika
terlalu cepat maka I2 yang bercampur akan terlalu sedikit sehingga tidak mencukupi
untuk pengambilan sebanyak 2 mL. Tabung reaksi I dimasukkan 2 mL larutan hasil
elektrolisis dari ruang katoda dan ditambahkan 2 tetes PP yang menghasilkan
warna merah muda. Hal tersebut dikarenakan ion OH- yang menunjukkan bahwa
larutan bersifat basa. PP mempunyai trayek PH sebesar 8,3-10,0 (Basset,1994).
Selajutnya ditambahkan 2 mL FeCl3 0,1 M yang merubah warna larutan menjadi
tak berwarna terdapat endapan hijau atau yang disebut dengan hablur. Pada tabung
rekasi II dimasukkan 2 mL larutan hasil elektrolisis di ruang anoda (kuning) dan
ditambahkan 1 mL CHCl3. Setelah diamati, warna larutan tetap berwarna kuning
namun terdapat lapisan berwarna merah muda pada bagian dasar tabung.
Selanjutnya larutan tersebut dikocok yang membuat lapisan merah muda pada
bagian dasar tabung semakin banyak. Kedua larutan tersebut terpisah karena
perbedaan kepolaran larutan. Kelarutan dalam CHCl3 sebesar 0,338 x 10-1
sedangkan kelarutan dalam air sebesar 0,25 vx 10-3. Hal itu menyebabkan CHCl3
berada di bagian bawah. Perbedaan kepolaran disebut juga dengan ekstraksi,
larutan I2 dalam air yang bersifat polar sedangkan I2 dalam CHCl3 bersifat non

20
Laporan Praktikum Kimia Dasar II
Redoks dan Sel Elektrokimia

polar. Senyawa polar hanya bisa larut dengan senyawa lain yang polar juga. Warna
CHCl3 adalah tidak berwarna tetapi saat ditambahkan pada larutan I2 menjadi
lembayung. Hal ini dikarenakan apabila suatu larutan iodid dikocok dengan 1-2 ml
kloroform, iod akan dibebaskan. Iod ini melarut membentuk larutan lembayung
yang turun ke sebelah bawah lapisan air. Elektron dari kutub negatif baterai
mengalir ke elektroda dan mengikat K+, namun yang tereduksi yaitu H2O menjadi
H2 dan OH- karena potensial reduksi Eo H2O lebih besar dari K+. Adanya H2
ditandai dengan adanya gelembung pada elektroda dan ion OH- pada larutan
berikatan denagn ion K+ membentuk KOH (basa). Adanya OH- dapat diidentifikasi
dengan perubahan warna yang terjadi yaitu merah muda setelah ditetesi PP.
Selanjutnya ion I- pada larutan ditarik oleh elektroda positif dan mengalami
oksidasi karena melepaskan 2 elektron menjadi I2 yang ditandai dengan adanya
gelembung-gelembung dan larutan berwarna kuning.
Persamaan reaksinya:

Katoda : 2H2O + 2e → H2  + 2OH-

Anoda : 2I- →I2 + 2e


2H2O (l) + 2I- (aq) →H2 (g) + 2OH- (aq) + I2 (g)

Katoda : 2OH- (aq) + FeSO4 (aq) → Fe(OH)2 (aq) + SO42- (aq)


Anoda : I2 (g) + CHCl3 (aq)

Untuk menguji larutan hasil elektrolisis pada tabung U, disiapkan 2 tabung


reaksi. Tabung reaksi I dimasukkan 2 mL larutan hasil elektrolisis dari ruang
katoda (-) dan tabung rekasi II dimasukkan 2 mL larutan hasil elektrolisis di ruang
anoda (+). Karena anoda bermuatan positif (+) maka ion-ion negative (I-) bergerak
menuju anoda sehingga I- teroksidasi menjadi I2 sesuai dengan reaksi :
2 I- → I2 (g)+ 2e-
Sedangkan katoda yang bermuatan negative (-) membuat ion-ion positif
(K+) bergerak menuju katoda akan tetapi pada kondisi yang seperti ini ion K+ tidak
mengalami reduksi. Hal ini dikarenakan diantara ion-ion I- dan K+ terdapat senyawa
H2O yang memiliki potensial reduksi (Eo) lebih besar dari K, sehingga pada katoda
yang tereduksi adalah H2O sesuai dengan persamaan reaksi :

21
Laporan Praktikum Kimia Dasar II
Redoks dan Sel Elektrokimia

2 H2O(l) + 2e- → 2H2(g) + 2 OH-(aq).


Dari persamaan reaksi dapat diketahui bahwa reduksi H2O menghasilkan
gas H2 dan ion OH-. Sehingga saat sampel larutan ini di tetesi indikator PP
menghasilkan warna merah muda yang menandakan adanya OH- pada larutan
(basa). Namun setelah larutan ditambahkan 2 mL FeCl3 0,1 M, larutan berubah
menjadi ada endapan hijau (Hablur) dan terdapat sedikit endapan
Fe(OH)2.Reaksinya
𝐹𝑒 2+ + 2𝑂𝐻 − → 𝐹𝑒(𝑂𝐻)2 ↓

Pada tabung reaksi II ditambahkan 1 mL CHCl3 yang menghasilkan dua


warna berbeda yaitu merah muda(lembayung) pada bagian bawah dan kuning pada
bagian atas. Hal ini karena terjadi reaksi pendesakan I2 terhadap Cl sesuai dengan
dugaan reaksi :
𝐼2(𝑎𝑞) + 𝐶𝐻𝐶𝑙3(𝑎𝑞) → 𝐶𝐻𝐼3(𝑎𝑞) + 𝐶𝑙2(𝑔)

Selanjutnya larutan tersebut dikocok. Kocokan tersebut membuat lapisan


warna merah muda(lembayung) pada bagian dasar tabung semakin banyak.
Larutan CHCl3 berada di bawah karena kelarutanya lebih besar daripada I2.

X. Kesimpulan

Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa :


 Pada percobaan satu, reaksi redoks dapat diidentifikasi dari perubahan warna
 Pada percobaan kedua, terjadi reaksi elektrolisis dibuktikan dengan perubahan
energi listrik menjadi energi kimia.
 Pada percobaan ketiga, larutan KI dapat dielektrolisis dan menghasilkan gas H2
pada katoda dan I2 pada anoda.

XI. Jawaban Pertanyaan


1. Pada percobaan redoks tidak diperlukan sumber arus, sedangkan pada
elektrolisis diperlukan arus mengapa demikian? Dan jelaskan apa
sebenarnya fungsi arus tersebut!
Pada dasarnya reaksi redoks pada sel Volta atau sel Galvani adalah
reaksi yang dapat menghasilkan arus listrik. Sedangkan sel Elektrolisis adalah
sel yang membutuhkan arus listrik untuk menghasilkan reaksi redoks. Arus

22
Laporan Praktikum Kimia Dasar II
Redoks dan Sel Elektrokimia

listrik (DC) digunakan dalam elektrolisis untuk mendorong agar terjadi eaksi
elektrokimia di dalam sel.
2. Apa yang dimaksud dengan jembatan garam, apa fungsinya dan jelaskan
cara pembuatannya dengan kertas tissue!
Jembatan garam adalah alat yang digunakan untuk menghubungkan
reaksi reduksi dan oksidasi setengah sel dari sel volta. Fungsi jembatan garam:
KCl  K+ + Cl-. Menghantarkan arus listrik antara kedua elektrolit yang
berada dalam gelas kimia. Selain itu, jembatan garam juga berguna untuk
menetralkan kelebihan atau kekurangan muatan dari ion-ion yang ada dalam
larutan di dalam kedua gelas kimia selama reaksi elektrokimia berlangsung.
Karena konsentrasi larutan elektrolit pada jembatan garam lebih tinggi
daripada konsentrasi elektrolit di kedua bagian elektroda. Ion negatif (Cl-)
yang terdapat di dalam jembatan garam akan menetralkan kelebihan ion positif
pada setengah sel oksidasi. Sementara itu, ion positif (K+) pada jembatan
garam akan menetralkan kelebihan ion negatif pada setengah sel reduksi.
Cara pembuatannya jembatan garam dengan kertas tissue, yaitu kertas
tissue digulung memanjang, kemudian kertas tissue tersebut
dibasahi/dicelupkan dengan larutan KCl/NaCl. Selanjutnya, kertas tissue
tersebut diletakkan pada kedua gelas kimia yang digunakan untuk percobaan
sel volta.

23
Laporan Praktikum Kimia Dasar II
Redoks dan Sel Elektrokimia

XII. Daftar Pustaka


Anonim. 2012. Sel Elektrokimia. www.catatankimia.com.Diakses pada: Minggu,
18 Maret 2012 jam : 15:00 WIB. Mataram.
Basset, J., Denny, R.C., Jefry, G.H., dan Mendham, J. 1994. Buku Ajar Vogel:
Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Alih Bahasa A. Hadnyana P. Dan L.
Setiono. Vogel’s Textbook of Quantitative Inorganic Analysis, Fourth
Edition. 1991. Jakarta: EGC.
Chang, Raymond. 2005. Edisi ketiga. Kimia Dasar jilid 2. Jakarta :
Erlangga.
Dogra. 2015. Kimia Fisika. Jakarta: Universitas Indonesia
Day dan Underwood. 1998. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi ke-6.
Jakarta:Erlangga.
Petrucci, Ralp.H. 1999. Kimia Dasar Edisi ke-4. Jakarta: Erlangga.
Rivai. 2007. Kimia Organik Universitas. Jakarta: Balai Pustaka.
Sugiarto, Bambang, dll. 2014. Kimia dasar. Surabaya : UNESA.
Tim Kimia Dasar. 2018. Penuntun Praktikum Kimia Dasar II. Surabaya :
Jurusan Kimia FMIPA UNESA.
Shevia. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi
Makro 1 & 2 Edisi ke-5. Jakarta: Kalman Media Pustaka.

24
Laporan Praktikum Kimia Dasar II
Redoks dan Sel Elektrokimia

XIII. Lampiran

No.
Gambar percobaan Keterangan
Perc.

1. A Larutan tabung 1,2,3,dan 4


percobaan 1 A

Tabung 4 pada percobaan


1A

Perbandingan ke 4 tabung
pada percobaan 1 A

25
Laporan Praktikum Kimia Dasar II
Redoks dan Sel Elektrokimia

1. B Hasil percobaan 1 B

Saat kedua mulut tabung


dicelupkan elektroda

2. Gelas kimia 1 dan 2 (dari


kiri) pada percobaan 2.

26
Laporan Praktikum Kimia Dasar II
Redoks dan Sel Elektrokimia

Saat diberi jembatan


garam dan dicelupkan
lempeng seng dan tembaga

Kedua lempeng
dihubungkan dengan
voltmeter

3. Larutan hasil elektrolisis


ditambah CHCl3

27
Laporan Praktikum Kimia Dasar II
Redoks dan Sel Elektrokimia

Elektrolisis larutan KI

28