Anda di halaman 1dari 18

KEPERWATAN ANAK

Cara menghitung BB bayi dalam kandungan


. LOHNSON
Ø Jika kepala belum masuk PAP maka rumusnya:
Berat Janin = (tinggi fudus uteri – 12 ) x 155 gram
Ø Jika kepala sudah masuk PAP maka rumusnya:
Berat Janin = (tinggi fudus uteri – 11 ) x 155 gram

Standart Operating Procedure ( Sop )


Perawatan Kolostomi
I. Persiapan:
1. Persiapan pasien dan keluarga
1. Menjelaskan maksud dan tujuan tindakan
2. Menjelaskan prosedur tindakan
3. Posisi pasien diatur sesuai kebutuhan
4. Alat-alat:
1. Colostomy bag
2. Gunting dan plester
3. Nierbekken dan kantong plastik
4. Handschoen dan pinset
5. Perlak dan pengalas
6. Kassa steril dan kapas lidi
7. NaCl 0,9% adn zink oil
8. Lingkungan:
Menjaga privacy pasien
4. Perawat;
1. Mencuci tangan.
2. Menilai keadaan umum pasien
3. Mengukur tanda-tanda vital
4. Kemampuan mobilisasi
II. Pelaksanaan:
1. Buka pakaian bagian atas sebagian.
2. Pasang perlak dan pengalasnya di bagian bawah anus buatan.
3. Dekatkan nierbekken dan kantong plastik
4. Siapkan colostomy bag dengan lubang sesuai dengan ukuran stoma colostomy
5. Pakai handschoen
6. Buka plester pada coloscomy bag (kalau perlu pakai wash bensin)
7. Masukkan colostomy bag yang bekas ke dalam kantong plastik.
8. Buka barier dari kassa dengan menggunakan pinset, masukkan ke nierbekken
9. Bersihkan daerah colostomy dengan menggunakan NaCl 0,9% dan kapas lidi
10. Setelah bersih sekitar colostomy dikeringkan, lalu diolesi zink oil.
11. Lilitkan kassa kering sekitar stoma.
12. Rekatkan colostomy bag bila perlu dapat diperkuat dengan plester
13. Lepaskan perlak dan pengalas
14. Kenakan pakaian, rapikan tempat tidur
15. Perawat lepaskan handschoen, mencuci tangan
16. Membuat catatan keperawatan yang mencakup:
– Tindakan, hasil tindakan, dan respon pasien
– Keadaan umum pasien dan kondisi luka colostomy
– Hasil observasi feces.

Cara Menghitung Tetesan Infus Pada Anak


Dewasa (macro drip)
Infus set macro drip memiliki banyak jenis berdasarkan faktor tetesnya. Infus set yang paling
sering digunakan di instalasi kesehatan Indonesia hanya 2 jenis saja. Berdasarkan merek dan
faktor tetesnya:

 Merek Otsuka
faktor tetes = 15 tetes/ml
 Merek Terumo
faktor tetes = 20 tetes/ml

Infus Blood set untuk tranfusi memiliki faktor tetes yang sama dengan merek otsuka, 15
tetes/menit.
Infus set macro drip dengan faktor tetes 10 tetes/menit jarang ditemui di Indonesia. Biasanya
hanya terdapat di rumah sakit rujukan pusat, rumah sakit pendidikan, atau rumah sakit
internasional.

Penurunan rumus dewasa


Berikut ini adalah rumus cepat hasil penurunan dari rumus dasar (dalam satuan jam), untuk
pasien dewasa:

o) Merek Otsuka

o) Merek Terumo
Contoh soal 1
Seorang pasien dengan berat 65 kg datang ke klinik dan membutuhkan 2.400 ml cairan RL.
Berapa tetes infus yang dibutuhkan jika kebutuhan cairan pasien mesti dicapai dalam waktu
12 jam? Di klinik tersedia infus set merek Otsuka.

Diketahui:
Cairan = 2.400 ml (cc)
Waktu = 12 jam
Faktor tetes Otsuka = 15 tetes/ml

Jawab:

Jadi, pasien tersebut membutuhkan 50 tetes infus untuk menghabiskan cairan 2400 ml dalam
waktu 12 jam dengan menggunakan infus set Otsuka.

Contoh soal 2
Seorang pasien datang ke RSUD dan membutuhkan 500 ml cairan RL. Berapa tetes infus
yang dibutuhkan jika kebutuhan cairan pasien mesti dicapai dalam waktu 100 menit? Di
RSUD tersedia infus set merek Terumo.

Diketahui:
Cairan = 500 ml (cc)
Waktu = 100 menit
Faktor tetes Terumo = 20 tetes/ml
Jawab:

Jadi, pasien tersebut membutuhkan 100 tetes infus untuk menghabiskan cairan 500 ml dalam
waktu 100 menit dengan menggunakan infus set Terumo.

Anak (micro drip)


Lain halnya dengan dewasa, anak dengan berat badan dibawah 7 kg membutuhkan
infus setdengan faktor tetes yang berbeda.

 Micro drip
faktor tetes = 60 tetes/ml

Penurunan rumus anak


Berikut ini adalah rumus cepat hasil penurunan dari rumus dasar (dalam satuan jam) untuk
pasien anak:

Contoh soal anak


Seorang ibu datang membawa bayinya yang sakit ke IGD dengan keluhan diare lebih dari 5
kali. Anak bayi tersebut membutuhkan cairan RL sebanyak 100 ml. Berapa tetes infus yang
dibutuhkan jika kebutuhan cairan pasien mesti dicapai dalam waktu 1 jam?
Jadi, pasien tersebut membutuhkan 100 tetes infus untuk menghabiskan cairan 100 ml dalam
waktu 1 jam dengan menggunakan infus set micro drip.

IMUNISASI DASAR DAN MEASLES

Umur bayi Ôëñ 7 hari: Hepatitis B (HB) O


Hepatitis B

Idealnya dosis pertama imunisasi hepatitis B diberikan sedini mungkin setelah lahir (jika
memungkinkan < 12 jam), kemudian dilanjutkan dengan interval 4 minggu dari dosis
pertama dan interval imunisasi kedua dan ketiga yang dianjurkan adalah minimal 2 bulan dan
terbaik setelah 5 bulan. Apabila sang anak belum mendapatkan imunisasi hepatitis B semasa
bayi, maka imunisasi hepatitis B tersebut dapat diberikan kapan saja, sesegera mungkin,
tanpa harus memeriksakan kadar AntiHBsnya. Kecuali jika sang ibu memiliki hepatitis B
ataupun sang anak pernah menderita penyakit kuning, maka ia dianjurkan untuk
memeriksakan kadar HBsAg dan antiHBs terlebih dahulu.
Umur bayi 1 bulan: BCG, Polio 1
BCG
Imunisasi BCG sebaiknya pertamakali diberikan pada saat bayi berusia 23 bulan. Pemberian
BCG pada bayi berusia < 2 bulan akan meningkatkan risiko terkena penyakit tuberkulosis
karena daya tahan tubuh bayi yang belum matang. Apabila bayi telah berusia > 3 bulan dan
belum mendapatkan imunisasi BCG, maka harus dilakukan uji tuberkulin (tes mantoux
dengan PPD2TU/PPDRT23) terlebih dulu. Bila hasilnya negatif, imunisasi BCG dapat
diberikan. Imunisasi BCG tidak membutuhkan booster.
Polio
Ada dua macam imunisasi polio yang tersedia:
Imunisasi polio oral (OPV) dengan jadwal pemberian: saat lahir, usia 2, 4, 6, dan 18 bulan
Imunisasi polio suntik (IPV) dengan jadwal pemberian: usia 2, 4, 6, 1824 bulan dan 6 8 tahun
Bila imunisasi polio terlambat diberikan, Anda tidak perlu mengulang pemberiannya dari
awal lagi. Cukup melanjutkan dan melengkapinya sesuai jadwal tidak peduli berapa pun
interval keterlambatan dari pemberian sebelumnya.
Umur bayi 2 bulan: DPT/ HB 1, Polio 2
Diptheria, Pertusis, dan Tetanus (DPT)

Imunisasi DPT diberikan 3 kali sebagai imunisasi dasar dan dilanjutkan dengan booster 1 kali
dengan jarak 1 tahun setelah DPT3. Pada usia 5 tahun (sebelum masuk SD) diberikan
imunisasi DPT (DPaT/Tdap) dan pada usia 12 tahun berupa imunisasi Td. Pada wanita,
imunisasi TT perlu diberikan 1 kali sebelum menikah dan 1 kali pada ibu hamil, yang
bertujuan untuk mencegah tetanus pada bayi baru lahir.
Apabila Imunisasi DPT terlambat diberikan, maka berapa pun interval keterlambatannya
jangan mengulang dari awal, namun langsung lanjutkan imunisasi sesuai jadwal. Bila anak
Anda belum pernah diimunisasi dasar pada usia < 12 bulan, maka imunisasi dasar DPT dapat
diberikan pada usia anak sesuai jumlah dan interval yang seharusnya. Bagaimana dengan
pemberian imunisasi DPT keempatnya?

Imunisasi DPT keempatnya tetap diberikan dengan jarak 1 tahun dari yang ketiga, dengan
catatan sebagai berikut:
Bila imunisasi DPT keempat diberikan sebelum ulang tahun keempatnya, maka pemberian
imunisasi DPT kelima dapat diberikan sesuai jadwal, paling cepat 6 bulan sesudahnya.
Bila imunisasi DPT keempat diberikan setelah ulang tahun keempatnya, maka pemberian
imunisasi DPT kelima tidak diperlukan lagi.
Umur bayi 3 bulan: DPT/ HB 2, Polio 3
Umur bayi 4 bulan: DPT/ HB 3, Polio 4
Umur bayi 9 bulan: Campak
Campak

Imunisasi Campak sebaiknya diberikan pada usia 9 bulan dan dosis penguatan (second
opportunity pada crash program campak) pada usia 24 bulan serta saat SD kelas 16.
Terkadang terdapat program PIN (Pekan Imunisasi Nasional) campak yang bertujuan sebagai
penguatan (strengthening). Program ini bertujuan untuk mencakup sekitar 5% individu yang
diperkirakan tidak memberikan respons imunitas yang baik saat diimunisasi dulu.
Untuk anak yang terlambat/ belum mendapat imunisasi campak, bila saat itu anak berusia 912
bulan, berikan kapan pun saat bertemu. Bila anak berusia > 1 tahun, berikan MMR. Jika
sudah diberi MMR usia 15 bulan, tidak perlu campak di usia 24 bulan.
Kesimpulan:
Jika terlambat mendapat imunisasi, imunisasi berikut tetap harus diberikan dari awal:
hepatitis.
Sedangkan imunisasi berikut tidak perlu mengulang dari awal, cukup melanjutkan: polio,
DPT.

Vaksin MMR (Mumps, Measles, Rubella)

Vaksin MMR (Mumps Measles Rubella) adalah campuran tiga jenis virus yang dilemahkan,
yang disuntikkan untuk imunisasi melawan campak (measles), gondongan (mumps) dan
rubella (german measles). Vaksin MMR umumnya diberikan kepada anak usia 1 tahun
dengan booster diberikan sebelum memasuki usia sekolah (4-5 tahun). Di Amerika Serikat,
vaksin MMR diijinkan pada tahun 1963 dan boosternya dimulai pada pertengahan tahun
1990-an. Vaksin MMR digunakan secara luas di seluruh dunia sejak diperkenalkan pada awal
1970-an. Vaksin MMR yang tersedia: MMR II dari Merck, Priorix dari GlaxoSmithKline,
Tresivac dari Serum Institute of India, Trimovax dari Sanofi Pasteur.

DEHIDRASI: FAKTOR PENYEBAB DAN REHIDRASI


PENGERTIAN DAN PENYEBAB DEHIDRASI
Penyebab dehidrasi adalah kekurangan zat Natrium dan air dalam tubuh. Hal ini bisa
disebabkan karena : Diare berat, muntah-muntah, berkeringat yang berlebihan dan tidak ada
asupan sama sekali, paparan panas yang lama, dan bisa juga disebabkan karena pengaruh diet
yang tidak sesuai. Pada bayi dan anak-anak resiko terjadinya dehidrasi lebih besar
dibandingkan dengan orang dewasa.

Tanda dan Gejala Dehidrasi


Gejala Dehidrasi ditunjukkan berdasarkan tingkat dehidrasi tersebut terjadi namun secara
umum gejala yang muncul yaitu :

kondisi tubuh lemas, kehausan yang berlebihan, mual, jantung berdebar kencang ditandai
dengan tekanan darah yang tidak normal, kencing sedikit dan berwarna keruh, tenggorokan
kering, kekenyalan kulit berubah, dan mungkin adanya penurunan kesadaran. Itulah
beberapa tanda-tanda umum dehidrasi selain itu juga adanya penurunan berat badan.

Tingkat-tingkat Dehidrasi
Penurunan Berat Badan (BB) menjadi indikator penting untuk mengetahui tingkat dehidrasi
yang terjadi. Dehidrasi dibagi tiga tingkat yaitu dehidrasi ringan, sedang dan berat.
A. Dehidrasi ringan
Penurunan cairan tubuh Kurang 5 % BB. Gejala umum yang sering ditunjukkan yaitu haus,
bibir kering, dan lemas
B. Dehidrasi sedang
Penurunan cairan tubuh antara 5-10 % BB. Pada tingkat dehidrasi sedang penderita terlihat
haus, buang air kecil mulai berkurang. Mata terlihat agak cekung, kekenyalan kulit menurun,
dan bibir kering.
C. Dehidrasi berat
penurunan cairan tubuh antara 10-15 % BB. Gejala nya Selain gejala klinis yang terlihat pada
dehidrasi ringan dan sedang, pada keadaan ini juga terlihat napas yang cepat dan dalam,
kekenayalan kulit sangat menurun, kondisi tubuh sangat lemas, kesadaran menurun, nadi
cepat.

Penanganan dan terapi Dehidrasi


Terapi klinik dehidrasi bertujuan untuk :

1. Mengganti kehilangan cairan yang telah terjadi.


2. Mengganti kehilangan cairan yang sedang berlangsung.
3. Mencegah kehilangan cairan lanjutan.

Salah satu faktor penting dalam terapi klinis dehidrasi yaitu menentukan tingkat dehidrasi
penderita. Dehidrasi ringan biasanya cukup dengan mengkomsumsi banyak cairan ditambah
dengan pemberian Cairan Rehidrasi oral (CRO) atau ORALIT. CRO diberikan sebanyak15-
20 ml/kgBB/jam. Untuk mengganti cairan yang hilang. Makanan tidak perlu dibatasi karena
pemberian makanan akan mempercepat penyembuhan

Sedangkan pada dehidrasi sedang dan dehidrasi berat penderita harus segera dibawa ke
Rumah Sakit untuk mendapat cairan rehidrasi melalui infus(intravena). Selain itu untuk
memudahkan pengobatan terhadap penyebab dehidrasi seperti diare, muntah-muntah dan
penyebab lainnya. Keadaan penderita harus sesering mungkin di evaluasi. Sekian
pembahasan tentangpengertian dehidrasi, gejala, penyebab dan cara penanganan
dehidrasisemoga bermanfaat.

MENIGITIS

Apa itu meningitis?

Meningitis adalah radang pada selaput yang melingkupi otak (selaput otak
= meninge)dan korda spinalis (bagian dari sistem saraf pusat). Umumnya disebabkan
oleh virusatau bakteri. Mengetahui penyebabnya apakah virus atau bakteri sangat penting,
karena keparahan penyakit dan pengobatannya akan berbeda tergantung penyebabnya.
Meningitis akibat virus biasanya lebih ringan dan dapat hilang sendiri tanpa treatment
spesifik. Tetapi meningitis akibat bakteri umumnya sangat parah dan dapat menyebabkan
kerusakan otak, hilangnya pendengaran, dan gangguan belajar. Pada meningitis akibat
bakteri, sangat penting pula mengetahui macam bakteri penyebabnya, sehingga dapat
dipilihkan antibiotika yang sesuai.

Sebelum tahun 1990an, Haemophilus influenzae type b (Hib) merupakan bakteri penyebab
utama meningitis bakterial. Karena itu, pada anak-anak umumnya perlu diberikan vaksinasi
Hib. Adanya vaksinasi Hib ini sekarang telah banyak menurunkan jumlah kasus infeksi Hib
pada selaput otak. Dan sekarang, penyebab utama meningitis
adalah Streptococcus pneumoniae dan Neisseria meningitidis. Selain itu, ada pula Listeria
monocytogenes (listeria), yang dapat ditemukan di banyak tempat, misalnya dalam debu dan
makanan yang terkontaminasi, seperti keju, hot dog dan daging sandwich yang mana bakteri
ini berasal dari hewan lokal (peliharaan).

Apa tanda dan gejala meningitis?

Gejala meningitis awalnya agak sulit dibedakan dengan gejala flu, sehingga kadang orang
sering salah mengenali. Gejala umum meningitis pada mereka yang berusia di atas 2 tahun
adalah demam tinggi, sakit kepala, dan kekakuan leher. Gejala ini bisa berkembang dari
beberapa jam, atau mungkin sampai 1-2 hari. Gejala lain bisa berupamual, muntah,
tidak tahan dengan cahaya terang, bingung, dan mengantuk. Pada bayi yang baru lahir
atau anak-anak di bawah 2 tahun, gejala klasik seperti sakit kepala dan leher kaku seringkali
agak sulit terdeteksi, karena mereka belum bisa menyampaikan keluhannya. Bayi dengan
meningitis biasanya menunjukkan gejala lesu (kurang aktif), muntah, rewel, tidak mau
makan, dan tidak mau bangun dari tempat tidur. Dengan berjalannya waktu dan penyakit,
maka pada pasien meningitis ( di segala usia) akan timbul gejala berupa kejang-kejang.

Bagaimana diagnosa dan pengobatannya?

Diagnosis dan pengobatan secara dini sangat penting. Untuk mendiagnosis adanya bakteri
penyebab meningitis, perlu dilakukan pengambilan sampel dari cairan spinaldengan cara
tertentu (spinal tap). Jika bakteri penyebab telah diketahui, maka dokter akan memilihkan
antibiotika yang paling sesuai untuk membunuh bakteri tersebut. Untuk pemeriksaan lebih
lanjut dapat pula dengan MRI (magnetic resonance imaging) untuk melihat keadaan otak
akibat infeksi tersebut, jika diperlukan.

Beberapa antibiotik yang sering diresepkan oleh dokter pada kasus meningitis yang
disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae dan Neisseria meningitidis antara
lainCephalosporin (ceftriaxone atau cefotaxime). Sedangkan meningitis yang disebabkan
oleh bakteri Listeria monocytogenes akan diberikan Ampicillin,
Vancomycin danCarbapenem (meropenem), Chloramphenicol atau Ceftriaxone. Pengobatan
lainnya adalah untuk mengatasi gejala yang timbul, misalnya sakit kepala dan demam
dengananalgesik-antipiretik, kejangnya dengan diazepam atau fenitoin, dan lain
sebagainya. Kadang-kadang dokter akan memberikan antibiotika walaupun belum dipastikan
penyebab meningitisnya, apakah karena virus atau bakteri, karena hasil kultur cairan
spinal mungkin tidak bisa diperoleh secara cepat, apalagi di RS yang fasilitasnya terbatas.

Apakah bakteri tersebut dapat menular?

Ya, beberapa jenis bakteri meningitis dapat menular. Bakteri dapat menyebar dari satu orang
ke yang lain utamanya melalui kontak dengan cairan respirasi atau tenggorakan(ludah,
ingus, dahak, dll), misalnya dengan batuk-batuk, bersin, atau berciuman. Untungnya, tidak
ada bakteri meningitis yang dapat menular semudah penularan flu. Juga tidak mudah menular
hanya dengan sekedar berdekatan dengan pasien meningitis. Namun demikian, orang yang
merawat pasien meningitis dalam waktu lama dan sering ada kontak langsung dengan pasien,
apalagi jika ada kontak langsung dengan cairan dari mulut pasien, maka ada resiko untuk
terkena bakteri yang sama. Untuk itu, jika perlu bagi keluarganya diberikan vaksinasi.

The Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) merekomendasikan vaksinasi


meningitis pada mereka berusia 11-18 tahun. Usia praremaja (11-12 th) merupakan usia
terbaik sebelum dewasa untuk menerima vaksinasi meningitis. Karena kejadian meningitis
dapat meningkat pada usia dewasa, mereka yang belum pernah divaksinasi meningitis
disarankan mendapat vaksinasi seawal mungkin.

Apa itu meningitis viral?


Meningitis viral adalah meningitis yang disebabkan oleh virus, dan ini merupakan jenis
terbanyak dari meningitis. Meningitis viral disebut juga meningitis aseptik karena tidak
ditemukan adanya bakteri dalam darah pasien. Meningitis jenis ini umumnya ringan dan
dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu 7-10 hari, dengan memperkuat daya tahan
tubuh. Namun karena gejalanya mirip dengan meningitis bakterial, maka jika ada gejala-
gejala serupa seperti yang disebutkan di atas, segera saja dibawa ke dokter untuk pemeriksaan
lebih lanjut.

Ada beberapa jenis virus yang dapat menyebabkan meningitis viral, antara lain enterovirus
(meliputi enteroviruses, coxsackieviruses, dan echoviruses), virus cacar, herpes virus
(spt Epstein-Barr virus, herpes simplex viruses, dan varicella-zoster virus) virus campak, dan
juga virus influenza. Namun untuk mengetahui apakah meningitis disebabkan oleh virus atau
bakteri, tetap harus dilakukan uji kultur yang berasal daricairan spinal pasien.

Pasien dengan meningitis viral umumnya tidak perlu pengobatan khusus, dan disarankan
untuk istirahat total (bed rest), minum banyak cairan, dan pengobatan untuk mengatasi gejala
saja, seperti analgesik antipiretik untuk mengilangkan rasa sakit (sakit kepala), dan
menurunkan demam.

Apakah virus penyebab meningitis bisa menyebar?

Ya, virus-virus ini bisa menyebar dengan cara yang berbeda-beda. Enterovirus, yang
merupakan virus penyebab meningitis terbanyak, paling sering tersebar melalui tinja
penderita. Selain itu, virus ini dan virus lainnya seperti virus campak dan varicella-zoster juga
dapat menyebar melalui kontak langsung maupun taklangsung dengan cairan pernafasan (air
liur, ingus, dahak) dari pasien yang terinfeksi. Waktu yang dibutuhkan dari mulai terinfeksi
virus sampai muncul gejala umumnya sekitar 3-7 hari.

Bagaimana caranya menghindari infeksi virus meningitis?

Beberapa cara di bawah ini dapat membantu menghindarkan dari infeksi virus:

1. Cuci tangan dengan baik dan sering, terutama mereka yang merawat atau berada
berdekatan dengan pasien meningitis

2. Bersihkan permukaan-permukaan yang bisa terkontaminasi (misalnya handel pintu, remote


TV, etc) dengan sabun dan air kemudian bilas dengan desinfektan atau cairan pemutih yang
mengandung chlorine utk mencegah penyebaran virus

3. Tutupi mulut saat batuk, dengan tissue atau tangan. Jika menggunakan tissue, buang tisue
ke tempat sampah, Jika menggunakan tangan, segera cuci tangan.

4. Hindarkan mencium pasien, atau berbagi gelas minuman, atau hal-hal yang mungkin
menyebabkan penyebaran virus
5. Lakukan vaksinasi, ada beberapa vaksinasi yang tersedia yaitu: Haemophilus influenzae
type b (Hib), – Pneumococcal conjugate vaccine (PCV7), – Pneumococcal polysaccharide
vaccine (PPV), dan Meningococcal conjugate vaccine (MCV4)

Demikian sekilas info tentang meningitis. Semoga bermanfaat.

CARA CPR

1. Cek Responsivitas/ kemampuan reaksi. Goyangkan atau tepuk anak dengan lembut.
Lihat apakah anak bergerak atau bersuara. Teriakkan, "Apakah kamu baik-baik saja?"
2. Jika tidak ada tanggapan, teriak minta bantuan. Kirim seseorang untuk
menghubungi 911 atau nomor darurat lokal dan mengambil defibrilator eksternal
otomatis (Automatic External Defibrillator, AED) jika tersedia. Jangan tinggalkan
anak sendirian untuk menghubungi 911 atau nomor darurat lokal dan mengambil
AED sampai anda telah melakukan CPR selama 2 menit.
3. Hati-hati menempatkan anak terutama masalah punggung mereka. Jika ada
kemungkinan anak mengalami cedera tulang belakang, dua orang harus memindahkan
anak untuk mencegah kepala dan leher memutar.
4.
5. Lakukan penekanan dada.
o Tempatkan telapak tangan (heel of hand) salah satu tangan di tulang dada -
tepat dibawah puting susu. Pastikan telapak tangan (heel of hand) tidak berada
di ujung tulang dada.
o Letakkan tangan yang lainnya di dahi anak, menjaga kepala bergerak
kebelakang.
o Tekan ke bawah di dada anak sehingga dada anak terkompres kebawah sekitar
1/3 - 1/2 kedalaman dada.
o Berikan 30 kompres dada. Setiap kali, biarkan dada meningkat sepenuhnya.
Kompresi ini harus CEPAT dan keras tanpa henti. Hitung kompresi dengan
cepat :
"1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24,
25, 26, 27, 28, 29, 30, selesai.
6.
7. Buka jalan pernapasan. Angkat dagu dengan satu tangan. Pada saat yang sama,
tekan dengan lembut dahi anak dengan tangan yang lainnya.
8. Melihat, mendengar, rasakan napas anak. Tempatkan telinga anda dekat dengan
mulut dan hidung anak. Perhatikan gerakan dada. Rasakan napas di pipi anda.
9. Jika anak tidak bernapas:
o Tutup mulut anak erat dengan mulut anda
o Jepit dan tutup hidung anak
o Biarkan dagu diangkat dan dahi di tahan dengan tangan lainnya
o Berikan dua napas. Setiap napas harus memakan waktu sekitar 1 detik dan
buat dada mengembang.
10. Lanjutkan CPR (30 kompresi dada diikuti oleh 2 napas, kemudian ulangi) selama
sekitar 2 menit.
11. Setelah sekitar 2 menit melakukan CPR, jika anak masih tidak bernapas dengan
normal, batuk, atau gerakan apapun, tinggalkan anak jika kamu sendiri dan hubungi
911 atau nomor lokal darurat anda (ambulan). Jika AED untuk anak-anak tersedia,
gunakan sekarang.
12. Ulangi pernapasan buatan dan penekanan dada sampai anak sadar atau bantuan tiba.
Jika anak mulai bernapas lagi, tempatkan mereka dalam posisi pemulihan. Secara berkala
periksa ulang napas anak sampai bantuan tiba

LUKA BAKAR PADA ANAK


Berdasarkan kedalaman luka bakar:
a. Luka bakar derajat I
Luka bakar derajat pertama adalah setiap luka bakar yang di dalam proses penyembuhannya
tidak meninggalkan jaringan parut. Luka bakar derajat pertama tampak sebagai suatu daerah
yang berwarna kemerahan, terdapat gelembung gelembung yang ditutupi oleh daerah putih,
epidermis yang tidak mengandung pembuluh darah dan dibatasi oleh kulit yang berwarna
merah serta hiperemis.
Luka bakar derajat pertama ini hanya mengenai epidermis dan biasanya sembuh dalam 5-7
hari, misalnya tersengat matahari. Luka tampak sebagai eritema dengan keluhan rasa nyeri
atau hipersensitifitas setempat. Luka derajat pertama akan sembuh tanpa bekas.

Gambar 1. Luka bakar derajat I


b. Luka bakar derajat II
Kerusakan yang terjadi pada epidermis dan sebagian dermis, berupa reaksi inflamasi akut
disertai proses eksudasi, melepuh, dasar luka berwarna merah atau pucat, terletak lebih tinggi
di atas permukaan kulit normal, nyeri karena ujungujung saraf teriritasi. Luka bakar derajat II
ada dua:
1) Derajat II dangkal (superficial)
Kerusakan yang mengenai bagian superficial dari dermis, apendises kulit seperti folikel
rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea masih utuh. Luka sembuh dalam waktu 10-14
hari.
2) Derajat II dalam (deep)
Kerusakan hampir seluruh bagian dermis. Apendises kulit seperti folikel rambut, kelenjar
keringat, kelenjar sebasea sebagian masih utuh. Penyembuhan terjadi lebih lama, tergantung
apendises kulit yang tersisa. Biasanya penyembuhan terjadi dalam waktu lebih dari satu
bulan.
Gambar 2. Luka bakar derajat II
c. Luka bakar derajat III
Kerusakan meliputi seluruh ketebalan dermis dan lapisan yang lebih dalam, apendises kulit
seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea rusak, tidak ada pelepuhan, kulit
berwarna abu-abu atau coklat, kering, letaknya lebih rendah dibandingkan kulit sekitar karena
koagulasi protein pada lapisan epidermis dan dermis, tidak timbul rasa nyeri. Penyembuhan
lama karena tidak ada proses epitelisasi spontan.

Gambar 3. Luka bakar derajat III


Ada beberapa metode cepat untuk menentukan luas luka bakar, yaitu:
1. Estimasi luas luka bakar menggunakan luas permukaan palmar pasien. Luas telapak tangan
individu mewakili 1% luas permukaan tubuh. Luas luka bakar hanya dihitung pada pasien
dengan derajat luka II atau III.
2. Rumus 9 atau rule of nine untuk orang dewasa
Pada dewasa digunakan ‘rumus 9’, yaitu luas kepala dan leher, dada, punggung, pinggang
dan bokong, ekstremitas atas kanan, ekstremitas atas kiri, paha kanan, paha kiri, tungkai dan
kaki kanan, serta tungkai dan kaki kiri masing-masing 9%. Sisanya 1% adalah daerah
genitalia. Rumus ini membantu menaksir luasnya permukaan tubuh yang terbakar pada orang
dewasa.
Wallace membagi tubuh atas bagian 9% atau kelipatan 9 yang terkenal dengan nama rule of
nine atua rule of wallace yaitu:
a. Kepala dan leher : 9%
b. Lengan masing-masing 9% : 18%
c. Badan depan 18%, badan belakang 18% : 36%
d. Tungkai maisng-masing 18% : 36%
e. Genetalia/perineum : 1%
Total : 100%
Pada anak dan bayi digunakan rumus lain karena luas relatif permukaan kepala anak
jauh lebih besar dan luas relatif permukaan kaki lebih kecil. Karena perbandingan luas
permukaan bagian tubuh anak kecil berbeda, dikenal rumus 10 untuk bayi, dan rumus 10-15-
20 untuk anak.

DM PERBEDAAN
"Membandingkan tipe 1 dan tipe 2 seperti membandingkan apel dengan traktor," kata
GaryScheiner, CDE, seorang edukator diabetesdan penulis Think Like a Pancreas.
"Satu-satunya kesamaan yang mereka miliki adalah keduanya melibatkan ketidakmampuan
untuk mengontrol kadar gula darah," ujarnya. Berikut ini adalah 5 perbedaan penting dari tipe
penyakit ini:

1. Tipe 1 merupakan penyakit autoimun, tipe 2 bukan.


diabetes terjadi ketika tubuh Anda bermasalah dengan insulin, hormon yang membantu
mengubah gula dari makanan Anda menjadi energi. Ketika insulin dalam tubuh Anda tidak
terlalu cukup, gula menumpuk dalam darah dan dapat membuat Anda sakit.
Orang-orang dengan diabetes tipe 1 dan tipe 2 keduanya menghadapi masalah ini, tetapi
bagaimana penyakit ini muncul adalah sesuatu yang sangat berbeda. Jika Anda
menderita diabetes tipe 1, tubuh Anda tidak memroduksi insulin sama sekali.
Itu karena tipe 1 merupakan penyakit autoimun di mana sistem kekebalan tubuh Anda
menyerang dan menghancurkan sel-sel pembuat insulin di pankreas Anda. Tidak seorang pun
tahu secara pasti apa yang menyebabkan itu, tetapi faktor genetik bisa jadi berperan dalam
hal ini.
Sedangkan, pada diabetes tipe 2, tubuh masih memroduksi insulin, tetapi juga tidak
menghasilkanya dalam jumlah cukup atau tubuh mempunyai kesulitan menggunakan insulin
secara efisien.
Faktor risiko utama untuk diabetes tipe 2 termasuk obesitas (terutama jika Anda mempunyai
berat badan lebih di sekitar perut Anda) dan tak banyak melakukan aktivitas fisik. Riwayat
keluarga yang mempunyai penyakit ini juga dapat meningkatkan risiko Anda.
2. Konsumsi insulin suatu keharusan bagi diabetes tipe 1, pengobatandiabetes tipe 2
lebih bervariasi.
Karena orang dengan tipe 1 tidak dapat memroduksi insulin sendiri, mereka harus melakukan
injeksi insulin rutin atau memakai pompa insulin yang melekat pada tubuh mereka. Tanpa
insulin, hidup mereka akan berakhir.
diabetes tipe 2, pilihan pengobatannya lebih banyak. Anda mungkin akan diberi petunjuk
untuk memonitor diet Anda, melakukan lebih banyak latihan dan menurunkan berat badan.
Tetapi kebanyakan orang dengan diabetes tipe 2 juga mengonsumsi pil yang mendorong
tubuh untuk membuat lebih banyak insulin dan atau menurunkan kadar gula darah.

Jika langkah-langkah ini tidak bekerja dan penyakit semakin memburuk, Anda mungkin
harus beralih menggunakan suntikan insulin.

3. Gula darah rendah lebih umum terjadi pada diabetes tipe 1.


Gula darah tinggi berbahaya, tetapi gula darah sangat rendah (hipoglikemia) dapat
menyebabkan kelemahan, pusing, berkeringat dan gemetar. Dalam kasus yang parah, ini
dapat membuat Anda pingsan dan bahkan mengancam nyawa.
Ini lebih umum terjadi pada orang-orang dengan tipe 1. Itu karena Anda perlu hati-hati dalam
menghitung seberapa banyak insulin yang harus dikonsumsi (melalui suntikan atau pompa)
berdasarkan asupan makanan dan tingkat aktivitas.
Hal ini memang tidak selalu mudah, mengonsumsi lebih banyak insulin dari yang Anda
perlukan dapat membuat tingkat gula darah menurun. Begitupun jika Anda berolahraga,
meskipun menyehatkan, juga dapat menyebabkan gula darah rendah.
Jika Anda mengalami gejala hipoglikemia, Anda perlu segera melakukan sesuatu untuk
meningkatkan gula darah Anda dengan cepat. Contohnya seperti meminum segelas jus,
makan beberapa permen atau konsumsi tablet atau gel yang mengandung glukosa.

4. Makan makanan manis mungkin akan lebih berisiko jika Andadiabetes tipe 2.
Terkejut? Meskipun tidak mudah bagi seseorang untuk menghindari permen, "orang dengan
tipe 1 dapat makan apa saja yang mereka inginkan, jika sesuai dengan dosis insulinnya," kata
Scheiner.
Jadi jika Anda berencana untuk pergi ke pesta ulang tahun, Anda hanya harus mengonsumsi
insulin lebih banyak untuk melawan serangan gula dari kue.
Jika Anda menderita diabetes tipe 2, Anda mungkin harus lebih sedikit hati-hati terhadap
makanan. Kebanyakan orang dengan tipe 2 tidak mengonsumsi insulin dan artinya tubuh
tidak bisa mengatasi dengan mudah apa yang Anda makan.
diabetes tipe 2 juga berkaitan erat dengan obesitas dan konsumsi banyak makanan manis
dapat dengan mudah menyebabkan kenaikan berat badan.

5. Tipe 1 biasanya terdiagnosis pada anak-anak, tipe 2 cenderung menyerang kemudian


Meskipun mungkin tipe 1 dapat berkembang pada orang dewasa, ini lebih umum ditemukan
ketika masa kanak-kanak. Itu sebabnya, mengapa dulu ini disebut diabetes anak-anak
(juvenile diabetes).diabetes tipe 2, di sisi lain, lebih mungkin terjadi saat usia Anda
bertambah: Risiko Anda meningkat setelah usia 45 tahun.
Terlepas dari ketika Anda mencari tahu apakah Anda mempunyaidiabetes-atau jenis apa yang
Anda miliki-ini penting untuk menanggapinya dengan serius.
Banyak orang berpikir, bahwa diabetes tipe 1 merupakan jenis "buruk" dan diabetes tipe 2
hanyalah ketidaknyamanan kecil. Tetapi keduanya dapat menyebabkan komplikasi serius
seperti kebutaan, amputasi dan gagal ginjal.
Yang terpenting adalah, kita tetap dapat menjalani kehidupan panjang yang sehat dengan
salah satu bentuk penyakit ini. Minum obat seperti apa yang diarahkan, sering memantau
kadar gula darah, makan dengan baik, berolahraga dan tidak stres merupakan kuncinya.
(Gibran Maulana)

NILAI APGAR
Skor Apgar atau nilai Apgar (bahasa Inggris: Apgar score) adalah sebuah metode yang
diperkenalkan pertama kali pada tahun 1952 oleh Dr. Virginia Apgar sebagai sebuah metode
sederhana untuk secara cepat menilai kondisi kesehatan bayi baru lahir sesaat setelah
kelahiran. Apgar yang berprofesi sebagai ahli anestesiologi mengembangkan metode skor ini
untuk mengetahui dengan pasti bagaimana pengaruh anestesi obstetrik terhadap bayi.
Appearance (warna kulit)
0 — Seluruh tubuh bayi berwarna kebiru-biruan atau pucat
1 — Warna kulit tubuh normal, tetapi tangan dan kaki berwarna kebiruan
2 — Warna kulit seluruh tubuh normal
Pulse (denyut jantung)
0 — Denyut jantung tidak ada
1 — Denyut jantung kurang dari 100 kali per menit
2 — Denyut jantung lebih atau diatas 100 kali per menti
Grimace (respon refleks)
0 — Tidak ada respon terhadap stimulasi
1 — Wajah meringis saat distimulasi
2 — Meringis, menarik, batuk, atau bersin saat stimulasi
Activity (tonus otot)
0 — Lemah, tidak ada gerakan
1 — Lengan dan kaki dalam posisi fleksi dengan sedikit gerakan
2 — Bergerak aktif dan spontan
Respiration (pernapasan)
0 — Tidak bernapas
1 — Menangis lemah, terdengar seperti merintih, pernapasan lambat dan tidak teratur
2 — Menangis kuat, pernapasan baik dan teratur
Kelima hal diatas dinilai kemudian dijumlahkan. Jika jumlah skor berkisar di 7 – 10 pada
menit pertama, bayi dianggap normal. Jika jumlah skor berkisar 4 – 6 pada menit pertama,
bayi memerlukan tindakan medis segera seperti penyedotan lendir yang menyumbat jalan
napas dengan suction, atau pemberian oksigen untuk membantunya bernapas. Biasanya jika
tindakan ini berhasil, keadaan bayi akan membaik (KidsHealth,2004)

HISPRUNG
Ada beberapa pengertian mengenai Hisprung ( Mega Colon ), namun pada intinya sama
yaitu, penyakit yang disebabkan oleh obstruksi mekanis yang disebabkan oleh tidak
adekuatnya motilitas pada usus sehingga tidak ada evakuasi usus spontan dan tidak
mampunya spinkter rectum berelaksasi. Hirschsprung atau Mega Colon adalah penyakit yang
tidak adanya sel – sel ganglion dalam rectum atau bagian rektosigmoid Colon. Dan ketidak
adaan ini menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya peristaltik serta tidak adanya
evakuasi usus spontan (Betz,Cecily&Sowden:2000)
Penyakit Hirschsprung atau Mega Kolon adalah kelainan bawaan penyebab gangguan pasase
usus tersering pada neonatus, dan kebanyakan terjadi pada bayi aterm dengan berat lahir
£3Kg, lebih banyak laki – laki dari pada perempuan. ( Arief Mansjoeer,2000)

Gangguan eliminasi BAB : obstipasi berhubungan dengan spastis usus dan tidak adanya daya
dorong.
2. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang inadekuat.
3. Kekurangan cairan tubuh berhubungan muntah dan diare.
4. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan adanya distensi abdomen.
5. Koping keluarga tidak efektif berhubungan dengan keadaan status kesehatan anak.
Post Operatif
1. Ganggau rasa nyaman :Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan
berhungungan dengan luka post op
2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya luka post op
3. Resiko komplikasi pascapembedahan
D. Perencanaan Keperawatan pada Askep Hisprung
Pre Operatif
1. Gangguan eliminasi BAB : obstipasi berhubungan dengan spastis usus dan tidak adanya
daya dorong.

SIANOSIS PADA ANAK


Apa sebenarnya pengertian sianosis dan bagaimana cara pengobatan sianosis?
Sianosis atau kebanyakan orang menyebutnya dengan biru adalah keadaan masalah yang
sering terjadi pada bayi baru lahir, sehingga penyakit ini merupakan jenis gangguan yang
termasuk sesaat setelah bayi lahir. Tanda khas adalah adanya memar kebiruan pada derah
paha bayi, atau pada derah muka. Sebenarnya ini bukanlah tanda yang serius, keadaan
sianosis pada tangan dan kaki biasanya terjadi karena aliran darah yang buruk, namun hal ini
akan menjadi sangat berahaya jika tubuh, muka dan lidah tampak biru. Kenapa karena ini
merupakan tanda akan adanya gejala penyakit jantung, paru-paru atau juga bisa otak. Jika
bayi lahir dengan napas cepat, retraksi dinding dan sianosis. Ia menderita penyakit paru-paru,
anda harus segera melakukan pengobatan.
Bagaimana cara mengatasi atau mengobati sianosis pada bayi :
1. Jaga jalan napas tetap bersih seperti faring dan baringkan bayi pada sisi
samping atau depan tubuh.
2. Berikan oksigen dengann cateter nasal 1/2 liter / menit
3. Berikan ASI melalui selang nasogastrik
4. Berikan obat antibiotik penicilin dan streptomisin.