Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara hukum dan bukan negara kekuasaan, hal ini
termuat dalam konstitusi negara Undang-undang Dasar 1945 Pasal 1 ayat (3) dan
lebih lanjut dijelaskan dibagian penjelasan yang menyatakan bahwa Indonesia
adalah negara yang berdasarkan hukum (Rechstaat) dan tidak berdasarkan atas
kekuasaan belaka (Machtstaat).
Secara sosiologis, hukum merupakan refleksi dari tata nilai yang diyakini
masyarakat sebagai suatu pranata dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Itu berarti, muatan hukum yang berlaku selayaknya mampu
menangkap aspirasi masyarakat yang tumbuh dan berkembang bukan hanya yang
bersifat kekinian, melainkan juga sebagai acuan dalam mengantisipasi
perkembangan sosial, ekonomi, dan politik di masa depan.
Menurut Galang Asmara yang mengutip pendapat Mochtar
Kusumaatmadja, pengertian negara hukum adalah negara yang yang berdasarkan
hukum, dimana kekuasaan tunduk pada hukum dan semua orang sama di hadapan
hukum.
Berdasarkan konsepsi tersebut diatas, maka hukum merupakan suatu
kekuasaan dimana setiap orang dan setiap jabatan dalam negara harus tunduk pada
hukum. Selain itu segala kegiatan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara harus didasarkan pada ketentuan hukum. Apabila ada perilaku atau
kegiatan yang tidak didasarkan pada ketentuan hukum, harus dipandang sebagai
pelanggaran terhadap konsep hukum itu sendiri.
Dalam sebuah negara hukum, lembaga peradilan menjadi sangat penting
karena dalam sejarah, selalu ada pihak-pihak baik penyelenggaraan negara/
pemerintahan maupun rakyat yang melanggar ketentuan hukum.
Pendapat yang senada diungkapkan oleh Sjachran Basah , bahwa peradilan
merupakan salah satu unsur penting dari negara hukum yang menunjuk kepada
proses untuk memberikan keadilan dalam rangka menegakkan hukum.
Tugas negara yang utama adalah mensejahterakan rakyatnya. Di dalam
pembukaan UUD 1945 alinea keempat disebutkan salah satu tujuan negara
Indonesia didirikan adalah “…..memajukan kesejahteraan umum…”.
Ksejahteraan rakyat dapat terwujud jika perekonomian suatu negara berkembang
maju. Salah satu sumber keuangan negara yang sangat membantu perekonomian
negara adalah pajak. Di sebagian besar negara Eropa sendiri pajak merupakan
sumber utama keuangan Negara. Kemajuan negaranya sangat bergantung dengan
besar kecilnya pajak yang dipungut oleh Negara (Fiscus) dari rakyatnya (wajib
pajak). Sekalipun di Negara-negara Eropa sangat besar tarif pajak yang
dibebankan kepada rakyatnya namun pajak tersebut tetap akan dikembalikan pada
rakyatnya dalam bentuk fasilitas-fasilitas umum yang pembangunannya
menggunakan dana yang diperoleh dari pajak.
Majunya perekonomian suatu Negara juga harus didukung oleh hukumnya
yang dibuat dengan tujuan mensejahterakan rakyat juga, sehingga hukum dan
ekonomi negara berjalan dengan seimbang, jangan sampai perkembangan
ekonomi dihambat oleh hukum itu sendiri. Jika kita lihat dari uraian di atas ada
suatu hubungan hukum dalam pajak yaitu antara Negara sebagai pemungut pajak
(fiscus) dan rakyat sebagai Wajib Pajak (WP), hubungan ini diatur berdasarkan
suatu aturan hukum. Pajak sendiri harus berdasarkan undang-undang, dalam
Amandemen Ketiga UUD 1945 Pasal 23A yang berbunyi, “Pajak dan pungutan
lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang.
Mengapa pajak diwajibkan oleh UUD 1945 menggunakan undang-undang ? sebab
pajak merupakan peralihan kekayaan dari rakyat kepada pemerintah yang tidak
ada imbalannya yang secara langsung dapat ditunjuk. Peralihan kekayaan
demikian itu dalam kata sehari-hari hanya dapat berupa penggarongan,
perampokan, pencopetan (dengan paksa), atau pemberian hadiah dengan sukarela
dan ikhlas (tanpa paksaan).[5] Maka supaya pajak tidak dikatakan perampokan
atau pemberian hadiah dengan sukarela maka pajak haruslah berdasarkan undang-
undang. Falsafah pajak yang dianut oleh Inggris sama dengan di Indonesia yaitu
“No Taxation Without Representation” dan juga di Amerika “Taxation Without
Representation is Roberry”.
Hubungan hukum antara Negara dengan wajib pajak ini dapat
menimbulkan permasalahan atau dikatakan sebagai sengketa pajak. Sengketa ini
timbul dari kurang kesadaran wajib pajak untuk membayar pajak yang dibebankan
kepada. Disamping itu juga akibat pelaksanaan penagihan pajak yang merugikan
wajib pajak. Sengketa ini tentunya diperlukan suatu lembaga yang dapat
menyelesaikan masalah ini. Lembaga yang menyelesaikan sengketa pajak salah
satunya adalah Pengadilan Pajak.
Dalam konteks tersebut, maka ketentuan Pasal 24 UUD 1945 ayat (2)
mengenai adanya kekuasaan kehakiman menjadi relevan. Salah satu konsekwensi
Pasal 24 ayat (2) adalah munculnya berbagai lembaga peradilan, diantaranya
adalah Lembaga Peradilan Pajak.
Keberadaan lembaga peradilan pajak sangat penting apabila dikaitkan
dengan konsep negara hukum, yang menghendaki adanya penegakan hukum oleh
lembaga peradilan. Hukum yang ditegakkan disini adalah hukum dalam bidang
perpajakan yang terkait dengan penegakan hak dan kewajiban negara dan rakyat
dalam rangka pemungutan pajak oleh negara terhadap rakyat.

Pengadilan pajak sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor


14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak, merupakan badan peradilan yang
melaksanakan kekuasaan kehakiman bagi wajib pajak atau penanggung pajak
yang mencari keadilan apabila terjadisengketa pajak dengan fiscus atau pemungut
pajak.
Hal ini memberikan gambaran bahwa tugas dari pengadilan pajak adalah
memberikan perlindungan hukum kepada pihak-pihak yang bersengketa dalam
sidang pengadilan pajak. Keberadaan lembaga-lembaga peradilan di tanah air
tidak bisa dilepaskan dari konsep negara hukum yang menghendaki adanya
supremasi hukum dan penegakan hukum. Lembaga-lembaga peradilan tersebut
menjadi sangat penting, karena dapat dipastikan tanpa adanya lembaga peradilan
yang diberi kewenangan untuk melakukan penegakan hukum, maka hukum tidak
akan banyak maknanya dalam masyarakat. Salah satu lembaga peradilan yang
yang bertugas melakukan penegakan hukum tersebut adalah Lembaga Peradilan
Pajak.
Peradilan Pajak merupakan implementasi dari Undang-undang Nomor 28
Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP). Hal ini
sebagaimana tertuang dalam Pasal 27 ayat (1) UU KUP, yang mengatakan bahwa
Wajib Pajak dapat mengajukan pemohonan Banding hanya kepada Badan
Peradilan Pajak terhadap Surat Keputusan Keberatan yang ditetapkan oleh
Direktur Jenderal Pajak.
Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang
Pengadilan Pajak maka penyelesaian sengketa pajak dapat dilakukan melalui
Pengadilan Pajak. Pengadilan ini didirikan untuk menggantikan peran Badan
Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP). Menurut UU, pengadilan pajak memiliki
kewenangan untuk memeriksa dan memutus sengketa pajak yang terjadi antara
wajib pajak dan Direktorat Jenderal Pajak.
Sebenarnya, niat awal pembentukan peradilan ini sudah sesuai dengan
semangat konstitusi dan integrated justice system, yakni peradilan yang sesuai
dengan sistem kekuasaan kehakiman di Indonesia, yang terpadu dan berpuncak ke
Mahkamah Agung (MA). Sebelumnya, BPSP–yang diperdebatkan statusnya
sebagai badan peradilan– tidak berpuncak di MA.
Namun di dalam pembentukan UU Pengadilan Pajak semenjak
diundangkan justru memunculkan dualisme pembinaan sehingga sangat rawan
disalahgunakan. Mengutip penelitian Benny K. Harman (1997) dan Muhammad
Asrun (2004) yang menyimpulkan bahwa dualisme antara yudikatif dan eksekutif
adalah masalah inti peradilan selama orde lama dan orde baru yang menyebabkan
rentannya peradilan terhadap intervensi politik dan korupsi. Oleh karena itulah
diawal reformasi, agenda utama reformasi hukum yang diamanatkan oleh
Ketetapan MPR No. X/1998 adalah pemisahan yang tegas fungsi yudikatif dari
esekutif.
Pemisahan ini diperkuat dengan lahirnya UU No. 35/1999 tentang
Kekuasaan Kehakiman yang mengamanatkan untuk menerapkan sistem satu atap
peradilan (one roof system). Sistem ini menghendaki semua urusan yang
berhubungan dengan peradilan berada dibawah kendali MA.
Berbagai kelemahan yang terdapat dalam UU Pengadilan Pajak, tentunya
harus segera diperbaiki. Pengadilan pajak harus ditata ulang, baik secara hukum,
administrasi, organisasi dan finansialnya. Poin penting yang harus diperhatikan
adalah pengadilan pajak harus berada dibawah MA. Selain itu, patut
dipertimbangkan membentuk pengadilan pajak setidaknya di empat kota, Medan,
Jakarta, Surabaya, Makassar dan pengadilan tinggi banding di Jakarta. Dengan
tujuan, memutus mata rantai mafia pajak dan makelar kasus yang sudah
menggerogoti pengadilan pajak.
Di negara-negara berkembang pembaharuan hukum merupakan prioritas
utama, terlebih jika negara dimaksud merupakan negara yang baru merdeka dari
penjajahan bangsa/negara lain. Oleh karena itu, di negara-negara berkembang
pembaharuan hukum senantiasa mengesankan adanya peranan ganda. Pertama,
merupakan upaya untuk melepaskan diri dari lingkaran struktur hukum kolonial.
Upaya tersebut terdiri atas penghapusan, penggantian, dan penyesuaian ketentuan
hukum warisan kolonial guna memenuhi tuntutan masyarakat nasional. Kedua,
pembaharuan hukum berperan pula dalam mendorong proses pembangunan,
terutama pembangunan ekonomi yang memang diperlukan dalam rangka
mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju, dan yang lebih penting adalah
demi peningkatan kesejahteraan masyarakat warga negara.
Saat ini di Indonesia masih terdapat banyak peraturan-peraturan hukum
yang sudah tidak up to date namun tetap dipertahankan. Dalam rangka
menyongsong era global dan pasar bebas mendatang jelas peraturan-peraturan
hukum tersebut memerlukan revisi dan jika perlu dirubah total dengan bobot
materi yang mencerminkan gejala dan fenomena masyarakat saat ini.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian-uraian tersebut diatas, maka Penulis menemukan
beebrapa rumusan masalah sebagai berikut:
1.2.1 Bagaimanakah kedudukan Badan Pengadilan Pajak menurut Undang-
Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak dalam
Kekuasaan Kehakiman di Indonesia?
1.2.2 Apakah yang menjadi kendala dalam implementasi Pengadilan Pajak
dalam menyelesaikan sengketa Pajak?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Aspek Hukum Dalam Hukum Pajak
Pajak merupakan gejala sosial dan hanya terdapat dalam suatu masyarakat
yaitu masyarakat hukum atau Gemeinschaft bukan masyarakat yang bersifat
Geselschaft.[9] Pajak sebenarnya adalah utang, yaitu utang anggota msyarakat
kepada masyarakat. Pajak sendiri menurut UUD 1945 diamanatkan harus dengan
undang-undang. Dengan undang-undang diharapkan tidak terjadi penyalahgunaan
kekuasaan (detournement de pouvoir). Detournement de pouvoir adalah
penggunaan daripada wewenang yang menyimpang dari tujuannya menurut
undang-undang yang bersangkutan.
Definisi pajak sendiri memiliki berbagai macam, setiap pakar dalam
memberikan definisi berbeda namun pada intinya sama. Menurut Prof. Dr. P.J.A.
Adriani, pajak adalah iuran kepada Negara (yang dapat dipaksakan) yang
terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan
tidak mendapatkan prestasi-kembali, yang langsung dapat ditunjuk, dan yang
gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubungan
dengan tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan. Sedangkan menurut
Mr. Dr. N. J. Feldmann dalam bukunya De overheidsmeddelen van Indonesia,
Leiden, 1949, adalah
“Belastinge zijn aan de overheid (volgens aglemene, door haar vastgestelde
normen) verschuldigde afdwingbare prestties, waar geen tegenprestatie tegenover
staat en uitsluitend dienen tot dekking van publieke uitgaven”.
“Pajak adalah prestasi yang dipaksakan sepihak oleh dan terhutang kepada
penguasa (menurut norma-norma yang ditetapkannya secara umum), tanpa adanya
kontraprestasi dan semata-mata digunakan untuk menutup pengeluaran-
pengeluaran umum”.
Mengenai pajak dapat kita lihat ada dua pihak di dalam pajak yaitu
Negara sebagai pemungut pajak (fiscus), dan subjek pajak, disamping itu ada
objek pajak (yang dapat dikenakan pajak). Di atas telah dijelaskan dasar mengapa
Negara dapat memungut pajak pada rakyatnya. Sedangkan subjek pajak sendiri
dalam Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata
Cara Perpajakan yang telah dirubah oleh Undang-Undang No. 16 Tahun 2000 dan
diubah kembali dengan Undang-Undang No. 28 Tahun 2007 tidak menjelaskan
apa yang dimaksud dengan subjek pajak, hanya wajib pajak lah yang dijelaskan.
Menurut Rochmat Soemitro subjek pajak adalah orang atau badan yang
memenuhi syarat-syarat subjektif. Subjek pajak tidak identik dengan subjek
hukum, sebab untuk menjadi subjek pajak tidak perlu menjadi subjek hukum.
Dalam Undang-Undang No.7 Tahun 1983 tentang Pajak penghasilan pasal
2 menyebutkan subjek pajak dalam PPh adalah:
 Orang pribadi atau perorangan,
 Warisan yang belum terbagi, sebagai suatu kesatuan menggantikan yang
berhak,
 Badan yang mempunyai berbagai bentuk yang sifatnya satu denga lain
berlainan,
 Bentuk usaha tetap.
Subjek pajak sendiri belum tentu menjadi wajib pajak. Subjek pajak harus
selain harus memenuhi syarat subjektif juga harus memenuhi syarat objektif yaitu
memenuhi Tatbestand yang telah ditentukan oleh undang-undang. Dalam Undang-
Undang No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-undang No.6
Tahun 1983 Pasal 1 angka 2 Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan,
meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai
hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan.
Segala sesuatu yang ada dalam masyarakat dapat dijadikan sasaran Objek pajak,
baik keadaan, perbuatan, maupun peristiwa atau dalam bahasa Jerman disebut
Tatbestand. Misalnya:
 Keadaan: kekayaan seseorang pada suatu tertentu, memiliki kendaraan
bermotor, menempati rumah tertentu.
 Perbuatan: melakukan penyerahan barang karena perjanjian, mendirikan
rumah atau barang.
 Peristiwa: kematian, keuntungan yang diperoleh secara mendadak.

2.2 Pengadilan Pajak Dan Kekuasaan Kehakiman


Pajak merupakan salah satu sumber pemasukan kas negara yang
digunakan untuk pembangunan dengan tujuan akhir kesejahteraan dan
kemakmuran rakyat. Oleh karena itu, sektor pajak memegang peranan penting
dalam perkembangan kesejahteraan bangsa. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa
sulitnya negara melakukan pemungutan pajak karena banyaknya wajib pajak yang
tidak patuh dalam membayar pajak merupakan suatu tantangan tersendiri.
Pemerintah telah memberikan kelonggaran dengan memberikan peringatan
terlebih dahulu melalui Surat Pemberitahuan Pajak (SPP). Akan tetapi, tetap saja
banyak wajib pajak yang lalai untuk membayar pajak bahkan tidak sedikit yang
cenderung menghindari kewajiban tersebut.

Dalam konteks pajak, perbedaan pendapat dan sengketa relatif sering


terjadi karena adanya perbedaan penafsiran dan kepentingan antara fiskus dengan
Wajib Pajak. Karena, diakui atau tidak, hingga saat ini tidak sedikit peraturan
pajak yang dianggap tidak jelas, kurang tegas dan cenderung multitafsir sehingga
dapat diartikan secara berbeda oleh kedua pihak yang masing-masing memiliki
kepentingan yang berbeda pula.
Apalagi jika sudah menyangkut kepentingan antara Wajib Pajak dan
fiskus, maka adanya beda penafsiran itu dapat dipastikan akan selalu ada. Fiskus
dalam konteks ini menjadi kepanjangan tangan dari pemerintah yang notabene
memiliki tujuan dan kepentingan mencari dan mengumpulkan dana penerimaan
negara dari sektor pajak semaksimal dan seoptimal mungkin. Sementara di sisi
lain, Wajib Pajak seminimal mungkin agar keuntungan usaha dan
kesejahteraannya tidak berkurang.
Pada tahun 2002, setelah Undang-undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 diubah untuk kedua kalinya, Undang-undang Badan
Penyelesaian Sengketa Pajak dinyatakan tidak berlaku dan digantikan dengan
Undang-undang Pengadilan Pajak. Konsekuensi penggantian tersebut adalah
Badan Penyelesaian Sengketa Pajak diganti dengan Pengadilan Pajak sebagai
badan peradilan pajak yang berwenang memeriksa dan memutus sengketa.
Pasal 2 Undang-undang No. 14 tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak
menyatakan bahwa Pengadilan Pajak adalah badan peradilan yang melaksanakan
kekuasaan kehakiman bagi Wajib Pajak atau penanggung Pajak yang mencari
keadilan terhadap Sengketa Pajak. Selanjutnya penjelasan pasal tersebut
menyatakan bahwa Pengadilan Pajak adalah badan peradilan pajak sebagaimana
dimaksud dalam Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum
dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Undang-undang Nomor 14 Tahun 2000, dan merupakan Badan Peradilan
sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang
Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman sebagaimana telah diubah
dengan Undang-undang Nomor 35 Tahun 1999.
Setelah berlakunya Undang-undang No. 14 tahun 2002 tentang Pengadilan
Pajak, Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan diubah lagi dengan Undang-
undang Nomor 28 tahun 2007 sedangkan Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan
Kehakiman diubah lagi dengan Undang-undang Nomor 4 tahun 2004 tentang
Kekuasaan Kehakiman, sebagaimana telah diubah menjadi Undang-Undang
Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. Di dalam paragrap
pertama Penjelasan Umum Undang-undang No. 14 tahun 2002 tentang Pengadilan
Pajak dinyatakan bahwa Pengadilan Pajak dibentuk salah satunya adalah untuk
menggantikan Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP) yang dianggap dalam
pelaksanaan penyelesaian Sengketa Pajak melalui BPSP masih terdapat
ketidakpastian hukum yang dapat menimbukan ketidakadilan.
Paragrap terakhir Penjelasan Umum Undang-undang No. 14 tahun 2002
tentang Pengadilan Pajak menyatakan bahwa Pengadilan Pajak yang diatur dalam
undang-undang ini bersifat khusus menyangkut acara penyelengaraan persidangan
sengketa perpajakan, yaitu:
 Sidang Peradilan Pajak pada prinsipnya dilaksanakan secara terbuka,
namun dalam hal tertentu dan khusus guna menjaga kepentingan pemohon
Banding atau tergugat, sidang dapt dinyatakan tertutup, sedangkan
pembacaan putusan Hakim Pengadilan Pajak dilaksanakan dalam sidang
yang terbuka untuk umum.
 Penyelesaian sengketa perpajakan memerlukan tenaga-tenaga Hakim
khusus yang mempunyai keahlian di bidang perpajakan dan berijzah
Sarjana Hukum atau sarjana lain.
 Sengketa yang diproses dalam Pengadilan Pajak khusus menyangkut
sengketa perpajakan.
 Putusan Pengadilan Pajak memuat penetapan besarnya Pajak terutang dari
Wajib Pajak, berupa hitungan secara teknis perpajakan, sehingga Wajib
Pajak langsung memperoleh kepastian hukum tentang besarnya Pajak
terutang yang dikenakan kepadanya.
 Sebagai akibatnya jenis putusan Pengadilan Pajak, disamping jenis-jenis
putusan yang umum diterapkan pada peradilan umum, juga berupa
mengabulkan sebagian, mengabulkan seluruhnya, atau menambah jumlah
Pajak yang masih harus dibayar.
Sebagai konsekuensi dari kekhususan tersebut diatas, dalam undang-undang
ini diatus hukum acara tersendiri untuk menyelenggarakan Pengadilan Pajak.
Menurut Sudjawardi, Pengadilan Pajak memiliki kewenangan untuk memeriksa,
memutus, mengadili sengketa pajak. Sengketa pajak sendiri terdiri dari pajak
pusat maupun pajak daerah. Pajak pusat ada 7, yaitu yang dikelola oleh Direktorat
Jenderal Pajak (yaitu Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Bumi dan Bangunan, Bea Meterai dan Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan). Sedangkang dua pajak dikelola oleh
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yaitu bea dan cukai.
Menurut Istiani, Pengadilan Pajak didirikan dengan suatu asumsi bahwa upaya
peningkatan penerimaan pajak pusat, pajak daerah, bea masuk dan cukai, dalam
prakteknya, terkadang dilakukan tanpa adanya peningkatan keadilan terhadap para
Wajib Pajak itu sendiri. Karenanya, masyarakat dalam hal ini Wajib Pajak
seringkali merasakan bahwa peningkatan kewajiban perpajakan/bea tidak
memenuhi asas keadilan, sehingga menimbulkan berbagai sengketa perpajakan
sehingga dirasakan adanya suatu kebutuhan untuk mendirikan suatu badan
peradilan khusus untuk menanganinya.
Selanjutnya menurut Galang Asmara, kebutuhan adanya suatu lembaga
Peradilan Pajak didasarkan pada dua hal sebagai berikut:
 Lembaga Peradilan Pajak dan Konsep Negara Hukum
 Keberadaan lembaga peradilan pajak bila dikaitkan dengan konsep Negara
Hukum adalah untuk menegakkan konsep Negara Hukum itu sendiri yang
menghendaki adanya penegakkan hukum oleh lembaga peradilan. Hukum
yang ditegakkan disini adalah hukum dalam bidang perpajakan yang
terkait dengan penegakan hak dan kewajiban negara dan rakyat dalam
rangka pemungutan pajak oleh negara terhadap rakyatnya atau penduduk
negara.
Pembangunan merupakan upaya sadar yang dilakukan untuk merubah suatu
kondisi dari suatu tingkat yang dianggap kurang baik ke kondisi baru pada tingkat
kualitas yang dianggap baik atau paling baik. Pembangunan yang dilaksanakan
tentu saja pembangunan yang memiliki pijakan hukum yang jelas, bisa
dipertanggungjawabkan, terarah serta proporsional antara aspek fisik
(pertumbuhan) dan non- fisik.

2.3 Perlindungan Pajak dan Perlindungan Hukum Bagi Rakyat


Lembaga Peradilan Pajak sebagai salah satu lembaga perlindungan hukum
terutama berfungsi di dalam memberikan perlindungan terhadap Wajib Pajak dan
penanggung pajak dari tindakan pemerintah di dalam memungut pajak terhadap
rakyat.
Lembaga peradilan pajak disini berperan di dalam menyelesaikan sengketa
pajak, yaitu sengketa yang timbul dalam bidang perpajakan antara Wajib Pajak
dan penanggung pajak dengan pejabat yang berwenang.
Apabila diteliti, semua masyarakat yang sedang membangun selalu
dicirikan oleh perubahan, bagaimanapun kita mendefinisikan pembangunan itu
dan apapun ukuran yang kita pergunakan bagi masyarakat dalam pembangunan.
Peranan hukum dalam pembangunan adalah untuk menjamin bahwa perubahan itu
terjadi dengan suasana damai dan teratur.
Munculnya Pengadilan Pajak tidak terlepas suatu proses legal reform
(pembaharuan hukum) dalam hukum perpajakan yang sebelum dirasakan tidak
memberikan rasa keadilan bagi masyarakat sebagai wajib pajak. Legal reform
(pembaharuan hukum)sebenarnya mengandung makna yang luas mencakup
sistem hukum.
Menurut Friedman, sistem hukum terdiri atas struktur hukum (structure),
substansi/materi hukum (substance), dan budaya hukum (legal culture). Sehingga,
ketika bicara pembaharuan hukum maka pembaharuan yang dimaksudkan adalah
pembaharuan sistem hukum secara keseluruhan yang meliputi struktur hukum,
materi hukum dan budaya hukum. Karena luasnya cakupan sistem hukum, maka
dalam tulisan ini, hanya dibatasi pada salah satu elemen sistem hukum yakni
substansi/materi hukum. Namun demikian, dalam uraian berikutnya istilah
“pembaharuan hukum” tetap dipertahankan yang sebenarnya mengandung makna
lebih khusus atau sepadan dengan istilah “pembentukan hukum”.
Banyak teori yang mencoba menemukan skema atau ide dasar
pembentukan atau pembaharuan hukum. Masing-masing teori berupaya
mengemukakan argumentasi atas pendapatnya dengan menonjolkan sisi
keunggulan masing-masing. Biasanya teori yang disusun tersebut dipengaruhi
oleh teori-teori lama atau bisa juga sebagai bentuk kritik (penyempurnaan) dan
dukungan terhadap teori-teori sebelumnya. Aspek waktu, kondisi psikologis
masyarakat/negara maupun tempat memiliki peran yang signifikan bagi
perumusan bentuk/materi dari teori tersebut. Sehingga sering terjadi bahwa teori-
teori itu memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing manakala teori itu
dihadapkan pada kondisi atau situasi masyarakat yang berbeda.
Terkait dengan kewenangan dari Pengadilan Pajak, maka haruslah
diketahui terlebih dahulu mengenai sumber hukum dari berdirinya Pengadilan
Pajak. Maka dikaitkan dengan landasan yuridis dalam UU Pengadilan Pajak,
khususnya pada Konsideran bagian Mengingat angka 2, yang menegaskan sebagai
berikut:
“Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1970
Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2951) sebagaimana telah diubah
dengan Undang-undang Nomor 35 Tahun 1999 (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1999 Nomor 147, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3879).”
Sehingga diketahui, bahwa Pengadilan Pajak tersebut didasarkan kepada
UU Kekuasaan Kehakiman, yang saat ini melalui Undang-Undang Nomor 48
Tahun 2009. Dimana ditegaskan dalam Penjelasan Pasal 27 UU Kekuasaan
Kehakiman 2009, sebagai berikut:
“Yang dimaksud dengan “pengadilan khusus” antara lain adalah pengadilan anak,
pengadilan niaga, pengadilan hak asasi manusia, pengadilan tindak pidana
korupsi, pengadilan hubungan industrial dan pengadilan perikanan yang berada di
lingkungan peradilan umum, serta pengadilan pajak yang berada di lingkungan
peradilan tata usaha negara.”
Dari redaksional dalam penjelasan pasal tersebut, maka diketahui bahwa
Pengadilan Pajak menundukan diri pada kekuasaan Peradilan Tata Usaha Negara
(PTUN). Sehingga Pengadilan Pajak memiliki kompetensi sebagai berikut:
 Kompetensi Relatif
Kompetensi relatif Pengadilan Pajak tidak mengikuti kompetensi relatif
badan peradilan di lingkungan peradilan tata usaha negara. Kompetensi
relatif Pengadilan Pajak mencakup seluruh wilayah hukum Indonesia.
 Kompetensi Absolut
Adanya kompetensi absolut Pengadilan Pajak berarti berwenang
memeriksa dan memutus sengketa pajak berupa banding maupun gugatan
yang diajukan oleh pihak-pihak yang berkehendak untuk memperoleh
keadilan, kemanfaatan, atau kepastian hukum sebagai bentuk perlindungan
hukum. Kewenangan untuk memeriksa dan memutus sengketa pajak tidak
boleh dilakukan oleh badan peradilan lainnya termasuk pengadilan dalam
lingkungan peradilan tata usaha negara.
Eksistensi Pengadilan Pajak yang mejalankan kekuasaan kehakiman
berdasarkan lex specialist dengan predikat sebagai pengadilan banding. Seperti
diketahui, bahwa pengadilan banding merupakan tahapan peradilan setelah adanya
putusan pengadilan di bawahnya yang bersifat final.
Sebenarnya peradilan yang berkaitan dengan pajak sudah eksis jauh
sebelum dibentuknya Pengadilan Tata Usaha Negara yang disebut sebagai Majelis
Pertimbangan Pajak yang dibentuk pemerintah sebagai badan peradilan dan
menjalankan fungsi sebagai peradilan administrasi khusus menangani masalah
perselisihan pajak. Dalam prakteknya perkara sengketa yang penyelesaiannya
dilakukan di Majelis Pertimbangan Pajak adalah perkara perselisihan yang timbul
sebagai akibat perbuatan hukum berupa penetapan atau keputusan dari pejabat
pajak yang tidak disetujui oleh pembayar pajak. Pertimbangan pembentukan
undang-undang untuk memasukkan pengadilan pajak sebagai badan penyelesaian
sengketa perpajakan dalam lingkup Peradilan Tata Usaha Negara. Dipandang dari
perjalanan dan perkembangan Majelis Pertimbangan Pajak institusi ini sudah
dapat memberikan saluran bagi ketidakpuasan dan ketidak setujuan wajib pajak
melalui sengketa pajak.
Eksistensi Pengadilan Pajak yang merupakan pengadilan tingkat banding
sesuai dengan Ilmu Hukum yang berlaku secara universal setiap badan pengadilan
mempunyai hukum acara sendiri yang merupakan panduan bagi para penegak
hukum dan hakim untuk menjalankan kekuasaan kehakiman. Keberadaan
Pengadilan Pajak dalam hukum Pajak dikenal adanya penafsiran historis yaitu
penafsiran yang didasarkan atas sejarah dibuatnya suatu undang-undang. Seperti
diketahui bahwa sebelum undang-undang tentang Pengadilan Pajak lahir, Majelis
Pengadilan Pajak mendasarkan penyelesaian sengketa pajak atas undang-undang
yang khusus dibentuk untuk itu. Demikian juga halnya dengan Badan
Penyelesaian Sengketa Pajak, keberadaannya didasarkan kepada suatu undang-
undang sehingga kedua-duanya sah dan dapat menjalankan fungsi yudikatif
meskipun belum menjalankan kekuasaan kehakiman.
Penyelesaian melalui sengketa pajak dapat dilakukan dengan adil melalui
prosedur dan proses yang cepat, murah dan sederhana. Oleh karena itu proses
pencapaian kepastian hukum dan keadilan akan dijamin dan dipertanggung
jawabkan berdasarkan Undang-Undang. Putusan Pengadilan Pajak merupakan
putusan akhir yang mempunyai kekuatan hukum tetap.
Dengan meningkatnya jumlah wajib pajak dan pemahaman akan hak dan
kewajibannya dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan perpajakan
tidak dapat dihindarkan timbulnya sengketa pajak yang memerlukan penyelesaian
yang adil dengan prosedur dan proses yang cepat, murah dan sederhana.
Karenanya diperlukan suatu pengadilan pajak yang sesuai dengan sistem
kekuasaan kehakiman di Indonesia dan mampu menciptakan keadilan dan
kepastian hukum dalam penyelesaian sengketa pajak.
Keterkaitan antara Pengadilan Pajak dengan PTUN adalah dapat ditinjau
dari 2 (dua) sudut tolak ukur sebagai berikut:
 Tolak Ukur Subyek
Pasal 1 butir 5 UU Pengadilan Pajak berbunyi :
“Sengketa pajak adalah sengketa yang timbul dalam bidang perpajakan
antara wajib pajak atau penanggung pajak dengan pejabat yang berwenang
sebagai akibat dikeluarkan keputusan yang diajukan Banding atau Gugatan
kepada Pengadilan Pajak berdasarkan peraturan perundang-undangan
perpajakan, termasuk gugatan atas pelaksanaan penagihan berdasarkan
Undang-Undang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa.”
Dari pengertian tersebut di atas, maka subyek atau pihak-pihak
yang bersengketa dalam sengketa pajak adalah antara rakyat (wajib pajak)
dengan pemerintah (pemungut pajak). Sebagaimana pendapat Sjachran
Basah bahwa manakala sengketa itu terjadi antara rakyat dengan
pemerintah, maka hal tersebut merupakan salah satu ciri dari sengketa Tata
Usaha Negara.[24]
 Tolak Ukur Obyek
Yang menjadi obyek dalam sengketa pajak berdasarkan ketentuan Pasal 1
butir 5 UU Pengadilan Pajak adalah Keputusan. Yang dimaksud
Keputusan menurut Pasal 1 butir 4 UU Pengadilan Pajak adalah suatu
penetapan tertulis di bidang perpajakan yang dikeluarkan oleh pejabat
yang berwenang berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan
dan dalam rangka pelaksnaan Undang-Undang Penagihan Pajak dengan
Surat Paksa.
Pengertian di atas sejalan dengan ketentuan Pasal 1 angka 3 Undang-
undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara sebagaimana
telah diamandemen pertama dengan Undnag-undang Nomor 9 Tahun 2004 dam
amandemen kedua dengan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009, berbunyi
sebagai berikut :
“Keputusan Tata Usaha Negara adalah suatu penetapan tertulis yang dikelurkan
oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang bersifat tindakan hukum Tata
Usaha Negara yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku,
bersifat konkret, individual dan final yang menimbulkan akibat hukum bagi
seseorang atau badan hukum perdata.”
Berdasarkan beberapa ketentuan tersebut di atas, maka sengketa pajak
merupakanSengketa Tata Usaha Negara, sehingga Pengadilan Pajak menjadi
bagian dari Sistem Peradilan Tata Usaha Negara.
Dengan berlakunya Undang-undang Nomor 14 Tahun 2004 tentang
Pengadilan Pajak, maka proses penyelesaian sengketa pajak dapat dilakukan
melalui Pengadilan Pajak. Pengadilan Pajak sebagaimana diatur dalam Undang-
undang Nomor 14 Tahun 2004, merupakan badan peradilan yang melaksanakan
Kekuasaan Kehakiman bagi wajib pajak atau penanggung pajak yang mencari
keadilan dalam hal terjadi sengketa pajak dengan fiscus.
Pengadilan pajak mempunyai tugas dan wewenang memeriksa dan
memutus sengketa pajak, yakni berupa Banding atas keputusan keberatan dan
Gugatan atas pelaksanaan penagihan pajak atas keputusan pembetulan.
Konsep dasar pembentukan Pengadilan Pajak yang pada awalnya bernama
Majelis Pertimbangan Pajak (MPP) kemudian diubah menjadi Badan
Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP) adalah dalam rangka memberikan kepastian
hukum kepada para pihak yang bersengketa dibidang perpajakan, karena dalam
pelaksanaan penyelesaian sengketa pajak melalui BPSP masih terdapat
ketidakpastian hukum yang dapat menimbulkan ketidakadilan.
Akan tetapi, yang menjadi persoalan adalah berbagai aturan yang termuat dalam
UU Pengadilan Pajak tidak mencerminkan semangat konstitusi dan ketundukkan
pada integrated justice system. UU Pengadilan Pajak menjadikan institusi
Pengadilan Pajak seolah-olah menjadi peradilan tersendiri di luar MA. Hal ini
dapat ditelisik dari beberapa ketentuan berikut.
Pertama, Pengadilan pajak adalah pengadilan yang pertama dan terakhir
dalam memeriksa dan memutus sengketa pajak. Hal ini ditegaskan Pasal 33 dan
diperkuat oleh Pasal 77 yang menyatakan bahwa putusan Pengadilan Pajak
merupakan putusan akhir dan mempunyai kekuatan hukum tetap.
Selain itu, pengadilan pajak tidak mengenal kata banding dan kasasi. Pasal
80 ayat 2 menjelaskan bahwa sebagai pengadilan tingkat pertama dan terakhir
pemeriksaan atas sengketa pajak hanya dilakukan oleh Pengadilan Pajak.
Terhadap putusannya tidak dapat lagi diajukan gugatan, banding, atau kasasi.
Dengan kewenangan sebagai pemutus kata akhir dalam sengketa pajak, maka
praktis pengadilan ini tidak membutuhkan MA.
Pengaturan yang demikian hanya dimiliki oleh Mahkamah Konstitusi
(MK). Dimana MK merupakan satu-satunya lembaga peradilan konstitusi yang
putusannya bersifat final dan mengikat. Namun, kewenangan MK tersebut
diperoleh dari UUD 1945. MK merupakan bagian dari pelaksana kekuasaan
kehakiman bersama MA. Sedangkan pengadilan pajak tidak.
Dengan demikian, terlihat jelas bahwa UU memposisikan pengadilan ini
sebagai badan peradilan yang berdiri sendiri. MA sebagai lembaga peradilan
tertinggi dinegeri ini tidak dilibatkan. MA hanya dilibatkan di mekanisme
Peninjauan Kembali (PK) yang merupakan upaya hukum luar biasa, bukan upaya
hukum biasa dan itupun dengan syarat yang sangat limitatif. Sehingga dengan
kata lain, sebenarnya UU ini ingin mengesampingkan peran MA dalam
penyelesaian sengketa pajak.
Kedua, hal yang mencerminkan pengadilan ini sebagai institusi yang
berdiri sendiri adalah adanya hukum acara yang khusus. Hukum acaranya
sebagian besar tidak mengacu pada sistem hukum acara yang ada (KUHAP atau
KUHAPerdata). Hal ini berbeda dengan pengadilan khusus lainnya dimana
hukum acaranya masih mengacu pada sistem hukum acara yang ada kecuali hanya
beberapa ketentuan khusus saja.
Mengutip penelitian Komisi Hukum Nasional tahun 2007 bahwa diantara
beberapa pengadilan khusus yang ada, yakni pengadilan anak, hak asasi manuasia,
perikanan, hubungan industrial, tindak pidana korupsi dan pengadilan niaga,
hanya pengadilan pajak yang menggunakan hukum acara sendiri.

Ketiga, rekrutmen hakim pengadilan pajak sangat berbeda dari pengadilan lain.
Menteri Keuangan mempunyai peran yang sangat besar. Mayoritas hakim juga
berasal dari mantan pejabat Ditjen Pajak dan Bea Cukai. Sehingga rawan
menimbulkan konflik kepentingan dan merusak independensi hakim.
Keempat,Pengadilan Pajak tidak memadai untuk memutus perkara karena
tempat dan ruangan sidang yang kurang baik. Selain itu, tiap majelis masing-
masing memeriksa 25 berkas yang membuat perkara menjadi tidak fokus hingga
putusan pun menjadi terlambat. Belum lagi, Pengadilan Pajak kekurangan tenaga
kerja dibidang disiplin ilmu lainnya seperti akuntansi, hukum dagang, perdata,
HAKI, tata usaha negara dan lainnya.
Kelima, proses penanganan perkara sengketa pajak di Indonesia berjalan
lamban karena setiap perkara harus diselesaikan di pusat. Hal itu, katanya,
memperlambat kerja pengadilan pajak. Tjip Ismail menyarankan agar pengadilan
pajak dapat digelar di luar Jakarta atau daerah tempat berperkara.
Beberapa ketentuan diatas mengindikasikan bahwa pengadilan pajak
seperti pengadilan yang berdiri sendiri dan berada diluar sistem peradilan terpadu.
Hal itu bertentangan dengan UUD 1945. Sebagaimana amanat Pasal 24 ayat (2)
UUD 1945 bahwa kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah
Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan
umum, peradilan agama, peradilan militer, peradilan tata usaha negara, dan oleh
sebuah Mahkamah Konstitusi.
Lalu, dimana posisi pengadilan pajak? Karena pengadilan ini tidak tunduk
dibawah lingkungan peradilan manapun. Selain bertentangan dengan konstitusi,
UU Pengadilan Pajak juga bertentangan dengan UU Kekuasaan Kehakiman No.
48 tahun 2009. Pasal 27 mengatur bahwa Pengadilan khusus hanya dapat dibentuk
dalam salah satu lingkungan peradilan yang berada di bawah MA.
Kekeliruan lain yang terdapat dalam UU Pengadilan pajak adalah
legitimasi terhadap dualisme pembinaan peradilan. Pembinaan teknis peradilan
dan pengawasan umum hakim dilakukan oleh MA. Sementara pembinaan
organisasi, administrasi dan keuangan dilakukan oleh Menteri Keuangan. Dalam
praktiknya, sistem pembinaan ini didominasi oleh Kementerian Keuangan.
Dengan memperhatikan uraian-uraian tersebut diatas, maka seyogyanya
pembentukan hukum, dalam hal ini adalah Undang-undang, memperhatikan
unsur-unsur idee des recht, yang meliputi asas kepastian hukum, asas keadilan dan
asas kemanfaatan. Walaupun pada praktiknya hampir tidak mungkin untuk
menghadirkan ketiga unsur Idee des Rechts itu secara proporsional. Jika keadilan
lebih dipentingkan maka kepastian hukum dikorbankan. Jika kepastian hukumnya
didahulukan, keadilannya akan dikorbankan. Dalam hal terjadi konflik antara
keadilan dan kepastian hukum, maka hakim berdasarkan Freies Ermessen
(kebebasannya) dapat memiliih keadilan dengan mengabaikan kepastian hukum
sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan umum.
Terkait dengan teori idee des rechts, maka dapat dijabarkan sebagai
berikut:
Asas kemanfaatan, seharusnya hukum dapat menjadi alat bahkan panglima
untuk dapat mengawal masyarakat menuju kehidupan yang tentram, aman dan
adil. Sebagaimana dikemukakan oleh Roscoe Pound “law as a tool of social
engineering” bahwa hukum bukan merupakan pagar yang dapat membatasi secara
normatif saja, tetapi hukum dapat dipergunakan sebagai alat untuk membangun
masyarakat. Badan pembentuk undang-undang yang berwenang menciptakan
hukum seharusnya dapat memanfaatkan perannya untuk dapat mengembangkan
perekonomian yang dapat mendorong pertumbuhan sosial ekonomi masyarakat.
Asas kepastian hukum, tanpa adanya kepastian hukum, hukum tidak akan
memiliki wibawa bagi masyarakat. Hukum akan dianggap sebagai aturan tertulis
saja yang tidak diindahkan keberadaannya.
Ketentuan untuk melakukan pembayaran sebesar 50% sebelum
mengajukan upaya hukum melalui Pengadilan Pajak merupakan ketentuan yang
sangat merugikan Wajib Pajak. Secara yuridis normati, ketentuan tersebut
merupakan landasan hukum bagi Pengadilan Pajak bahwa untuk memenuhi
persyaratan formill, yang berasaskan kepada ajaran positivisme, maka pemenuhan
asas kepastian hukum dalam ketentuan hukum tersebut bersifat sumir, karena
hanya kepastian dalam bentuk redaksional, sehingga berbenturan dengan asas
keadilan.
Asas keadilan, tujuan utama dari hukum yang paling penting adalah asas
keadilan. Sehingga, pembentukan peraturan perundang-undangan wajib
memperhatikan keterkaitan pasal-pasal dalam RUU yang akan dibentuk, bahkan
upaya sinkronisasi wajib untuk dilakukan dalam menjaga tingkat keadilan bagi
masyarakat.
Di dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan
Umum Perpajakan pada Pasal 8 memberikan ketegasan bahwa seorang Wajib
Pajak diberikan kesempatan untuk melakukan upaya hukum, namun pada UU
Pengadilan Pajak pada Pasal 77, dinyatakan putusan Pengadilan Pajak adalah final
and binding.
Dengan terkuaknya kasus mafia hukum yang melibatkan pegawai
Direktorat Jenderal Pajak, Gayus Tambunan, maka menjadi titik awal untuk
membenahi sistem perpajakan serta Pengadilan Pajak itu sendiri demi cita-cita
reformasi birokrasi dan reformasi hukum.
Reformasi Birokrasi di Kementrian Keuangan bukan hanya dititikberatkan
pada persoalan remunerasi, tetapi pembinaan mental aparaturnya, pelayanan yang
prima, sehingga menurut penulis, sebesar apapun gaji yang diterima, jika
mentalnya seorang aparatur sudah bobrok, maka sama saja.
Mengenai reformasi hukum dalam lingkup Pengadilan Pajak, seperti yang
penulis sudah uraikan diatas, maka sudah saatnya mengevaluasi kembali UU No.
14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak, mencakup dintegrasikan kembali
Pangadilan Pajak di bawah MA, perekrutan hakim yang benar-benar akuntabel,
jujur dan mempunyai integritas tinggi serta kemudahan pengawasan dalam hukum
acara Pengadilan Pajak.
Jika kelemahan dalam UU Pengadilan Pajak ini dapat segera diatasi, maka
setidaknya, kekalahan negara dalam skala besar melawan WP dapat diminimalisir.
Pajak merupakan garda terdepan untuk penerimaan negara. Jika pemerintah
menutup mata dengan hal ini, maka tidak heran perbandingan penerimaan pajak
akan tidak berbanding lurus dengan Produk Domestik Bruto (PDB).
Kini tantangan-tantangan lain harus segera dijawab, seperti beranikah
jajaran aparatur di Kementrian Keuangan, khususnya Ditjen Pajak untuk
memberikan pembuktian terbalik bahwa tidak ada lagi pelanggaran dan
penyelewengan lainnya setelah Gayus.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian dalam pembahasan tersebut diatas, maka dapat
disimpulkan sebagai berikut:
Bahwa di dalam Pasal 27 UU Kekuasaan Kehakiman ditegaskan dimana
Pengadilan Pajak merupakan bagian dari Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN),
dan sebagai pengadilan yang bersifat khusus sudah selayaknya memiliki hukum
acara tersendiri. Namun jika dicermati beberapa pasal yang termuat di dalam UU
Pengadilan Pajak tersebut, maka nampaknya Pengadilan Pajak memiliki sifat
kemandirian yang berdiri sendiri terpisah dari Mahkamah Agung, hal ini dapat
terlihat dari sifat dan jenis putusan serta rekrutmen para Hakim Pengadilan Pajak.
Berbagai kelemahan yang terdapat dalam UU Pengadilan Pajak, tentunya
harus segera diperbaiki. Pengadilan pajak harus ditata ulang, baik secara hukum,
administrasi, organisasi dan finansialnya. Poin penting yang harus diperhatikan
adalah pengadilan pajak harus berada dibawah MA. Selain itu, patut
dipertimbangkan membentuk pengadilan pajak setidaknya di empat kota, Medan,
Jakarta, Surabaya, Makassar dan pengadilan tinggi banding di Jakarta. Dengan
tujuan, memutus mata rantai mafia pajak dan makelar kasus yang sudah
menggerogoti pengadilan pajak.
DAFTAR PUSTAKA
Achmad Ali, Menguak Tabir Hukum: Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis,

Jakarta: Toko Agung , 2002.

Galang Asmara, Peradilan Pajak Dan Lembaga Penyanderaan (Gijzeling) Dalam

Hukum Pajak di Indonesia, Yogyakarta: LaksBang Pressindo, 2006.

Sjachran Basah, Eksistensi dan Tolak Ukur Badan Peradilan Administrasi di

Indonesia, Bandung: Alumni, 1989.

Rochmat Soemitro. Asas Dan Dasar Perpajakan 1. Bandung: Refika Aditama,

1998.

Dewi Kania Sugiharti, Perkembangan Peradilan Pajak di Indonesia, Bandung:

Refika Aditama, 2005.

Abdul Hakim Nusantara dan Nasroen Yasabari (ed.), Pembangunan Hukum:

Sebuah Orientasi (Pengantar Editor) dalam Beberapa Pemikiran

Pembangunan Hukum di Idonesia, Bandung : Penerbit Alumni, 1980.

R. Santoso Brotodihardjo, Pengantar Ilmu hukum Pajak, Bandung: Refika

Aditama, 1998.

Prajudi Atmosudirdjo, Hukum Administrasi Negara, Jakarta: Ghalia Indonesia,

1981.

Niniek Suparni, Pelestarian, Pengelolaan dan Penegakan Hukum Lingkungan,

Jakarta: Sinar Grafika, 1992.

Mochtar Kusumaatmadja, Pembinaan Hukum dalam Rangka Pembangunan

Nasional, Bandung: Bina Cipta, 1986.

Lawrence M. Friedman, American Law, New York: W.W. Norton & Company,

1930.
Muhammad Djafar Saidi, Perlindungan Hukum Wajib Pajak dalam Penyelesaian

Sengketa Pajak, Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2007.

Ali Purwito & Rukiah Komariah, Pengadilan Pajak: Proses Keberatan dan

Banding. Edisi Revisi, Jakarta: Lembaga Kajian Hukum Fiskal Fh-UI,

2007.

Wiratni Ahmadi, Perlindungan Hukum Bagi Wajib Pajak Dalam Penyelesaian

Sengketa Pajak, Bandung: Refika Aditama, 2006.

Wirawan B. Ilyas & Richard Burton, Hukum Pajak, Jakarta: Salemba Empat,

2007.