Anda di halaman 1dari 28

REKAYASA IDE

PENELITIAN TINDAKAN KELAS


(PTK)

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan

Dosen: Prof. Dr. Abdul Hasan Saragih, M.Pd

DISUSUN OLEH

WULAN JUNITA

8186122019

PROGRAM PASCASARJANA

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2018

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas rahmatnya yang telah
dilimpahkan kepada kita, sehingga saya sebagai penulis dapat menyelesaikan makalah
Rekayasa Ide yang berjudul “Penelitian Tindakan Kelas (PTK)”.
Penyusunan makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam
mengikuti mata kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan. Saya juga berterima kasih kepada
Bapak Prof. Dr. Abdul Hasan Saragih, M.Pd, selaku dosen mata kuliah Metodologi
Penelitian Pendidikan. Selama penulisan makalah ini saya banyak menemui hambatan dan
kesulitan, namun berkat doa dan bantuan dari berbagai pihak saya dapat menyelesaikan
makalah ini tepat pada waktunya.
Saya berharap makalah ini dapat menambah wawasan mengenai materi yang diangkat
menjadi topik utama dalam makalah ini yakni tentang Penelitian Tindakan Kelas (PTK) serta
dapat menjadi referensi yang bermanfaat bagi para pembaca.

Medan, November 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................. i


DAFTAR ISI ............................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN............ ............................................................................. 1
A. Latar Belakang ................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................... 2
C. Tujuan Masalah .............................................................................. 2
BAB II. PEMBAHASAN ......................................................................................... 3
A. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ................................. 3
B. Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ............................. 4
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ................. 6
D. Bentuk-bentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) .......................... 7
E. Model-model Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ............................ 8
F. Desain dan Prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ................ 11
BAB III. REKAYASA IDE ..................................................................................... 16
PELAKSANAAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)................. 16
PENDAHULUAN........................ ............................................................ 16
A. Latar Belakang .......................................................................... 16
B. Rumusan Masalah ..................................................................... 17
C. Tujuan Masalah ........................................................................ 18
PEMBAHASAN....................................................................................... 19
A. Pengertian Crossword Puzzle ................................................... 19
B. Langkah-Langkah Strategi Pembelajaran Crossword Puzzle ... 20
C. Pengertian Vocabulary (Kosa Kata) ......................................... 20
D. Mata Peelajaran Bahasa Inggris................................................ 21
PENUTUP............ .................................................................................... 22
A. Kesimpulan ................................................................................. 22
B. Saran ............................................................................................ 23
BAB IV. PENUTUP ................................................................................................. 24
C. Kesimpulan ..................................................................................... 24
D. Saran ............................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 25

ii
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam kegiatan pembelajaran, seorang guru sudah pasti akan berhadapan dengan
berbagai persoalan baik menyangkut peserta didik, subject matter, maupun metode
pembelajaran. Sebagai seorang profesional, guru harus mampu membuat prefessional
judgement yang didasarkan pada data sekaligus teori yang akurat. Selain itu guru juga harus
melakukan peningkatan mutu pembelajaran secara terus menerus agar prestasi belajar peserta
didik optimal disertai dengan kepuasan yang tinggi.
Bagi para guru pengakuan dan penghargaan di atas harus dijawab dengan
meningkatkan profesionalisme dalam bekerja. Guru tidak selayaknya bekerja as usual seperti
era sebelumnya, melainkan harus menunjukkan komitmen dan tanggung jawab yang tinggi.
Setiap kinerjanya harus dapat dipertanggung jawabkan baik secara publik maupun akademik.
Untuk itu ia harus memiliki landasan teoretik atau keilmuan yang mapan dalam
melaksanakan tugasnya mengajar maupun membimbing peserta didik.
Guru profesional adalah guru yang ahli dalam bidangnya, ahli dan terampil dalam
menyampaikan bidang ilmunya kepada para peserta didik, memiliki kepribadian yang dapat
ditauladani oleh masyarakat lingkungan sekolah dan lingkungan luar sekolah, dan dapat
hidup bermasyarakat dengan atasan, teman sejawat, para peserta didik, dan masyarakat.
Untuk meningkatkan keahlian dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, guru wajib
belajar terus-menerus melalui berbagai cara, termasuk melakukan penelitian, khususnya
Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) memiliki peran yang sangat penting dan strategis
dalam upaya meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Hopkins (dalam Wiriaatmadya, 2007: 11), bahwa PTK adalah penelitian yang
mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan substantif, suatu tindakan yang
dilakukan dalam disiplin inkuiri atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang
sedang terjadi, sambil terlihat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan. Berdasarkan
pernyataan Hopkins tersebut sangatlah jelas bahwa guru adalah pihak yang sangat
berkepentingan dengan pelaksanaan PTK.

1
Lebih lanjut menurut. Kemmis Dan Taggart (1988), bahwa PTK sebagai bentuk refleksi
diri kolektif yang didahulukan oleh para partisipan dalam situasi sosial dengan tujuan untuk
meningkatkan produktivitas, rasionalitas, keadilan pada persoalan sosial, atau praktik
pendidikan. Partisipannya adalah guru, siswa, kepala sekolah, orang tua, dan anggota
masyarakat. Dengan demikian PTK sangat penting dan memiliki peran yang sangat strategis
dalam kaitannya dengan pengembangan kurikulum, profesi, program sekolah, perencanaan,
dan kebijakan sekolah.
Terkait dengan kebutuhan tersebut, tulisan ini akan membahas mengenai Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) sebagai sumbangan gagasan alternatif yang dapat diterapkan oleh para
guru dalam pengembangan profesinya. Tulisan ini secara ringkas akan membahas mengenai
pengertian, karakteristik, tujuan dan manfaat PTK, bentuk PTK, model-model PTK, desain
dan prosedur Penelitian Tindakan serta implementasinya.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan dari latar belakang diatas adapun rumusan masalah yang akan
dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)?
2. Bagaimana karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (PTK)?
3. Apa tujuan dan manfaat Penelitian Tindakan Kelas (PTK)?
4. Bagaimana bentuk-bentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK)?
5. Bagaimana model-model Penelitian Tindakan Kelas (PTK)?
6. Bagaimana desain dan prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK)?

C. Tujuan Masalah
Berdasarkan uraian dari rumusan masalah diatas adapun tujuan penulisan yang akan
dibahas dalam makalah ini adalah untuk mendeskripsikan:
1. Apa yang dimaksud dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)?
2. Bagaimana karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (PTK)?
3. Apa tujuan dan manfaat Penelitian Tindakan Kelas (PTK)?
4. Bagaimana bentuk-bentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK)?
5. Bagaimana model-model Penelitian Tindakan Kelas (PTK)?
6. Bagaimana desain dan prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK)?

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Penelitian Tindakan Kelas atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan classroom action
research sejak lama berkembang di negara-negara maju seperti Inggris. Australia dan
Amerika. Ahli-ahli pendidikan di negara tersebut menaruh perhatian yang cukup besar
terhadap PTK. Mengapa demikian? Karena jenis penelitian ini mampu menawarkan cara dan
prosedur baru untuk memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme dalam proses belajar
mengajar di kelas dengan melihat indikator keberhasilan proses pembelajaran. Dalam hal ini
McNift (1992:1) seperti dikutip Suyanto (1997:2) memandang PTK sebagai bentuk penelitian
reflektif yang dilakukan oleh guru sendiri dan hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk
mengembangkan kurikulum, sekolah, dan pengembangan dalam proses belajar mengajar.
Dalam PTK guru dapat meneliti sendiri terhadap praktek pembelajaran yang dilakukan
di kelas. Dengan PTK, guru dapat melakukan penelitian terhadap siswa dari berbagai aspek
selama proses pembelajaran berlangsung. Melalui penelitian tindakan kelas ini guru dapat
melakukan penelitian terhadap proses atau hasil yang diperoleh secara reflektif di kelas,
sehingga hasil penelitian dapat diapakai untuk memperbaiki praktek pembelajarannya.
Penelitian Tindakan Kelas juga dapat menjebatani kesenjangan antara teori dan praktek
pendidikan. Hal ini dapat terjadi dikarenakan setelah seseorang melakukan penelitian
terhadap kegiatannya sendiri, di kelasnya sendiri, dengan melibatkan siswanya sendiri,
melalui suatu tindakan yang direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi, guru tersebut akan
memperoleh umpan balik yang sistematis mengenai apa yang selama ini selalu dilakukan
dalam kegiatan pembelajarannya. Dengan demikian guru dapat membuktikan apakah suatu
teori pembelajaran dapat diterapkan dengan baik di kelas yang dimilikinya. Jika sekiranya
ada teori yang tidak cocok dengan kondisi kelasnya, melalui PTK guru dapat mengadaptasi
teori yang ada untuk kepentingan proses atau produk pembelajaran yang lebih efektif.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru
dengan tujuan untuk memperbaiki mutu pelaksanaan pembelajaran di kelasnya (Suparno,
2008). Dengan demikian PTK berfokus pada proses belajar-mengajar yang terjadi di kelas
dan dilakukan pada situasi yang sebenarnya (alami). Hal ini berarti bahwa Tindakan tersebut
merupakan suatu kegiatan yang sengaja dirancang untuk dilakukan oleh siswa dengan tujuan

3
tertentu. Oleh karena tujuan PTK adalah memperbaiki kualitas proses pembelajaran, maka
kegiatan yang dilakukan haruslah berupa tindakan yang diyakini lebih baik dari kegiatan-
kegiatan yang biasa dilakukan. Dengan kata lain, tindakan yang diberikan kepada siswa harus
terlihat lebih efektif, efisien, kreatif dan inovatif. Atau dengan kata lain adalah adanya hal
yang berbeda dari yang biasa dilakukan guru dalam praktik pembelajaran sebelumnya, karena
yang sudah dilakukan dipandang belum memberikan hasil yang memuaskan. Lebih lanjut
menurut Kemmis dan Taggart (1988), untuk mengetahui keberhasilan tindakan tersebut maka
harus dilakukan secara berulang-ulang (siklus), agar diperoleh keyakinan akan keampuhan
dari tindakan.
Jika dibandingkan antara PTK dengan penelitian eksperimen adalah bahwa penelitian
eksperimen hanya melihat bagaimana efektivitas dari perlakukan saja, sedangkan PTK
melihat keterlaksanaan dan kelancaran proses tindakan (Suhardjono, 2005). Oleh karena itu
yang dipentingkan dalam PTK adalah proses, sedangkan hasil tindakan merupakan
konsekuensi logis dari ampuhnya tindakan. Pengulangan langkah dari setiap awal sampai
akhir seperti itu disebut siklus. Pengulangan langkah dalam PTK sebaiknya dilaksanakan
paling tidak dua siklus.

B. Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (PTK)


PTK merupakan bentuk penelitian tindakan yang diterapkan dalam aktivitas
pembelajaran di kelas. Ciri khusus PTK adalah adanya tindakan nyata yang dilakukan
sebagai bagian dari kegiatan penelitian dalam rangka memecahkan masalah pembelajaran di
kelas. Terdapat sejumlah karakteristik yang merupakan keunikan PTK dibandingkan dengan
penelitian pada umumnya, antara lain sebagai berikut.
1. PTK merupakan kegiatan yang berupaya memecahkan masalah pembelajaran,
dengan dukungan ilmiah.
2. PTK merupakan bagian penting upaya pengembangan profesi guru melalui
aktivitas berpikir kritis dan sistematis serta membelajarkan guru untuk menulis dan
membuat catatan.
3. Persoalahan yang dipermasalahkan dalam PTK berasal dari adanya permasalahan
nyata dan aktual (yang terjadi saat ini) dalam pembelajaran di kelas.
4. PTK dimulai dari permasalahan yang sederhana, nyata, jelas, dan tajam mengenai
hal-hal yang terjadi di dalam kelas.

4
5. Adanya kolaborasi (kerjasama) antara praktisi (guru dan kepala sekolah) dengan
peneliti dalam hal pemahaman, kesepakatan tentang permasalahan, pengambilan
keputusan yang akhirnya melahirkan kesamaan tentang tindakan (action) .

Kolaborasi (kerjasama) antara praktisi (guru) dan peneliti (dosen atau widyaiswara)
merupakan salah satu ciri khas PTK. Melalui kolaborasi ini mereka bersama menggali
dengan mengkaji permasalahan nyata yang dihadapi oleh guru dan atau siswa. Sebagai
penelitian yang bersifat kolaboratif, harus secara jelas diketahui peranan dan tugas guru
dengan peneliti. Dalam PTK kolaboratif, kedudukan peneliti setara dengan guru, dalam arti
masing-masing mempunyai peran serta tanggung jawab yang saling membutuhkan dan saling
melengkapi. Peran kolaborasi turut menentukan keberhasilan PTK terutama pada kegiatan
mendiagnosis masalah, merencanakan tindakan, melaksanakan penelitian (tindakan,
observasi, merekam data, evaluasi, dan refleksi), menganalisis data, menyeminarkan hasil,
dan menyusun laporan hasil.
Sering terjadi PTK dilaksanakan sendiri oleh guru. Guru melakukan PTK tanpa
kerjasama dengan peneliti. Dalam hal ini guru berperan sebagai peneliti sekaigus sebagai
praktisi pembelajaran. Guru profesional seharusnya mampu mengajar sekaligus meneliti.
Dalam keadaan seperti ini, maka guru melakukan pengamatan terhadap diri sendiri ketika
sedang melakukan tindakan (Suharsimi, 2002). Untuk itu guru harus mampu melakukan
pengamatan diri secara obyektif agar kelemahan yang terjadi dapat terlihat dengan wajar.
Melalui PTK, guru sebagai peneliti dapat:
a. Mengkaji/ meneliti sendiri praktik pembelajarannya;
b. Melakukan PTK dengan tanpa mengganggu tugasnya;
c. Mengkaji permasalahan yang dialami dan yang sangat dipahami;
d. Melakukan kegiatan guna mengembangkan profesionalismenya.

5
C. Tujuan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Tujuan utama PTK adalah untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di
dalam kelas sekaligus mencari jawaban ilmiah mengapa hal tersebut dapat dipecahkan
melalui tindakan yang akan dilakukan. PTK juga bertujuan untuk meningkatkan kegiatan
nyata guru dalam pengembangan profesinya. Tujuan khusus PTK adalah untuk mengatasi
berbagai persoalan nyata guna memperbaiki atau meningkatkan kualitas proses pembelajaran
di kelas. Secara lebih rinci tujuan PTK antara lain:
1. Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, dan hasil pendidikan dan pembelajaran di
sekolah.
2. Membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya dalam mengatasi masalah
pembelajaran dan pendidikan di dalam dan luar kelas.
3. Meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan.
4. Menumbuh-kembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta
sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan/pembelajaran secara
berkelanjutan.
5. Dengan demikian output atau hasil yang diharapkan melalui PTK adalah peningkatan
atau perbaikan kualitas proses dan hasil pembelajaran.

Dengan memperhatikan tujuan dan hasil yang dapai dapat dicapai melalui PTK,
terdapat sejumlah manfaat PTK antara lain sebagai berikut.
1. Menghasilkan laporan-laporan PTK yang dapat dijadikan bahan panduan bagi para
pendidik (guru) untuk meningkatkan kulitas pembelajaran. Selain itu hasil-hasil PTK
yang dilaporkan dapat dijadikan sebagai bahan artikel ilmiah atau makalah untuk
berbagai kepentingan antara lain disajikan dalam forum ilmiah.
2. Menumbuhkembangkan kebiasaan, budaya, dan atau tradisi meneliti dan menulis
artikel ilmiah di kalangan pendidik. Hal ini ikut mendukung profesionalisme dan karir
pendidik.
3. Mewujudkan kerja sama, kaloborasi, dan atau sinergi antar pendidik dalam satu
sekolah atau beberapa sekolah untuk bersama-sama memecahkan masalah dalam
pembelajaran dan meningkatkan mutu pembelajaran.
4. Meningkatkan kemampuan pendidik dalam upaya menjabarkan kurikulum atau
program pembelajaran sesuai dengan tuntutan dan konteks lokal, sekolah, dan kelas.

6
5. Memupuk dan meningkatkan keterlibatan, kegairahan, ketertarikan, kenyamanan, dan
kesenangan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas. Di samping itu,
hasil belajar siswa pun dapat meningkat.
6. Mendorong terwujudnya proses pembelajaran yang menarik, menantang, nyaman,
menyenangkan, serta melibatkan siswa karena strategi, metode, teknik, dan atau
media yang digunakan dalam pembelajaran demikian bervariasi dan dipilih secara
sungguh-sungguh.

D. Bentuk-bentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Ada beberapa bentuk penelitian tindakan kelas. Oja dan Smulyan (1989) dalam
Sudarsono (1997)membedakan adanya empat bentuk penelitian tindakan kelas, yaitu:
1. Guru sebagai peneliti.
2. Penelitian Tindakan Kolaboratif
3. Simultan Terintegratif
4. Administrasi Sosial Eksperimental

Pada bentuk yang pertama merupakan bentuk Penelitian Tindakan Kelas yang
memandang guru sebagai peneliti memiliki ciri penting yaitu sangat berperannya guru itu
sendiri dalam proses penelitian tindakan kelas. Dalam bentuk ini, tujuan utama penelitian
ialah meningkatkan praktek pembelajaran di kelas di mana guru terlibat secara penuh dalam
proses perencanaan, aksi (tindakan) dan refleksi. Dalam bentuk penelitian ini, guru mencari
problema sendiri untuk dipecahkan melalui penelitian tindakan kelas. Jika melibatkan orang
lain perannya tidak dominan. Sebaliknya keterlibatan pihak lain dari luar hanya bersifat
konsultatif dalam mempertajam atau mencari problema pembelajaran di kelas. Guru sebagai
peneliti, peran pihak luar (orang lain) sangat kecil dalam proses penelitian.
Pada bentuk penelitian kedua, Penelitian Tindakan Kelas Kolaboratif, melibatkan
beberapa pihak baik guru, kepala sekolah maupun dosen secara serentak dengan tujuan untuk
meningkatkan praktek pembelajaran, menyumbang pada perkembangan teori dan karier guru.
Model penelitian kolaboratif ini dirancang dan dilaksanakan oleh sutu tim yang terdiri dari
guru, dosen dan kepala sekolah. Hubungan antara ketiga pihak tersebut bersifat kemitraan
yang dapat secara bersama-sama memikirkan persoalan-persoalan yang dihadapi untuk
diteliti melalui penelitian kolaboratif

7
Pada bentuk ketiga, Simultan Terintegratif, tujuan utama penelitian adalah untuk dua
hal sekaligus yaitu memecahkan persoalan praktis dalam pembelajaran praktis, dan untuk
menghasilkan pengetahuan yang ilmiah dalam bidang pembelajaran di kelas. Dalam
penelitian ini guru dilibatkan pada proses penelitian kelasnya, terutama aspek aksi dan
refleksi terhadap praktek-praktek pembelajaran di kelas. Meskipun demikian persoalan-
persoalan pembelajaran yang diteliti datang dan diidentifikasi oleh peneliti dari luar.
Pengambil posisi innovator adalah peneliti dari luar.
Pada penelitian tindakan kelas keempat, Administrasi Sosial Ekspermental, lebih
menekankan dampak kebijakan dan praktek. Dalam pelaksanaannya guru tidak dilibatkan
baik dalam perencanaan, aksi maupun refleksi terhadap praktek pembelajarannya. Guru tidak
banyak memberikan masukan pada proses penelitian ini. Tanggung jawab penelitian
sepenuhnya ada pada pihak luar. Dalam bentuk ini peneliti bekerja atas dasar hipotesis
tertentu, kemudian melakukan bentuk tes dalam sebuah eksperimen.

E. Model-model Penelitian Tindakan Kelas (PTK)


Ada beberapa model Penelitian Tindakan Kelas. Berikut akan dibahas tiga model
Penelitian Tindakan Kelas.

1. Model Kurt Lewin


Model Kurt Lewin menjadi acuan dari berbagai model penelitian tindakan karena Kurt
Lewin yang pertama kali memperkenalkan penelitian tindakan atau action research. Dengan
demikian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ada yang mengacu pada model Kurt Lewin.
Komponen pokok dalam penelitian tindakan Kurt Lewin adalah:
a. Perencanaan (planning)
b. Tindakan (acting)
c. Pengamatan (observing)
d. Refleksi (reflecting)

Hubungan keempat konsep pokok tersebut digambarkan dengan diagram sebagai


berikut.

8
2. Model Kemmis & Taggart
Konsep dasar yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin dikembangkan oleh Kemmis & Mc.
Taggart. Komponen tindakan (acting) dengan pengamatan (observing) disatukan dengan
alasan kedua kegiatan itu tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena kedua kegitan
harusalah dilakukan dalam satu kesatuan waktu. Begitu berlangsung suatu kegiatan
dilakukan, kegiatan observasi harus dilakukan sesegera mungkin. Bentuk model dari Kemmis
dan Mc. Taggart dapat divisualisasikan sebagai berikut:

9
Model Kemmis & Mc. Taggart bila dicermati hakekatnya berupa perangkat-perangkat
atau untaian–untaian dengan satu perangkat terdiri dari empat komponen yaitu
perencanaan,tindakan, pengamatan dan refleksi. Untaian tersebut dipandang sebagai suatu
siklus. Oleh karena itu pengertian siklus di sini adalah putaran kegiatan yang terdiri dari
perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Banyaknya siklus dalam penelitian tindakan
kelas tergantung dari permasalahan yang perlu dipecahkan, semakin banyak permasalahan
yang ingin dipecahkan semakin banyak pula siklus yang akan dilalui. Jika suatu penelitian
tindakan kelas ingin mengkaitkan materi pelajaran dan kompetensi dasar dengan sendirinya
jumlah siklus untuk setiap mata pelajaran melibatkan lebih dari dua siklus.(Depdiknas, 2005).

3. Model Hopkins
Berdasarkan model-model Penelitian Tindakan Kelas dari Kurt Lewin, Kemmis & Mc.
Taggart, Hopkin menyusun desain sendiri dengan skema sebagai berikut.

10
F. Desain dan prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

1. Desain Penelitian Tindakan kelas


Dalam penyusunan desain dan prosedur penelitian tindakan kelas perlu dirumuskan
terlebih dahulu rencana berdasarkan informasi yang lebih lengkap dan lebih kritis. Ada empat
aspek pokok dalam penelitian tindakan kelas yang harus diperhatikan yaitu penyusunan
program, tindakan, observasi dan refleksi, selanjutnya akan diuraikan sebagai berikut.
1.1. Penyusunan program
Rencana penelitian tindakan merupakan tindakan yang tersusun dan dari segi definisi
harus prospektif pada tindakan. Rencana itu harus memandang ke depan. Rencana itu harus
mengakui bahwa semua tindakan sosial dalam batas tertentu tidak dapat diramalkan, dan oleh
sebab itu agak mengandung resiko. Rencana harus bersifat fleksibel untuk dapat
diadabtasikan dengan pengaruh yang tak dapat terduga dan kendala yang sebelumnya tidak
terlihat. Tindakan yang telah direncanakan harus disampaikan dengan dua pengertian.
Pertama, tindakan harus mempertimbangkan resiko yang ada dalam perubahan sosial di kelas
dan mengakui kendala nyata baik yang bersifat material maupun psikologis. Kedua, tindakan
yang akan dilaksanakan hendaknya dipilih karena menungkinkan peserta didik untuk
bertindak secara lebih efektif dalam berbagai keadaan, secara lebih bijaksana dan hati-hati
(Suwarsih Madya, 1994). Kendala itu hendaknya (1) membantu peneliti (guru) untuk
mengatasi kendala yang ada dan memberikan kewenangan untuk bertindak lebih tepat guna
dalam situasi terkait dan lebih berhasil guna sebagai pendidik, pelaksana dan pimpinan di
kelas, dan (2) membantu para guru sebagai peneliti menyadari potensi baru mereka untuk
melakukan tindakan guna meningkatkan kualitas kerja mereka. Sebagai bagian dari proses
perencanaan, praktisi penelitian harus berkolaborasi dalam diskusi untuk mengembangkan
bahasa yang dipakainya dalam menganalisis dan meningkatkan pemahaman dan tindakan
mereka dalam situasi terkait.

1.2. Tindakan
Tindakan yang dimaksud adalah tindakan yang dilakukan secara sadar dan terkendali,
yang merupakan variasi praktek yang cermat dan bijaksana. Sehubungan dengan hal itu,
praktek diakui sebagai gagasan dalam tindakan, dan tindakan itu digunakan sebagai pijakan
bagi pengembangan tindakan-tindakan berikutnya, yaitu tindakan yang disertai niat untuk
memperbaiki keadaan. Tindakan dituntun oleh perencanaan dalam arti bahwa rencana
hendaknya diacu dalam hal dasar pemikirannya, namun demikian perlu diingat bahwa

11
tindakan itu tidak secara mutlak dikendalikan oleh rencana. Tindakan itu secara mendasar
mengandung resiko karena terjadi dalam situasi nyata dan berhadapan dengan
kendalakendala di kelas maupun lingkungannya, yang secara tiba-tiba dan tak terduga. Oleh
karena itu, rencana tindakan harus selalu bersifat tentatif dan sementara, fleksibel dan siap
diubah sesuai dengan keadaan yang ada. Salah satu perbedaan antara penelitian tindakan dan
tindakan biasa adalah bahwa penelitian tindakan diamati. Pelakunya bertujuan
mengumpulkan bukti tentang tindakan mereka agar dapat sepenuhnya menilainya. Untuk
mempersiapkan evaluasi, sebelum bertindak mereka memikirkan jenis bukti yang akan
diperlukan untuk mengevaluasi tindakannya secara kritis.

1.3. Observasi
Observasi berfungsi untuk mendokumentasikan pengaruh tindakan terkait. Observasi
berorientasi ke masa yang akan datang, memberikan dasar bagi refleksi sekarang, terlebih
lagi ketika putaran sekarang ini berjalan. Observasi yang cermat diperlukan karena tindakan
selalu akan dibatasi oleh kendala realitas, dan semua kendala itu belum pernah dapat dlihat
dengan jelas di masa lalu. Observasi harus direncanakan, sehingga akan ada dokumen untuk
refleksi berikutnya. Rencana observasi harus fleksibel dan terbuka untuk mencatat hal-hal
yang tak terduga. Peneliti tindakan kelas harus selalu memiliki jurnal untuk mencatat hal-hal
yang luput dari observasi dalam kategori observasi yang direncanakan (Depdiknas, 2005).
Peneliti tindakan kelas harus mengamati proses tindakannya, pengaruh tindakannya (yang
disengaja atau tidak disengaja), keadaan dan kendala tindakan, cara keadaan dan kendala
tersebut menghambat atau mempermudah tindakan yang telah direncanakan dan
pengaruhnya, serta persoalan-persoalan lain yang muncul. Observasi harus selalu dituntun
oleh niat yang sehat bagi refleksi diri yang kritis. Observasi memberikan tanda tentang
pencapaian refleksi. Dengan cara, observasi dapat memberikan andil pada perbaikan praktek
melalui pemahaman yang lebih baik dan tindakan yang secara lebih kritis dipikirkan. Akan
tetapi bahan pokok yang diobservasikan akan selalu berupa tindakan pengaruhnya dan
konteks situasi tempat tindakan itu harus dilakukan.

1.4. Refleksi
Refleksi adalah mengingat dan merenungkan kembali suatu tindakan persis
seperti yang telah dicatat dalam observasi. Refleksi berusaha memahami proses, masalah,
persoalan, dan kendala yang nyata dalam tindakan strategi. Refleksi mempertimbangkan
ragam perspektif yang mungkin ada dalam situasi sosial, dan memahami persoalan dan

12
keadaan tempat timbulnya persolan itu. Refleksi biasanya dibantu dengan diskusi di antara
peserta. Melalui diskusi, refleksi kelompok sampai pada rekonstruksi makna dan memberikan
dasar perbaikan rencana. Refleksi memiliki aspek evaluatif. Dengan refleksi peneliti diminta
untuk menimbang-nimbang pengalamannya, untuk menilai apakah persoalan yang timbul
memang diinginkan, dan memberikan saran-saran tentang cara-cara untuk meneruskan
pekerjaan. Ada pula pengertian bahwa refleksi itu deskriptif, yaitu memungkinkan dilakukan
peninjauan, pengembangan gambaran yang lebih penting lagi adalah tentang apa yang
sekarang mungkin dilakukan untuk kelompok dan untuk tiap-tiap anggota bertanggung jawab
dalam rangka mencapai tujuan.
Penelitian tindakan kelas merupakan proses dinamis yang didalamnya terdapat empat
momen yang harus dipahami bukan sebagai langkah statis yang komplit, tetapi sebagai
momen dalam spiral perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Peningkatan pemahaman
pertama-tama akan muncul sebagai dasar pemikiran bagi prakteknya. Dasar pemikiran itu
dikembangkan dengan diuji oleh kelompok dalam praktek, setiap proposisi dalam dasar
pemikiran dapat dicocokkan dengan praktek dan dengan bagian lain dari dasar pemikiran itu.
Dalam jangka panjang, proposisi ini akan berkembang menjadi perspektif kritis tentang
praktek dan tentang bidang yang terkait itu sendiri seperti pendidikan, dan menjadi teori kritis
yang mencakup pertimbangan tentang masalah-masalah seperti bagaimana siswa oleh sistem
penyampaian pesan sekolah terkait (kurikulum, kegiatan belajar mengajar dan pelaksanaan
penilaian).

2. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas


Dalam melaksanakan suatu penelitian tindakan kelas, peneliti harus mengikuti prosedur
tertentu yang membimbing peneliti untuk melakukan kegiatan penelitian secara
runtut/sistematik. Langkah yang umum dalam penelitian tindakan kelas yang dapat dipakai
sebagai berikut.
a. Mengidentifikasi masalah
b. Menganalisis masalah dan menentukan faktor-faktor yang diduga sebagai penyebab.
c. Merumuskan gagasan-gagasan pemecahan masalah bagi faktor penyebab utama
yang gawat dengan mengumpulkan data dan menafsirkannya untuk mempertajam
gagasan tersebut dan untuk merumuskan hipotesis tindakan sebagai pemecahan.
d. Kelayakan solusi atau pilihan tindakan pemecahan masalah.

13
Dalam mengindentifikasi masalah hendaknya ditentukan kriteria di antaranya
adalah:
1) Masalahnya harus penting bagi orang yang mengajukan masalah dan sekaligus
signifikan.
2) Masalah yang diajukan hendaknya dalam jangkauan penanganan.
3) Pernyataan harus mengungkapkan beberapa demensi fundamental.

Beberapa saran yang dapat dilakukan dalam mengidentifikasi dan merumuskan


masalah sebagai berikut.
1) Guru menuliskan semua kejadian yang memerlukan perhatian terutama yang
berkaitan dengan pembelajaran, misalnya: penyampian materi, daya tangkap siswa,
intensitas waktu, sikap siswa, minat siswa, motivasi dll.
2) Semua kejadian yang ada seperti tersebut di atas dikelompokkan atau diklasifikasi
menurut jenis permasalahannya.
3) Urutkan dari klasifikasi ringan sampai yang paling berat.
4) Pilih 2 sampai 4 permasalahan di atas, dan konfirmasikan kepada teman sejawat yang
mengajar dalam mata pelajaran sejenis di sekolahnya atau sekolah lain melalui
kegiatan MGMP misalnya.
5) Jika masalah yang dirumuskan mendapat konfirmasi maka masalah tersebut betul-
betul merupakan masalah yang dapat diangkat sebagai calon masalah.
6) Calon masalah dikaji kelayakannya atau signifikansinya untuk dipilih menjadi
masalah dan rumuskan dengan kalimat.

Dalam menganalisis masalah dan menentukan faktor-faktor yang diduga sebagai


penyebab perlu kiranya peneliti menganalisis untuk mengetahui problem-problem yang
mungkin ada untuk mengidentifikasi aspek-aspek penting. Dalam merumuskan hipotesis
perlu kiranya terlebih dahulu peneliti mengkaji teori-teori yang berkenaan dengan masalah
yang diajukan. Hasil-hasil penelitian yang relevan akan memperkuat dalam merumuskan
hipotesis. Perlu disadari bahwa hipotesis tindakan bukanlah hipotesis hubungan antar variabel
atau perbedaan antar variabel tetapi memuat tindakan yang diusulkan untuk mengahasilkan
perbaikan dalam pendidikan. Mempertimbangkan prosedur-prosedur yang mungkin dapat
dilaksanakan merupakan hal yang penting agar upaya perbaikan yang diinginkan tercapai
(Depdiknas, 2005).

14
Langkah selanjutnya adalah membuat rancangan bagaimana tindakan sebagai
pemecahan masalah dilaksanakan. Oleh karena itu peneliti perlu membuat desain dan
prosedur implementasinya dengan tahap kegiatan seperti dikemukakan Sudarsono, (1996)
sebagai berikut.
1. Merancang model PTK sesuai dengan dengan permasalahan, rencana kegiatan,
tindakan dan keadaan atau situasi kelas.
2. Mengatur langkah-langkah tindakan yang akan dilakukan.
3. Melakukan identifikasi komponen-komponen pendukung yang diperlukan.
4. Melakukan pengaturan dan penyusunan jadwal kegiatan yang akan dilakukan.
5. Menyusun rancangan tindakan sesuai dengan model penelitian tindakan kelas dan
jadwal kegiatan.
Setelah penyusunan desain dan prosedur selesai langkah berikutnya adalah menerapkan
atau melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

15
BAB III

REKAYASA IDE

PELAKSANAAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

PENGARUH MEDIA CROSSWORD PUZZLE DALAM


MENINGKATKAN VOCABULARY SISWA PADA
MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahasa dalam kehidupan sehari-hari sangat memegang peranan penting terutama dalam
pengungkapan pikiran seseorang atau merupakan sarana untuk berfikir, menalar dan
menghayati kehidupan. Menurut Iskandarwarsid (2009) bahasa adalah sebagai alat
komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pikiran dan perasaan terhadap seseorang
atau sekelompok orang. Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual,
sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam
mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik
mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain. Menurut Danarti (2008), mempelajari
bahasa asing terutama bahasa Inggris merupakan suatu keharusan karena semakin
mengglobalnya dunia sehingga menuntut orang agar cakap dalam berbahasa Inggris.
Pengenalan bahasa semenjak dini sebaiknya dikenalkan dengan berbagai metode yang
sedemikian rupa sehingga ada ketertarikan siswa untuk belajar bahasa. Pengajaran bahasa,
khususnya bahasa Inggris sebagai salah satu dasar yang paling penting yang harus dikuasai
dalam proses belajar mengajar adalah kosa kata. Karena dengan kosa kata siswa dapat
melatih keterampilan berbahasa dengan baik. Penguasaan kosa kata bahasa Inggris untuk
anak sekolah dasar tidak luput dari pembelajaran yang disampaikan guru dengan
menggunakan metode-metode ataupun langkah-langkah yang dapat membangkitkan
semangat anak untuk mempelajari bahasa Inggris. Menurut Sumantri dan Permana (2001),
metode adalah cara-cara yang ditempuh guru untuk menciptakan situasi pengajaran yang
benar-benar menyenangkan dan mendukung bagi kelancaran proses belajar dan tercapainya

16
prestasi belajar anak yang memuaskan. Dengan metode yang kreatif dan tidak monoton
dalam pembelajaran, siswa dapat lebih bersemangat dan tertarik untuk mengikuti
pembelajaran bahasa Inggris.
Soeparno mengungkapkan bahwa: “Permainan merupakan suatu aktivitas untuk
memperoleh suatu keterampilan tertentu dengan cara yang menggembirakan” (1988: 60).
Metode permainan adalah metode dalam pembelajaran yang dapat membangkitkan gairah
dan semangat belajar dengan rasa senang sehingga siswa tidak bosan dan bahkan senang
dengan pembelajaran tersebut walaupun mungkin materi sulit. Permainan ini digunakan
untuk mengubah pembelajaran yang semula pasif menjadi aktif, kaku menjadi gerak, dari
jenuh menjadi riang. Permainan ini menggunakan permainan crossword puzzle atau yang
disebut dengan teka teki silang atau disingkat TTS adalah suatu permainan (game), kita harus
mengisi ruang-ruang kosong (berbentuk kotak putih) dengan huruf-huruf yang membentuk
sebuah kata berdasarkan petunjuk yang diberikan. Petunjuk biasa dibagi ke dalam kategori
'mendatar' dan 'menurun' tergantung posisi kata-kata yang harus diisi. Menurut Soeparno,
permainan Crossword Puzzle bertujuan untuk membina dan mengembangkan penguasaan
kosa kata. Hal ini mengkhususkan dalam penguasaan bahasa Inggris (1988: 72). Dari
permainan ini siswa akan lebih mudah untuk melatih daya ingat dalam penguasaan kosa kata
khususnya bahasa Inggris, serta siswa akan lebih senang dan aktif dalam mengikuti pelajaran.
Berdasarkan uraian di atas, maka diperlukan guru yang kreatif dalam meningkatkan
semangat belajar siswa khususnya bahasa Inggris serta guru dapat menciptakan suasana yang
ceria dan menyenangkan dalam pembelajaran. Oleh karena itu, penulis perlu mengadakan
penelitian yaitu dengan penelitian tindakan kelas sebagai upaya peningkatan penguasaan kosa
kata siswa dalam belajar bahasa Inggris bertujuan untuk mengetahui langkah-langkah dalam
permainan Crossword Puzzle dan mengetahui metode permainan Crossword Puzzle dapat
meningkatkan penguasaan kosa kata bahasa Inggris pada siswa.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan dari latar belakang diatas adapun rumusan masalah yang akan
dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
“Apakah peningkatan vocabulary siswa pada mata pelajaran bahasa Inggris yang
menggunakan media crossword puzzle lebih baik dibandingkan dengan siswa yang tidak
menggunakan media crossword puzzle?”

17
C. Tujuan Penelitian
Adapun penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis peningkatan
vocabulary siswa yang menggunakan media crossword puzzle dibandingkan dengan siswa
yang tidak menggunakan media crossword puzzle.
D. Manfaat Penelitian

Penelitiaan ini diharapkan memberikan manfaat atau pengaruh terhadap peneliti dan
yang hendak diteliti:
a. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan ilmu dan pengetahuan bagi
dunia pendidikan, khususnya memperkaya khasanah ilmu pengetahuan di bidang
akademik maupun non akademik.
b. Manfaat Praktis
1) Bagi Siswa:
a) Siswa dapat mudah memahami dan menguasai vocabulary dengan lebih baik.
b) Dengan adanya media crossword puzzle pembelajaran bahasa Inggris akan
lebih mudah diingat oleh siswa.

2) Bagi Guru Mata Pelajaran Bahasa Inggris


Sebagai sumber tambahan wawasan dan intropeksi sudah sampai sejauh mana
peran guru dalam pelaksanaan pembelajaran (belajar mengajar) di kelas terutama
pada materi vocabulary dan sebagai inovasi pembelajaran agar lebih menarik.

3) Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengalaman dan menjadi rujukan
peneliti untuk pembelajaran selanjutnya.

18
PEMBAHASAN
A. Pengertian Crossword Puzzle

Salah satu kegiatan proses belajar mengajar adalah dengan meminta siswa untuk
mengerjakan tugas-tugas tertentu, baik yang dikerjakan secara mandiri maupun berkelompok.
Seringkali siswa juga diminta untuk membaca suatu topik guna menyusun suatu laporan
singkat atau untuk menjawab sebuah pertanyaan-pertanyaan dalam suatu soal. Dalam
pembelajaran, tugas utama guru adalah membelajarkan siswa, yaitu mengkondisikan siswa
agar belajar aktif sehingga potensi dirinya (kognitif, afektif, dan psikomotorik) dapat
berkembang dengan maksimal.
Dengan belajar aktif, melalui partisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran, akan
terlatih dan terbentuk kompetensi yaitu kemampuan siswa untuk melakukan sesuatu yang
sifatnya positif yang pada akhirnya akan membentuk life skill sebagai bekal hidup dan
penghidupannya. Agar hal tersebut di atas dapat terwujud, guru seyogianya mengetahui
bagaimana cara siswa belajar dan menguasai berbagai strategi pembelajaran membelajarkan
siswa. Model belajar akan membahas bagaimana cara siswa belajar, sedangkan strategi
pembelajaran akan membahas tentang bagaimana cara membelajarkan siswa dengan berbagai
variasinya sehingga terhindar dari rasa bosan dan tercipta suasana belajar yang nyaman dan
menyenangkan. Maka dari itu, seorang guru dituntut untuk kreatif memadukan suatu
permainan di dalam proses belajar mengajar, salah satunya yaitu dengan menggunakan
strategi pembelajaran permainan crossword puzzle.
Philip (2008) medefinisikan Crossword puzzle adalah suatu permainan teka-teki
(puzzle) silang atau sejenisnya yang berguna untuk mempelajari pola pikir, pemikiran logis,
sistem pendekatan serta pemecahan masalah secara umum.
Sebuah teka-teki bisa membuat kita berpikir, mencari dan menemukan jawaban. Akan
tetapi, kehidupan yang penuh dengan teka-teki kadangkala menyenangkan, membingungkan
dan menyulitkan langkah kita untuk memecahkannya. Dari sini teka-teki bisa menutrisi
kesegaran pikiran dari kepenatan sekaligus menambah wawasan dan mengasah kemampuan
otak.
Teka-teki silang akhirnya dalam kegunaanya pun berkembang sampai ke dalam ranah
pendidikan. Materi-materi pelajaran yang ada disekolah pun dimasukkan di dalamnya. Maka
dalam proses pembelajaran, strategi pembelajaran crossword puzzle menjadi sebuah model
strategi pembelajaran alternatif yang dapat digunakan oleh guru kepada siswa-siswinya
sebagai suatu pembelajaran yang kreatif, imajinatif dan menyenangkan.

19
B. Langkah-langkah Strategi Pembelajaran Crossword Puzzle
Di dalam crossword puzzle (teka-teki silang) tidak hanya sebuah kumpulan pertanyaan
teka-teki yang dibukukan, akan tetapi memiliki sebuah pemikiran logis serta pemecahan
masalah secara umum. Tak sekedar sebagai hiburan, tetapi juga dapat mendidik kita maupun
siswa untuk terus menambah wawasan dan mengasah kemampuan berpikir cepat. Di dalam
sebuah prosesnya pun harus disesuaikan dengan tingkatan usia dan materi pelajaran yang
akan diberikan oleh seorang guru kepada siswa-siwinya.

Atas dasar pemikiran tersebut maka upaya pengembangan strategi mengajar harus
diarahkan kepada suasana yang menyenangkan, salah satunya dengan menggunakan strategi
pembelajaran crossword puzzle (teka-teki silang). Langkah-langkahnya menurut Hisyam
(2008) yaitu:
a. Tulislah kata-kata kunci (clue), terminologi atau nama-nama yang berhubungan
dengan materi pelajaran yang telah anda berikan.
b. Buatlah kisi-kisi yang dapat diisi dengan kata-kata yang telah dipilih (seperti dalam
teka-teki silang). Hitamkan bagian yang tidak diperlukan.
c. Buatlah pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya adalah kata-kata yang telah dibuat
atau dapat juga hanya membuat pernyataan-pernyataan mengarah kepada kata-kata
tersebut.
d. Bagikan teka-teki ini kepada peserta didik. Bisa melalui individu maupun secara
berkelompok.
e. Batasi waktu mengerjakan.
f. Beri hadiah kepada kelompok atau individu yang telah melengkapi teka teki silang
dengan lengkap dan benar.

Dengan strategi ini, diharapkan pada proses belajar selanjutnya siswa dapat meningkatkan
tanggung jawab belajar dalam suasana menarik, kreatif dan menyenangkan tanpa adanya
kejenuhan dan kebosanan disaat siswa belajar.

C. Pengertian Vocabulary (Kosa Kata)

Vocabulary is the total number of words in a language. It is also a collection of words a


person knows and uses in speaking and writing. Kosa kata atau perbendaharaan kata adalah
jumlah seluruh kata dalam suatu bahasa. Juga kemampuan kata-kata yang diketahui dan

20
digunakan seseorang dalam berbicara dan menulis. Kosa kata dari suatu bahasa itu selalu
mengalami perubahan dan berkembang karena kehidupan yang semakin kompleks.
Berdasarkan definisi di atas, jelas bahwa penguasaan kosa kata yang cukup, penting
untuk bisa belajar bahasa dengan baik. Kosa kata adalah kata-kata yang dipahami orang baik
maknanya maupun penggunaannya. Seseorang harus punya kosa kata yang cukup untuk bisa
memahami apa yang dibaca dan di dengar, bisa berbicara dan menulis dengan kata yang tepat
sehingga bisa dipahami oleh orang lain.

D. Mata Pelajaran Bahasa Inggris


Mata pelajaran dalam bahasa Indonesia diartikan dengan pelajaran yang harus
diajarkan, dipelajari untuk sekolah dasar atau sekolah lanjutan.
Bahasa adalah penggunaan kode yang merupakan gabungan fonem sehingga
membentuk kata dengan aturan sintaks untuk membentuk kalimat yang memiliki arti. Bahasa
memiliki berbagai definisi. Definisi bahasa adalah sebagai berikut:
1) Suatu sistem untuk mewakili benda, tindakan, gagasan dan keadaan.
2) Suatu peralatan yang digunakan untuk menyampaikan konsep riil mereka ke dalam
pikiran orang lain.
3) Suatu kesatuan sistem makna.
4) Suatu kode yang yang digunakan oleh pakar linguistik untuk membedakan antara
bentuk dan makna.
5) Suatu ucapan yang menepati tata bahasa yang telah ditetapkan (contoh: Perkataan,
kalimat, dan lain-lain.)
6) Suatu sistem tuturan yang akan dapat dipahami oleh masyarakat linguistik

Menurut Owen dalam Stiawan (2006:1), menjelaskan definisi bahasa yaitu language
can be defined as a socially shared combinations of those symbols and rule governed
combinations of those symbols(bahasa dapat didefensisikan sebagai kode yang diterima
secara sosial atau sistem konvensional untuk menyampaikan konsep melalui kegunaan
simbol-simbol yang dikehendaki dan kombinasisimbol-simbol yang diatur oleh ketentuan).6
Gorys Keraf (2001:3-8) menyatakan bahwa ada empat fungsi bahasa, yaitu:
1. Alat untuk menyatakan ekspresi diri. Bahasa menyatakan secara terbuka segala sesuatu
yang tersirat di dalam dada kita, sekurang – kurangnya untuk memaklumkan
keberadaan kita.

21
2. Alat komunikasi. Bahasa merupakan saluran perumusan maksud yang melahirkan
perasaan dan memungkinkan adanya kerjasama antar individu.
3. Alat mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. Bahasa merupakan salah satu unsur
kebudayaan yang memungkinkan manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman
mereka, mempelajari dan mengambil bagian dalam pengalaman tersebut, serta belajar
berkenalan dengan orang-orang lain.
4. Alat mengadakan kontrol sosial. Bahasa merupakan alat yang dipergunakan dalam
usaha mempengaruhi tingkah laku dan tindak tanduk orang lain. Bahasa juga
mempunyai relasi dengan proses-proses sosialisasi suatu masyarakat.
Bahasa Inggris merupakan alat untuk berkomunikasi secara lisan dan tulis.
Berkomunikasi adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, dan
mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya. Kemampuan berkomunikasi
dalam pengertian yang utuh adalah kemampuan berwacana, yakni kemampuan memahami
dan/atau menghasilkan teks lisan dan/atau tulis yang direalisasikan dalam empat keterampilan
berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat keterampilan
inilah yang digunakan untuk menanggapi atau menciptakan wacana dalam kehidupan
bermasyarakat. Oleh karena itu,mata pelajaran Bahasa Inggris diarahkan untuk
mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut agar lulusan mampu berkomunikasi dan
berwacana dalam bahasa Inggris pada tingkat literasi tertentu.

PENUTUP
A. Kesimpulan
Sebuah teka-teki bisa membuat kita berpikir, mencari dan menemukan jawaban. Akan
tetapi, kehidupan yang penuh dengan teka-teki kadangkala menyenangkan, membingungkan
dan menyulitkan langkah kita untuk memecahkannya. Dari sini teka-teki bisa menutrisi
kesegaran pikiran dari kepenatan sekaligus menambah wawasan dan mengasah kemampuan
otak. Teka-teki silang akhirnya dalam kegunaanya pun berkembang sampai ke dalam ranah
pendidikan. Materi-materi pelajaran yang ada disekolah pun dimasukkan di dalamnya. Maka
dalam proses pembelajaran, strategi pembelajaran crossword puzzle menjadi sebuah model
strategi pembelajaran alternatif yang dapat digunakan oleh guru kepada siswa-siswinya
sebagai suatu pembelajaran yang kreatif, imajinatif dan menyenangkan.
Penguasaan kosa kata yang cukup, penting untuk bisa belajar bahasa dengan baik. Kosa
kata adalah kata-kata yang dipahami orang baik maknanya maupun penggunaannya.

22
Seseorang harus punya kosa kata yang cukup untuk bisa memahami apa yang dibaca dan di
dengar, bisa berbicara dan menulis dengan kata yang tepat sehingga bisa dipahami oleh orang
lain.
B. Saran
Dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu, saran
penulis kepada para pembaca yang ingin mengembangkan makalah ini adalah diharapkan
menambah penjelasan atau pun pengertian tentang Penelitian Tindakan Kelas terkhusus
tentang crossword puzzle didalam penguasaan vocabulary (kosa kata), sehingga memberikan
gambaran secara lebih lengkap dan nyata tentang metode penelitian tindakan kelas.

23
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Penelitian Tindakan Kelas merupakan salah satu jenis kegiatan pengembangan profesi
guru. Jenis penelitian ini pada dasarnya merupakan kegiatan penelitian yang dapat
dilaksanakan guru dalam kelasnya dan hasilnya dapat digunakan untuk memperbaiki mutu
praktik pembelajarannya. PTK betujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil
pembelajaran siswa di kelas maupun sekolahnya. PTK berfokus pada kelas atau proses
pembelajaran yang terjadi di kelas, bukan pada input kelas sehingga PTK harus bertujuan
atau mengenai hal-hal yang terjadi di kelas.
PTK merupakan bagian penting dari upaya pengembangan profesi guru karena dengan
PTK mampu membelajarkan guru untuk berfikir kritis dan sistematis, serta membelajarkan
guru untuk menulis. Untuk itu perlu kiranya guru secara terus menerus mengupayakan diri
melakukan penelitian tindakan kelas demi peningkatan/perbaikan pembelajarannya di kelas
dan pengembangan diri sebagai guru profesional.

B. SARAN

Dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu, saran
penulis kepada para pembaca yang ingin mengembangkan makalah ini adalah diharapkan
menambah penjelasan atau pun pengertian tentang Penelitian Tindakan Kelas, sehingga
memberikan gambaran secara lebih lengkap dan nyata tentang metode penelitian tindakan
kelas.

24
DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2005. ”Penulisan Karya Ilmiah” dalam Materi Pelatihan Terintegrasi Jilid 3.
Jakarta: Depdiknas Dirjen Pendidikan Dasar dan Mengengah Direktorat Pendidikan
Lanjutan Pertama.
Kemmis, S. and McTaggart, R.1988. The Action Researh Reader. Victoria, Deakin
University Press.

Suhardjono. 2005. Laporan Penelitian Eksperimen dan Penelitian Tindakan Kelas sebagai
KTI, Makalah pada “Pelatihan Peningkatan Mutu Guru di Makasar”, Jakarta, 2005.

Sudarsono. 1997. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK): Bagian kedua.
Jakarta: Dirjen Dikti Proyek Pendidikan Tenaga Akademik Bagian Pengembangan
Pendidikan Guru Sekolah Dasar (BP3GSD).
Suparno, Paul. 2008. Riset Tindakan untuk Pendidikan. Jakarta: PT Gramedia Widia Sarana
Indonesia.
Suyanto. 1997. Pedoman PelaksanaanPenelitian Tindakan Kelas (PTK)., Bagian satu. Jakarta:
Dirjen Dikti Depdikbud Proyek Pendidikan Tenaga Akademik Bagian Pengembangan
Pendidikan Guru Sekolah Dasar (BP3GSD).

Wiriatmadya, Rochmiati. 2007. Metode Penelitian Tindakan Kelas untuk Meningkatkan


Kinerja Guru dan Dosen. Bandung: Program Pascasarjana Universitas Pendidikan
Indonesia bekerjasama PT Remaja Rosdakarya.

25

Anda mungkin juga menyukai