Anda di halaman 1dari 79

ANALISIS FUNGSI TANAMAN BIWA

DI KABUPATEN KARO

TESIS

Oleh

SERUAN SEMBIRING
057018029/EP

SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
ANALISIS FUNGSI TANAMAN BIWA
DI KABUPATEN KARO

TESIS

Untuk Memperoleh Gelar Magister Sains


dalam Program Studi Magister Ekonomi Pembangunan
pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Oleh

SERUAN SEMBIRING
057018029/EP

SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Judul Tesis : ANALISIS FUNGSI TANAMAN BIWA DI KABUPATEN
KARO
Nama Mahasiswa : Seruan Sembiring
Nomor Pokok : 057018029
Program Studi : Ekonomi Pembangunan

Menyetujui
Komisi Pembimbing

(Prof. Drs. Robinson Tarigan, MRP) (Drs. Iskandar Syarief, MA)


Ketua Anggota

Ketua Program Studi Direktur

(Dr. Murni Daulay, M.Si) (Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B., M.Sc)

Tanggal lulus : 20 Feruari 2009

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Telah diuji pada
Tanggal : 20 Februari 2009

PANITIA PENGUJI TESIS


Ketua : 1. Prof. Drs. Robinson Tarigan, MRP
Anggota : 2. Drs. Iskandar Syarief, MA
3. Dr. Murni Daulay, M.Si
4. Dr. Rahmanta, M.Si
5. Drs. Rujiman, MA

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
ABSTRAK

Biwa (Eriobotrya japonica Lindl.) dikenal dengan nama loquat merupakan


salah satu tanaman buah dataran tinggi yang belum banyak dibudidayakan di
Indonesia. Tanaman Biwa yang termasuk kedalam famili Rosaceae sangat berpotensi
untuk dibudidayakan. Kendala yang dihadapi adalah tanaman ini belum terdata
walaupun termasuk tanaman langka dan nilai ekonominya tinggi
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah pengaruh
jumlah pohon, tenaga kerja, pupuk dan musim terhadap total produksi tanaman
Biwa di Kabupaten Karo dan untuk mengetahui manakah yang paling dominan
pengaruhnya antara jumlah pohon, tenaga kerja, pupuk dan musim terhadap Total
Produksi tanaman Biwa. Model dasar untuk fungsi produksi biwa di Kabupaten Karo
merupakan pengembangan teori produksi Cobb-Dauglas dan model yang digunakan
adalah model ekomomitrika. Metode analisis yang digunakan adalah pangkat kuadrat
terkecil.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa koefisien determinasi sebesar 87,8%,
yang berarti bahwa variasi yang terjadi pada variabel bebas dapat menjelaskan
variabel terikat. Sedangkan sisanya sebesar 12,2% tidak dapat dijelaskan didalam
model. Variabel jumlah pohon, pupuk dan tenaga kerja secara signifikan berpengaruh
terhadap produksi biwa sementara musim tidak signifikan berpengaruh terhadap
produksi biwa.

Kata Kunci : Jumlah Pohon Biwa, Tenaga Kerja, pupuk, musim

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
ABSTRACT

Biwa (Eriobotrya japonica Lindl.) is also known as loquat, is one of highland


fruits and uncultivated in Indonesia. Biwa is Rosaceae Family, and very potential to
be cultivated. Biwa has a very high economic value and scarce, however, Biwa
doesn’t have a complete data to be seriously cultivated.
The purpose of this research is to estimate the production analysis of Biwa’s
trees in Karo Regency. The factors which determine Biwa production function are
considered Biwa trees, fertilizer, and seasons influence on the total product of Biwa
in Karo Regency. This research used Cobb-Douglas production function and the
model employed is econometric. The method analisys used is Ordinary Least Square
(OLS).
The result showed that the coefficien determination (R2) is 87,8% which
means that the total variation in the independent variables can explain the dependent
variable, the remain is 12,2 % could not explain in the model. The variable of Total
Biwa’s tree, fertilizer, employer are significantly influence on the Biwa production,
while the season is not significant.

Kata Kunci : Biwa’s trees, employer, Fertilizer, season

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
KATA PENGANTAR

Dengan penuh rasa syukur kepada Tuhan YME, yang telah melimpahkan

rahmat dan hidayah serta bimbingan-Nya selama mengikuti perkuliahan dan

menyelesaikan tesis ini, yang berjudul ”Analisis Fungsi Produksi Tanaman Biwa Di

Kabupaten Karo”. Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan berbagai pihak tidak

mungkin tesis dapat terselesaikan. Untuk ini perkenankan penulis menyampaikan rasa

terima kasih yang tulus kepada :

1. Bapak Prof.Chairuddin P.Lubis, DTM&H, SpA(K), selaku Rektor Universitas

Sumatera Utara, atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada kami untuk

mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program Magister

2. Ibu Prof.Dr.Ir.T.Chairun Nisa B,M.Sc dan Prof.Dr.Ir.A.Rahim Matondang, MSIE

selaku Direktur dan Wakil Direktur 1 Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera

Utara, atas kesempatan kami menjadi mahasiswa Program Magister pada Sekolah

Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

3. Ibu Dr.Murni Daulay, M.Si selaku Ketua Program Studi Magister Ekonomi

Pembangunan Sekolah Pascasarjana, Universitas Sumatera Utara atas motivasi

dan kesempatan yang diberi kepada kami untuk menyelesaikan Pendidikan

Program Magister

4. Bapak Prof. Drs. Robinson Tarigan, MRP, Bapak Drs. Iskandar Syarief, M.A

selaku pembimbing yang telah memberikan perhatian dan dorongan melalui

bimbingan dan saran dalam penyelesaian tesis ini

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
5. Seluruh Dosen dan Guru Besar pada Sekolah Pascasarjana Ekonomi

Pembangunan

6. Khusus bagi istri tercinta, Kitangenana Br. Barus dan ketiga anakku tersayang

Emmerisa Br. Sembiring, Ari Prianta Sembiring dan Tria Prudensia Br.

Sembiring serta adik ipar Resdi Barus yang tetap memberikan dorongan dan

semangat bagi penulis dalam menyelesaikan studi ini.

Penulis menyadari bahwa dengan keterbatasan pengetahuan penulis, maka

hasil penelitian ini masih perlu disempurnakan. Karena itu dengan segala kerendahan

hati penulis memohon segala kritik dan saran demi perbaikan hasil penelitian ini.

Medan, Maret 2009

Penulis

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
RIWAYAT HIDUP

1. Nama : Seruan Sembiring

2. Agama : Kristen

3. Tempat/Tanggal lahir : Kabanjahe, 17 Agustus 1961

4. Pekerjaan : Pegawai Negeri Sipil

5. Status : Menikah, 3 Anak

6. Nama Istri : Kitangenana Br. Barus

7. Nama Anak : Emmerisa, Ari Prianta, Tria Prudensia

8. Pendidikan : a. SD Negeri 2 Kabanjahe Tahun 1973

b. SMP Negeri Kabanjahe Tahun 1976

c. SMA Negeri Kabanjahe Tahun 1980

d. S1 Sarjana IKIP Medan Tahun 1980

e. S2 Program Pascasarjana USU Tahun 2009

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ............................................................................................................ i
ABSTRACT.......................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iii
RIWAYAT HIDUP............................................................................................... v
DAFTAR ISI......................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL................................................................................................. viii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ ix
DAFTAR LAMPIRAN......................................................................................... x

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1


1.1 Latar Belakang ...................................................................... 1
1.2 Perumusan Masalah .............................................................. 5
1.3 Tujuan Penelitian .................................................................. 6
1.4 Manfaat Penelitian ................................................................ 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 7


2.1 Landasan Teori...................................................................... 7
2.1.1 Teori Produksi........................................................... 7
2.1.2 Fungsi Produksi......................................................... 10
2.1.3 Faktor Produksi dan Pendapatan............................... 14
2.1.3.1 Tenaga Kerja ............................................... 14
2.1.3.2 Pendapatan .................................................. 15
2.2 Penelitian Terdahulu ............................................................. 19
2.3 Kerangka Konseptual ............................................................ 20
2.4 Hipotesis................................................................................ 22

BAB III METODE PENELITIAN.................................................................. 23


3.1 Ruang Lingkup dan Lokasi Penelitian .................................. 23
3.2 Lokasi Penelitian................................................................... 23
3.3 Jenis dan Sumber Data .......................................................... 23
3.4 Populasi dan Sampel ............................................................. 24
3.4.1 Populasi ..................................................................... 24
3.4.2 Sampel....................................................................... 24
3.5 Model Analisis Data.............................................................. 25
3.6 Defenisi Operasional Variabel .............................................. 27
3.7 Uji Kesesuaian Model (Test of Goodness of Fit).................. 27
3.7.1 Koeffisien Determinasi R2 ........................................ 28
3.7.2 Uji F-Statistik ............................................................ 28

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
3.7.3 Uji t-Statistik ............................................................. 29
3.8 Uji Asumsi Klasik ................................................................. 30
3.8.1 Uji Multikolinearitas ................................................. 30
3.8.2 Uji Heterokedastisitas ............................................... 31
3.8.3. Uji Autokorelasi ....................................................... 31

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................ 32


4.1 Hasil Penelitian ..................................................................... 32
4.1.1 Gambaran Tanaman Biwa......................................... 32
4.1.2 Karakteristik Responden ........................................... 34
4.1.2.1 Karakteristik Responden Berdasarkan
Tingkat Pendidikan ..................................... 34
4.1.2.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis
Kelamin Sebagai Petani Tanaman Biwa ..... 35
4.1.2.3 Karakteristik Responden Berdasarkan
Umur ........................................................... 35
4.2 Deskripsi Variabel Penelitian................................................ 36
4.2.1 Variabel Jumlah Pohon (JP)...................................... 36
4.2.2 Variabel Total Produksi (TP) per sekali panen ......... 37
4.2.3 Tenaga Kerja (TK) .................................................... 38
4.2.4 Variabel Pupuk (PPK) per pemupukan ..................... 39
4.3 Analisis Pembahasan Pengujian Hipotesis ........................... 39
4.4 Koefisien Determinasi (R2) ................................................... 41
4.5 Uji Parsial (uji t).................................................................... 41
4.6 Uji Serempak (uji F) ............................................................. 42
4.7 Uji Asumsi Klasik ................................................................. 43
4.7.1 Uji Multikolinearitas ................................................. 43
4.7.2 Uji Otokorelasi .......................................................... 43

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN......................................................... 45


5.1 Kesimpulan .......................................................................... 45
5.2 Saran ..................................................................................... 45

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 47

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman

4.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan .................................... 35

4.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ............................... 35

4.3. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur ............................................. 36

4.4. Deskripsi Jumlah Pohon Tanaman Biwa yang Dimiliki Petani/KK di


Kabupaten Karo dengan Metode Struges.................................................... 36

4.5. Deskripsi Total Produksi Petani/KK Tanaman Biwa Kabupaten Karo


dengan Metode Struges .............................................................................. 37

4.6. Deskripsi Tenaga Kerja Petani Tanaman Biwa/KK di Karo dengan


Metode Struges .......................................................................................... 38

4.7. Deskripsi Pemakaian Pupuk oleh Petani Tanaman Biwa/kg di Karo


dengan Metode Sturges .............................................................................. 39

4.8. Estimasi Uji R2 (Hasil Regresi Antar Variabel Bebas) .............................. 43

4.9. Hasil Uji Autokorelasi ............................................................................... 43

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman

2.1. Hubungan Total Produksi, Marginal Produksi dan Rata-rata Produksi...... 8

2.2. Peta Isoquant .............................................................................................. 10

2.3. Kerangka Konseptual Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi


Produksi Tanaman Biwa di Kabupaten Karo ............................................. 21

4.1. Tanaman Biwa ............................................................................................ 32

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
DAFTAR LAMPIRAN

No. Judul Halaman

1. Kuesioner Penelitian .................................................................................... 50

2. Data Penelitian .............................................................................................. 54

3. Data Penelitian dalam Bentuk Logaritma Natural ....................................... 55

4. Regresi Utama .............................................................................................. 56

5. Uji Multikolinearitas .................................................................................... 57

6. Uji Autokorelasi ............................................................................................ 59

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Biwa (Eriobotrya japonica Lindl.) dikenal dengan nama loquat merupakan

salah satu tanaman buah dataran tinggi yang belum banyak dibudidayakan di

Indonesia. Tanaman ini juga masih merupakan tanaman langka karena masih

sebagian kecil masyarakat membudidayakannya dan umumnya sebagai tanaman

pekarangan. Informasi tentang tanaman biwa di Indonesia masih sangat minim,

walaupun akhir akhir ini buah biwa semakin banyak diminati oleh konsumen

terutama dari etnis Cina. Buah biwa juga mempunyai nilai ekonomi yang tinggi,

sebagi contoh buah biwa yang dihasilkan dari Sumatera Utara (Kab. Karo) harga

jualnya mencapai Rp. 20.000,- - Rp. 40.000,- per kg. Walaupun biwa belum banyak

dikenal dan dibudidayakan di Indonesia, namun buah ini telah lama dikenal di Cina,

Jepang dan Eropa.

Biwa merupakan tanaman indigenous Cina bagian tenggara dan kemungkinan

Jepang bagian Selatan, serta telah dibudidayakan di Jepang lebih dari 1000 tahun

yang lalu. Seorang botanis barat yang pertama kali mempelajari tanaman biwa adalah

Kaepfer pada tahun 1690, diikuti Thunberg di Jepang pada tahun 1712, sekaligus

membuat deskripsi yang lebih rinci. Biwa ditanam di National Gardens Paris pada

tahun 1784, dan pada tahun 1787 tanaman biwa dibawa dari Canton, Cina ke Royal

Botanical Garden di Kew, Inggris.

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Setelah itu tanaman ini tumbuh di Riviera dan Malta, serta Perancis dan

Afrika Utara, selanjutnya buah biwa mulai dijumpai di pasar-pasar lokal negeri

tersebut. Pada tahun 1818, buah unggul biwa dihasilkan di Inggris. Selanjutnya

menyebar ke India dan Asia tenggara Australia, New Zealand, dan Afrika Selatan.

Imigran Cina diperkirakan membawa biwa ke Hawaii.

Di Amerika, biwa dibudidayakan di Amerika Selatan bagian Utara, Amerika

Tengah dan Mexiko sampai California, dan sejak tahun 1867 di Florida bagian

Selatan dan arah Utara hingga California pada akhir 1870-an. Seorang hortikulturis

yaitu C.P Taft memulai seleksi dari bibit semai dan menyebarkan beberapa tipe

unggul, namun perkembangan selanjutnya lambat. Pengembangan biwa di Israel pada

tahun 1960 dilakukan setelah adanya batang bawah yang berefek kerdil.

Jepang merupakan negara penghasil utama biwa, setiap tahun menghasilkan

17.000 ton. Brazil memiliki tanaman biwa sebanyak 159.000 pohon di negara bagian

Sao Paulo.

Tanaman biwa diperkirakan dikembangkan di Indonesia pada zaman Belanda,

walaupun informasi tentang tanaman ini masih sangat minim, namun tanaman ini

dapat dijumpai di beberapa daerah dataran tingi seperti di Sumatera Utara (Kab Karo,

tapanuli Utara, Simalungun, Toba Samosir, dan Dairi), di Jawa Barat (Cipanas, Kab

Cianjur), dan Sulawesi Utara (Tondano).

Buah biwa mempunyai nilai gizi tinggi, di samping itu daun dan bijinya

mengandung khasiat obat (Morton, 2001). Daging buah biwa mengandung asam

malat, asam tartarat, asam sitrat, tannat, caroten,Vitamin A, B dan C.

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Daun dan bijinya mengandung amygdalin (amigdalin dikenal sebagai anti

kanker berupa Vitamin B17 atau laetrile). Di samping itu, dalam pengobatan orang

Cina tradisional ditulis bahwa daun biwa bekerja pada sistem pernafasan dan

pencernaan,saluran paru-paru dan perut. Menurut The Encyclopedia of Herbs oleh

Demi Brown, daun biwa merupakan herba expectorant yang mengontrol batuk dan

muntah. Daun biwa efektif terhadap infeksi bakteri dan virus secara internal untuk

penyakit bronchitis, batuk dengan demam, mual, muntah, kecegukan, dan bersendawa

terus menerus.

Penetapan jenis komoditas yang akan dikembangkan pada suatu wilayah

sangat penting. Masalah teknologi mencakup paket teknologi budidaya penaganan

pra panen, pasca panen dan pengelolaan hasil belum diselesaikan. Disamping itu jenis

tanaman buah-buahan yang dibudidayakan juga belum dapat ditetapkan, disebabkan

belum tersedianya benih yang bermutu atau yang mempunyai daya saing pasar. Oleh

karena itu diperlukan penanganan yang baik dalam mempertahankan tanaman Biwa

dengan membuat kebun plasmanutfah serta mengoleksi varietas/klon tanaman biwa.

Penetapan jenis komoditas yang akan dikembangkan pada suatu wilayah

sangat penting. Masalah teknologi mencakup paket teknologi budidaya penanganan

pra panen, pasca panen dan pengelolaan hasil belum diselesaikan. Disamping itu

jenis tanaman buah buahan yang dibudidayakan juga belum dapat ditetapkan,

disebabkan belum tersedianya benih yang bermutu atau yang mempunyai daya saing

pasar.

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Oleh karena itu diperlukan penanganan yang baik dalam mempertahankan tanaman

Biwa dengan membuat kebun plasma nutfah serta mengoleksi / klon tanaman Biwa.

Disisi lain buah-buahan tropik yang tergolong eksotik semakin diminati

pangsa pasar dalam negeri dan luar negeri. Indonesia sebagai salah satu produsen,

belum banyak berperan dalam mengisi pasar global. Pengembangan sentra poduksi

buah-buahan dalam skala ekonomis di daerah-daerah yang sesuai agroklimatnya

pada waktunya akan dapat memenuhi kebutuhan pasar. (Winarto dan Karyasari

2004).

Di dalam perkembangan tanaman Biwa banyak dilakukan oleh petani dengan

menggunakan biji. Cara perbanyakan melalui biji sangat lambat berproduksi dan

hasilnya tidak sama dengan pohon induknya. Oleh sebab itu dilakukan koleksi dan

karakterisasi tanaman Biwa di Kebun Percobaan Tanaman Buah Berastagi, sehingga

diharapkan dapat dijadikan plasmanutfah dan calon pohon induk yang unggul untuk

tujuan penelitian.

Bibit bermutu adalah tanaman muda yang proto type, sehat, seragam dan

memiliki sifat cepat berbuah, produksi tinggi dan kualitas buah terjamin. Agar

diperoleh bibit bermutu perbanyakan dilakukan secara vegetatif melalui

pecangkokan, sehingga diperoleh tanaman yang sifatnya sama dengan pohon

induknya, cepat bereproduksi dan pertumbuhan tanaman yang lebih rendah. (Jawal

dan Susiloadi 2000).

Tanaman Biwa yang termasuk kedalam famili Rosaceae sangat berpotensi

untuk dibudidayakan.

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Kendala yang dihadapi adalah tanaman ini belum terdata walaupun termasuk

tanaman langka dan nilai ekonominya tinggi. Biwa merupakan tanaman yang

bereproduksi musiman dan masih diusahakan petani secara sampingan dan

tradisional, serta sebagai tanaman pekarangan.

Kesadaran konsumen untuk mengkonsumsi buah-buahan organik, akhir-akhir

ini meningkat, mengingat residu pestisida dan pupuk kimia yang berakibat tidak baik

terhadap kesehatan adalah rendah. Oleh karena itu komoditas buah-buahan yang

selama ini terabaikan dan merupakan tanaman pekarangan seperti buah Biwa, saat ini

sudah menjadi primadona unutk dikonsumsi oleh masyarakat, karena Biwa

merupakan salah satu buah non pestisida, disamping itu kaya akan vitamin C, dan

memiliki nilai ekonomis yang tinggi sehingga dengan dikembangkannya tanaman ini

akan dapat meningatkan pendapatan petani.

Berdasarkan kepada kenyataan tersebut di atas maka perlu dilakukan

penelitian terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi produksi tanaman biwa di

Kabupaten karo tersebut.

1.2 Perumusan Masalah

Permasalahan yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah : Berapa besar

pengaruh Jumlah Pohon, Tenaga Kerja, Pupuk, dan Musim terhadap produksi

tanaman Biwa.

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
1.3 Tujuan Penelitian

Secara umum tujuan penelitian ini adalah ;

a. Untuk mengetahui bagaimanakah pengaruh jumlah pohon, tenaga kerja,

pupuk dan musim terhadapa total produksi tanaman Biwa di Kabupaten Karo

b. Untuk mengetahui variable mana yang paling dominan pengaruhnya antara

jumlah pohon, tenaga kerja, pupuk dan musim terhadap Total Produksi

tanaman Biwa.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat ;

a. Sebagai masukan (input) bagi pemerintah Kabupaten Karo c.q Dinas

Pertanian dalam membudidayakan tanaman biwa, sehingga dapat

mengambil kebijakan yang tepat dalam menyusun perencanaan untuk

pengembangan budidaya tanaman tradisional tersebut.

b. Sebagai masukan bagi peneliti-peneliti lain yang berminat untuk

memperdalam penelitian ini pada masa mendatang.

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Teori Produksi

Produksi adalah berkaitan dengan cara bagaimana sumber daya (masukan)

dipergunakan untuk menghasilkan produk (keluaran). Sementara itu, menurut Beattie

dan Taylor (1999) produksi yaitu proses kombinasi dan koordinasi material-material

dan kekuatan-kekuatan (input, faktor, sumber daya, atau jasa-jasa produksi) dalam

pembuatan suatu barang atau jasa berupa output atau produk.

Menurut Joesron dan Fathorrozi (2003), produksi merupakan hasil akhir dari

proses atau aktivitas ekonomi dengan memanfaatkan beberapa masukan atau input.

Lebih lanjut Putong (2002) mengatakan produksi atau memproduksi menambah

kegunaan (nilai guna) suatu barang. Kegunaan suatau barang akan bertambah bila

memberikan manfaat baru atau lebih dari bentuk semula. Lebih spesifik lagi produksi

adalah kegiatan perusahaan dengan mengkombinasikan berbagai input untuk

menghasilkan output dengan biaya yag minimum.

Ahyari (1999) : Produksi adalah kegiatan yang dapat menimbulkan tambahan

manfaatnya atau penciptaan faedah baru. Faedah atau manfaat ini dapat terdiri dari

bebeberapa macam, misalnya faedah bentuk, faedah waktu, faedah tempat, serta

kombinasi dari beberapa faedah tersebut diatas. Dengan demikian produksi tidak

terbatas pada pembuatan, tetapi sampai pada distribusi.

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Komoditi bukan hanya dalam bentuk output barang, tetapi juga jasa. Menurut

Salvatore (2001) produksi adalah merujuk pada transformasi dari berbagai input atau

sumber daya menjadi output beberapa barang atau jasa.

Hubungan antara Produksi Total (TP), produksi rata – rata (AP) dan Produk

Marjinal (MP) dalam jangka pendek untuk satu input (input lain dianggap konstan)

dapat dilihat pada gambar berikut (Nicholson 1994) :

TP
5
C
B TP

Ep>1 1>Ep>0 Ep<0

0 L1 L2 L3 Input L

AP,MP Kenaikan Kenaikan hasil Kenaikan hasil


Hasil ber berkurang negatif
tambah

A1
B1

C1 AP
0 L1 L2 L3 Input L
MP
Gambar 2.1. Hubungan Total Produksi, Marginal Produksi dan Rata-rata Produksi

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Gambar 2.1 diatas memperlihatkan bahwa antara titik A dan C adalah

pertambahan produksi yang semakin berkurang (law of diminishing marginal

productivity). Titik C adalah total produksi mencapai maksimum artinya tambahan

input tidak lagi menyebabkan tambahan output atau produksi marjinal (MP) adalah

nol (C1). Sedangkan produksi rata-rata (AP) mencapai maksimum adalah pada saat

elastisitas sama dengan 1 dan AP berpotongan dengan MP artinya rata-rata sama

dengan tambahan output akibat tambahan 1 unit input produksi, dengan asumsi faktor

produksi lain diangap konstan.

Hubungan fungsional antara berbagai faktor produksi termasuk

pengelolaannya memerlukan koordinasi yag baik sehingga dapat menghasilkan

output optimal (Mubyarto 2002).

Apabila keterbatasan biaya menjadi kendala maka tindakan yang dilakukan

adalah dengan meminimumkan biaya (cost minimization) dan jika tidak dilakukan

dengan keterbatasan biaya maka dapat dilakukan melalui pendekatan

memaksimumkan keuntungan (profit maximazation)

Apabila dua input yang digunakan dalam proses produksi menjadi variabel

yang sering digunakan adalah pendekatan isoquant dan isocost. Isoquant adalah

kurva yang menunjukkan kombinasi input yang dipakai dalam proses produksi yang

menghasilkan output tertentu dalam jumlah yang sama. Jumlah produksi

digambarkan oleh pergeseran kurva isoquant, jika suatu perusahaan memutuskan

untuk menambah produksinya maka kurva isoquant akan bergeser kekanan

sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 2 berikut (Joesran dan Fathorrozi, 2003).

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Modal (K)

KA A

Q2
B Q1
KB
Q0

T. Kerja (L)
TA TB

Gambar 2.2. Peta isoquant

Gambar 2.2 mengilustrasikan bahwa ada beberapa proses produksi sehingga

kurva isoquant contineu, dan sebenarnya yang ingin dituju oleh setiap perusahaan

adalah Titik T, namun untuk mencapai titik tersebut sangat sulit terlaksana dan tidak

akan tercapai, karena titik T menggambarkan penggunaan input yang demikian

banyak sehingga menciptakan output yang tak terhingga.

2.1.2 Fungsi Produksi

Fungsi produksi menghubungkan input dengan output dan menentukan

tingkat output optimum yang bisa diproduksi dengan sejumlah input tertentu, atau

sebaliknya, jumlah input minimum yang diperlukan untuk memproduksikan tingkat

output tertentu. Fungsi produksi ditentukan oleh tingkat teknologi yang digunakan

dalam proses produksi.

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Karena itu hubungan output input untuk suatu sistem produksi merupakan suatu

fungsi dari tingkat teknologi pabrik, peralatan, tenaga kerja, bahan baku dan lain-lain

yang digunakan dalam suatu perusahaan (Arsyad, 2003).

Fungsi produksi menggambarkan kombinasi penggunaan input dan teknologi

yang dipakai oleh suatu perusahaan. Pada keadaan teknologi tertentu hubungan antara

input dan output tercermin pada funsgi produksinya. Suatu fungsi produksi

menggambarkan kombinasi input yang dipakai dalam proses produksi, yang

menghasilkan output tertentu dalam jumlah yang sama dapat digambarkan dengan

kurva isokuan (isoquant), yaitu kurva yang menggambarkan berbagai kombinasi

faktor produksi yang menghasilkan produksi yang sama (Joesran dan Fathorrozi,

2003)

Isoquant hanya menjelaskan keinginan perusahaan berdasarkan fungsi

produksi yang ditentukan, dan tidak menjelaskan apa yang dapat diperbuat oleh

perusahaan. Untuk memahami ini kita harus memasukkan faktor biaya kedalam

gambar yaitu garis isocost, yang menggambarkan kombinasi biaya berbagai input

dengan input konstan dan biaya itu yang tersedia.

Menurut Pappas (2003) fungsi produksi adalah suatu pernyataan deskriptif

yang mengkaitkan masukan dengan keluaran. Fungsi ini menyatakan jumlah

maksimum yang dapat diproduksi dengan sejumlah masukan tertentu atau, alternatif

lain, jumlah minimum masukan yang diperlukan untuk memproduksi satu tingkat

keluaran tertentu.

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Fungsi produksi ditetapkan oleh teknologi yang tersedia, yaitu hubungan

masukan/keluaran untuk setiap sistem produksi adalah fungsi dari karakteristik

teknologi pabrik, peralatan, tenaga kerja, bahan dan sebagainya yang dipergunakan

perusahaan. Setiap perbaikan teknologi, seperti penambahan satu komputer

pengendalian proses yang memungkinkan suatu perusahaan pabrikan untuk

menghasilkan sejumlah keluaran tertentu dengan jumlah bahan mentah, energi dan

tenaga kerja yang lebih sedikit, atau program pelatihan yang meningkatkan

produktivitas tenaga kerja, menghasilkan sebuah fungsi produksi yang baru.

Menurut Samuelson (2002) fungsi produksi adalah kaitan antara jumlah

output maksimum yang bisa dilakukan masing-masing dan tiap perangkat input

(faktor produksi). Fungsi ini tetap untuk tiap tingkatan teknologi yang digunakan.

Produksi sebenarnya merupakan kegiatan yang diukur sebagai tingkat output

per unit waktu. Hubungan antara kuantitas produksi dengan input yang digunakan

dalam proses produksi diformulasikan sebagai fungsi produksi. Menurut Beattie dan

Taylor (1999) Produksi adalah proses kombinasi dan koordinai material-material

serta kekuatan (faktor produksi, sumber daya alam) dalam menghasilkan suatu barang

atau jasa (output atau produksi). Hubungan antara input dan output diformulasikan

dalam suatu fungsi produksi sebagi berikut :

Q = f (K, L, M) ............................................................................... (2.1)

Dimana : Q adalah jumlah output dari suatu barang yang dihasilkan selama

periode tertentu, K adalah jumlah modal yang digunakan. L adalah tenaga kerja yang

digunakan, dan M adalah variabel lain yang kemungkinan mempengaruhi produksi.

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Jika dalam proses produksi hanya terdapat dua kombinasi faktor (input)

produksi yaitu modal dan tenaga kerja, maka bentuk model hubungan antara output

dengan input adalah Q = f (K, L). Jumlah maksimum suatu barang yang dapat

diproduksi (Q) dengan menggunakan kombinasi alternatif antara modal (K) dengan

tenaga kerja L.

Banyak fungsi produksi memiliki suatu sifat yang disebut skala hasil konstan

(constant returns to scale). Fungsi produksi memiliki skala hasil konstan jika

peningkatan dalam persentase yang sama dalam seluruh faktor-faktor produksi

menyebabkan peningkatan output dalam persentase yang sama. Jika fungsi produksi

memiliki skala hasil konstan, maka kita dapatkan output 10 persen lebih banyak

ketika kita meningkatkan modal dan tenaga kerja sampai 10 persen. Secara

matematis, fungsi produksi memiliki skala hasil konstan jika :

zY = F (zK, zL) .............................................................................. (2.2)

Untuk setiap angka positif z.

Persamaan ini menyatakan bahwa jika kita mengalikan jumlah modal dan

jumlah tenaga kerja dengan angka z, output juga dikalikan dengan z. Pada bagian

berikutnya kita lihat bahwa asumsi skala hasil konstan memiliki implikasi penting

pada distribusi pendapatan dari produksi (Mankiw, 2003).

Konsep fisik lain dari suatu produksi adalah Average Product (AP) atau

produksi rata-rata yaitu perbandingan antara jumlah produk (output) yang dihasilkan

dalam suatu proses produksi dengan jumlah faktor produksi (input) yang digunakan.

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Q
APl = dimana input K dianggap konstan ...................................... (2.3)
L

Q
APk = dimana input L dianggap konstan ..................................... (2.4)
K

Di samping itu dikenal juga konsep Marginal product (MP) atau produksi

marjinal yaitu tambahan produksi akibat penambahan satu unit input. Fungsi ini juga

merupakan slope dari produksi total. Produksi marjinal bisa diperoleh dengan

melakukan derivasi parsial :

∂Q
MPL = produksi marginal dari tenaga kerja .............................. (2.5)
∂L

∂Q
MPK = produksi marginal dari modal ....................................... (2.6)
∂K

2.1.3 Faktor Produksi dan Pendapatan

2.1.3.1 Tenaga Kerja

Setiap usaha yang dilaksanakan pasti memerlukan tenaga kerja. Oleh karena

itu dalam analisa ketenagakerjaan dibidang bisnis/perusahaan penggunaan tenaga

kerja dinyatakan oleh besarnya curahan tenaga kerja. Skala usaha akan

mempengaruhi besar kecilnya tenaga kerja yang dibutuhkan dan pula membutuhkan

tenaga kerja yang mempunyai keahlian (terampil). Biasanya perusahaan kecil akan

membutuhkan tenaga kerja yang sedikit, dan sebaliknya perusahaan skala besar lebih

banyak membutuhkan tenaga kerja dan mempunyai keahlian.

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Dalam analisa ketenagakerjaan sering dikaitkan dengan tahapan pekerjaan

dalam perusahaan, hal seperti ini sangat penting untuk melihat alokasi sebaran

pengguna tenaga kerja selama proses produksi sehingga dengan demikian kelebihan

tenaga kerja pada kegiatan tertentu dapat dihindarkan (Sukawartawi, 2002).

Di negara-negara yang sudah maju, kemajuan tenaga dkerja diukur dengan

tingginya produktivitas tenaga kerja, semua diarahkan untuk meningkatkan

produktivitas. Tenaga kerja merupakan faktor produksi yang paling terbatas

jumlahnya, dalam keadaan ini mesin-mesin penghemat tenaga kerja dapat

meningkatkan produktivitas output yang dihasilkan (Mubyarto, 2002)

Penggunaan tenga kerja sebagai variabel dalam proses produksi lebih

ditentukan oleh pasar tenaga kerja, dalam hal ini dipengaruhi oleh upah tenaga kerja

serta harga outputnya (Nopirin, 2000). Pengusaha cenderung menambah tenaga kerja

selama produk marginal (nilai tambah output yang diakibatkan oleh bertambahnya 1

unit tenaga kerja) lebih tinggi dari pada cost yang dikeluarkan untuk upah tenaga

kerja.

2.1.3.2 Pendapatan

Sebagaimana diketahui bahwa pembangunan yang sedang giat-giatnya

dilaksanakan oleh negara-negara yag sedang berkembang bertujuan untuk

meningkatka pendapatan riel per kapita, pendapatan ini pada umumnya masih rendah.

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Gejala umum yang sering terjadi dalam proses pembangunan di Negara-negara

berkembang adalah hasrat komsumsi dari masyarakat yang tinggi sebagai akibat dari

kenaikan pendapatan.

Menurut Sukirno (2006) pendapatan adalah jumlah penghasilan yang diterima

oleh penduduk atas prestasi kerjanya selam satu periode tertentu, baik harian,

mingguan, bulanan ataupun tahunan. Beberapa klasifikasi pendapatan antara lain :

1. Pendapatan pribadi, yaitu ; semua jenis pendapatan yang diperoleh tanpa

memberikan suatu kegiatan apapun yang diterima produk suatu negara.

2. Pendapatan disposibel, yaitu; pendapatan pribadi dikurangi pajak yang harus

dibayarkan oleh para penerima pendapatan, sisa pendapatan yang siap

dibelanjakan inilah yang dinamakan pendapatan disposibel.

3. Pendapatan nasional, yaitu ; nilai seluruh barang-barang jadi dan jasa-jasa yang

diproduksikan oleh suatu Negara dalam satu tahun, apabila seluruh bahan baku

adalah lokal.

Menurut Sobri (2000) pendapatan disposibel suatu jenis penghasilan yang

diperoleh seseorang siap untuk dibelanjakan atau dikonsumsikan. Besarnya

pendapatan disposibel yaitu pendapatan yang diterima dikurangi dengan pajak

langsung (pajak perseorangan) seperti pajak penghasilan.

Masalah pendapatan tidak hanya dilihat dari jumlahnya saja, tetapi bagaimana

distribusi pendapatan yang diterima oleh masyarakat. Adapun faktor-faktor yang

mempengaruhi arah gejala distribusi pendapatan dan pengeluaran di Indonesia;

Pertama, perolehan faktor produksi, dalam hal ini faktor yang terpenting adalah

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
tanah. Kedua , perolehan pekerjaan, yaitu perolehan pekerjaan bagi mereka yang

tidak memiliki tanah yang cukup untuk memperoleh kesempatan kerja penuh. Ketiga,

laju produksi pedesaan, dalam hal ini yang terpenting adalah produksi pertanian dan

arah gejala harga yang diberikan kepada produk tersebut.

Pendapatan per kapita dapat diartikan pula sebagai penerimaan yang diperoleh

rumah tangga yang dapat mereka belanjakan untuk komsumsi yaitu yang dikeluarkan

untuk pembelian barang komsumtif dan jasa-jasa, yang dibutuhkan rumah tangga

bagi pemenuhan kebutuhan mereka (Sumardi dan Evers, 2001). Dalam hal ini

pendapatan per kapita adalah determinan potensi ekonomi yang penting selain luas

Negara serta penduduk suatu Negara (Todaro, 2000).

Rendahnya pertumbuhan pendapatan per kapita disuatu negara berarti juga

mencerminkan rendahnya pertumbuhan GNP dan ini terjadi pada Negara-negara yang

sedang berkembang. Usaha-usaha untuk meningkatkan pendapatan perkapita

masyarakat, yaitu dengan cara menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai,

menggalakkan program kerja berencana dan yang terakhir transfer pemerintah kepada

golongan-golongan masyarakat yang berpendapatan rendah. Dengan menggunakan

pajak yang efektif untuk membiayai transfer tersebut sekaligus untuk mengurangi

perbedaan kemakmuran antar anggota masyarakat.

Dewasa ini sumber pendapatan sebagain besar rumah tangga di pedesaan

tidak hanya dari satu sumber, melainkan dari beberapa sumber atau dapat dikatakan

rumah tangga melakukan diversifikasi pekerjaan atau memiliki aneka ragam sumber

pendapatan (Susilowati dkk, 2002).

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Bagi rumah tangga pedesaan yang hanya menguasai faktor produksi tenaga

kerja, pendapatan mereka ditentukan oleh besarnya kesempatan kerja yang dapat

dimanfaatkan dan tingkat upah yang diterima. Kedua faktor ini merupakan fenomena

dari pasar tenaga kerja pedesaan, pertumbuhan angkatan kerja dan mobilitas tenaga

kerja pedesaan. Di sektor pertanian, besarnya kesempatan kerja dipengaruhi oleh luas

lahan pertanian, produktivitas lahan, intensitas dan pola tanam, serta teknologi yang

diterapakan. Disektor non - pertanian kesempatan kerja ditentukan oleh volume

produksi dan tingkat harga komoditi (Kasryno, 2000).

Pendapatan rumah tangga pertanian ditentukan oleh tingkat upah sebagai

penerimaan faktor produksi tenaga kerja. Nilai sewa tanah sebagai penerimaan dari

penggunaan aset produktif lahan pertanian. Dengan demikian tingkat pendapatan

rumah rumah tangga pedesaan sangat dipengauhi oleh tingkat penguasaan faktor

produksi.

Menurut Malian dan Siregar (2000) pendapatan rumah petani pinggiran

perkotaan juga bersumber dari tiga kegiatan utama, yaitu dalam usaha tani sendiri

(on-farm), kegiatan pertanian di luar usaha tani sendiri (off-farm) dan kegiatan di luar

sektor pertaniann (non – farm). Untuk petani yang berada di pedesaan, pendapatan

yang bersumber dari kegiatan on - farm dan off-farm umumnya mencapai lebih dari

90 persen.

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
2.2 Penelitian Terdahulu

Rahmanta (1997) dalam penelitiannya yang berjudul analisis effisiesi

ekonomi relatif usaha tani kentang di kabupaten Karo m enunjukkan bahwa harga

kentang dalam jangka pendek berpengaruh positif terhadap pennawaran kentang

sedangkan harga input tidak tetap (tenaga kerja , bibit, pupuk anorganik , pestisida

padat dan pestisida cair) berpengaruh negatif. Dalam jangka pendek, elastisitas

permintaan silang antar input tidak tetap (tenaga kerja, bibit, pupuk anorganik,

pestisida padat dan pestisida cair) bertanda negatif artinya terjadi hubungan yang

bersifat komplemen antar faktor produksi tidak tetap tersebut. Elastisitas harga sendiri

untuk input tidak tetap (tenaga kerja, bibit, pupuk organik dan pupuk non organik)

elastis, sedangkan pestisida padat dan pestisida cair inelastis.

Malian dan Siregar (2000) menemukan bahwa pendapatan rumah tanga yang

diperoleh petani sayuran berkisar antara Rp. 13,4 – Rp. 14,8 juta per tahun, atau

setara dengan Rp. 1,1 – Rp. 1,2 juta per bulan. Dari jumlah pendapatan rumah tangga

tersebut, penerimaan yang diperoleh dari kegiatan on – farm berkisar antara Rp. 12,2

– Rp. 13,9 juta per tahun. Tingkat pendapatan yang diterima petani sayuran ternyata

lebih tinggi dibandingkan dengan petani anggrek yang berpendapatan Rp.10,1-

Rp. 12,4 juta pertahun dimana penerimaan yang bersumber dari on-farm antara

Rp. 8,3-Rp.10,3 juta per tahun. Sedangkan pendapatan petani tanaman hias berkisar

antara Rp. 8,4-12, 1 juta per tahun.

Sudaryanto dan Rusastra (2000) dalam penelitian tentang kebijakan dan

pengembangan pertanian menyarankan kepada pemerintah daerah perlu

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
mengupayakan pembangunan pertanian sebagai poros pembangunan yang didukung

oleh kebijaksanaan yang kondusif sehingga dapat memberikan sumbangan nyata

terhadap pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di daerah. Beberapa

program pembangaunan yang perlu mendapatkan penekanan dan pertimbangan

diantarannya adalah transformasi struktur ekonomi berbasis pertanian, peningkatan

ketahanan pangan berkelanjutan, pengembangan agribisnis dan ekonomi kerakyatan

dan pengembangan agropolitan yang sejalan dengan semangat otonomi daerah.

Susilowati, dkk (2002) hasil penelitiannya menyebutkan secara umum sumber

pendapatan rumah tangga masih tergantung pada sektor pertanian, yaitu sebanyak 51

persen yang terdiri dari 29,5 persen di bidang usaha tani/nelayan dan 21,5 persen

sebagai buruh tani/buruh nelayan. Di sektor non – pertanian, sumber pendapatan

rumah tangga yang sifatnya usaha sebanyak 20,6 persen yang terbanyak berupa usaha

dagang yaitu 14,1 persen. Sedangkan yang bersumber pendapatan utama dari buruh

non – pertanian sebanyak 21,5 persen, terutama yang dominan adalah buruh usaha

jasa.

2.3 Kerangka Konseptual

Pada hakekatnya setiap petani merupakan pengusaha terhadap jenis usaha

pertanian yang diusahakannya. Usaha tani merupakan perusahaan yang bersifat

ekonomis, menggunakan faktor-faktor produksi, dan menghasilkan output sebagai

hasil produksi yang dikemudian dijual dan nantinya memperoleh laba atau

pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Dalam proses produksi tersebut dibutuhkan faktor-faktor produksi antara lain;

tenaga kerja; bibit; pupuk, musim; disamping kemampuan mengkombinasikan faktor-

faktor produksi tersebut. Kontribusi yang diberikan masing-masing faktor produksi

terhadap hasil akhir produksi tidaklah sama, tetapi memiliki keterkaitan satu dengan

lainnya.

Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, dengan

didukung oleh teori-teori dan temuan-temuan hasil penelitian terdahulu, maka

kerangka konseptual tentang Analisis fungsi produksi tanaman tradisional biwa di

Kabupaten Karo sebagai berikut :

Jumlah Pohon (X1)

Tenaga Kerja (X2)

Jumlah Produksi Pupuk (X3)


(Q)

Dummy Musim
Pendapatan
Petani

Gambar 2.3. Kerangka Konseptual Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi


Produksi Tanaman Biwa di Kabupaten Karo

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
2.4 Hipotesis

Berdasarkan rumusan masalah, dengan didukung oleh teori-teori, temuan-

temuan hasil penelitian terdahulu, serta kerangka konseptual di atas, hipotesis

penelitian ini adalah :

1. Jumlah Pohon berpengaruh positif terhadap produksi biwa di Kabupaten Karo,

ceteris paribus.

2. Tenaga Kerja berpengaruh positif terhadap produksi biwa di Kabupaten Karo,

ceteris paribus

3. Pupuk berpengaruh positif terhadap produksi biwa di Kabupaten Karo, ceteris

paribus.

4. Musim berpengaruh positif terhadap produksi biwa di kabupaten karo, ceteris

paribus.

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
BAB III

METODE PENEL1TIAN

3.1 Ruang Lingkup dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini hanya menganalisis hal-hal yang berkenaan dengan variabel-

variabel yang mempengaruhi produksi tanaman Biwa yang dapat meningkatkan

pendapatan rumah tangga masyarakat petani biwa. Lingkupan penelitian ini

dilakukan agar tujuan yang ingin dicapai dari hasil penelitian tidak menyimpang dari

yang telah ditetapkan sebelumnya.

3.2 Lokasi Penelitian

Lokasi yang dipilih untuk memperoleh data penelitian lapangan ini adalah

desa-desa yang berada di kecamatan yang memiliki tanaman biwa di wilayah

Kabupaten Karo.

3.3 Jenis dan Sumber Data

1. Data primer, yaitu data yang dikumpulkan dari petani biwa dengan melakukan

wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner) dan melakukan

observasi, meliputi batasan variabel dan data yang diperlukan dalam mendukung

penelitian ini.

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
2. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari Dinas Pertanian, dan buku-buku

literatur, jurnal, maupun hasil publikasi dari instansi terkait yang ada

hubungannya dengan penelitian ini.

3.4 Populasi dan Sampel

3.4.1 Populasi

Populasi adalah kumpulan dari individu dengan kualitas serta ciri-ciri yang

telah ditetapkan. Sebuah populasi dengan jumlah individu tertentu dinamakan

populasi finit sedangkan jika jumlah individu dalam kelompok tidak mempunyai

jumlah yang tetap ataupun tidak terhingga disebut populasi infinit (Nazir, 1999).

Populasi adalah objek penelitian sebagai sasaran untuk mendapatkan dan

mengumpulkan data. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani biwa yang

terdapat di desa –desa yang berada di wilayah Kabupaten Karo yang memiliki pohon

biwa minimal 10 pohon atau lebih.

3.4.2 Sampel

Sampel adalah kumpulan elemen yang sifatnya tidak rnenyeluruh melainkan

hanya sebagian dari populasi saja. Metode pengumpulan data ini dengan jalan

mencatat sebagian kecil dari populasi atau dengan perkataan lain mencatat sampelnya

saja. Metode pengumpulan data yang demikian disebut sampling.

Perlu ditekankan disini bahwa sampel ialah kumpulan elemen yang

merupakan bagian kecil dari populasi, sedangkan sampling ialah suatu cara

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
pengumpulan data yang mencakup semua elemen di dalam sample. Untuk

menjangkau keseluruhan dari objek penelitian dipergunakan teknik sampling yaitu

prosedur untuk mendapatkan dan mengumpulkan karakteristik yang berada di dalam

populasi meskipun data itu tidak diambil secara keseluruhan melainkan hanya

sebagian.

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini ditetapkan metode

purposive sampling yaitu penarikan sampel ditujukan untuk mendapatkan petani yang

tanaman biwanya cukup luas sehingga tanaman biwa memiliki manfaat ekonomi

yang cukup berarti bagi si petani. Dalam hal ini ditetapkan semua petani biwa yang

memiliki 10 pohon biwa atau lebih akan dijadikan sampling. Berhubung karena Biwa

merupakan tanaman langka dan hanya terdapat pada desa-desa tertentu dan populasi

petaninyapun tidak begitu banyak maka jumlah petani sampel dalam penelitian ini

ditetapkan sebanyak 33 rumah tangga petani biwa.

Sampel dengan sengaja diusahakan lebih dari 30 untuk menghindari sampel

kecil, dimana sampel diambil secara proporsional dengan jumlah petani biwa yang

ada di masing-masing kecamatan yang memenuhi syarat.

3.5 Model Analisis Data

Model dasar untuk fungsi produksi biwa di Kabupaten Karo merupakan

pengembangan teori produksi Cobb-Dauglas, yaitu persamaan:

Y=A K α L β …........................................................................... (3.1)

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Dengan memecah variabel K dan L dalam bentuk yang lebih spesifik, yaitu

variabel-variabel eksplanatori yang digunakan dalam penelitian ini, maka fungsi

produksi menjadi:

TPp=f (JP, TK, Ppk) …………………………………………………….. (3.2)

Dengan memasukkan seluruh variable penelitian ini dalam fungsi Cobb

Douglas, menghasilkan fungsi sebagai berikut :

TPp=f (a JP,TK, Ppk) …………………………………………………… (3.3)

Selanjutnya untuk mendapatkan model penelitian ini dilakukan log terhadap

variabel-variabel yang digunakan dan memasukkan variabel dummy. Untuk menguji

pengaruh antara variabel penjelas (explanatory variable) terhadap produksi

digunakan metode Ordinary Least Square (OLS) dalam bentuk regresi berganda

dengan menggunakan alat bantu program eviews 4.1. Adapun spesifikasi model

penelitian ini adalah sebagai berikut:

log TPp = α + β1 log JP + β2 log TK + β3 log Ppk + DMsm + µ …..…… (3.4)

Dimana: TPp Total produksi biwa (Kg)

JP = Jumlah Pohon ( batang )

TK = Tenaga Kerja (orang)

Ppk = Pupuk (kg)

DMsm = Dummy Musim

α = Konstanta

β 1, β 2, β 3, = Koeffisien regresi

µ = Faktor pengganggu

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
3.6 Definisi Operasional Variabel

1. Total produksi (TP) adalab total hasil produksi biwa selama kurun waktu

sekali panen dihitung dalam kg.

2. Jumlah Pohon (JP) adalah Jumlah Pohon biwa yang sudah berbuah yang

digunakan para petani biwa. Junlah pohon dihitung dalam jumlah batang.

3. Tenaga kerja (TK) adalah jumlah pekerja yang digunakan selama kegiatan

produksi mulai dari pembibitan sarnpai panen, dihitung berdasarkan jumlah

hari kerja orang.

4. Pupuk (Ppk) adalah jumlah pupuk (organik maupun non organik) yang

digunakan petani selama satu musim tanam dihitung dalam kilogram.

5. Musim (Msm) adalah musim hujan dan kemarau yang mempengaruhi

produksi biwa.

3.7 Uji Kesesuaian Model (Test of Goodness of Fit)

Selanjutnya untuk pengujian validitas dan hasil taksiran tersebut digunakan uji

koefisien R2, uji (F statistic) dan uji (t statistik). Suatu perhitungan statistik disebut

signifikan secara statistik apabila nilai statistiknya berada pada daerah dimana Ho

ditolak. Sebaliknya disebut tidak signifikan bila nilai uji statistiknya berada pada

daerah dimana Ho diterima.

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
3.7.1 Koeffisien Determinasi R2

Penilaian terhadap kofesien determinasi (R2) bertujuan untuk melihat variasi

kernampuan variabel bebas dalam menjelaskan pengaruhnya terhadap variabel

terikat.

3.7.2 Uji F- Statistik

Uji signifikansi simultan pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel

independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara serentak

terhadap variabel dependen. Hipotesis nol (Ho) yang hendak diuji apakah semua

parameter dalam model penelitian ini sama dengan nol, atau:

Ho : β 1, β 2, β 3 = 0

Artinya, semua variabel independen bukan merupakan penjelas yang

signifikan terhadap variabel dependen. Hipotesis alternatif (Ha), tidak semua

parameter penelitian ini secara simultan sama dengan nol, atau:

Ha : β 1, β 2, β 3 ≠ 0

Artinya, semua variabel independen secara simultan merupakan penjelas yang

signifikan terhadap variabel dependen.

Menurut Kuncoro (2006) cara melakukan uji F adalah sebagai berikut:

Quick look. Bila nilal F lebih besar daripada 4 maka H 0 yang menyatakan

β 1, β 2, β 3 = 0 dapat ditolak pada derajat kepercayaan

sebesar 5%, Dengan kata lain menerima hipotesis alternatif.

Membandingkan nilai statistik F dengan titik kritis F tabel; apabila nilai statistik F

hasil perhitungan lebih tinggi dibandingkan nilai F tabel, maka hipotesis alternatif

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
yang menyatakan bahwa semua variabel independen secara serentak dan signifikan

mempengaruhi variabel dependen.

3.7.3 Uji t-Statistik

Uji signifikansi parameter individual (uji t) pada dasarnya menunjukkan

berapa jauh pengaruh variabel independen secara individual dalam menerangkan

variasi variabel dependen. Hipotesis nol (H0) yang hendak diuji apakah parameter

penelitian ini (β 1, β 2, β 3 )sama dengan nol, atau:

H0 = β 1, β 2, β 3 = 0

Artinya, variabel-variabel eksplanatori bukan merupakan penjelas yang

signifikan terhadap variabel produksi biwa. Hipotesis alternatif (Ha), parameter

penelitian ini (β 1, β 2, β 3) tidak sama dengan nol, atau:

Ha β 1, β 2, β 3 ≠ 0

Artinya, variabel-variabel eksplanatori merupakan penjelas yang

signifikan terhadap variabel produksi biwa.

Menurut Kuncoro (2006) cara melakukan uji adalah sebagai berikut:

Quick look. Bila jumlah degree of freedom (df) adalah 20 atau lebih, dan derajat

kepercayaan sebesar 5%, maka H0 yang menyatakan bI=0 dapat ditolak bila nilai t

lebih besar dari 2 (dalam nilai absolut). Dengan kata lain menerima hipotesis

alternatif.

Membandingkan nilai statistik t dengan titik kritis t tabel, apabila nilai statistik t hasil

perhitungan lebih tinggi dibandingkan nilai t tabel, maka menerima hipotesis

altenatif.

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
3.8 Uji Asumsi Klasik

Kebenaran spesifikasi model penelitian ini, dideteksi dengan menguji asumsi

klasik multikolinearitas dan heteroskedastisitas.

3.8.1 Uji Multikolinearitas

Istilah multikolinearitas mula-mula ditemukan oleh Ragnar Frisch.

Multikolinearitas diartikan adanya hubungan linear yang “sempurna” atau pasti,

diantara beberapa atau semua variabel yang menjelaskan dan model regresi. Untuk

regresi k-variabel. meliputi variabel yang menjelaskan X1, X2 …………….. Xk

(dimana X1 untuk semua pengamatan yang memungkinkan suatu intersep. suatu

hubungan linear yang pasti dikatakan ada apabila kondisi λ1 X1 + λ2 X2+……λk Xk = 0

terpenuhi (Gujarati. 2003).

Menurut Nachrowi dan Usman (2004) tidak mungkin koefisien regresi

berganda dapat ditaksir akibat terjadinya multikolinearitas sempurna. Sedangkan bila

terjadi multikolinearitas tidak sempurna, koefisien regresi berganda masih dapat

dicari, tetapi menimbulkan beberapa akibat, yaitu:

a) variansi besar (dan taksiran OLS b) interval kepercayaan lebar; c) uji : tdak

signifikan. d) R2 tinggi tetapi tidak banyak variabel yang signifikan dan uji t ;

e) terkadang taksiran koefisien yang didapat akan mempunyai nilai yang tidak sesuai

dengan substansi, sehinga dapat menyesatkan.

3.8.2 Uji Heterokedastisitas

Menurut Nachrowi dan Usman (2004) dampak heterokedastisitas terhadap

OLS adalah: a) akibat tidak konstannya variansi. maka salah satu dampak yang

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
ditimbulkan adalah lebih besarnya variansi daripada taksiran; b) lebih besarnya

variansi, tentunya akan berpengaruh pada uji hipotesis yang dilakukan, karena kedua

uji tersebut menggunakan besaran variansi taksiran akibatnya uji hipotesis menjadi

kurang akurat: c) Iebih besarnya taksiran, akan rnengakibatkan standar error taksiran

juga lebih besar. sehingga interval kepercayaan juga menjadi besar; d) akibat

beberapa dampak tersebut rnaka kesimpulan yang diambil dan persamaan regresi

yang dibuat dapat menyesatkan.

3.8.3. Uji Autokorelasi

Autokorelasi dapat didefinisikan sebagai korelasi antara anggota serangkaian

observasi yang diurutkan menurut waktu seperti dalam data time series. Sehingga

terdapat saling ketergantungan antara faktor pengganggu yang berhubungan dengan

observasi yang dipengaruhi oleh unsur gangguan yang berhubungan dengan

pengamatan lainnya. Oleh karena itu masalah autokorelasi biasanya muncul dalam

data time series, meskipun tidak menutup kemungkinan terjadi dalam data cross

sectional.

Uji untuk melihat autokorelasi dapat dilakukan dengan uji Durbin-Watson

Test ataupun dengan uji Lagrange Multiplier Test (LM-Test).

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Gambaran Tanaman Biwa

Anggur berastagi atau yang lazim disebut biwa (eriobotrya japonica L), sejak

dua tahun terakhir mulai diteliti untuk dikembangkan secara besar-besaran. Ini

dilakukan karena buah tanaman dataran tinggi ini selain harganya mahal, daun, buah,

biji, dan daging buahnya juga bisa digunakan untuk kesehatan tubuh.

Gambar 4.1. Tanaman Biwa

Buahnya berkhasiat dijadikan sebagai obat batuk dan bijinya digunakan

sebagai anti kanker. Di Sumut, biwa banyak dikonsumsi masyarakat etnis China.

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Dalam pengobatan China tradisional dipercaya, minum teh, daun atau bubuk daun

biwa bisa mengobati diare, stres dan menetralkan mabuk akibat minuman beralkohol,

sedangkan daunnya bisa digunakan mengobati pembengkakan. Buah biwa juga

berfungsi sebagai obat penenang, untuk menghaluskan kulit dan menurunkan

kolestrol.

Setelah diteliti selama dua tahun oleh Dinas Pertanian Sumut, Balai Penelitian

Tanaman Buah Tropika, Kebun Percobaan Tanaman Buah (KPTB) Berastagi,

Pemkab Karo, dan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, maka pada

November 2006 tanaman buah ini dilepas sebagai varietas unggul nasional. Dengan

demikian, tanaman buah varietas unggul nasional dari Kabupaten Karo ada tiga jenis,

yakni jeruk, markisa dan biwa. Biwa merupakan tanaman pekarangan yang mulai

langka di Karo akibat kurang dibudidayakan secara komersial. Buah biwa yang ada

dipasaran tidak berasal dari penanaman monokultur. Harga jualnya di pasaran

mencapai Rp 35.000 - Rp 40.000 per kg, sementara di tingkat petani rata-rata

Rp 25.000 per kg.

Luas tanaman buah biwa di Karo pada tahun 2005 mencapai 12 hektar,

tersebar di empat kecamatan termasuk di lokasi wisata Taman Simalem Resort seluas

lima hektar. Sejak dikembangkan pada tahun 2002 dengan sistim vegetatif (sambung

pucuk), benihnya dari KPTB dijual seharga Rp 20.000 per batang. Dalam tiga tahun

belakangan ini produk buah biwa mencapai 36 ton per tahun. (Dinas Pertanian

Kabupaten Karo).

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Varietas biwa yang mendapat dukungan dari mantan Menteri Pertanian

Bungaran Saragih, mulai dikembangkan intensif di Desa Kurbakti, Kecamatan

Simpang Empat. Varietas unggul biwa akan menambah jumlah varietas unggul

nasional yang sudah ada sekaligus sebagai aset kekayaan sumber daya alam dan

pelestarian plasma nuftah.

4.1.2 Karakteristik Responden

4.1.2.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Responden dalam penelitian ini adalah para petani di Kabupaten Karo. Untuk

mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, diedarkan 33 set kuesioner.

Dari hasil pengumpulan data yang dilakukan terhadap 33 Kepala Keluarga petani

tanaman Biwa, mayoritas petani tidak berpendidikan, yaitu sebanyak 39,3%. Hal ini

menunjukkan bahwa petani tanaman Biwa di Kabupaten Karo memiliki karakteristik

pendidikan yang cukup rendah sehingga dengan tingkat pendidikan yang cukup

rendah, kinerja yang dihasilkan petani juga cukup rendah. Petani tidak dapat bekerja

dan berpikir lebih profesional dan tidak dapat menganalisa kondisi pertanian saat ini.

Hasil pengumpulan data yang dilakukan kepada 33 orang petani Tanaman Biwa di

Kabupaten Karo ditunjukkan pada Tabel 4.2 berikut :

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Tabel 4.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan

Pendidikan Jumlah Responden Persentase (%)


Tidak Sekolah 13 39,3
SD 8 24,3
SMP 5 15,2
SMU 7 21,2
Jumlah 33 100
Sumber : Hasil Penelitian, 2008 (data diolah)

4.1.2.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Sebagai Petani

Tanaman Biwa

Karakteristik responden berdasarkan jenis Kelamin sebagai petani tanaman

Biwa dapat dilihat pada Tabel 4.2 berikut :

Tabel 4.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)


Pria 28 84,8
Wanita 5 15,2
Jumlah 33 100
Sumber : Hasil Penelitian, 2008 (data diolah)

Pada Tabel 4.3 dapat diketahui bahwa jenis kelamin petani tanaman Biwa di

Kabupaten Karo mayoritas berjenis kelamin Pria (84,8%).

4.1.2.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur

Karakteristik responden berdasarkan umur dapat dilihat pada Tabel 4.3

berikut :

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Tabel 4.3. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur

Umur Frekuensi Presentase


21 – 30 Tahun 7 21,2
31 – 40 Tahun 8 24,3
41 – 50 Tahun 11 33,3
51 tahun ke atas 7 21,2
Jumlah 33 100
Sumber : Hasil Penelitian, 2008 (data diolah)

Dari Tabel 4.3 dapat diketahui bahwa petani tanaman Biwa di Kabupaten

Karo lebih dominan berusia 41 – 50 tahun yaitu sebesar 33,3% serta pada usia 31 –

40 tahun yaitu sebesar 24,3%. Hal ini berarti petani Tanaman Biwa di Kabupaten

Karo berada pada tingkat usia puncak produktif dan akan segera memasuki tahap

pensiun sehingga dibutuhkan adanya segera dilakukan regenerasi petani tanaman

Biwa, agar tidak terjadi adanya stagnasi dalam produksi tanaman Biwa.

4.2 Deskripsi Variabel Penelitian

4.2.1 Variabel Jumlah Pohon (JP)

Tabel 4.4. Deskripsi Jumlah Pohon Tanaman Biwa yang Dimiliki Petani / KK di
Kabupaten Karo dengan Metode Sturges

Jumlah Pohon Frekuensi


10 – 55 2
56 – 100 7
101 – 145 12
146 – 190 4
191 – 235 5
236 – 280 3
Jumlah 33
Sumber: Hasil Penelitian (Data diolah)

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Dari tabel diatas, dapat diketahui perkembangan jumlah tanaman biwa yang

dimiliki oleh petani. Jumlah Pohon Tanaman Biwa yang paling sedikit dimiliki

Petani / KK adalah 10 pohon dan yang paling banyak 280 pohon, sedangkan Jumlah

Petani / KK yang memiliki pohon paling sedikit sebanyak 2 KK (6%) sedangkan

jumlah Petani / KK yang memiliki pohon terbanyak adalah sebanyak 3 KK (9 %).

Range Jumlah Pohon Tanaman Biwa sebanyak 101 – 145 pohon adalah paling

banyak dimiliki petani yaitu 12 petani / KK (36,3 %).

4.2.2 Variabel Total Produksi (TP) per sekali panen

Tabel 4.5. Deskripsi Total Produksi Petani / KK Tanaman Biwa Kabupaten Karo
dengan Metode Sturges

Produksi (Kg) Frekuensi


100 – 320 2
321 – 540 11
541 – 760 4
761 – 980 8
981 – 1200 5
1201 –1420 3
Jumlah 33
Sumber: Hasil Penelitian (Data diolah)

Dari Tabel 4.5 dapat dilihat perkembangan produksi yang dihasilkan oleh

tanaman biwa oleh sekali panen. Produksi Tanaman Biwa sekali Panen yang terendah

adalah 100 kg dan yang tertinggi adalah sebesar 1400 kg, sedangkan produksi

terendah sekali panen diperoleh oleh 2 KK (6 %) responden dan yang tertinggi

diperoleh oleh 3 KK responden (9%). Range Tingkat Produksi Tanaman Biwa sekali

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
panen responden memiliki produksi tanaman Biwa yang terbanyak sebesar 100 – 320

kg (33,3%)

4.2.3 Variabel Tenaga Kerja (TK)

Perkembangan jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam mengembangkan usaha

tanaman biwa dapat dilihat pada tabel 4.6 dibawah ini.

Tabel 4.6. Deskripsi Tenaga Kerja Petani Tanaman Biwa / KK di Karo dengan
Metode Sturges

Jumlah Tenaga Kerja Frekuensi


0–1 0
2 –3 9
4 –5 7
6–7 6
8–9 11
10 –11 0
Jumlah 33
Sumber : Hasil Penelitian (data diolah)

Jumlah Tenaga Kerja Tanaman Biwa / KK responden yang terkecil adalah 2 orang

(6%) dan yang terbesar adalah 8 orang (24,2%), sedangkan jumlah Tenaga Kerja

Tanaman Biwa / KK responden yang terkecil dimiliki oleh 9 KK dan yang terbesar

adalah 11 KK. Range Jumlah Tenaga Kerja yang dimiliki responden yang terbanyak

adalah sebesar antara 8 – 9 orang yaitu 11 KK (33,3%)

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
4.2.4 Variabel Pupuk (PPK) per pemupukan

Pupuk merupakan salah satu input yang paling penting dapam bumidaya

tanaman biwa. Oleh karena itu pemakaian/penggunaan pupuk oleh petani dapat

dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 4.7. Deskripsi Pemakaian Pupuk oleh Petani Tanaman Biwa / kg di Karo
dengan Metode Sturges
Pupuk Frekuensi
0 – 23 0
24 – 46 5
47 – 69 14
70 – 92 10
93 – 115 3
116 – 138 0
139 – 161 1
Jumlah 33

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah pemberian pupuk pada tanaman

Biwa responden yang terkecil adalah 35 kg (3%) dan yang terbesar adalah 156 kg

(3%)sedangkan jumlah pemberian pupuk pada Tanaman Biwa responden yang

terkecil dilakukan oleh 1 petani dan yang terbesar dilakukan 1 petani. Range Jumlah

Pemberian Pupuk yang diberikan pada Tanaman Biwa yang dilakukan petani yang

terbanyak adalah sebesar antara 47 – 69 kg yaitu dilakukan oleh 14 petani (42,4%)

4.3 Analisis Pembahasan Pengujian Hipotesis

Berdasarkan hasil regresi dari data primer yang diolah dengan menggunakan

Program eviews 4.1. diperoleh hasil sebagai berikut:

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
____________________________________________________________________

LnTP = 1,816 + 0.889 LnJP + 0.101 LnTK + 0.168 LnPPK + 0,042 Dmsm

Std. error (0,1804) (0,0967) (0,0524) (0,1017) (0,0301)

t- statistik (10,069) (9,1927)*** (1,9461)** (1,6550)* (1,4273)

R2 = 0,878776 F stat = 322.8116


Adjusted R2 = 0,875744 Prob (F stat) = 0,0000
____________________________________________________________________
Keterangan: ***)signifikan pada α = 10%
**)signifikan pada α = 5%
*)signifikan pada α = 1%

Dari persamaan tersebut diatas dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Koefisien Regresi (JP) = 0,889 menunjukkan bahwa Jumlah Pohon Biwa

berpengaruh positif dan signifikan terhadap Total Produksi Tanaman Biwa.

Atau dengan kata lain jika Jumlah Pohon (JP) naik sebesar satu persen maka

Total Produksi akan naik sebesar 88,9 persen, ceteris paribus.

b. Koefisien Tenaga Kerja = 0,101 menunjukkan bahwa Tenaga Kerja

berpengaruh positif dan signifikan terhadap Total Produksi Biwa. Atau

dengan kata lain Pertambahan Tenaga Kerja sebesar satu persen, Total

Produksi akan naik sebesar 10,1 persen, ceteris paribus.

c. Koefisien Pupuk = 0,168 menunjukkan bahwa pemakaian Pupuk berpengaruh

positip dan signifikan terhadap Total Produksi Biwa, atau dengan kata lain

Pemakaian Pupuk sebesar satu persen, akan mengakibatkan Total Produksi

Biwa akan Naik sebesar 16,8 persen, ceteris paribus.

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
d. Musim, terutama musim hujan mempengaruhi produksi tanaman biwa secara

positif dan tidak signifikan, atau dengan kata lain adanya musim hujan

membawa pengaruh terhadap total produksi biwa.

4.4 Koefisien Diterminasi (R2)

Untuk mengetahui besarnya koefisien determinasi (R Square) dapat dilihat

dari data diatas. Dari tabel tersebut diketahui bahwa besarnya koefisien determinasi

adalah sebesar 0.878. Hal ini berarti bahwa variabel bebas yaitu Jumlah Pohon Biwa,

Tenaga Kerja, Pupuk, dan Musim dapat menjelaskan 87,8 % terhadap variable

terikatnya yaitu Total Produksi Biwa. Sedangkan sisanya 12,2% dijelaskan oleh

variable variable bebas lain yang tidak diteliti.

4.5 Uji Parsial (uji t)

Diketahui pengaruh variabel Jumlah Pohon terhadap Total Produksi dimana

hasil uji signifikansi sebesar 0,0060 lebih kecil dari α = 0.025. Bila dibandingkan t-

hitung sebesar 9,1927 lebih besar dari t-tabel pada α = 0.05 yaitu 2,04227. Hal ini

berarti bahwa posisi titik hasil uji signifikansi dan t-hitung pada kurva distribusi

normal berada pada wilayah penolakan Ho, menunjukkan variabel Jumlah Pohon

signifikan pengaruhnya terhadap Total Produksi.

Pengaruh variabel Tenaga Kerja terhadap Total Produksi dimana hasil uji

signifikansi sebesar 0,0023 lebih kecil dari α = 0.05. Bila dibandingkan t-hitung

sebesar 1,9461 lebih besar dari t-tabel pada α = 0.05 yaitu 1,697261. Hal ini berarti

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
bahwa posisi titik hasil uji signifikansi dan t-hitung pada kurva distribusi normal

berada pada wilayah penolakan Ho. Berarti variabel Tenaga Kerja signifikan

pengaruhnya terhadap Total Produksi.

Pengaruh variabel Pupuk terhadap Total Produksi dimana hasil uji signifikansi

sebesar 0,0178 lebih kecil dari α = 0.10. Bila dibandingkan t-hitung sebesar 1,6550

lebih besar dari t-tabel pada α = 0.10 yaitu 1,310415. Hal ini berarti bahwa posisi

titik hasil uji signifikansi dan t-hitung pada kurva distribusi normal berada pada

wilayah penolakan Ho. Berarti variabel Pupuk signifikan pengaruhnya terhadap Total

Produksi.

4.6 Uji Serempak (uji F)

Dari output diatas dapat dilihat secara serempak pengaruh variable Jumlah

Pohon Biwa, Tenaga Kerja, Pupuk dan Musim terhadap variabel Total Produksi

dimana hasil uji signifikansi sebesar 0.000 lebih kecil dari α = 0.05. Bila

dibandingkan F-hitung sebesar 322,811 lebih besar dari F-tabel pada α = 0.05 yaitu

2,714. Hal ini berarti keempat variabel independen berpengaruh secara serempak

pada variabel dependen.

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
4.7 Uji Asumsi Klasik

47.1 Uji Multikolinieritas

Selanjutnya dilakukan uji asumsi klasik pada hasil estimasi variabel keputusan

responden, sebagaimana disajikan pada tabel 3.

Tabel 4.8. Estimasi Uji R2 (Hasil Regresi Antar Variabel Bebas)

Variabel Nilai R2
LnTP = f(LnJP, LnTK, LnPPk, DMsm) 0,878776
LnJP = f(LnTK, LnPPk, DMsm) 0.860663
LnTK = f(LnJP, LnPPk, DMsm) 0.655241
LnPPk = f(LnJP, LnTK, DMsm) 0.869701
DMsm = f(LnJP, LnTK, LnPPk,) 0.143377
Sumber: Hasil Peneliatian 2008 (data diolah)

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai R2 LnTP = f(LnJP, LnTK, LnPPk, DMsm) =

0,878776 lebih besar dibandingkan dengan nilai R2 dalam regresi parsial, R2 LnJP =

f(LnTK, LnPPk, DMsm) = 0.860663, R2 LnTK = f(LnJP, LnPPk, DMsm) = 0.655241, R2 LnPPk = f(LnJP,

LnTK, DMsm), = 0.869701 dan R2 DMsm = f(LnJP, LnTK, LnPPk,) = 0.143377. Maka dapat

disimpulkan bahwa dalam model empiris LnTP = f(LnJP, LnTK, LnPPk, DMsm)

tidak ditemukan adanya multikolinieritas.

4.7.2 Uji Autokorelasi

Pengujian untuk melihat autokorelasi ialah dengan menggunakan Serial

Correlation LM test, adapun hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut :

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Tabel 4.9. Hasil Uji Autokorelasi

Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:


F-statistic 0.001864 Probability 0.965882
Obs*R-squared 0.002278 Probability 0.961934
Sumber: Hasil Peneliatian 2008 (data diolah)

Melalui Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test dari program Eviews

4.1 diketahui bahwa tidak terdapat autokorelasi pada model regresi , hal ini dapat

dilihat dari nilai probabilitas 0.965882 > 0,05.

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan atas hasil penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan

sebagai berikut:

1. R2 sebesar 87,8 % berarti bahwa variasi pada variabel bebas mampu memberikan

penjelasan terhadap Total Produksi Biwa sebesar 87,8%, sedangkan sisanya

sebesar 12,2% dijelaskan oleh variable lain yang tidak termasuk dalam model.

2. Variable Jumlah Pohon, Tenaga Kerja, dan Pupuk, berpengaruh secara positif

dan signifikan terhadap Total Produksi petani Biwa di Kabupaten Karo,

sedangkan variable musim berpengaruh tetapi tidak signifikan.

3. Dari keempat variabel yang diteliti dalam penelitian ini yaitu Jumlah Pohon,

Tenaga Kerja, Pupuk, dan Musim, menunjukkan bahwa variabel Jumlah Pohon

Biwa paling besar pengaruhnya terhadap Total Produksi di Kabupaten Karo.

5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan dan hasil penelitian ini dapat dikemukakan saran

saran sebagai berikut:

1. Kepada Pemerintah Kabupaten Karo.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan Total Produksi Biwa di

Kabupaten Karo, sangat dipengaruhi oleh Jumlah Pohon Biwa, hal ini berarti semakin

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
tinggi Tingkat Produksi Biwa apabila semakin banyak Pohon Biwa yang ditanam

petani.

Sehubungan dengan hal tersebut, untuk meningkatkan Produksi Biwa di

Kabupaten Karo, Pemerintah Kabupaten Karo perlu mengoptimalkan sosialisasi,

penyuluhan dan pelatihan kepada para petani Biwa untuk mengembangkan tanaman

biwa.

2. Kepada peneliti selanjutnya

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jumlah Pohon Biwa memiliki peran

yang besar terhadap peningkatan Total Produksi Biwa, alangkah baiknya peneliti

peneliti selanjutnya dapat meneliti faktor faktor lain seperti Luas Lahan petani, atau

apakah ada faktor lain diluar Jumlah Pohon Biwa yang bisa meningkatkan Total

Produksi Biwa di Kabupaten Karo.

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
DAFTAR PUSTAKA

Ahyari, Agus, 1999. Manajemen Produksi Perencanaan Sistem Produksi.


Edisi Keempat, Penerbit Balai Pustaka Fakultas Ekonomi, Yokyakarta.

Arsyad, Lincolin. 2003. Ekonomi Manajerial, Edisi Kelima, Penerbit Balai Pustaka
Fakultas Ekonomi Yokyakarta.

Bangun, F. B. Karo, F. Manik, S. Sembiring dan S. Saragih. 2003. Koleksi dan


Karakterisasi Plasma Nutfah Tanaman Buah di Dataran Tinggi. Laporan
Akhir Tahun, Kebun Percobaan Tanaman Buah Berastagi. Belum
dipublikasi.

________F. Manik, Kusminto, M. Sembiring dan S. Saragih. 2004. Koleksi dan


Karakterisasi Plasma Nutfah Tanaman Biwa di Dataran Tinggi. Laporan
Hasil Penelitian. Kebun Percobaan Tanaman Buah Berastagi. Belum
dipublikasi.

Beattie R, Bruce dan Robert C Taylor, 1999, Ekonomi Produksi, UGM PRESS,
Yokyakarta

Brown, Demi. 1999. Encyclopedia of Herbs & Their Uses. Dorling Kindersley,
England.

BPS. 2005. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Karo Menurut


Lapangan Usaha, Kerjasama BPS dengan BAPPEDA Kabupaten Karo

______ 2005. Karo Dalam Angka Tahun 2004. BPS Karo , Kabanjahe.

Djojohadikusumo, Sumitro. 1995. Ekonomi Pembangunan, PT Pembangunan,


Jakarta.

Gilman, E.F. and D. G. Watson. 1999. Eriobotrya japonica: Loquat. University of


Florida. EDIS Web site.

Gujarati, D. 2003. Basic Econometrics. McGraw-Hill/Irvin. Cetakan Edisi ke


Empat, USA.

Hartono, Jogiyanto. 2004. Teori Ekonomi Mikro: Analisis Matematis, Penerbit


Andi, Yogyakarta.

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Jawal, S. dan A. Susiloadi. 2000. Variabilitas genetik tanaman manggis melalui
analisis isozim dan kaitannya dengan variabilitasfenotipik. Jurnal
Pemuliaan Indonesia Januari-Juni1999

Joesran dan Fathorrozi, 2003. Teori Ekonomi Mikro. Edisi Pertama. Penerbit
Salemba empat, Jakarta.

Kasryno, Faisal. 2000. Sumberdaya Manusia dan Pengelolaan Lahan Pertanian


di Pedesaan Indonesia, Jurnal FAE, Volume 18 No. 1 dan 2, Desember
2000, hal. 25-51.

Kuncoro, M. 2006. Research Methods for Business & Economics: How to


Conduct Research & Write a Thesis. Erlangga, Jakarta.

Malian, A. Husni dan Siregar, Masdjidin. 2000. Peran Pertanian Pinggiran


Perkotaan Dalam Penyediaan Kesempatan Kerja dan Pendapatan
Keluarga, Jurnal FAE, Volume 18 No. 1 dan 2. Desember 2000, hal.
65 -76.

Mankiw, N. Gregory. 2003. Teori Makroekonomi. Edisi Kelima, Penerbit


Erlangga, Jakarta.

Morton, J. 2001. Loquat. In Fruits of warm climates.


http://www.hort.purdue.edu/newcrop1/morton/loquat.html

Mubyarto, 2002. Pengantar Ekonomi Pertanian. Edisi ketiga. LP3ES Jakarta

Nachrowi Djalal, dan Hardius Usman, 2004. Teknik Pengambilan Keputusan.


Grasindo, Jakarta.

Nopirin, 2000. Pengantar Ilmu Ekonomi Makro dan Mikro. Edisi Pertama. Balai
Pustaka Fakultas Ekonomi, Yokyakarta.

Pappas, James L dan Hirschey Mark, Alih Bahasa 2003. Ekonomi Manajerial. Edisi
Kedelapan, jilid 1, Binarupa Aksara Indonesia.

Putong Iskandar, 2002. Pengantar Ekonomi Mikro dan Makro. Edisi Kedua,
Penerbit Ghalia Indonesia

Rahmanta, 1997. Analisis Effisiensi Ekonomi Relatif Usaha Tani Kentang di


Kabupaten Karo. Tesis (Tidak Dipublikasi),IPB-Bogor

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Salvatore, Dominick, 2001. Managerial Economics, dalam Perekonomian Global,
Edisi Keempat, Jilid 1, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Samoelson, Paul. A. 2002. Ekonomi, Edisi Kelima belas, Penerbit PT. Gelora Aksara
Pratama.

Sobri (2000) Ekonomi Makro, Edisi Kelima. BPFE-UGM, Yogjakarta.

Sudaryanto, Tahlim dan Rusastra, I. Wayan (2000) Kebijaksanaan dan Perspektif


Penelitian dan Pengembangan Pertanian Dalam Mendukung Otonomi
Daerah, Jurnal FAE, Volume 18 No. 1 dan 2, Desember 2000, hal.
52-64.

Sukartawi, 2002. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian, Teori dan Aplikasi. Edisi
Revisi. Penerbit PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Sukimo. Sadono (2006) Makroekonomi: Teori Peugantar, Edisi Ketiga., PT Raja


Grafindo Persada, Jakarta.

Sumardi M dan Hans-Dieter Evers. 2001. Sumber pendapatan kebutuhan pokok


dan prilaku menyimpang, C.V. Rajawali, Jakarta

Susilowati, S. Hery dkk (2002) Diversifikasi Sumber Pendapatan Rumah Tangga


di Pedesaan Jawa Barat, Jurnal FAE, Volume 20 No. 1. Mei 2002, hal. 85 -
109.

Todaro, M.P (2000) Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga, Edisi Keenam.


Penerbit Erlangga, Jakarta.

Winarto, W.P. dan T. Karyasari. 2004. Buah-buahan Tropis dan Pemanfaatan


untuk Obat. Penebar Swadaya. Jakarta.

Yusri, Mohd. (2005) Analisis Fungsi Produksi Usaha Tani Padi Sawah dan
Pengaruhnya Terhadap PI)RB Untuk Pengembangan Wilayah di
Kabupaten Deli Serdang, Tesis (tidak dipublikasi), SPS-USU. Medan.

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Lampiran-1
1. Kuesioner Penelitian

KUESIONER PFNELTIAN

Desa/Kelurahan : No. Responden :

Kecamatan : Tgl. Wawancara :

1. Identitas Responden

Nama : …………………………….……

Jenis Kelamin : ………………………………….

Umur : ………………………………….

Suku : ………………………………….

Jumlah tanggungan keluarga : …… orang

Pendidikan : a. tidak pernah sekolah

b. tamat sekolah dasar

c. tamat SLTP

d. tamat SLTA

e. perguruan tinggi.

Pekerjaan sampingan : ………………………………….

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
2. Daftar Anggota Rumah Tangga Responden

Hubungan Umur Jenis


No Nama Pendidikan Pekerjaan
Keluarga (thn) Kelamin

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
3. Hasil Produksi Biwa Sekali Panen

Hasil produksi sekali panen pada musim hujan : …......……………………(Kg)

Hasil produksi sekali panen pada musim kemarau : …….…………………(Kg)

Rata-rata hasil produksi sekali panen : .....................………………………(Kg)

4. Faktor Produksi yang digunakan

Luas lahan : ……………………………………… (m2)

Jumlah pohon biwa yang sudah berbuah : ………………………..(pohon)

Rata-rata umur Pohon Biwa : ……………………………………..(tahun)

Waktu kerja : ……………………………………….(jam)

Jumlah pekerja : ……………………………………… (orang)

Pupuk : ………………………………………(Kg)

Pestisida : ………………………………………(Liter)

5. Data Pendukung Penelitian

1. Harga tertinggi penjualan biwa per kg?..…………………………(Rp).

2. Harga terendah penjualan biwa per kg?..…………………………(Rp)

3. Harga rata-rata penjualan biwa per kg?..……….…………………(Rp)

4. Jumlah pohon biwa yang belum berbuah : ………………………..(pohon)

5. Jumlah Pohon Biwa seluruhnya : …………………….....….(pohon)

6. Sudah berapa lama bekerja sebagai petani biwa? ……………… (tahun)

7. Berapa upah tenaga kerja per hari? ………………………............ (Rp)

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
8. Jumlah hari kerja dalam sebulan untuk pohon biwa .......................(hari)

6. Kondisi Sosial Ekonomi Rumah Tangga Responden

1. Jenis rumah :

a. Permanen b. Semi permanen c. Sederhana

2. Sumber penerangan yang digunakan keluarga :

a. Listrik PLN b. Genset c.Minyak tanah

3. Alat masak yang digunakan keluarga :

a. Alat Elektrik b. Kompor c. Tungku

4. Sumber energi yang digunakan:

a. listrik/gas b. minyak tanah c. kayu

5. Sumber air minum yang digunakan keluarga :

a. Air kemasan b. PDAM

c. Air sumur/mata air c. Air hujan

6. Jenis jamban yang digunakan keluarga :

a. Toilet keluarga b. WC umum c. sungai/parit

7. Sarana transportasi yang dimiliki :

a. Mobil b. sepeda motor c. becak

d. sepeda e. tidak ada

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Lampiran 2. Data Penelitian
obs TP / Kg JP / Batang TK / orang PPK / Kg Dummy
(Musim)
1 300.0000 46.00000 3.000000 45.00000 1
2 765.0000 110.0000 3.000000 67.00000 1
3 100.0000 20.00000 2.000000 35.00000 1
4 654.0000 131.0000 3.000000 67.00000 1
5 980.0000 196.0000 5.000000 89.00000 1
6 754.0000 151.0000 3.000000 69.00000 1
7 435.0000 87.00000 3.000000 49.00000 1
8 369.0000 73.00000 2.000000 58.00000 1
9 900.0000 180.0000 5.000000 81.00000 1
10 684.0000 136.0000 3.000000 66.00000 1
11 888.0000 176.0000 5.000000 96.00000 1
12 764.0000 146.0000 3.000000 68.00000 1
13 934.0000 184.0000 7.000000 89.00000 1
14 1214.000 241.0000 8.000000 101.0000 1
15 435.0000 87.00000 3.000000 59.00000 1
16 210.0000 42.00000 2.000000 40.00000 1
17 243.0000 35.00000 3.000000 42.00000 1
18 853.0000 160.0000 6.000000 82.00000 1
19 732.0000 145.0000 3.000000 76.00000 1
20 432.0000 87.00000 3.000000 54.00000 1
21 543.0000 110.0000 5.000000 65.00000 1
22 789.0000 156.0000 6.000000 67.00000 1
23 1030.000 206.0000 4.000000 78.00000 1
24 1400.000 280.0000 7.000000 156.0000 1
25 542.0000 106.0000 5.000000 54.00000 1
26 875.0000 175.0000 7.000000 78.00000 1
27 321.0000 67.00000 2.000000 51.00000 1
28 904.0000 179.0000 5.000000 79.00000 1
29 1045.000 209.0000 8.000000 95.00000 1
30 765.0000 153.0000 4.000000 75.00000 1
31 320.0000 64.00000 3.000000 43.00000 1
32 431.0000 78.00000 3.000000 47.00000 1
33 784.0000 157.0000 6.000000 79.00000 1

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Lampiran 3. Data Penelitian dalam bentuk Logaritma Natural
obs LN_JP LN_PPK LN_TK LN_TP
1 3.828641 3.806662 1.098612 5.703782
2 4.700480 4.204693 1.098612 6.639876
3 2.995732 3.555348 0.693147 4.605170
4 4.875197 4.204693 1.098612 6.483107
5 5.278115 4.488636 1.609438 6.887553
6 5.017280 4.234107 1.098612 6.625392
7 4.465908 3.891820 1.098612 6.075346
8 4.290459 4.060443 0.693147 5.910797
9 5.192957 4.394449 1.609438 6.802395
10 4.912655 4.189655 1.098612 6.527958
11 5.170484 4.564348 1.609438 6.788972
12 4.983607 4.219508 1.098612 6.638568
13 5.214936 4.488636 1.945910 6.839476
14 5.484797 4.615121 2.079442 7.101676
15 4.465908 4.077537 1.098612 6.075346
16 3.737670 3.688879 0.693147 5.347108
17 3.555348 3.737670 1.098612 5.493061
18 5.075174 4.406719 1.791759 6.748760
19 4.976734 4.330733 1.098612 6.595781
20 4.465908 3.988984 1.098612 6.068426
21 4.700480 4.174387 1.609438 6.297109
22 5.049856 4.204693 1.791759 6.670766
23 5.327876 4.356709 1.386294 6.937314
24 5.634790 5.049856 1.945910 7.244228
25 4.663439 3.988984 1.609438 6.295266
26 5.164786 4.356709 1.945910 6.774224
27 4.204693 3.931826 0.693147 5.771441
28 5.187386 4.369448 1.609438 6.806829
29 5.342334 4.553877 2.079442 6.951772
30 5.030438 4.317488 1.386294 6.639876
31 4.158883 3.761200 1.098612 5.768321
32 4.356709 3.850148 1.098612 6.066108
33 5.056246 4.369448 1.791759 6.664409

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Lampiran 4. Regresi Utama
Dependent Variable: LN_TP
Method: Least Squares
Date: 10/31/08 Time: 09:54
Sample: 1 33
Included observations: 33
White Heteroskedasticity-Consistent Standard Errors & Covariance
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 1.816561 0.180401 10.06958 0.0083
LN_JP 0.889352 0.096745 9.192786 0.0060
LN_TK 0.101988 0.052404 1.946192 0.1020
LN_PPK 0.168424 0.101767 1.655000 0.0178
DMSM 0.042966 0.030103 1.427304 0.0067
R-squared 0.878776 Mean dependent var 6.389279
Adjusted R-squared 0.875744 S.D. dependent var 0.573307
S.E. of regression 0.089289 Akaike info criterion -1.855144
Sum squared resid 0.223232 Schwarz criterion -1.628401
Log likelihood 35.60988 F-statistic 322.8116
Durbin-Watson stat 1.494886 Prob(F-statistic) 0.000000

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Lampiran 5 Uji Multikolinearitas
Dependent Variable: LN_JP
Method: Least Squares
Date: 11/01/08 Time: 10:01
Sample: 1 33
Included observations: 33
White Heteroskedasticity-Consistent Standard Errors & Covariance
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -2.132874 1.269291 -1.680366 0.1036
LN_TK 0.147871 0.150315 0.983746 0.3334
LN_PPK 1.595752 0.351340 4.541904 0.0001
DMSM -0.036717 0.086349 -0.425212 0.6738
R-squared 0.860663 Mean dependent var 4.744421
Adjusted R-squared 0.846249 S.D. dependent var 0.598726
S.E. of regression 0.234767 Akaike info criterion 0.052766
Sum squared resid 1.598351 Schwarz criterion 0.234161
Log likelihood 3.129356 F-statistic 59.70968
Durbin-Watson stat 2.328047 Prob(F-statistic) 0.000000

Dependent Variable: LN_TK


Method: Least Squares
Date: 11/01/08 Time: 10:02
Sample: 1 33
Included observations: 33
White Heteroskedasticity-Consistent Standard Errors & Covariance
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -2.279738 0.739564 -3.082544 0.0045
LN_PPK 0.684041 0.350531 1.951441 0.0607
LN_JP 0.180718 0.186183 0.970650 0.3397
DMSM -0.181336 0.091683 -1.977859 0.0575
R-squared 0.655241 Mean dependent var 1.359262
Adjusted R-squared 0.619576 S.D. dependent var 0.420787
S.E. of regression 0.259535 Akaike info criterion 0.253363
Sum squared resid 1.953396 Schwarz criterion 0.434758
Log likelihood -0.180495 F-statistic 18.37221
Durbin-Watson stat 2.331666 Prob(F-statistic) 0.000001

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Dependent Variable: LN_PPK
Method: Least Squares
Date: 11/01/08 Time: 10:05
Sample: 1 33
Included observations: 33
White Heteroskedasticity-Consistent Standard Errors & Covariance
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 2.005322 0.221593 9.049566 0.0000
LN_JP 0.414892 0.056842 7.299025 0.0000
LN_TK 0.145524 0.059319 2.453249 0.0204
DMSM 0.048266 0.037315 1.293460 0.2061
R-squared 0.869701 Mean dependent var 4.194952
Adjusted R-squared 0.856222 S.D. dependent var 0.315701
S.E. of regression 0.119708 Akaike info criterion -1.294315
Sum squared resid 0.415568 Schwarz criterion -1.112920
Log likelihood 25.35620 F-statistic 64.52159
Durbin-Watson stat 2.484548 Prob(F-statistic) 0.000000

Dependent Variable: DMSM


Method: Least Squares
Date: 11/01/08 Time: 10:06
Sample: 1 33
Included observations: 33
White Heteroskedasticity-Consistent Standard Errors & Covariance
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -1.294806 1.910101 -0.677873 0.5032
LN_JP -0.162194 0.389982 -0.415902 0.6805
LN_TK -0.655447 0.317908 -2.061751 0.0483
LN_PPK 0.820057 0.813304 1.008303 0.3216
R-squared 0.143377 Mean dependent var 0.484848
Adjusted R-squared 0.054761 S.D. dependent var 0.507519
S.E. of regression 0.493427 Akaike info criterion 1.538330
Sum squared resid 7.060647 Schwarz criterion 1.719725
Log likelihood -21.38245 F-statistic 1.617961
Durbin-Watson stat 0.414787 Prob(F-statistic) 0.206716

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Lampiran 6 Uji Autokorelasi
Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:
F-statistic 0.001864 Probability 0.965882
Obs*R-squared 0.002278 Probability 0.961934

Test Equation:
Dependent Variable: RESID
Method: Least Squares
Date: 11/01/08 Time: 10:48
Presample missing value lagged residuals set to zero.
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -0.002270 0.322764 -0.007032 0.9944
LN_JP -0.001450 0.079377 -0.018269 0.9856
LN_TK 0.000378 0.065642 0.005759 0.9954
LN_PPK 0.002054 0.148856 0.013801 0.9891
DMSM 5.45E-05 0.034242 0.001591 0.9987
RESID(-1) -0.009221 0.213590 -0.043172 0.9659
R-squared 0.000069 Mean dependent var 1.26E-15
Adjusted R-squared -0.185103 S.D. dependent var 0.083522
S.E. of regression 0.090925 Akaike info criterion -1.794607
Sum squared resid 0.223216 Schwarz criterion -1.522515
Log likelihood 35.61102 F-statistic 0.000373
Durbin-Watson stat 1.494886 Prob(F-statistic) 1.000000

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Lampiran-2
Data Penelitian

obs TP / Kg JP / Batang TK / orang PPK / Kg Dummy


(Musim)
1 300.0000 46.00000 3.000000 45.00000 1
2 765.0000 110.0000 3.000000 67.00000 1
3 100.0000 20.00000 2.000000 35.00000 1
4 654.0000 131.0000 3.000000 67.00000 1
5 980.0000 196.0000 5.000000 89.00000 1
6 754.0000 151.0000 3.000000 69.00000 1
7 435.0000 87.00000 3.000000 49.00000 1
8 369.0000 73.00000 2.000000 58.00000 1
9 900.0000 180.0000 5.000000 81.00000 1
10 684.0000 136.0000 3.000000 66.00000 1
11 888.0000 176.0000 5.000000 96.00000 1
12 764.0000 146.0000 3.000000 68.00000 1
13 934.0000 184.0000 7.000000 89.00000 1
14 1214.000 241.0000 8.000000 101.0000 1
15 435.0000 87.00000 3.000000 59.00000 1
16 210.0000 42.00000 2.000000 40.00000 1
17 243.0000 35.00000 3.000000 42.00000 1
18 853.0000 160.0000 6.000000 82.00000 1
19 732.0000 145.0000 3.000000 76.00000 1
20 432.0000 87.00000 3.000000 54.00000 1
21 543.0000 110.0000 5.000000 65.00000 1
22 789.0000 156.0000 6.000000 67.00000 1
23 1030.000 206.0000 4.000000 78.00000 1
24 1400.000 280.0000 7.000000 156.0000 1
25 542.0000 106.0000 5.000000 54.00000 1
26 875.0000 175.0000 7.000000 78.00000 1
27 321.0000 67.00000 2.000000 51.00000 1
28 904.0000 179.0000 5.000000 79.00000 1
29 1045.000 209.0000 8.000000 95.00000 1
30 765.0000 153.0000 4.000000 75.00000 1
31 320.0000 64.00000 3.000000 43.00000 1
32 431.0000 78.00000 3.000000 47.00000 1
33 784.0000 157.0000 6.000000 79.00000 1

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Lampiran-3
Data Penelitian dalam bentuk Logaritma Natural

obs LN_JP LN_PPK LN_TK LN_TP


1 3.828641 3.806662 1.098612 5.703782
2 4.700480 4.204693 1.098612 6.639876
3 2.995732 3.555348 0.693147 4.605170
4 4.875197 4.204693 1.098612 6.483107
5 5.278115 4.488636 1.609438 6.887553
6 5.017280 4.234107 1.098612 6.625392
7 4.465908 3.891820 1.098612 6.075346
8 4.290459 4.060443 0.693147 5.910797
9 5.192957 4.394449 1.609438 6.802395
10 4.912655 4.189655 1.098612 6.527958
11 5.170484 4.564348 1.609438 6.788972
12 4.983607 4.219508 1.098612 6.638568
13 5.214936 4.488636 1.945910 6.839476
14 5.484797 4.615121 2.079442 7.101676
15 4.465908 4.077537 1.098612 6.075346
16 3.737670 3.688879 0.693147 5.347108
17 3.555348 3.737670 1.098612 5.493061
18 5.075174 4.406719 1.791759 6.748760
19 4.976734 4.330733 1.098612 6.595781
20 4.465908 3.988984 1.098612 6.068426
21 4.700480 4.174387 1.609438 6.297109
22 5.049856 4.204693 1.791759 6.670766
23 5.327876 4.356709 1.386294 6.937314
24 5.634790 5.049856 1.945910 7.244228
25 4.663439 3.988984 1.609438 6.295266
26 5.164786 4.356709 1.945910 6.774224
27 4.204693 3.931826 0.693147 5.771441
28 5.187386 4.369448 1.609438 6.806829
29 5.342334 4.553877 2.079442 6.951772
30 5.030438 4.317488 1.386294 6.639876
31 4.158883 3.761200 1.098612 5.768321
32 4.356709 3.850148 1.098612 6.066108
33 5.056246 4.369448 1.791759 6.664409

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Lampiran-4
Regresi Utama

Dependent Variable: LN_TP


Method: Least Squares
Date: 10/31/08 Time: 09:54
Sample: 1 33
Included observations: 33
White Heteroskedasticity-Consistent Standard Errors & Covariance
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 1.816561 0.180401 10.06958 0.0083
LN_JP 0.889352 0.096745 9.192786 0.0060
LN_TK 0.101988 0.052404 1.946192 0.1020
LN_PPK 0.168424 0.101767 1.655000 0.0178
DMSM 0.042966 0.030103 1.427304 0.0067
R-squared 0.878776 Mean dependent var 6.389279
Adjusted R-squared 0.875744 S.D. dependent var 0.573307
S.E. of regression 0.089289 Akaike info criterion -1.855144
Sum squared resid 0.223232 Schwarz criterion -1.628401
Log likelihood 35.60988 F-statistic 322.8116
Durbin-Watson stat 1.494886 Prob(F-statistic) 0.000000

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Lampiran-5
Uji Multikolinearitas

Dependent Variable: LN_JP


Method: Least Squares
Date: 11/01/08 Time: 10:01
Sample: 1 33
Included observations: 33
White Heteroskedasticity-Consistent Standard Errors & Covariance
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -2.132874 1.269291 -1.680366 0.1036
LN_TK 0.147871 0.150315 0.983746 0.3334
LN_PPK 1.595752 0.351340 4.541904 0.0001
DMSM -0.036717 0.086349 -0.425212 0.6738
R-squared 0.860663 Mean dependent var 4.744421
Adjusted R-squared 0.846249 S.D. dependent var 0.598726
S.E. of regression 0.234767 Akaike info criterion 0.052766
Sum squared resid 1.598351 Schwarz criterion 0.234161
Log likelihood 3.129356 F-statistic 59.70968
Durbin-Watson stat 2.328047 Prob(F-statistic) 0.000000

Dependent Variable: LN_TK


Method: Least Squares
Date: 11/01/08 Time: 10:02
Sample: 1 33
Included observations: 33
White Heteroskedasticity-Consistent Standard Errors & Covariance
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -2.279738 0.739564 -3.082544 0.0045
LN_PPK 0.684041 0.350531 1.951441 0.0607
LN_JP 0.180718 0.186183 0.970650 0.3397
DMSM -0.181336 0.091683 -1.977859 0.0575
R-squared 0.655241 Mean dependent var 1.359262
Adjusted R-squared 0.619576 S.D. dependent var 0.420787
S.E. of regression 0.259535 Akaike info criterion 0.253363
Sum squared resid 1.953396 Schwarz criterion 0.434758
Log likelihood -0.180495 F-statistic 18.37221
Durbin-Watson stat 2.331666 Prob(F-statistic) 0.000001

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Lampiran-5 (Lanjutan)

Dependent Variable: LN_PPK


Method: Least Squares
Date: 11/01/08 Time: 10:05
Sample: 1 33
Included observations: 33
White Heteroskedasticity-Consistent Standard Errors & Covariance
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 2.005322 0.221593 9.049566 0.0000
LN_JP 0.414892 0.056842 7.299025 0.0000
LN_TK 0.145524 0.059319 2.453249 0.0204
DMSM 0.048266 0.037315 1.293460 0.2061
R-squared 0.869701 Mean dependent var 4.194952
Adjusted R-squared 0.856222 S.D. dependent var 0.315701
S.E. of regression 0.119708 Akaike info criterion -1.294315
Sum squared resid 0.415568 Schwarz criterion -1.112920
Log likelihood 25.35620 F-statistic 64.52159
Durbin-Watson stat 2.484548 Prob(F-statistic) 0.000000

Dependent Variable: DMSM


Method: Least Squares
Date: 11/01/08 Time: 10:06
Sample: 1 33
Included observations: 33
White Heteroskedasticity-Consistent Standard Errors & Covariance
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -1.294806 1.910101 -0.677873 0.5032
LN_JP -0.162194 0.389982 -0.415902 0.6805
LN_TK -0.655447 0.317908 -2.061751 0.0483
LN_PPK 0.820057 0.813304 1.008303 0.3216
R-squared 0.143377 Mean dependent var 0.484848
Adjusted R-squared 0.054761 S.D. dependent var 0.507519
S.E. of regression 0.493427 Akaike info criterion 1.538330
Sum squared resid 7.060647 Schwarz criterion 1.719725
Log likelihood -21.38245 F-statistic 1.617961
Durbin-Watson stat 0.414787 Prob(F-statistic) 0.206716

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008
Lampiran-6
Uji Autokorelasi

Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:


F-statistic 0.001864 Probability 0.965882
Obs*R-squared 0.002278 Probability 0.961934

Test Equation:
Dependent Variable: RESID
Method: Least Squares
Date: 11/01/08 Time: 10:48
Presample missing value lagged residuals set to zero.
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -0.002270 0.322764 -0.007032 0.9944
LN_JP -0.001450 0.079377 -0.018269 0.9856
LN_TK 0.000378 0.065642 0.005759 0.9954
LN_PPK 0.002054 0.148856 0.013801 0.9891
DMSM 5.45E-05 0.034242 0.001591 0.9987
RESID(-1) -0.009221 0.213590 -0.043172 0.9659
R-squared 0.000069 Mean dependent var 1.26E-15
Adjusted R-squared -0.185103 S.D. dependent var 0.083522
S.E. of regression 0.090925 Akaike info criterion -1.794607
Sum squared resid 0.223216 Schwarz criterion -1.522515
Log likelihood 35.61102 F-statistic 0.000373
Durbin-Watson stat 1.494886 Prob(F-statistic) 1.000000

Seruan Sembiring :Analisis Fungsi Tanaman Biwa Di Kabupaten Karo, 2009


USU Repository © 2008