Anda di halaman 1dari 11

1.4.

1 Kualitas Batubara

Batubara yang diperoleh dari hasil penambangan pasti mengandung bahan pengotor

(impurities). Pada saat terbentuknya, batubara selalu bercampur dengan mineral

penyusun batuan yang selalu terdapat bersamaan selama proses sedmentasi, baik

sebagai mineral anorganik ataupun sebagai bahan organik.

Di samping itu selama berlangsung proses coalification terbentuk unsur S yang tidak

dapat dihindarkan. Keberadaan pengotor dalam batubara hasil penambangan

diperparah lagi, dengan adanya kenyataan bahwa tidak mungkin

membersihkan/memilih/mengambil batubara yang bebas dari mineral. Hal tersebut

disebabkan antara lain, penambangan batubara dalam jumlah besar selalu

mempergunakan alat-alat berat antara lain bulldoser, backhoe, truck, belt conveyor,

ponton, yang selalu bergelimang dengan tanah. Dikenal dua jenis impurities yaitu:

1. Inherent impurities

Merupakan pengotor bawaan yang terdapat dalam batubara. Batubara yang sudah

dicuci (washing) dan dikecilkan ukuran butirnya/diremuk (crushing) sehingga

dihasilkan ukuran tertentu, ketika dibakar habis masih memberikan sisa abu. Pengotor

bawaan ini terjadi bersama-sama pada waktu proses pembentukan batubara (ketika

masih berupa gelly).

Pengotor tersebut dapat berupa gipsum (CaSO42H2O), anhidrit (CaSO4), pirit

(FeS2), silika (SiO2), dapat juga berbentuk tulang-tulang binatang (diketahui adanya

senyawa fosfor dari hasil analisis abu) selain mineral lainnya. Pengotor bawaan ini

tidak mungkin dihilangkan sama sekali, tetapi dapat dikurangi dengan melakukan

pembersihan. Proses ini dikenal sebagai teknologi batubara bersih.


2. External impurities

Merupakan pengotor yang berasal dari luar, timbul pada saat proses penambangan

antara lain terbawanya tanah yang berasal dari lapisan penutup (overburden).

Kejadian ini sangat umum dan tidak dapat dihindari, khususnya pada penambangan

batubara dengan metode tambang terbuka (open pit). Batubara merupakan endapan

organik yang mutunya snagat ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain tempat

terdapatnya sekungan batubara, umur, banyaknya pengotor/kontaminasi. Sebagai

bahan baku pembangkit energi yang dimanfaatkan dalam industri, mutu batubara

mempunyai peranan sangat penting dalam memilih peralatan yang akan dipergunakan

dan pemeliharaan alat. Dalam menentukan mutu/kualitas batubara perlu diperhatikan

beberapa hal anatara lain:

a. Heating Value (HV) (Nilai kalor)

Dinyatakan dalam kkal/kg, banyaknya jumlah kalori yang dihasilkan oleh

batubara tiap satuan berat (dalam kilogram). Dikenal nilai kalor net (net calorific

value atau low heating calorific value), yaitu nilai kalor hasil pembakaran di mana

semua air (H2O) dihitung dalam keadaan gas, dan nilai kalor gross (grosses

calorific value atau high heating value, yaitu nilai kalor hasil pembakaran di mana

semua air (H2O) dihitung dalam keadaan ujud cair.

Semakin tinggi nilai HV, makan lambat jalannya batubara yang diumpankan

sebagai bahan bakar setiap jamnya, sehingga kecepatan umpan batubara (coal

feeder) perlu disesuaikan. Hal ini perlu diperhatikan agar panas yang ditimbulkan

tidak melebihi panas yang diperlukan dalam proses industri.


Akibat selanjutnya akan memerpanjang masa pakai burner, wid box, pulperizer

(penghancur/pembubuk), dan peralatan lainnya.

b. Moisture Content (kandungan lengas).

Jumlah lengas dalam batubara akan mempengaruhi penggunaan udara primer.

Batubara dengan kandungan dengan lengas tinggi, akan memerlukan lebih banyak

udara primer untuk mengerikan batubara tersebut agar suhu batubara pada saat

keluar dari gilingan (mill) tetap, sehingga hasil produksi indsutri dapat dijamin

kualitasnya. Lengas batubara ditentukan oleh jumlah kandungan air yang terdapat

dalam batubara. Kandungan air dalam batubara dapat berbentuk kandungan air

internal (air/senyawa unsur), yaitu air yang terikat secara kimiawi. Jenis air ini

sulit untuk dilepaskan tetapi dapat dikurangi, dengan cara memperkecil butiran

batubara.

Jenis air yang kedua adalah air external (air mekanikal), yaitu air yang menempel

pada permukaan batubara (Wahyudiono, 2002). Makin halus butir batubara,

makin luas jumlah permukaan butir secara keseluruhan,sehingga makin banyak

pula air yang menempel.

Satu hal yang menguntungkan bahwa batubara mempunyai sifat

fidrophobic,artinya apabila batubara telah dikeringkan, maka batubara tersebut

sulit menyerap air, sehingga tidak akan menambah jumlah air internal.

Selama proses penimbunan di stock pile akan timbul panas yang mampu

menguapkan air mekanikal yang menempel pada permukaan butir.


c. Ash Content (kandungan abu)

Komposisi batubara bersifat heterogen, terdiri dari unsur organik (berasal dari

tumbuh-tumbuhan) dan senyawa anorganik, yang merupakan hasil rombakan

batuan yang ada disekitarnya, bercampur selama proses transportasi, sedimentasi,

dan proses pembatubaraan (coalification). Apabila batubara dibakar, senyawa

anorganik yang adadiubah menjadi senyawa oksida yang berukuran butir halus

dalam bentuk abu. Abu hasil pembakaran batubara ini, yang dikenal sebagai hash

content (kandungan abu).

Abu ini merupakan kumpulan dari bahan-bahan pembentuk batubara yang

tidak terbakar (non combustible materials), atau yang dioksidasi oleh oksigen.

Bahan sisa dalam bentuk padatan ini anatara lain senyawa SiO 2, Al2O3, TiO2,

Mn3O4, CaO, Fe2O3, MgO, K2O, Na2O, P2O, SO3 dan oksida unsur lain.

Disamping itu terdapat pula abu dari bahan organik yang terbakar (consbutible

material).

Impurities yang terdapat dalam batubara berperan sangat penting pada

kandungan abu batubara. Apabila kandungan ini dipakai untuk PLTU, abu yang

ada akan terpisah menjadi abu dasar (20%) yang terkumpul didasar tungku dan

abu terbang (80%) yang akan “keluar” melalui cerobong asap. Sedangkan apabila

batubara dipergunakan sebagai bahan bakar dalam industri semen, abu (dalam

bentuk padatan) bercampur dengan klinker dan mempengaruhi kualitas semen

yang dihasilkan.

Semakin tinggi kandungan abu dan tergantung pada komposisinya akan

mempengaruhi tingkat pengotoran udara apabila abu sampai terlepas ke


atsmosfer, menyebabkan pula terjadi keausan dan korosi terhadap pada peralatan

yang dilaluinya.

Kadar abu batubara Indonesia berkisar 5%-20% Amperiadi (2005) melaporkan

penelitian yang dilakukan terhadap batubara di Sebulu, Tenggarong, Kalimantan

Timur mendapatkan ash content 3,3% pada seam B, Block C.1 dan 5,1% pada

seam A, bloack A didaerah penambangan batubara KSU Kumala Sakti.

d. Sulfur content (kandungan belerang)

Belerang yang terdapat dalam batubara dibedakan menjadi 2 yaitu dalam bentuk

senyawa anorganik dan senyawa organik.

Belerang dalam bentuk senyawa anorganik dapat dijumpai dalam bentuk mineral

pirit (FeS2 bentuk kristal kubus), markasit (FeS 2 bentuk kristal orthorombik) atau

dalam bentuk sulfat. Mineral pirit dan markasit sangat umum terbentuk pada

kondisi sedimentasi rawa (reduktif). Belerang organik terbentuk selama terjadinya

proses coalification. Horton and randall (vide krevelen,1993).

Belerang organik yang terdapat dalam batubara dapat dioksidasi membentuk

sulfat. Keberadaan sulfur dalam batubara akan berpengaruh terhadap tingkat

korosi sisi dingin (sisi luar) yang terjadi pada elemen pemanas udara (terutama

pada suhu kerja lebih rendah dari letak embun sulfur), juga berpengaruh terhadap

efektivitas peralatan penangkapan abu (electrostatic preciptitaor). Adanya

kandungan sulfur, baik dalam bentuk senyawa anorganik maupun organik di

atmosfer dipicu oleh keberadaan air hujan, mengakibatkan terbentuk air asam
(dalam dunia pertambangan batubara dikenal sebagai air asam tambang, dengan

Ph < 7)

e. Ash Fusion character of coal


Batubara apabila dipanaskan bersama-sama terutama anorganik impurities akan
melebur/meleleh. Apabila hal ini terjadi akan berpengaruh pada tingkat
pengotoran (fouling), pembentukan terak (slagging) dan akan berakibat terjadinya
gangguan pada blower.

Batubara adalah suatu material yang tersusun dari bahan organik dan anorganik dengan

kandungan organic pada batubara dapat mencapai 50 % dan bahkan lebih dari 75 %. Bahan

organic ini disebut maseral yang berasal dari sisa tumbuhan dan telah mengalami berbagai

tingkat dekomposisi serta perubahan sifat fisik dan kimia baik sebelum ataupun sesudah tertutup

oleh lapisan di atasnya, sedangkan bahan anorganiknya disebut mineral atau mineral matter.

Kehadiran mineral dalam jumlah tertentu akan mempengaruhi kualitas batubara terutama

parameter abu, sulfur dan nilai panas sehingga dapat membatasi penggunaan batubara.

Keterdapatan mineral dalam

Keterdapatan dan tipe mineral pada batubara adalah merupakan mineral atau mineral

matter pada batubara dapat diartikan sebagai mineral-mineral dan material organik lainnya yang

berasosiasi dengan batubara (Ward, 1986). Adapun secara keseluruhan mancakup tiga golongan

material yaitu mineral dalam bentuk partikel diskrit dan kristalin pada batubara, unsur atau

senyawa dan biasanya tidak termasuk unsur nitrogen dan sulfur, dan senyawa anorganik yang

larut dalam air pori batubara dan air permukaan


Mineral matter pada batubara dapat berasal dari unsur anorganik pada tumbuh-tumbuhan

pembentuk batubara atau disebut inherent mineral serta mineral yang berasal dari luar rawa atau

endapan kemudian ditransport ke dalam cekungan pengendapan batubara melalui air atau angin dan

dapat disebut extraneous atau adventitious mineral matter (Speight, 1994). Berdasarkan dari episode

pembentukannya (Mackowsky,1982) membagi mineral matter menjadi dua kategori yaitu: syngenetic dan

epigenetic. Syngenetic (primary) pada mineral matter adalah mineral yang terbentuk sebagai detrital

maupun authigenic. Umumnya mineral-mineral ini mempunyai ukuranbutir lebih kecil dari mineral

epigenetic dan tersebar secara merata pada batubara.

Berdasarkan atas dari kelimpahannya, maka mineral-mineral pada batubara dapat

dibedakan atas: dari mineral utama (major minerals), mineral tambahan (minor minerals) dan

mineral jejak (trace minerals). Ranton(1982) menggolongkan mineral utama jika kadarnya >

10% berat, mineral tambahan 1-10% dan mineral jejak , 1% berat. Umumnya yang termasuk

mineral utama adalah mineral lempung dan kuarsa sedangkan mineral minor yang umum adalah

karbonat, sulfide dan sulfat.

Mineral lempung (Clay) adalah merupakan kelompok yang paling dominan dijumpai

pada batubara, sekitar 60- 80% dari total mineral matter. Umumnya terdapat sebagai mineral

primer yang terbentuk akibat adanya aksi air atau angin yang membawa material detrital ke

dalam cekungan pengendapan batubara. Distribusi mineral lempung dalam batubara ini

dikendalikan oleh kondisi kimia rawa (Bustin,1989). Spesies mineral lempung umum terdapat

dalam batubara adalah kaolinite, illite dan montmorilonit. Kaolinit ini umumnya terdapat dalam

batubara secara syngenetic yang terkonsentrasi pada bidang perlapisan, tersebar pada vitrinit

sebagai pengisi rekahan dan lainnya berbentuk speris. Sedangkan illite biasanya lebih banyak

terdapat pada batubara dengan lapisan penutup (roof) batuan sedimen marin.
Mineral lempung yang terbentuk pada fase ke dua (secondary), umumnya dihasilkan oleh

adanya transformasi dari lempung fase pertama. Bila kedalaman penimbunan bertambah, maka

proporsi kaolinit berkurang sedangkan illite bertambah. Asosiasi mineral lempung pada lapisan

batubara berupa inklusi halus yang tersebar dan sebagai pita-pita lempung (tonstein).

Kuarsa (SiO2) adalah merupakan salah satu mineral oksida yang paling penting terdapat

dalam batubara (Tylor et al, 1998). Ada dua tipe dari kuarsa yang dapat dibedakan berdasarkan

daripada teksturnya yaitu: butiran kuarsa klastik berbentuk bulat jika terendapkan melalui media
air dan berbentuk menyudut jika melalui media angin. Tipe lainnya adalah kuarsa kristal halus yang

terbentuk dari larutan setelah pengendapan batubara. Kuarsa dalam batubara ini kebanyakan merupakan

silika yang terlarut dari hasil pelapukan felspar dan mika. Kuarsa merupakan mineral syngenetic dan

jarang ditemukan sebagai epigenetic (Ranton, 1982).

Karbonat, Terdapat 4 (empat) spesies mineral karbonat yang biasa ditemukan dalam

batubara yaitu: kalsit (CaCO3), siderite (FeCO3), dolomite (Ca, Mg) CO3 dan ankerit (CaMgFe)

CO3.Mineral-mineral ini dapat terbentuk baik pada fase syngenetic akhir maupun pada

epigenetic (Diessel, 1992). Pada karbonat syngenetic umumnya terdapat dalam bentuk konkresi

speroidal dan sebagai pengisi ronga-rongga fusinite dan semifusinite. Siderit yang terbentuk

dalam kondisi reduksi dapat dianggap sebagai karbonat primer, sedangkan kalsit dapat ini

terbentuk baik dalam lingkungan air tawar maupun lya dolomit merupakan indikasi lingkungan

pengendapan laut (Stach, 1982).

Tabel 1. Klasifikasi Mineral Yang Terdapat Pada Batubara Ditinjau Dari Segi Genetis(Bustin et al, 1989)
Sulfida, adalah pirit dan markasit merupakan mineral sulfida yang paling umum terdapat

pada batubara. Ke dua spesies mineral ini memiliki komposisi kimia yang sama (FeS2) hanyan

berbeda dalam bentuk kristalnya. Pirit berbentuk kubik dan markasit berbentuk ortorombik.

Mineral ini dapat terbentuk baik secara syngenetik maupun epigenetik dalam berbagai bentuk

(Diesel, 1992). Beberapa bentuk dari mineral pirit yang telah ditemukan dalam batubara adalah

sebagai berikut: a).Kristal pirit berukuran kecil dan terdapat sebagai inklusi dalam Vitrinit dan

semufusinit dan seringkali ini berasosiasi dengan pirit framboidal. b). Nodul pirit atau markasit

dengan ukuran hingga beberapa centimeter yang umumnya terdiri dari kristal-kristal membulat
atau memanjang. c). Bentuk Fe-Sulfida syngenetic yang paling umum adalah kristal pirit dengan

ukuran lebih kecil dari 2 mikron, terdapat dalam bentuk speroidal atau framboidal dan

berasosiasi dengan vitrinit. d).Tipe konkresi dari Kristal kecil bergabung membentuk lensa-lensa

pipih atau pita-pita yang menunjukkan presipitasi pirit Laut (Renton, 1982). Klasifikasi dari

mineral dapat dilihat pada Tabel 1.

Sulfat adalah mineral sulfat yang paling dominan terdapat pada batubara adalah bassanit

dan gypsum. Umumnya mineral ini terbentuk dari hasil oksidasi mineral sulfida (pirit) pada

batubara terutama

bila berhubungan dengan udara luar dalam waktu lama.

Berdasarkan genesanya, pirit pada batubara dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :

1. Pirit singenitik, yaitu pirit yang terbentuk selama proses penggambutan (peatification). Pirit jenis ini

biasanya berbentuk framboidal dengan butiran sangat halus dan tersebar dalam material pembentuk

batubara (Demchuk, 1992).

2. Pirit epigenitik, yaitu pirit yang terbentuk setelah proses pembatubaraan. Pirit jenis ini biasanya

terendapkan dalam kekar dan rekahan pada batubara serta biasanya bersifat masif. (Mackowsky, 1968;

Gluskoter, 1977; Frankie dan Howe, 1987). Umumnya pirit jenis ini dapat diamati sebagai pirit pengisi

rekahan pada batubara.

Pirit framboidal berasosiasi dengan batuan penutup yang terendapkan pada lingkungan

laut sampai payau. Gambut yang mengandung sulfur tinggi (dalam bentuk pirit framboidal)

terbentukpada lingkungan pengendapan yang dipengaruhi oleh transgresi air laut atau payau,

kecuali apabila terdapat dalam batuan sedimen yang cukup tebal dan terendapkan sebelum fase

transgresi (Taylor dkk, 1998).