Anda di halaman 1dari 21

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pneumatik merupakan ilmu yang mempelajari teknik pemakaian udara bertekanan (udara

kempa). Banyak industri yang menggunakan sistem pneumatik dalam proses produksi seperti

industri makanan, industri obat-obatan, industri pengepakan barang maupun industri yang

lain.

Penggunaan udara bertekanan sebenarnya masih dapat dikembangkan untuk berbagai

keperluan proses produksi, misalnya untuk melakukan gerakan mekanik yang selama ini

dilakukan oleh tenaga manusia, seperti menggeser, mendorong, mengangkat, menekan, dan

lain sebagainya. Gerakan mekanik tersebut dapat dilakukan juga oleh komponen pneumatik,

seperti silinder pneumatik, motor pneumatik, robot pneumatik translasi, rotasi maupun

gabungan keduanya. Perpaduan dari gerakan mekanik oleh aktuator pneumatik dapat dipadu

menjadi gerakan mekanik untuk keperluan proses produksi yang terus menerus (continue),

dan flexibel. Pemilihan penggunaan udara bertekanan (pneumatik) sebagai sistem kontrol

dalam proses otomasinya, Penggunaan udara kempa dalam sistem pneumatik memiliki

beberapa keuntungan antara lain ketersediaan udara yang tak terbatas, mudah disalurkan,

fleksibilitas temperatur, udara dapat dibebani lebih dengan aman selain itu tidak mudah

terbakar dan tidak terjadi hubungan singkat (kotsleiting) atau meledak sehingga proteksi

terhadap kedua hal ini cukup mudah, udara yang ada di sekitar kita cenderung bersih tanpa

zat kimia yang berbahaya dengan jumlah kandungan pelumas yang dapat diminimalkan

sehingga sistem pneumatik aman digunakan untuk industri obat-obatan, makanan, dan

minuman maupun tekstil, pemindahan daya dan kecepatan sangat mudah diatur,udara dapat

disimpan melalui tabung yang diberi pengaman terhadap kelebihan tekanan udara selain itu

1
dapat dipasang pembatas tekanan atau pengaman sehingga sistem menjadi aman, udara

mudah dimanfaatkan baik secara langsung.

Selain memiliki kelebihan seperti di atas, pneumatik juga memiliki beberapa kelemahan

antara lain memerlukan instalasi peralatan penghasil udara. Oleh karena itu sistem pneumatik

memerlukan instalasi peralatan yang relatif mahal, seperti kompressor, penyaring udara,

tabung pelumas, pengeering, regulator, dll. Mudah terjadi kebocoran, menimbulkan suara

bising, udara yang bertekanan mudah mengembun.

1.2. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

1. Apa saja Klasifikasi Sistem Pneumatik

2. Apa saja Komponen Kerja Aktuasi dalam Praktik Dasar Otomasi?

3. Bagaimana Sistem Penomoran tiap Elemen/Grup pada Rangkaian?

4. Bagaimana Kode Sambungan pada Rangkaian

5. Bagaiamana Rangkaian Peneumatik?

1.3. Tujuan

1. Untuk mengetahui Klasifikasi Sistem Peumatik

2. Untuk mengetahui Komponen Kerja Aktuasi dalam Praktik Dasar Otomasi

3. Untuk mengetahui cara kerja Sistem Penomoran tiap Elemen/Grup pada Rangkaian

4. Untuk mengetahui Kode Sambungan pada Rangkaian

5. Untuk mengetahui Rangkaian Pneumatik

2
BAB 2

PEMBAHASAN

2.1. Klasifikasi Sistem Pneumatik

2.2. Komponen Kerja Aktuasi dalam Praktik Dasar Otomasi

Berikut adalah table kompone kerja aktuasi dalam praktik dasar otomasi.

Tabel 2.1 Komponen Kerja Aktuasi dalam Praktik Dasar Otomasi


NAMA
NO GAMBAR SIMBOL FUNGSI
KOMPONEN
1. Kompresor Sebagai pensupplay
aliran udara kedalam
rangkaian.
Compressed air supply

3
2. Konduktor menyalurkan udara
(penyaluran) kempa yang akan
membawa/mentransfe
r tenaga ke
aktuator.
3. Konektor menyambungkan atau
menjepit konduktor
(selang
atau pipa) agar
tersambung erat pada
bodi komponen
pneumatik.
4. 3/2 Way Sebagai penerus aliran
Valve udara.
Normally
3/n Way Valv e
Closed

5. 5/2 Way Sebagai komponen


Valve untuk memindah
saluran atau memindah
5/n Way Valv e
gerakan piston
(actuator)
6. Double menghasilkan gerak
acting atau usaha yang
cylinder merupakan hasil akhir
Double acting cy linder atau output dari sistem
pneumatik.
7. Manometer Untuk membantu saat
memindahkan saluran

Manometer

4
8. Valve AND Untuk mengalirkan
udara secara
bersamaan dari kedua
Two pressure valv e
sisinya

9. Valve OR Untuk mengalirkan


udara dari satu sisi.

Shuttle v alv e

10. Valve counter Untuk menggerakkan


piston beberapa kali,
dapat juga dikatakan
Pneumatic counter sebagai penyederhana
rangkaian

Tabel 2.2 Cara membaca simbol katup pneumatik

Tabel 2.3 Simbol katup pneumatik

5
Keterangan :

NO : normally open

NC : Normally Closed

Katup 3/2 adalah katup yang membangkitkan sinyal dengan sifat bahwa sebuah sinyal

keluaran dapat dibangkitkan juga dapat dibatalkan/diputuskan. Katup 3/2 mempunyai 3

lubang dan 2 posisi. Ada 2 konstruksi sambungan keluaran : posisi normal tertutup (N/C)

artinya katup belum diaktifkan, pada lubang keluaran tidak ada aliran udara bertekanan yang

keluar serta posisi normal terbuka (N/O) artinya katup belum diaktifkan, pada lubang

keluaran sudah ada aliran udara bertekanan yang keluar.

Katup 4/2 mempunyai 4 lubang dan 2 posisi kontak. Sebuah katup 4/2 dengan

kedudukan piringan adalah sama konstruksi dengan kombinasi gabungan dua katup 3/2 : satu

katup N/C dan satu katup N/O.

Katup 4/3 mempunyai 4 lubang dan 3 posisi kontak.

Katup 5/2 mempunyai 5 lubang dan 2 posisi kontak. Katup ini dipakai sebagai elemen

kontrol akhir untuk menggerakkan silinder.Sebagai elemen kontrol, katup ini memiliki

sebuah piston kontrol yang dengan gerakan horisontalnya menghubungkan atau memisahkan

6
saluran yang sesuai. Tenaga pengoperasiannya adalah kecil sebab tidak ada tekanan udara

atau tekanan pegas yang harus diatasi (prinsip dudukan bola atau dudukan piring).

Tabel 2.4 Penomoran pada Lubang Katup

Tabel 2.5 Tipe Kontrol Katup

Tabel 2.6 Katup Kontrol Aliran/Tekanan/Arah


NO. SIMBOL NAMA
1. Katup penghambat dengan pembatas tetap.
2. Katup pengontrol arus searah dapat disetel.

3. Katup pembatas tekanan, dapat disetel

4. Katup AND

5. Katup OR

2.3. Sistem Penomoran Tiap Elemen/Grup Pada Rangkaian

7
Berikut tabel sistem penomoran tiap elemen/grup pada rangkaian

Tabel 2.7 Sistem Penomoran Tiap Elemen/Grup Pada Rangkaian


0 : Catu daya
1,2,3,dst : Nomor tiap grup atau mata rantai kontrol
1.0,2.0,dst : Elemen kerja (aktuator)
.1 : Elemen kontrol
.01,.02,.03, dst : Elemen yang dipasang antara elemen kontrol dan elemen kerja
.2,.4,dst : Elemen yang mengaktifkan silinder bergerak keluar (maju)
.3,.5, dst : Elemen yang mengaktifkan silinder bergerak masuk (mundur)

2.4. Kode Sambungan

Berikut tabel Kode Sambungan pada Rangkaian

Tabel 2.8 Kode Sambungan


Menurut ISO Menurut CETOP RP.68 Arti
A, B, C, D 2, 4, 6 Saluran kerja
P 1 Suplai udara
R, S, T 3, 5, 7 Pembuangan/keluar
L 9 Saluran bocoran
Z, Y, X 12, 14, 16, 18 Saluran kontrol

1.0 2.0
Alat
Aktua 1.01 1.02 2.01 2.02
Elemen
si 1.1 2.1
Kontrol
Akhir
Eleme
1.1
0
2.1
1
1.8 2.9
n
Pemro
Eleme 1.2 1.4 1.6 1.3 2.2 2.3 2.5 2.7

ses
n 0.2
Pasok
Masu 0.1
an
kan Gambar 2.1 Kode Sambungan
Energ
i
2.5. Rangkaian Pneumatik

Berdasarkan silinder yang digerakkan :

 Rangkaian intuitif

8
Adalah rangkaian yang silindernya menggerakkan dirinya sendiri. Karena

menggerakkan diri sendiri itulah maka antara 2 silinder yang sama harus

ditempatkan pada saluran yang berbeda.

B+B-
+
Contoh : A A-

Rangkaian intuitif

A
B

Saluran 1 Saluran 2

Gambar 2.2 Saluran pada Rangkaian

Diagram alirnya adalah :

−¿ → A0
−¿ → B0 → A¿
¿
+¿ → B 1 → B
+¿ → A1 → B¿
A¿

SAL 1 SAL 2

9
A0 A1 B0 B1

4 2
4 2

5 3
2 5 3
1 2
1
B0
A1
1 3
1 3

4 2
2
2
B1 5 3 A0
1 3 1
1 3

Gambar 2.3 Rangkaian

Keluaran A0 pindah saluran dari saluran 2 ke saluran 1 menggerakkan maju

silinder A. Silinder A bergerak maju bertemu dengan A1. Keluaran A1 menggerakkan maju

silinder B. Silinder B bergerak maju sehingga bertemu dengan B1. Keluaran B1 pindah

saluran dari saluran 1 ke saluran 2 menggerakkan mundur silinder B. Silinder B bergerak

mundur bertemu dengan B0. Keluaran B0 menggerakkan mundur silinder A. Silinder A

bergerak mundur sehingga bertemu dengan A0.

 Rangkaian cascade

Adalah rangkaian yang silindernya menggerakkan silinder lain.

Contoh : A+B+A-B-

A
B
Gambar 2.4 Saluran

10
Diagram Alir :

−¿ → B 0
−¿ → A0 → B¿
¿
+¿ → B1 → A
+¿ → A1 → B¿
A¿

A0 A1 B0 B1

4 2
4 2

5 3
5 3
1
1

2 2 2 2

B0 B1 A1 A0

1 3 1 3 1 3 1 3

Gambar 2.5 Rangkaian

Keluaran B0 menggerakkan maju silinder A. Silinder A bergerak maju sehingga

bertemu dengan A1. Keluaran A1 menggerakkan maju silinder B. Silinder B bergerak maju

sehingga bertemu dengan B1. Keluaran B1 menggerakkan mundur silinder silinder A.Silinder

A bergerak mundur sehingga bertemu dengan A0. Keluaran A0 menggerakkan mundur

silinder B. Silinder B bergerak mundur sehingga bertemu dengan B0.

Berdasarkan pergerakan udara :

 Rangkaian langsung

Bila katup sinyal/sensor ditekan secara manual, maka udara bertekanan dari

kompressor akan mengalir ke katup tekan 3/2 pembalik pegas (1.1) melalui saluran 1 ke

saluran 2. Udara bertekanan akan diteruskan ke silinder sederhana pembalik pegas (1.0),

11
sehingga bergerak ke kanan (ON). Bila katup 1.1 di lepas, maka. silinder 1.1 akan kembali

dengan sendirinya akibat adanya gaya pegas di dalamnya. Udara sisa yang ada di dalam

silinder 1.0 akan dikeluarkan melalui katup 1.1 melalui saluran 2 ke saluran 3 selanjutnya

dikembalikan ke udara luar (atmosfer). Rangkaian tersebut termasuk dalam kategori

pengendalian langsung, karena tanpa melalui katup pemroses sinyal. Rangkaian ini hanya

dapat digunakan untuk menggeser/ mengangkat benda kerja paling sederhana.

Contohnya : A+A-

Gambar 2.6 A+A-

−¿→ A0
¿
Diagram alirnya : +¿ → A 1 → A
¿
A

A0 A1
Pada rangkaian langsung, udara langsung
mengalir ke akuator

2
2

1 3
1 3

Gambar 2.7 Rangkaian langsung

Udara dari kapasitor masuk melalui A0 menggerakkan silinder keluar. Udara dari

kapasitor masuk melalui A1 menggerakkan silinder ke dalam

 Rangkaian tidak langsung

12
Pengendalian tak langsung pada sistem pneumatik karena udara bertekanan tidak

langsung disalurkan untuk menggerakkan aktuator, melainkan disalurkan ke katup kendali

terlebih dahulu. Setelah katup bergeser, baru kemudian udara bertekanan akan mengalir

menggerakan aktuator.

Contoh : A+A-

A
Gambar 2.8 A+A-

−¿→ A0
Diagram alirnya : +¿ → A 1 → A ¿
A¿

Rizqiana Yogi C
Rangkaian Tak Langsung

A0 A1

Pada rangkaian tak langsung, udara


disalurkan memalui katup kendali terlebih
dahulu sebelum mengalir ke akuator
4 2

5 3
1

2 2

A0 A1

1 3 1 3

Gambar 2.9 Rangkaian tak Langsung

Keluaran A0 menggerakkan maju silinder A. A maju sehingga bertemu A1. Keluaran

A1 menggerakkan mundur silinder A.

 Rangkaian menggunakan katup aliran OR

13
Output yang dihasilkan oleh katup sinyal akan diproses melalui katup pemroses

sinyal (prosesor). Sebagai pengolah input/masukan dari katup sinyal, maka hasil pengolahan

sinyal akan dikirim ke katup kendali yang akan diteruskan ke aktuator agar menghasilkan

gerakan yang sesuai dengan harapan. Katup pemroses sinyal terletak antara katup sinyal dan

katup pengendalian. Beberapa katup pemroses sinyal dapat pula dipasang sebelum aktuator,

namun terbatas pada katup pengatur aliran/cekik yang mengatur kecepatan torak, saat maju

atau mundur. Katup pemroses sinyal terdiri dari beberapa jenis, diantaranya adalah katup satu

tekan (OR). Contohnya :

Gambar 2.10 katup satu tekan (OR)

Keluaran A0 dan A1 bertemu dengan komponen OR. Komponen OR menggerak -

kan maju silinder A. Keluaran B0 dan B1 bertemu dengan komponen OR. Komponen OR

menggerakkan mundur silinder A.

 Rangkaian menggunakan valve counter dan katup aluran AND

14
Pneumatic Counter atau dalam terjemahannya adalah penghitung Gerakan

Pneumatik adalah salah satu komponen yang ada di festo yang berfungsi untuk

menggerakkan piston beberapa kali. Dapat dikatakan bahwa komponen ini difungsikan

sebagai penyederhana rangkaian. Karena ketika suatu piston harus bergerak maju mundur

sebanyak 5 kali misalnya, tentu akan memakan banyak tempat untuk memasang 3/n Way

Valve otomatis apalagi kalau pistonnya kecil. Maka dari itulah, diperlukan Pneumatic

Counter. Dalam pneumatic Counter ini terdapat 4 lubang, masing-masing dengan Simbol (Z

atau 12), (2 atau A), (1 atau P),dan 10 (Y).

Katup dua tekan akan bekerja apabila mendapat tekanan dari dua sisi secara

bersama-sama. Apabila katup ini mendapat tekanan dari arah X (1,2) saja atau dari arah Y

(1,4) saja maka katup tidak akan bekerja (udara tidak dapat keluar ke A). Tetapi apabila

mendapat tekanan dari X (1,2) dan Y (1,4) secara bersama-sama maka katup ini akan dapat

bekerja sesuai fungsinya.

Contohnya :

Diagram Gambar :

A
B 5X

Sal 1 Sal 2 Sal 3


Gambar 2.11 diagram Katup dua tekan

Diagram Alir :

15
−¿→ B0
5X
−¿ → A 0
B¿ A¿
¿
+¿ → A 1 → ¿
A¿

Sal 1 Sal 2 Sal 3

A0 A1 B0 B1

4 2 4 2

5 3 5 3
1 1
2 2

B0 B1

1 3 1 3

2
1 1
4 2

2
5 3
5
12 1
10 4 2
1

5 3
2 1 2

A1 A0

1 3 1 3

Gambar 2.12 Rangkaian Katup dua tekan

Keluaran A0 pindah saluran dari saluran 3 ke saluran 1 menggerakkan maju

silinder A. Silinder A pada saluran 1 bergerak maju sehingga bertemu dengan A1. Keluaran

A1 pindah saluran dari saluran 1 ke saluran 2. Keluaran B0 dari saluran 2 menggerakkan

maju silinder B bertemu dengan B1. Keluaran B1 dari saluran 2 menggerakkan mundur

silinder B. Keluaran valve conter nomor 12 masuk ke keluaran valve yang menggerakkan

silinder B maju. Keluaran valve conter nomor 10 masuk ke saluran sebelum saluran sumber

valve conter yaitu saluran 1. Keluaran valve conter nomor 2 masuk ke masukan valve AND

nomor 1. Keluaran valve conter nomor 1 masuk ke keluaran B1. Keluaran valve conter
16
nomor 2 masuk ke valve pindah saluran. Silinder A pada saluran 3 bergerak mundur sehingga

bertemu dengan A0.

17
BAB 3

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Pneumatik mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mudah diperoleh, bersih dari

kotoran dan zat kimia yang merusak, mudah didistribusikan melalui saluran (selang) yang

kecil, aman dari bahaya ledakan dan hubungan singkat, dapat dibebani lebih, tidak peka

terhadap perubahan suhu dan sebagainya. Udara yang digunakan dalam pneumatik sangat

mudah didapat/diperoleh di sekitar kita. Udara dapat diperoleh dimana saja kita berada, serta

tersedia dalam jumlah banyak. Selain itu udara yang terdapat di sekitar kita cenderung bersih

dari kotoran dan zat kimia yang merugikan. Udara juga dapat dibebani lebih tanpa

menimbulkan bahaya yang fatal. Karena tahan terhadap perubahan suhu, maka penumatik

banyak digunakan pula pada industri pengolahan logam dan sejenisnya.

Sistem elemen pada pneumatik memiliki bagian-bagian yang mempunyai fungsi berbeda.

Output biasanya berupa silinder, Pengendali Sinyal berupa Katup Pengendali Sinyal,

Pemroses Sinyal/Prossesor berupa Katup kontrol AND, OR, NOR, dll, Sinyal Input berupa

Katup Tekan, Tuas, Roll, Sensor, dll, Sumber Energi Udara bertekanan berupa Kompresor.

Komponen dalam rangkaian pneumatik memiliki fungsi yang berbeda – beda, seperti

kompresor sebagai pensupplay aliran udara kedalam rangkaian, konduktor (penyaluran)

untuk menyalurkan udara kempa yang akan membawa/mentransfer tenaga ke actuator,

konektor berfungsi menyambungkan atau menjepit konduktor (selang atau pipa) agar

tersambung erat pada bodi komponen pneumatik, 3/2 Way Valve Normally Closed sebagai

penerus aliran udara, 5/2 Way Valve sebagai komponen untuk memindah saluran atau

memindah gerakan piston (actuator), double acting cylinder menghasilkan gerak atau usaha

18
yang merupakan hasil akhir atau output dari sistem pneumatik, manometer untuk membantu

saat memindahkan saluran, Valve AND untuk mengalirkan udara secara bersamaan dari

kedua sisinya, Valve OR untuk mengalirkan udara dari satu sisi, valve counter untuk

menggerakkan piston beberapa kali, dapat juga dikatakan sebagai penyederhana rangkaian.

Rangkaian intuitif adalah rangkaian yang silindernya menggerakkan dirinya sendiri.

Karena menggerakkan diri sendiri itulah maka antara 2 silinder yang sama harus ditempatkan

pada saluran yang berbeda. Rangkaian cascade adalah rangkaian yang silindernya

menggerakkan silinder lain. Rangkaian langsung adalah rangkaian yang udaranya langsung

masuk ke actuator tanpa melalui katup pemroses sinyal. Rangkaian tidak langsung adalah

rangkaian yang uudara bertekanan tidak langsung disalurkan untuk menggerakkan aktuator,

melainkan disalurkan ke katup kendali terlebih dahulu. Rangkaian dengan valve counter

adalah rangkaian yang silindernya dapat bergerak berkali-kali sesuai dengan jumlah yang kita

inginkan tanpa harus menggunakan valve 3/2 yang terlalu banyak.

19
Daftar Rujukan

Assidqi, NR. 2012. Sistem Pneumatik. Gohits. (Online). (http://x-one-


automationpneumatic.blogspot.com/2009/03/katup-kontrol-arah-
kka.html). Diakses 17 Oktober 2013.

Dhimi. 2009. Metode Cascade (Pneumatik). Mechanical and Industrial Club.


(Online). (http://hadimi.blogspot.com/2009/11/metode-cascade-
pneumatik.html). Diakses 17 Oktober 2013.

Saruna, MI., dkk. 2013. Analisis Sistem Penggerak Pneumatik


Alat Angkat Kendaraan Niaga Kapasitas 2 Ton. Universitas Sam Ratulangi. (Online).
Diakses 17 Oktober 2013.

Tim Dosen Pembina Matakuliah Dasar Otomasi. 2012. Laboratorium Otomasi.


Malang : Universitas Negeri Malang.

Wirawan, Pramono. 2012. Bahan Ajar Pneumatik-Hidrolik. Universitas Negeri


Semarang. (Online). (http://www.unnes.ac.id). Diakses 16 Oktober 2013.

20
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Murkamto, S.Pd

NIP : 19600305 198403 1 010

Pangkat/Golongan : Pembina Tk. 1/IVb

Jabatan : Instruktur Madya TEKMEK

Unit Kerja : UPT PK Tulungagung

MENYATAKAN

Bahwa makalah/karya tulis yang saya buat ini adalah hasil saya sendiri dan
bukan karya orang lain, kecuali kutipan yang telah disebutkan sumbernya. Demikian
pernyataan ini saya buat sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

Tulungagung, 25 September 2015

M U R K A M T O , S. P d
NIP. 19600305 198403 1 010