Anda di halaman 1dari 18

TUGAS AUDITING

Materialitas dan Risiko

Nama Kelompok:

1. Pratama Endar A (108694060)


2. Firninda Yosi (108694070)
3. Stefani Rosaria P. (108694071)
4. Marshya Aprilia (108694072)

S1 AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2012
Cakupan paragraf dalam laporan auditor meliputi dua frase penting yang terkait
langsung dengan materialitas dan resiko. Kedua frase tersebut adalah :
1. Frase Mendapatkan Tingkat Keyakinan yang Memadai
Frase ini dimaksudkan untuk menginformasikan kepada para pengguna laporan bahwa
auditor tidak memberikan jaminan atau keyakinan absolut atas penyajian yang wajar
dalam laporan keuangan.
2. Frase Bebas dari Salah Saji Material
Frase ini dimaksudkan untuk menginformasikan kepada para pengguna laporan bahwa
tanggung jawab auditor terbata hanya pada informasi keuangan yang material.
Materialitas sangat penting karena tidak mungkin bagi auditor untuk memberikan
keyakinan atas jumlah yang signifikan.

MATERIALITAS
Materialitas merupakan pertimbangan utama dalam menetukan laporan audit yang
tepat untuk diterbitkan. Sedangkan FASB mendefinisikan materialitas sebagai besarnya
nilai yang dihilangkan atau salah saji informasi akuntansi yang dilihat dari keadaan yang
melingkupinya dapat mengakibatkan perubahan atas atau pengaruh terhadap
pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan terhadap informasi tersebut, karena
adanya penghilangan atau salah saji tersebut.
Oleh karena para auditor betanggung jawab untuk menetukan apakah terdapat
salah saji material dalam laporan keuangan, maka jika terdapat penemuan suatu salah saji
material, mereka harus membuatnya menjadi perhatian klien, sehingga dapat dilakukan
koreksi atas salah saji tersebut. Untuk menentukan hal tersebut, auditor sangat bergantung
kepada pengetahuan yang mendalam atas penerapan materialitas.
Auditor harus mengikuti lima langkah terkait dalam menerapkan materialitas.
Kelima langkah tersebut adalah :
1. Auditor menetapkan penilaian awal mengenai materialitas,
2. Mengalokasikan estimasi tersebut pada setiap bagian pengauditan,
3. Auditor mengestimasikan jumlah salah saji di setiap bagian ketika mereka
mengevaluasi bukti audit,
4. Mengestimasikan salah saji gabungan,
5. Membandingkan estimasi salah saji gabungan dengan materialistis dalam penilaian
awal atau penilaian yang direvisi.

Dari kelima langkah tersebut, dua langkah awal merupakan bagian dari perencanaan,
yang merupakan fokus utama dalam pembahasan mengenai materialitas. Sedangkan tiga
langkah selanjutnya merupakan evaluasi hasil pengujian audit.

MENETAPKAN PERTIMBANGAN MATERIALITAS AWAL


PSA 25 (SA 312) mengharuskan auditor untuk memutuskan jumlah gabungan
salah saji dalam laporan keuangan yang akan merekan anggap material di awal
pengauditan bersamaan dengan ketika mereka mengembangkan strategi audit secara
keseluruhan. Hal tersebut dikenal dengan istilah perkembangan materialitas awal.
Dinamakan pertimbangan materialitas awal, karena meskipun merupakan opini
professional, penilaian tersebut bias berubah selama kontrak kerja. Penilaian tersebut
harus didokumentasikan dalam arsip audit.
Pertimbangan materialitas awal merupakan jumlah maksimal dimana auditor
yakin dapat terjadi salah saji dalam laporan keuangan, namun tidak memengaruhi
keputusan-keputusan para pengguna yang rasional. Penilaian ini merupakan salah satu
keputusan yang paling penting yang harus diambil oleh auditor dan sangat membutuhkan
pemahaman dan pertimbangan profesional yang tinggi. Auditor menetapkan
pertimbangan materialitas awal untuk membantunya merencanakan pengumpulan bukti-
bukti audit yang tepat. Makin kecil jumlah rupiah dalam penilaian awal, makin banyak
bukti audit yang harus dikumpulkan.

Selama melakukan audit, auditor sering kali mengubah pertimbangan materialitas


awal. Pengubahan pertimbangan tersebut sering diistilahkan sebagai penilaian
materialitas awal yang direvisi. Auditor kemungkinan akan membuat revisi karena
perubahan dalam salah satu faktor yang digunakan dalam menetukan penilaian awal,
karena auditor memutuskan bahwa pertimbangan materialitas awal terlalu besar atau
terlalu kecil.

Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi auditor dalam melakukan


pertimbangan materialitas awal dalam laporan keuangan. Hal-hal yang sangat penting
untuk diperhatikan dalam konsep materialitas adalah sebagai berikut :

1. Materialitas merupakan konsep relatif, bukan absolut


Sebuah salah saji dengan besaran tertentu dapat menjadi material bagi suatu
perusahaan kecil, sebaliknya dengan jumlah salah saji yang sama dapat menjadi tidak
material bagi perusahaan yang besar. Sehingga tidak mungkin untuk menentukan
acuan nilai nominal untuk pertimbangan materialitas awal yang dapat diterapkan
untuk semua klien audit.
2. Dibutuhkan dasar untuk mengevaluasi materialitas
Karena materialitas merupakan konsep yang relatif, sehingga sangat penting untuk
memiliki dasar dalam menetukan apakah suatu jumlah tertentu material atau tidak.
Laba bersih sebelum pajak biasanya dijadikan sebagai dasar dalam menetukan
materialitas bagi bagi perusahaan yang berorientasi laba karena dianggap sebagai
unsure yang sangat penting bagi para penggunanya. Beberapa perusahaan
menggunakan dasar utama yang berbeda, karena laba bersih sering kali naik atau turun
secara signifikan dari tahun ke tahun, sehingga tidak dapat memberikan dasar yang
stabil, atau ketika entitasnya adalah suatu perusahaan nirlaba. Sering kali dasar utama
yang digunakan adalah penjualan bersih, laba kotor, dan total aset atau aset bersih.
Setelah menetapkan dasar utama, auditor juga harus memutuskan apakah salah saji
tersebut secara signifikan berpengaruh pada kewajaran dasar lainnya seperti aset
lancar, total aset, liabilitas lancar, dan ekuitas pemilik. PSA 25 (SA 312)
mengharuskan auditor untuk mendokumentasikan dasar yang digunakan dalam
melakukan pertimbangan materialitas awal ke dalam arsip audit.

Ternyata terdapat faktor-faktor kualitatif yang memengaruhi materialitas.


Beberapa salah saji kemungkinan menjadi lebih penting dibandingkan salah saji lainnya
bagi para pengguna laporan, meskipun nilai nominalnya sama.

MENGALOKASIKAN PERTIMBANGAN MATERIALITAS AWAL KE SETIAP


BAGIAN (SALAH SAJI YANG DAPAT DITERIMA)
Pengalokasian pertimbangan materialitas awal ke setiap bagian merupakan hal
yang penting untuk dilakukan karena auditor mengumpulkan bukti audit per bagian
dibandingkan dengan laporan keuangan secara keseluruhan. Jika para auditor memiliki
penilaian materialitas awal untuk setiap bagian, hal tersebut akan membantu mereka
dalam memutuskan bukti audit yang tepat untuk dikumpulkan.
Sebagian besar praktisi mengalokasikan materialitas pada akun-akun neraca
daripada akun-akun laba rugi, karena sebagian besar salah saji dalam laporan laba rugi
memiliki pengaruh yang sama pada neraca karena adanya sistem pencatatan berganda.
Tidak tepat untuk mengalokasikan pertimbangan awal pada laba rugi dan neraca
sekaligus, karena akan menyebabkan perhitungan ganda, yang akhirnya menyebabkan
salah saji yang dapat diterima yang lebih kecil daripada yang diharapkan. Hal ini
memungkinkan auditor untuk mengalokasikan materialitas pada akun-akun laba rugi atau
neraca. Karena dalam sebagian besar pengauditan akun-akun neraca lebih sedikit
dibandingkan akun-akun laba rugi, dan karena sebagian besar proseur audit menekankan
pada akun-akun neraca, maka materialitas seharusnya hanya dialokasikan pada akun-
akun neraca.
Ketika auditor mengalokasikan pertimbangan materialitas awal pada saldo-saldo
akun, materialitas yang dialokasikan ke setiap saldo akun yang dimaksud dalam PSA 25
(SA 312) sebagai salah saji yang dapat diterima. Auditor juga menghadapi tiga kesulitan
utama dalam mengalokasikan materialitas ke dalam akun-akun neraca. Ketiga kesulitan
tersebut antara lain :
1. Auditor memperkirakan akun-akun tertentu memiliki salah saji yang lebih banyak
dibandingkan akun-akun lainnya.
2. Baik salah saji maupun kurang saji harus dipertimbangkan.
3. Biaya auit relatif memengaruhi alokasi tersebut.

Ketiga kesulitan diatas harus dipertimbangkan dalam pengalokasiannya. Perlu


diingat pula bahwa di akhir pengauditan, auditor harus menggabungkan semua salah saji
aktual dan salah saji estimasi dan membandingkannya dengan penilaian materialitas
awal. Dalam mengalokasikan salah saji yang dapat diterima, auditor mencoba untuk
melakukan audit seefisien mungkin.
Perhatikan bahwa dalam pengalokasian yang penting untuk diperhatikan oleh
auditor adalah dampak gabungan pada laba operasi dari salah saji di setiap akun neraca.
Suatu lebih saji dalam akun aset akan memiliki pengaruh yang sama dalam laporan laba
rugi, sebagaimana kurang saji dalam akun liabilitas. Sebaliknya, salah klasifikasi dalam
neraca, misalnya klasifikasi suatu wesel bayar sebagai utang dagang, tidak akan
berpengaruh pada laba operasi. Sehingga, materialitas dari unsur-unsur yang tidak
memengaruhi laporan laba rugi harus dipertimbangkan tersendiri.
Dalam praktiknya, sering kali sulit untuk memperkirakan terlebih dahulu akun-
akun apa yang paling mungkin mengalami salah saji dan apakah salah saji tersebut
kemungkinan adalah kurang saji atau lebih saji. Demikian pula, biaya relatif atas
pengauditan saldo-saldo akun yang berbeda sering kali tidak dapat ditentukan. Sehingga,
sulit untuk melakukan penilaian profesional dalam mengalokasikan pertimbangan
materialitas awal ke dalam akun-akun. Oleh karena itu, banyak KAP yang menetapkan
panduan umum dan metode statistik yang canggih untuk melakukannya. Panduan
tersebut juga membantu dalam meyakinkan auditor untuk mendokumentasikan secara
tepat dalam arsip audit, sebagaimana diharuskan dalam PSA 25 (SA 312), jumlah salah
saji yang dapat diterima dan dasar yang digunakan untuk menentukan jumlah-jumlah
tersebut.
Oleh karena itu, tujuan pengalokasian pertimbangan materialitas awal pada akun-
akun neraca adalah untuk membantu auditor dalam menetukan bukti yang tepat yang
harus dikumpulkan untuk setiap akun neraca maupun laba rugi. Salah satu tujuan
pengalokasian adalah untuk meminimalkan biaya audit tanpa harus mengorbankan
kualitas auditnya. Tidak peduli bagaimana pengalokasian dilakukan, ketika audit telah
selesai, auditor harus yakin bahwa salah saji gabungan dalam semua akun lebih kecil atau
sama dengan penilaian awal (atau revisi) materialitas.

MEMPERKIRAKAN SALAH SAJI DAN MEMBANDINGKAN DENGAN


PENILAIAN AWAL
Saat auditor melakukan prosedur audit, mereka menyimpan kertas kerja dari
semua salah saji yang ditemukan baik salah saji yang diketahui maupun salah saji yang
mungkin. Salah saji yang diketahui merupakan salah saji dimana seorang auditor dapat
dengan tepat mengetahui letak kesalahan saji dalam akun tersebut. Sedangakan salah saji
yang mungkin merupakan salah saji yang muncul ketika terdapat perbedaan antara
penilaian manajemen dengan auditor mengenai saldo dari suatu akun, dan adanya
proyeksi salah saji berdasarkan sampel yang diambil oleh auditor dari suatu populasi

Risiko Audit dan Perencanaan


Sebagian besar resiko yang dihadapi oleh auditor sulit untuk diukur tingkat
kepastiannya dan membutuhkan pertimbangan besar untuk menanganinya dengan tepat
agar dapat meraih kualitas audit yang tinggi. Terdapat beberapa tingkat resiko serta
ketidakpastian dalam menjalani fungsi pengauditan seperti yang telah dijabarkan pada
bab sebelumnya. Oleh karena itu auditor harus sangat memahami mengenai lingkungan,
latar belakang, serta jenis usaha klien atau perusahaan yang akan ia audit dengan cara-
cara yang telah dijabarkan pada bab sebelumnya agar dapat menila risiko salah saji
material pada laporan keuangan klien.
Pada umumnya, auditor menggunakan model risiko audit dalam menangani risiko
perencanaan bukti audit yang notabene model ini berdasarkan literatur profesional PSA
26 mengenai pengujian sampe audit dan PSA 25 mengenai materialitas dan risiko.
Model risiko audit membantu auditor untuk menentukan seberapa banyak jenis
bukti yang ada dan jenis bukti apa saja yang harus dikumpulkan pada saat setiap
siklusnya. Model ini biasanya dinyatakan seperti berikut :
PDR = (AAR) : (IrxCR)
PDR = Risiko Deteksi yang direncanakan
AAR = Risiko Audit yang dapat diterima
IR = risiko bawaan
CR = Risiko Pengendalian

JENIS JENIS RESIKO


a. Risiko Deteksi Yang Direncanakan (Planned Detection Risk)
Merupakan risiko dimana bukti audit untuk suatu bagian tidak mampu mendeteksi
salah saji yang dapat diterima.
b. Risiko Bawaan (Inherent Risk)
Mengukur penilaian auditor atas kemungkinan terdapatnya salah saji material baik
dalam bentuk kecurangan maupun kesalahan dalam sebuah bagian pengauditan sebelum
mempertimbangkan efektivitas pengendalian internal klien.
c. Risiko Pengendalian (Control Risk)
Mengukur penilaian auditor mengenai apakah salah saji yang ada melebihi jumlah
yang dapat diterima atau tidak pada suatu bagian pengauditan akan dapat dicegah atau
dideteksi dengan tepat waktu oleh pengendalian internal klien.
d. Risiko Audit yang Dapat Diterima (Acceptable Audit Risk)
Mengukur tingkat kesediaan auditor untuk menerima kemungkinan adanya salah saji
dalam laporan keuangan setelah audit telah selesai dijalankan dan opini wajar tanpa
pengecualian telah diterbitkan. Seringkali auditor menggunakan istilah keyakinan audit
atau tingkat keyakinan atau juga sering disebut sebagai keyakinan keseluruhan
dibandingkan istilah risiko audit yang dapat diterima.

Perbedaan Antara Risiko-risiko dalam Model Risiko Audit


Terdapat beberapa perbedaan penting yang digunakan auditor dalam menilai
faktor risiko dalam model risiko audit. Bagi model risiko audit yang dapat diterima,
auditor memutuskan risiko yang dapat diterima oleh KAP bahwa terdapat salah saji
dalam laporan keuangan setelah audit diselesaikan berdasarkan beberapa faktor yang
terkait dengan klien.
Risiko bawaan dan risiko pengendalian ditetapkan berdasarkan ekspektasi
maupun prediksi auditor terhadap kondisi yang dialami oleh klien. Sebuah contoh dimana
risiko pengendalianya tinggi adalah persediaan yang belum terjual selama dua tahun

MENILAI RISIKO AUDIT YANG DAPAT DITERIMA


Dalam sebuah pengauditan, auditor harus memutuskan risiko audit yang dapat
diterima. Auditor menetapkan risiko kontrak kerja, kemudian menggunakannya untuk
memodifikasi audit yang dapat diterima.

Dampak Risiko Kontrak Kerja Terhadap Risiko Audit yang Dapat Diterima
Risiko kontrak kerja adalah risiko dimana auditor/KAP akan menderita kerugian
karena hubungan klien, walaupun laporan audit yang disiapkan untuk klien sudah benar.
Contohnya adalah ketika klien mengumumkan perusahaannya bangkrut setelah
dilakukannya audit, kemungkinan adanya tuntutan hukum terhadap KAP meskipun hasil
auditnya sudah baik.
Perlu diketahui bahwasanya auditor tidak setuju mengenai risiko kontrak kerja
perlu dipertimbangkan dalam perencanaan audit. Bagi pihak yang menentang
dilakukannya modifikasi bukti dalam risiko kontrak kerja menyatakan auditor tidak
memberikan opini auditnya sehingga tidak dapat memberikan keyakinan yang lebih
tinggi atau lebih rendah karena adanya risiko kontrak kerja. Sebaliknya, yang mendukung
dilakukannya modifikasi berpendapat bahwa auditor boleh mengumpulkan bukti
tambahan dan menelaah audit lebih dalam selama tingkat keyakinan tidak diturunkan
dibawah tingkat keyakinan yang cukup tinggi ketika risiko kontrak kerja yang rendah
terjadi.

Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Risiko Audit


Ada beberapa hal yang memengaruhi risiko kontrak kerja dan juga risiko audit yang
dapat diterima, yaitu:
1. Tingkat ketergantungan pengguna eksternal laporan keuangan.
Ketika pengguna memiliki ketergantungan yang besar pada laporan keuangan,
maka dengan sendirinya risiko audit perlu diperkecil. Beberapa factor yang dapat
dijadikan petunjuk tingkat ketergantungan pengguna pada suatu laporan
keuangan:
a. Ukuran klien ; makin besar kegiatan operasi klien, makin luas penggunaan
laporan keuangan.
b. Distribusi kepemilikan ; Laporan keuangan perusahaan publik umumnya
dipergunakan oleh lebih banyak pengguna daripada laporan keuangan
perusahaan non-publik.
c. Sifat dan jumlah liabilitas ; Jika laporan keuangan mengandung nilai
kewajiban yang besar, laporan keuangan tersebut memiliki kecenderungan
yang lebih besar untuk dipergunakan secara luas oleh para kreditur.
2. Kemungkinan klien akan mengalami kesulitan keuangan setelah laporan audit
diterbitkan.
Bila klien terpaksa dinyatakan pailit setelah audit selesai, besar kemungkinan
auditor diminta untuk mempertahankan kualitas audit yang dilaksanakan.
3. Integritas manajemen.
Jika integritas dipertanyakan maka risiko audit yang dapat diterima akan rendah.
Jika integritas rendah, sering timbul konflik dengan pedagang saham, konsumen,
dan aparat negara sehingga akan mempengaruhi anggapan pemakai atas kualitas
audit dan dapat menyebabkan tuntutan

Menetapkan Risiko Audit Yang Dapat Diterima.


Faktor-faktor Metode-metode yang Dipergunakan untuk Menilai Risiko Audit yang
Dapat Diterima
Tingkat  Menelaah laporan keuangan, termasuk catatan atas laporan
ketergantungan keuangan
pengguna  Membaca notulen rapat dewan direksi untuk menentukan berbagai
eksternal rencana masa depan
laporan  Menelaah Formulir 10K bagi sebuah perusahaan publik
keuangan  Membahas rencana-rencana keuangan dengan pihak manajemen
Kemungkinan  Melakukan analisa atas laporan keuangan untuk menilai gejala
terjadinya kesulitan keuangan dengan mempergunakan sejumlah rasio serta
kesulitan berbagai prosedur analitis lainnya
keuangan  Menelaah laporan arus kas historis maupun laporan proyeksi arus
kas untuk mempelajari sifat arus kas masuk dan arus kas keluar
Integritas  Mengikuti sejumlah prosedur perencanaan audit dan prosedur
manajemen analitis mengenai penerimaan dan keberlanjutan klien

MENILAI RISIKO BAWAAN


Pencantuman risiko bawaan dalam model risiko audit berarti bahwa auditor harus
berupaya untuk memprediksikan dimanakah letak probabilitas salah saji yang paling
banyak terjadi serta probabilitas salah saji yang paling sedikit terjadi dalam laporan
keuangan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Risiko Bawaan


Beberapa faktor utama pada saat melakukan penilaian atas resiko bawaan adalah :
1) Sifat bisnis klien
Pada umumnya, tingkat risiko bawaan dari satu bisnis dengan bisnis lainnya sangat
beragam, terutama untuk risiko bawaan yang terkandung pada akun-akun seperti akun
persediaan, piutang dagang dan piutang kredit, serta aset tetap. Sifat bisnis klien
seharusnya tidak memberikan pengaruh atau hanya memberikan pengaruh yang kecil saja
pada tingkat risiko bawaan yang terdapat dalam akun kas, surat utang dan utang hipotik.
2) Hasil audit yang diperoleh dari audit-audit sebelumnya
Salah saji yang diketemukan pada audit tahun sebelumnya kemungkinan besar akan
diketemukan kembali pada penugasan audit tahun berjalan. Hal ini diakibatkan karena
sebagian besar jenis salah saji umumnya bersifat sistemik/teratur, serta organisasi-
organisasi seringkali mengalami keterlambatan dalam melakukan sejumlah perubahan
untuk menghapuskan salah saji tersebut. Oleh karena itu, auditor akan dianggap ceroboh
jika ia mengabaikan temuan audit yang diperoleh pada audit tahun sebelumnya, pada saat
ia melakukan penyusunan program audit atas penugasan audit tahun berjalan.
3) Penugasan awal versus penugasan ulangan
Kurangnya temuan audit yang diperoleh dari penugasan audit tahun-tahun sebelumnya
dapat menyebabkan para auditor menetapkan suatu tingkat risiko bawaan yang lebih
tinggi bagi penugasan audit awal daripada tingkat risiko bawaan yang ditetapkan atas
penugasan audit ulangan dimana pada penugasan audit sebelumnya tidak diketemukan
salah saji yang material.
4) Pihak-pihak terkait
Berbagai transaksi yang terjadi antara perusahaan induk dan perusahaan anak serta
transaksi-transaksi yang terjadi antara pihak manajemen dengan entitas perusahaan
merupakan contoh-contoh dari transaksi dengan pihak terkait sebagaimana yang
terdefinisikan dalam PSAK 57. Karena berbagai transaksi ini tidak terjadi pada dua belah
pihak yang saling independen yang bertransaksi sejauh jangkauan tangan saja, maka
kemungkinan bahwa transaksi-transaksi tersebut mengalami salah saji lebih besar,
sehingga mengakibatkan suatu peningkatan pada nilai risiko bawaan.
5) Berbagai transaksi nonrutin
Berbagai transaksi yang tidak umum dilakukan oleh klien memiliki kemungkinan yang
lebih besar akan dicatat secara tidak benar oleh pihak klien daripada pencatatan atas
berbagai transaksi yang rutin karena pihak klien kurang memiliki pengalaman dalam
melakukan pencatatan atas hal tersebut.
6) Pertimbangan yang diperlukan untuk mengoreksi pencatatan berbagai saldo dan
transaksi akun
Contoh-contoh atas jenis akun ini adalah cadangan atas piutang tak tertagih, nilai
persedian yang usang, kewajiban atas pembayaran waran, serta cadangan kerugian kredit
bank. Serupa dengan hal itu, berbagai transaksi atas sejumlah perbaikan utama atau
penggantian sebagian aktiva merupakan contoh-contoh dimana sejumlah perbandingan
diperlukan.
7) Menyusun populasi
Seringkali, berbagai unsur individual yang menyusun total populasi turut memberikan
pengaruh pada ekspektasi auditor akan salah saji yang material.

Membuat Keputusan Risiko Bawaan


Auditor harus mengevaluasi semua informasi yang dapat mempengaruhi tingkat
risiko bawaan serta memutuskan suatu tingkat risiko bawaan yang tepat bagi setiap
siklus, akun, dan dalam banyak situasi bagi setiap tujuan audit pula.

Memperoleh Informasi untuk Menilai Risiko Bawaan


Para auditor memulai penilaian mereka atas risiko bawaan selama fase
perencanaan serta akan memperbaharui penilaian tersebut sepanjang penugasan audit.
Pada saat auditor melakukan beraneka jenis pengujian dalam suatu penugasan audit,
maka ia akan memperoleh tambahan informasi yang seringkali pula akan mempengaruhi
tingkat penilaian awal.

Menilai Risiko Kecurangan


Untuk memenuhi persyaratan standar audit, sangat penting auditor menilai risiko
dan memberi respon kepadanya daripada hanya medidentifikasinya mereka sebagai risiko
audit yang dapat diterima, risiko bawaan, atau risiko pengendalian. Oleh karena itu
banyak kantor audit menilai risiko kecurangan secara terpisah dari penilaian komponen
model risiko.
Standart auditing yang diterima mengharuskan auditor untuk menilai resiko
kesalahan pernyataan material sampai kecurangan. Ketika auditor mempertimbangkan
resiko bawaan dan resiko pengendalian, auditor juga harus mempertimbangkan resiko
kecurangan. Auditor biasanya mempertimbangkan resiko kesalahan pernyataan material
dengan membagi dua tipe kecurangan: kecurangan laporan keuangan dan
penyalahgunaan asset.
Untuk menilai risiko kecurangan auditor mengumpulkan informasi untuk mengetahui
luasnya keberadaan kondisi kecurangan. Segitiga kecurangan yang menggambarkan
aspek umum dari seluruh kecurangan, yaitu:
1. Kesempatan untuk melakukan kecurangan.
2. Insentive atau tekanan.
3. Kemampuan untuk merasionalisasi kecurangan menjadi konsisten dengan nilai
kepantasan internal.

HUBUNGAN ANTARA RISIKO DENGAN BUKTI AUDIT DAN FAKTOR-


FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RISIKO
Untuk memodifikasi bukti audit, ada dua cara dimana auditor bisa mengubah audit untuk
merespons risiko, misalnya:
a) Perjanjian itu mungkin membutuhkan staf yang lebih berpengalaman. Kantor akuntan
publik harus mempunyai staf yang bermutu, tetapi untuk klien dengan risiko audit
rendah bisa diterima, perhatian khusus diberikan dalam pemilihan staf.
b) Perjanjian akan ditelaah kembali lebih teliti daripada biasanya. Kantor akuntan publik
harus yakin bahwa arsip audit yang mendokumentasikan rencana audit, akumulasi
bukti audit dan kesimpulan dan masalah lain dalam audit telah ditelaah dengan
memadai. Saat risiko audit yang bisa diterima itu rendah, seringkali ada ulasan oleh
personil yang tidak ditugaskan ke perjanjian itu.

Resiko Audit untuk setiap Bagian


Tidak ada resiko pengendalian maupun resiko bawaan yang diukur untuk audit
secara keseluruhan. Melainkan, baik risiko pengendalian maupun resiko bawaan diukur
untuk setiap siklus, setiap akun dalam suatu siklus, dan bahkan terkadang untuk setiap
tujuan audit atas akun-akun tersebut. Pengukuran ini kemungkinan akan berbeda dalam
pengauditan yang sama dari siklus yang satu dengan siklus yang lain, dari satu akun ke
akun yang lain, dan dari satu tujuan ke tujuan yang lain.
Auditor biasanya menggunakan risiko audit yang dapat diterima yang sama untuk
setiap bagian karena faktor-faktor yang mempengaruhi resiko audit yang dapat diterima
terkait dengan keseluruhan pengauditan, bukan pada masing-masing akun. Contohnya,
tingkat ketergantungan para pengguna eksternal yang tinggi terhadap laporan keuangan
biasanya terkait dengan laporan keuangan secara keseluruhan, bukan hanya satu atau dua
akun saja.

Menghubungakan Salah Saji dan Resiko yang Dapat diterima dengan Tujuan Audit
Terkait Saldo
Meskipun merupakan suatu hal yang umum dalam praktiknya untuk mengukur
resiko bawaan dan resiko pengendalian untuk setiap tujuan audit terkait saldo, namun
tidak lazim untuk mengalokasikan materialitas ke dalam setiap tujuan tersebut. Auditor
harus mampu menghubungkan sebagian besar resiko dengan tujuan yang berbeda dan
cukup mudah menentukan hubungan antara suatu resiko dengan satu aau dua tujuan

Keterbatasan dalam Pengukuran


Salah satu kekurangan dalam penerapan model resiko audit adalah kesulitan
pengukuran komponen-komponen resiko dalam model tersebut.
Untuk menangani masalah pengukuran ini, banyak auditor yang menggunakan
istilah pengukuran yang luas dan subjektif, seperti rendah, sedang dan tinggi.
Sebagaimana contoh berikut :
Situasi Resiko Resiko Resiko Resiko Jumlah bukti
Bawaan Pengendalia
Audit yg dpt Deteksi yg yg
diterima n direncanaka dibutuhkan
n
1 Tinggi Rendah Rendah Tinggi Rendah
2 Rendah Rendah Rendah Sedang Sedang
3 Rendah Tinggi Tinggi Rendah Tinggi
4 Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang
5 Tinggi Rendah Sedang Sedang Sedang

Dari tebel diatas kita ambil situasi no 1, auditor telah memutuskan bahwa resiko audit
yang dapat diterima tinggi untu satu akun atau satu tujuan. Auditor telah menyimpulkan
bahwa terdapat resiko salah saji yang rendah dalam laporan keuangan dan pengendalian
internalnya juga efektif. Sehingga, resiko deteksi yang direncanakannya tinggi. Sebagai
hasilnya, sedikit bukti audit yang diperlukan. Sedangkan untuk situasi 3 kebalikan dari
situasi 1

Pengujian Terperinci Kertas Kerja Perencanaan-Bukti


Dalam praktiknya auditor mengembangkan beragam kertas kerja untuk membantu
dalam mengaitkan pertimbangan-pertimbangan yang mempengaruhi bukti audit dengan
pengumpulan bukti yang tepat. Salah satu kertas kerja yang digunakan adalah sebagai
berikut :
Kertas Kerja Perencanaan Bukti untuk Menentukan Pengujian Terperinci atas Saldo Akun
PT.Perkakas Prima-Piutang Dagang
keterkaitan perincian

Nilai Realisasli
Kelengkapan
Keberadaan

Pisah Batas
Klasifikasi
Akurasi

Hak
Resiko yang Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Rndah Tinggi Tinggi
dapat diterima
Resiko bawaan Rendah Sedang Rendah Rendah Rendah Sedang Sedang Rendah

Salah saji yang dapat diterima Rp 265.000.000


Resiko deteksi yang direncanakan diperkirakan sama untuk setiap tujuan audit terkait
saldo dalam mengaudit piutang dagang PT Perkakas Prima jika hanya terdapat tiga faktor
yang diperlukan auditor untuk mempertimbangkan risiko audit yang dapat diterima,
risiko bawaan, dan salah saji yang dapat diterima. Kertas kerja perencanaan audit
menunjukkan bahwa faktor-faktor lainya juga harus ikut dipertimbangkan sebelum
membuat keputusan akhir.

Hubungan Antara Resiko dan Materialitas dengan Bukti Audit


Konsep materialitas dan risiko dalam audit sangat berkaitan erat dan tidak dapat
dipisahkan. Resiko merupakan ukuran atas ketidakpastian, sedangkan materialitas
merupakan ukuran besaran atau tinggi rendahnya. Bersama-sama keduanya mengukur
jumlah ketidakpastian dalam suatu besaran tertentu. Sebagai contoh, suatu pernyataan
bahwa bahan bukti yang direncananakan untuk dikumpulkan oleh auditor hanya berisiko
5 persen (risiko yang dapat diterima) tidak dapat mendeteksi salah saji yang melebihi
salah saji yang dapat diterima sebesar Rp 265.000.000 (materialitas), merupakan
pernyataan yang sangat jelas. Jika pernyataan tersebut menghilangkan bagian risiko
maupun materialitas, akan menjadi pernyataan yang tidak berarti. Alur hubungan salah
saji yang dapat diterima dan risiko terhadap bukti yang direncanakan

SALAH SAJI DAN RESIKO RESIKO BUKTI AUDIT


YANG DAPAT DITERIMA TIDAK DIRENCANAKAN

Resiko audit yang


dapat diterima

Resiko Bawaan Resiko deteksi Bukti audit direncanakan

Direncanakan

Resiko Pengendalian

Salah saji yang dapat


diterima
MENGEVALUASI HASIL
Setelah auditor merencanakan kontrak kerja dan mengumpulkan bukti audit,
hasil-hasilnya juga bisa dinyatakan dalam versi evaluasi dari model risiko audit. Model
resiko audit untuk mengevaluasi hasil audit dinyatakan dalam PSA sebagai berikut :
AcAR=IRxCRxAcDR

Dimana :
AcAR = Resiko yang dapat dicapai. Resiko yang dapat dicapai adalah sebuah ukuran
audit yang telah diambil auditor bahwa sebuah akun dalam laporan keuangan salah saji
secara material setelah auditor mengumpulkan bukti audit
IR = Risiko bawaan. Risiko bawaan ini adalah faktor risiko bawaan yang sama yag telah
dibahas dalam perencanaan kecuali telah direvisi sebagai hasil dari informasi baru
CR = Resiko pengendalian. Risiko pengendalian ini adalah resiko pengendalian yang
sama yang telah dibahas kecuali direvisi selama audit
AcRD = Risiko deteksi yang dicapai. Resiko deteksi yang dicapai adalah sebuah ukuran
resiko bahwa bukti audit untuk suatu bagian tidak dapat mendeteksi salah saji melebihi
jumlah yang dapat diterima, jika salah saji semacam itu ada. Auditor bisa mengurangi
risiko deteksi yang dicapai hanya dengan mengumpulkan bukti
Penelitian menunjukkan penggunaan rumus ini bisa menghsilkan resiko salah saji
terhadap resiko audit yang dicapai. Walaupun tidak tepat menggunakan rumusan ini,
namun hubungan-hubungan dalam rumusan ini benar dan bisa digunakan dalam
praktiknya. Rumusan ini menunjukkan tiga cara untuk mengurangi resiko audit
1. Mengurangi resiko bawaan. Karena resiko bawaan dinilai oleh auditor
berdasarkan kondisi klien, penilaian ini diseesaikan selama perencanaan dan
biasanya tidak berubah kecuali fakta-fakta baru terbuka saat audit berjalan
2. Mengurangi resiko pengendalian. Resiko pengendalian yang dinilai, dipengaruhi
oleh pengendalian internal dari klien dan pengujian auditor terhadap pengendalian
itu. Auditor bisa mengurangi resiko pengendalian dengan melakukan uji
pengendalian lebih luas jika klien memiliki pengendalian yang efektif
3. Mengurangi resiko deteksi dengan meningkatkan uji audit substantif. Auditor
mengurangi resiko deteksi yang dicapai dengan mengumpulkan bukti
menggunakan prosedur analitis, tes substantive dari transaksi dan tes dari rincian
saldo. Prosedur audit tambahan, mengasumsikan kalau prosedur itu efektif dan
ukuran sampel lebih besar, keduanya mengurangi resiko dateksi yang dicapai.
Secara subjektif, menggabugkan tiga faktor ini untuk mencapai risiko audit yang
rendah, membutuhkan pertimbangan professional yang dapat diputuskan. Beberapa KAP
mengembangkan pendekatan yang bagus untuk membantu auditor membuat
pertimbangan tersebut, dan juga KAP lain yang menyerahkan keputusan itu kepada
setiam tim audit

MEREVISI RESIKO DAN BUKTI


Seperi sudah dijelaskan sebelumnya, model resiko audit adalah sebuah model
perencanaan dan oleh karena itu digunakan secara terbatas dalam mengevaluasi hasil.
Penanganan khusus harus dilakukan ketika auditor memutuskan, berdasarkan
bukti yang dikumpulkan, bahwa penilaian awal terkait resiko pengendalian atau resiko
bawaan ternyata kurang saji atau resiko audit yang dapat diterima lebih saji. Auditor
sebaiknya mengikuti pendekatan dua langkah
1. Auditor harus merevisi penilaian awal dari resiko yang wajar. Adalah pelanggaran
jika membiarkan penilaian awal tidak diubah jika auditor tahu itu adalah tidak
wajar
2. Auditor harus mempertimbangkan dampak dari revisi terhadap bukti yang
diharuskan, tanpa penggunaan model resiko audit. Penelitian dalam bidang audit
telah menunjukkan, jika resiko yang direvisi digunakan dalam model risiko audit
untuk menentukan risiko deteksi yang direncanakan juga telah direvisi, ada
bahaya dari tidak meningkatnya bukti secara memadai. Sebagai gantinya, auditor
harus berhati-hati mengevaluasi implikasi dari revisi risiko dan memodifikasi
bukti dengan tepat, diluar dari model risiko audit.
DAFTAR

J.Elder,Beasly Mark,Arens Alvin,Jusuf Amir Abadi, Jasa Audit dan Assurance,


Salemba Empat, Jakarta, 2011