Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN TUTORIAL

BLOK 16

Pemasangan,kontrol serta kegagalan GTP

Modul 3

Tutor

drg. Aria Fransiska, MDSc

KELOMPOK 5

SARAH NABILA WIGUNA

SHAFIRA AULIA FIKRIE

SITI HARTSUR RAHMY

SONYA JUITA

SYNTHA MUSTIKA YASRI DEWI

TATHA FABILLA KRISWANDI

ULFA RIZALNI

VAREN NADYA ANTONI

VELYA APRO

VIKRA PRASETYA WALDI

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS ANDALAS

2018/2019
MODUL 3

PEMASANGAN,KONTROL SERTA KEGAGALAN GTP

Senangnya dalam hati..

Ibu keken (63 tahun) datang ke drg.kokom untuk pemasangan gigitiruan barunya.
Sebenarnya ibu keken sudah menggunakan GTP yang dibuat oleh tugang gigi selama hampir
5 tahun, tetapi sekarang gigi tiruan tersebut sudah sangat jelek sekali dan longgar. Pada awal
kunjungan, Drg kokom menjelaskan padanya untuk dibuatkan gigitiruan yang baru karena
gigitiruan lamanya tidak bisa direlining ataupun rebasing. Hal ini karena dari pemeriksaan
klinis didapat bahwa linggir posterior rahang bawah flat ridge dan terdapat epulis fisuratum
pada region anterior superior dextra.

Setelah dilakukan insersi dan sedikit peyesuaian,Drg kokom menjelaskan instruksi


pemeliharaan gigitiruan yang harus dilakukan ibu keken. Dia juga mengingatkan ibu keken
harus datang kembali untuk melakukan kontrol. Ibu keken menyetujuinya dan terlihat sangat
puas dengan penampilannya setelah memakai gigi tiruan yang baru ini.

Bagaimana menurut anda kasus gigitiruan ibu keken?


A. Langkah Seven Jumps
1. Mengklarifikasi terminologi yang tidak diketahui dan mendefinisikan hal-hal yang
dapat menimbulkan kesalahan interpretasi
2. Menentukan masalah
3. Menganalisa masalah melalui brain storming dengan menggunakan prior
knowledge
4. Membuat skema atau diagram dari komponen-komponen permasalahan dan
mencari korelasi dan interaksi antar masing-masing komponen untuk membuat
solusi secara terintegrasi
5. Memformulasikan tujuan pembelajaran
6. Mengumpulkan informasi di perpustakaan, internet, dan lain-lain

7. Sintesa dan uji informasi yang telah diperoleh

B. Uraian
Langkah 1: Terminologi

1. Relining adalah penambahan lapisan akrilik pada tepi sayap gigi tiruan
permukaan dalam lokal atau menyeluruh
2. Rebasing adalah penggantian basis tanpa mengubah oklusi dan relasi dengan
anasir yang sama
3. Flat ridge adalah linggir resorpsi parah atrofi
4. Epulis fissuratum adalah tumor jinak pada gingiva akibat iritasi kronik
pemakaian gigi tiruan

Langkah 2: Menentukan masalah

1. Apa penyebab gigi tiruan di skenario jelek dan longgar?

2. Apa tujuan relining dan rebasing?

3. Apa syarat gigi tiruan di relining dan rebasing ?

4. Mengapa gigi tiruan kasus skenario tidak bisa di relining dan rebasing ?

5. Apa saja indikasi dan kontraindkasi reniling dan rebasing ?

6.Bagaimana tahap relining dan rebasing?

7. Apa saja resiko relining dan rebasing ?


8. Bagaimana patogenesis epulis fissuratum?

9. Apa saja yang harus diperhatiakan saat insersi?

10. Apa saja keluhan pasca insersi GTP?

11. Apa hal yang harus diinstruksikan untuk pemeliharaan gigi tiruan ?

12. Kapan waktu kontrol pada GTP?

13. Apa saja kesalahan dan kegagalan pada gigi tiruan?

14. Apa saja dampak penggunaan GTP yang tidak tepat?

Langkah 3: Menganalisa masalah

1. penyebab GT jelek dan longgar

 Resorpsi residual ridge


 Penyakit sistemik
 Kesalahan oklusi
 Sayap terlalu pendek
 Kesalahan demensi vertikal
 Perforasi pada GTP
 GTP lama postdam kurang
 Basis menekan

2. tujuan relining dan rebasing

 Memperbaiki adaptasi basis


 Memperoleh permukaan jaringan mukosa secara akurat
 Memperpanjang waktu pemakaian GTP

3. syarat reniling dan rebasing

 Dimensi vertical masih baik


 Oklusi sentrik dan relasi sentrik masih baik
 Estetik baik
 Mukosa mulut sehat
 Tidak ada undercut
 Fonetik baik
 Kondisi anasir masih baik
 Tulang dan mukosa baik
4. kenapa tidak bisa direlining dan rebasing

 Kondisi anasir sudah tidak baik


 RB flat ridge RA epulis fissuratum

5. indikasi dan kontraindikasi relining dan rebasing

Indikasi relining

 Ketika GTP kurang adaptasi terhadap mukosa


 Hilangnya retensi GTP
 Akumulasi makanan di bawah GTP
 Iritasi mukosa pendukung
 Underextended gigi tiruan
 Membentuk post dam
 Resorpsi tulang alveolar

Kotraindikasi relining

 Estetis GTP jelek


 Relasi rahang bawah dan atas jelek
 Kelainan sendi rahang (kelainan TMJ)
 GTP yang sudah lama
 Dimensi vertical berkurang 7 mm
 Jika relining menyebabkan gangguan pengucapan
 Resorpsi yang banyak
 Kelainan pada jaringan lunak
 Estetis jelek

Indikasi rebasing

 Immediate denture
 Dimensi vertikal dan relasi sentrik tetap
 Gigi anasir tidak abrasi
 Tidak memungkinkan dilakukannya relining
 Under ekstended GTP
 Resorpsi tulang alveolar
 GTP longgar tapi masih bisa diperbaiki
 Oklusi baik
 Dasar resin buruk sehingga tidak bisa direlining
 Porositar terlalu banyak
 Stain terlalu tebal

Kontraindikasi rebasing

 Elemen gigi tiruan rusak, aus, atau patah


 Estetis tidak baik lagi
6. tahap relining dan rebasing

 Tepi sayap dikurangi 1-2 mm


 Pencetakan dengan GT lama
 Muscle trimming

7. resiko relining dan rebasing

 Bergeraknya gigi selama prosedur lab


 Pecahnya anasir saat flasking
 Distorsi

8. patogenesis epulis fissuratum

 Pinggir sayap GT tajam


 GTP tidak stabil
 Pertumbuhan jaringan ikat karena iritasi kronis

9. yang harus diperhatikan saat insersi

 Permukaan polis dan mekanis dicek apakah ada permukaan yang tajam, maka
harus dipoles
 Pada saat insersi, arah pemasangan dan hambatan harus diperhatikan
 Lakukan pemeriksaan retensi, kenyamanan, oklusi, dan fungsi fonetik
 Stabilitas juga perlu dicek pada saat menelan dan mengunyah
 Diperhatikan pada articulating paper ada atau tidaknya premature contact

10. keluhan pasca insersi GTP

 Rasa sakit akibat sayap landasan


 Kesalahan oklusi
 GTP longgar
 Ketidak puasan pasien terhadap estetik
 Kesulitan dalam berbicara
 Masalah pengunyahan
 Tersedak

11. yang diinstruksikan untuk pemeliharaan GT

 Instruksi bahwa protesa hanrus dijaga kebersihannya


 Protesa harus dilepas pada malam hari
 Bila ada gangguan atau rasa kurang nyaman kunjungi dokter gigi
 Pasien harus melakukan kontrol sesuai jadwal
 Instruksi harus dilakukan secara verbal dan tertulis

12. waktu kontrol pada GTP

 Kunjunga pertama 1 hari setelah pemasangan


 Kunjungan kedua 1 minggu setelah pemasangan
 Subj : keluhan,penyebab
 Obj : keadaan rongga mulut baik atau tidak karena gigi tiruan ,retensi dan
stabilisasi
 Instruksi untuk pemakaian 24 jam pasca insersi

13. kesalahan dan kegagalan pada GTP

 Gigi atas konkaf sehingga mempengaruhi estetis


 Iritasi jaringan lunak, dimana dimensi vertikal terlalu tinggi sehingga
menyebabkan gangguan oklusi dan puncak linggir tajam
 Rasa nyeri terus menerus pada mukosa
 Mulut pasien terasa penuh dikarenakan dimensi vertikal yang salah
 Kurang cekatnya GTP
 Fraktur pada GTP karena kesalahan kontruksi dan resorpsi linggir tulang
alveolar
 Kesulitan dalam berbicara
 Masalah pengunyahan
 Bruxism dikarenakan dimensi vertikal yang terlalu tinggi
 Tersedak dikarenakan bagian posterior basis GTP yang terlalu panjang
Mukosa bukal yang tergigit

14. dampak penggunaan GTP yang tidak tepat

 Adanya ulserasi di bawah GTP


Ex: Cheilitis, denture stomatitis (terjadi pada 50% pengguna GTP)
 Adanya inflamasi
 GTP tidak stabil
LANGKAH 4 : SKEMA

Ibu keken (63 thn)

GTP lama longgar

Ke praktek
drg.kokom

Pem.klinis:

-linggir post RB flat ridge

-epulis fissuratum pd regio anterior superior


dextra

solusi

Relining dan Pembuatan GTP baru


rebasing

insersi Dampak Kesalahan dan


pemasangan GTP kegagalan pada GTP
Hal yang harus tidak besar
diperhatiakan
operator

Instruksi pasien

Kesalahan
pada insersi

kontrol
Langkah 5: Tujuan pembelajaran

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan insersi

2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan relining dan rebasing

3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan dampak pemasangan GTP tidak benar

4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan kesalahan dan kegagalan pada GTP

Langkah 6: Mengumpulkan informasi di perpustakaan, internet dan lain-lain

1. insersi

Prosedur pemasangan gigi tiruan harus dijadwalkan karena memerlukanwaktu yang


cukup untuk melakukan pemasangan gigi tiruan dan konsultasi untukmenjawab setiap
pertanyaan dn kekhawatiran pasien. Pasien diintruksikan untukmenanggalkan gigi tiruan
lamanya selama 12-24 jam sebelum gigi tiruan yang baru dipasangkan agar gigi tiruan baru
dapat beradaptasi pada jaringan yang sehatdan tidak dalam keadaan distorsi.

Sebelum pemasangan gigi tiruan lakukan pemeriksaan pada permukaan basis gigi
tiruan yang menghadap ke jaringan mulut dan permukaan yang dipolesharus bebas dari porus
serta goresan tajam untuk menghindari trauma padamukosa mulut serta tumpukan plak.

Pemeriksaan gigi tiruan dilakukan satu persatu secara terpisah untuk retensi stabilitas
dan kenyamanan didalam rongga mulut kemudian oklusi dan!onetik diperiksa setelah gigi
tiruan atas dan bawah berada dalam rongga mulut.Pemeriksaan oklusi dilakukan dengan
artikulating paper untuk mengoreksi kontak prematur. "ulut harus dapat ditutup secara
bersamaan tanpa adanya hambatan.

Pasien dianjurkan untuk memakai selama 24 jam setelah pemasangan untuk


menyesuaikan gigi tiruan di dalam rongga mulut. Pasien diberikan informasi dan petunjuk
secara ferbal maupun intruksi tertulis mengeni pemakaiangigi tiruan cara pembersihan dan
pemeliharaan gigi tiruan yang dipakainya sertat entang pemeriksaan secara periodik yang
diperlukan.

Hal- hal yang Perlu Diperhatikan

Sebelum Insesi

Yaitu tahap persiapan pemasangan gigi tiruan penuh factor yang harus diperhatikan adalah
pengamatan terhadap gigi tiruan berupa:

1. Permukaan polis/ permukaan mekanis


Tidak ada bagian yang tajam/ kasar
Dipakai untuk menghindari:
 Terhindarnya penumpukan plak
 Terhindarnya dari iritasi pada lidah dan pipi

2.Permukaan anatomis/ permukaan yang menghadap jaringan

Pada saat Insersi

a. Arah pemasangan
b. Hambatan saat pemasangan

Setelah Insersi

Setelah protesa dibersihkan dalam mulut dan diperhatikan


a. Retensi
Dicek dengan menggerak- gerakkan pipi dan bibir, dilihat apakah protesa lepas atau
tidak.
b. Oklusal
Dicek ada atau tidaknya premature kontak.Apabila oklusinya terganggu dilakukan
grinding.Gangguan diketahui dengan kertas artikulasi yang diletakkan pada saat oklusi,
kemudian pasien disuruh menggerakkan gigi seperti mengunyah.Pengurangan menggunakan
hokum BULL dan MULD (pengurangan pada permukaan bukal dan mesial pada rahang atas
dan pengurangan lingual dan distal pada rahang bawah).Gangguan diketahui dengan kertass
artikulasi yang diletakkan pada oklusi kemudian pasien disuruh menggerakkan gigi seperti
mengunyah
c. Stabilisasi
Dicek saat mulut berfungsi, tidak boleh mengganggu mastikasi, penelanan, bicara,
ekspresi wajah dan sebagainya.Apabila sudah tidak ada gangguan, maka protesa dapat
dipolis.

Beberapa hal lain yang harus diperhatikan


RETENSI & STABILISASI Periksa Oklusi
Gigi tiruan rahang atas
Gigi tiruan jatuh saat dibuka lebar yang disebabkan oleh kesalahan oklusi sentrik,
kurang luasnya basis posterior, kurangnya posterior palatal seal, perluasan yang
berlebihan di daerah notch

Gigi tiruan jatuh ataubergeser pada sisi seimbang


- Hubungan gigi terhadap linggir alveolus tidak tepat/ baik
- Gangguan diatas tonjol bukal gigi rahang atas dan gigi rahang bawah pada sisi
working side atau fungsional
- Kontak oklusal defleksi pada tonjol- tonjol sisi seimbang
Hilangnya retensi saat tertawa
- Perluasan tepi gigi tiruan yang tidak tepat
- Aktivitas otot wajah yang ekstream

Hilangnya retensi saat bersiul


- Perluasan berlebihan atau ketebalan dari tepi labial gigi tiruan
- Gangguan pada border seal

Kurangnya retensi yang menyeluruh


- Gangguan oklusi yang berlebihan
- Kurangnya border seal
- Bentuk gigi tiruan yang salah
- Menurunnya jaringan daerah pendukung utama

Instruksi Khusus Kepada Pasien


Penjelasan tentang

 Keterbatasan gigi tiruan


 Kesulitan pemakaian gigi tiruan
 Cara pemeliharaan gigi tiruan
 Individualitas masing- masing pasien
 Perubahan penampilan dengan gigi tiruan baru
 Pengunyahan dengan gigi tiruan baru biasanya butuh latihan agar terbiasa selama6- 8
minggu untuk melatih otot- otot pipi dan bibir
 Mengunyah pada kedua sisi, mulai dari makanan lunak dan dipotong kecil- kecil
 Menggigit makanan diantara gigi pada sudut mulut, jaringan di anterior, kemudian
makanan didorong ke dalam dan ke atas, bukan sebaliknya
 Posisi lidah lebih ke anterior selama pengunyahan agar lebih stabil
 Bicara dengan gigi tiruan baru, berlatih membaca keras dan mengucapkan kata- kata
yang sulit
 Kebersihan mulut dengan gigi tiruan. Dimana gigi tiruan dicuci setiap setelah makan,
sekali sehari gigi tiruan direndam dalam cairan pembersih selama 30 menit
 Jangan anjurkan pasien membersihkan gigi tiruan dengan pasta gigi
 Permukaan mukosa dari tulang alveolar dan dorsal lidah disikat untuk meningkatkan
aliran darah dan menghilangkan debris
 Memertahankan sisa alveolar, apabila mengalami iritasi lepas gigi tiruan, control
kembali, dan gigi tiruan dipakai sebelum ke klinik sehingga dapat diketahui titik- titik
yang sakit
 Gigi tiruan dilepas pada malam hari
 Kontrol sekurang- kurangnya sekali setahun
 Beri informasi tertulis
Secara garis besar pemeriksaan pada waktu pemasangan gigi tiruan lengkap
didalam mulut dapat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu : pemeriksaan retensi, estetika, dan
kestabilan.
RETENSI
Menurut A. Roy MacGregor dan David M.Watt, retensi dapat didefinisikan
sebagai ketahanan gigi tiruan untuk melawan gaya-gaya yang melepaskannya dari
mulut. Di dalam bukunya digambarkan dengan sederhana mengenai faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi
retensi gigi tiruan lengkap sebagai berikut : Gigi tiruan lengkap diibaratkan dua
balok yang mempunyai berat yang sama tetapi ukuran berbeda, menempel pada dasar suatu
bak. Diantara
balok dan dasar bak terdapat selapis tipis air (lapisan saliva), ternyata balok yang lebih besar
mengalami hambatan yang lebih besar saat dikeluarkan, karena permukaan yang berkontak
lebih luas dan karena adanya gaya-gaya dalam cairan.
Menurut A. Roy MacGregor dan David M.Watt gaya yang berhubungan dengan
lapisan
saliva ( gaya-gaya fisik ) yang berhubungan dengan retensi suatu gigi tiruan secara garis
besar
dapat dibagi atas tiga :
1. Adhesi
Gaya tarik-menarik antara saliva dengan basis gigi tiruan dan antara saliva dengan
mukosa
2. Gaya-gaya dalam cairan
Gaya-gaya dalam cairan ( tegangan permukaan saliva, gaya kohesi dalam cairan saliva,
dan viskositas saliva), semua mempengaruhi retensi gigi tiruan dan berhubungan dengan
ketepatan kontak basis terhadap kontak mulut.
3. Tekanan atmosfir
Tekanan atmosfir yang lebih rendah dalam cairan saliva dapat menahan gaya-gaya yang
akan melepaskan gigi tiruan asal peripheral seal utuh.

A. Roy MacGregor juga menjelaskan bahwa, retensi gigi tiruan lengkap dipengaruhi
juga oleh
tiga faktor utama dalam desain gigi tiruan yaitu :

1. Ketepatan kontak antara basis gigi tiruan dengan mukosa mulut.


Ketepatan antara basis gigi tiruan dan mukosa mulut tergantung pada aktivitas
gaya fisik dari adhesi dan kohesi yang bersama-sama. Untuk mendapatkan retensi
yang maksimal dari gigi tiruan, gigi tiruan harus pas atau tepat dengan permukaan
mukosa yang tidak tertekan.
2. Perluasan basis gigi tiruan.
Retensi gigi tiruan berbanding langsung dengan luas daerah yang ditutupi oleh
basis gigi tiruan.
3. Peripheral seal.
Peripheral seal adalah kontak antara mukosa dan tepi serta permukaan gigi tiruan
yang dipoles yang mencegah keluar masuknya udara.
Sifat utama yang harus dimiliki oleh daerah ini adalah kontinuitas sepanjang tepi
gigi tiruan, sehingga penutupan benar-benar utuh. Mengenai hubungan peripheral-

seal dengan gaya dalam saliva serta retensi gigi tiruan lengkap dikatakan bahwa;
Retensi berhubungan dengan aliran saliva yang melalui tepi gigi tiruan. Retensi
bertambah dengan adanya faktor-faktor yang menghalangi aliran cairan dan
berkurang dengan adanya faktor-faktor yang membantu aliran tersebut, dalam hal
ini adalah peripheral seal.
Pemeriksaan terhadap retensi dapat dilakukan dengan cara memasang gigi tiruan kuat-
kuat di dalam mulut dan mencoba melepaskan gigi tiruan dengan gaya yang tegak lurus
pada bidang oklusal. Bila gigi tiruan dapat bertahan terhadap gaya tersebut, gigi tiruan
mempunyai retensi yang cukup.

ESTETIKA
Pada pemerikasaan estetika menurut A. Grant (1) terdapat beberapa hal yang perlu
diperhatikan :
1. Dukungan dari gigi tiruan terhadap bibir dan pipi sehingga memperlihatkan
ekspresi wajah yang wajar.
2. Garis median muka berhimpit dengan garis median gigi tiruan.
3. Bidang oklusal sejajar dengan garis inter pupil dan alatragus, serta pada saat
istirahat setinggi bibir atas
4. Gigi anterior rahang atas dan rahang bawah cukup terlihat pada saat mulut
setengah terbuka.
5. Terdapat keharmonisan antara ukuran, bentuk, kontur, warna, serta susunan gigi
tiruan dengan wajah pasien.
6. Tidak ada gigi tiruan yang berubah posisi.
7. Susunan gigi anterior tidak terlalu ke anterior, palatal atau lingual, tetapi tersusun
pada daerah neutral zona ( daerah penyusunan gigi yang tidak mengganggu fungsi
otot ). Permukaan labial dari gigi incisive sentral atas berada kira-kira 8 – 10 mm
sebelah anterior dari pertengahan papilla incisive. Bila penyusunan gigi terlalu ke
posterior ( berjarak kurang dari 8 mm ) menyebabkan dukungan gigi tiruan papda
bibir berkurang yang ditandai dengan penurunan sudut bibir, berkurangnya bagian
vermillion border yang terlihat, penurunan dan pendalaman sulcus nasolabialis,
garis-garis vertical kecil atau kerutan-kerutan diatas vermillion border, philtrum
tidak Nampak dengan nyata, dan juga dapat diperkirakan adanya ruang lidah yang
sempit di anterior. Bila penyusunan terlalu ke anterior mengakibatkan penampilan
wajah yang Nampak kaku, bibir Nampak tegang, perubahan bentuk bibir, sulcus
dan philtrum, dan gigi tiruan cenderung lepas sewaktu berfungsi.

Estetis yang kurang memuaskan dapat disebabkan oleh kesalahan penentuan


hubungan
rahang, kesalahan prosesing sehingga susunan gigi geligi kurang bagus, atau kontur gigi yang
kurang baik. Keadaan ini tidak dapat diperbaiki di ruang praktek, tetapi harus melalui
pengulangan proses laboratorium atau dengan pembuatan gigi tiruan baru.

KESTABILAN
Dalam Glossary of Prosthodontic terms ( 1962 ) kestabilan didefinisikan sebagai
gigi tiruan untuk tetap bertahan di tempat, melawan tekanan functional yang
menggerakkannya dan tidak sebagi subjek yang mudah berubah posisi bila tekanan jatuh
padanya.
Sedang kestabilan gigi tiruan menurut A. Roy MacGregor adalah daya tahan gigi tiruan
untuk bertahan pada tempatnya melawan gerakan-gerakan, dan sifat gigi tiruan untuk
tetap
dalam keadaan seimbang terhadap jaringan pendukung.
Selain faktor retensi kestabilan gigi tiruan lengkap dipengaruhi juga oleh :

1. Faktor jaringan pendukung.


Jaringan pendukung adalah jaringan yang merupakan tempat gigi tiruan bertumpu, yang
terdiri dari jaringan yang menerima beban pengunyahan yang jatuh pada gigi tiruan, yaitu
mukosa mulut serta tulang dibawahnya. Dalam pembuatan gigi tiruan diusahakan
jaringan pendukung yang seluas mungkin.

2. Keseimbangan terhadap otot-otot.


Permukaan gigi tiruan yang berkontak dengan otot-otot bibir, pipi dan lidah harus
disesuaikan dengan aktivitas otot-otot tersebut, karena aktifitas otot-otot diatas secara
aktif maupun pasif dapat mempengaruhi gigi tiruan dengan cara menekan gigi tiruan.
Ketidakstabilan gigi tiruan biasanya dihubungkan dengan kontraksi otot yang melampaui
batas fungsi normal.

3. Penyusunan gigi geligi.


Sehubungan dengan kestabilan gigi tiruan pada waktu penyusunan gigi-geligi perlu
diperhatikan posisi gigi terhadap sumbu processus alveolaris dan puncak processus
alveolaris.
 Posisi gigi terhadap sumbu processus alveolaris
Kestabilan yang baik akan diperoleh bila sumbu gigi sejajar atau berhimpit
dengan sumbu processus alveolaris karena tekanan akan jatuh pada puncak
alveolar. Gigi yang disusun terlalu ke bukal akan mengurangi kestabilan karena
tekanan akan jatuh pada lereng alveolar, disamping itu akan mengganggu gerakan
otot-otot sehingga gigi tiruan akan mudah terangkat.
Posisi gigi terhadap puncak processus alveolaris.
Permukaan bidang oklusal gigi tiruan bawah yang disusun terlalu jauh dari
puncak alveolaris akan mengakibatkan lidah terpaksa harus menggunakan
kekuatan yang lebih besar untuk menempatkan makanan ke permukaan oklusal,
sehingga memperbesar kemungkinan terangkatnya gigi tiruan bawah.

4. Hubungan rahang
Hubungan rahang terbagi menjadi dua :
 Hubungan rahang dalam arah vertical ( dimensi vertical ).
Yaitu jarak antara rahang atas dan bawah yang memberikan ekspresi wajah
normal
Saat rahang atas dalam keadaan instirahat gigi geligi agak terpisah, dan tinggi
wajah sedikit lebih besar daripada saat gigi berkontak, sehingga terdapat ruanganantara
permukaan oklusal gigi yang disebut free way space. Free way space ini
penting artinya untuk kelancaran pengucapan huruf, dan sebagai pedoman dalam-
mengembalikan tinggi wajah pasien yang sudah tidak bergigi. Besarnya free way
space yang dianggap normal adalah 2 – 4 mm. untuk mendapatkan dimensi
vertical yang tepat dilakukan pengukuran dan diperiksa dengan cara fonetik,
dimana pasien diinstruksikan untuk mengucapkan kata-kata yang banyak
mengandung bunyi desis misalnya missisipi.

A. Roy MacGregor mengatakan umumnya pasien lebih bias menerima dimensi


vertical yang lebih kecil daripada yang lebih besar, karena dimensi vertical yang
lebih besar free way spacenya menjadi kurang sehingga pada waktu berbicara gigi
atas dan bawah sering menimbulkan benturan antar tonjol gigi-geligi sehingga
mengganggu proses bicara dan fonetiknya. Pada keadaan yang lebih parah
terdengar suara benturan yang lebih keras. Sedang menurut Sheldon Winkler
(1975) selain hal diatas, kemampuan pengunyahan berkurang serta estetika
kurang memuaskan, karena mulut tampak penuh, otot muka terlihat tegang dan
penderita sukar menutup mulut, menelan, serta pasien akan mengeluh sakit pada
jaringan pendukung gigi tiruan. Pada dimensi vertical yang besar karena
kemungkinan otot-otot tidak rileks, akan mengakibatkan otot-otot merasa lelah

 Hubungan rahang dalam arah horizontal (relasi sentrik)


Relasi sentrik adalah hubungan paling posterior dari mandibula terhadap maksila
dimana kondilus terletak paling posterior dan rileks dalam fossa glenoidea pada
dimensi vertical oklusal tertentu.
Relasi sentrik dapat diperiksa dengan melihat kontak gigi posterior. Pada waktu
pasien menggigit dalam keadaan relasi sentrik, gigi atas dan bawah harus
menggigit dalam oklusi sentrik ( maximal intercuspation ). Jadi harus sama
dengan oklusi sentrik dalam articulator, karena oklusi sentrik dibuat sama dengan
relasi sentrik dalam pembuatan. Bila oklusi sentrik tidak sama dengan relasi
sentrik, gigi tiruan tidak akan stabil, karena pada saat menggigit tonjol-tonjol
lingual gigi tidak jatuh dalam fossa atau marginal ridge lawannya, tetapi jatuh
pada lereng tonjol dulu dan setelah menggigit keras baru masuk ke fossa sehingga
terjadi pergeseran yang disebut “Slide in Centric”

5. Oklusi dan artikulasi.


Oklusi adalah hubungan kontak statis antara tonjol-tonjol atau permukaan kunyah gigi-
gigi atas dan bawah.
Pada saat sekarang ini oklusi cenderung diartikan sebagai tiap hubungan kontak antara
gigi atas dan bawah karena kontak yang benar-benar statis itu tidak ada.
Secara klinis terdapat empat posisi dari oklusiyang dapat dicari :
1) Oklusi sentries ( posisi kontak mundur )
2) Oklusi protrusive
3) Oklusi lateral kanan
4) Oklusi lateral kiri
Artikulasi adalah kontak geser yang dinamis antara tonjol gigi atas dan bawah pada saat
rahang melakukan gerakan dengan mulut tertutup.

Sedangkan yang dimaksud dengan artikulasi yang seimbang adalah kontak geser
yang
terus-menerus antar tonjol gigi atas dan bawah di seluruh lengkung rahang pada setiap
gerakan mandibula dengan mulut tertutup.
Ketidakseimbangan oklusi dan artikulasi akan mempengaruhi kestabilan gigi tiruan,
karena gigi tiruan akan terasa longgar, dan bergeser pada ridge setelah kontak oklusi.
Akibatnya pasien hanya dapat memakai gigi tiruan dengan nyaman pada waktu tidak
makan, tetapi akan terasa longgar dan menimbulkan nyeri pada saat makan.
Keseimbangan oklusi harus diperiksa pada tahap mencoba gigi tiruan malam, tetapi
artikulasi baru bisa dibuat lebih sempurna setelah melakukan pengasahan secara selektif
pada permukaan gigi tiruan. Pengasahan secara selektif maksudnya adalah memodifikasi
permukaan gigi-geligi dengan mengasah pada tempat-tempat tertentu, setelah ditentukan
tempatnya dengan menggunakan kertas artikulasi. Tujuannya adalah untuk mendapatkan
oklusi dan artikulasi yang seimbang

2. relaining dan rebasing

Relining
Relining yaitu melapisi permukaan untuk mengoreksi adaptasi gigi tiruan dengan
penambahan bahan di bawah basis gigi tiruan tanpa mengubah hubungan oklusal.
Tujuan : untuk memperbaiki adaptasi basis gigi tiruan terhadap mukosa pendukungnya.
Syarat:
 Dimensi vertikal masih baik
 Oklusi sentrik dan relasi sentrik baik
 Estetik baik
 Mukosa mulut sehat
 Tidak ada undercut
Indikasi :
 Kehilangan retensi
 Tidak stabil
 Sisa makanan di bawah gigi tiruan
 Trauma pada mukosa
 Estetis berkurang
 Ketika GT kehilangan atau kurang adaptasinya terhadap mukosa pendukungnya
sedangkan semua faktor oklusi, estetik, relasi sentrik, DVO dan material basis GT
baik.
 Hilangnya retensi GT
 Ketidakstabilan GT
 Food under denture (akumulasi makanan di bawah basis GT)
 GT longgar sedikit
 Sayap GT ‘underextended’
 Dimensi Vertikal masih baik
 Relasi sentrik = oklusi sentrik
 Tepi posterior gigi tiruan rahang atas baik
 Tepi-tepi perluasan basis cukup
 Tepi-tepi sesuai dengan gaya otot kunyah
 Pengucapan/susunan gigi baik
 Kondisi jaringan tulang dan mukosa sehat

Kontraindikasi :
 Resorbsi banyak
 Jaringan mukosa luka
 Kelainan pada sendi rahang
 Estetis GT sangat jelek
 Hubungan relasi RA & RB tidak baik

Cara melakukan relining :

 Ukur dimensi vertikal sebenarnya


 Kerok bagian tepi/ perifer/ permukaan anatomik landasan gigi tiruan sebanyak
mungkin dan hilangkan semua gerongannya supaya mudah memasang dan melepas
gigi tiruan
 Buat stop pada tiga tempat stabil, setebal kekurangan dimensi vertikal pasien dengan
pedoman dimensi vertikal pasien sebelum tepi landasan gigi tiruan dikerok.
Pembuatan stop di dalam mulut sambil mengukur ketinggian tadi. Bahan yang dipakai
xantigen, yang mudah dibentuk dalam mulut dengan ketebalan yang minim
 Bahan untuk mencetak harus bersifat mukostatik dan mempunyai daya alir yang
tinggi, yang lazim digunakan adalah zinc oxide eugenol pasta; keuntungan pasta ini
adalah dapat memperbaiki kekurangan tanpa mengulang secara menyeluruh. Lalu
aduk bahan cetak dan oleskan di bagian permukaan anatomik landasan gigi tiruan
secara merata dan lakukan pencetakan,dengan memasukkan ke dalam mulut dan
tempatkan pada kedudukan sebenarnya. Pasien diminta menggigit perlahan-lahan
tanpa tekanan, operator mengukur dimensi vertikal sampai mencapai dimensi vertikal
sebenarnya, lalu pasien diminta menghentikan gigitannya
 Lakukan trimming untuk mendapatkan daerah peripherial seal yang baik
 Setelah bahan cetak mengeras, gigi tiruan dikeluarkan dari mulut pasien. Periksa hasil
cetakan dan hasilnya harus merata, tidak ada bagian sendok yang tampak dan tidak
boleh menutupi stop
 Buat model kerja dengan cara boxing
 Buang malam untuk boxing dan haluskan tepi sayap model rahang, tetapi jangan
lepaskan gigi tiruan dari model kerja/rahang
 Lakukan flasking dan boiling out sehingga terdapat ruangan.semua bahan cetak zink
oxide eugenol pasta dibuang dan diganti dengan akrilik
 Kemudian lakukan packing, curing, deflasking, penyelesaian dan pemolesan gigi
tiruan
 Gigi tiruan dipasang dalam mulut pasien sambil dinilai ketepatan duduknya dan
diukur kembali dimensi vertikalnya.

Teknik relining ada 2 :


Direct / Langsung pada mulut pasien dengan ‘SELF CURING ACRYLIC’
Cara :
 Daerah resorpsi linggir dikurangi dan dibuat retensi (½basis lama)
 Dengan ‘self curing acrylic’ pada daerah retensi tadi ditekankan langsung pada mulut
pasien sampai komposisi akrilik plastis lalu dikeluarkan dari mulut
 Instruksi pasien untuk kumur dengan air dingin,sisa akrilik dibuang
 Masukkan kembali ditunggu hingga keras ±12-15 menit), lalu poles dan siap dipakai
Kerugian :
 Akrilik mudah porus dan warna tidak stabil
 Mudah menimbulkan bau yang tidak enak
 Mudah terjadi iritasi mukosa

Indirect / tidak langsung dengan ‘HEAT CURING ACRYLIC’


Cara :
 Sendok cetak adalah GTSL lama yang telah dibuang daerah resorpsi dan dibuatkan
retensi
 Tanam dalam cuvet
 Buang sisa cetakan
 Packing,curing,finishing dan polishing

Rebasing

Rebasing adalah proses mengganti landasan gigi tiruan secara menyeluruh karena
sudah rusak sama sekali, sedangkan susunan gigi geligi masih baik,dan mencekatkan kembali
gigi tiruan dengan mengganti bahan landasan gigi tiruan tanpa mengubah hubungan
oklusinya/ susunan gigi-giginya.
Syarat lain untuk rebasing adalah gigi tiruan tersebut masih memenuhi syarat
estetik,fungsi mengunyah, dan fonetik. Gigi tiruan mungkin perlu di rebasing karena
perubahan dari jaringan penyangganya di dalam mulut, selama pemakaian gigi tiruan lengkap
lepas dalam jangka waktu yang lama, dan untuk mengembalikan retensi dan fungsinya.
Rebasing dilakukan karena :

 Landasan gigi tiruan mengalami:


 Porusitas dalam yang terlalu bayak
 Perubahan warna karena pemakaian yang terlalu lama
 Bau yang kurang begitu disenangi pada gigi tiruan yang sudah lama dipakai
 Staining/ pewarnaan yang terlalu tebal
 Resorbsi tulang alveolar, yang mengakibatkan gigi tiruan tidak tepat lagi

Indikasi :
 Under extended basis gigi tiruan
 Untuk membuat post-dam
 Terjadi resorpsi tulang alveolar yang lokal ataupun menyeluruh
 Gigi tiruan sudah longgar
 Desain rangka protesa masih terletak baik pada gigi pengunyah
 Elemen tiruan tidak aus berlebihan, patah, atau rusak
 Bila basis gigi tiruan sudah terlihat buruk, karena pemakaian untuk jangka waktu
lama
 Relining berkali-kali

Cara melakukan rebasing adalah :

 Bagian perifer sayap gigi tiruan lengkap dikasarkan dahulu


Buat cetakan rahang pasien dengan menggunakan gigi tiruan lama sebagai sendok
cetaknya dan gunakan bahan cetak yang bersifat mukostatik yaitu zink oxide eugenol
pasta atau viscogel
 Buat model kerja dari stone/ gips batu dengan cara boxing, dasar model kerjanya
dibuat takikan sebagai indeks bagi penempatan kembali
 Letakkan gigi tiruan pada model kerja/rahangnya pada bagian atas articulator dan
siapkan indeks oklusal pada bagian bawahnya dari gips. Seperti pada proses relining
articulator digunakan hanya untuk gerakan embuka dan menutup saja. Jika gips dari
indeks telah keras, bukalah articulator dan trimlah permukaan indeks sampai susunan
gigi-gigi mempunyai kedalaman 1/8 inci
 Gigi tiruan dilepaskan dari model kerjanya.Bahan cetak dibuang dan trimlah landasan
akrilik gigi tiruan dan tinggalkan secukupnya saja landasan gigi tiruan untuk menahan
gigi-gigi. Gigi-gigi tersebut dibersihkan dan ditempatkan kembali dalam indeks
oklusalnya
 Lakukan modifikasi seal daerah posterior palatal dan relief bila diperlukan
 Buat landasan gigi tiruan yang baru dari malam, lakukan waxing
 Uji coba dalam mulut pasien dan periksa estetik, oklusi sentrik, dan ukur dimensi
vertikalnya
 Setelah sesuai dan pasien menyukainya, lakukan flasking, packing, curing, deflasking
dan remounting gigi tiruan yang belum dilepas dari model rahangnya dalam
articulator.gunakan takikan pada dasar model rahang untuk menempatkan kembali
model rahang pada posisi asalnya dan gunakan indeks oklusal untuk menemukan dan
memperbaiki setiap perubahan dimensi vertikal oklusi atau oklusi sentrisnya yang
terjadi dari proses pembuatan gigi tiruan.
 Gigi tiruan dilepaskan dari model rahangya,selesaikan dan poles
 Lalu pasang dalam mulut pasien, periksa mengenai kekokohan, kemantapan, estetik,
dan fonetik. Pasien diminta datang kembali setelah 3 hari, kecuali terdapat luka boleh
kembali sebelum waktunya

3. dampak pemasangan GTP yang tidak benar

a. Gigi tiruan yang patah


Penyebab patahnya harus diidentifikasi dan koreksi sebelumm gigi tiruan diperbaiki atau
diganti dengan gigi tiruan lain biasanya gigi tiruan akan patah kembali dengan sebab
yang sama – tekanan pengunyahan yang terlalu besar
Keretakan sebuah gigitiruan biasanya terjadi akibat dari keletihan (Fatique Failure) dan
kerusakan karena beban yang berat (Impact Failure).
Fatique Failure ; keletihan berat ini terjadi mengikuti beban yang mempusat ke sebuah
titik di bawah tegangan kerusakan. Hal ini biasanya timbul secara klasik pada garis
tengah gigitiruan penuh rahang atas dan dipengaruhi oleh beberpa faktor:
 Bentuk desain gigitiruan yang menyebabkan konsentrasi tekanan. Dalam hal ini
termasuk lekukan-lekukan (notches) dan garis-garis (grooves) pada permukaan
dalam atau polished gigitiruan yang melalui frenulum pada rahang atas di daerah
midline. Bentuk frenulum labialis yang gterlalu tinggi biasanya harus dibuatkan
lekukan yang dalam pada basis gigitiruan dan lekukan ini yang dapat
menyebabkan fraktur.
 Resorpsi alveolar; pada kasus gigitiruan rahang atas dapat menyebabkan
gigitiruan goyang (rocking) di sekitar midline karena resorpsi yang terjadi lebih
sedikit.
 Perpindahan gigitiruan terhadap daerah dukungan jaringan (denture-bearing
tissue). Bila gigitiruan tidak mendapat dukungan mucosa yang cukup maka dapat
menyebabkan gigitiruan goyang (tip) dan melentur (flex).
 Pemakaian permukaan oklusal; jika permukaan oklusal gigi rahang atas
digunakan sedemikian sehingga permukaan oklusal menghadap ke medially,
maka setiap kali pasien beroklusi, maka gigitiruan akan cenderung lentur
disekitar midline.
 Tekanan/ beban oklusal yang berat; dapat terjadi bila gigitiruan beroklusi dengan
gig asli atau pada pasien yang cenderung memiliki beban kunyah berat.

Impact Failure; pada gigitiruan biasanya terjadi bila dijatuhkan oleh pasien saat
membersihkan gigitiruan atau tekanannya berlebihan saat pembersihan gigitiruan
sehingga dapat menyebabkan fraktur. Hal ini dapat dicegah jika pasien diminta
membersihkan gigitiruannya diatas panci dengan cara direndam dalam air saat dilepas.
Selain itu dapat juga terjadi patahnya lengan cengkeram, karena bagian ini sering
disesuaikan sendiri oleh pasien, bila cengkeram menjadi longgar, disamping itu lengan
cengkeram sering digunakan sebagai pegangan pada saat memasukkan dan
mengeluarkan gigitiruan dalam mulut. Maka sebaiknya gigitiruan ini dipasang dan
dilepas dengan jalan memegang salah satu bagian kerangkanya, atau lengan
cengkeramnya atau bisa juga pada bagian sayapnya.
Klasifikasi patahnya protesa dapat digolongkan:
1. Patah plat atau basis geligi tiruan dan gigi. Hal ini dapat dikarenakan :
Kesalahan konstruksi
a. bila gigi belakang, terutama pada rahang atas, disusun di luar puncak lingir sisa,
maka sebagian besar komponen gaya kunyah akan disalurkan ke bagian tengah geligi
tiruan tersebut. Hal ini merupakan sebab patahnya bagian tengah protesa rahang atas.
b. Kurang tebalnya plat resin akrilik pada bagian depan palatum, akan memperlemah
protesa. Hal ini terjadi terutama pada pemakaian gigi depan yang terbuat dari resin. Bila
bagian singulum gigi dibentuk secara anatomis, maka pada waktu pembuatan plat
malam, sering dilakukan penipisan bagian ini untuk mempertahankan bentuk gigi tadi.
c. Kekuatan dan ketidaktepatan dimensional basis protesa, karena tidak tepatnya
konsistensi adonan pada waktu packing, lama dan suhu polimerisasi yang tak memadai,
dan atau kuvet terlalu cepat didinginkan setelah pemasakan (curing).
d. Berbagai faktor yang menyebabkan patahnya gigi porselen. Gigi porselen yang
mungkin saja patah pada saat pemrosesan protesa resin.
Faktor penyebab dari dalam mulut
a. Tekanan berlebihan yang terjadi selama proses pengunyahan atau karena
mengertak, atau mengatup-ngatup gigi (clenching atau grinding). Dalam hal ini, basis
resin geligi tiruan perlu diganti dengan bahan metal.
b. Resorpsi tulang alveolar yang terjadi sesudah pemasangan geligi tiruan akan
menyebabkan geligi tiruan tidak stabil lagi dengan akibat mudah terjadi fraktur.
c. Frenulum labialis yang terlalu tinggi mengharuskan dibuatnya lekukan yang dalam
pada plat geligi tiruan. Lekukan semacam ini biasanya merupakan tempat awal
terjadinya fraktur.
d. Relif yang tidak memadai pada geligi tiruan rahang atas di bagian tengah palatum
pada penderita-penderita yang perbedaan ketebalan mukosanya menyolok, dapat
menyebabkan geligi tiruan melengkung pada bagian tengah palatum selama berfungsi.
Proses inindapat berakhir dengan fraktur.

2. Elemen Lepas, tetapi tidak pecah


a. Kekurangan resin akrilik pada waktu packing
b. terlepasnyanya selapis tipis minyak, medium pemisah (separating medium) atau lilin
pada gigi resin
c. Melakukan packing resin pada saat dough stage sudah dilampaui, sehingga
monomer bebas yang bisa bergabung dengan gigi resin, tidak cukup

3. Lengan cengkeram patah


Lengan cengkeram dapat patah sebagai akibat hal-hal berikut ini.
a. Patah karena sering dikeluar-masukkan melalui gerong yang terlalu dalam. Bila
dukungan jaringan periodontal gigi lebih besar, maka cengkeramannya yang patah.
Sebaliknya, bila cengkeramannya yang lebih kuat, maka gigilah yang menjadi goyang.
Hal ini dapat dihindarkan dengan jalan menempatkan lengan cengkeram hanya pada
daerah dengan retensi minimum seperti yang telah ditentukan dalam proses survey yang
teliti dan benar.
b. Kegagalan structural. Suatu lengan yang tidak dibuat tidak dengan baik atau kerena
proses penghalusan dan pemolesan yang tidak hati-hati, patah pada titik terlemahnya
karena sering melentur pada tempat ini. Bila dalam proses pembuatan, lengan cengkeram
terlalu sering dilekuk-lekukkan dengan tang, maka bagian ini pun mudah patah.
c. Kesalahan penderita atau pemakai, misalnya terjadi distorsi karena pada saat
dicuci. Yang sering sekali terjadi adalah patahnya lengan cengkeram, karena bagian ini
sering disesuaikan sendiri oleh penderita, bila cengkeraman menjadi longgar. Selain itu,
lengan cengkeram juga sering digunakan sebagai pegangan pada saat pengeluaran dan
pemasukan geligi tiruan. Protesa sebaiknya dipasang dan dilepas dengan jalan
memegang salah satu bagian berangkanya, atau hanya pada lengan cengkeram, atau bisa
pula pada bagian sayapnya.

4. Sandaran oklusal patah


Sandaran Oklusal patah hampir selalu terjadi pada titik di mana ia melintasi linger
marginal gigi, sebab bagian inilah yang merupakan titik terlemah. Suatu kedudukan
sandaran oklusal yang tidak dipreparasi dengan betul, merupakan salah satu contoh
kegagalan seperi ini. Ketidak-tepatan preparasi atau kurangnya pembuangan jaringan
gigi untuk tempat kedudukan sandaran pada waktu persiapan dalam mulut,
menyebabkan terlalu tipisnya sandaran. Lalu, sandaran yang sudah tipis ini akan
berkurang lagi ketebalannya pada saat penyesuaian dalam mulut, untuk menghindari
hambatan oklusal pada saat artikulasi.

5. Penambahan elemen tiruan


Penambahan semacam ini untuk suatu geligi tiruan sebagian lepasan dengan basis
terbuat dari resin, merupakan pekerjaan yang sederhana. Lain halnya dengan
penambahan serupa untuk geligi tiruan kerangka logam. Di sini perlu dilakukan
pengecoran bagian retensi untuk menempelkan elemen tiruan baru dan penyolderan
bagian ini ke kerangka yang sudah ada. Di samping itu dibuat juga bagian retensi untuk
resin basis atau sadel baru.
Bila yang direparasi adalah geligi tiruan dengan perluasan distal, perlunya suatu
tindakan pelapisan kembali hendaknya menjadi bahan pertimbangan pula. Pelapisan
kembali ini perlu untuk memperoleh dukungan jaringan yang optimal.
Pada penggantian suatu pendukung, yang biasanya dipilih adalah gigi berikutnya.
Dalam hal ini, perlu pemeriksaan sek$sama apakah gigi pilihan ini memang memenuhi
syarat untuk dipakai sebagai gigi pendukung.

Penyebab Gigi Tiruan Patah


a. Kesalahan Konstruksi
 Bila gigi belakang, terutama pada rahang atas, disusun di luar puncak lingir sisa,
 maka sebagian besar komponen gaya kunyah akan disalurkan ke bagian tengah geligi
 tiruan tersebut. Hal ini merupakan sebab patahnya bagian tengah protesa rahang atas.
 Kurang tebalnya plat resin akrilik pada bagian depan palatum, akan memperlemah
 protesa. Hal ini terjadi terutama pada pemakaian gigi depan yang terbuat dari resin.
 Bila bagian singulum gigi dibentuk secara anatomis, maka pada waktu pembuatan
 plat malam, sering dilakukan penipisan bagian ini untuk mempertahankan bentuk gigi
 tadi.
 Kekuatan dan ketidaktepatan dimensional basis protesa, karena tidak
tepatnya
 konsistensi adonan pada waktu packing, lama dan suhu polimerisasi yang
tak
 memadai, dan atau kuvet terlalu cepat didinginkan setelah pemasakan (curing).
b. Faktor penyebab dari dalam mulut
 Tekanan berlebihan yang terjadi selama proses pengunyahan atau karena mengertak,
 atau mengatup-ngatup gigi (clenching atau grinding). Dalam hal ini, basis resin geligi
 tiruan perlu diganti dengan bahan metal.
 Resorpsi tulang alveolar yang terjadi sesudah pemasangan geligi tiruan
akan
 menyebabkan geligi tiruan tidak stabil lagi dengan akibat mudah terjadi fraktur.
 Frenulum labialis yang terlalu tinggi mengharuskan dibuatnya lekukan yang dalam
 pada plat geligi tiruan. Lekukan semacam ini biasanya merupakan tempat awal
 terjadinya fraktur.
 Relif yang tidak memadai pada geligi tiruan rahang atas di bagian tengah palatum
 pada penderita-penderita yang perbedaan ketebalan mukosanya menyolok,
dapat
 menyebabkan geligi tiruan melengkung pada bagian tengah palatum selama
 berfungsi. Proses inindapat berakhir dengan fraktur.
c. Faktor yang berasal dari luar mulut
 Tekanan berlebihan selama pembersihan.
 Kecelakaan, umpamanya geligi tiruan jatuh ke lantai.
 Faktor-faktor yang menentukan desain gigi tiruan :
 Dukungan/resistensi terhadap beban
 Desain dari gigi tiruan sebagian harus dapat menahan beban fungsional.
 Stabilitas
 Perlawanan atas ketahanan terhadap perpindahan gigi tiruan sebagian dalam arah
 horizontal dalam keadaan berfungsi.
 Retensi
Daya perlawanan terhadap lepasnya protesa atau gigi tiruan kea rah oklusal.
Faktor pemberi retensi antara lain kualitas klamer, sandaran oklusal, kontur,
landasan gigi tiruan, oklusi, adhesi, tekanan atmosfer.
Bahan yang digunakan sebagai basis
- Bahan yang digunakan sebagai basis
- Kondisi penyangga
- Sikap pasien terhadap oral hygiene
- Status ekonomi pasien

4. kesalahan dan kegagalan GTP


Pada tahap pemasangan gigi tiruan penuh sering timbul masalah- masalah yang meliputi
evaluasi dan perawatan terhadap estetis, fonetik, iritasi, dan kurangnya retensi dan stabilisasi

a.Estetik, seperti

 Kesempurnaan di bawah hidung


 Bibir atas konkaf
 Gigi dan basis terlihat secara berlebihan

b. Fonetik, untuk sesaat cara berbicara akan berubah

c. Iritasi jaringan lunak

Iritasi merata pada daerah pendukung gigi tiruan. Hal ini disebab kan oleh:

 Dimensi vertikal oklusi yang tinggi


 Disharmoni antara relasi sentrik dan oklusi sentrik
 Gangguan oklusi pada posisi sentrik
 Kebiasaan jelek, muncul berpu bruxism dan xerostomia
 Iritasi pada puncak linggir alveolus
 Tulang yang tajam
 Kontak oklusal yang defleksi
 Tidak teratur permukaan gigi tiruan
 Puncak linggir yang tajam
 Penekanan basis gigi tiruan
 Iritasi dekat vestibulum
 Tepi gigi tiruan tajam
 Tepi gigi tiruan tidak dipoles

Iritasi pada lereng lingual anterior dan lereng lateral dari linggir rahang bawah

 Relasi sentrik dan oklusi sentrik tidak serentak


 Kontak oklusall defleksi pada molar dua
 Kontak oklusal defleksi unilateral
 Penekanan dari basis gigi tiruan

Iritasi pada daerah retro milohioid

 Perluasan berlebihan dari tepi gigi tiruan


 Gangguan oklusal anterior pada gerakan protrusive
 Kontak oklusal

Iritasi pada daerah tuberositas

 Perubahan dimensi dari gigi tiruan rahang atas


 Penekanan dari basis gigi tiruan
Iritasi pada daerah raphe mediana

 Hilang dukungan
 Relief tidak cukup
 Kontak incisal berlebihan pada relasi sentrik

Iritasi mukosa labial

 Bentuk berlebihan dari permukaan labial gigi tiruan


 Tekanan dari bibir

Iritasi yang seiringan pada sulkus labial, daerah retro milohioid

 Kebiasaan mengunyah yang jelek


 Gigi tiruan rahang atas longgar

d. Hilangnya Retensi dan Stabilisasi

Rahang atas

Gigi tiruan jatuh saat mulut dibuka lebar

 Basis posterior kurang luas


 Kurang post palatal seal
 Perluasan berlebihan pada bukal, labial, hamula notch

Gigi tiruan jatuh saat bernyayi atau berbicara

 Kesalahan oklusi
 Kurang posterior palatal seal
 Perluasan kurang
 Perluasan berlebihan

Gigi tiruan jatuh atau bergeser dari sisi seimbang

 Hubungan gigi terhadap linggir alveolus tidak tepat


 Gangguan di atas tonjol bukal, rahang atas, dan gigi rahang bawah, pasa satu sisi kerja
atau fungsional
 Kontak oklusal defleksi pada tonjol satu sisi seimbang
 Hilangnya retensi kalau ketawa
 Perluasan gigi tiruan tidak tepat
 Aktivitas otot wajah ekstream
 Hilang retensi bila mencoba bersiul
 Gangguan pada border seal
 Kurangnya retensi menyeluruh
 Gangguan oklusi berlebihan
 Kurang border seal
 Bentuk tepi gigi tiruan yang salah
 Menurunnya jaringan daerah pendukung gigi tiruan

Rahang bawah

 Gigi tiruan terlepas


 Gangguan oklusal
 Hubungan susunan gigi dengan otot di sekitarnya
 Bentuk permukaan gigi tiruan dipoles
 Posisi lidah yang retraksi
 Masalah psykogenik
Gigi Tiruan adalah suatu alat yang digunakan untuk memperbaiki beberapa fungsi
terbuat dari bahan artifisial yang kegunaan utamanya menggantikan bagian gigi yang hilang
dari tubuh kita.1 Mulut adalah suatu bagian terpenting dalam tubuh kita serta merupakan
pintu masuk utama dalam penjalaran suatu penyakit.Menurut Applegate pergantiaan gigi
digunakan untuk memperbaiki ekspresi penampilan wajah.
Dalam pembuatan suatu gigi tiruan penuh terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi
yaitu usia, jenis kelamin, kondisi umum , sistemik dan keadaan sosial ekonomi serta
pskikologi. Hal tersebut diatas sangat penting dalam menentukan perawatan seperti diagnosis,
perencanaan desain dan menetapkan rencana perawatan sehingga  gigi tiruan tersebut Â
dapat berfungsi semaksimal mungkin.
Geriatri adalah salah satu cabang ilmu kedokteran dan kedokteran gigi dimana merawat
problem dan masalah yang sering dijumpai pada pasien orang tua terutama dalam kelemahan
fisiknya.  Proses menua adalah akumulasi dari keseluruhan morfologi, fungsi yang terjadi
pada mahkluk hidup dimana biasanya terjadi penurunan fungsi organ.2 Faktor yang
mempengaruhi penuaan : faktor genetik dan faktor lingkungan. Ada beberapa manifestasi
dari proses menua terutama : pada Central Nervous System, Neuromuskular , Cardiovaskular,
dsb.
Pada rongga mulut pun terjadi perubahan baik dari jaringan lunak (oral mucosa, gingiva,
lidah dsb) serta jaringan keras (tulang alveolar,sendi rahang, dsb) . Pada pasien geriatri
umumnya mukosa mulut lebih tipis dan elastisitasnya berkurang. Apalagi pada kasus tidak
bergigi daerahnya akan terlihat mucosa cenderung lebih flabby dan gampang terjadi
peradangan demikian juga halnya dengan tulang alveolar biasanya sudah terjadi resorbsi.Â
Pada daerah sudut mulut sering dijumpai Angular Cheilitis,  lidah akan tampak
membesar serta kelenjar liur biasanya alirannya menjadi berkurang dan jumlahnya lebih
sedikit sehingga oral higiene (kebersihan mulut) sering kurang baik. 2
Hal tersebut di atas seringkali menimbulkan beberapa masalah seperti protesa / gigi tiruan
yang dibuat sulit untuk adaptasinya, Â mucosa mudah terjadi iritasi dan terjadi perubahan
jaringan tulang serta resorbsi tulang (pengeroposan tulang) sehingga daerah netral dan
penahannya berkurang.
Masalah yang sering terjadi setelah pemasangan gigi tiruan penuh antara lain timbulnya
rasa sakit dan tidak enak (kurang cekat dan  nyaman ) bila digunakan berfungsi.
A.Rasa Nyeri Terus Menerus di Bawah Gigi Tiruan
Rasa nyeri dan sakit merupakan suatu respon yang paling sering dirasakan oleh
pasien. Kadang-kadang pasien mengeluh nyeri di bawah gigi tiruan walaupun desain dan
konstruksinya tampak sudah memuaskan.
Beberapa penyebab yang memungkinkan timbulnya rasa sakit berhubungan dengan
keadaan jaringan seperti atrofi mukosa karena keadaan patologis di dalam jaringan tulang
serta beban yang berlebihan karena adanya clenching/bruksisme antara gigi.
Penatalaksanaan yaitu  pada bagian yang tajam dan menekan dilakukan pengasahan
dengan stone bur serta mengurangi luas permukaan oklusal misalnya dengan membuang gigi
premolar 2 serta mengurangi lebar buko-lingual gigi.
itu dapat pula digunakan bahan pelunak pelapis lunak jangka panjang yang berfungsi
sebagai bantalan yang dapat mengurangi trauma pada jaringan.
Bahan pelapis ini sekurangnya harus memiiliki ketebalan 2 mm agar sifat bahan ini
efektif. Bahan pelapis lunak ini dapat digunakan supaya diperoleh ikatan yang lebih baik
antara gigi tiruan dengan mucosa mulut di sekitarnya.2Â Jika keadaan jaringan yang
mengalami inflamasi dan sakit sudah baik dapat dilakukan penambahan bahan akrilik secara
permanen (relining)
B. Kurang Cekat dan Nyaman
Kurangnya kecekatan gigi tiruan berkaitan dengan retensi dan resistensi gigi tiruan
penuh (GTP).Salah satu penyebabnya karena salah duplikasi (pencetakan) dan  penentuan
hubungan rahang.Hubungan rahang dapat diartikan sebagai hubungan posisi mandibula
terhadap maksilla.Terdapat 2 arah yaitu hubungan dalam arah vertikal dikenal dengan
dimensi vertikal (DV) dan horizontal (relasi sentrik). DV terbagi menjadi 2 yaitu dimensi
vertikal istirahat / fisiologis dan dimensi vertikal oklusal (DVO).Akibat DVO yang tidak pas
dan dapat dijumpai adanya  luka/lesi di mulut.
Selain itu kesalahan menentukan ukuran dan bentuk gigi juga mempengaruhi
kestabilan suatu gigi tiruan penuh.Bentuk gigi yang non anatomis disarankan untuk
digunakan untuk mengurangi beban yang dapat mempercepat terjadinya resorbsi tulang.
Kurang cekat dan nyaman bila digunakan pada waktu berfungsi dapat diperbaiki
dengan 2 cara yaitu cara kuno / tradisional yaitu dengan dibuatkan tissue conditioner
misalnya Viscogel. Bila didapati protesa yang dirasakan lebih nyaman dan stabil, dapat
diganti dengan bahan yang lebih rigid misalnya Hillon- QC20Â yaitu dengan teknik relining
dan rebasing.
Cara modern yaitu dengan penambahan bone support seperti dilakukan pembuatan
implant gigi tiruan yang disesuaikan dengan kondisi tulang sehingga dapat dimaksimalkan.
Dalam penanganan kasus seperti ini ada beberapa hal yang harus diketahui seperti
pemilihan jenis dan macam implant, seleksi kasus dan berbagai kondisi pasein baik sistemik
maupun dentalnya serta kooperasi pasien dalam menjalankan sebelum dan sesudah
perawatan.
Dari sisi dentalnya beberapa hal penting dalam pembuatan implant adalah tersedianya
ruang protesa yang memenuhi syarat bagi implant , ketinggian dan kepadatan tulang (bone
density) serta keadaan oklusi gigi geliginya sangat mendukung keberhasilan suatu perawatan
.
B. Mulut terasa penuh dan tidak nyaman
Bila pasien merasakan mulutnya terasa penuh salah satu akibatnya adalah penentuan
hubungan rahang (DV) yang tidak baik. Jaringan pendukung yang secara langsung akibat
pengukuran DV yang tidak tepat adalah muskulus (otot), mukosa mulut , prosessus
alveolaris dan sendi TMJ. Pada DV yang terlalu tinggi, otot akan dipaksa meregang
melebihi titik puncaknya. Akibatnya otot akan kehilangan efisiensi sehingga estetik pasien
terlihat kurang baik dan pasien sukar untuk menutup mulutnya
DVO yang terlalu tinggi dapat menyebabkan berkurangnya tekanan kunyah sehingga
dapat terjadi penurunan efisiensi kunyah dan menimbulkan trauma yang besar bagi jaringan
penyangganya.Adanya trauma terus menerus dapat menyebabkan luka pada mukosa di bawah
gigi tiruan yang nantinya dapat menyebabkan terjadinya resorbsi prosesus alveolaris.
DV yang tinggi juga menyebabkan rasa sakit terus-menerus terutama pada daerah
persendian yang lambat laun akan menyebabkan kerusakan sendi yang lebih hebat. Posisi
sendi akan terjadi perubahan dimana kedudukannya tidak pada keadaan normal yaitu
condilus tidak berada konsentris pada fosaa artikularis.
DV yang rendah juga menimbulkan akibat sehingga dapat terjadi Sindroma Costen
dengan berbagai gejala seperti sakit kepala, neuralgia serta krepitasi pada TMJ. Akibatnya
pasien akan terlihat lebih tuadan ekspresi wajahnya menjadi terlihat tidak normal. Selain itu
DV yang terlalu rendah mengakibatkan terjadinya gangguan bicara misalnya pada
pengucapan pada huruf S ( terjadi perubahan lafal saat pengucapan ). Koreksi dengan
metode fonetik ini merupakan cara yang paling akurat, mudah dan praktis. Hal ini
berhubungan dengan closest speaking space.
Rumus DVO Prsotodonsia sebagai sarana / indikator untuk melihat DVO pasien
relatif aman atau tidak baik dari segi oklusi / artikulasi.
Rumus DVOÂ dibuat berdasarkan hasil penelitian Prof Hayakawa (pada masyarakat Jepang)
Sn-Gn = 16.0 + 0.65 (p-Ch)
Sn: subnasion (tepi inferior pertengahan hidung)
Gn: gnathion : tepi inferior dagu
P(pupil) : titik pertengahan pupil mata.
Ch( chelion ) : bagian tepi sudut mulut.
Dari hasil rumus tersebut disesuaikan pada kondisi masyarakat Indonesia yaitu dengan
rumus DVO Prostodonsia
Sn-Gn : 36.653+4.576 (jenis kelamin) +0.46 (p-p)
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa nilai DVO sangat individual
dan tidak terdapat nilai baku/standar.Rumus ini dianggap cukup sederhana dan mudah
dihitung untuk mendapatkan nilai DVO tentaif / semnetara.
Bila GTP kurang cekat dan nyaman dapat ditanggulangi dengan beberapa cara seperti
cara yg non invasif (koncvensional) yaitu dengan pencetakan ulang , pemberian tissue
conditioner dan bila keadaan mukosa sudah baik dilakukan relining/ rebasing (teknik
reparasi)
Bila kondisi pasien memungkinan dapat dilakukan alternatif untuk penambahan bone
support yaitu dengan pembuatan dental implant. Keadaan pasien yang sangat optimal dapat
dilakukan implant gigi dimana harus dikerjaan seteliti mungjin dan perlu perencanaan yan
matang.
Gigi Tiruan lebih enak dan nyaman dipakai terutama bila pasien dalam kondisi yang
memungkinkan perlu dilakukan perawatan bolak-balik (membutuhkan waktu yang cukup
lama).
Perawatan pemeliharaan seperti kontrol periodik dan dental check-up mempunyai
bagian penting untuk mendukung kualitas gigi tiruan.Perawatan pembersihan plak dan karang
gigi biasanya merupakan perawatan rutin yang dilakukan minimal 6 bulan sekali.
Penggunaan alat – alat khusus seperti sikat gigi tiruan, super floss, sikat gigi interdental , obat
pembersih protesa dan obat kumur dapat memperbaiki keadaan kebersihan mulut (OH)
pasien . Di sinilah peran dental check-up rutin untuk tetap menjaga kondisi gigi tiruan
sehingga dapat bertahan selama mungkin.
C. Gangguan fungsi bicara.
Pada pemasangan GTP dapat terjadi perubahan ucapam seseorang karena artikulasi
terpengaruh .sejumlah bunyi dibentuk dengan cara lidah berkontak dengan palatum dan
kadang-kadang dengan gigi. Yang terpenting adalah kontak ujung lidah dan prosessus
alveolaris yang diperlukan untuk membentuk bunyi-bunyi s,z,t,d,n
Bunyi s biasanya dibentuk dengan ujung lidah berada di belakang gigi-gigi anterior.
Jika palatum terlalu tebal atau bila gigi insisif dipasang terlalu ke palatal maka bunyi s akan
terdengar menjadi th. Artikulasi dan pengucapan akan terjadi perubahan . Bila gigi anterior
tidak ditempatkan dalam posisi anterior-posterior pasien akan mengalami kesulitan pada
pengucapan bunyi-bunyi tersebut.
Penanggulangan dari hal tersebut dapat diatasi dengan membuat GTP setipis mungkin
dan pasien dimotivasi supaya terbiasa dan lebih mudah beradaptasi.Untuk itu sangat
dibutuhkan kooperasi baik dari pasien dan keluarganya, dokter gigi serta staff sehingga
diharapkan adaptasi terhadap gigi tiruan sehingga gigi tiruan dapat memperbaiki komunikasi
dalam aktivitas sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA

1. Bouncher (2002), Buku Ajar Prosthodonti Untuk Pasien Tak Bergigi,EGC,Jakarta

2. Daniel, Ismet Nasution,Diagnosa dan rencana perawatan gigi tiruan penuh ,USU,Medan

3. Itjingningsih.1996.Gigi Tiruan Lengkap Lepasan.EGC : Jakarta