Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH PERBANDINGAN KONSTITUSI INDONESIA DENGAN

AUSTRALIA

DISUSUN OLEH :

M. RUSYDY

UNIVERSITAS PAHLAWAN TUANKU TAMBUSAI


FAKULTAS ILMU HUKUM
TA. 2018/2019

1
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat
dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis bisa menyelesaikan tugas makalah
tentang Perbandingan Konstitusi Indonesia Dengan Australia.
Sebagai manusia, apapun yang ada dan tertera pada makalah ini tentunya
memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik
dan saran yang membangun dari teman-teman semua agar kedepannya penulis bisa
lebih baik lagi dan meningkatkan pengetahuan serta pengalaman dalam
menyelesaikan makalah selanjutnya.
Atas kritik dan sarannya penulis mengucapkan terima kasih. Semoga ilmu
yang tertuang dalam makalah ini bisa mendatangkan manfaat bagi saya terutama
sebagai penulis dan bagi teman-teman semua yang membacanya.

Bangkinang, 21 Oktober 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……………………………………………………… i
DAFTAR ISI ………………………………………………………………. ii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ………………………………………………………….. 1
BAB II. PEMBAHASAN
A. Sistem Pemerintahan RI ………………………………………………… 3
B. Sistem Pemerintahan Australia ………………………………………….. 8
BAB III. PENUTUP
A. Kesimpulan …………………………………………………………….. 10
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembukaan UUD 1945 Alinea IV menyatakan bahwa kemerdekaan
kebangsaan Indonesia itu disusun dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara
Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang
berkedaulatan rakyat. Berdasarkan Pasal 1 Ayat 1 UUD 1945, Negara Indonesia
adalah negara kesatuan yang berbentuk republik. Berdasarkan hal itu dapat
disimpulkan bahwa bentuk negara Indonesia adalah kesatuan, sedangkan bentuk
pemerintahannya adalah republik.
Selain bentuk negara kesatuan dan bentuk pemerintahan republik, Presiden
Republik Indonesia memegang kekuasaan sebagai kepala negara dan sekaligus kepala
pemerintahan. Hal itu didasarkan pada Pasal 4 Ayat 1 yang berbunyi, “Presiden
Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undanag-Undang
Dasar.” Dengan demikian, sistem pemerintahan di Indonesia menganut sistem
pemerintahan presidensial. Apa yang dimaksud dengan sistem pemerintahan
presidensial? Untuk mengetahuinya, terlebih dahulu dibahas mengenai sistem
pemerintahan.
Para pemikir politik mendefinisikan demokrasi dengan pendapat yang
berbeda-beda, hal tersebut bisa dikategorikan dalam tiga kelompok, yaitu; kelompok
pertama menyatakan bahwa demokrasi merupakan sebuah bentuk pemerintahan
umum, kelompok kedua menganggap konsep demokrasi secara luas dan mencari
jangkauan untuk memperpanjang bidang ekonomi dan juga sosial. Sedangkan
kelompok yang terakhir memegang bahwa demokrasi adalah filsafat kehidupan,
dimana menekankan martabat manusia dan memandang semua kehendak individu.
Berikut ini akan dijelaskan tentang demokrasi yang mana mengarah kepada pendapat
kelompok pertama dari para pemikir politik, yaitu :
- Pemerintahan rakyat.

1
Bisa dikatakan bahwa demokrasi adalah bentuk pemerintahan dimana rakyat
memiliki kekuatan penuh didalam politik, baik secara langsung maupun melalui
representatif. Lincoln mendefinisikan demokrasi sebagai pemerintahan rakyat, dari
rakyat dan untuk rakyat. Seely mendefinisikan bahwa demokrasi adalah pemerintahan
bersama.
- Pemerintahan khalayak ramai.
Menurut pemikir jurusan demokrasi bahwa demokrasi adalah pemerintahan
yang besara atau khalayak ramai. Dicey mendefinisikan demokrasi sebagai bentuk
pemerintahan, dimana badan yang memerintah didalamnya adalah pergeseran
komparatif yang besar dari seluruh populasi. Bryce dalam tulisannya “Kata
demokrasi telah dipakai semenjak masanya Herodotus. Untuk menunjukkan bahwa
bentuk pemerintahannya terdapat para penguasa yang memiliki kekuatan tetap dan
secara legal, tetapi kekuasaan tersebut tidak dipegang oleh kelompok khusus atau
oknum- oknum lainnya. Akan tetapi dipegang oleh seluruh komunitas secara
keseluruhan.”

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sistem Pemerintahan Negara RI
Negara Indonesia salah satu Negara yang berada diAsia Tenggara, dan
menjadi salah satu perintis pelopor, dan pendiri berdirinya ASEAN. Letak geografis
Indonesia yang berada diantara dua samudera yaitu Samudera Pasifik dan Samudera
Atlantik, serta diapit oleh dua benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia.
Menurut Pasal 1 ayat 1, Indonesia adalah Negara Kesatuan yang berbentuk
Republik. Menurut Undang-Undang Dasar 1945, kedaulatan berada ditangan rakyat,
dan dilaksanakan menurut UUD. Sistem pemerintahannya yaitu Negara berdasarkan
hukum (rechsstaat). Dengan kata lain, penyelenggara pemerintahan tidak berdasarkan
pada kekuasaan lain (machssat. Dengan berlandaskan pada hukum ini, maka
Indonesia bukan Negara yang bersifat absolutism (kekuasaan yang tidak terbatas).
Semenjak lahirnya reformasi pada akhir tahun 1997, bangsa dan Negara Indonesia
telah terjadi perubahan system pemerintahan Indonesia, yaitu dari pemerintahan yang
sentralistik menjadi desentralisasi atau otonomi daerah.
Berikut ini adalah beberapa alat penyelenggara Negara yang ada di Indonesia
yang menjadi penentu keberhasilan Negara Indonesia dalam membangun dan
menciptakan tujuan Negara yang dikehendaki berdasarkan UUD 1945.
1. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)
Berdasarkan naskah asli UUD 1945 dinyatakan bahwa kedaulatan ada
ditangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat.
Dengan kata lain MPR adalah penyelenggara dan pemegang kedaulatan rakyat. MPR
dianggap sebagai penjelmaan rakyat yang memegang kedaulatan Negara (Vertretung
sorgan des Willems des Staat volkes). Akan tetapi setelah dilakukan Amandemen
terhadap UUD 1945, maka bunyi Pasal 1 ayat (2) tersebut menjadi“ Kedaulatan
berada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut UUD”. Jadi setelah dilakukan
Amandemen kedaulatan murni berada ditangan rakyat yang ketentuan lebih lanjut
diatur di dalam Undang-undang. Sedangkan dalam Pasal 2 ayat (1) bahwa Majelis

3
Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan
anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang di pilih melalui pemilihan umum dan
diatur lebih lanjut dengan undang-undang. Keanggotaan MPR ini di resmikan
dengan Keputusan Presiden (Pasal 3 UU SUSDUK MPR). Masa jabat keanggotaan
MPR adalah lim atahun dan akan berakhir pada saat keanggotaan MPR yang baru
mengucapkan sumpah atau janjinya. Dalam struktur kepemimpinan dalam Majslis
Permusyawaratan Rakyat, MPR terdiri dari satu orang pimpinan dan tiga orang wakil
ketua yang terdiri dari unsure DPR dan DPD yang dipilih dari anggota dan oleh
anggota MPR dalam Sidang Paripurna MPR. Menurut Pasal 7 UU SUSDUK MPR,
jika pimpinan MPR belum terbentuk, maka pimpinan siding dipimpin oleh pemimpin
sementara MPR, yaitu ketua DPR, ketua DPD dan satu wakil ketua sementara MPR.
Apa bila ketua DPR dan DPD berhalangan maka dapat digantikan oleh wakil ketua
DPR dan wakil ketua DPD. Peresmian sebagai ketua MPR sementara ini dilakukan
melalui Keputusan MPR. Majelis Permusyawaratan Rakyat menurut Pasal 2 UUD
1945, bersidang sedikitnya sekali dalam lima tahun. Dengan kata lain jika
dimungkinkan atau dipandang perlu, maka selama lima tahun itu majelis dapat
melakukan persidangan lebih dari satu kali.
2.Presiden
Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut
UUD. Dalam melaksanakan tugasnya, presiden dibantu oleh seorang wakil presiden.
Sebelum tahun 2004, presiden di Indonesia dipilih oleh MPR. Sedangkan pasca 2004
presiden Republik Indoneisa dipilih secara langsung oleh rakyat Indonesia. Jika
terjadi suara berimbang, maka pemilihan presiden pada dilanjutkan pada putaran
kedua. Dan yang dalam pemilihan kedua ini merupakan pemilihan saringan untuk
menentukan calon pasangan presiden. Apabila terjadi persamaan atau perimbangan
suara, maka keputusan dapat diambil oleh MPR melalui musyawarah dengan
pengambilan suara terbanyak.
Berdasarkan hasil amandemen UUD 1945, diberikan sejumlah kekuasaan dan
kewenangan kepada presiden tanpa harus mendapatkan persetujuan dari DPR.

4
Adapun kekuasaan dan kewenangan Presiden adalah sebagai berikut. 1) Menjalankan
kekuasaan pemerintahan, 2) Mengajukan RUU kepada DPR, 3) Menetapkan
peraturan pemerintah untuk menjalankan suatu undang-undang, 4) Memegang
kekuasaan tertinggi atas AD, AL, danAU 5) Mengangkat konsul 6) Memberi gelar,
tanda jasa, dan lain-lain tanda kehormatan 7) Memeberikan grasi dan rehabilitasi
dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung, 8) Membentuk dewan
pertimbangan yang bertugas memberikan nasihat dan pertimbangan kepada presiden,
9) Mengangkat dan memberhentikan menteri, 10) Menetapkan peraturan pemerintah
penganti undang-undang (perpu). Sementara itu, kekuasaan dan kewenagan presiden
yang harus mendapat persetujuan DPR adalah sebagai berikut. 1) Menyatakan
perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan Negara lain, 2) Mengangkat
duta, 3) Menerima duta dari Negara lain, 4) Memberikan amnesty dan abolisi, 5)
Tidak dapat memberhentikan atau membekukan DPR Menurut UU No. 23 Tahun
2003 tentang pemilihan presiden dan wakil presiden.
Bahwa seorang calon presiden dan wakil presiden harus memiliki syarat-
syarat khusus, yaitu: 1) Bertaqwa kepada TuhanYang Maha Esa, 2) WNI sejak
kelahirannya dan tidak pernah berkewarga negaraan lain atas kehendaknya sendiri, 3)
Tidak pernah menghianati Negara, 4) Mampu secara rohani dan jasmani
melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai seorang presiden, 5) Bertempat tinggal di
wilayah NKRI, 6) Telah melaporkan kekayaan kepada instansi yang berwenang
meyelidiki kekayaan pejabat, 7) Tidak sedang memiliki tanggungan utang secara
perseorangan dan atau secara badan hukum yang menjadi tanggung jawabnya yang
merugikan keuangan Negara, 8) Tidak sedang dinyatakan pailit yang dinyatakan oleh
pengadilan, 9) Tidak pernah melakukan perbuatan tercelah, 10) Terdaftar sebagai
pemilih, 11) Memiliki nomor pokok wajib pajak, dan melaksanakan wajib pajak
selama 5 tahun terakhir, 12) Memiliki dafta rriwayat hidup, 13) Belum pernah
menjabat sebagai presiden dan wakil presiden selama dua kali masa jabatan dalam
jabatan yang sama, 14) Setia kepada Pancasila, UUD 1945, dan cita-cita Proklamasi,
15) Tidak pernah dihukum penjara karena melakukan tindakan maker berdasarkan

5
putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hokum tetap, 16) Berusia
sekuarang-kurangnya 35 tahun, 17) Berpendidikan serendah-rendahnya SLTA atau
sederajat, 18) Bukan bekas organisasi terlarang PKI, organisasi massa atau terlibat
langsung dalam G30S/PKI, 19) Tidak pernah di jatuhi hukuman penjara berdasarkan
putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hokum tetap karena melakukan
tindakan pidana yang diancam dengan pidana penjara lima tahun atau lebih Setelah
amandemen UUD 1945, presiden dan wakil presiden tidakl agi dipilih oleh MPR,
melainkand ipilih langsung oleh rakyat.
Prinsip-prinsip pemilihan presiden dan wakil presiden diatur dalam Pasal 6A
ayay (1) sampai ayat (5). Yang secara jelas adalah sebagai berikut. 1) Presiden dan
wakil presiden sebagai suatu pasangan dipilih langung oleh rakyat, 2) Pasangan
presiden dan wakil presiden diusulkan oleh partai politik, 3) Presiden dan wakil
presiden terpilih apa bila: a) mendapat suara lebih dari 50 % b) dari 50 % suara
tersebut sedikitnya terdiri atas 20 % di setiap provinsi yang tersebar lebih setengah
dari jumlah provinsi, 4) apa bila tidak ada calon yang memenuhi poin c, maka : a) dua
calon pasangan presiden dan wakil presiden yang mendapa suara terbanyak pertama
dan kedua dipilih kembali oleh rakyat. b) calon pasangan presiden dan wakil presiden
terpilih adalah yang mendapat suara paling banyak, 5) pasangan presiden dan wakil
presiden terpilih di lantik oleh MPR Selain dari ketentuan diatas, presiden dan wakil
presiden dapat diberhentikan oleh MPR massa jabatannya apa bila presiden dan
wakil presiden melakukan: 1) pelanggaran hukum, yang berupa a) penghianatan
terhadap Negara b) korupsi c) penyuapan d) tindak pidana berat lainya, 2) melakukan
perbuatan tercelah, 3) terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai presiden dan wakil
presiden.
Sedangkan untuk memberhentikan presiden dan wakil presiden dalam massa
jabatannya, MPR harus menerima usulan dari DPR dengan mekanisme kerja sebagai
berikut. 1) DPR menganggap atau menuduh presiden melanggar hukum, 2) Tuduhan
DPR diajukan kepada Mahkamah Konstitusi, 3) Tuduhan DPR dapat diajukan pada
MK apabila didukung oleh sekurang-kurangnya dua pertiga dari anggota DPR yang

6
hadir dan batas kuota hadir adalah dua pertiga anggota DPR 4) MK wajib memeriksa,
mengadili, dan memutuskan tuduhan DPR paling lama 90 hari, 5) Apabila MK
memutuskan presiden dan wakil presiden bersalah, maka DPR mengusulkan MPR
untuk menyelenggarakan siding paripurna, 6) MPR wajib menyelenggarakan siding
paripurna paling lambat selama 30 hari, 7) Presiden diberikan kesempatan
menyampaikan penjelasan, 8) Keputusan MPR memberhentikan prresiden dan wakil
presiden diambil dalam rapat paripurna dihadiri sekurang-kurangnya tiga perempat
anggota MPR dan disetujui dua perempat anggota yang hadir.

Akan tetapi apa bila presiden mangkat, atau berhenti karena tidak dapat
melakukan kewajibannya dalam massa jabatannya, maka harus dilakukan seperti
ketentuan berikut ini. 1) Digantikan oleh wakil presiden sampai habis massa
jabatannya, 2) Jika terjadi kekosongan wakil presiden, MPR memilih wakil presiden
dari dua calon untuk diangkat menjadi presiden, 3) Apa bila presiden dan wakil
presiden secara bersamaan mangkat, berhenti, atau diberhentikan, maka tugas
kepresidenan dijabat oleh menteri luar negeri, menteri dalam negeri dan menteri
pertahanan secara bersama-sama paling lama satu bulan, 4) Setelah itu MPR memilih
presiden dan wakil presiden dari dua calon pasangan yang diajukan partai politik, 5)
Dua pasangan calon tersebut berasal dari calon yang meraih suara terbanyak pertama
dan kedua pada pemilihan sebelumnya Dengan mencermati sejumlah pasal-pasal
dalam UUD 1945 ini, maka dapat dikemukakan bahwa kekuasaan presiden harus
dibatasi oleh sebagai peraturan atau mekanisme tertentu. Dengan demikian, maka
pernyataan ini lah yang dimaksud dengan Negara Indonesia yang bercita-cita untuk
membangun pemerintahan yang bersih dan berwibawa sebagai Negara demokratis.
3.PemerintahanDaerah
Indonesia adalah Negara nusantara atau Negara kepulauan, memiliki sejumlah
hambatan dan masalah, khususnya jika dikaitkan dengan luas wilayah dan jarak
geografis yang tidak mudah dijangkau. Oleh karena itu, pasca reformasi pemerintah
mengeluarkan peraturan tentang Otonomi Daerah. Hingga akhir tahun 2005 di

7
Indonesia telah berdiri sebanyak 32 provinsi. Hal ini berbeda jauh dengan kondisiI
ndonesia sebelum reformasi, dimana negara Indonesia terdiri dari 27 provinsi yang
kemudian menjadi 26 provinsi karena provinsi Timor-Timur memisahkan diri
menjadi Negara Republik Timor Leste akibat diberlakukannya Undang-undang
referendum yang berujung jajak pendapat. Indonesia dibagi menjadi beberapa
provinsi, kabupaten, dan kota yang memiliki kewenagan untuk mengatur sendiri
pemerintahannya. Pada tingkat pemerintahan daerah ini, dibentuk pula Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah.

B. Sistem Pemerintahan Negara Australia


Sistem pemerintahan Australia merupakan sistem yang kompleks. Dimana
lembaga-lembaga pentingnya merupakan paduan elemen-elemen tradisi dan model
pemerintahan Inggris dan Amerika Serikat seperti Sistem penyelenggaraan
pemerintahan Inggris dengan Majelis Perwakilan Rendah, praktek pemerintahan
Amerika Serikat dengan senat federal. Undang-Undang Dasar Australia berisi ciri-ciri
penting sistem pemerintahan Australia. Pembagian kekuasaan antara Negara Bagian
dan Commonwealth (Persemakmuran), Gubernur Jendral mewakili Ratu Inggris.
Terdapat Tiga Cabang Pemerintahan di Australia, yakni Cabang Legislatif (Parlemen
- Senat dan Majelis Perwakilan Rendah); Eksekutif (Kementrian dan Pejabat
Pemerintah); dan Cabang Yudikatif (sistem peradilan hukum).
Badan legislatif berisi parlemen - yakni badan yang mempunyai wewenang
legislatif untuk membuat undang-undang. Badan Eksekutif melaksanakan undang-
undang yang dibuat oleh badan legislatif, sementara badan yudikatif memastikan
berfungsinya pengadilan, dan pengangkatan serta pemberhentian hakim. Fungsi
pengadilan ialah menafsirkan semua hukum, termasuk di antaranya Konstitusi
Australia, dan menegakkan supremasi hukum. Konstitusi hanya boleh diubah melalui
jajak pendapat.
Australia dikenal sebagai negara Monarki Konstitusional. Ini berarti Australia
adalah negara yang mempunyai raja atau ratu sebagai kepala negara yang

8
wewenangnya dibatasi oleh Konstitusi atau UUD. Kepala negara Australia ialah Ratu
Elizabeth II. Meskipun ia juga adalah Ratu Inggris, jabatan ini sedikit terpisah, baik
dalam hukum maupun praktek pemerintahan atau konstitusional. Dalam
kenyataannya, Ratu tidak mempunyai peranan apapun dalam sistem politik Australia
dan hanya berfungsi sebagai simbol atau hanya sebagai publik figur untuk
memobilisasi masyarakat. Di Australia Ratu secara resmi diwakili oleh seorang
Gubernur Jenderal yang diangkat oleh Ratu atas usulan Perdana Menteri Australia.
Ratu tidak mempunyai peranan apapun dalam tugas keseharian Gubernur Jenderal.
Gubernur Jenderal adalah wakil Ratu Inggris di Australia. Posisinya tidak
harus mengikuti arahan, pengawasan ataupun hak veto dari Ratu dan Pemerintah
Inggris. Dalam Undang-Undang Dasar atau Konstitusi terdapat wewenang dan tugas
Gubernur Jenderal termasuk memanggil, menghentikan sidang badan pembuat
undang-undang, dan membubarkan parlemen. Selain itu, Gubernur juga bisa
menyetujui rancangan peraturan, mengangkat menteri, menetapkan departemen-
departemen dalam pemerintahan, serta mengangkat hakim. Namun, berdasarkan
konvensi, Gubernur Jenderal hanya bertindak atas permintaan para Menteri dalam
hampir semua permasalahan. Figur yang diangkat untuk posisi Gubernur jenderal
dipilih berdasarkan pertimbangan Pemerintah. Semua Gubernur negara bagian
melaksanakan peran yang sama di wilayah mereka masing-masing.

9
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Tidak ada parameter yang tepat untuk bisa menentukan keberhasilan


keberadaan serta pemberlakuan demokrasi dan demokratisasi yang terjadi di suatu
negara secara tepat. Bentuk sistem pemerintahan apapun yang dijalankan dalam suatu
negara tersebut, bisa dikategorikan sebagai negara yang memiliki pemerintahan
demokratis apabila bisa menampung aspirasi dari masyarakatnya serta membawa
kearah yang lebih baik dengan dukungan masyarakatnya juga. Representasi sistem
presidensial yang dijalankan di Indonesia maupun sistem perlementer yang ada di
Australia sudah cukup menggambarkan bentuk demokrasi pada porsi yang tepat.
Dimana pada level Ke-Negaraan masing-masing beserta latar belakang sejarah negara
dan perkembangannya, masing-masing terdapat juga efisiensi proporsionalitas suatu
sistem teruji, karena fakta menunjukkan bahwa keberhasilan dan pengakuan
internasional baik melalui sistem politik maupun eksistensi negara itu sendiri. Karena
dengan adanya perwakilan rakyat yang dipilih secara sah dan legal yang duduk di
kursi pemerintahan.

10
DAFTAR PUSTAKA
http://Suara karya on-line.sekretariat Negara republic Indonesia_posisi strategis
secretariat.co.id
www. _wikipedia Indonesia.org

11