Anda di halaman 1dari 25

I.

Anatomi dan fisiologi


A. Pengertian
Imunologi adalah suatu ilmu yang mempelajari antigen,
antibodi, dan fungsi pertahanan tubuh penjamu yang diperantarai oleh
sel, terutama berhubungan imunitas terhadap penyakit, reaksi biologis
hipersensitif, alergi dan penolakan jaringan.
Sistem imun adalah sistem pertahanan manusia sebagai
perlindungan terhadap infeksi dari makromolekul asing atau serangan
organisme, termasuk virus, bakteri, protozoa dan parasit. Sistem
kekebalan juga berperan dalam perlawanan terhadap protein tubuh dan
molekul lain seperti yg terjadi pada autoimunitas dan melawan sel yang
teraberasi menjadi tumor.
B. Letak Sistem Imun

C. Fungsi Sistem Imun


1. Sumsum Tulang
Semua sel sistem kekebalan tubuh berasal dari sel-sel induk
dalam sumsum tulang. Sumsum tulang adalah tempat asal sel darah
merah, sel darah putih, (termasuk limfosit dan makrofag) dan
platelet. Sel-sel dari sistem kekebalan tubuh juga terdapat di tempat
lain.
2. Thymus
Glandula thymus memproduksi dan mematurasi atau
mematangkan T limfosit yang kemudian bergerak ke jaringan

1
limfatik yang lain,dimana T limfosit dapat berespon terhadap
benda asing. Thymus mensekresi 2 hormon thymopoetin dan
thymosin yang menstimulasi perkembangan dan aktivitas T
limfosit.
a. Limfosit T sitotoksik
limfosit yang berperan dan imunitas yang diperantarai
sel. Sel T sitotoksik memonitor sel di dalam tubuh dan menjadi
aktif bila menjumpai sel dengan antigen permukaan yang
abnormal. Bila telah aktif sel T sitotoksik menghancurkan sel
abnormal.
b. Limfosit T helper
Limfosit yang dapat meningkatkan respon sistem imun
normal. Ketika distimulasi oleh antigen presenting sel sepeti
makrofag, T helper melepas faktor yang yang menstimulasi
proliferasi sel B limfosit.
c. Limfosit B
Tipe sel darah putih ,atau leukosit penting untuk
imunitas yang diperantarai antibodi/humoral. Ketika di
stimulasi oleh antigen spesifik limfosit B akan berubah
menjadi sel memori dan sel plasma yang memproduksi
antibodi.
d. Sel plasma
Klon limfosit dari sel B yang terstimulasi. Plasma sel
berbeda dari limfosit lain ,memiliki retikulum endoplamik kasar
dalam jumlah yang banyak ,aktif memproduksi antibodi
3. Getah Bening
Kelenjar getah bening berbentuk kacang kecil terbaring di
sepanjang perjalanan limfatik. Terkumpul dalam situs tertentu
seperti leher, axillae, selangkangan, dan para- aorta daerah.

2
4. Nodus limfatikus
Nodus limfatikus (limfonodi) terletak sepanjang sistem
limfatik. Nodus limfatikus mengandung limfosit dalam jumlah
banyak dan makrofag yang berperan melawan mikroorganisme
yang masuk ke dalam tubuh. Limfe bergerak melalui sinus,sel
fagosit menghilangkan benda asing. Pusat germinal merupakan
produksi limfosit.
5. Tonsil
Tonsil adalah sekumpulan besar limfonodi terletak pada
rongga mulut dan nasofaring. Tiga kelompok tonsil adalah tonsil
palatine, tonsil lingual dan tonsil pharyngeal.
6. Limpa
Limpa mendeteksi dan merespon terhadap benda asing
dalam darah ,merusak eritrosit tua dan sebagai penyimpan darah.
Parenkim limpa terdiri dari 2 tipe jaringan: pulpa merah dan pulpa
putih
a. Pulpa merah terdiri dari sinus dan di dalamnya terisi eritrosit
b. Pulpa putih terdiri limfosit dan makrofag
Benda asing di dalam darah yang melalui pulpa putih dapat
menstimulasi limfosit .

D. Mekanisme Pertahanan
1. Mekanisme Pertahanan Non Spesifik
Dilihat dari caranya diperoleh, mekanisme pertahanan non
spesifik disebut juga respons imun alamiah. Terdiri dari kulit dan
kelenjarnya, lapisan mukosa dan enzimnya, serta kelenjar lain
beserta enzimnya, contoh kelenjar air mata. Kulit dan silia
merupakan system pertahan tubuh terluar, demikian pula sel fagosit
(sel makrofag, monosit, polimorfonuklear) dan komplemen
merupakan komponen mekanisme pertahahan.

3
2. Mekanisme Pertahanan Spesifik
Bila pertahanan non spesifik belum dapat mengatasi invasi
mikroorganisme, maka imunitas spesifik akan terangsang.
Mekanisme pertahanan spesifik adalah mekanisme pertahanan yg
diperankan oleh limfosit, dengan atau tanpa bantuan komponen
sistem imun lainnya seperti sel makrofag dan komplemen. Dilihat
dari cara diperolehnya, mekanisme pertahanan spesifik disebut juga
sebagai respons imun didapat.
3. Imunitas humoral adalah imunitas yg diperankan oleh limfosit B
dengan atau tanpa bantuan dari imunokompeten lainnya. Tugas sel B
akan dilaksanakan oleh imunoglobulin yg disekresi oleh plasma.
Terdapat 5 kelas imunoglobulin yg kita kenal, yaitu IgG, IgM, IgA,
IgD, dan IgE.
Pembagian Antibody (Imunoglobulin)
a. Antibodi (antibody, gamma globulin)adalah glikoprotein dengan
struktur tertentu yang disekresi dari pencerap limfosit-B yang
telah teraktivasi menjadi sel plasma, sebagai respon dari antigen
tertentu dan reaktif terhadap antigen tersebut. Pembagian
Immunglobulin.
b. Antibodi A (Immunoglobulin A, IgA) adalah antibodi yang
memainkan peran penting dalam imunitas mukosis.
c. Antibodi D (Immunoglobulin D, IgD) adalah sebuah monomer
dengan fragmen yang dapat mengikat 2 epitop.
d. Antibodi E (antibody E, immunoglobulin E, IgE) adalah jenis
antibodi yang hanya dapat ditemukan pada mamalia.
e. Antibodi G (Immunoglobulin G, IgG) adalah antibodi
monomeris yang terbentuk dari dua rantai berat dan rantai
ringan, yang saling mengikat dengan ikatan disulfida, dan
mempunyai dua fragmen antigen-binding.
f. Antibodi M (Immunoglobulin M, IgM, macroglobulin)adalah
antibodi dasar yang berada pada plasma B.

4
g. Imunitas seluler didefinisikan sbg suatu respon imun terhadap
suatu antigen yg diperankan oleh limfosit T dg atau tanpa
bantuan komponen sistem imun lainnya.

II. Konsep Dasar Penyakit


A. Definisi
HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus.
Disebut human (manusia) karena virus ini hanya dapat menginfeksi
manusia, immuno-deficiency karena efek virus ini adalah menurunkan
kemampuan sistem kekebalan tubuh, dan termasuk golongan virus
karena salah satu karakteristiknya adalah tidak mampu mereproduksi
diri sendiri, melainkan memandatkan sel-sel tubuh. Virus HIV
menyerang sel darah putih manusia dan menyebabkan turunnya
kekebalan tubuh sehingga mudah terserang penyakit. Virus ini
merupakan penyebab penyakit AIDS.
AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immuno Deficiency
Syndrom. Acquired berarti didapat, Immuno berarti sistem kekebalan
tubuh, Deficiency berarti kekurangan, Syndrom berarti kumpulan gejala.
AIDS disebabkan virus HIV yang merusak sistem kekebalan tubuh. Itu
sebabnya, tubuh menjadi mudah terserang penyakit-penyakit lain yang
dapat berakibat fatal. Misalnya, infeksi aibat virus, cacing, jamur,
protozoa dan basi (Wandoyo, 2007).
Penyakit Acquired Immuno Deficiency Syndrom (AIDS) yang
disebabkan oleh infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah
suatu penyakit yang menyerang sistem kekebalan baik humoral maupun
seluler. Virus HIV adalah virus yang termasuk dalam kelompok
retrovirus dan termasuk virus RNA (Darmono, 2009).

B. Etiologi
Penyebab penyakit HIV/AIDS adalah Human
Immunodeficiency Virus, yaitu virus yangmenyebabkan penurunan
daya kekebalan tubuh.HIV termasuk genus retrovirus dan tergolong ke

5
dalam family lentivirus. Infeksi dari family lentivirus ini khas ditandai
dengan sifat latennya yang lama, masa inkubasi yang lama, replikasi
virus yang persisten dan keterlibatan dari susunan saraf pusat (SSP).
Sedangkan ciri khas untuk jenis retrovirus yaitu : dikelilingi oleh
membran lipid, mempunyai kemampuan variasi genetik yang tinggi,
mempunyai cara yang unik untuk replikasi serta dapat menginfeksi
seluruh jenis vertebra (Nursalam, 2007).

C. Manifestasi Klinis
Kebanyakan orang yang terinfeksi HIV tidak menunjukkan
gejala pada awal masa infeksi HIV, tetapi beberapa orang menunjukkan
gejala mirip penyakit flu dalam waktu satu atau dua bulan setelah
infeksi. Gejalanya adalah demam, sakit kepala, kelelahan,
pembengkakan limfe.
Gejala yang lebih parah dapar timbul dalam kurun waktu 10
tahun atau lebih setelah HIV pertama kali masuk kedalam tubuh orang
dewasa atau dalam waktu dua tahun pada anak yang dilahirkan tertular
HIV dari ibunya. Pada kondisi asimtomatik tersebut, virus sangat aktif
berkembang biak (multiplikasi), dapat menular dan membunuh sel pada
sistem imun. Yang paling terlihat pada kondisi ini adalah terjadinya
penurunan jumlah sel CD4+ sel-T yang terdapat dalam darah (kurang
dari 200 sel, normalnya lebih dari 1000 sel) (Desnawati, 2013).
Pada kebanyakan orang, gejala yang terlihat pertama adalah
pembesaran kelenjar limfe yang terjadi selama lebih dari 3 bulan.
Gejala ini yang terlihat dalam waktu beberapa bulan sampai beberapa
tahun adalah:
1. Terasa kelemahan yang sangat
2. Bobot badan menurun drastis
3. Demam dan berkeringat terus menerus
4. Terjadi infeksi persisten karena jamur (oral atau vagina)
5. Kulit kering dan terkelupas
6. Hilang ingatan sesaat.

6
Adapun gejala mayor dan minor pada penderita AIDS, yaitu:
a. Gejala mayor
1) Penurunan berat badan
2) Demam memanjang atau lebih dari satu bulan
3) Diare kronis
4) Tuberkulosis
b. Gejala minor
1) Kandidiasis orofaringeal
2) Batuk menetap
3) Kelemahan tubuh
4) Berkeringat malam
5) Hilang nafsu makan
6) Infeksi kulit.

D. Cara Penularan
Menurut Nursalam (2007) secara umum penyebab penyakit
AIDS dibagi dalam 4 kategori umum, yaitu :
1. Penggunaan Jarum Suntik yang Tidak Steril
Penggunaan jarum suntik yang tidak steril mampu
mendorong seseorang terkena penyakit AIDS, seperti halnya para
pengguna Narkoba yang terkadang saling bertukar jarum suntik
sangat rentan tertular penyakit ini, karena penularan HIV AIDS
sangat besar presentasenya terjadi karena cairan pada tubuh
penderita yang terkena HIV AIDS berpindah ke tubuh normal
(sehat).
2. Penyakit Menurun
Seseorang ibu yang terkena AIDS akan dapat menurunkan
penyakitnya pada janin yang dikandungnya, transmisi atau
penularan HIV melalui rahim pada masa parinatal terjadi pada saat
minggu terakhir pada kehamilan dan pada saat kehamilan, tingkat
penularan virus ini pada saat kehamilan dan persalinan yaitu
sebesar 25%. Penyakit ini tergolong penyakit yang dapat

7
dirutunkan oleh sang ibu terhadap anaknya, menyusui juga dapat
meningkatkan resiku penulaan HIV AIDS sebesar 4%.
3. Tranfusi Darah yang Tidak Steril
Cairan didalam tubuh penderita AIDS sangat rentan menular
sehingga dibutuhkan pemeriksaan yang teliti dalam hal transfusi
darah pemilihan dan penyeleksian donor merupakan tahap awal
untuk mencegah penularan penyakit AIDS, Resiko penularan HIV
AIDS di sangat kecil presentasenya di negara-negara maju, hal ini
disebabkan karena dinegara maju keamanan dalam tranfusi darah
lebih terjamin karena proses seleksi yang lebih ketat.

E. Patofisiologi
Penyakit AIDS disebabkan oleh Virus HIV. Masa inkubasi
AIDS diperkirakan antara 10 minggu sampai 10 tahun. Diperkirakan
sekitar 50% orang yang terinfeksi HIV akan menunjukan gejala AIDS
dalam 5 tahun pertama, dan mencapai 70% dalam sepuluh tahun akan
mendapat AIDS. Berbeda dengan virus lain yang menyerang sel target
dalam waktu singkat, virus HIV menyerang sel target dalam jangka
waktu lama. Supaya terjadi infeksi, virus harus masuk ke dalam sel,
dalam hal ini sel darah putih yang disebut limfosit. Materi genetik virus
dimasukkan ke dalam DNA sel yang terinfeksi. Di dalam sel, virus
berkembang biak dan pada akhirnya menghancurkan sel serta
melepaskan partikel virus yang baru. Partikel virus yang baru kemudian
menginfeksi limfosit lainnya dan menghancurkannya.
Virus menempel pada limfosit yang memiliki suatu reseptor
protein yang disebut CD4, yang terdapat di selaput bagian luar. CD4
adalah sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel
darah putih manusia, terutama sel-sel limfosit. Sel-sel yang memiliki
reseptor CD4 biasanya disebut sel CD4+ atau limfosit T penolong.
Limfosit T penolong berfungsi mengaktifkan dan mengatur sel-sel
lainnya pada sistem kekebalan (misalnya limfosit B, makrofag dan
limfosit T sitotoksik), yang kesemuanya membantu menghancurkan sel-

8
sel ganas dan organisme asing. Infeksi HIV menyebabkan hancurnya
limfosit T penolong, sehingga terjadi kelemahan sistem tubuh dalam
melindungi dirinya terhadap infeksi dan kanker.
Seseorang yang terinfeksi oleh HIV akan kehilangan limfosit T
penolong melalui 3 tahap selama beberapa bulan atau tahun. Seseorang
yang sehat memiliki limfosit CD4 sebanyak 800-1300 sel/mL darah.
Pada beberapa bulan pertama setelah terinfeksi HIV, jumlahnya
menurun sebanyak 40-50%. Selama bulan-bulan ini penderita bisa
menularkan HIV kepada orang lain karena banyak partikel virus yang
terdapat di dalam darah. Meskipun tubuh berusaha melawan virus,
tetapi tubuh tidak mampu meredakan infeksi. Setelah sekitar 6 bulan,
jumlah partikel virus di dalam darah mencapai kadar yang stabil, yang
berlainan pada setiap penderita. Perusakan sel CD4+ dan penularan
penyakit kepada orang lain terus berlanjut. Kadar partikel virus yang
tinggi dan kadar limfosit CD4+ yang rendah membantu dokter dalam
menentukan orang-orang yang beresiko tinggi menderita AIDS. 1-2
tahun sebelum terjadinya AIDS, jumlah limfosit CD4+ biasanya
menurun drastis. Jika kadarnya mencapai 200 sel/mL darah, maka
penderita menjadi rentan terhadap infeksi.
Infeksi HIV juga menyebabkan gangguan pada fungsi limfosit B
(limfosit yang menghasilkan antibodi) dan seringkali menyebabkan
produksi antibodi yang berlebihan. Antibodi ini terutama ditujukan
untuk melawan HIV dan infeksi yang dialami penderita, tetapi antibodi
ini tidak banyak membantu dalam melawan berbagai infeksi
oportunistik pada AIDS. Pada saat yang bersamaan, penghancuran
limfosit CD4+ oleh virus menyebabkan berkurangnya kemampuan
sistem kekebalan tubuh dalam mengenali organisme dan sasaran baru
yang harus diserang.
Setelah virus HIV masuk ke dalam tubuh dibutuhkan waktu
selama 3-6 bulan sebelum titer antibodi terhadap HIVpositif. Fase ini
disebut “periode jendela” (window period). Setelah itu penyakit seakan
berhenti berkembang selama lebih kurang 1-20 bulan, namun apabila

9
diperiksa titer antibodinya terhadap HIV tetap positif (fase ini disebut
fase laten) Beberapa tahun kemudian baru timbul gambaran klinik
AIDS yang lengkap (merupakan sindrom/kumpulan gejala). Perjalanan
penyakit infeksi HIV sampai menjadi AIDS membutuhkan waktu
sedikitnya 26 bulan, bahkan ada yang lebih dari 10 tahun setelah
diketahui HIV positif. (Heri : 2012).

10
Skema HIV/ AIDS
Transfusi darah yang Tertusuk jarum Ibu hamil
terinfeksi HIV bekas penderita menderita
HIV HIV

Virus masuk dalam tubuh lewat luka


berdarah

Virus Masuk Dalam Peredaran Darah Dan Invasi Sel Target


Hospes
T helper / CD4+ Sel B
Makrofag

Terjadi perubahan pada struktural sel diatas akibat transkripsi RNA virus + DNA sel sehingga
terbentuknya provirus

Sel penjamu (T helper, limfosit B, makrofag) mengalami


kelumpuhan

Menurunnya sistem kekebalan


tubuh
Infeksi Oportunistik

Sistem GIT Integumen Sistem Reproduksi Sistem respirasi Sistem neurologi

11
Virus HIV + Candidiasis Mucobakterium TB Kriptococus
kuman salmonela, Herpes zoster +
Herper simpleks
clostridium,
Ulkus
candida PCP (Pneumonia
Genital Meningitis
Pneumocystis)
Dermatitis Kriptococus
Menginvasi Serebroika
mukosa saluran
cerna Demam, Batuk Non
Produktif, Nafas Perubahan Status Mental,
Ruam, Difus, Bersisik,
Folikulitas, kulit kering, Pendek Kejang, Kaku Kuduk,
Peningkatan peristaltik mengelupas eksema Kelemahan, Mual, kehilangan
nafsu makan, Vomitus,
MK :
Terapi - Hipertermi Demam, Panas, Pusing
Psoriasis trimetoprim
Diare - Bersihan Jalan
sulfame Nafas
- Pola Nafas Tidak
MK : Resiko
kerusakan
Efektif MK :
Mk : Integritas - Resiko tinggi cedera
- Perubahan Ruam, Pruritus,
Eliminasi (Bab) Kulit - Ggn. Nutrisi < Keb.
Papula, Makula Merah Tubuh
- Gangg Nutrisi <
Muda
Keb. Tubuh - Risiko tinggi
- Resiko kekurangan volume
Kekurangan
Volume Cairan
cairan
MK : Nyeri - Intoleransi Aktivitas

12
F. Komplikasi
1. Oral Lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV
oral, gingivitis, peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV),
leukoplakia oral, nutrisi, dehidrasi, penurunan berat badan,
keletihan dan cacat. Kandidiasis oral ditandai oleh bercak-bercak
putih seperti krim dalam rongga mulut. Jika tidak diobati,
kandidiasis oral akan berlanjut mengeni esophagus dan lambung.
Tanda dan gejala yang menyertai mencakup keluhan menelan yang
sulit dan rasa sakit di balik sternum (nyeri retrosternal).
2. Neurologik
3. Ensefalopati HIV atau disebut pula sebagai kompleks dimensia
AIDS (ADC; AIDS dementia complex). Manifestasi dini mencakup
gangguan daya ingat, sakit kepala, kesulitan berkonsentrasi,
konfusi progresif, perlambatan psikomotorik, apatis dan ataksia.
stadium lanjut mencakup gangguan kognitif global, kelambatan
dalam respon verbal, gangguan efektif seperti pandangan yang
kosong, hiperefleksi paraparesis spastic, psikosis, halusinasi,
tremor, inkontinensia, dan kematian.
4. Meningitis kriptokokus ditandai oleh gejala seperti demam, sakit
kepala, malaise, kaku kuduk, mual, muntah, perubahan status
mental dan kejang-kejang. diagnosis ditegakkan dengan analisis
cairan serebospinal.
5. Gastrointestinal
6. Wasting syndrome kini diikutsertakan dalam definisi kasus yang
diperbarui untuk penyakit AIDS. Kriteria diagnostiknya mencakup
penurunan BB > 10% dari BB awal, diare yang kronis selama lebih
dari 30 hari atau kelemahan yang kronis, dan demam yang
kambuhan atau menetap tanpa adanya penyakit lain yang dapat
menjelaskan gejala ini.

13
7. Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal,
limpoma, dan sarcoma Kaposi. Dengan efek, penurunan berat
badan, anoreksia, demam, malabsorbsi, dan dehidrasi.
8. Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat
illegal, alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen,
ikterik,demam atritis.
9. Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi
perianal yang sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit
dan sakit, nyeri rektal, gatal-gatal dan diare.
10. Respirasi
11. Pneumocystic Carinii. Gejala napas yang pendek, sesak nafas
(dispnea), batuk-batuk, nyeri dada, hipoksia, keletihan dan demam
akan menyertai pelbagi infeksi oportunis, seperti yang disebabkan
oleh Mycobacterium Intracellulare (MAI), cytomegalovirus, virus
influenza, pneumococcus, dan strongyloides.
12. Dermatologik
13. Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster,
dermatitis karena xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan
dekobitus dengan efek nyeri, gatal, rasa terbakar, infeksi sekunder
dan sepsis. Infeksi oportunis seperti herpes zoster dan herpes
simpleks akan disertai dengan pembentukan vesikel yang nyeri dan
merusak integritas kulit. moluskum kontangiosum merupakan
infeksi virus yang ditandai oleh pembentukan plak yang disertai
deformitas. dermatitis sosoreika akan disertai ruam yang difus,
bersisik dengan indurasi yang mengenai kulit kepala serta
wajah.penderita AIDS juga dapat memperlihatkan folikulitis
menyeluruh yang disertai dengan kulit yang kering dan mengelupas
atau dengan dermatitis atopik seperti ekzema dan psoriasis.
14. Sensorik
a) Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva atau kelopak
mata : retinitis sitomegalovirus berefek kebutaan.

14
b) Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan
pendengaran dengan efek nyeri yang berhubungan dengan
mielopati, meningitis, sitomegalovirus dan reaksi-reaksi obat
(Chahyani, 2013)

G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan diagnostic untuk penderita AIDS adalah:
Untuk memastikan apakah pasien terinfeksi HIV, maka harus
dilakukan tes HIV. Skrining dilakukan dengan mengambil sampel darah
atau urine pasien untuk diteliti di laboratorium. Jenis skrining untuk
mendeteksi HIV adalah:
a. Tes antibodi. Tes ini bertujuan mendeteksi antibodi yang dihasilkan
tubuh untuk melawan infeksi HIV. Meski akurat, perlu waktu 3-12
minggu agar jumlah antibodi dalam tubuh cukup tinggi untuk
terdeteksi saat pemeriksaan.
b. Tes antigen. Tes antigen bertujuan mendeteksi p24, suatu protein
yang menjadi bagian dari virus HIV. Tes antigen dapat dilakukan 2-6
minggu setelah pasien terinfeksi.
Bila skrining menunjukkan pasien terinfeksi HIV (HIV
positif), maka pasien perlu menjalani tes selanjutnya. Selain untuk
memastikan hasil skrining, tes berikut dapat membantu dokter
mengetahui tahap infeksi yang diderita, serta menentukan metode
pengobatan yang tepat. Sama seperti skrining, tes ini dilakukan
dengan mengambil sampel darah pasien, untuk diteliti di
laboratorium. Beberapa tes tersebut antara lain:
1) Hitung sel CD4. CD4 adalah bagian dari sel darah putih yang
dihancurkan oleh HIV. Oleh karena itu, semakin sedikit jumlah
CD4, semakin besar pula kemungkinan seseorang terserang
AIDS. Pada kondisi normal, jumlah CD4 berada dalam rentang
500-1400 sel per milimeter kubik darah. Infeksi HIV
berkembang menjadi AIDS bila hasil hitung sel CD4 di bawah
200 sel per milimeter kubik darah.

15
2) Pemeriksaan viral load (HIV RNA). Pemeriksaan viral
load bertujuan untuk menghitung RNA, bagian dari virus HIV
yang berfungsi menggandakan diri. Jumlah RNA yang lebih dari
100.000 kopi per mililiter darah, menandakan infeksi HIV baru
saja terjadi atau tidak tertangani. Sedangkan jumlah RNA di
bawah 10.000 kopi per mililiter darah, mengindikasikan
perkembangan virus yang tidak terlalu cepat. Akan tetapi,
kondisi tersebut tetap saja menyebabkan kerusakan perlahan
pada sistem kekebalan tubuh.
3) Tes resistensi (kekebalan) terhadap obat. Beberapa subtipe HIV
diketahui kebal pada obat anti HIV. Melalui tes ini, dokter dapat
menentukan jenis obat anti HIV yang tepat bagi pasien.
4) Lakukan anamnesi gejala infeksi oportunistik dan kanker yang
terkait dengan AIDS.
5) Telusuri perilaku berisiko yang memmungkinkan penularan.
6) Pemeriksaan fisik untuk mencari tanda infeksi oportunistik dan
kanker terkait. Jangan lupa perubahan kelenjar, pemeriksaan
mulut, kulit, dan funduskopi.
7) Dalam pemeriksaan penunjang dicari jumlah limfosot total,
antibodi HIV, dan pemeriksaan Rontgen.
8) Bila hasil pemeriksaan antibodi positif maka dilakukan
pemeriksaan jumlah CD4, protein purufied derivative (PPD),
serologi toksoplasma, serologi sitomegalovirus, serologi PMS,
hepatitis, dan pap smear. Sedangkan pada pemeriksaan follow
up diperiksa jumlah CD4. Bila >500 maka pemeriksaan diulang
tiap 6 bulan. Sedangkan bila jumlahnya 200-500 maka diulang
tiap 3-6 bulan, dan bila <200 diberikan profilaksi pneumonia
pneumocystis carinii. Pemberian profilaksi INH tidak tergantung
pada jumlah CD4. Perlu juga dilakukan pemeriksaan viral load
untuk mengetahui awal pemberian obat antiretroviral dan
memantau hasil pengobatan. Bila tidak tersedia peralatan untuk
pemeriksaan CD4 (mikroskop fluoresensi atau flowcytometer)

16
untuk kasus AIDS dapat digunakan rumus CD4 = (1/3 x jumlah
limfosit total)-8 (Desnawati, 2013).

H. Collaborativ care management


1. Treatment
Apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV),
maka terapinya yaitu:
a) Pengendalian Infeksi Opurtunistik
Bertujuan menghilangkan, mengendalikan, dan
pemulihan infeksi opurtunistik, nasokomial, atau sepsis.
Tidakan pengendalian infeksi yang aman untuk mencegah
kontaminasi bakteri dan komplikasi penyebab sepsis harus
dipertahankan bagi pasien dilingkungan perawatan kritis.
b) Terapi AZT (Azidotimidin)
Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral
AZT yang efektif terhadap AIDS, obat ini menghambat
replikasi antiviral Human Immunodeficiency Virus (HIV)
dengan menghambat enzim pembalik traskriptase. AZT
tersedia untuk pasien AIDS yang jumlah sel T4 nya <>3.
Sekarang, AZT tersedia untuk pasien dengan Human
Immunodeficiency Virus (HIV) positif asimptomatik dan sel
T4 > 500 mm3.
c) Terapi Antiviral Baru
Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas
system imun dengan menghambat replikasi virus / memutuskan
rantai reproduksi virus pada prosesnya. Obat-obat ini adalah :
1) Didanosine
2) Ribavirin
3) Diedoxycytidine
4) Recombinant CD 4 dapat larut

17
d) Vaksin dan Rekonstruksi Virus
Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen
tersebut seperti interferon, maka perawat unit khusus perawatan
kritis dapat menggunakan keahlian dibidang proses
keperawatan dan penelitian untuk menunjang pemahaman dan
keberhasilan terapi AIDS (Desnawati, 2013).
Regimen obat yang diusulkan di Indonesia ialah :
Salah satu dari Kolom A dan salah satu kombinasi dari
Kolom B
Kolom A Kolom B
Nevirapine (NVP) AZT + ddl
Nelfinavir (NVF) ddl+3TC
d4T + ddl
AZT + 3TC
d4T + 3TC

2. Diet
Syarat-syarat Diet HIV/AIDS adalah:
a) Energi tinggi. Pada perhitungan kebutuhan energi, diperhatikan
faktor stres, aktivitas fisik, dan kenaikan suhu tubuh.
Tambahkan energi sebanyak 13% untuk setiap kenaikan Suhu
1°C.
b) Protein tinggi, yaitu 1,1 – 1,5 g/kg BB untuk memelihara dan
mengganti jaringan sel tubuh yang rusak. Pemberian protein
disesuaikan bila ada kelainan ginjal dan hati.
c) Lemak cukup, yaitu 10 – 25 % dari kebutuhan energy total.
Jenis lemak disesuaikan dengan toleransi pasien. Apabila ada
malabsorpsi lemak, digunakan lemak dengan ikatan rantai
sedang (Medium Chain Triglyceride/MCT). Minyak ikan (asam
lemak omega 3) diberikan bersama minyak MCT dapat
memperbaiki fungsi kekebalan.

18
d) Vitamin dan Mineral tinggi, yaitu 1 ½ kali (150%) Angka
Kecukupan Gizi yang di anjurkan (AKG), terutama vitamin A,
B12, C, E, Folat, Kalsium, Magnesium, Seng dan Selenium.
Bila perlu dapat ditambahkan vitamin berupa suplemen, tapi
megadosis harus dihindari karena dapat menekan kekebalan
tubuh.
e) Serat cukup; gunakan serat yang mudah cerna.
f) Cairan cukup, sesuai dengan keadaan pasien. Pada pasien
dengan gangguan fungsi menelan, pemberian cairan harus hati-
hati dan diberikan bertahap dengan konsistensi yang sesuai.
Konsistensi cairan dapat berupa cairan kental (thick fluid), semi
kental (semi thick fluid) dan cair (thin fluid).
g) Elektrolit. Kehilangan elektrolit melalui muntah dan diare perlu
diganti (natrium, kalium dan klorida).
h) Bentuk makanan dimodifikasi sesuai dengan keadaan pasien.
Hal ini sebaiknya dilakukan dengan cara pendekatan
perorangan, dengan melihat kondisi dan toleransi pasien.
Apabila terjadi penurunan berat badan yang cepat, maka
dianjurkan pemberian makanan melalui pipa atau sonde sebagai
makanan utama atau makanan selingan.
i) Makanan diberikan dalam porsi kecil dan sering.
j) Hindari makanan yang merangsang pencernaan baik secara
mekanik, termik, maupun kimia (Chahyani, 2013).

III. Konsep Asuhan Keperawatan

A. Pengkajian
Pengkajian keperawatan untuk penderita AIDS adalah:
1. Aktivitas / istirahat.
Mudah lelah, berkurangnya toleransi terhadap aktivitas biasanya,
malaise
2. Sirkulasi.
Takikardia , perubahan TD postural, pucat dan sianosis.

19
3. Integritas ego.
Alopesia , lesi cacat, menurunnya berat badan, putus asa, depresi,
marah, menangis.
4. Elimiinasi.
Feses encer, diare pekat yang sering, nyeri tekanan abdominal, abses
rektal.
5. Makanan / cairan.
Disfagia, bising usus, turgor kulit buruk, lesi pada rongga mulut,
kesehatan gigi / gusi yang buruk, dan edema.
6. Neurosensori.
Pusing, kesemutan pada ekstremitas, konsentrasi buruk, apatis, dan
respon melambat.
7. Nyeri / kenyamanan.
Sakit kepala, nyeri pada pleuritis, pembengkakan pada sendi,
penurunan rentang gerak, dan gerak otot melindungi pada bagian
yang sakit.
8. Pernafasan.
Batuk, Produktif / non produktif, takipnea, distres pernafasan
(Chahyani, 2013).

B. Diagnosa keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan
produksi secret yang kental, kelemahan fisik, dan upaya batuk
yang buruk.
2. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
cairan aktif
3. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan penyakit kronis

20
C. Intervensi Dan Rasional
Diagnosa 1:
Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan
produksi secret yang kental, kelemahan fisik, dan upaya batuk
yang buruk.
Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan jalan nafas
pasien kembali efektif dngan
Kriteria Hasil:
1. Pasien mengungkapkan batuk berkurang atau sembuh.
2. Pasien tampak sudah tidak pucat lagi.
3. Tanda-tanda vital normal.
Intervensi:
Mandiri :
1. Ajarkan batuk efektif kepada pasien
Rasional: untuk mempermudah pasien mengerluarkan sputum yang
terdapat di saluran pernafasan.
2. Kaji tanda-tanda vital pasien
Rasional: sabagai data dasar untuk mengetahui keadaan normal
pasien.
Kolaborasi :
1. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi nebulizer
Rasional: pemberian nebulizer dapat mengencerkan sputum atau
secret sehingga dapat dengan mudah dikeluarkan
2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian nutrisi
Rasional: untuk meningkatkan energy , asupan protein, dan kalori
pasien.
3. Lakukan fisioterapi dada.
Rasional : Melepaskan sekresi, mengeluarkan mukus yang
menyumbat untuk meningkatkan bersihan jalan napas.
4. Berikan tambahan O2.
Rasional: Mempertahankan ventilasi/ oksigenasi efektif untuk
mencegah/ memperbaiki krisis pernapasan.

21
5. Berikan obat-obatan sesuai indikasi: Bronkodilator, ekspektoran,
depresan batuk.
Rasional: Mungkin diperlukan untuk meningkatkan/
mempertahankan jalan napas atau untuk membantu membersihkan
sekresi.

Diagnosa 2 :
Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan
kehilangan cairan aktif
Tujuan : Mempertahankan hidrasi.
Kriteria hasil :
1. Demam dapat teratasi
2. Diare dapat teratasi
3. Tanda-tanda vital stabil
Intervensi :
Mandiri :
1. Pantau tanda-tanda vital.
Rasional : sebagai indikator dari volume cairan sirkulasi.
2. Catat peningkatan suhu dan durasi demam.
Rasional : Meningkatkan kebutuhan metabolisme dan diaforesis
yang berlebihan.
3. Kaji tugor kulit, membran mukosa, dan rasa haus.
Rasional : Indikator tidak langsung dari status cairan.
4. Pantau pemasukan oral dan memasukan cairan sedikitnya 2500 ml/
hari.
Rasional : Mempertahankan keseimbangan cairan, mengurangi rasa
haus, dan melembabkan membran mukosa.
5. Anjurkan pasien menghindari makanan yang potensial
menyebabkan diare, yakni yang pedas/ makanan berkadar lemak
tinggi, kacang, kubis, susu.
Rasional : mengurangi makanan pemicu dapat mengurangi diare.

22
Kolaborasi :
1. Berikan cairan/ elektrolit melalui selang pemberi makanan/ IV.
Rasional : Diperlukan untuk mendukung atau memperbesar
volume sirkulasi, terutama jika pemasukan oral tak adekuat, mual/
muntah terus menerus.
2. Pantau hasil pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi mis: Hb/ Ht,
Elektolit serum/urine, BUN/ Kreatinin.
Rasional : Bermanfaat dalam memperkirakan kebutuhan cairan.
3. Berikan obat-obatan sesuai indikasi: Antiemetik, Antidiare,
Antiseptik
Rasional : Mengurangi insiden muntah, menurunkan jumlah dan
keenceran fases, membantu mengurangi demam dan respons
hipermetabolisme, menurunkan kehilangan cairan tak kasatmata.

Diagnosa 3:
Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan penyakit kronis
Tujuan: kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria Hasil:
1. Tanda-tanda vital dalam batas normal
2. Berat badan menetap atau bertambah
3. Nafsu makan bertambah
Intervensi:
Mandiri:
1. Kaji tanda-tanda vital pasien secara berkala
Rasional: tanda-tanda vital yang tidak stabil dapat mempengaruhi
metabolisme pasien
2. Berikan pendidikan kesehatan terhadap pasien tentang asupan gizi
Rasional: pemenuhan gizi yang cukup pada pasien dapat memenuhi
kebutuhan nutrisi pasien
3. Monitor berat badan, intake dan output cairan
Rasional: untuk menentukan data dasar

23
4. Rencanakan diet dengan pasien dan orang penting lainnya
Rasional: makanan sesuai dengan keinginan pasien

Kolaborasi:
1. Kolaborasi dengan tenaga gizi tentang pemberian gizi pasien
Rasional: pemberian gizi yang tepat dapat segera memperbaiki
keadaan nutrisi pasien sehingga berat badan bertambah
2. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian cairan elektrolit
Rasional: elektrolit yang cukup dapat mengurangi dehidrasi

D. Evaluasi
1. Pasien mengungkapkan batuk berkurang
2. Pasien tampak sudah tidak pucat lagi
3. Demam berkurang
4. Diare berkurang
5. Tanda-tanda vital dalam batas normal
6. Berat badan menetap atau bertambah
7. Nafsu makan bertambah

24
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah. Edisi 8.


Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Chahyani, Isti (2013) Asuhan Keperawatan Pasien Dengan HIV AIDS RSPAD
Gatot Soebroto. Diakses 18 Februari 2016 pukul 18.36 WITA.

Doengos. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta : EGC.

Desmawati. 2013. Sistem Hematologi Dan Imunologi. Jakarta. Penerbit In Media.

Nursalam. 2007. Asuhan Keperawatan pada Pasien Terinfeksi HIV/AIDS. Jakarta.


Penerbit Salemba Medika.

Heather, Herdman T. (2012) Nanda Internasional Diagnosis Keperawatan


Definisi dan Klasifikasi 2012-2014. Jakarta: EGC

KEMENKES RI .(2018). Pencegahan dan Pengendalian Penyakit.

Smeltzer, Susan C. (2013) Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth


edisi 12. Jakarta: EGC

Taylor, Cyntihia M. dan Sheila Sparks Ralph. (2010) Diagnosis Keperawatan


dengan Rencana Asuhan Keperawatan edisi 10. Jakarta: EGC

25