Anda di halaman 1dari 37

WASTE TREATMENT COMPETITION

PEMANFAATAN NAPET MENJADI PUPUK CAIR SERTA ANALISIS


EKONOMI DALAM SKALA PRODUKSI MENUJU MERAUKE
SEJAHTERA

Diusulkan Oleh:

Ria Nurmalia Umar 201562201068 Angkatan 2015


Afrian Mujito 201484202004 Angkatan 2014
Khoirul Rozikin 201657201019 Angkatan 2016

UNIVERSITAS MUSAMUS
MERAUKE
2018
HALAMAN PENGESAHAN

1. Judul Karya Tulis : Pemanfaatan Napet Menjadi Pupuk


Cair Serta Analisis Ekonomi dalam
Skala Produksi Menuju Merauke
Sejahtera
2. Instansi : Universitas Musamus
3. Sub Tema Karya : Limbah Pertanian/Perkebunan
4. Ketua
a. Nama Lengkap : Ria Nurmalia Umar
b. NIM : 2015 62 201 068
c. Jurusan/Fakultas : Akuntansi/Ekonomi dan Bisnis
d. Asal Perguruan Tinggi : Universitas Musamus
e. Alamat : Semangga 2
f. No. HP : 0821 9770 5747
g. Alamat e-mail : rianurmaliaumar@gmail.com

5. Dosen Pendamping
a. Nama Lengkap dan Gelar : Mohamad Ilham, S.E., M.Si., Ak. CA
b. NIDN : 0001098706
c. Alamat dan No.HP/Telp. : Perumahan Lampu Satu Indah/
082293798539
Merauke, 10 Oktober 2018

Menyetujui, Ketua Tim,


Dosen Pembimbing,

Mohamad Ilham, S.E., M.Si., Ak. CA Ria Nurmalia Umar


NIDN. 0001098706 NIM. 201562201068

Mengetahui
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Dr. Drs. Samel Watina Ririhena, M.Si


NIP. 19641015 199303 1 001

ii
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS KARYA LOMBA KARYA
TULIS ILMIAH MAHASISWA NASIONAL 2018

Judul Karya Tulis : Pemanfaatan Napet Menjadi Pupuk Cair Serta


Analisis Ekonomi dalam Skala Produksi Menuju
Merauke Sejahtera
Nama Ketua : Ria Nurmalia Umar
Nama Anggota : 1. Afrian Mujito
2. Khoirul Rozikin

Kami yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa karya tulis
dengan judul di atas merupakan karya orisinal yang di buat oleh penulis dan
belum pernah di publikasikan dan/ di lombakan di luar “Waste Treatment
Competition 2018” yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik
Kimia, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Demikian pernyataan ini kami buat
dengan sebenarnya, dan apabila terbukti terdapat pelanggaran di dalamnya, maka
kami siap untuk didiskualifikasikan dari kempetetisi ini sebagai bentuk
pertanggungjawaban kami.

Merauke, 10 Oktober 2018


Menyetujui, Ketua Tim,
Dosen Pembimbing,
Materai 6000

Mohamad Ilham, S.E., M.Si.,Ak. CA Ria Nurmalia Umar


NIDN. 0001098706 NIM. 201562201068

iii
ABSTRAK

PEMANFAATAN NAPET MENJADI PUPUK CAIR SERTA ANALISIS


EKONOMI DALAM SKALA PRODUKSI MENUJU MERAUKE
SEJAHTERA

(1)Mohamad Ilham, SE., M.Si. Ak. CA, (2)Ria Nurmalia Umar, (3)Afrian
Mujito, (4)Khoirul Rozikin.
Universitas Musamus Merauke 99600, Merauke, Indonesia
(1)ilhamilyas772@yahoo.co.id, (2)rianurmaliaumar@gmail.com,
(3)afrianmujito1997@gmail.com, (4)khoirulrozikin110@gmail.com.

Kabupaten Merauke merupakan kota yang dicanangkan sebagai Lumbung Padi


Nasional di Indonesia, tetapi masyarakat lokal masih mengandalkan bantuan
dari pemerintah khususnya masalah pupuk untuk bercocok tanam. Kebutuhan
akan pupuk bagi petani sangatlah tinggi, sedangkan ketersedian pupuk khususnya
pupuk anorganik sangatlah terbatas, sehingga mengakibatkan harga pupuk
meningkat di Kabupaten Merauke. Berdasarkan wawancara dan observasi yang
dilakukan tim penulis di tempat penyedia pupuk di wilayah kota Merauke yakni
pada toko Agro Surya, kepala bidang administrasi menjelaskan bahwa “setiap
bulan persediaan pupuk yang di sediakan yaitu empat kali pengantaran lewat
kapal yang berjumlah dua ratus (200) ton, itupun dalam sebulan selalu habis
terjual dan kekurangan”. Sedangkan disisi lain terdapat potensi lokal misalnya
batang dan bonggol pisang yang dapat di olah menjadi pupuk cair organik yang
biasa di kenal dengan sebutan (Napet). Napet adalah sebutan pisang di Kota
Merauke. Dari sini tim penulis tertarik membuat pupuk organik dengan
memanfaatkan limbah pisang tersebut menjadi pengganti pupuk anorganik, serta
memberikan informasi analisis ekonomi dalam skala produksinya agar
masyarakat lokal dapat menggunakannya. Adapun metode penulisan yang
digunakan, menggunakan studi literatur atau kajian pustaka serta metode
penelitiannya menggunakan metode praktikum lapangan. Berdasarkan hasil yang
diperoleh dari literatur dan praktikum lapangan, batang dan bonggol pisang
dapat dijadikan pupuk cair dimana proses pembuatanya melalui proses
fermentasi. Selain itu, dengan adanya analisis ekonomi skala produksi maka
biaya yang digunakan apabila menggunakan pupuk cair organik dari Napet untuk
pemupukkan dengan luas lahan 1 ha yaitu sebesar Rp. 108.000,-, sedangkan
apabila menggunakan pupuk cair anorganik yang di jual di pasaran yaitu sebesar
Rp. 800.000,-, dengan demikian skala produksi jika dilihat dari segi biaya yang di
keluarkan yakni 1: 7,4 (harga perolehan pupuk cair organik dari Napet: harga
perolehan pupuk cair anorganik) serta menjadi informasi bagi masyarakat lokal
untuk memanfaatkan potensi yang kurang dimanfaatkan secara maksimal yaitu
limbah pohon pisang (Napet).

Kata kunci : Batang dan Bonggol Pisang, Pupuk Anorganik, Pupuk Cair dari
Limbah Pisang .

iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan
karya tulis ilmiah yang berjudul Pemanfaatan Napet Menjadi Pupuk Cair Serta
Analisis Ekonomi Dalam Skala Produksi Menuju Merauke Sejahtera, meskipun
banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Bapak
Mohamad Ilham, SE., M. Si., Ak.CA selaku Dosen pembimbing yang telah
membantu kami tim penulis dalam merevisi karya tulis ilmiah kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai dampak yang ditimbulkan dari limbah,
dan juga bagaimana mengolah limbah menjadi menjadi pupuk yang bermanfaat.
Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam karya tulis ilmiah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya
kritik, saran dan usulan demi perbaikan karya tulis ilmiah ini yang telah kami buat
di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa
saran yang membangun.
Semoga karya tulis ilmiah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun
yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi
kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf
apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon
kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan karya tulis ilmiah ini
di waktu yang akan datang.

Merauke, 10 Oktober 2018

Tim Penulis

v
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ ii
LEMBAR PENYATAAN ORISINALITAS ................................................. iii
ABSTRAK ..................................................................................................... iv
KATA PENGANTAR ................................................................................... v
DAFTAR ISI .................................................................................................. vi
DAFTAR TABEL .......................................................................................... viii
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... ix
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1
A. Latar Belakang ................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .............................................................................. 2
C. Tujuan Penulisan ................................................................................ 3
D. Manfaat Penulisan .............................................................................. 3
E. Sistematika Penulisan ......................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................... 4
A. Kajian Pustaka .................................................................................... 4
B. Batasan Pustaka .................................................................................. 9
BAB III METODE PENULISAN .................................................................. 10
A. Pendekatan Penulisan ......................................................................... 10
B. Sumber Penulisan ............................................................................... 10
C. Sasaran Penulisan ............................................................................... 10
D. Tahapan Penulisan .............................................................................. 10
E. Jenis Penelitian ................................................................................... 11
F. Proses Produksi .................................................................................. 11
BAB IV PEMBAHASAN .............................................................................. 14
A. Hasil Penelitian .................................................................................. 14
B. Pembahasan ........................................................................................ 16
BAB V PENUTUP ......................................................................................... 20
A. Simpulan............................................................................................. 20
B. Saran ................................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 21

vi
LAMPIRAN-LAMPIRAN............................................................................. 23
Lampiran 1. Biodata Ketua Anggota Penulis ................................................. 23
Lampiran 2. KTM Ketua dan Anggota Penulis ............................................. 25
Lampiran 3. Daftar Riwayat Hidup Ketua dan Anggota Penulis ................... 27

vii
DAFTAR TABEL

Tabel I : Kandungan gizi beberapa jenis pisang ................................. 6


Tabel I I : Tabel Skala Produksi dan penggunaan pupuk cair organik
dari Napet ............................................................................. 14
Tabel III : Tabel Skala penggunaan Pupuk cair anorganik .................. 15
Tabel IV : Selisih harga perolehan pupuk dengan penggunaan luas
lahan 500 m2......................................................................... 15

viii
DAFTAR GAMBAR

Gambar I. Peralatan yang Digunakan ................................................... 11


Gambar II. Bahan yang digunakan ......................................................... 12
Gambar III. Bahan yang telah ditumbuk.................................................. 12
Gambar IV. Proses Pencampuran Semua Bahan ..................................... 12
Gambar V. Proses pengadukan ............................................................... 13
Gambar VI. Bahan yang telah dicampurkan ditutup rapat ....................... 13

ix
1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pupuk adalah bahan yang mengandung satu atau lebih unsur hara
tanaman yang jika diberikan ke tanaman dapat meningkatkan pertumbuhan
dan hasil tanaman. Sedangkan pemupukan adalah penambahan satu atau
beberapa hara tanaman yang tersedia atau dapat tersedia kedalam
tanah/tanaman untuk dan atau mempertahankan kesuburan tanah yang ada,
yang ditujukan untuk mencapai produksi/hasil yang tinggi (Novizan, 2001).
Pupuk merupakan bahan alami atau buatan yang ditambahkan ke
tanah dan dapat meningkatkan kesuburan tanah dengan menambah satu atau
lebih hara esensial. Pupuk dibedakan menjadi 2 macam yaitu pupuk organik
dan pupuk anorganik (Maryam dkk., 2008).
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah pulau
terbanyak di dunia. Negara Indonesia dikenal sebagai Negara agraris, dimana
sebagian besar penduduk Indonesia bermata pencaharian sebagai petani.
Namun pada saat ini para petani dihadapkan dengan permasalahan harga
pupuk anorganik yang harganya melambung tinggi, sehingga para petani
mengalami kerugian dikarenakan biaya produksi yang terlalu tinggi.
Khususnya di Provinsi Papua Kabupaten Merauke yang dicanangkan
sebagai Lubung Padi Nasional oleh Pemerintah. Kabupaten Merauke
merupakan salah satu dari 29 Kabupaten / Kota yang ada di Provinsi Papua
terletak dibagian selatan dan memiliki wilayah terluas diantara Kabupaten /
Kota di Provinsi Papua. Secara geografis, Kabupaten Merauke terletak pada
137o – 141o BT dan 6o – 9o LS. Luas Kabupaten Merauke 45.071 km2.
Sebagian besar wilayah Kabupaten Merauke merupakan dataran rendah dan
berawa, luas areal rawa 1.425.000 ha dan dataran tinggi di beberapa
Kecamatan bagian utara Merauke. Karakteristik Kabupaten Merauke yang
sebagian besar wilayahnya merupakan dataran rendah dan berawa,
merupakan areal yang baik untuk pengembangan pertanian dan perikanan
darat. Disamping itu Kabupaten Merauke juga dikelilingi oleh laut yang
terletak di sebelah selatan dan barat kabupaten ini. Secara geografis
2

kabupaten ini merupakan Kabupaten yang wilayah darat dan lautnya


berbatasan langsung dengan Negara tetangga yaitu Papua New Guinea dan
Australia.
Perkembangan ekonomi khususnya sektor industri adalah salah satu
kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam arti tingkat
hidup yang lebih maju maupun taraf hidup yang lebih bermutu, sehinga
diusahakan jika semakin besar kegiatan ekonomi khususnya sektor industri
maka semakin luas lapangan kerja produktif bagi masyarakat (Arsyad, 1999).
Dalam analisis ekonomi, variable harga yang dipakai adalah harga bayangan
(Shadow price). Sedangkan Produksi adalah segala kegiatan dalam
menciptakan dan menambah kegunaan (Utility) suatu barang atau jasa, untuk
kegiatan yang mana dibutuhkan faktor-faktor produksi dalam ilmu ekonomi
berupa tanah, tenaga kerja, dan skill (organization, managerial, dan skills).
Industri pembuatan pupuk cair organik di masyarakat mempunyai
kontribusi yang besar terhadap perekonomian, hal ini disebabkan karena
sektor industri pembuatan pupuk cair organik memiliki alat dan bahan yang
banyak di jumpai di lingkungan masyarakat sehingga mudah di produksi
skala besar dan mampu memberikan manfaat yang tinggi kepada masyarakat.
Kebutuhan akan pupuk di Merauke sangatlah tinggi, Ketersediaan
pupuk anorganik sendiri di Merauke sangat terbatas sehingga dari uraian
diatas maka kami tim penulis memberi judul dalam penelitian ini dengan
judul “Pemanfaatan Napet Menjadi Pupuk Cair Serta Analisis Ekonomi
Dalam Skala Produksi Menuju Merauke Sejahtera karena kami sangat
terinspirasi dari keadaan yang ada di Kabupaten Merauke.”

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maka rumusan masalah yang kami angkat
disini yakni bagaimana cara pemanfaatan Napet menjadi pupuk cair serta
analisis ekonomi dalam skala produksi menuju Merauke sejahtera ?
3

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari pembuatan karya tulis ilmiah ini yakni untuk mengetahui
bagaimana cara pemanfaatan Napet menjadi pupuk cair serta analisis
ekonomi dalam skala produksi menuju Merauke sejahtera.

D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan karya tulis ilmiah ini yakni:
1. Bagi penulis
Menambah wawasan dan pengalaman baru.
2. Bagi masyarakat
Menambah wawasan tentang cara pemanfaatan Napet menjadi pupuk cair
serta analisis ekonomi dalam skala produksi menuju Merauke sejahtera.
3. Bagi institusi
Menambah satu daftar hasil karya tulis ilmiah mahasiswanya.

E. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan pada karya tulis ilmiah ini yakni mengikuti
sistematika yang tertera pada panduan lomba.
4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Pustaka
1. Pupuk Organik dan Anorganik
Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau
tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman
sehingga mampu memproduksi dengan baik (susetya, 2012).
Pupuk adalah bahan yang mengandung satu atau lebih unsur hara
tanaman yang jika diberikan ke tanaman dapat meningkatkan pertumbuhan
dan hasil tanaman. Sedangkan pemupukan adalah penambahan satu atau
beberapa hara tanaman yang tersedia atau dapat tersedia kedalam
tanah/tanaman untuk dan atau mempertahankan kesuburan tanah yang ada,
yang ditujukan untuk mencapai produksi/hasil yang tinggi (Novizan, 2001).
Pupuk merupakan bahan alami atau buatan yang ditambahkan ke
tanah dan dapat meningkatkan kesuburan tanah dengan menambah satu atau
lebih hara esensial. Pupuk dibedakan menjadi 2 macam yaitu pupuk organik
dan pupuk anorganik (Maryam, 2008).
Menurut tim penulis Pupuk merupakan suatu bahan yang bernutrisi
bagi tanaman apabila diberikan ke tanaman. Pupuk terbagi menjadi pupuk
anorganik dan pupuk organik.

a. Pupuk Organik
Yuliarti (2009) menyatakan bahwa pupuk organik mampu
menggemburkan lapisan permukaan tanah, meningkatkan populasi jasat
renik, mempertinggi daya serap dan daya simpan air, serta meningkatkan
kesuburan tanah. Menurut Musnawar (2005) Pupuk organik merupakan
pupuk dengan bahan dasar yang diambil dari alam dengan jumlah dan
jenis unsur hara yang terkandung secara alami, sedangkan granul adalah
bentuk berupa bulatan-bulatan kecil karena proses granulasi mesin
granulator. Pupuk kandang merupakan pupuk organik dari hasil
fermentasi kotoran padat dan cair hewan ternak mamalia dan unggas.
Kompos merupakan pupuk dari hasil pelapukan jaringan tanam dan
limbah organik. Pupuk hayati merupakan pupuk formulasi inokulan
5

strain-strain mikroba unggul yang dapat menambah atau meningkatkan


unsur hara dalam tanah. Pupuk hijau adalah pupuk yang memanfaatkan
jaringan tanaman hijau. Sedangkan menurut tim penulis pupuk organik
merupakan pupuk yang di daur ulang dari limbah hasil dari tanaman
ataupun kotoran hewan.
Menurut Marsono dan paulus, (2001) beberapa kelebihan pupuk
organik antara lain:
1) Mengubah struktur tanah menjadi lebih baik sehingga pertumbuhan
tanaman juga semakin baik. Saat pupuk dimasukkan ke dalam tanah,
bahan organik pada pupuk akan dirombak oleh mikroorganisme
pengurai menjadi senyawa organik sederhana yang mengisi ruang
pori tanah sehingga tanah menjadi gembur. Pupuk organik juga
dapat bertindak sebagai perekat sehingga struktur menjadi lebih
mantap.
2) Meningkatkan daya serap dan daya pegang tanah terhadap air
sehingga tersedia bagi tanaman. Hal ini karena bahan organik
mampu menyerap air dua kali lebih besar dari bobotnya. Dengan
demikian pupuk organik sangat berperan dalam mengatasi
kekeringan air pada musim kering.
3) Memperbaiki kehidupan organisme tanah. Bahan organik dalam
pupuk ini merupakan bahan makanan utama bagi organisme dalam
tanah, seperti cacing, semut, dan microorganisme tanah. Semakin
baik kehidupan tanah ini semakin baik pula pengaruh terhadap
pertumbuhan tanaman dan tanah itu sendiri.

b. Pupuk Anorganik
Pupuk anorganik atau disebut juga sebagai pupuk mineral adalah
pupuk yang mengandung satu atau lebih senyawa anorganik
(Leiwakabessy dan sutandi, 2004).
Penggunaan pupuk anorganik yang tak terkendalikan menjadi
salah satu penyebab penurunan kualitas kesuburan fisik dan kimia tanah.
Keadaan ini semakin diperparah oleh kegiatan pertanian secara terus
menurus, sedangkan pengembalian ketanah pertaniah hanya berupa
6

pupuk kimia. Hal ini mengakibatkan tergradadinya daya dukung dan


kualitas tanah pertanian sehingga produktivitas lahan semakin menurun.
Pupuk anorganik memiliki kelemahan, yaitu selain hanya mempunyai
unsue makro, pupuk anorganik ini sangat sedikit atau pun hampir tidak
mengandung unsur hara makro (Lingga dan Marsono, 2000).
Pupuk anorganik memiliki beberapa keuntungan yaitu
pemberiannya dapat terukur dengan tepat, kebutuhan hara tanaman dapat
terpenuhi dengan perbandingan yang tepat, dan tersedia dalam jumlah
yang cukup. Sedangkan kelemahan dari pupuk anorganik yaitu hanya
memiliki unsur hara makro, pemakaian yang berlebihan dapat merusak
tanah bila tidak diimbangi dengan pupuk kandang atau kompos, dan
pemberian yang berlebihan dapat membuat tanaman mati (Lingga dan
Marsono, 2011).

2. Limbah Perkebunan Pisang


Tanaman pisang yang merupakan suku Musaceae termasuk tanaman
yang besar memanjang. Pisang merupakan tanaman yang berasal dari
kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Di Papua khususnya Merauke
pisang di sebut dengan Napet, sedangkan di kawasan Jawa Tengah dan Jawa
timur dinamakan Gedang.
Pisang merupakan buah yang mengandung banyak gizi yang
diperlukan tubuh, berikut adalah data kandungan gizi pisang:

Tabel I : Kandungan gizi beberapa jenis pisang.


Kandungan gizi Ambon Raja Raja Sere Mas
Kalori (kal) 99 120 118 127
Protein (g) 1,2 1,2 1,2 4
Lemak (g) 0,2 0,2 0,2 0,2
Karbohidrat (g) 25,8 31,8 31,1 33,6
Kalsium (mg) 8,0 10 10 7
Fosfor (mg) 28,0 22 22 25
Zat Besi (mg) 0,5 0,8 0,8 0,8
Vitamin A (S.I) 146 950 112 79
7

Vitamin B1 (mg) 0,08 0,06 0 0,09


Vitamin C (mg) 3 10 4 2
Air (%) 72 65.8 67 64.2
Sumber : Direktorat Gizi Depkes R. I (1992)

Tanaman pisang memiliki banyak manfaat, mulai dari daun, buah,


batang, bonggol hingga akarnya. Tanaman pisang sehabis dipanen
meninggalkan limbah berupa batak dan bonggol pisang yang biasanya
dibiarkan begitu saja, dari sinilah tim penulis memiliki ide untuk
memanfaatkannya menjadi pupuk cair dapat digunakan secara langsung dan
tidak membutuhkan waktu yang cukup lama proses pembuatan pupuk.

3. Pembuatan Pupuk Cair dari Napet


Pupuk organik cair adalah jenis pupuk berbentuk cair tidak padat
mudah sekali larut pada tanah dan membawa unsur-unsur penting untuk
pertumbuhan tanaman. Pupuk organik cair mempunyai banyak kelebihan
diantaranya, pupuk tersebut mengandung zat tertentu seperti
mikroorganisme jarang terdapat dalam pupuk organik padat dalam bentuk
kering (Syefani dan Lilia dalam Mufida, 2013).
Menurut Hadisuwito (2007) pupuk organik cair adalah larutan yang
berasal dari hasil pembusukan bahan-bahan organik yang berasal dari sisa
tanaman, lotoran hewan, dan manusia yang kandungan unsur haranya lebih
dari satu unsur. Kelebihan dari pupuk organik cair adalah sercara cepat
mengatasi defisiensi hara, tidak bermasalah dalam pencucian hara, dan
mampu menyediakan hara yang cepat. Dibandingkan dengan pupuk
anorganik cair, pupuk organik cair umumnya tidak merusak tanah dan
tanaman walaupun digunakan sesering mungkin. Selain itu, pupuk organik
cair juga memiliki bahan pengikat sehingga larutan pupuk yang diberikan
kepermukaan tanah bisa langsung digunakan oleh tanaman (Hadisuwito,
2007).
Pupuk merupakan bahan yang mengandung sejumlah nutrisi yang
diperlukan bagi tanaman. Pemupukan adalah upaya pemberian nutrisi
kepada tanaman guna menunjang kelangsungan hidupnya. Pupuk dapat
8

dibuat dari bahan organik ataupun anorganik. Pemberian pupuk perlu


memperhatikan takaran yang diperlukan oleh tumbuhan, jangan sampai
pupuk yang digunakan kurang atau melebihi takaran yang akhirnya akan
mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pupuk dapat
diberikan lewat tanah ataupun disemprotkan ke daun. Sejak dulu sampai
saat ini pupuk organik diketahui banyak dimanfaatkan sebagai pupuk dalam
sistem usaha tani oleh para petani (Sutedjo, 2010).
Adapun karakteristik umum yang dimiliki oleh pupuk organik
menurut Sutanto (2002) adalah sebagai berikut :
a. Kandungan hara rendah, kandungan hara pupuk organik pada umumnya
rendah tetapi bervariasi tergantung pada jenis bahan dasarnya.
b. Ketersediaan unsur hara lambat, hara yang berasal dari bahan organik
harus dirombak terlebih dahulu oleh mikroba yang bersifat perombak
(dekomposer) menjadi senyawa yang lebih sederhana dan unsur
anorganik agar dapat diserap oleh tanaman.
c. Menyediakan hara dalam jumlah terbatas, penyediaan hara yang berasal
dari pupuk organik biasanya terbatas dan tidak cukup dalam
menyediakan hara yang diperlukan tanaman.
Menurut Purwowidodo (1992) bahwa pupuk organik cair
mengandung unsur kalium yang berperan penting dalam setiap proses
metabolisme tanaman, yaitu dalam sintesis asam amino dan protein dari ion-
ion ammonium serta berperan dalam memelihara tekanan turgor dengan
baik sehingga memungkinkan lancarnya proses-proses metabolisme dan
menjamin kesinambungan pemanjangan sel.
Selain dari Napet ( pisang), limbah organik lainnya yang dapat di
jadikan pupuk cair mol antara lain: Tape, pucuk-pucuk daun hijau segar,
buah-buahan (seperti nanas, pisang, mangga, pepaya, tomat, nangka, dan
lain sebagainya), rebung bambu, keong mas nasi dan masih banyak lagi.
4. Analisis Ekonomi dan Produksi
a. Analisis Ekonomi
Analisis ekonomi ini merupakan analisis finansial, hanya saja
dalam melakukan perhitungan analisis ekonomi dan analisis finansial
9

terjadi berbedaan. Dalam analisis ekonomi, variable harga yang dipakai


adalah harga bayangan (Shadow price), sedangkan analisis finansial,
vsrisble harga yang digunakan adalah data riil yang terjadi di masyarakat
(Soekartawi, 1995).
b. Produksi
Menurut Sofyan Aasauri (2008), pengertian produksi adalah
sebagai berikut, “Produlsi adalah segala kegiatan dalam menciptakan dan
menambah kegunaan (Utility) suatu barang atau jasa, untuk kegiatan
yang mana dibutuhkan faktor-faktor produksi dalam ilmu ekonomi
berupa tanah, tenaga kerja, dan skill (organization, managerial, dan
skills). Sedangkan menurut Bambang Prishardoyo (2005),
mendefinisikan produksi sebagai berikut, Produksi merupakan kegiatan
yan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan menghailkan
barang atau meningkatkan nilai guna suatu barang dan jasa.
Sedangkan menurut tim penulis produksi adalah suatu kegiatan
untuk menciptakan suatu produk dengan menggunakan faktor-faktor
produksi untuk menghasilkan barang atau jasa yang dibutuhkan.

B. Batasan Pustaka
Berikut ini batasan pustaka yang dibuat untuk membatasi
permasalahan penelitian ini yaitu penelitian dilakukan hanya pada
pengelolaan limbah pisang berupa bonggal dan batang pisang dan analisis
ekonomi dalam skala produksi pupuk cair organik dari Napet dan pupuk cair
anorganik.
10

BAB III METODE PENULISAN

A. Pendekatan Penulisan
Pendekatan penulisan yang tim penulis gunakan yaitu pendekanan
empiris yang dilakukan dilapangan dengan menggunakan metode dan teknik
penelitian lapangan. Data yang diperoleh berdasarkan hasil pengamatan dan
praktikum langsung dilapangan dianalisis sesuai dengan kondisi pendekatan/
metode yang digunakan.

B. Sumber Penulisan
Sumber penulisan dari Karya tulis ilmiah ini yakni dari beberapa
jurnal peneliti sebelumnya dan dari beberapa buku mengenai pupuk.

C. Sasaran Penulisan
Sasaran penulisan karya tulis ilmiah ini yaitu untuk masyarakat
khususnya di Kabupaten merauke untuk Para Petani agar dapat memproduksi
pupuk cair organis sendiri untuk pupuk tanamannya.

D. Tahapan Penulisan
1. Tahap pratulis
Tahapan ini adalah tahapan awal sebelum kami menulis. Di tahap
ini terdapat berbagai kegiatan penulis sebelum melakukan proses menulis.
Mulai dari penentuan topik yang akan di ambil dan mempertimbangkan
apakah topik tersebut akan menarik minat pembaca atau tidak.
2. Tahap penulisan
Pada tahap ini penulis menuangkan semua gagasan, pikiran, dan
segala yang ada di pikiran penulis dan di tuliskan dalam sebuah media baik
media tulis ataupun media lain, pada tahap ini semua gagasan di susun
secara kasar atau tidak terstruktur.
3. Tahap Revisi
Pada Tahap ini kami berkonsultasi pada dosen pembimbing kamu
untuk memperbaiki yakni dapat berubah, menambah yang kurang atau
11

mengurangkan yang lebih. Menambah informasi yang mendukung,


mempertajam perumusan penulisan, mengubah urutan penulisan pokok-
pokok pikiran, menghilangkan informasi yang kurang relavan dan
sebagainya.
4. Tahap Penyuntingan
Pada tahap ini penulis mengulang kegiatan membaca draf. Tulisan
pada draf kasar masih memerlukan beberapa perubahan . Kegiatan berupa
meneliti kembali kesalahan dan kelemahan pada draf kasar dengan melihat
ketepatan pada gagasan utama dan tujuan penulisan.
5. Tahap Pengiriman
Tahap ini merupakan tahap akhir dalam penulisan kami, setelah
menghasilkan tulisan yang telah selesai atau di anggap baik dan
mengirimkan tulisan kami kepada tim panitia Lomba.

E. Jenis Penelitian
Adapun jenis penelitian yang kami lakukan adalah eksperimen atau
percobaan. Penelitian ini mengidentifikasi pada praktikum untuk
memanfaatkan limbah dan melibatkan beberapa percobaan untuk pupuk.

F. Proses Produksi
1. Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan untuk pembuatan pupuk cair dari Napet
adalah parang, pisau, alat penumbuk, dan timbangan. Sedangkan bahan
yang digunakan adalah batang dan bonggol pisang, gula merah, dan air
cucian beras.
2. Prosedur Kerja
a. Persiapkan Peralatan yang dibutuhkan

Gambar I. Peralatan yang Digunakan


12

b. Persiapan Bahan dalam Skala Produksi Praktikum


1) Batang dan Bonggol Pisang : 1 kg
2) Gula Merah : 200 g
3) Air Cucian Beras : 3 liter

Gambar II. Bahan yang digunakan


c. Langkah-langkah Membuat
1) Bonggol dan batang pisang, serta gula merah dipotong-potong
kecil lalu di tumbuk-tumbuk.

Gambar III. Bahan yang telah ditumbuk


2) Langkah berikutnya campurkan semua bahan kedalam air cucian
beras.

Gambar IV. Proses Pencampuran Semua Bahan


13

3) Kemudian aduk semua bahan hingga tercampur merata.

Gambar V. Proses pengadukan


4) Setelah itu tutup secara rapat dan simpan pada tempat yang sejuk
dan terhindar dari sinar matahari langsung.

Gambar VI. Bahan yang telah dicampurkan ditutup rapat


5) Simpan selama 15 hari, setiap pagi hari harus dibuka dan diaduk,
kemudian ditutup rapat kembali.
6) Setelah 15 hari, jika pupuk mengeluarkan aroma seperti tape masak
berarti proses pembuatan pupuk berhasil dan siap digunakan. Jika
sebaliknya pupuk mengeluarkan bau tidak sedap berarti proses
pembuatan pupuk cair gagal.
14

BAB IV PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Pupuk Cair organik dari Napet
Pupuk cair organik dari Napet yang tim penulis teliti yakni dengan
pemberian takaran bahan-bahan yang sesuai maka menghasilkan pupuk
cair organik yang difermentasikan selama 15 hari sudah dapat di
aplikasikan pada tanaman. Tanaman-tanaman yang bisa di beri pupuk cair
organik dari Napet yakni tanaman padi dan sayur-sayuran.

2. Analisis Ekonomi dalam Skala Produksi.


Berikut adalah skala produksi dari pembuatan pupuk cair yang terbuat
dari batang dan bonggol Napet bila dibandingkan dengan pupuk cair
anorganik yang dijual di pasaran.
a. Skala Produksi dan Penggunaan Pupuk Cair Organik dari Napet
Berikut adalah tabel skala produksi dan penggunaan pupuk cair
organik dari napet:
Tabel II : Tabel Skala Produksi dan penggunaan pupuk cair organik dari
Napet
Harga Total Harga
Campuran Luas Skala
Bahan Produksi/ Produksi/ Hasil
Air Lahan (1 L/m2)
Perolehan Perolehan
½ kg Rp. 1000,-
Batang
Napet

½ kg 3 liter
Bonggol Rp. 1000,- Pupuk
Pisang Rp. 8000,- Cair 1:250
200 g Organi
150 Liter 750 m2
Gula Rp. 5000,- k dari

Merah Napet

3 L Air Rp. 1000,-


15

Cucian
Beras

b. Skala Penggunaan Pupuk Anorganik


Berikut adalah tabel slaka penggunaan pupuk cair anorganik disini
kami menggunakan pupuk cair Tonik Green.

Tabel III : Tabel Skala penggunaan Pupuk cair anorganik


Skala
Harga Perolehan Volum Campuran Air Luas Lahan
( l l/m2)

Rp. 40.000,- 1 liter 100 liter 500 m2 1:500

Sumber: harga dari Toko Agro Surya yang menyediakan pupuk cair
Anorganik
c. Perbandingan Skala Penggunaan Pupuk Cair Organik dari Napet dan
Penggunaan Pupuk Anorganik
Perbandingan skala penggunaan Pupuk Cair Organik dari Napet
dan penggunaan Pupuk Anorganik yang kami sajikan disini yaitu luas
lahan 500 m2 dan dilihat dari segi perolehan harga dapat dilihat pada tabel
berikut :
Tabel IV : Selisih harga perolehan pupuk dengan penggunaan luas
lahan 500 m2.
Jenis Pupuk Harga perolehan Selisih Skala
2 Liter X Rp.
2.700,- =Rp.
5.400,-
Pupuk Cair (didapat dari
Organik dari harga produksi/
Napet perolehan pupuk
Rp. 34.600,- 1:7,4
pada tabel II,
yakni Rp. 8.000,-
:3)
Pupuk cair
anorganik di Rp. 40.000,-
pasaran
16

Dari tabel di atas maka dapat disimpulkan bahwa selisih harga


perolehan pupuk cair organik dari Napet yang menggunakan 2 liter pupuk
agar setara dengan luas lahan 500 m2 dengan harga perolehan yakni
sebesar Rp. 5.400,- dan harga perolehan pupuk cair anorganik yakni Rp.
40.000,-, sehingga didapat skala perbandingan sebesar 1:7,4.

B. Pembahasan
1. Pembuatan Pupuk Cair Dari Napet
Dalam pembuatan pupuk cair dari Napet ada beberapa faktor
penting yang dapat mempengaruhi proses fermentasi Limbah
diantaranya:
a. Ukuran bahan
Proses fermentasi akan lebih baik dan cepat bila bahan mentah
memiliki ukuran yang lebih kecil. Karena itu, bahan yang ukurannya
besar perlu di cacah dan di tumbuk terlebih dahulu sehingga
ukurannya menjadi lebih kecil. Bahan yang lebih kecil akan mudah
difermentasi karena luas permukaannya meningkat dan mempermudah
aktivitas mikroorganisme perombak.
b. Kelembaban dan Aerasi
Mikroorganisme yang berperan dalam fermentasi melakukan
aktifitas metabolisme diluar sel tubuhnya. Selain itu reaksi biokimia
yang terjadi dalam selaput air tersebut membutuhkan oksigen. Karena
itu difermentasikan bahan organik sangat tergantung dari kelembaban
lingkungan dan oksigen yang di peroleh dari rongga udara yang
terdapat diantara partikel bahan yang di komposisikan. Fermentasi
dapat terjadi secara aerobic dapat terjadi pada kelembaban 30-100%
dengan pengadukan yang cukup saat di buka setiap pagi hari.
Secara umum, kelembaban yang baik untuk berlangsungnya
proses fermentasi secara aerobik adalah 50-60% dengan tingkat
terbaik 50%. Namun sebenarnya kelembaban yang baik pada
fermentasi tergantung dari jenis bahan organik yang digunakan dalam
campuran bahan pupuk cair organik dari napet.
c. Temperatur fermentasi
17

Proses fermentasi akan berjalan dengan baik jika bahan berada


dalam temperature yang sesuai untuk pertumbuhan mikroorganisme
perombak. Temperatur optimum yang dibutuhkan mikroorganisme
yang digunakan untuk merombak bahan adalah 35-55 derajat Celsius.
Namun setiap kelompok mikroorganisme memiliki temperatur
optimum fermentasi merupakan integrasi dari berbagai jenis
mikroorganisme yang terlibat.
d. Derajat keasaman (pH) Fermentasi
Kisaran pH fermentasi yang optimal adalah 6,0-8,0 derajat
keasaman bahan pada permulaan fermentasi umumnya asam sampai
dengan netral (pH 6,0-7,0) derajat keasaman pada awal proses
fermentasi akan mengalami penurunan karena sejumlah
mikroorganisme yang terlibat dalam dalam fermentasi mengubah
bahan organik menjadi asam organik. Pada proses selanjutnya,
mikroorganisme dari jenis yang lain akan mengkonversi asam organic
yang telah terbentuk sehingga bahan memiliki derajat keasaman yang
tinggi dan mendekati netral.
Seperti factor lainnya derajat keasaman perlu dikontrol selama
proses fermentasi berlangsung. Jika derajat keasaman terlalu tinggi
atau terlalu basa konsumsi oksigen akan semakin naik dan akan
memberikan hasil yang buruk bagi lingkungan. Derajat keasaman
yang terlalu tinggi juga akan menyebabkan unsure nitrogen dalam
bahan pupuk berubah menjadi ammonia (NH3) sebaliknya dalam
keadaan asam (derajat keasaman rendah) akan menyebabkan sebagian
mikroorganisme mati. Derajat keasaman yang terlalu tinggi dapat
diturunkan dengan menambahkan gula merah. Jika derajat keasaman
terlalu rendah bisa ditingkatkan dengan menambahkan air beras
kedalam bahan pupuk.
e. Mickroorganisme yang terlibat dalam fermentasi.
Mikroorganisme merupakan factor terpenting dalam proses
Fermentasi karena mikroorganisme ini yang merombak bahan organic
menjadi pupuk cair dari Napet. Ada tujuh mikro organisme yang
18

terdapat pada batang dan bonggol pisang, yaitu Azospirillium,


Azotpbacter, Bacillus, Aeromonas, Aspergillus, mikroba pelarut dan
mikroba selulotik. Sebagian besar dari mikroorganisme yang
melakukan fermentasi berasal dari bahan organic yang digunakan.
Fermentasi akan berlangsung lama jika jumlah mikroorganisme pada
awalnya sedikit. Populasi mikroorganisme selama berlangsungnya
perombakan bahan organic akan terus berubah.

2. Analisis Skala produksi


Analisis ekonomi dalam skala produksi yang di bahas disini sesuai
dengan batasan masalah yang tertera yaitu mengenai pupuk cair organik
dari napet dan pupuk cair anorganik di pasaran. Dari bahan-bahan yang
kami tim penulis gunakan, kami menghabiskan biaya sebesar Rp. 8.000,-
untuk membeli bahan –bahan. Dengan Rp. 8.000,- yang kami keluarkan
dapat menghasilkan 3 liter pupuk cair organik dari Napet, dengan cara
penggunaan yakni 2 liter pupuk cair organik dari Napet di campurkan
dengan 100 liter air atau setara dengan 1 tangki penyemprot, dalam sekali
penyemprotan dengan 1 tangki penyemprot yang mampu menyemprot
lahan dengan luas lahan ± 500 m2, dengan demikian untuk menyemprot
luas lahan 1 ha membutuhan 40 liter pupuk cair organik dari Napet.
Biaya yang digunakan apabila menggunakan pupuk cair organik dari
Napet yaitu sebesar Rp. 108.000,-. Sedangkan apabila menggunakan
pupuk cair anorganik yang di jual di pasaran, dengan cara penggunaan
yakni 1 liter pupuk cair anorganik di campurkan dengan 100 liter air atau
setara dengan 1 tangki penyemprot, dalam sekali penyemprotan dengan 1
tangki penyemprot yang mampu menyemprot lahan dengan luas lahan 500
m2, dengan demikian untuk menyemprot luas lahan 1 ha membutuhan 20
liter pupuk cair organik dari Napet. Biaya yang digunakan untuk
pemupukan luas lahan 1 Ha yaitu sebesar Rp. 800.000,- dengan harga
perolehan 1 liter pupuk anorganik seharga Rp. 40.000,-. Dengan demikian
Skala produksi penggunaan pupuk cair organik dari Napet dan luas lahan
yaitu 1: 250 l/m2, sedangkan Skala penggunaan pupuk cair anorganik
19

dan luas lahan yaitu 1: 500 l/m2. Sedangkan perbandingan biaya kedua
pupuk tersebut untuk luas lahan 1 ha yaitu 1:7,4.

3. Manfaat
Adapun manfaat dari penggunaan pupuk cair organik dari Napet
sendiri yaitu:

a. Pupuk Cair organik dari Napet mengandung unsur hara atau prospat
sehingga banyak digunakan sebagai penambah nutrisi tanaman padi.
b. Pupuk cair organik dari Napet juga mengandung zat pengatur Giberellin
dan Sitokinin.
c. Penggunaan pupuk cair organik dari Napet dapat menghemat biaya
pengeluaran untuk belanja pupuk..
d. Menjadi informasi bagi masyarakat lokal untuk memanfaatkan potensi
yang kurang dimanfaatkan secara maksimal yaitu limbah pohon pisang
(Napet)
20

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan
Pupuk cair organik dari Napet yang tim penulis teliti yakni dengan
pemberian takaran bahan-bahan yang sesuai maka menghasilkan pupuk
cair organik yang difermentasikan selama 15 hari sudah dapat di
aplikasikan pada tanaman. Tanaman-tanaman yang bisa di beri pupuk cair
organik dari Napet yakni tanaman Padi dan Sayur-sayuran.
Biaya yang digunakan apabila menggunakan pupuk cair organik
dari Napet untuk pemupukkan dengan luas lahan 1 ha yaitu sebesar Rp.
108.000,-. Sedangkan apabila menggunakan pupuk cair anorganik yang di
jual di pasaran, biaya yang digunakan untuk pemupukan luas lahan 1 ha
yaitu sebesar Rp. 800.000,-. Dengan demikian skala produksi jika dilihat
dari segi biaya yang di keluarkan yakni 1: 7,4 (harga perolehan pupuk cair
organik dari Napet: harga perolehan pupuk cair anorganik).

B. Saran

Karya tulis yang kami buat tentunya masih banyak kekurangan. Oleh
karena itu kami menyarankan untuk :
1. Melakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor lainnya yang
mempengaruhi laju fermentasi beserta cara pengoptimalkan pembuatan
pupuk cair organik dari Napet agar diperoleh hasil yang besar dalam waktu
cepat.
2. Melakukan penelitian mengenai pemanfaatan limbah tidak sebatas limbah
organik tetapi juga limbah anorganik.
21

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Suhartono, 2011. Studi Pembuatan Roti dengan Substitusi Tepung Pisang
Kepok (Musa Paradosica Formatypicaa). Skripsi. Makasar : Fakultas
Pertanian, Universitas Hasanudin.

Arsyad, Lincolin. (1999). Pengantar Perencanaan dan Pembagunan Ekonomi


Daerah. BPFE Yogyakarta.

Assauri, Sofyan. 2008. Manajemen Produksi dan Operasi. Edisi Revisi. Lembaga
Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Hadisuwito, S. 2007. Membuat Pupuk Kompos Cair PT Agromedia Pustaka


Jakarta: 51 Hlm.

Hadisuwito, S. 2007. Membuat Pupuk Kompos Cair PT Agromedia Pustaka


Jakarta: 51 Hlm.

Leiwakabessy, F. M. Dan A Sutandi, 2004. Pupuk dan Pemupukan . Diktat


Kuliah, Departemen Tanah. Fakultas Pertanian IPB Bogor Lingga, P. dan
Marsono. 2000. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Jakarta: Penebar Swadaya.

Lingga, P. dan Marsono. 2011. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Jakarta: Penebar


Swadaya.

Maryam, R. Siti, Dkk. (2008). Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta :
Salemba Medika.

Marsono dan Paulus Sigit . 2001. Pupuk Akar, Jenis dan Aplikasinya. Swadaya:
Jakarta.

Mufida, L. 2013 Pengaruh Penggunaan Konsentrasi FPE (Fermented Plant


Exrtac)Kulit Pisang Terhadap Jumlah Daun . Kadar Klorofi Dan Kadar
Kalium Pada Tanaman Seledri ( Apiumgraveolens). IKPI PGRI Semarang.
Semarang 126 Hlm.

Musnawar, E. I. 2005. Pupuk Organik . Penebar Swadaya, Jakarta.


22

Novizan 2001. Petunjuk Pemupukan yang Efektif. Agro Media Pustaka, Jakarta.

Novizan 2001. Petunjuk Pemupukan yang Efektif. Agro Media Pustaka, Jakarta.

Prishardoyo, bambang. 2005. Manajemen Operasi.

Pristiadi, U. 2010. Perencanaan Tanah Oleh Pupuk.

Purwowidodo. 1992. Telaah Kesuburan Tanah. Penerbit Angkas. Bandung 126


Hlm.

Soekartawi, 1995. Analisis Usaha Tani, UI-Press.

Susetya, Darma. 2012 Panduan Lengkap Membuat Pupuk Organik ( Untuk


Tanaman Pertanian dan Perkebunan). Yogyakarta: Pustaka Baru Press.

Sutanto. 2002. Panduan Pertanian Organik. Kanisus. Yogyakarta 232 Hlm.

Sutedjo, M. 2010. Pupuk dan Cara Pemupukan. Jakarta: Rineka Cipta.

Winarno, F.G. 1992. Kimia Pangan Dan Gizi. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Yuliarti, Nurheti. (2009). A To Z Food Supplement. Yogyakarta: Penerbit Andi.


23

LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran 1. Biodata Ketua, Anggota Penulis, dan Dosen Pembimbing
1. Biodata Ketua
Nama Lengkap Ria Nurmalia Umar
Tempat, Tanggal Lahir Merauke, 26 Februari 1997
NIM 201562201068
Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Prestasi/Penghargaan -

2. Biodata Anggota I
Nama Lengkap Afrian Mujito
Tempat, Tanggal Lahir Muting Merauke, 7 April 1997
NIM 201484202004
Jurusan Pendidikan Matematika
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Prestasi/Penghargaan Peserta Semi Final LKTI 2018 Tingkat
Mahasiswa se-Indonesia dengan Tema “Sinergi
Budaya Matematika dalam Meningkatkan Mutu
dan Integritas Kearifan Lokal Menuju Indonesia
yang Mendunia”, yang diselenggarakan oleh
HMJ Matriks Universitas Muhammadiyah
Malang.
24

3. Biodata Anggota II
Nama Lengkap Khoirul Rozikin
Tempat, Tanggal Lahir Merauke, 18 Oktober 1997
NIM 201657201019
Jurusan Sistem Informasi
Fakultas Teknik
Prestasi/Penghargaan -
25

Lampiran 2. KTM Ketua dan Anggota Penulis


1. KTM Ketua Tim

2. KTM Anggota 1
26

3. KTM Anggota 2
27

Lampiran 3. Daftar Riwayat Hidup Ketua dan Anggota Penulis


1. Ketua Tim
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Ria Nurmalia Umar, dilahirkan di Merauke 26 Februari 1997 dari
seorang ibu yang bernama Nur Hayati dan seorang ayah yang bernama Umar
Halim. Tahun 2009 penulis menyelesaikan pendidikannya di SD Inpres
Semangga 1. Tahun 2012 penulis menyelesaikan pendidikannya di SMP
Negeri 3 Merauke. Kemudian tahun 2015 penulis menyelesaikan
pendidikannya di SMK Negeri 1 Merauke. Sekarang penulis berada pada
semester 7 jurusan Akuntansi di Universitas Musamus. Pengalaman
berorganisasi diantaranya, pernah menjabat sebagai bendahara umum di
UKM Pramuka Universitas Musamus, menjabat sebagai anggota bidang
kemuslimahan di UKM Al-Kamil Universitas Musamus, dan menjabat
sebagai anggota UKM Pencat Silat Universitas Musamus. Prestasi yang
pernah di dapat oleh penulis diantaranya, sebagai peserta lomba MTQMN
XV tahun 2017 di Universitas Malang, sebagai peserta LATGABNAS IX
tahun 2017 di Universitas Negeri Makasar.

2. Anggota 1
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Afrian Mujito, dilahirkan di Muting Merauke 07 April 1997. Tahun
2009 penulis menyelesaikan pendidikannya di SD Muting Tahun 2012
penulis menyelesaikan pendidikannya di SMP Muting Kemudian tahun 2015
penulis menyelesaikan pendidikannya di SMA Negeri 3 Merauke. Sekarang
penulis berada pada semester 9 Jurusan Matematika di Universitas Musamus.
Pengalaman berorganisasi diantaranya, pernah menjabat sebagai anggota
bdang pengabdian masyarakat di UKM Pramuka Universitas Musamus,
Prestasi yang pernah di dapat oleh penulis diantaranya, Peserta Semi Final
LKTI 2018 Tingkat Mahasiswa se-Indonesia dengan Tema “Sinergi Budaya
Matematika dalam Meningkatkan Mutu dan Integritas Kearifan Lokal
Menuju Indonesia yang Mendunia”, di Universitas Muhammadiyah Malang.
28

3. Anggota 2
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Khoirul Rozikin, dilahirkan di Merauke 18 oktober 1997 dari
seorang ibu yang bernama Umiyati dan seorang ayah yang bernama Sunoto.
Tahun 2004 penulis meyelesaikan pendidikan di TK Assalam Yapis. Tahun
2010 penulis menyelesaikan pendidikannya di SD Inpres Tanah Miring VIII.
Tahun 2013 penulis menyelesaikan pendidikannya di SMP Negeri 13
Merauke. Kemudian tahun 2016 penulis menyelesaikan pendidikannya di
SMK Negeri 1 Merauke. Sekarang penulis berada pada semester 5 jurusan
Sistem Informasi di Universitas Musamus. Menjabat sebagai anggota di
UKM Al-Kamil Universitas Musamus, dan menjabat sebagai anggota PMII
Cabang Merauke. Prestasi yang pernah di raih yakni Mengikuti Pelatihan
PMII di Jayapura.

Anda mungkin juga menyukai