Anda di halaman 1dari 4

Dalam Muhjidin (2006), tertulis bahwa “hasil analisa abu umumnya unsur-unsur mayor dalam abu atau batuan

sebagai
bentuk oksidanya yang dapat dibagi menjadi tiga golongan (dalam hal ini istilah asam dan basa menurut definisi dari
ahli geologi bukan istilah dari ahli kimia)”. Adapun tiga golongan oksida tersebut adalah :
a) Oksida Asam : SiO2, Al2O3, dan TiO2.
b) Oksida Basa : CaO, MgO, Fe2O3, dan Alkali (Na2O + K2O).
c) Oksida lainnya : SO3, P2O5.

Selain unsur-unsur mayor juga terdapat unsur-unsur minor dalam abu batubara (yang dimasukkan dalam kategori
oksida lainnya), serta terdapat unsur runut (trace elements) seperti Sb, Be, Cu, U, Ge dan sebagainya.
untuk menentukan batubara tersebut slagging coal atau bukan dilakukan analisa uji abu.
1. Ash Content, uji abu yang bertujuan untuk menentukan unsur apa saja yang terdapat pada abu batubara

2. AFT (Ash Fushion Temperature), uji abu yang bertujuan untuk mengetahui titik lebur abu batubara. Jika abu batubara
tersebut memiliki AFT dibawah 1600 oC maka batubara tersebut tergolong Slagging Coal, Jika batubara tersebut memiliki
AFT diatas 1600 oC maka batubara tersebut termasuk golongan Non Slaging Coal.
pada saat pemanasan pada suhu 1600 oC abu batubara akan membentuk tiga bentuk yaitu:
- Spherieil
- Hemisphere
- Cair

3. Ash Analisis, uji batubara yang bertujuan untuk mengetahui jumlah kandungan masing-masing unsur pada batubara.
beberapa unsur yang terdapat pada batubara yaitu: Si, Al, Fe, Ti, Mn, Ca, Mg, Na, K, P, S

Keempat, kita menuju ash chemistry, menentukan kandungan Asam dan Basa:

1. Asam : Silicon dioxide (SiO2), Aluminum oxide (Al2O3), Titanium dioxide (TiO2)

2. Basa : Iron oxide (Fe2O3), Calcium oxide (CaO), Magnesium oxide (MgO),
Potasium oxide (K2O), Sodium oxide (Na2O)

Pada dasarnya, semakin rendah kadar alkali didalam abu batubara, semakin rendah pula

kecenderungan untuk terjadinya fouling. Kandungan alkali pada abu batubara biasanya

dinyatakan sebagai Na2O . Abu batubara dengan alkali lebih rendah dari 0.1% dianggap sebagai

non fouling, bila kandungan alkalinya antara 0.1 – 0.4% biasanya dapat menimbulkan

tumbuhnya fouling tetapi masih bisa dikendalikan dengan soot-blowing secara berkala, abu

batubara dengan kandungan alkali di atas 0.5% cenderung membentuk fouling dan menghasilkan

sinter sehingga sulit dihilangkan.

Untuk slagging ini, karakteristiknya dapat dinilai dari suhu lebur abu (AFT) dan kondisi
abu
itu sendiri. Suhu lebur abu yang rendah akan memudahkan terjadinya slagging.
Kemudian,
diketahui pula bahwa bila rasio unsur alkali (Fe2O3, CaO, MgO, Na2O, K2O) terhadap
unsur
asam (SiO2, Al2O3, TiO2) meninggi, potensi timbulnya slagging juga meningkat.
Slagging dan fouling adalah fenomena menempel dan menumpuknya abu batu bara yang

melebur pada pipa penghantar panas (heat exchanger tube) ataupun dinding boiler. Kedua hal ini

sangat serius karena dapat memberikan dampak yang besar pada operasional boiler, seperti

masalah penghantaran panas, penurunan efisiensi boiler, tersumbatnya pipa, serta kerusakan pipa

akibat terlepasnya clinker. Keseluruhan masalah yang timbul tadi sering pula disebut dengan

clinker trouble.

Fenomena menempelnya abu ini terutama dipengaruhi oleh suhu melebur abu (ash fusion

temperature, AFT) dan unsur – unsur dalam abu. Selain kedua faktor tadi, evaluasi terhadap

masalah ini juga dapat diketahui melalui perhitungan rasio terhadap beberapa unsur tertentu

dalam abu. Penilaian terhadap slagging & fauling ini perlu dilakukan secara menyeluruh dengan

melibatkan berbagai faktor, karena terkadang hasilnya tidak akurat apabila hanya mendasarkan

diri pada satu aspek saja. Karena terdapat banyak faktor yang terlibat dalam penilaian tersebut,

maka disini hanya akan dijelaskan metode evaluasi yang umum dilakukan.

Menurut Rahmi, L.A Penggunaan batubara sebagai sumber bahan bakar

menghasilkan residu berupa gas dan padatan. Penanganan residu berupa gas dapat

dilakukan dengan teknik purifikasi gas buangan sebelum dilepas ke udara bebas,

sehingga diharapkan tidak menimbulkan pencemaran udara yang serius. Akumulasi

residu berupa padatan yang dijumpai sebagai abu.

Slagging dan fouling adalah fenomena menempel dan menumpuknya abu batu bara
yang
melebur pada pipa penghantar panas (heat exchanger tube) ataupun dinding boiler.
Kedua hal
ini sangat serius karena dapat memberikan dampak yang besar pada operasional
boiler,
seperti masalah penghantaran panas, penurunan efisiensi boiler, tersumbatnya pipa,
serta
kerusakan pipa akibat terlepasnya clinker. Keseluruhan masalah yang timbul tadi sering
pula
disebut dengan clinker trouble.
Fenomena menempelnya abu ini terutama dipengaruhi oleh suhu melebur abu (ash
fusion
temperature, AFT) dan unsur – unsur dalam abu. Selain kedua faktor tadi, evaluasi
terhadap
masalah ini juga dapat diketahui melalui perhitungan rasio terhadap beberapa unsur
tertentu
dalam abu.

Kadar abu secara sederhana di definisikan sebagai residu anorganik yang terjadi setelah batubara

di bakar. Makin banyak mineral yang terdapat dalam batubara semakin tinggi pula kadar abunya.

Kadar abu dalam batubara berpengaruh pada pembakaran, semakin tinggi kandungan abu

semakin tinggi produk sisa pembakaran baik yang berupa abu terbang (fly ash) dan abu dasar

(bottom ash). Kandungan abu yang tinggi pada batubara dapat mengurangi suhu pembakaran

karena unsur karbon tidak terbakar dengan sempurna, meningkatnya kadar abu batubara

menyebabkan menurunnya efisiensi boiler akibat meningkatnya penumpukan abu berpotensial

untuk menurunkan perpindahan panas dan termal yang terasosiasi dengan panas sensible pada fly

ash. Selain itu, meningkatnya kadar abu batubara akan menurunkan sifat baik batubara, yang

mengarahkan pada meningkatnya kadar karbon yang hilang dan meningkatnya slagging. Sifat

abu yang terkandung dalam batubara berpengaruh terhadap pembentukan slagging, abu yang

mempunyai sifat basa lebih tinggi dari asam akan mempercepat laju pembentukan slagging dan

fouling dan sebaliknya.


Gambar 3 .Fotomikrograf yang menunjukkan maseral pada batubara Formasi Keruh, dengan menggunakan mikroskop Leitz
MPV-2, dibawah cahaya refleksi putih, skala perbesaran 250x, ( A) Telokolinit (Tc) berasosiasi dengan dengan
mineral karbonat (Ca), mineral lempung (Cl), dan pirit (Py); B) Maseral inertinit yang berupa, semifusinit (Sf),
funginit (Sc), dan inertodetrinit (In); C) Maseral liptinit berupa sporinit (Sp), suberinit (Sb), kutinit (Ct), dan pirit
(Py) dengan inklusi dan lapisan desmokolinit; D) Pirit framboid (PyF) dan maseral makrinit (Ma).