Anda di halaman 1dari 7

Laporan Praktikum Seismik Refraksi di Belakang

Laboratorium Forensik ITS

Siti Imania Luhri, Megawati Sunarno Putri, Ramaditio Bagus Pradana, Joan Sintong Nugroho Hutapea,
Aceha Jazaul Aufa, Muhammad Lutfillah Kurniawan, Abiyyu Tsany, Ahmad Wafi Irsyad
Program Studi Teknik Geofisika, Fakultas Teknik Sipil Lingkungan dan Kebumian, Institut Teknologi
Sepuluh Nopermber Surabaya
Jl. Raya ITS, Keputih, Sukolilo, Kota Surabaya, Jawa Timur 60111
Email : joanhutapea@yahoo.com

Abstrak
Telah dilakukan praktikum seismik dua dimensi, akuisisi ini dilaksanakan di Gedung Laboratorium
Automotive dan Forensik, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Akuisisi kali ini dilakukan
dengan bentangan 138 meter, menggunakan 24 receiver dengan interval geophone sejauh 6 meter.
Menggunakan shot sebanyak 100 kali. Fold Coverage yang didapatkan dari akuisisi kali ini adalah.

Kata Kunci: Fold, Seismik, Stacking.

Latar Belakang
Lapisan batuan bawah permukaan bumi fisika perambatan gelombang yaitu, prinsip
memiliki sifat fisis yang variatif. Salah satu fermat, hukum snellius dan Huygen. Pada
sifat fisis yang terdapat di bawah permukaan metode ini juga membutuhkan source sinyal
bumi adalah tingkat kekerasan batuan. seperti shot dan receiver gelombang.
Tingkat kekerasan batuan merupakan istilah
geologi yang digunakan untuk menandakan
Permasalahan
kekompakan (cohesiveness) suatu batuan
dan biasanya dinyatakan dalam bentuk Permasalahan dari praktikum ini adalah
compressive fracture strenght. Compressive bagaimana cara mengolah data seismic
fracture strenght merupakan tekanan refraksi, dan bagaimana cara
maksimum yang mampu di tahan oleh menginterpretasikannya.
batuan untuk mempertahankan diri dari
terjadinya rekahan (fracture). Besarnya
fracture strenght dipengaruhi oleh densitas Tujuan
dan kekompakan batuan. Sedangkan
Mengetahui cara mengolah data seismik
besarnya densitas dan kekompakan batuan
refraksi dan memperoleh gambaran lapisan
juga dipengaruhi oleh elastisitas batuan.
struktur bawah permukaan belakang
Salah satu metode geofisika yang digunakan
forensik.
untuk mengetahui elastisitas batuan adalah
metode seismik refraksi. Prinsip kerja dari
metode ini iyalah menggunakan prinsip
Tinjauan Pustaka Gambar 2.1. Pemantulan dan Pembiasan
1. Mekanisme Penjalaran Gelombang Gelombang
Seismik b. Prinsip Huygens
Mekanisme penjalaran gelombang Prinsip Huygens menyatakan bahwa
seismik didasarkan pada hukum Snellius, setiap titik pada muka gelombang
Prinsip Huygens dan Prinsip Fermat. merupakan sumber bagi gelombang baru.
Penjelasan dari hukum Snellius, Prinsip Posisi dari muka gelombang dalam dapat
Huygens dan Prinsip Fermat dijelaskan seketika ditemukan dengan membentuk
sebagai berikut : garis singgung permukaan untuk semua
a. Hukum Snellius wavelet sekunder. Prinsip Huygens
Ketika gelombang seismik melalui mengungkapkan sebuah mekanisme dimana
lapisan batuan dengan impedansi akustik sebuah pulsa seismik akan kehilangan energi
yang berbeda dari lapisan batuan yang seiring dengan bertambahnya kedalaman
dilalui sebelumnya, maka gelombang akan (Asparini, 2011).

terbagi. Gelombang tersebut sebagian


terefleksikan kembali ke permukaan dan
sebagian diteruskan merambat dibawah
permukaan. Penjalaran gelombang seismik
mengikuti Hukum Snellius yang
dikembangkan dari Prinsip Huygens,
menyatakan bahwa sudut pantul dan sudut
bias merupakan fungsi dari sudut datang dan Gambar 2.2 Prinsip Huygen
kecepatan gelombang. Gelombang P yang
datang akan mengenai permukaan bidang c. Prinsip Fermat
Gelombang menjalar dari satu titik
batas antara dua medium berbeda akan
ke titik lain melalui jalan tersingkat waktu
menimbulkan gelombang refraksi dan penjalarannya. Dengan demikian jika
refleksi (Hutabarat, 2009). gelombang melewati sebuah medium yang
memiliki variasi kecepatan gelombang
seismik, maka gelombang tersebut akan
cenderung melalui zona-zona kecepatan
tinggi dan menghindari zona-zona kecepatan
rendah (Jamady, 2011).
2. Vp dan Vs
Vp/Vs merupakan salah satu sifat
fisis yang terpenting didalam
mendeterminasi litologi dari data seismic. gelombang seismik refraksi merambat
Disamping itu Vp/Vs merupakan indikator paling cepat dibandingkan dengan
untuk fluida pori dalam suatu reservoir. gelombang lainnya kecuali pada jarak
Idealnya, Vp dan Vs diperoleh dari data (offset) yang relatif dekat sehingga yang
sonic P dan sonic S dan seismik dibutuhkan adalah waktu pertama kali
multikomponen. Akan tetapi, pengukuran gelombang diterima oleh setiap geophone.
sonik S dan survey siesmik multikomponen Pada rekaman seismik (shot gathers), first
sangatlah terbatas dibandingkan dengan break merupakan sinyal yang pertama kali
sonik P san seismic single komponen terekam oleh penerima. Sinyal tersebut
berasal dari direct wave dan head wave.
Direct wave adalah gelombang yang
merambat dari sumber langsung ke
penerima melewati lapisan pertama,
Sedangkan head wave adalah gelombang
yang melewati lapisan pertama lalu
merambat disepanjang lapisan kedua. Syarat
terjadinya head wave adalah sudut tembak
gelombang harus melewati critical angle dan
lapisan kecepatan lapisan tersebut harus
lebih cepat dari lapisan sebelumnya.
Gambar 2.3. Grafik Vp/Vs pada batuan

Gelombang P memiliki kecepatan lebih


besar dibandingkan dengan gelombang S
sehingga waktu datang gelombang P yang
digunakan dalam seismik refraksi.

3. Seismik Refraksi
Metode seismik refraksi (seismik
bias) merupakan salah satu metode yang
banyak digunakan untuk menentukan
struktur geologi bawah permukaan. Metode Gambar 2.4. Ilustrasi Direct Wave dan Head
seismik bias menghasilkan data yang bila Wave
digunakan bersama-sama dengan data
geologi dan perhitungan dengan konsep 4. Seismik Refraksi pada Lapisan Horizontal
fisika dapat menampilkan informasi tentang Kita anggap pada struktur dua lapis
struktur bawah permukaan dan distribusi terdapat bidang batas L, pada kedalaman h
tipe batuan. Prinsip metode seismik refraksi dari permukaan, sejajar dengan bidang
adalah penjalaran gelombang yang permukaan. Kecepatan perambatan
menggunakan hukum Snellius. Pada metode gelombang pada lapisan atas adalah V1 , dan
ini, gelombang yang terjadi setelah sinyal kecepatan perambatan bias adalah V2 ,
pertama (firstbreak) diabaikan, karena dimana V2 > V1. Waktu perambatan
gelombang bias adalah V2 , dimana V2 > V1. Dimana menurut hukum Snellius
Waktu perambatan gelombang langusng dari V1
sin 𝑖 ¿ . Kurva waktu tempuh yang
sumber ke geophone yang berjarak adalah : V2
digambarkan pada Gambar (2.3)
menunjukkan kurva waktu tempuh yang
dinyatakan pada persamaan (2.1) dan (2.3)
diatas dapat diturunkan terhadap x, maka

akan kita peroleh :

(2.4)
Gambar 2.5. Model 2 lapis
Dengan demikian terlihat bahwa
horizontal dan kurva T – X
kecepatan perlambatan gelombang di lapisan
pertama dan kedua adalah kebalikan dari
Jika jejak gelombang biasnya adalah
kemiringan kurva waktu tempuhnya.
A-C-D-P, dan waktu tempuh gelombang
Apabila kurva waktu tempuh gelombang
sampai di Padalah T2, maka dapat kita
bias T2 diperpanjang menuju titik A, dan
tuliskan persamaan berikut :
memotong sumbu waktu (Intercept Time)
disebut �. Berarti � adalah harga T2 jika x

(2.1)
Dan
=0. Dengan kata lain,
(2.5)
Dengan demikian kedalaman lapisan
kedua atau ketebalan lapisan pertama dapat
(2.2) juga dihitung menggunakan intercept time �
Dengan mensubstitusikan persamaan yang dapat diperoleh dari diagram waktu
tempuh, melalui hubungan sebagai berikut :
(2.1) dan (2.2), diperoleh persamaan berikut:
(2.6)

(2.3)
METODOLOGI

Seismic Trace
(dalam
Picking first break
format .segy)

Kalkulasi nilai
gradien/kecepatan
Seisee
tiap lapisan

eeedewfef
Bandpass
EASY REFFRACT
FEeedwdwdilter Model lapisan
(hasil inversi)

Picking
Picking first
first break
break

Interpretasi

Gambar 3.3 Alur langkah Kerja

Pengolahan Data Hasil dari praktikum adalah data seismic


trace pada 100 shot. Pada setiap shot-nya
Data yang diperoleh dari pengukuran terdiri dari seismic trace pada setiap
adalah seismic trace berformat *.sgy dalam geophone. Dari 100 shot tersebut, dipilih 5
domain waktu. 100 data dimasukkan shot yaitu shot pada posisi 0 meter, 25
kedalam seisee untuk melihat trace nya. meter, 50 meter, 75 meter, dan 100 meter.
Setelah trace terlihat dimasukkan ke Easy Kemudian dilakukan picking first break
Refract. Dilakukan picking first break agar yang ditunjukkan pada gambar 4.1 hingga
didapatkan gradien yang dikemudian 4.5
dikalkulasikan nilai velocitynya. Selanjutnya
dihasilkan penampang lapisan bawah
permukaan yang mana diinterpretasikan
jenis litologi serta struktur bawah
permukaan.
Untuk alur pemprosesan data dapat
dilihat pada gambar 3.1

Analisis Data
Gambar 4.1 picking first break shot Setelah itu, ditentukan gradien yang
posisi 0 meter merupakan kecepatan dari lapisan pada 5
shot yang ditunjukkan pada gambar 4.6.

Gambar 4.2 Picking first break shot


posisi 25 meter Gambar 4.6 Kecepatan dari lapisan pada
5 shot
Kemudian, dihasilkan morfologi lapisan
bawah permukaan yang ditunjukkan pada
gambar 4.7.

Gambar 4.3 first break shot posisi 50 m

Gambar 4.7 Morfologi lapisan bawah


permukaan
Selain morfologi lapisan bawah permukaan,
dihasilkan pula nilai karakteristik dari setiap
lapisan tersebut, ditunjukka pada tabel 4.1
Gambar 4.4 first break shot posisi 75
meter Tabel 4.1. Karakteristik lapisan

Gambar 4.5 first break shot posisi 100


meter
Pembahasan 1. Pada kedalaman hingga 57 meter
Berdasarkan data hasil processing dapat didapatkan 2 lapisan yang dimana
diduga bahwa lapisan bawah permukaan kedua lapisan ini tergolong tanah
dari daerah belakang Forensik kedalaman lunak
hingga 57 meter terdiri 2 lapisan. Dengan 2. Lapisan 1 memiliki karakteritik Vp
batas terdalam kedua lapisan yakni 34 meter 144,40 m/s dan Vs 69,37 m/s.
pada jarak 78 meter dari titik nol dan batas Sedangkan lapisan 2 memiliki
terdangkal kedua lapisan iyalah 5 pada jarak
karakteristik Vp178,46 m/s dan Vs
30 meter. Lapisan 1 memiliki karakteritik
85,68 m/s. Dimana lapisan 2 lebih
Vp 144,40 m/s dan Vs 69,37 m/s.
Sedangkan lapisan 2 memiliki karakteristik padat dari lapisan 1.
Vp178,46 m/s dan Vs 85,68 m/s. Dari data DAFTAR PUSTAKA
Vs kedua lapisan menunjukkan bahwa
lapisan 1 dan 2 itu tanah lunak. Pada data Asparini Dewi. 2011. Penerapan Metode
Vp lapisan 2 lebih besar dibandingkan Vp Stacking dalam Pemrosesan Sinyal Seismik
lapisan 1, ini menandakan bahwa lapisan 2 Laut di Perairan Barat Aceh. Bogor. IPB
lebih padat dari lapisan 1. Hal ini
mengakibatkan terjadinya refraksi sehingga Hutabarat, R.G. 2009. Integrasi Inversi
pada proses picking terlihat adanya Seismik dengan Atribut Amplitudo Seismik
perbedaan gradien yang kemudian untuk Memetakan Distribusi Reservoar pada
diinterpretasikan sebagai lapisan yang Lapangan Blackfoot. Jakarta. Universitas
berbeda. Berdasarkan observasi, permukaan Indonesia
daerah pengukuran merupakan tanah yang
impermeabel karena tanah tidak mampu Jamady Aris. 2011. Kuantifikasi Frekuensi
menyerap air dengan baik. Pada lapisan 2 dan Resolusi Menggunakan Seismik Refleksi di
memiliki Vp yang lebih besar, sehingga Perairan Maluku Utara. Bogor. IPB
dapat diduga lapisan tersebut lebih padat
daripada lapisan 1. https://www.researchgate.net/publication/277
876048_Interpretasi_Data_Seismik_Refraksi
Pada data seismik refraksi ini, terdapat Menggunakan_Metode_Reciprocal_Hawkins_d
beberapa kendala yaitu adanya geophone 20 an_Sofware_SRIM_Studi_Kasus_Daerah_Sioux
sampai 24 mati sehingga di software ini _Park_Rapid_City_South_Dakota_USA
kami hanya membuat 19 geophone. Selain
itu kendalanya terdapat banyak noise dan http://ensiklopediseismik.blogspot.com/2007/0
terdapat wiggle yang tidak teratur. Wiggle 7/cdp.html
yang tidak teratur ini disebabkan oleh
kesalahan dari pemasangan geophone baik
itu dari kabel maupun geophonenya.
Sedangkan noise disebabkan oleh aktivitas
sekitar tempat pengukuran

KESIMPULAN
Dari hasil praktikum seismik refraksi daerah
belakang Forensik, dapat disimpulkan
bahwa: