Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Dunia industri pada masa globalisasi saat ini menuntut dukungan penggunaan
teknologi maju dan canggih, yang di satu pihak akan memberi kemudahan proses
produksi dan meningkatkan produktivitas. Di lain pihak cenderung meningkatkan
resiko kecelakaan dan penyakit yang timbul sehubungan dengan pekerjaan. Selain
itu di tempat kerja terdapat banyak potensi bahaya, yaitu bahaya fisik, kimia,
biologi, ergonomi dan psikososial yang berdampak pada kesehatan pekerja.
Seiring dengan resiko keselamatan kerja yang sering terjadi, perlu adanya
sebuah disiplin ilmu untuk mengatur keseluruhan dari bagiam pekerjaan di sebuah
perusahaan. Hal-hal tersebut adalah Ergonomi, Hazard Communication, dan
MSDS.
Secara singkat Ergonomi adalah sebuah pendekatan multidisiplin ilmu
pengetahuan yang mengintegrasikan prinsip-prinsip fisiologi, psikologi, anatomi,
hygiene, teknologi, dan ilmu pengetahuan lain yang berkaitan dengan kerja. Hazard
Communication (Komunikasi Bahaya) adalah peringatan akan produk yang aman
dari bahaya. MSDS (Material Safety Data Sheet) atau dalam bahasa kita dikenal
dengan ‘Informasi Data Keamanan Bahan’ merupakan informasi mengenai cara
pengendalian bahan kimia berbahaya (B3).

1.2. Rumusan Masalah


Dari latar belakang di atas maka, rumusan masalahnya sebagai berikut:
1. Apa hakikat Ergonomi?
2. Apa tujuan dilakukan ergonomi di tempat kerja?
3. Bagaimana metode ergonomi?
4. Apa manfaat pelaksanaan Ergonomi?
5. Apa Hazard Communication?
6. Apa saja Dasar Hukum Bahaya?
7. Bagaimana cara mengkomunikasikan bahaya?
8. Apa pengertian MSDS (Material Safety Data Sheet)?

1
1.3. Tujuan Pembahasan
Dari rumusan masalah yang telah dipaparkan di atas, maka dapat dirumuskan
tujuan pembahasan sebagai berikut:
1. Mampu memahami pengertian dan hakikat Ergonomi
2. Mampu mengetahui tujuan dilakukan ergonomi di tempat kerja
3. Mampu menerapkan metode ergonomi dan memahami pengembangan
ergonomi
4. Mampu mengetahui manfaat dari pelaksanaan ergonomi
5. Mampu memahami pengertian Hazard Communication(Komunikasi Bahaya)
6. Mampu memaparkan Dasar Hukum Komunikasi Bahaya
7. Mampu memahami cara mengkomunikasikan bahaya
8. Mampu memahami pengertian MSDS(Material Safety Data Sheet)

2
BAB 2

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Ergonomi


Ergonomi atau human Enginering menurut Tarwaka, et, al (2004) merupakan
suatu ilmu, seni dan penerapan teknologi untuk menyeimbangkan antara alat atau
fasilitas kerja, cara dan lingkungan kerja terhadap kemampuan dan keterbatasan
baik fisik maupun mental manusia, sehingga manusia dapat bekerja secara optimal
tanpa pengaruh buruk dari pekerjaannya. Sedangkan menurut Wignyosoebroto,
Sritomo (1995) ergonomic adalah suatu pengetahuan yang sistematis untuk
memanfaatkan informasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia
untuk merancang suatu sistem kerja, sehingga orang dapat hidup dan bekerja dalam
sistem kerja tersebut dengan baik.
Sedangkan studi gerak menurut Sutalaksana, Iftikar Z, et al (2006) adalah
suatu analisa yang dilakukan terhadap gerakan dari bagian badan pekerja dalam
menyelesaikan suatu pekerjaan. Dengan melakukan analisa gerakan ini diharapkan
agar semua gerakan yang dilakukan oleh pekerja akan lebih efektif sehingga dapat
menghilangkan gerakan yang tidak diperlukan. Lebih lanjut Sutalaksana, Iftikar Z,
et al (1992) menjelaskan bahwa untuk memudahkan suatu analisa gerakan, seorang
peneliti terkenal Frank B. Gilbreth telah mengklasifikasikan 17 gerakan dasar yang
disebut dengan gerakan therblig.
Dalam perancangan sistem kerja, studi tentang ekonomi gerak perlu dipahami,
gerakan yang tidak diperlukan justru akan menimbulkan pemborosan karena waktu
kerja menjadi lama dan juga berpotensi menimbul kecelakaan kerja. Berkaitan
dengan ini Sutalaksana, Iftikar Z, et al (2006) menjelaskan prinsip-prinsip ekonomi
gerak yang dihubungkan dengan tubuh manusia dan gerakannya.
Ergonomi adalah ilmu, seni dan penerapan teknologi untuk menyerasikan atau
menyeimbangkan antara segala aktivitas yang digunakan baik dalam beraktivitas
maupun istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan manusia baik fisik maupun
mental sehingga kualitas hidup secara keseluruhan menjadi lebih baik (Tarwaka,
dkk, 2004 : 6).

3
Sedangkan menurut Nurmianto (1996:1), definisi ergonomi adalah studi
tentang aspek-aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara
anantomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen dan desain/perancangan
serta evaluasi dari sebuah produk.

2.2. Tujuan Ergonomi di Tempat Kerja


Secara umum tujuan dari penerapan ergonomi menurut Tarwaka, dkk
(2004: 7) adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan cidera
dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental,
mengupayakan promosi dan kepuasan kerja.
2. Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak
sosial, mengelola dan mengkoordinir kerja secara tepat guna dan meningkatkan
jaminan sosial baik selama kurun waktu usia produktif maupun setelah tidak
produktif.
3. Menciptakan keseimbangan rasional antara berbagai aspek yaitu aspek teknis,
ekonomis, antropologis dan budaya dari setiap sistem kerja yang dilakukan
sehingga tercipta kualitas hidup yang tinggi.

2.3. Metode dan Pengembangan Ergonomi


Beberapa metode ergonomic yang dapat dilakukan di antaranya adalah sebagai
berikut:
1. Diagnosis, dapat dilakukan melalui wawancara dengan pekerja, inpeksi tempat
kerja, penilaian fisik perkja, uji pencahayaan, ergonomic checklist dan
pengukuran lingkungan kerja lainnya.
2. Treatment, pemecahan masalah ergonomi akan tergantung data dasar pada saat
diagnosis.
3. Follow-up, dengan evaluasi subyektif atau obyektif, subyektif misalnya dengan
menanyakan kenyamanan, bagan badan yang sakit, nyeri bahu dan siku,
keletihan, sakit kepala dan lain-lain.
Sedangkan penerapan atau pengembangan ergonomi dijelaskan seperti di
bawah ini:

4
1. Posisi Kerja terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi dudukdimana
kaki tidak terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja.
Sedangkan posisi berdiri dimana posisi tulangbelakang vertikal dan berat
badan tertumpu secara seimbang pada dua kaki.
2. Proses Kerja Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan
posisi waktu bekerja dan sesuai dengan ukuran anthropometrinya. Harus
dibedakan ukuran anthropometri barat dan timur.
3. Tata letak tempat kerja Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan
aktivitas kerja.Sedangkan simbol yang berlaku secara internasional lebih
banyakdi gunakan daripada kata-kata.
4. Macam-macam cara dalam mengangkat beban yakni, dengan kepala, bahu,
tangan, punggung dan sebagainya. Beban yang terlalu berat dapat
menimbulkan cidera tulang punggung, jaringan otot dan persendian akibat
gerakan yang berlebihan.

2.4. Manfaat Pelaksanaan Ergonomi


Dari beberapa uraian yang telah dijelaskan sebelumnya, maka dapat diketahui
manfaat dari pelaksanaan ergonomi di antaranya sebagai berikut:
1. Menurunnya angka kesakitan akibat kerja.
2. Menurunnya kecelakaan kerja
3. Biaya pengobatan dan kompensasi berkurang.
4. Stress akibat kerja berkurang.
5. Produktivitas membaik.
6. Alur kerja bertambah baik.
7. Rasa aman karena bebas dari gangguan cedera.
8. Kepuasan kerja meningkat.

2.5. Pengertian Hazard Communication


Hazard Communication adalah (Komunikasi Bahaya) adalah peringatan.
Setiap orang menggunakan ribuan produk kimia setiap hari, baik itu di rumah
maupun di tempat kerja. Tetapi, kesulitan yang dihadapi adalah kebanyakan dari

5
kita tidak dapat membedakan produk yang aman dari bahaya tanpa adanya
peringatan (Oregon OSHA, 2011).
Kata “komunikasi” mengandung banyak arti, dari pengertian yang umum
sampai pada pengertian yang spesifik, seperti halnya “komunikasi kesehatan”.
Menurut George A. Miller (1951) dalam Notoadmojo (2007) “Komunikasi berarti
bahwa suatu proses informasi yang disampaikan dari satu tempat tertentu ke tempat
yang lain”.
Istilah “hazard” atau “potensi bahaya” mempunyai pengertian sumber atau
situasi yang berpotensi menciderai manusia atau sakit, merusak barang, lingkungan
atau kombinasi dari hal-hal tersebut. Sedangkan kemungkinan potensi bahaya
menjadi manifest, sering disebut sebagai “risiko” (Hargiyarto, 2005).
Komunikasi bahaya adalah suatu cara untuk menunjukkan bahwa suatu benda atau
area mengandung bahaya atau jenis bahaya tertentu. Dengan adanya petunjuk
terhadap bahaya tersebut maka setiap orang yang akan melakukan pekerjaan
dengan alat atau bahan berbahaya tersebut atau bekerja pada area berbahaya
tersebut dapat mengantisipasi dengan langkah-langkah pencegahan atau preventif,
seperti alat perlindungan diri yang sesuai (Munthe, 2012). Contoh dari komunikasi
bahaya adalah kegiatan pelatihan, induksi, safety talk atau tool box meeting,
tanda/rambu K3, simbol kemasan bahaya pada kemasan produk, Material Safety
Data Sheet.
Menurut Occupational Safety and Health Ordinance, pengusaha berkewajiban
untuk memberikan informasi seperti yang diperlukan untuk menjamin keselamatan
dan kesehatan pekerja mereka di tempat kerja. Informasi tentang bahaya yang
terbatas dan belum penting dapat ditemukan pada label, sedangkan informasi lebih
lanjut dapat diperoleh dari MSDS yang disediakan oleh masing-masing produsen
bahan kimia, importir atau distributor (Occupational health and Safety Branch
Labour Departement, 2003).
Pelaksanaan Hazard Communication di tempat kerja sangat penting mengingat
potensi-potensi bahaya yang ada di tempat kerja khususnya bahaya kimia yang
dapat berbahaya bagi kesehatan pekerja pengecatan mobil. Pelaksanaan Hazard
Communication juga diharapkan dapat menunjang kesehatan dan keselamatan kerja
(K3) dalam hal meminimalisir bahaya-bahaya tersebut.

6
Pemberian komunikasi bahaya (Hazard Communication) kepada pekerja baik
lisan, tulisan maupun verbal merupakan unsur yang sangat penting dalam
menunjang budaya kesehatan dan keselamatan kerja, sehingga perlu dilihat dari
segi pengetahuan, sikap dan praktik/tindakan pekerja pengecatan mobil tentang
bahan yang digunakan dalam pengecatan, bahaya yang ditimbulkan serta
pencegahannya.

2.6. Dasar Hukum Komunikasi Bahaya


Dasar Hukum Komunikasi Bahaya dalam perundang-undangan di Indonesia
diatur dalam UU No. 1 /1970, Pasal 9 Ayat 1 yang telah mensyaratkan bahwa
menjadi kewajiban pengusahan untuk mengkomunikasikan bahaya di tempat kerja
kepada pekerja. Komunikasi ini mencakup sebagai berikut:
1. Kondisi-kondisi dan bahaya-bahaya yang dapat timbul dalam tempat kerja;
2. Semua pengamanan dan alat-alat perlindungan yang diharuskan dalam tempat
kerja;
3. Alat-alat perlindungan diri bagi tenaga kerja yang bersangkutan;
4. Cara-cara dan sikap yang aman dalam melaksanakan pekerjaannya.
Selain apa yang disyaratkan di UU no.1/1970, Dasar Hukum Komunikasi
Bahaya juga terdapat dalam standar sistem manajemen K3 (OHSAS 18001), pasal
4.4.2, dalam pasal tersbut disyaratkan komunikasi bahaya mencakup Awareness
atau kesadaran dari pekerja terhadap kebijakan K3 perusahaan dan konsekuensi jika
tidak menjalankan prosedur kerja yang ada termasuk apa yang harus dilakukan
dalam kondisi darurat.
Ada beberapa cara dalam komunikasi bahaya, di antaranya yaitu:
1. Lisan dengan cara training atau pemberitahuan.
2. Tulisan, dapat berupa MSDS serta Poster.
3. Visual, berupa Label, tanda, serta rambu.

2.7. Cara Mengkomunikasikan Bahaya


Ada beberapa cara dalam komunikasi bahaya, diantaranya yaitu :
1. Lisan dengan cara training atau pemberitahuan.
2. Tulisan, dapat berupa MSDS serta Poster.

7
3. Visual, berupa Label, tanda, serta rambu.

2.8. MSDS
1. Pengertian MSDS
MSDS (Material Safety Data Sheet) atau dalam bahasa kita dikenal dengan
‘Informasi Data Keamanan Bahan’ merupakan informasi mengenai cara
pengendalian bahan kimia berbahaya (B3), bisa diartikan juga lembar keselamatan
bahan. Informasi MSDS ini berisi tentang uraian umum bahan, sifat fisik dan
kimiawi, cara penggunaan, penyimpanan hingga pengelolaan bahan buangan.
Berdasarkan isi dari MSDS maka dokumen tersebut sebenarnya harus
diketahui dan digunakan oleh para pelaksana yang terlibat dengan bahan kimia
tersebut yakni produsen, pengangkut, penyimpan, pengguna dan pembuang bahan
kimia. Pengetahuan ini akan dapat mendukung budaya terciptanya kesehatan dan
keselamatan kerja. Ketersediaan MSDS di laboratorium di perguruan tinggi.
Material Safety Data Sheets atau Lembaran Data Bahan Keselamatan meliputi
banyak sekali aspek-aspek keselamatan yang perlu diperhatikan untuk mencegah
terjadinya kecelakaan. Dari seluruh aspek tersebut selalu melibatkan tiga komponen
yang saling berkaitan yakni manusia, prosedur/metode kerja, dan peralatan/ bahan.

2. Fungsi MSDS
Alasan mengapa MSDS atau Lembar Data Bahan Keselamatan harus dipelajari
pada prinsipnya agar kita tetap terjaga kesehatan dan keselamatan pada waktu
bekerja menggunakan bahan kimia. Fungsi dari MSDS berkaitan dengan faktor
penyebab terjadinya kecelakaan kerja yang sering terjadi antara lain seperti:
a. Keterbatasan pengetahuan/ ketrampilan pekerja
b. Lalai dan ceroboh dalam bekerja,
c. Tidak melaksanakan prosedur kerja sesuai dengan petunjuk yang diberikan,
d. dan tidak disiplin dalam menaati peraturan keselamatan kerja termasuk
pemakaian alat pelindung diri.
Adapun tujuan dari dibuatnya MSDS adalah:
a. Mengetahui potensi bahan kimia
b. Menerapkan teknologi pengendalian dalam melindungi pekerja

8
c. Mengembangkan rencana pengelolaan bahan kimia di tempat kerja
d. Merencanakan pelatihan pada pekerja yang langsung kontak dengan B3

3. Pengguna MSDS
Dari keseluruhan penjelasan diatas dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
pengguna dan yang menerapkan Material Safety Data Sheet adalah sebagai berikut:
a. Produsen bahan
b. Pihak pengangkut bahan
c. Penyimpan dan supplier bahan
d. Pengguna bahan (Industri, Laboratorium dan Institusi akademik)
e. Pengolah bahan buangan

4. Bagian-bagian MSDS
Berikut ini adalah informasi-informasi yang umumnya terdapat pada
dokumen MSDS. Informasi tersebut antara laian adalah :
a. Informasi umum
1) Tanggal pembuatan
2) Alamat produsen atau suplier
3) Nomor seri CAS (Chemical Abstract Serial Number)
4) Nama kimia
5) Nama perdagangan dan sinonim
6) Nama kimia lainnya
7) Rumus struktur dan rumus kimia
8) Tanda bahaya bahan kimia
b. Informasi tentang komponen berbahaya
1) Batas paparan tiap komponen
2) Komposisi
3) Persen berat
c. Informasi data fisika
1) Titik didih
2) Tekanan uap
3) Kerapatan uap

9
4) Titik beku atau titik leleh
5) Kerapatan cairan
6) Persen penguapan
7) Kelarutan
8) Penampakan fisik dan bau
d. Informasi tentang data kemudahan terbakar dan ledakan
1) Titik nyala
2) Batas kemampuan terbakar
3) Batas temperatur terendah
4) yang menimbulkan ledakan
5) Batas temperatur tertinggi yang menimbulkan ledakan
6) Media /bahan kimia yang digunakan untuk pemadaman
7) Prosedur khusus untuk pemadaman
e. Informasi tentang data reaktivitas
1) Stabilitas bahan
2) Pengaturan lokasi penempatan bahan
3) Produk dekomposisi yang berbahaya
4) Produk polimerisasi yang berbahaya
f. Informasi tentang bahaya kesehatan
1) Efek terkena paparan yang berlebihan
2) Prosedur pertolongan darurat dan pertolongan pertama akbiat kecelakaan
3) Kontak pada mata
4) Kontak pada kulit
5) Terhirup pada pernafasan
g. Informasi prosedur pengumpulan, pengelolaan dan pengolahan limbah
1) Langkah-langkah yang harus diambil untuk pengumpulan limbah
2) Prosedur pengelolaan dan pengolahan limbah di lapangan
3) Prosedur pengelolaan dan pengolahan limbah di laboratorium
4) Metoda pemusnahan limbah bahan kimia
h. Informasi perlindungan bahan kimia
1) Perlindungan respiratory
2) Ventilasi

10
3) Sarung tangan pelindung
4) Pelindung mata
5) Peralatan pelindung lainnya
6) Pengawasan perlindungan
i. Informasi penanganan awal khusus
7) Penanganan khususu dalam penggunaan dan penyimpanan
8) Penanganan awal lainnya
j. Data transportasi
1) Nama dan jenis transportasi
2) Tanda kelas bahaya bahan
3) Tanda label
4) Tanda merk
5) Prosedur darurat akibat kecelakaan
6) Prosedur penanganan awal yang harus dilakukan selama tranportasi.

Untuk MSDS yang dibuat dari beberapa penyusun sering berbeda dalam hal
urutan penyajian, penonjolan dan prioritas materi, tidak memuat beberapa prosedur
pendukung, atau detail proses yang berlaku standar tidak dituliskan secara lengkap.
Meskipun demikian pengguna atau mahasiswa dapat merujuk MSDS dari beberapa
sumber untuk dikomparasikan sehingga saling melengkapi.

5. Section
MSDS secara standar internasional harus menggunakan bahasa Inggris dan
mengandung section-section sebagai berikut:
a. Section I. Indentitas Kimia (Chemical Identity)
1) Nama umum serta nama lain dan struktur kimia.
2) Identitas dalam harus sama dengan identitas yang ada dalam label pada
kemasan bahan.
b. Section II. Bahan Berbahaya (Hazardous Ingredients)
1) Untuk bahan berbahaya campuran yang telah dites sebagai satu campuran
yang berbahaya maka nama kandungannya komposisi bahan yang
diasosiasikan dengan bahaya harus tercantum.

11
2) Jika bahan campuran belum dites secara keseluruhan maka nama bahan
kandungan berbahaya dengan kadar 1% atau lebih dicantumkan.
3) Nama bahan yang karsinogen dan kadarnya yang lebih dari 0.1 % harus
tercantum.
4) Semua komponen yang menghasilkan bahaya fisik dicantumkan.
5) Semua bahan yang kadarnya dibawah 1% (0.1% untuk karsinogen) harus
dicantumkan jika kadar tersebut melebihi dari standard Permissible
Exposure Limit (PEL) atau Threshold Limit Value (TLV) atau standard lain.
c. Section III. Karakteristik fisik dan kimia (Physical and Chemical Char.)
Karakteristik fisik dan kimia yang terkandung dalam bahan tersebut harus
dicantumkan. Karakteristik tersebut antara lain : boiling and freezing points,
density, vapor pressure, specific gravity, solubility, volatility, serta warna dan
bau. Karakteristik ini sangat penting untuk desain alat yang aman pada tempat
kerja.
d. Section IV. Data Bahaya Api dan Ledakan (Fire and Explosion Hazard Data)
Kandungan yang mengakibatkan bahaya api dicantumkan. Juga keadaan
yang memungkinkan timbulnya bahaya api serta ledakan dicantumkan.
Rekomendasi mengenai jenis Extinguisher dan jenis pemadaman juga
dicantumkan.
e. Section V. Data Reaktivitas (Reactivity Data)
Section ini menunjukkan informasi tentang bahan kimia lain yang bereaksi
dengan bahan ini yang dapat mengakibatkan bahaya. Begitu juga jika terjadi
reaksi dekomposisi.
f. Section VI. Bahaya bagi Kesehatan (Health Hazard)
Bahaya akut yang dapat ditimbulkan, batasan serta akibat yang dapat
diderita harus dicantumkan. Juga ditambahkan kegiatan medis yang harus
dilakukan untuk mengurangi akibatnya. Bahaya-bahaya khusus seperti :
carcinogens, corrosives, toxins, irritants, sensitizers, mutagens, teratogens, dan
efek terhadap organ (i.e., liver, systemsaraf, darah, reproduksi, kulit, mata, paru-
paru, dll.).
1) Ada tiga jalur bahan kimia masuk ke tubuh: pernafasan, kulit, dan mulut.

12
2) Dicantumkan pula standard bahaya serta level berdasarkan OSHA PEL, the
ACGIH TLV, dan batas standard lain yang direkomendasikan.
g. Section VII. Petunjuk untuk pengelolaan dan penggunaan secara aman
(Precautions for Safe Handling and Use)
Rekomendasi dari institusi kesehatan mengenai peringatan dan prosedur
dalam perbaikan alat serta saat pembersihan jika terjadi tumpahan. Dapat pula
dicantumkan cara pengelolaan limbahnya atau peraturan daerah yang ada.
h. Section VIII. Tindakan Pengendalian (Control Measures)
Pada section ini terdiri dari engineering control, prosedur penangan secara
aman, serta alat pencegahan. Informasi ini menjelaskan penggunaan goggles,
gloves, body suits, respirators, and face shields dalam penanganan bahan.
6. Simbol
a. Bentuk dasar, ukuran dan Bahan

Gambar 2.1 Bentuk dasar, ukuran dan Bahan

Simbol berbentuk bujur sangkar diputar 45 derajat, warna dasar putih dan garis
tepi tebal berwarna merah. Ukuran simbol pada kemasan disesuaikan, sedangkan
simbol pada kendaraan pengangkut dan tempat penyimpanan kemasan B3 minimal
berukuran 25 cm x 25 cm Bahan simbol: tahan air, goresan dan bahan kimia yg
mengenainya.

13
1) Simbol untuk B3 klasifikasi bersifat mudah meledak (explosive)

Gambar 2.2 B3 klasifikasi bersifat mudah meledak

Warna dasar putih dengan garis tepi tebal berwarna merah. Simbol berupa
gambar bom meledak berwarna hitam. Simbol ini menunjukkan suatu bahan
yang pada suhu dan tekanan standar (25⁰ C) dapat meledak dan menimbulkan
kebakaran atau melalui reaksi kimia dan / fisika dapat menghasilkan gas dengan
suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan di
sekitarnya.
2) Simbol untuk B3 klasifikasi bersifat pengoksidasi (oxsidizing)

Gambar 2.3 B3 klasifikasi bersifat pengoksidasi

Warna dasar putih dengan garis tepi tebal berwarna merah. Gambar symbol
berupa bola api berwarna hitam yang menyala. Simbol ini menunjukkan suatu
bahan yang dapat melepaskan banyak panas atau menimbulkan api ketika
bereaksi dengan bahan kimia lainnya, terutama bahan-bahan yang sifatnya
mudah terbakar meskipun dalam keadaan hampa udara.

14
3) Simbol untuk B3 klasifikasi bersifat mudah menyala (flammable)

Gambar 2.4 B3 klasifikasi bersifat mudah menyala

Warna dasar putih dengan garis tepi tebal berwarna merah. Gambar symbol
berupa gambar nyala api berwarna putih dan hitam.
4) Simbol untuk B3 klasifikasi bersifat beracun (toxic)

Gambar 2.5 B3 klasifikasi bersifat beracun

Warna dasar putih dengan garis tepi tebal berwarna merah. Simbol berupa
gambar tengkorak dan tulang bersilang.
5) Simbol B3 Klasifikasi bersifat berbahaya (harmful)

Gambar 2.6 B3 Klasifikasi bersifat berbahaya

Warna dasar putih dengan garis tepi tebal berwarna merah. Simbol berupa
gambar silang berwarna hitam. Simbol ini untuk menunjukkan suatu bahan baik

15
berupa padatan, cairan ataupun gas yang jika terjadi kontak ataupun oral dapat
menyebabkan bahaya terhadap kesehatan sampai tingkat tertentu.
6) Simbol untuk B3 klasifikasi bersifat iritasi (irritant)

Gambar 2.7 B3 klasifikasi bersifat iritasi

Warna dasar putih dengan garis tepi tebal berwarna merah. Simbol berupa
gambar tanda seru berwarna hitam. Simbol ini menunjukkan suatu bahan yang
memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Padatan maupun cairan yang terjadi kontak secara langsung dan/atau terus
menerus dengan kulit atau selaput lender dapat menyebabkan iritasi atau
peradangan;
b. Toksisitas sistemik pada organ target spesifik karena paparan tunggal dapat
menyebabkan iritasi pernafasan, mengantuk atau pusing;
c. Sensitasi pada kulit yang dapat menyebabkan reaksi alergi pada kulit;
d. Iritasi/kerusakan parah pada mata yang dapat menyebabkan iritasi serius
pada mata.
7) Simbol B3 Klasifikasi bersifat korosif (corrosive)

Gambar 2.8 B3 Klasifikasi bersifat korosif

Warna dasar putih dengan garis tepi tebal berwarna merah. Simbol terdiri
dari 2 gambar yang tertetesi cairan korosif.

16
8) Simbol untuk B3 klasifikasi bersifat berbahaya bagi lingkungan (dangerous for
environment)

Gambar 2.9 B3 klasifikasi bersifat berbahaya bagi lingkungan

Warna dasar putih dengan garis tepi tebal berwarna merah. Simbol berupa
gambar pohon dan media lingkungan berwarna hitam serta ikan berwarna putih.
Simbol ini untuk menunjukkan suatu bahan yang dapat menimbulkan bahaya
terhadap lingkungan. Bahan kimia ini dapat merusak atau menyebabkan
kematian pada ikan atau organisme aquatic lainnya atau bahaya lain yang dapat
ditimbulkan seperti merusak lapisan ozon, dan persistent dilingkungan.
9) Simbol untuk B3 klasifikasi bersifat karsinogenik, teratogenik dan mutagenic
(carcinogenic, tetragenic, mutagenic)

Gambar 2.10 B3 klasifikasi bersifat karsinogenik, teratogenik dan mutagenic

Warna dasar putih dengan garis tepi tebal berwarna merah. Simbol berupa
gambar kepala dan dada manusia berwarna hitam dengan gambar menyerupai
bintang segi enam berwarna putih pada dada. Simbol ini menunjukkan paparan
jangka pendek, jangka panjang atau berulang dengan bahan ini dapat
menyebabkan efek kesehatan.

17
10) Simbol untuk B3 klasifikasi bersifat bahaya lain berupa gas bertekanan
(pressure gas)

Gambar 2.11 B3 klasifikasi bersifat bahaya lain berupa gas bertekanan

Warna dasar putih dengan garis tepi tebal berwarna merah. Simbol berupa
gambar tabung gas silinder berwarna hitam. Simbol ini untuk menunjukkan
bahaya gas bertekanan yaitu bahan ini bertekanan tinggi dan dapat meledak bila
tabung dipanaskan/terkenapanas atau pecah dan isinya dapat menyebabkan
kebakaran.

18
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari berbagai macam uraian pada bab II, maka dapat disimpulkan beberapa
hal sebagai berikut:
1. Ergonomi atau human Enginering menurut Tarwaka, et, al (2004) merupakan
suatu ilmu, seni dan penerapan teknologi untuk menyeimbangkan antara alat
atau fasilitas kerja, cara dan lingkungan kerja terhadap kemampuan dan
keterbatasan baik fisik maupun mental manusia, sehingga manusia dapat
bekerja secara optimal tanpa pengaruh buruk dari pekerjaannya.
2. Tujuan ergonomi di antaranya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan pada
pekerja di berbagai aspek kehidupan, baik psikis, fisik, sosial, maupun secara
operasional.
3. Metode dan pengembangan ergonomi yaitu:
4. Masalah yang ditimbulkan di tempat kerja di antaranya
5. Setidaknya ada 8 (delapan) manfaat pelaksanaan ergonomi, yaitu: (a)
menurunnya angka kesakitan akibat kerja, (b) menurunnya kecelakaan kerja,
(c) biaya pengobatan dan kompensasi berkurang, (d) stress akibat kerja
berkurang, (e) produktivitas membaik, (f) alur kerja bertambah baik, (g) rasa
aman , (h) kepuasan kerja meningkat

19
DAFTAR RUJUKAN

Anonim. MSDS-Material Safety Data Sheets. (Online), (http://k3-


community.blogspot.com/p/msds.html), diakses tanggal 6 April 2015

Lansida. 2011. Material Safety Data Sheet(MSDS). (Online),


(http://lansida.blogspot.com/2011/01/material-safety-data-sheet-
msds.html), diakses tanggal 6 April 2015

Purnomo, B.G. 2012. Manfaat Pelaksanaan Ergonomi dalam Sebuah


Perusahaan. (online), (http://purnama-
bgp.blogspot.com/2012/12/manfaat-pelaksanaan-ergonomi-dalam.html),
diakses tanggal 11 April 2015.

Putrakolut. 2013. Ergonomi. (Online),


(http://putrakolut.blogspot.com/2013/05/ergonomi.html), diakses tanggal
11 April 2015.

Tahir, Iqmal dan Sugiharto, Eko. 2002. Pengelolaan dan Implementasi Material
Safety Data Sheet (MSDS) Pada Riset Mahasiswa untuk Mendukung
Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Laboratorium. (Online),
(http://iqmal.staff.ugm.ac.id/wp-content/semnasdikkim-2002-iqmal-
msds1.pdf), diakses tanggal 6 April 2015

20
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Murkamto, S.Pd

NIP : 19600305 198403 1 010

Pangkat/Golongan : Pembina Tk. 1/IVb

Jabatan : Instruktur Madya TEKMEK

Unit Kerja : UPT PK Tulungagung

MENYATAKAN

Bahwa makalah/karya tulis yang saya buat ini adalah hasil saya
sendiri dan bukan karya orang lain, kecuali kutipan yang telah disebutkan
sumbernya. Demikian pernyataan ini saya buat sesuai dengan keadaan
yang sebenarnya.

Tulungagung, 08 September 2015

M U R K A M T O , S. P d
NIP. 19600305 198403 1 010