Anda di halaman 1dari 8

HUKUM KEPAILITAN

BAB I

PENDAHULUAN

Terintegrasinya perekonomian dunia telah membawa dampak pada menungkatnya kegiatan


perdagangan antar pelaku usaha, yang mana kegiatannya tidak hanya terbatas pada jual beli barang
atau jasa, melainkan lebih luas lagi di mana tercakup kegiatan penanaman modal yang
menghasilkan barang untuk diekspor dan lain sebagainya. Kegiatan perdagangan telah menafikan
batas-batas negara, bahkan satu pelaku usaha dari suatu negara kerap malakukan investasi di
beberapa negara. Perusahaan yang melakukan investasi di banyak Negara yang disebut sebagi
perusahaan multinasional (multinational companies) memiliki anak perusahaan di beberapa Negara
yang menghasilkan komponenkomponen untuk dirakit di Negara yang berbeda. Demikian pula
bisnis waralaba yang telah merambah ke berbagai pelosok Negara untuk mengeksploitasi pasar
dunia[1].

Transaksi antar pelaku usaha yang bersifat lintas batas Negara dalam berbagai literature
hokum dikenal sebagai “ Transaksi Bisnis Internasional (International Business Transacions)”.
Materi yang diperbincangkan dalam Transaksi Bisnis Internasional esensinya adalah masalah
hokum perdata internasional yang terkait dengan kegiatan bisnis. Pelaku usaha yang melakukan
transaksi bisnis internasional akan terekspor oleh hokum nasional dari dua Negara atau lebi. Salah
satu bidang yang terkait dengan transaksi bisnis Internasional adalah kepailitan (Insolvency)[2]

BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah hukum kepailitan

Hukum kepailitan sudah ada sejak zaman Romawi. Kata “ bangkrut”, dalam bahasa Inggris
disebut “Bangkrupt” , berasal dari undang-undang Italia, yaitu banca nipta . Sementara itu, di
Eropa abad pertengahan ada praktik kebangkrutan di mana dilakukan penghancuran bangku-
bangku dari para bankir atau pedagang yang melarikan diri secara diam-diam dengan membawa
harta para kreditor[3].

Bagi Negara-negara dengan tradisi hukum common law, di mana hukum berasal dari Inggris
Raya, tahun 1952 merupakan tonggak sejarah, karena pada tahun tersebu hukum pailit dari
tradisi hukum Romawi diadopsi ke negeri Inggris.

Peristiwa ini ditandai dengan diundangkannya sebuah undang-undang yang disebut Act
Againts Such Person As Do Make Bangkrup oleh parlemen di masa kekaisaran raja Henry VIII.
Undang-undang ini menempatkan kebangkrutan sebagai hukuman bagi debitor nakal yang
ngemplang untuk membayar utang sembari menyembunyikan aset-asetnya. Undang-undang ini
memberikan hak-hak bagi kelompok kreditor secara individual (Munir Fuady, 1994: 4).

Sementara itu, sejarah hukum pailit di AS dimulai dengan perdebatan konstitusional yang
menginginkan kongres memiliki kekuasaan untuk membentuk suatu aturan uniform mengenai
kebangkrutan. Hal ini diperdebatkan sejarah diadakannya constitutional convention di
Philadelphia pada tahun 1787. Dalam the Federalis Papers, seorang founding father dari Negara
Amerika serikat, yaitu James Medison, mendiskusikan apa yang disebut Bankrupcy[4] clause.
Kemudian, kongres pertama kali mengundangkan undang-undang tentang kebangkrutan pada
tahun 1800, yang isinya mirip dengan undang-undang kebangkrutan di Inggris pada saat itu.
Akan tetapi, selama abad ke-18, di beberapa Negara bagian USA telah ada undang-undang
negara bagian yang bertujuan untuk melindungi debitor yang disebut insolvency law.
Selanjutnya, undang-undang federasi AS tahun 1800 tersebut diubah atau diganti beberapa kali.
Kini di USA hukum kepailitan diatur dalam Bankruptcy[5] ( Munir Fuady, 1999 : 4-5).

B. Mengenai pengertian dan tujuannya.

Perundang-undangan kita tidak memberikan arti otentik dari kepailitan atau pailit. Namun
dari rumusan pasal 1 ayat (I) UUK dapat diketahui bahwa pailit adalah suatu keadaan debitor
tidak mampu atau berhenti membayar utang-utangnya dan itupun harus dinyatakan dengan
putusan pengadilan.

Mengenai tujuannya harus didahului dengan pernyataan pailit oleh pengadilan, baik atas
permohonan sendiri secara sukarela maupun atas permintaan seorang atau lebih pihak ketiga
(sebagi kreditornya), untuk menghindari penyitaan dan eksekusi perseorangan atas harta
kekayaan debitor yang tidak mampu melunasi utang-utangnya lagi, serta hanya menyangkut
harta kekayaan milik debitor saja, tidak termasuk status dirinya.

C. Upaya hukum putusan pernyataan pailit

Dari bunyi pasal 8, pasal 11, dan pasal 286 ayat (1) UUK terdapat dua kemungkinan upaya
hukum yang dapat ditempuh oleh para pihak yang tidak puas terhadap putusan pernyataan
kepailitan yaitu upaya hukum kasasi atau peninjauan kembali. Dari pasal 8 ayat (1) UUK
dinyatakan bahwa upaya hukum yang dapat dilakukan terhadap putusan atas permohonan
pernyataan pailit yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dapat diajukan peninjauan
kembali kepada Mahkamah Agung. Berikutnya dalam pasal 286 ayat (1) UUK dinyatakan
terhadap putusan pengadilan niaga yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap dapat
diajukan peninjauan kembali kepada MA.

Adapun yang menjadi alasan-alasan permohonan kasasi atas pernyataan kepailitan tidak
jauh berbeda dengan alasan-alasan permohonan kasasi atas putusan perkara perdata
sebagaimana diatur dalam pasal 30 undang-undang nomor 14 tahun 1985 tentang Mahkamah
Agung, yaitu karena :

a. Tidak berwenang atau melampaui batas wewenang

b. Salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku

c. Lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan


yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan[6]

D. Transaksi Bisnis Internasional

Mengenai kegiatan transaksi bisnis Internasional yang dilaksanakan dan dijalankan dalam
dunia usaha, Warren J. keegen dalam bukunya Global Marceting Management menyatakan
bahwa sekurangnya ada 5 cara yang dapat ditempuh oleh suatu perusahaan yang bermaksud
untuk mengembangkan kegiatan bisnis secara internasional, yaitu melalui :

1. Ekspor impor

2. Lisensi [7]

3. Waralaba [8]

4. Kerjasama (Joint Ventures)

5. Merger dan akuisi

Ekspor impor dan imbal beli dikenal sebagai media trnsaksi perdagangan internasional yang
paling “kuno” dan sederhana. Ekspor impor dan imbal beli dalam pemberian lisensi[9]dan
waralaba, pihak pemberi llisensi atau waralaba biasanya sangat membutuhkan pengetahuan
yang relatif lebih mendalam akan pasar dimana lisensi dan waralaba[10] akan diberikan.
Selanjutnya, pada Joint ventures, merger dan akuisi, seorang investor tidak hanya semata-mata
berfikir mengenai pangsa pasar yang tersedia dan kemampuan financial konsumen, melainkan
juga pada sitem hukum yang “solid”, pola pemerintahan yang diterapkan serta stabilitas politik
yang mapan[11].

E. Kepailitan lintas batas

Masalah kepailiatan terkait dengan masalah hukum perdata internasional apabila terjadi suatu
keadaan dimana sebuah perusahaan telah dinyatakan paili di suatu negara dan perusahaan
tersebut mempunyai anak perusahaan yang berada di negara lain dan didirikan berdasarkan
hukum setempat, Beberapa contoh yang dapat dikemukakan di sini, antara lain adalah :,
bahakan contoh actual yang ada di Indonesia adalah di pailitkannya perusahaan retail asal
Jepang, Songo, putusan pailit perusahaan tersebut tentunya membawa kosekwensi terhadap
perusahaan retail yang menggunakan nama songo di Indonesia.

Dari berbagai kasus di atas terlihat keadaan dimana suatu perusahaan yang pailit mempunyai
asset lebih dari satu negara atau keadaan di mana beberapa kreditur berada di negara yang
berbeda dengan negara lain dimana proses kepailitan terhadap debitur berlangsung secara
kongkrit, keterkaitan masalah kepailitan dengan hukum perdata internasional terletak pada
bagaimana keberlakuan putusan pailit pengadilan asing di suatu negara , bagi negara dimana
putusan pailit harus dilaksanakan muncul permasalahan hukum , yaitu apakah putusan pailit dari
pengadilan asing dapat dieksekusi? Jawabnya Prinsip putusan pengadilan asing tidak dapat
dieksekusi.

Berbicara tentang putusan pailit yang diputus oleh pengadilan asing yang akan dieksekusi
di suatu negara, pada prinsipnya akan terkait dengan pertanyaan apakah puusan pengadilan
asing dapat dieksekusi di suatu negara . Secara umum dapat dikatakan bahwa kebanyakan
system hukum yang dinut oleh banyak negara tidak memperkenalkan pengadilannya untuk
eksekusi putusan pengadilan asing. Kecenderungan ini tidak saja berlaku pada Negara-negara
yang menganut system common law . Penolakan eksekusi terhadap putusan pengadilan asing
terkait erat dengan konsep kedaulatan Negara. Sebuah Negara yang memiliki kedaulatan tidak
akan mengakui institusi atau lembaga yang lebih tinggi. Kecuali Negara tersebut secara sukarela
menundukkan diri, Mengingat pengadilan merupakan alat perlengkapan yang ada dalam suatu
Negara maka wajar apabila pengadilan tidak akan melakukan eksekusi terhadap putusan-
putusan pengadilan asing.

Prinsip umum sebagaimana diuraikan di atas berlaku pula pada putusan pailit oleh pengadilan
asing. Putusan pailit dari suatu pengadilan tidak akan diakui dan karenanya tidak dapat
dieksekusi oleh pengadilan Negara lain. Di Malaysia, misalnya, putusan pailit dari pengadilan
asing tidak diakui dan tidak dapat dilaksanakan oleh pengadilannya. Demikian pula di
Indonesia, walaupun dalam undang-undang tentang kepailitan tidak secara tegas diatur tentang
dapat tidaknya putusan pailit dari pengadilan asing dieksekusi[12]

Dalam hukum kepailitan Indonesia dapat ditafsirkan bahwa pengadilan niaga tidak akan
mengeksekusi putusan pailit pengadilan asing. Karena putusan-putusan pengadilan niaga dan
mahkamah agung dalam perkara kepailitan ternyata mencerminkan inkonsistensi dalam
penerapan hukum kepailitan yang pada akhirnya melahirkan ketidakpastian hokum, Sampai saat
ini pengadilan niaga belum mampu melakukan paksaan terhadap debitor yang tidak mematuhi
putuan pengdilan, sehingga banyak debitor yang lepas jerat dari kepailitan[13].

Penafsiran ini didasarkan pada pasal 284 ayat (1) undang-undang nomor 4 tahun 1988 yang
esensinya adalah memberlakukan hukum acara perdata pada pengadilan niaga yang berbunyi :
“kecuali ditentukan lain dengan undang-undang, hukum acara perdata yang berlaku diterpkan
pula terhadap pengadilan niaga”.

Kenyataan ini, juga mengingat banyak Negara yang masih berpandangan sangat konservatif
terhadap pelaksanaan putusan pengadilan asing, utamanya dalam masalah kepailitan, brakibat
pada terhambatnya transaksi bisnis internasional. Para pelaku usaha merasa ada kebuntuan
( dead lock) dalam memperoleh haknya.

Untuk mengatasi kebuntuan ini united nations commission on international trade law
(UNCITRAL) melakukan terobosan yang memungkinkan sebuah Negara mengakui dan
melaksanakan putusan pailit yang dikeluarkan oleh pengadilan asing.

Terobosan ini berupa penyitaan sebuah model law[14] yang memungkinkan putusan pailit yang
dikeluarkan oleh pengadilan asing dapat dieksekusi oleh pengadilan suatu Negara. Adapun
model law yang dimaksud adalah UNCITRAL MODEL LAW ON CROSS-BORDER
INSOLVENCY WITH GUIDE TO ENACTMENT ( selanjutnya disebut model law )[15].
Model law diadopsi pada tahun 1997 dengan tujuan agar Negara-negaramelengkapi hukum
kepaikitannya secara modern terharmonisasi (harmonized)dan adil dalam mengantisipasi kasus-
kasus kepaikitan lintas batas.

Apabila ada Negara yang mengadopsi model law yang dihasilkan oleh UNCITRAL, hal ini
berarti, hukum kepailitan di Negara tersebut memungkinkan putusan pailit pengadilan asing
untuk dieksekusi, tentunya ini akan memberi manfaat bagi para pelaku usaha yang melakukan
transakasi bisnis internasional keluar dari suatu kebuntuan.

F. Pelaksanaan putusan pailit pengadilan asing berdasarkan perjanjan internasional

Mengingat belum banyak negara yang menganut kemungkinannya putusan pailit pengadilan
asing untuk dilakukan di negaranya maka sebagai alternative untuk mengatasi hal ini adalah
diupayakan pembentukan perjanjian antar negara. Sebenarnya perjanjian internasional yang
mengatur tentang eksekusi putusan pengadilan asing sudah sejak lama ada yang dikenal dengan
nama convention on Juricdiction and Enforcement of Judgements in Civil and Commercial
Matters (selanjutnya disebut “ konvensi Pelaksanaan Putusan Pengadilan”).[16]Dengan
menandatangani konvensi Pelaksanaan Putusan Pengadilan akan memungkinkan pengadilan
negara yang menandatangani konvensi untuk melaksanakan putusan pengadilan dari negara
lain[17]. Hanya saja dalam pasal 1 Konvensi Pelaksanaan Putusan Pengadilan disebutkan secara
tegas bahwa Konvensi tidak berlaku pada masalah kepailitan[18]. Ketentuan pasal 1 ini berarti
bahwa apabila ada negara yang telah menandatangani Konvensi Pelaksanaan Putusan
Pengadilan, ia tidak mempunyai kewajiban untuk melaksanakan putusan pailit pengadilan asing.

Melihat kelemahan yang terdapat pada Konvensi Pelaksanaan Putusan Pengadilan banyak
negara yang menginginkan agar dibentuk sebuah perjanjian internasional yang secara khusus
mengatur kepailitan yang bersifat lintas batas. Hingga saat ini belum tersedia perjanjian
internasional yang mengatur secara khusus kepailitan yang bersifat lintas batas yang dapat
diikuti oleh negara manapun (bersifat universal). Pada saat ini yang telah ada adalah perjanjian
internasional bagi kepailitan yang bersifat lintas batas yang dilakukan secara regional(regional
arrangement). Sebagai contoh di masyarakat Uni Eropa telah berlaku sebuah perjanjian
internasional yang mengatur hal ini. Perjanjian internasional ini dinamakan Convention on
Insolvency Proceedings (selanjutnya disebut “Konvensi insolvensi”)[19]. Tujuan dari
konvensi[20]insolvensi adalah pembentukan satu wilayah kepailitan (the creation of a single
bankruptcy territory) yang berarti bahwa “the bankruptcy curts of one state must have
jurisdiction to commence aprincipal cross border bankruptcy case” [21]. Hal ini ditegaskan
dalam pasal 16 ayat (1) Konvensi Insolvensi yang menyebutkan bahwa,

Any jugdement opening insolvency proceedings handed down by a court of a member state
which has jurisdiction pursuant to article 3 shall be recognized in all the other Member State
from the time that it becomes effective in the State of the opening of proceedings.

Dengan demikian di Uni Eropa telah dimungkinkan putusan pailit pengadilan dari suatu
negara anggota uni Eropa untuk dieksekusi di negara anggota Uni Eropa lainnya.

BAB III

KESIMPULAN

Transaksi bisnis internasional telah memunculkan masalah hukum yang pelik dalam kaitan
dengan kepailitan. Permasalahan ini tentunya harus mendapat penyelesaian. Bagi Indonesia
dapat dipilih salah stu dari dua opsi yang ada. Pertama membentuk dalam hukum kepailitannya
ketentuan yang mengakomodasi kemungkinan putusan pailit pengadilan asing untuk dapat
diakui dan dilaksanakan olh pengadilan Indonesia sepanjang memenuhi persyaratan yang diatur.
Apabila alternative ini yang diambil maka ada baiknya pembentuk undang-undang merujuk
pada Model law yang dipersiapkan oleh UNCITRAL.

Alternatif lain yang dimilki oleh Indonesia adalah keikutsertaan Indonesia dalam perjanjian
internsional yang bersifat bilateral ataupun multilateral yang mengatur putusan pailit dari
pengadilan suatu negara yang memungkinkan untuk dieksekusi di pengadilan niaga dan
sebaliknya putusan pailit oleh pengadilan niaga dapat dieksekusi di pengadilan luar negeri.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa transaksi lintas batas negara mempunyai
keterkaitan dengan hukum kepailitan. Permasalahan-permasalahan yang muncul tidak bisa tidak
diselesaikan dengan membuat instrument hokum. Untuk itu ada baiknya dalam perubahan
terhadap undang-undang kepailitan dipikirkan tentang masalah kepailitan lintas negara .

II. Penutup

Demikian makalah ini saya buat, mungkin dalam pembahasan makalah ini banyak
kekurangan baik dari segi bahasa maupun isinya, kritik dan saran yang membangun sangat
saya harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga ini dapat memberi manfaat bagi saya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Juwana, Hikmananto, Bunga rampai hukum ekonomi dan hukum internasional, Jakarta, Lentera
hati, 2002

2. Usman, Rachmadi, Dimensi Hukum Kepailitan di Indonesia, Jakarta, Gramedia Pustaka utama,
2004

3. Sudarsono, Edilius, Kamus ekonomi uang & bank, Jakarta, Rineka cipta, 1994

4. Widjaja, Gunawan, Hukum Transaksi Bisnis Internasional, Raja Grafindo persada, 2003

5. Widjaja, Gunawan, seri hukum bisnis lisensi, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2003

6. Widjaja, Gunawan, lisensi atau waralaba, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2004

7. Cita-citra winda, Pria pantja, 2001 “beberapa pemikiran tentang penyelesaian hak di pengadilan
niaga; sebuah tinjauan akademi”Jakarta

8. Schollmeyer, Eberhard, “The New European Convention on International Insolvency,”

[1] Hikmananto Juwana, Bunga rampai hukum ekonomi dan hukum internasional, Jakarta,
Lentera hati, 2002 hal : 76
[2] Insovency :a. suatu kondisi berutang yang melebihi nilai yang dapat ditutup dengan aktiva
yang dimiliki. b. ketidakmampuan perusahaan dalam melunasi uangutang dan kewajiban lainnya
pada saat hari jatuh tempo
[3] Rachmadi Usman, Dimensi Hukum Kepailitan di Indonesia, Jakarta, Gramedia Pustaka
utama, 2004 hal : 1)
[4] Bankrupcy (kebangkrutan) : suatu tindakan hukum berupa keputusan pengadilan yang
melekuidir kegiatan suatu perusahaan guna menjamin pengembalian dana/aktiva miliik kreditor.
[5] Edilius Sudarsono, Kamus ekonomi uang & bank, Jakarta, Rineka cipta, 1994, hal : 30.
[6] Opcit, hal : 36
[7] Lisensi : suatu bentuk hak untuk melakukan satu atau serangkaian tindakan atau perbuatan
yang diberikan oleh mereka yang berwenang dalam bentuk izin.
[8] Dalam peraturan pemerintah RI no. 16 tahun 1997 tanggal 18 juni 1997 tentang waralaba
dikatakan bahwa : waralaba adalah perikatan dimana salahsatu pihak diberikan untuk
memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual/penemuan atau cirri khas
usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan dan atau penjualan
barang atau jasa.
[9] Gunawan Widjaja, seri hukum bisnis lisensi, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2003, hal : 3.
[10] Gunawan Widjaja, lisensi atau waralaba, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2004, hal : 20.
[11] Gunawan Widjaja, Hukum Transaksi Bisnis Internasional, Raja Grafindo persada, 2003,
hal :
[12] Opcit, hal :77-78
[13] Pria pantja, cita-cita winda, 2001 “beberapa pemikiran tentang penyelesaian hak di
pengadilan niaga; sebuah tinjauan akademi”Jakarta
[14] UNCITRAL mirip sebuah lembaga yang berada di bawah majlis umum perserikatan
bangsa-bangsa yang bertugas menyiapkan contoh-contoh undang-undang(model law) untuk
dipergunakan oleh Negara-negara dalam memutakhirkn berbagai ketentuan hukum bisnis dan
dagang. Model law yang telah dihasilkan oleh UNCITRAL dintaranya adalah : UNCITRAL Model
Law on International Credit Transfers, UNCITRAL model law on electronic commerce.
[15] http : www.uncitral.org/english/texts/insolvency.html.
[16] Konvensi diadopsi pada tanggal 1 februari 1971. Untuk teks lengkap dapat diakses pada
situs web
[17] Hingga saat ini hanya ada tiga negara yang menandatangani Konvensi Pelaksanaan
Outusan Pengadilan, yaitu : Ciprus,Belanda dan Portugal. Harus diakui Konvensi ini tidak disukai
oleh Negara-negara mengingat kedaulatan negara seolah-olah dikurangi. Ada konvensi yang mirip
dengan Konvensi Pelaksanaan Putusan Pengadilan, yaitu Konvensi tentang Pengakuan dan
Pelaksanaan Putusan Pengadilan, yaitu konvensi tentang pengakuan dan Pelaksanaan Putusan
Arbritase Asing (Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbrital Awards) yang
berlaku untuk putusan arbritase yang lebih popular dan diikuti banyak Negara.
[18] Pasal 1 Konvensi Pelaksanaan Putusan Pengadilan menyebutkan bahwa : “ It (the
convention ) shall not apply to decisions the main object of which is to determine-(5) questions of
bankruptcy, compotitions or analogous proceedings, including decisions which may result there
from and which relate to the validity of the acts of the debtor”.
[19] Untuk teks lengkap dapat dilihat pada situs web sebagai berikut :
[20] Konvensi non politik beberapa negara
[21] Eberhard Schollmeyer, “The New European Convention on International Insolvency,”
hal2.