Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurut data ketahanan pangan 2016 konsumsi pemakaian minyak goreng bekas di

Indonesia sebesar 483.575 ton/tahun. Penggunaan minyak goreng setelah tiga kali

pemakaian (rata – rata) menghasilkan minyak goreng bekas sebesar 40% dalam satu liter

(yuliastri dkk.,2016 dalam Batara,2017). Dengan jumlah penduduk di Kota Samarinda

828.803 jiwa (BPS Kota Samarinda.,2016), dan jumlah penduduk Indonesia 258.705.800

jiwa (BPS Indonesia.,2016) diperoleh presentase jumlah penduduk Samarinda 0,32%,

sehingga potensi bahan baku minyak goreng bekas di Samarinda sekitar 3.178,98

ton/tahun.

Seringkali masyarakat Indonesia khususnya Kota Samarinda mengonsumsi minyak

goreng bekas berkali – kali hingga berwarna gelap. Setelah berwarna gelap kebanyakan

minyak goreng langsung dibuang begitu saja sehingga dapat meningkatkan jumlah limbah

dan dapat merusak lingkungan. Untuk mengurangi peningkatan jumlah limbah, minyak

goreng bekas dapat dimanfaatkan menjadi bahan utama pembuatan biodiesel dan dapat

dimurnikan kembali menjadi minyak yang layak pakai sesuai dengan standar SNI yang

berlaku.
Minyak goreng bekas memiliki karakteristik kadar asam lemak bebas 1,0037%,

bilangan peroksida 0,0168 mg O2/100g, dan kadar air 23,50 % (Sumarlin dkk.,2008 dalam

Batara,2017). Pemurnian minyak goreng bekas biasanya dilakukan dengan proses adsorbsi.

Hasil yang didapat pada proses pemurnian minyak goreng bekas adalah minyak jernih yang

layak pakai sesuai dengan standar SNI.

Minyak kelapa sawit digunakan dalam bindang makanan sekitar 83% (Gustone dan

Harwood, 2007 dalam Gustone,2011). Dalam bidang kuliner minyak goreng dapat

dimanfaatkan untuk membuat margarin, ice cream, keju, creamer, susu (Gustone,

2011:190).