Anda di halaman 1dari 87

PERBEDAAN EFEKTIFITAS TERAPI NESTING DENGAN NESTING

FIKSASI PADA BAYI PREMATUR DENGAN RESPIRATORY


DISTRESS SYNDROM (RDS)

SEMINAR KASUS

Oleh:
KELOMPOK STASE KEPERAWATAN ANAK
Velinda Dewi Lutfiana, S.Kep NIM 182311101001
Arifah Novia Ziyada, S.Kep NIM 182311101006
Ida Purwati, S.kep NIM 182311101008
Refina Nur A, S.Kep NIm 182311101010
Nita Ratna Dewi, S.Kep NIM 182311101013
Handita Diani ratri, S.Kep NIM 182311101032
Laili Puji Astutik, S.Kep NIM 182311101033
Hamdani, S.Kep NIM 182311101043
Nida Unun Vida, S.Kep NIM 182311101052
Eka Marta T, S.Kep NIM 182311101053
Atmoko, S.Kep NIM 182311101064
Delia Nurfalahita, S.Kep NIM 182311101086
Wahyu Agung Pribadi, S,Kep NIM 182311101087
Farida Nur Qomariyah, S.Kep NIM 182311101092

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS (PSP2N)


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2019
PERSETUJUAN

Laporan Seminar Kasus telah dilaksanakan pada tanggal Februari 2019 di RSUD dr.
Haryoto Lumajang

Kepala Ruang Perinatologi Pembimbing Akademik


RSUD dr.Haryoto Lumajang

Mengetahui,

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Respiratory Distress Syndrom (RDS) atau Sindrom Distres Pernapasan
merupakan sindrom gawat napas yang disebabkan defisiensi surfaktan terutama pada
bayi yang baru lahir dengan masa gestasi kurang (Suriadi dan Yulianni, 2006). Secara
klinis bayi dengan RDS menunjukkan takipnea, pernapasan cuping hidung, retraksi
interkosta dan subkosta, expiratory grunting (merintih) dalam beberapa jam pertama
kehidupan. Tanda-tanda klinis lain, seperti hipoksemia dan polisitema. Tanda-tanda
lain RDS meliputi hipoksemia, hiperkabia, dan asidosis respiratory atau asidosis
campuran (Kompas, 2012).
Di Asia Tenggara penyebab terbanyak dari angka kesakitan dan kematian pada
bayi prematur adalah RDS. Sekitar 5 -10% didapatkan pada bayi kurang bulan, 50%
pada bayi dengan berat 501-1500 gram. Angka kejadian berhubungan dengan umur
gestasi dan berat badan dan menurun sejak digunakan surfaktan eksogen. Saat ini
RDS didapatkan kurang dari 6% dari seluruh neonatus. Di negara berkembang
termasuk Indonesia belum ada laporan tentang kejadian RDS (WHO, 2012).
Dampak lanjut dari kekurangan surfaktan mengakibatkan kolaps pada
alveolus sehingga paru-paru menjadi kaku. Hal tersebut menyebabkan perubahan
fisiologi paru sehingga daya pengembangan paru (compliance) menurun 25% dari
normal, pernafasan menjadi berat, shunting intrapulmonal meningkat dan terjadi
hipoksemia berat, hipoventilasi yang menyebabkan asidosis respiratorik.
Masalah tersebut dapat diatasi dengan peran aktif petugas kesehatan baik
berupa promotif, preventiv, kuratif dan rehabilitatif. Hal ini dilakukan dengan
pendidikan kesehatan, pencegahan, pengobatan sesuai program dan memotivasi klien
agar cepat pulih sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan secara optimal. Oleh
karena itu penulis tertarik mengangkat judul “Penggunaan Nesting Dengan Fiksasi
Mampu Menjaga Stabilitas Saturasi Oksigen, Frekuensi Pernafasan, Nadi Dan Suhu
Pada Bayi Prematur Dengan Gawat Napas”
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana perbedaan efektifitas terapi nesting dengan nesting fiksasi pada
bayi premature dengan Respiratory Distress Syndrom (RDS)?
1.3 Manfaat
Untuk mengetahui perbedaan efektifatas terapi nesting dengan nesting fiksasi
pada bayi premature dengan Respiratory Distress Sindrom (RDS).

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Konsep Teori
A. Anatomi Fisiologi Paru
Paru-paru merupakan alat pernapasan utama. Paru-paru terletak sedemikian
rupa sehingga setiap paru-paru berada di samping mediastinum. Oleh karenanya,
masing-masing paru-paru dipisahkan satu sama lain oleh jantung dan pembuluh-
pembuluh besar serta struktur-struktur lain dalam mediastinum. Masing-masing paru-
paru berbentuk konus dan diliputi oleh pleura viseralis. Paru-paru terbenam bebas
dalam rongga pleuranya sendiri, dan hanya dilekatkan ke mediastinum oleh radiks
pulmonalis. Masing-masing paru-paru mempunyai apeks yang tumpul, menjorok ke
atas dan masuk ke leher sekitar 2,5 cm di atas klavikula. Di pertengahan permukaan
medial, terdapat hilus pulmonalis, suatu lekukan tempat masuknya bronkus,
pembuluh darah dan saraf ke paru-paru untuk membentuk radiks pulmonalis. Paru-
paru kanan sedikit lebih besar dari paru-paru kiri dan dibagi oleh fisura oblikua dan
fisura horisontalis menjadi 3 lobus, yaitu lobus superior, medius dan inferior.
Sedangkan paru-paru kiri dibagi oleh fisura oblikua menjadi 2 lobus, yaitu lobus
superior dan inferior.
Paru-paru berasal dari titik tumbuh yang muncul dari pharynx, yang
bercabang dan kemudian bercabang kembali membentuk struktur percabangan
bronkus. Proses ini terus berlanjut terus berlanjut setelah kelahiran hingga sekitar usia
8 tahun sampai jumlah bronkiolus dan alveolus akan sepenuhnya berkembang,
walaupun janin memperlihatkan adanya bukti gerakan nafas sepanjang trimester
kedua dan ketiga. Ketidak matangan paru –paru akan mengurangi peluang
kelangsungan hidup bayi baru lahir sebelum usia24 minggu yang disebabkan oleh
keterbatasan permukaan alveolus, ketidakmatangan sistem kapiler paru –paru dan
tidak mencukupinya jumlah surfaktan. Upaya pernapasan pertama seorang bayi
berfungsi untuk:
1. Mengeluarkan cairan dalam paru.
2. Mengembangkan jaringan alveolus paru –paru untuk pertama kali.
Agar alveolus dapat berfungsi, harus terdapat surfaktan yang cukup dan aliran
darah ke paru- paru. Produksi surfaktan dimulai pada 20 minggu kehamilan dan
jumlahnya akan meningkat sampai paru- paru matang sekitar 30 -34 minggu
kehamilan. Surfaktan ini mengurangi tekanan permukaan paru dan membantu untuk
menstabilkan dinding alveolus sehingga tidak kolaps pada akhir pernapasan. Tanpa
surfaktan alveoli akan kolaps setiap saat setelah akhir setiap pernapasan, yang
menyebabkan sulit bernapas. Peningkatan kebutuhan energi ini memerlukan
penggunaan lebih banyak oksigen dan glukosa. Berbagai peningkatan ini
menyebabkan steress pada bayi yang sebelumnya sudah terganggu.
Pada bayi cukup bulan, mempunyai cairan di dalam paru –parunya. Pada saat
bayi melalui jalan lahir selama persalinan, sekitar sepertiga cairan ini diperas keluar
dari paru –paru. Pada bayi yang dilahirkan melalui seksio sesaria kehilangan
keuntungan dari kompresi rongga dada dapat menderita paru- paru basah dalam
jangka waktu lebih lama. Dengan sisa cairan di dalam paru –paru dikeluarkan dari
paru dan diserap oleh pembulu limfe dan darah. Semua alveolus paru –paru akan
berkembang terisi udara sesuai dengan perjalanan waktu.

B. Pengertian
Respirasi Distress Syndrome (RDS) atau Sindrom Distres Pernapasan adalah
sindrom gawat napas yang disebabkan defisiensi surfaktan terutama pada bayi yang
baru lahir dengan masa gestasi kurang (Malloy, 2000).
Sindrom Distres Pernapasan adalah perkembangan yang imatur pada sistem
pernapasan atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru. RDS dikatakan
sebagai hyalin membrane diseaser (Suriadi dan Yulianni, 2006).
Sindrom Distres Pernapasan adalah sekumpulan temuan klinis, radiologis, dan
histologis yang terjadi terutama akibat ketidakmaturan paru dengan unit pernapasan
yang kecil dan sulit mengembang dan tidak menyisakan udara diantara usaha napas
(Bobak, 2005).
Jadi berdasarkan dari beberapa sumber dapat disimpulkan bahwa RDS adalah
penyakit yang disebabkan oleh ketidakmaturan dan ketidakmampuan sel untuk
menghasilkan surfaktan yang memadai.
C. Etiologi
Menurut Suriadi dan Yulianni (2006) etiologi dari RDS yaitu:
1. Ketidakmampuan paru untuk mengembang dan alveoli terbuka.
2. Alveoli masih kecil sehingga mengalami kesulitan berkembang dan
pengembangan kurang sempurna. Fungsi surfaktan untuk menjaga agar
kantong alveoli tetap berkembang dan berisi udara, sehingga pada bayi
prematur dimana surfaktan masih belum berkembang menyebabkan daya
berkembang paru kurang dan bayi akan mengalami sesak nafas.
3. Membran hialin berisi debris dari sel yang nekrosis yang tertangkap dalam
proteinaceous filtrat serum (saringan serum protein), di fagosit oleh makrofag.
4. Berat badan bayi lahir kurang dari 2500 gram.
5. Adanya kelainan di dalam dan di luar paru. Kelainan dalam paru yang
menunjukan sindrom ini adalah pneumothoraks/pneumomediastinum,
penyakit membran hialin (PMH).
6. Bayi prematur atau kurang bulan
7. Diakibatkan oleh kurangnya produksi surfaktan. Produksi surfaktan ini
dimulai sejak kehamilan minggu ke-22, semakin muda usia kehamilan, maka
semakin besar pula kemungkinan terjadi RDS.

D. Patofisiologi
1. Proses penyakit
Faktor-faktor yang memudahkan terjadinya RDS pada bayi prematur
disebabkan oleh alveoli masih kecil sehingga kesulitan berkembang,
pengembangan kurang sempurna karena dinding thorax masih lemah, produksi
surfaktan kurang sempurna. Kekurangan surfaktan mengakibatkan kolaps pada
alveolus sehingga paru-paru menjadi kaku. Hal tersebut menyebabkan perubahan
fisiologi paru sehingga daya pengembangan paru (compliance) menurun 25%
dari normal, pernafasan menjadi berat, shunting intrapulmonal meningkat dan
terjadi hipoksemia berat, hipoventilasi yang menyebabkan asidosis respiratorik.
Telah diketahui bahwa surfaktan mengandung 90% fosfolipid dan 10%
protein, lipoprotein ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan dan menjaga
agar alveoli tetap mengembang. Secara makroskopik, paru-paru nampak tidak
berisi udara dan berwarna kemerahan seperti hati. Oleh sebab itu paru-paru
memerlukan tekanan pembukaan yang tinggi untuk mengembang. Secara
histologi, adanya atelektasis yang luas dari rongga udara bagian distal
menyebabkan edema interstisial dan kongesti dinding alveoli sehingga
menyebabkan desquamasi dari epithel sel alveoli type II. Dilatasi duktus alveoli,
tetapi alveoli menjadi tertarik karena adanya defisiensi surfaktan ini. Dengan
adanya atelektasis yang progresif dengan barotrauma atau volutrauma dan
keracunan oksigen, menyebabkan kerosakan pada endothelial dan epithelial sel
jalan pernafasan bagian distal sehingga menyebabkan eksudasi matriks fibrin
yang berasal dari darah. Membran hyaline yang meliputi alveoli dibentuk dalam
satu setengah jam setelah lahir. Epithelium mulai membaik dan surfaktan mulai
dibentuk pada 36- 72 jam setelah lahir. Proses penyembuhan ini adalah komplek;
pada bayi yang immatur dan mengalami sakit yang berat dan bayi yang
dilahirkan dari ibu dengan chorioamnionitis sering berlanjut menjadi
Bronchopulmonal Displasia (BPD).

E. Manifestasi klinis
Berat dan ringannya gejala klinis pada penyakit RDS ini sangat dipengaruhi oleh
tingkat maturitas paru. Semakin rendah berat badan dan usia kehamilan, semakin
berat gejala klinis yang ditujukan. Manifestasi dari RDS disebabkan adanya
atelektasis alveoli, edema, dan kerosakan sel dan selanjutnya menyebabkan
kebocoran serum protein ke dalam alveoli sehingga menghambat fungsi surfaktan.
Gejala klinikal yang timbul yaitu : adanya sesak nafas pada bayi prematur segera
setelah lahir, yang ditandai dengan takipnea (> 60 x/minit), pernafasan cuping hidung,
grunting, retraksi dinding dada, dan sianosis, dan gejala menetap dalam 48-96 jam
pertama setelah lahir. Berdasarkan foto thorak, menurut kriteria Bomsel ada 4
stadium RDS yaitu:
a. Terdapat sedikit bercak retikulogranular dan sedikit bronchogram udara.
b. Bercak retikulogranular homogen pada kedua lapangan paru dan gambaran
airbronchogram udara terlihat lebih jelas dan meluas sampai ke perifer menutupi
bayangan jantung dengan penurunan aerasi paru.
c. Alveoli yang kolaps bergabung sehingga kedua lapangan paru terlihat lebih
opaque dan bayangan jantung hampir tak terlihat, bronchogram udara lebih luas.
keempat, seluruh thorax sangat opaque (white lung) sehingga jantung tak dapat
dilihat.
Tanda dan gejala yang muncul dari RDS adalah:
a. Pernapasan cepat
b. Pernapasan terlihat parodaks
c. Cuping hidung
d. Apnea
e. Murmur
f. Sianosis pusat
F. Komplikasi
Menurut Suriadi dan Yulianni (2006) komplikasi yang kemungkinan terjadi
pada RDS yaitu:
a. Komplikasi jangka pendek
1) Kebocoran alveoli
2) Apabila dicurigai terjadi kebocoran udara (pneumothorak,
pneumomediastinum, pneumopericardium, emfisema interstitial), pada bayi
dengan RDS yang tiba-tiba memburuk dengan gejala klinikal hipotensi, apnea,
atau bradikardi atau adanya asidosis yang menetap.
3) Jangkitan penyakit karena keadaan penderita yang memburuk dan adanya
perubahan jumlah leukosit dan thrombositopeni. Infeksi dapat timbul kerana
tindakan invasif seperti pemasangan jarum vena, kateter, dan alat-alat
respirasi.
4) Perdarahan intrakranial dan leukomalacia periventrikular: perdarahan
intraventrikuler terjadi pada 20-40% bayi prematur dengan frekuensi
terbanyak pada bayi RDS dengan ventilasi mekanik.
b. Komplikasi jangka panjang
Komplikasi jangka panjang dapat disebabkan oleh keracunan oksigen, tekanan
yang tinggi dalam paru, memberatkan penyakit dan kekurangan oksigen yang menuju
ke otak dan organ lain. Komplikasi jangka panjang yang sering terjadi yaitu:
1) Bronchopulmonary Dysplasia (BPD)
Merupakan penyakit paru kronik yang disebabkan pemakaian oksigen pada
bayi dengan masa gestasi 36 minggu. BPD berhubungan dengan tingginya
volume dan tekanan yang digunakan pada waktu menggunakan ventilasi
mekanik, adanya infeksi, inflamasi, dan defisiensi vitamin A. Insiden BPD
meningkat dengan menurunnya masa gestasi.
2) Retinopathy prematur
Kegagalan fungsi neurologi, terjadi sekitar 10-70% bayi yang berhubungan
dengan masa gestasi, adanya hipoxia, komplikasi intrakranial, dan adanya
infeksi.

G. Penatalaksanaan
Menurut Suriadi dan Yuliani (2001) tindakan untuk mengatasi masalah
kegawatan pernafasan meliputi:
a. Mempertahankan ventilasi dan oksigenasi adekuat.
b. Mempertahankan keseimbangan asam basa.
c. Mempertahankan suhu lingkungan netral.
d. Mempertahankan perfusi jaringan adekuat.
e. Mencegah hipotermia.
f. Mempertahankan cairan dan elektrolit adekuat.

Pengobatan yang biasa diberikan selama fase akut penyakit RDS adalah:
a. Antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder.
b. Furosemid untuk memfasilitasi reduksi cairan ginjal dan menurunkan caiaran
paru.
c. Fenobarbital.
d. Vitamin E menurunkan produksi radikal bebas oksigen.
e. Metilksantin (teofilin dan kafein) untuk mengobati apnea dan untuk
pemberhentian dari pemakaian ventilasi mekanik.
f. Salah satu pengobatan terbaru dan telah diterima penggunaan dalam
pengobatan RDS adalah pemberian surfaktan eksogen (derifat dari sumber
alami misalnya manusia, didapat dari cairan amnion atau paru sapi, tetapi bisa
juga berbentuk surfaktan buatan ).
Pathway prematuritas

Organ paru belum sempurna


Injury langsung Injury tidak langsung
(Infeksi paru, kontusio paru, (trauma dengan syok
cedera inhalasi toksik, dan hemoragik, sepsis)
cedera dada) Aktivasi kaskade inflamasi

Aktivasi sel imun dan non imun (fase insiasi)

Aktivasi sel efektor (fase amplifikasi)

Neutrofil tertarik dan tertahan di paru

Melepaskan mediator inflamasi Terjadi inflamasi


(oksidan dan peotease)
Pengeluaran prostaglandin

Paru – paru rusak (fase injury)


Mempengaruhi hipotalamus

Kerusakan pada membrane Peningkatan set point


kapiler alveolar hipotalamus

↑ permeabilitas kapiler
Hipertermi

Cairan dan protein masuk Edema Hipersekresi ↓ reflek


ke alveolar mukosa batuk

Cairan masuk ke Akumulasi sputum


interstitial
Obstruksi jalan napas

Edema interstitial dan


alveolar (edema paru)
Fase Ketidakefe
eksudatif ktifan
↓ aliran darah Nekrosisnya sel bersihan
ke jantung pneumosif tipe I jalan napas
(lapisan yang
mengelilingi alveolus)

Terjadi kerusakan sel


epitel pneumosif tipe
II
Fase
(surfaktan)
peoliferatif

Atelektasis paru
Fase fibrosis

Peningkatan CO2 dalam darah Pertukaran O2 dan


CO2 terganggu

Darah bersifat asam


Suplai O2 terganggu AGD abnormal, Hiperkaliemia

Gangguan pertukaran gas

↓ O2 dalam darah ↑ frekuensi pernafasan


Px merasa sesak
Hiperventilasi
Hipoksemia Pasien cemas dengan
keadaannya
↓ O2 ke jaringan Pola nafas tidak
efektif
Ansietas

↓ O2 ke jaringan ↓ O2 ke jaringan Sel kekurangan O2


perifer cerebral

Mekanisme
↓ saturasi O2 ↓ kesadaran kompensasi
metabolisme
anaerob
Px beresiko cidera
Gangguan
perfusi jaringan ↓ pembentukan ATP
perifer
Resiko
Energi ke otot ↓
Cidera

Kelemahan

Intolerasi
Aktivitas
2.2 Konsep Keperawatan
A. Pengkajian
Riwayat maternal
- Menderita penyakit seperti diabetes mellitus
- Kondisi seperti perdarahan placenta
- Tipe dan lamanya persalinan
- Stress fetal atau intrapartus
Status infant saat lahir
- Prematur, umur kehamilan
- Apgar score, apakah terjadi aspiksia
- Bayi prematur yang lahir melalui operasi caesar
Cardiovaskular
- Bradikardi (dibawah 100 x per menit) dengan hipoksemia berat
- Murmur sistolik
- Denyut jantung dalam batas normal
Integumen
- Pallor yang disebabkan oleh vasokontriksi peripheral
- Pitting edema pada tangan dan kaki
- Mottling
Neurologis
- Immobilitas, kelemahan, flaciditas
- Penurunan suhu tubuh
- Pulmonary
- Takipnea (pernafasan lebih dari 60 x per menit, mungkin 80 – 100 x )
- Nafas grunting
- Nasal flaring
- Retraksi intercostal, suprasternal, atau substernal
- Cyanosis (sentral kemudian diikuti sirkumoral) berhubungan dengan
persentase desaturasi hemoglobin
- Penurunan suara nafas, crakles, episode apnea
Status Behavioral
- Lethargy
Study Diagnostik
- Seri rontqen dada, untuk melihat densitas atelektasis dan elevasi
diaphragma dengan overdistensi duktus alveolar
- Bronchogram udara, untuk menentukan ventilasi jalan nafas.
Data laboratorium
- Profil paru, untuk menentukan maturitas paru, dengan bahan cairan
amnion (untuk janin yang mempunyai predisposisi RDS)
 Lecitin/Sphingomielin (L/S) ratio 2 : 1 atau lebih mengindikasikan
maturitas paru
 Phospatidyglicerol : meningkat saat usia gestasi 35 minggu
 Tingkat phosphatydylinositol
- Analisa Gas Darah, PaO2 kurang dari 50 mmHg, PaCO2 kurang dari 60
mmHg, saturasi oksigen 92% – 94%, pH 7,31 – 7,45
- Level pottasium, meningkat sebagai hasil dari release potassium dari sel
alveolar yang rusak

B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan perfusi jaringan perifer b.d penurunan saturasi oksigen
2. Gangguan pertukaran gas b.d AGD abnormal dan hiperkalemia
3. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d akumulasi secret
4. Ketidakefektifan pola nafas b.d hiperventilasi
5. Hipertermi b.d peningkatan sel point hipotalamus
6. Intoleransi aktivitas b.d penurunan pembentukan ATP
7. Resiko cedera b.d penurunan kesadaran
8. Ansietas b.d pasien merasa sesak nafas
NO. DIAGNOSIS TUJUAN DAN KRITERIA HASIL (NOC) INTERVENSI (NIC) PARAF
KEPERAWATAN &
NAMA

1 Ketidakefektifanb Status pernapasan: Kepatenanjalannapas (0410) Manajemenjalannapas


ersihanjalannafas (3140)
(00031 No Indikator Awa Tujuan
. l 1 2 3 4 5 1. Posisikanpasien semi
1. FrekuensiPernap fowler
3 √
asan untukmemaksimalventil
2. Iramapernafasan 3 √ asi
3. Kedalamaninspir 2. Ajarkanpasienuntukbatu
3 √
asi kefektif
4. Kemampuanmen 3. Lakukanfisioterapi dada
1 √ 4. Kolaborasipemberianbro
gelurakansekret
nkodilator
5. Suaranafastamba NIC: Monitor Pernafasan
3 √
han (3350)
6. Pernafasancuping 1. Monitor kecepatan,
2 √
hidung irama,
7. Dyspnea kedalamandankesulitanb
3 √
saatistirahat ernafas
8. Dyspnea 2. Catatpergerakan dada,
denganaktivitasri 3 √ kesimetrisan,
ngan penggunaanotot bantu
9. bant √ pernafasan
u 3. Monitor
pern suaranafastambahan
Penggunaanotot
afas 4. Monitor polanafas
an 5. Auskultasisuaranapas,
2 catat area yang
10. Batuk 2 √ ventilasinyamenurunatau
tidakadadanadanyatamb
11. Akumulasi 2 √ ahansuaratambahan
sputum 6. Monitor
kemampuanbatukefektif;
Monitor sekresipernafasan
Keterangan:

1. Keluhanekstrime
2. Keluhanberat
3. Keluhansedang
4. Keluhanringan
5. Tidakadakeluhan

2 Ketidakefektifanp Setelahdilakukantindakankeperawatanselama 3 x 24 jam NIC: Monitor Pernafasan


olanapas (00032) pasienmenunjukkanhasil: (3350)
a. Monitor tingkat,
Status Pernafasan (0415) iramakedalamandankesu
litanbernafas;
Tujuan b. Catatpergerakan dada,
No. Indikator Awal kesimetrisan,
1 2 3 4 5 danpenggunaanotot
1. Frekuensipernafasan 3 √ bantu pernafasan;
c. Monitor
2. Iramapernafasan 3 √ suaranafastambahan;
d. Monitor polanafas;
3. Kedalamaninspirasi 3 √ e. Auskultasisuaranafas;
f. Bukajalannapas;
4. Suaraauskultasinafas 3 √ g. Berikanterapioksigen.
5. Kepatenanjalannafas 2 √
NIC: TerapiOksigen
Penggunaanotot (3320)
6. 3 √ h. Pertahankankepatenanja
bantu pernafasan
lannafas;
Pernafasanbibirdenga i. Berikanoksigenseperti
7. 4 √ yang diperintahkan;
nmulutmengerucut
j. Monitor aliranoksigen;
8. Dyspnea saatistirahat 4 √ k. Periksaperangkat (alat)
pemberianoksigensecara
Dyspnea berkalauntukmemastika
9. denganaktivitasringa 3 √ nbahwakonsentrasi
n (yang telah)
ditentukantelahdiberikan
Pernafasancupinghid ;
10. 2 √
ung l. Monitor
peralatanoksigenuntukm
Keterangan: emastikanbahwaalatters
ebuttidakmenggangguup
1. Keluhanekstrime
ayapasienuntukbernapas
2. Keluhanberat
.
3. Keluhansedang
4. Keluhanringan
NIC:
5. Tidakadakeluhan
ManajemenJalanNafas
(3140)
- Frekuensipernafasandalambatas normal (16-24x/menit) a. Posisikanpasien semi
(041501) fowler;
- Iramapernafasanreguler (041502) b. Motivasipasienuntukmel
- Kedalamaninspirasimaksimal (041503) akukanbatukefektif;
- Suaraauskultasikembali normal (041504) c. Auskultasisuaranafas,
- Jalannafas paten (041532) mendengarkanadaatauti
- Tidakadapenggunaanotot bantu pernafasan (041510) dakadaadanyasuaratamb
- Tidakadapernafasandenganbibir (041512) ahan;
- Tidak dyspnea saatistirahat (041015) Berikanpendidikankesehata
- Tidak dyspnea saataktivitasringan (041016) nmengenaifisioterapi dada.
Tidakadapernafasancupinghidung (041528
3 KetidakefektifanP Setelahdilakukantindakankeperawatanperfusijaringanperiferme 1. Letakkan kepala dan
erfusiJaringanperi ngalamiperbaikanditandaidengan: leher pasien dalam
fer (00204) posisi netral, hindari
fleksi pinggang yang
berlebihan
Tujuan 2. Monitor suhu dan
Indikator Awal
1 2 3 4 5 jumlah WBC
Tekanandarahsistolik 2 √ 3. Monitor tanda-tanda
Tekanandarahdiastolic 2 √ vital
Nilai rata-rata 2 √ 4. Monitor pernafasan
tekanandarah frekuensi, irama,
Sakitkepala 2 √ kedalaman pernafasan
Kelesuhan 2 √ 5. Batasi suction kurang
Cegukan 2 √ dari 15 detik
Keadaanpingsan 2 √ 6. Lakukan latihan ROM
Demam 2 √ pasif
Kognisiterganggu 2 √ 7. Monitor tingkat
Penurunantingkatkesad 2 √ kesadaran
aran 8. Monitor reflek batuk
dan muntah
9. Monitor bentuk otot,
gerakan motorik, gaya
berjalan, dan
proprioception
Monitor responterhadapobat

4 Hipertermia Setelahdilakukantindakankeperawatanselama 3 x 24 jam NIC: Perawatandemam


(00007) pasienmenunjukkanhasil: (3740)

Termoregulasi (0800) a. Pantau suhu dna


tanda-tanda vital
Tujuan lainnya
No. Indikator Awal
1 2 3 4 5 b. Monitor warna kulit
dan suhu
1. Berkeringatsaatpanas 3 √ c. Monitor asupan dan
2. Menggigilsaatdingin 3 √ keluaran, sadari
3. Denyutnadi radial 3 √ perubahan
4. Tingkat pernapasan 3 √ kehilangan yang
5. Peningkatansuhukulit 2 √ dirasakan
6. Hipertermia 2 √ d. Beri obat atau cairan
7. Perubahanwarnakulit 2 √ IV (Misal
8. Dehidrasi 3 √ antipiretik)
Keterangan: e. Dorong konsumsi
1. KeluhanBerat cairan
2. Keluhancukupberat
3. Keluhansedang
NIC: Pengaturansuhu
4. Keluhanringan
5. Tidakadakeluhan (3900)

a. Monitor suhu
setidaknya setiap 2
jam, sesuai
kebutuhan
b. Monitor suhu dan
warna kulit
c. Tingkatkan intake
cairan dan nutrisi
adekuat
d. Sesuaikan suhu
lingkungan
e. Berikan pengobatan
antipiretik

5 IntoleransiAktivit Setelahdilakukantindakankeperawatanselama 4 x 24 jam TerapiAktivitas (4310)


as(00092) pasienmenunjukkanhasil:
 Berkolaborasidenganahl
iterapifisik,
Toleransiterhadapaktifitas (0005) okupasidanterapisrekrea
sionaldalamperencanaa
No Indikator Awal Tujuan ndanpemantauan
. program
aktivitasjikadiperlukan
1 2 3 4 5
 Pertimbangkankomitme
1. Saturasioksig 3 nklienuntukmeningkatk
enketikabera anfrekuensidanjarakakti
ktifitas vitas
 Bantu
2. Frekuensinad 3 klienuntukmemilihaktifi
iketikaberakt tasdanpencapaiantujuan
ifitas melaluiaktivitasfisik
yang
3. Kemudahanb 3 konsistenndengankema
ernafasketika mpuanfisik,
beraktifitas fisiologidan social
 Dorongaktifitaskreatif
4. Tekanandara 3
yang tepat
hsistolikketik  Bantu
aberaktifitas klienmengidentifikasiak
5. Tekanandara 3 tifitas yang di inginkan
 Bantu
hsistolikketik
klienmengidentifikasiak
aberaktifitas
tifitas yang bermakna
6. Kecepatanbe 3  Bantu
rjalan klienuntukmenjadwalka
nwaktu-
7. Kekuatantub waktuspesifikterkaitden
uhbagianatas ganaktifitasharian
 Instruksikankliendankel
8. Kekuatantub uargauntukmempertaha
uhbagianbaw nkanfungsidankesehata
ah nterkaitperandalambera
ktifitassecarafisik,
Keterangan: social, dankognitif.
 Dorongketerlibatandala
1. Sangatterganggu
maktifitasfisiksecaraber
2. Banyakterganggu
kelompok
3. Cukupterganggu
4. Sedikitterganggu Bantu
5. Tidakterganggu klienuntukrutindanmempert
ahankanaktifitaskelompok.

6 ResikoCedera Setelahdilakukantindakankeperawatanselama 3 x 24 jam NIC:


(00035) pasienmenunjukkanhasil: Manajemenlingkungan:
keselamatan (6486)
Kejadianjatuh (0410) a. Identifikasihal-hal yang
membahayakan di
Tujuan lingkungan;
No. Indikator Awal
1 2 3 4 5 b. Singkirkanbahanberbaha
1. Jatuhsaatberdiri √ yadarilingkungan;
2. Jatuhsaatberjalan √ c. Modifikasilingkunganun
3. Jatuhsaatduduk √ tukmeminimalkanbahan
4. Jatuhdaritempattidur √ berbahayadanberisiko;
5. Jatuhsaatdipindahkan √ d. Monitor
6. Jatuhsaatnaiktangga √ lingkunganterhadapterja
7. Jatuhsaatturuntangga √ dinyaperubahan status
Jatuhsaatkekamarma keselamatan;
8. √
ndi e. Bantu
Jatuhsaatmembungku pasiensaatmelakukanpin
9. √ dahan yang lebihaman.
k
Keterangan:
NIC: Pencegahanjatuh
6. 10 danlebih (6490)
7. 7-9 5. Kajiriwayatjatuh;
8. 4-6 6. Monitor gayaberjalan,
9. 1-3 kesimbangandantingka
10. Tidakada tkelelahandenganambu
lasi;
7. Dukungpasienuntukme
- Tidakmengalamijatuhsaatberdiri (191201)
nggunakantongkatatau
- Tidakmengalamijatuhsaatberjalan (191202)
walker;
- Tidakmengalamijatuhsaatduduk (191203)
8. Ajarkanpasienjikajatuh
- Tidakmengalamijatuhsaatdaritempattidur (191204)
untukmeminimalkance
- Tidakmengalamijatuhsaatdipindahkan (191205)
dera;
- Tidakmengalamijatuhsaatnaiktangga (191206)
9. Monitor
- Tidakmengalamiterjunsaatturuntangga (191207)
kemampuanuntukberpi
- Tidakmengalamijatuhsaatkekamarmandi (191209)
ndah;
- Tidakmengalamijatuhsaatmembungkuk (191210)
10. Lakukan program
latihanfisikrutin yang
meliputiberjalan
Kolaborasiuntukmeminimal
kanefeksampingdaripengob
atan yang
berkontribusipadakejadianja
tuh

7 Ansietas (00146) Setelahdilakukantindakankeperawatanselama 3 x 24 jam NIC:


pasienmenunjukkanhasil: Pengurangankccemasan
(5820)
Status Pernafasan: Tingkat kecemasan (1211) a. Berikaninformasifaktual
terkait diagnosis,
No. Indikator Awal Tujuan perawatandan prognosis
1 2 3 4 5 b. Tingkatkan rasa
amandankurangiketakut
Tidak dapat an
1. √
beristirahat c. Berikanobjekuntukmem
berikan rasa aman
Berjalan mondar- d. Pujiperilakupasiendenga
2.
mandir ntepat
e. Lakukanusapanpunggun
Merenas –remas g/leherdengancaratepat
3.
tangan f. Instruksikanklienmengg
unakanteknikrelaksasi
4 Perasaan gelisah
g. Bantu
5 Otot tegang klienmengidetifikasisitu
asi yang
6 Wajah tegang mmicukecemasan

7 Iritabilitas NIC: Terapirelaksasi


8 Peningkatan TD (6040)
a. Ciptakanlingkungan
Peningkatan yang
9 tenagngdantanoadistraks
frekuensi nadi
i
Peningkatan b. Dorongklinmengambilp
10 osisinyaman
frekuensi pernapasan
c. Tunjukkandanpraktikka
11 Dilatasi pupil nteknikrelaksasipadapas
ien
12 Berkeringat dingin d. Dapatkanperilaku yang
mnunjukkanrelaksasi
13 Pusing
(bernafasdalam,
14 Fatigue menguap,
pernafasanperut,
bayangan yang
15 Gangguan tidur menenangkan)
e. Mintapasienuntukrileksd
Perubahan pola anmenikmatisensasi
16
makan yang terjadi
f. Dorongpengulangantekn
Keterangan: ikpraktiksecaraberkala
1. Berat Evaluasidandokumentasika
2. Cukupberat
nresponterhadapterapirelaks
3. Sedang
4. Ringan asi
5. Tidakada
BAB 3. ANALISIS JURNAL

3.1 PICO (Problem, Intervention, Comparative, Outcome)


3.1.1 Problem
Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh mahasiswa Pendidikan Profesi
Ners Stase Anak di ruang Perinatologi RSUD Dr Haryoto Lumajang, hampir
sebagian besar bayi yang dirawat yaitu bayi dengan BBLR (berat badan lahir
rendah) dengan RDS. Respiratory distress syndrome (RDS) disebut juga hyaline
membrane didease (HMD), merupakan sindrom gawat nafas yang disebabkan
defisiensi surfaktan terutama pada bayi yang lahir dengan masa gestasi kurang
(Honrubia & Stark). Manifestasi dari RDS disebabkan adanya atelektasis alveoli,
edema, dan kerusakan sel dan selanjutnya menyebabkan bocornya serum protein ke
dalam alveoli sehingga
menghambat fungsi surfaktan. Diruang perinatologi hampir seluruh bayi yang lahir
dengan BBLR mengalami RDS. Penatalaksanaanya yang dilakukan di ruang
perinatologi untuk bayi dengan RDS yaitu dengan terapi oksigen meliputi ventilasi
mekanik (CPAP). Berdasarkan identifikasi kami, hampir seluruh pasien dengan
RDS diberikan terapi oksigen dengan ventilasi mekanik, namun disamping itu
penatalaksanaan yang ada juga meliputi penggunaan nesting untuk menjaga
perbaikan saturasi oksigen dan meningkatkan suhu tubuh bayi. Namun penggunaan
nesting di ruang perinatologi tidak di lengkapi dengan fiksasi.

3.1.2 Intervention
Salah satu tugas perawat memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan
respon pasien yang dimunculkan. Perawat juga mempunyai tindakan kolaborasi
seperti dalam pemberian obat, pemberian surfaktan, inhalasi Nitric Oxide (iNO),
dan dukungan nutrisi. Salah satu gejala pada bayi dengan RDS adalah pernafasan
cepat, sianosis perioral, merintih waktu ekspirasi, retraksi substernal dan interkostal.
Berdasarkan identifikasi kami, penatalaksanaan untuk RDS sendiri yaitu dengan
pemberian terapi oksigen meliputi ventilasi mekanik (CPAP), memberikan cahaya
yang redup, suara yang rendah, kehangatan, sentuhan lembut, dan nesting pada bayi.
Pada penatalaksanaan dengan nesting memiliki tujuan untuk menjaga posisi bayi
untuk tetap dalam keadaan fleksi. Posisi yang terbaik untuk bayi prematur adalah
posisi fleksi karena dapat membantu mengurangi metabolisme dalam tubuh. Posisi
ekstensi dapat meningkatkan stress pada bayi prematur dan secara otomatis akan
mempengaruhi fungsi fisiologis tubuh neonatus seperti fungsi pernafasan dan
kardiovaskuler yang dapat dipantau melaui saturasi oksigen dan frekuensi nadi.
Intervensi keperawatan mandiri yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan posisi
bayi yaitu dengan penggunaan nesting fiksasi pada bayi, untuk menjaga agar bayi
tetap dalam keadaan fleksi dan supinasi. Nesting dengan fiksasi dilakukan pada bayi
gawat nafas yang gelisah dan memakai alat bantu pernafasan. Nesting merupakan
salah satu tindakan keperawatan yang menerapkan prisip konsep konservasi energy
yang dikemukakan oleh Levine. Levine menyatakan bahwa manusia akan senantiasa
melakukan adaptasi terhadap perubahan yang terjadi pada lingkungan sekitarnya.
Kemampuan manusia melakukan adaptasi baik secara integritas struktur, integritas
personal, integritas sosial, dan energy akan menghasilkan konservasi

3.1.3 Comparasion
Berdasarkan jurnal Noor dkk (2016), terdapat tiga responden yang diberi
perlakuan dimana terdapat karakteristik dan perbedaan intervensi seperti berikut.

Tabel 2.1 Karakteristik dan Perbedaan Intervensi pada Bayi Prematur dengan Gawat Napas
Bayi 1 Bayi 2 Bayi 3

Karakteristik

Usia Gestasi (mgg) 32-34 36-37 32-33

Umur (hari) 0 0 0

BBL (gram) 1680 2350 1250

Berat Badan Masuk 1680 2535 1320


(gram)

Diagnosa Medis NKB (Neonatus NCB (Neonatus NKB + KMK


Kurang Bulan) + Cukup Bulan) + (Kurang Masa
SMK (Sesuai Masa SMK + TTN Kehamilan) + SGN
Kehamilan) + SGN (Transcient
(Sindrom Gawat Tacipnea of the
Nafas) Newborn)

Intervensi

Penggunaan Alat Infant Flow Sipap BCPAP BCPAP


Bantu Pernapasan Trigger Apnoe
Development Care Nesting Nesting Nesting dengan
Fiksasi

3.1.4 Outcome
Berdasarkan jurnal Noor dkk (2016), berikut hasil penelitian penerapan
nesting dengan fiksasi terhadap tanda-tanda vital responden dan pemakaian alat
bantu pernapasan.
Tabel 2.2 Hasil Penerapan Nesting dengan Fiksasi terhadap Tanda-Tanda Vital
Bayi Prematur dengan Gawat Napas
Hari Ke-1 Hari Ke-2 Hari Ke-3

Saturasi Oksigen
(%)
Bayi 1 90 98 98

Bayi 2 93 92 94

Bayi 3 92 95 92

Frekuensi
Pernafasan
(x/mnt)
Bayi 1 61 61 59

Bayi 2 73 51 48

Bayi 3 66 58 56
Nadi (x/menit)

Bayi 1 136 127 141

Bayi 2 137 135 131

Bayi 3 146 155 131

Suhu (oC)

Bayi 1 36 36 37

Bayi 2 37,3 36,8 36,7

Bayi 3 31,4 37,2 36,9

Berdasarkan dari saturasi oksigen dari ketiga responden yang menggunakan


nesting dengan fiksasi tidak terdapat perbedaan, hasil penelitian dalam jurnal
diketahui bahwa rata-rata saturasi oksigen dalam batas normal yaitu berkisar antara
(90-100%). Hal ini sesuai dengan studi kasus sebelumnya yang dilakukan oleh ratna
bahwa nilai saturasi oksigen tidak ada perbedaan antara bayi yang menggunakan
nesting dengan fiksasi ataupun bayi yang tidak menggunakan nesting dengan fiksasi.
Nilai normal kadar saturasi oksigen berkisar 95% sampai 100% dan pada bayi baru
lahir di atas 88% masih di anggap normal (Moller et all, 2012).
Berdasarkan table 2.2 dapat diketahui bahwa terdapat penurunan frekuensi
pernapasan dan nadi pada responden yang menggunakan nesting dengan fiksasi. Pada
responden pertama terdapat penurunan frekuensi pernafasan setiap harinya berkisar
antara 61-47 x/menit (normal) dengan peningkatan nadi tetapi tidak terlalu tinggi
masih dalam batas normal. Pada responden kedua, didapatkan penurunan frekuensi
pernafasan setiap harinya yaitu berkisar antara 73-48 x/I (normal) dengan penurunan
nadi setiap harinya tetapi masih dalam batas normal . Pada responden ketiga terdapat
peningkatan dan penurunan frekuensi pernapasan dengan peningkatan dan penurunan
nadi.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan Noor dkk (2016), pada ketiga responden
yang menggunakan nesting dengan fikasi. Di dapatkan bahwa ketiga responden
mengalami peningkatan suhu tubuh: 1) Pada responden pertama tidak terjadi
hipotermi, suhu tubuh dari awal masuk normal, dan mengalami sedikit peningkatan
pada hari ke tiga sampai ke enam. 2) Pada responden kedua dengan lama pengamatan
3 hari. Saat awal masuk responden tidak mengalami hipotermi, suhu tubuh bayi
normal, tetapi mengalami penurunan pada hari pertama dan kedua, tetapi penurunan
yang terjadi masih dalam batas normal. 3) Pada responden ketiga, suhu tubuh
responden pada awal masuk mengalami hipotermi tetapi terjadi peningkatan setelah 1
jam perawatan serta terpasang nesting dengan fiksasi, dan suhu tubuh bayi tetap
normal pada hari kedua sampai ke lima.

Tabel 2.3 Hasil Penerapan Nesting dengan Fiksasi terhadap Pemakaian Alat Bantu
Pernafasan Bayi Prematur dengan Gawat Napas
Hari Perawatan Bayi 1 Bayi 2 Bayi 3

Hari 1 Infant flow sipap BCPAP (22 jam) BCPAP dengan


(17 jam 35 menit) (1320 menit), setting peep: 7,
(1055 menit), dengan setting FiO2: di atas 50,
trigger apnoe peep:7 dan Fi02:30 ganti ventilator (20
dengan setting, jam) (1200 menit),
Rate:30, pip:8, dengan setting
peep:5, FiO2:25, pressure AC,
flow:0,5. Rate:46, pip:2,
IT:0,35, peep:5,
FiO2:50, Flow:0,5.

Hari 2 Infant flow sipap - Ventilator (24 jam)


ganti BCPAP (25 (1440 menit),
jam) (1500 menit), dengan setting
dengan setting pressure AC,
peep:6 dan Fi02:25. Rate:50, pip:24,
IT:0,35, peep:6,
FiO2:50, Flow:0,5

Hari 3 BCPAP (24 jam) - Ventilator (24 jam)


(1440 menit) (1440 menit),
dengan setting dengan setting
peep:6 dan Fi02:25. pressure AC,
Rate:45, pip:24,
IT:0,35, peep:5,
FiO2:45, Flow:0,5.

Berdasarkan dari tabel di atas dapat di lihat bahwa ada kaitan antara frekuensi
nadi dan pernafasan pada tiap responden. Pemakaian nesting dengan fiksasi dapat
memberikan dampak pada frekuensi nadi dan pernafasan klien. Frekuensi nadi dan
pernafasan bayi lebih stabil dengan menggunakan nesting dengan fiksasi. Lama
pemakaian alat bantu pernafasan lebih singkat, terjadi peningkatan berat Murniati
Noor, Oswati Hasanah, Rumina Ginting, Penggunaan Nesting Dengan Fiksasi
Mampu Menjaga Stabilitas Saturasi Oksigen, Frekuensi Pernafasan, Nadi Dan Suhu
Pada Bayi Prematur Dengan Gawat Napas: Studi Kasus 75 Jurnal Ners Indonesia,
Vol.6 No.1, September 2016 badan setiap harinya. Dari hasil pengamatan di atas
terlihat ada kaitan antara peningkatan berat badan dengan stabilitas frekuensi nadi dan
pernafasan serta lama pemakaian alat bantu pernafasan bayi yang menggunakan
nesting dengan fiksasi pada development care. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
development care memberikan pengaruh yang baik yaitu berupa durasi penggunaan
alat bantu pernafasan dan oksigen yang lebih pendek, dapat menerima pemberian
makanan melalui oral lebih cepat, mengalami peningkatan berat badan setiap harinya
(Als, et al 1994 dalam Idriansari, 2011).
Hasil dari penelitian ini telah disimpulkan bahwa responden yang diamati
adalah dua responden bayi prematur dengan diagnosa NKB SMK neonatus kurang
bulan sesuai masa kehamialn dan NKB KMK (neonatus kurang bulan kecil masa
kehamilan) dan satu responden yang matur yaitu NCB SMK (neonatus cukup bulan
sesuai masa kehamilan. Penggunaan nesting dengan fiksasi pada development care
menunjukkan rata-rata saturasi oksigen dari ketiga responden lebih stabil. Ratarata
suhu tubuh dari ketiga responden mengalami peningkatan setiap harinya tetapi masih
dalam batas normal. Hasil pengamatan yang di lakukan pada frekuensi nadi, frekuensi
pernafasan, pemakaian alat bantu pernafasan serta dampak terhadap berat badan, di
dapatkan bahwa ada kaitan antara peningkatan berat badan dengan stabilnya
frekuensi nadi dan pernafasan, lama pemakaian alat bantu pernafasan lebih singkat.
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS JEMBER

PENGKAJIAN KEPERAWATAN ANAK

Ruangan : Neonatus

Tgl. / Jam MRS : 19 Januari 2019


Dx. Medis : Prematur dengan RDS

No. Reg. : 32.91.xx

TGL/Jam Pengkajian : 29 Januari 2019/12.30 WIB

A. IDENTITAS KLIEN
1. Nama : By. Ny. Umi Fidah

Nama Panggilan : By. Ny. U

Umur / Tgl. Lahir : 3 hari/19 Januari 2019

Jenis Kelamin : Perempuan

2. Identitas orang Tua

Nama Ayah : Tn. A Nama Ibu : Ny. U

Umur : 28 tahun Umur : 20 tahun

Agama : Islam Agama : Islam

Suku : Jawa Suku : Jawa

Bahasa : Jawa Bahasa : Jawa


Pendidikan : SD Pendidikan : SMP

Pekerjaan : Wiraswasta Pekerjaan : ibu rumah tangga

Penghasilan : tidak dikaji Penghasilan :-

Alamat : Tekung-Lumajang Alamat : Tekung-Lumajang

B. KELUHAN UTAMA
By. Ny. U di rawat di rumah sakit karena lahir prematur

C. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Ny. U mengatakan merasa mules-mules seperti akan melahirkan kemudian
periksa ke puskesmas diketahui pembukaan 2 kemudian dirujuk ke RSUD dr
Haryoto lumajang. NY. U melahirkan di usia kehamilan 26 minggu secara
spontan pada tanggal 19 Januari 2019 dengan jenis kelamin perempuan,
ketuban jernih, apgar skor 5-6, tidak terdapat ketuban pecah dini
Upaya yang telah dilakukan :
pasien telah di berikan injeksi vitamin K
Terapi yang diberikan :
infus D10 1/5 NS 100 cc/24 jam
Injeksi cinam 2 x 75 mg
Injeksi indexon 3 x 0,25 mg
Injeksi aminophilin 2 x 2 mg
Injeksi aminosteril 20cc/hari
Injeksi gentamicin 1 x 4 mg

D. RIWAYAT KESEHATAN DAHULU


1. Penyakit yang pernah diderita:
Pasien tidak memiliki riwayat penyakit sebelumnya
2. Riwayat operasi:
Pasien tidak memiliki riwayat operasi
3. Riwayat Alergi:
Pasien tidak memiliki riwayat alergi
4. Riwayat Imunisasi
Hbo (+), polio (+), BCG (+)

E. RIWAYAT PERINATAL
1. Antenatal :
Ny. U mengatakan periksa rutin di bidan sebulan sekali dan saat hamil
mengeluh sakit perut seperti mules-mules
2. Intra Natal
3. By. Ny. U lahir dengan spontan di usia kehamilan 26 minggu, saat terasa
mules-mules seperti akan melahirkan Ny. U periksa di puskesmas dan
diketahui sudah pembukaan 2 kemudian di rujuk ke RSUD dr Haryoto
4. Post Natal (0-7 hari)
5. By. Ny. U lahir pada tanggal 19 Januari 2019 secara spontan, jenis
kelamin perempuan, berat badan 1100 gram, panjang badan 39 cm,
lingkar kepala lahir 25 cm, Apgar score 5-6

F. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA


Ny. U mengatakan keluarga dari suami memiliki penyakit sesak nafas

GENOGRAM

G. PEMERIKSAAN TINGKAT PERKEMBANGAN


1. Perkembangan
a. Adaptasi sosial
Tidak terkaji karena bayi berusia 11 hari
b. Motorik kasar
By. Ny. U belum bisa menggerakkan keseluruhan badan, hanya
menggerakkan tangan dan kaki
c. Motorik halus
By. Ny. U belum dapat menggenggam jari pemeriksa
d. Bahasa
By. Ny, U hanya menangis jika ada sesuatu yang diinginkan atau
sesuatu yang kurang nyaman

H. KEADAAN LINGKUNGAN YANG MEMPENGARUHI TIMBULNYA


PENYAKIT
Ny. U hamil pada usia 19 tahun sehingga fungsi organ reproduksi belum
tercapai secara cukup

I. POLA FUNGSI KESEHATAN


1. Pola Persepsi dan Tata laksana kesehatan
Tidak terkaji karena bayi berusia 11 hari
2. Pola Nutrisi & Metabolisme
By. Ny. U minum ASI dengan baik melalui OGT yaitu sebanyak 10 x 5 cc
3. Pola eliminasi
BAK (+) warna kuning jernih, bau obat
BAB (+) meconium hitam, bayi menggunakan pampers, dalam 8 jam By.
Ny. U ganti pampers sekali
4. Pola aktifitas / bermain (termasuk kebersihan diri)
By. Ny. U beraktivitas ringan seperti menggerakkan tangan dan kaki, tidur,
menangis, BAB dan BAK
5. Pola Istirahat tidur
By. Ny. U tertidur setelah merasa kenyang dan nyaman
6. Pola kognitif dan persepsi sensori
Pola kognitif tidak terkaji, By. Ny. U berusia 11 hari, belum diketahui ada
kelainan atau tidak pada panca indra
7. Pola konsep diri
Tidak terkaji karena bayi berusia 11 hari
8. Pola Hubungan - Peran
By. Ny. U memiliki hubungan yang baik terhadap keluarga dilihat dari
perlengkapan atau kebutuhan By. Ny. U yang terpenuhi
9. Pola Seksual - seksualitas
By. Ny. U berjenis kelamin perempuan dan diterima oleh keluarganya.
Kehadiran By. Ny. U di harapkan oleh keluarganya karena anak pertama
10. Pola Mekanisme Koping
By. Ny. U biasanya menangis jika merasa kurang nyaman

11. Personal Nilai dan kepercayaan


Tidak terkaji karena bayi berusia 11 hari

J. PEMERIKSAAN FISIK
1. Status kesehatan Umum
1 Keadaan Umum:
2 By. Ny, U tampak lemah terpasang CPAP dihidung dengan peep 7
cm, FiO2 35%, flow 6, terpasang OGT di mulut dan infus di tangan kiri.
Pasien berada di dalam inkubator dengan suhu 320C. Rtraksi dada (+),
sianosis (-), kulit teraba tipis, ruge masih halus
Kesadaran:
By. Ny. U bergerak aktif dan menangis lemah
Tanda-tanda vital :
Tekanan darah : - Suhu : 35,20C
Nadi : 136 x/mnt RR : 62x/mnt
Tinggi badan : 39 cm
Lingkar kepala : 25 cm
Lingkar dada : 24 cm
Lingkar lengan atas : 4,5 cm
Berat badan sebelum sakit : 1100 gram
Berat badan saat ini : 1000 gram
Berat badan ideal : 890 gram (usia kehamilan 26-27 minggu)
Perkembangan BB : By. Ny. U mengalami penurunan berat
badan

2. Kepala
I: bentuk kepala normochepal, tidak ada laserasi, terdapat lanugo
P: fontanel teraba belum tertutup

3. Leher :
I: tidak ada pembesaran vena jugularis, tidak ada jejas, tidak ada ruam,
rentang gerak sendi bebas
P: tidak ada benjolan

4. Thorax / dada :
I: terdapat retraksi dada, terdapat otot bantu nafas, gerakan dada simetris,
RR 62 x/menit, irama napas irreguler, tidak ada ruam
P: HR teraba pada ICS 4-5 sinistra
P: tidak ada peningkatan timpani pada paru
A: buyi jantung S1 S2 tunggal; HR 136x/menit; suara paru vesikuler

5. Abdomen :
I: tidak ada ruam, umbilical segar, tidak berbau, di sekitar umbilical tidak
merah
A: bising usus 5x/menit
P: abdomen supel, tidak ada distended
P: timpani

6. Keadaan punggung:
I: tidak ada ruam, kolumna spinalis lurus, terdapat lanugo
P: tulang belakang ada, tidak ada nyeri

7. Ekstremitas :
Atas
I: rentang gerak sendi bahu, klavikula siku normal, pada bagian tangan
reflek genggam lemah, terdapat 10 jari tanpa berselaput, tidak ada
deformitas, kuku pendek, edema (-)
P: humerus, radius, ulna, ada klavikula tanpa fraktur dan tanpa nyeri
Bawah
I: panjang kedua sisi sama, 10 jari kaki tanpa selaput, kuku pendek, reflek
plantar ada di kedua sisi dan simetris, tidak ada deformitas, edema (-)
P: tidak ada nyeri tekan

8. Genetalia & Anus :


Jenis kelamin perempuan, terdapat klitoris, labia minora belum tertutup
labia mayora, terdapat anus

9. Pemeriksaan Neurologis :
Moro: lengan ekstensi, jari-jari mengembang
Genggam: By. Ny. U belum menggenggam jari pemeriksa
Rooting: Ny. Ny. U belum menghampiri pipi yang diusap
Menghisap : hisapan bayi lemah

K. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Laboratorium
Hasil
No Pemeriksaan Nilai normal Keterangan
Pemeriksaan
1 CRP Kualitatif Negatif Negatif Normal
2 Golongan B A/B/O/AB Normal
3 darah 30 63-115 Kurang dari
4 GDA 4,32 mg/dL normal
Eritrosit 3,0-6,0 Kurang dari
5 41 juta/cmm normal
6 Hematokrit 13 35-45%
7 Hemoglobin 23,100 13,0-18,0 Normal
Leukosit g/dL Normal
8 324.000 3500- Kurang dari
Trombosit 10000/cmm normal
150000-
450000 Normal

2. Radiologi
Tidak dilakukan pemeriksaan radiologi

3. Lain – lain
-
BALLARD SCORE

SCORE SIGN
SIGN
-1 0 1 2 3 4 5 SCORE

Posture 4

Square
Window

Arm -1
Recoil

Popliteal
Angle
4

5
Scarf
Sign

Heel To
Ear

TOTAL NEUROMUSCULAR SCORE

-1

2
MATTURITY RATING
Gestation by Dates

26 weeks

Birth date Hour

19 jan 19

APGAR 1 min 5 min

5 6

Scoring

Gest. Age by 32 weeks


Maturity

DOWNE SCORE
Skor Skor pada
Pemeriksaan
0 1 2 pasien

Frekuensi < 60/menit 60-80/menit > 80/menit 1


napas

Retraksi Tidak ada Retraksi Retraksi berat 1


retraksi ringan

Sianosis Tidak ada Sianosis Sianosis 0


sianosis hilang dengan menetap
pemberian O₂ walaupun
diberi O₂

Suara napas Suara napas di Suara napas di Tidak ada 1


kedua paru kedua paru suara napas di
baik menurun kedua paru

Merintih Tidak Dapat Dapat 0


merintih didengar didengar
dengan tanpa alat
stetoskop bantu

Total skor 3

< 3: gawat napas ringan

4-5: gawat napas sedang

>6: gawat napas berat

Interpretasi: pasien mengalami gawat napas ringan

L. Terapi
1. Oral
ASI 10 x 5 cc personde

2. Parenteral
Terapi yang diberikan : infus D10 1/5 NS 100 cc/24 jam
Injeksi cinam 2 x 75 mg
Injeksi indexon 3 x 0,25 mg
Injeksi aminophilin 2 x 2 mg
Injeksi aminosteril 20cc/hari
Injeksi gentamicin 1 x 4 mg
3. Lain – lain
-

Lumajang, 29 Januari 2019

Kelompok 1
ANALISA DATA

Tanggal No Data Fokus Problem Etiologi Nama Terang dan


Tanda Tangan
Mahasiswa

29/01/2019 1 DS: - Ketidakefektifan pola Prematuritas ʅ


nafas
DO: ↓ Kelompok 1

Suhu 35,20C, N: 152x/mnt, RR: Perkembangan dinding dada


62x/mnt, pasien terpasang CPAP dan vesikuler paru belum
dengan peep 7 cm, FiO2 35%, sempurna
flow 6, retraksi dada (+),
terdapat otot bantu nafas ↓

Insufisiensi pernafasan

Ketidakefektifan pola nafas

29/01/2019 2 DS: - Hipotermia BBLR < 2500 gram ʅ

DO: ↓ Kelompok 1

Suhu 35,20C, akral teraba dingin Luas permukaan > volume


Berat badan 1000 gram tubuh

Pasien berada dalam inkubator ↓


dengan suhu 320C
Proses trasmisi panas

Hipotermia

29/01/2019 3 DS: - Risiko infeksi Prematuritas ʅ

DO: ↓ Kelompok 1

Bayi lahir pada usia kehamilan Sistem imun belum matur


26 minggu

Pasien mendapatkan terapi
injeksi antibiotik gentamicin 1 x Risiko infeksi
4 mg dan cinam 2 x 75 mg
Leukosit 23100/cmm
CRP kualitatit negatif
Hemoglobin 13 g/dL
Eritrosit 4,32 juta/cmm
29/01/2019 4 DS: - Risiko aspirasi Prematuritas ʅ

DO: BB: 1000 gram, terpasang ↓ Kelompok 1


OGT, reflek hisap lemah
Otot pencernaan belum
sempurna

Kerja sfingter kardioesofagus


belum sempurna

Regurgitasi isi lambung ke


esophagus

Risiko aspirasi
DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN

Tanggal No DIAGNOSA KEPERAWATAN Nama Terang dan


Muncul Tanda Tangan

29/01/2019 1 Ketidakefektifan pola nafas berhubungan ʅ


dengan imaturitas organ pernapasan ditandai
dengan suhu 35,20C, nadi 152x/mnt, RR: Kelompok 1
62x/mnt, pasien terpasang CPAP dengan peep
7 cm, FiO2 35%, flow 6, retraksi dada (+),
terdapat otot bantu nafas

29/01/2019 2 Hipotermia berhubungan dengan luas ʅ


permukaan lebih besar daripada volume tubuh
ditandai dengan suhu 35,20C, akral teraba Kelompok 1
dingin, berat badan 1000 gram, pasien berada
dalam inkubator dengan suhu 320C

29/01/2019 3 Risiko infeksi berhubungan dengan imaturitas ʅ


sistem imun
Kelompok 1

29/01/2019 4 Resiko aspirasi berhubungan dengan reflek ʅ


menelan belum sempurna
Kelompok 1
PERENCANAAN

Diagnosa
TGL/ Keperawatan/
Tujuan & Kriteria Hasil Rencana Tindakan TTD
JAM Masalah
Kolaboratif

29/01/2019 Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam NIC: Airway Management (3140) ʅ
pola nafas pasien menunjukkan hasil:
a. Posisikan pasien untuk Kelompok 1
Status Pernafasan (0415) memaksimalkan ventilasi
b. Monitor respirasi dan status O₂
Tujuan
No. Indikator Awal
1 2 3 4 5 NIC: Oxygen Therapy (3320)

1. Frekuensi pernafasan 2 √ a. Atur peralatan oksigenasi


b. Pertahankan jalan nafas yang paten
2. Irama pernafasan 2 √ c. Monitor aliran oksigen
Penggunaan otot d. Pertahankan posisi pasien
3. 1 √ e. Observasi adanya tanda tanda
bantu pernafasan hipoventilasi
Keterangan: f. Monitor adanya kecemasan pasien
terhadap oksigenasi
6. Keluhan ekstrim g. Lakukan nesting
7. Keluhan berat h. Observasi penggunaan otot bantu
8. Keluhan sedang pernapasan
9. Keluhan ringan
10. Tidak ada keluhan

- Frekuensi pernafasan dalam batas normal (16-24x/menit)


- Irama pernafasan reguler
- Tidak ada penggunaan otot bantu pernafasan

29/01/2019 Hipotermia Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam NIC: Monitor Tanda-Tanda Vital (2160) ʅ
pasien menunjukkan hasil: h. Monitor tekanan darah, nadi, suhu, dan
RR ; Kelompok 1
Tanda-Tanda Vital (0802) i. Monitor frekuensi dan irama
pernafasan ;
Tujuan j. Monitor pola pernafasan abnormal ;
No. Indikator Awal k. Monitor suhu, warna, dan kelembapan
1 2 3 4 5 kulit ;
1. Suhu tubuh 1 √
NIC: Pengaturan Suhu (2157)
a. Monitor suhu minimal tiap 2 jam
2. Tingkat pernafasan 2 √ sekali ;
b. Rencanakan monitoring suhu secara
kontinyu ;
Keterangan: c. Monitor tanda- tanda hipotermi ;
6. Deviasi berat dari kisaran normal d. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi;
7. Deviasi yang cukup besar dari kisaran normal e. Beri selimut untuk mencegah
8. Deviasi sedang dari kisaran normal hilangnya panas tubuh;
9. Deviasi ringan dari kisaran normal f. Monitor suhu inkubator;
10. Tidak ada deviasi dari kisaran normal g. Letakkan pasien pada nest,

- Suhu dalam batas normal: 36,5 – 37,0°C


- Denyut nadi dalam batas normal: 80- 100 kali/ menit
- Pernafasan 16 – 20 kali/menit

29/01/2019 Risiko infeksi Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam NIC: Kontrol infeksi ʅ
pasien menunjukkan hasil:
a. Berikan intake nutrisi sesuai jadwal Kelompok 1
Status imun b. Kaji tanda-tanda infeksi
c. Kolaborasi pemberian antibiotik
Tujuan
No. Indikator Awal
1 2 3 4 5

1. Tanda gejala infeksi 5 √

2. Jumlah leukosit 3 √

- Pasien terbebas dari tanda gejala infeksi: kalor, tumor, rubor,


pallor, fungsiolesa
- Jumlah leukosit dalam batas normal (3500-10000/cmm)

29/01/2019 Resiko aspirasi Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam NIC: Pencegahan aspirasi (3200) ʅ
pasien menunjukkan hasil: a. Pertahankan kepatenan jalan nafas
b. Hindari memberikan cairan atau Kelompok 1
Pencegahan aspirasi (1918) penggunaan zat kental
c. Monitor kondisi OGT
Tujuan d. Beri makanan melalui sonde sesuai
No. Indikator Awal dengan jadwal
1 2 3 4 5
NIC: Stabilisasi dan membuka jalan
Mempertahankan
1. 4 √ nafas (3120)
kebersihan mulut
a. Monitor adanya sesak nafas,
Mempertahankan mengorok
b. Posisikan pasien untuk head up
tubuh posisi tegak
2. 4 √ selama 30 menit setelah selesai
(head up) selama 30 memberikan ASI/susu
menitsetelah makan

Keterangan:

1. Tidak pernah dilakukan


2. Jarang dilakukan
3. Kadang-kadang dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Dilakukan secara konsisten
- Kebersihan mulut baik
- Posisi head up selama 30 menit setelah memberikan asi
TINDAKAN PERAWATAN

Tanggal : 29 Januari 2019 (shift siang)

No Jam Tindakan Nama


Perawat/Mhs
Perawatan

1 13.00 memonitor oksigenasi ʅ

2 13.02 memonitor suhu inkubator ʅ

2 13.30 mengatur cairan infus (45 cc/6 jam) ʅ

4 14.00 memonitor kondisi OGT ʅ

4 14.02 memberikan ASI melalui OGT sebanyak ʅ


5 ml

memposisikan pasien head up


4 14.05 ʅ
memposisikan pasien
4 14.10 ʅ
menyeka dan melakukan oral hygine
3,4 14.30 ʅ
mengkaji adanya benjolan dan
3 14.40 kemerahan ʅ

mengatur nest
1,2 14.45 memonitor tanda-tanda vital ʅ

1,2 15.10 mengobservasi penggunaan otot bantu ʅ

1 15.12 pernapasan ʅ
melakukan auskultasi suara napas

1 15.13 memonitor irama pernapsan ʅ

1 15.14 memonitor suhu, warma, dan kelembapan ʅ


kulit
2 15.15 ʅ
memberikan ASI melalui OGT sebanyak
5 ml
3 16.00 memposisikan pasien head up ʅ

memposisikan pasien

4 16.03 melakukan kolaborasi pemberian ʅ


antibiotik cinam 75 mg melalui IV
4 16.08 ʅ
memonitor suhu
3 16.10 ʅ
memberikan ASI melalui OGT sebanyak
5 ml
2 17.00 memposisikan pasien head up ʅ

3 18.30 memposisikan pasien ʅ

4 18.03 ʅ

4 18.05 ʅ

Tanggal : 29 Januari 2019 (shift malam)

No Jam Tindakan Nama


Perawat/Mhs
Perawatan

1 19.00 memonitor oksigenasi ʅ

2 19.02 memonitor suhu inkubator ʅ

3 19.10 mengganti popok ʅ

3 19.14 mengkaji adanya benjolan dan ʅ


kemerahan

mengatur nest
1,2 19.16 ʅ
memberikan minyak telon
2 19.19 ʅ
memonitor tanda-tanda vital
1,2 19.45 ʅ
1 19.50 mengobservasi penggunaan otot bantu ʅ
pernapasan

melakukan auskultasi suara napas


1 19.51 ʅ
memonitor irama pernapsan
1 19.52 ʅ
memonitor suhu, warma, dan kelembapan
2 19.53 kulit ʅ

mengatur cairan infus (45 cc/6 jam)


2 20.00 memonitor kondisi OGT ʅ

4 21.00 memberikan ASI melalui OGT sebanyak ʅ

3 21.02 5 ml ʅ
memposisikan pasien head up

4 21.05 memposisikan pasien ʅ

4 21.10 memonitor suhu ʅ

2 22.00 melakukan kolaborasi pemberian ʅ


antibiotik cinam 75 mg melalui IV
3 23.00 ʅ
memberikan ASI melalui OGT sebanyak
5 ml

3 23.30 memposisikan pasien head up ʅ

memposisikan pasien

4 23.33 memonitor suhu dan mengatur cairan ʅ


infus(45 cc/6 jam)
4 23.38 ʅ
memberikan ASI melalui OGT sebanyak
2 02.00 ʅ
5 ml

memposisikan pasien head up


3 02.02 ʅ
memposisikan pasien

memonitor TTV
4 02.05 ʅ
memberikan ASI melalui OGT sebanyak
4 02.10 5 ml ʅ

1,2 04.00 memposisikan pasien head up ʅ

3 04.30 memposisikan pasien ʅ

menyeka pasien dan melakukan oral


hygine
4 04.33 ʅ
mengatur nest
4 04.38 ʅ
memberikan ASI melalui OGT sebanyak
3,4 05.00 5 ml ʅ

memposisikan pasien head up


1,2 05.10 memposisikan pasien ʅ

3 06.00 ʅ

4 06.03 ʅ

4 06.08 ʅ

TINDAKAN PERAWATAN
Tanggal : 30 Januari 2019 (shift siang)

No Jam Tindakan Nama


Perawat/Mhs
Perawatan

1 13.00 memonitor oksigenasi ʅ

2 13.02 memonitor suhu inkubator ʅ

2 13.30 mengatur cairan infus (45 cc/6 jam) ʅ

4 14.00 memonitor kondisi OGT ʅ

4 14.02 memberikan ASI melalui OGT sebanyak ʅ


5 ml

memposisikan pasien head up


4 14.05 ʅ
memposisikan pasien
4 14.10 ʅ
menyeka dan melakukan oral hygine
3,4 14.30 ʅ
mengkaji adanya benjolan dan
3 14.40 kemerahan ʅ

mengatur nest
1,2 14.45 memonitor tanda-tanda vital ʅ

1,2 15.10 mengobservasi penggunaan otot bantu ʅ

1 15.12 pernapasan ʅ
melakukan auskultasi suara napas

1 15.13 memonitor irama pernapsan ʅ

1 15.14 memonitor suhu, warma, dan kelembapan ʅ


kulit
2 15.15 ʅ
memberikan ASI melalui OGT sebanyak
5 ml

3 16.00 memposisikan pasien head up ʅ

memposisikan pasien
4 16.03 melakukan kolaborasi pemberian ʅ
antibiotik cinam 75 mg melalui IV
4 16.08 ʅ
memonitor suhu
3 16.10 ʅ
memberikan ASI melalui OGT sebanyak
5 ml
2 17.00 memposisikan pasien head up ʅ

3 18.30 memposisikan pasien ʅ

4 18.03 ʅ

4 18.05 ʅ

Tanggal : 30 Januari 2019 (shift malam)

No Jam Tindakan Nama


Perawat/Mhs
Perawatan

1 19.00 memonitor oksigenasi ʅ

2 19.02 memonitor suhu inkubator ʅ

3 19.10 mengganti popok ʅ

3 19.14 mengkaji adanya benjolan dan ʅ


kemerahan

mengatur nest
1,2 19.16 ʅ
memberikan minyak telon
2 19.19 ʅ
memonitor tanda-tanda vital
1,2 19.45 ʅ
mengobservasi penggunaan otot bantu
1 19.50 pernapasan ʅ
1 19.51 melakukan auskultasi suara napas ʅ

1 19.52 memonitor irama pernapsan ʅ

2 19.53 memonitor suhu, warma, dan kelembapan ʅ


kulit

mengatur cairan infus (45 cc/6 jam)


2 20.00 ʅ
memonitor kondisi OGT
4 21.00 ʅ
memberikan ASI melalui OGT sebanyak
3 21.02 5 ml ʅ

memposisikan pasien head up


4 21.05 memposisikan pasien ʅ

4 21.10 memonitor suhu ʅ

2 22.00 melakukan kolaborasi pemberian ʅ

3 23.00 antibiotik cinam 75 mg melalui IV ʅ


memberikan ASI melalui OGT sebanyak
5 ml
3 23.30 ʅ
memposisikan pasien head up

memposisikan pasien
4 23.33 ʅ
memonitor suhu dan mengatur cairan
4 23.38 infus(45 cc/6 jam) ʅ

2 02.00 memberikan ASI melalui OGT sebanyak ʅ


5 ml

memposisikan pasien head up


3 02.02 ʅ
memposisikan pasien

memonitor TTV
4 02.05 ʅ
memberikan ASI melalui OGT sebanyak
4 02.10 ʅ
5 ml
1,2 04.00 ʅ
3 04.30 memposisikan pasien head up ʅ

memposisikan pasien

4 04.33 menyeka pasien dan melakukan oral ʅ


hygine
4 04.38 ʅ
mengatur nest
3,4 05.00 ʅ
memberikan ASI melalui OGT sebanyak
5 ml
1,2 05.10 memposisikan pasien head up ʅ

3 06.00 memposisikan pasien ʅ

4 06.03 ʅ

4 06.08 ʅ

TINDAKAN PERAWATAN

Tanggal : 31 Januari 2019 (shift siang)

No Jam Tindakan Nama


Perawatan Perawat/Mhs

1 13.00 memonitor oksigenasi ʅ

2 13.02 memonitor suhu inkubator ʅ

2 13.30 mengatur cairan infus (45 cc/6 jam) ʅ

4 14.00 memonitor kondisi OGT ʅ

4 14.02 memberikan ASI melalui OGT sebanyak ʅ


5 ml

memposisikan pasien head up


4 14.05 ʅ
memposisikan pasien
4 14.10 ʅ
menyeka dan melakukan oral hygine
3,4 14.30 ʅ
mengkaji adanya benjolan dan
3 14.40 kemerahan ʅ

mengatur nest
1,2 14.45 memonitor tanda-tanda vital ʅ

1,2 15.10 mengobservasi penggunaan otot bantu ʅ

1 15.12 pernapasan ʅ
melakukan auskultasi suara napas

1 15.13 memonitor irama pernapsan ʅ

1 15.14 memonitor suhu, warma, dan kelembapan ʅ


kulit
2 15.15 ʅ
memberikan ASI melalui OGT sebanyak
5 ml

3 16.00 memposisikan pasien head up ʅ

memposisikan pasien

4 16.03 melakukan kolaborasi pemberian ʅ


antibiotik cinam 75 mg melalui IV
4 16.08 ʅ
3 16.10 memonitor suhu ʅ

memberikan ASI melalui OGT sebanyak


5 ml
2 17.00 ʅ
memposisikan pasien head up
3 18.30 ʅ
memposisikan pasien

4 18.03 ʅ

4 18.05 ʅ

Tanggal : 31 Januari 2019 (shift malam)

No Jam Tindakan Nama


Perawat/Mhs
Perawatan

1 19.00 memonitor oksigenasi ʅ

2 19.02 memonitor suhu inkubator ʅ

3 19.10 mengganti popok ʅ

3 19.14 mengkaji adanya benjolan dan ʅ


kemerahan

mengatur nest
1,2 19.16 ʅ
memberikan minyak telon
2 19.19 ʅ
memonitor tanda-tanda vital
1,2 19.45 ʅ
mengobservasi penggunaan otot bantu
1 19.50 pernapasan ʅ

melakukan auskultasi suara napas


1 19.51 memonitor irama pernapsan ʅ

1 19.52 memonitor suhu, warma, dan kelembapan ʅ


2 19.53 kulit ʅ

mengatur cairan infus (45 cc/6 jam)

2 20.00 memonitor kondisi OGT ʅ

4 21.00 memberikan ASI melalui OGT sebanyak ʅ


5 ml
3 21.02 ʅ
memposisikan pasien head up

memposisikan pasien
4 21.05 ʅ
melakukan kolaborasi pemberian
4 21.10 antibiotik cinam 75 mg melalui IV ʅ

3 23.00 memberikan ASI melalui OGT sebanyak ʅ


5 ml

3 23.30 memposisikan pasien head up ʅ


memposisikan pasien

4 23.33 memonitor suhu dan mengatur cairan ʅ


infus(45 cc/6 jam)
4 23.38 ʅ
memberikan ASI melalui OGT sebanyak
2 02.00 5 ml ʅ

memposisikan pasien head up

3 02.02 memposisikan pasien ʅ

memonitor TTV

4 02.05 memberikan ASI melalui OGT sebanyak ʅ


5 ml
4 02.10 ʅ
memposisikan pasien head up
1,2 04.00 ʅ
memposisikan pasien
3 04.30 ʅ
menyeka pasien dan melakukan oral
hygine
4 04.33 ʅ
4 04.38 mengatur nest ʅ

3,4 05.00 memberikan ASI melalui OGT sebanyak ʅ


5 ml

memposisikan pasien head up


1,2 05.10 ʅ
memposisikan pasien
3 06.00 ʅ

4 06.03 ʅ

4 06.08 ʅ

TINDAKAN PERAWATAN

Tanggal : 01 Februari 2019 (shift siang)

No Jam Tindakan Nama


Perawat/Mhs
Perawatan

1 13.00 memonitor oksigenasi ʅ


2 13.02 memonitor suhu inkubator ʅ

2 13.30 mengatur cairan infus (45 cc/6 jam) ʅ

4 14.00 memonitor kondisi OGT ʅ

3,4 14.30 menyeka dan melakukan oral hygine ʅ

3 14.40 mengkaji adanya benjolan dan ʅ


kemerahan

mengatur nest
1,2 14.45 ʅ
memberikan ASI melalui OGT sebanyak
3 15.00 5 ml ʅ

memposisikan pasien head up


4 15.03 memposisikan pasien ʅ

4 15.08 memonitor tanda-tanda vital ʅ

1,2 15.10 mengobservasi penggunaan otot bantu ʅ

1 15.12 pernapasan ʅ
melakukan auskultasi suara napas

1 15.13 memonitor irama pernapsan ʅ

1 15.14 memonitor suhu, warma, dan kelembapan ʅ


kulit
2 15.15 ʅ
melakukan kolaborasi pemberian
antibiotik cinam 75 mg melalui IV

3 16.00 ʅ
TINDAKAN PERAWATAN

Tanggal : 02 Februari 2019 (shift siang)

No Jam Tindakan Nama


Perawat/Mhs
Perawatan

1 13.00 memonitor oksigenasi ʅ


2 13.02 memonitor suhu inkubator ʅ

2 13.30 mengatur cairan infus (45 cc/6 jam) ʅ

4 14.00 memonitor kondisi OGT ʅ

3,4 14.30 menyeka dan melakukan oral hygine ʅ

3 14.40 mengkaji adanya benjolan dan ʅ


kemerahan

mengatur nest
1,2 14.45 ʅ
memberikan ASI melalui OGT sebanyak
3 15.00 5 ml ʅ

memposisikan pasien head up


4 15.03 memposisikan pasien ʅ

4 15.08 memonitor tanda-tanda vital ʅ

1,2 15.10 mengobservasi penggunaan otot bantu ʅ

1 15.12 pernapasan ʅ
melakukan auskultasi suara napas

1 15.13 memonitor irama pernapsan ʅ

1 15.14 memonitor suhu, warma, dan kelembapan ʅ


kulit
2 15.15 ʅ
melakukan kolaborasi pemberian
antibiotik cinam 75 mg melalui IV

3 16.00 memonitor suhu ʅ

2 17.00 ʅ
TINDAKAN PERAWATAN

Tanggal : 03 Februari 2019 (shift pagi)

No Jam Tindakan Nama


Perawat/Mhs
Perawatan

3 07.00 membersihkan lingkungan pasien ʅ

1 07.30 memonitor oksigenasi ʅ

2 07.32 memonitor suhu inkubator ʅ


3 07.33 mengganti popok ʅ

3 07.45 mengkaji adanya benjolan dan ʅ


kemerahan

mengatur nest
1,2 07.47 ʅ
mengatur cairan infus (45 cc/6 jam)
2 08.00 ʅ
memonitor kondisi OGT
4 09.00 ʅ
memberikan ASI melalui OGT sebanyak
3 09.02 5 ml ʅ

memposisikan pasien head up ʅ

4 09.05 memposisikan pasien ʅ

4 09.10 memonitor tanda-tanda vital ʅ

1,2 11.00 mengobservasi penggunaan otot bantu ʅ

1 11.05 pernapasan ʅ
melakukan auskultasi suara napas

1 11.06 memonitor irama pernapsan ʅ

1 11.07 memonitor suhu, warma, dan kelembapan ʅ


kulit
2 11.08 ʅ
memberikan ASI melalui OGT sebanyak
5 ml

3 12.00 memposisikan pasien head up ʅ

memposisikan pasien

4 12.03 ʅ

4 12.08 ʅ

Tanggal : 03 Februari 2019 (shift siang)


No Jam Tindakan Nama
Perawat/Mhs
Perawatan

1 13.00 memonitor oksigenasi ʅ

2 13.02 memonitor suhu inkubator ʅ

2 13.30 mengatur cairan infus (45 cc/6 jam) ʅ

4 14.00 memonitor kondisi OGT ʅ

3,4 14.30 menyeka dan melakukan oral hygine ʅ

3 14.40 mengkaji adanya benjolan dan ʅ


kemerahan

mengatur nest
1,2 14.45 ʅ
memberikan ASI melalui OGT sebanyak
3 15.00 5 ml ʅ

memposisikan pasien head up


4 15.03 memposisikan pasien ʅ

4 15.08 memonitor tanda-tanda vital ʅ

1,2 15.10 mengobservasi penggunaan otot bantu ʅ

1 15.12 pernapasan ʅ
melakukan auskultasi suara napas

1 15.13 memonitor irama pernapsan ʅ

1 15.14 memonitor suhu, warma, dan kelembapan ʅ


kulit
2 15.15 ʅ
melakukan kolaborasi pemberian
antibiotik cinam 75 mg melalui IV

3 16.00 memonitor suhu ʅ

2 17.00 ʅ
EVALUASI

Hari/ Tanggal: Selasa/ 29 Januari 2019 (shift siang)

Nama
No Diagnosa Evaluasi Perawat/
Mhs

1 Ketidakefektifan Jam: 19.00 WIB ʅ


pola napas
S: - kelompok
1
O:

Suhu 35,20C, N: 152x/mnt, RR: 62x/mnt,


pasien terpasang CPAP dengan peep 7 cm,
FiO2 35%, flow 6, retraksi dada (+), terdapat
otot bantu nafas, irama pernapasan irreguler,
pasien berada pada nest

A: masalah belum teratasi

P: lanjutkan intervensi no 1-10

2 Hipotermia Jam: 19.03 WIB ʅ

S: - kelompok
1
O:

Suhu 35,20C, nadi 152x/mnt, RR 62x/mnt


akral teraba dingin, berat badan 1000 gram,
pasien berada dalam inkubator dengan suhu
320C, irama pernapasan irreguler, warna
kulit tampak kemerahan, pasien
mendapatkan terapi cairan D10 1/5 NS 100
cc/24 jam, pasien memakai pakaian kering
dan berada diatas nest yang kering

A: masalah belum teratasi

P: lanjutkan intervensi no 1-11, tambahkan


intervensi pemberian minyak telon

3 Risiko infeksi Jam: 19.05 WIB ʅ

S: - kelompok
1
O:

Bayi lahir pada usia kehamilan 26 minggu

Pasien mendapatkan terapi injeksi antibiotik


gentamicin 1 x 4 mg dan cinam 2 x 75 mg
Leukosit 23100/cmm
CRP kualitatit negatif
Hemoglobin 13 g/dL
Eritrosit 4,32 juta/cmm
Tidak ada benjolan dan kemerahan pada
pasien, pasien mendapatkan nutrisi ASI
10x5 cc melalui sonde
A: risiko masih ada
P: lanjutkan intervensi no 1-3, tambahkan
intervensi: personal hygine, oral hygine,
ganti popok pasien setelah pasien BAB
4 Risiko aspirasi Jam: 19.08 WIB ʅ

S: - kelompok
1
O: BB: 1000 gram, terpasang OGT, reflek
hisap lemah, pasien telah diberikan ASI
melalui OGT sebanyak 5 cc pada pukul
13.30 dan 16.00

A: risiko masih ada

P: lanjutkan intervensi no 1-6

Hari/ Tanggal: Selasa/ 29 Januari 2019 (shift malam)

Nama
No Diagnosa Evaluasi Perawat/
Mhs

1 Ketidakefektifan Jam: 19.00 WIB ʅ


pola napas
S: - kelompok
1
O:

Suhu 35,80C, N: 146x/mnt, RR: 44x/mnt,


pasien terpasang CPAP dengan peep 7 cm,
FiO2 35%, flow 6, retraksi dada (+), terdapat
otot bantu nafas, irama pernapasan irreguler,
pasien berada pada nest

A: masalah belum teratasi


P: lanjutkan intervensi no 1-10

2 Hipotermia Jam: 19.03 WIB ʅ

S: - kelompok
1
O:

Suhu 35,80C, nadi 146x/mnt, RR 44x/mnt


akral teraba dingin, berat badan 1000 gram,
pasien berada dalam inkubator dengan suhu
320C, irama pernapasan irreguler, warna
kulit tampak kemerahan, pasien
mendapatkan terapi cairan D10 1/5 NS 100
cc/24 jam, pasien memakai pakaian kering
dan berada diatas nest yang kering, pasien
telah dibalur dengan minyak telon

A: masalah belum teratasi

P: lanjutkan intervensi no 1-11

3 Risiko infeksi Jam: 19.05 WIB ʅ

S: - kelompok
1
O:

Pasien telah mendapatkan terapi injeksi


antibiotik cinam 2 x 75 mg
Tidak ada benjolan dan kemerahan pada
pasien, pasien mendapatkan nutrisi ASI
10x5 cc melalui sonde, pasien tampak
bersih, popok diganti setelah pasie BAB
A: risiko masih ada
P: lanjutkan intervensi
4 Risiko aspirasi Jam: 19.08 WIB ʅ

S: - kelompok
1
O: BB: 1000 gram, terpasang OGT, reflek
hisap lemah, pasien telah diberikan ASI
melalui OGT sebanyak 5 cc pada pukul
18.30, 21.00, 23.30, dan 04.30
A: risiko masih ada

P: lanjutkan intervensi no 1-6

EVALUASI

Hari/ Tanggal: Rabu/ 30 Januari 2019 (shift siang)

Nama
No Diagnosa Evaluasi Perawat/
Mhs

1 Ketidakefektifan Jam: 19.00 WIB ʅ


pola napas
S: - kelompok
1
O:

Suhu 36,10C, N: 136x/mnt, RR: 42x/mnt,


pasien terpasang CPAP dengan peep 7 cm,
FiO2 35%, flow 6, retraksi dada (+), terdapat
otot bantu nafas, irama pernapasan irreguler,
pasien berada pada nest

A: masalah belum teratasi

P: lanjutkan intervensi no 1-10

2 Hipotermia Jam: 19.03 WIB ʅ

S: - kelompok
1
O:

Suhu 36,10C, N: 136x/mnt, RR: 42x/mnt


akral teraba hangat, berat badan 1000 gram,
pasien berada dalam inkubator dengan suhu
320C, irama pernapasan irreguler, warna
kulit tampak kemerahan, pasien
mendapatkan terapi cairan D10 1/5 NS 100
cc/24 jam, pasien memakai pakaian kering
dan berada diatas nest yang kering

A: masalah belum teratasi

P: lanjutkan intervensi no 1-11

3 Risiko infeksi Jam: 19.05 WIB ʅ

S: - kelompok
1
O:

Bayi lahir pada usia kehamilan 26 minggu

Pasien mendapatkan terapi injeksi antibiotik


cinam 2 x 75 mg
Tidak ada benjolan dan kemerahan pada
pasien, pasien mendapatkan nutrisi ASI
10x5 cc melalui sonde
A: risiko masih ada
P: lanjutkan intervensi
4 Risiko aspirasi Jam: 19.08 WIB ʅ

S: - kelompok
1
O: BB: 1000 gram, terpasang OGT, reflek
hisap lemah, pasien telah diberikan ASI
melalui OGT sebanyak 5 cc pada pukul
13.30, 16.00, dan 18.30

A: risiko masih ada

P: lanjutkan intervensi no 1-6

Hari/ Tanggal: Rabu/ 30 Januari 2019 (shift malam)

Nama
No Diagnosa Evaluasi Perawat/
Mhs

1 Ketidakefektifan Jam: 19.00 WIB ʅ


pola napas
S: - kelompok
1
O:

Suhu 37,20C, N: 128x/mnt, RR: 51x/mnt,


pasien terpasang CPAP dengan peep 7 cm,
FiO2 35%, flow 6, retraksi dada (+), terdapat
otot bantu nafas, irama pernapasan irreguler,
pasien berada pada nest

A: masalah belum teratasi

P: lanjutkan intervensi no 1-10


2 Hipotermia Jam: 19.03 WIB ʅ

S: - kelompok
1
O:

Suhu 37,20C, N: 128x/mnt, RR: 51x/mnt,


akral teraba hangat, berat badan 1000 gram,
pasien berada dalam inkubator dengan suhu
320C, irama pernapasan irreguler, warna
kulit tampak kemerahan, pasien
mendapatkan terapi cairan D10 1/5 NS 100
cc/24 jam, pasien memakai pakaian kering
dan berada diatas nest yang kering, pasien
telah dibalur dengan minyak telon

A: masalah belum teratasi

P: lanjutkan intervensi no 1-11

3 Risiko infeksi Jam: 19.05 WIB ʅ

S: - kelompok
1
O:

Pasien telah mendapatkan terapi injeksi


antibiotik cinam 2 x 75 mg
Tidak ada benjolan dan kemerahan pada
pasien, pasien mendapatkan nutrisi ASI
10x5 cc melalui sonde, pasien tampak
bersih, popok diganti setelah pasie BAB
A: risiko masih ada
P: lanjutkan intervensi

4 Risiko aspirasi Jam: 19.08 WIB ʅ

S: - kelompok
1
O: BB: 1000 gram, terpasang OGT, reflek
hisap lemah, pasien telah diberikan ASI
melalui OGT sebanyak 5 cc pada pukul
18.30, 21.00, 23.30, dan 04.30

A: risiko masih ada

P: lanjutkan intervensi no 1-6

EVALUASI

Hari/ Tanggal: Kamis/ 31 Januari 2019 (shift siang)

Nama
No Diagnosa Evaluasi Perawat/
Mhs

1 Ketidakefektifan Jam: 19.00 WIB ʅ


pola napas
S: - kelompok
1
O:

Suhu 37,10C, N: 128x/mnt, RR: 48x/mnt,


pasien terpasang CPAP dengan peep 7 cm,
FiO2 35%, flow 6, retraksi dada (+), terdapat
otot bantu nafas, irama pernapasan irreguler,
pasien berada pada nest
A: masalah belum teratasi

P: lanjutkan intervensi no 1-10

2 Hipotermia Jam: 19.03 WIB ʅ

S: - kelompok
1
O:

Suhu 37,10C, N: 128x/mnt, RR: 48x/mn,


akral teraba hangat, berat badan 1100 gram,
pasien berada dalam inkubator dengan suhu
320C, irama pernapasan irreguler, warna
kulit tampak kemerahan, pasien
mendapatkan terapi cairan D10 1/5 NS 100
cc/24 jam, pasien memakai pakaian kering
dan berada diatas nest yang kering

A: masalah belum teratasi

P: lanjutkan intervensi no 1-11

3 Risiko infeksi Jam: 19.05 WIB ʅ

S: - kelompok
1
O:

Bayi lahir pada usia kehamilan 26 minggu

Pasien mendapatkan terapi injeksi antibiotik


gentamicin 1 x 4 mg
Tidak ada benjolan dan kemerahan pada
pasien, pasien mendapatkan nutrisi ASI
10x5 cc melalui sonde
A: risiko masih ada
P: lanjutkan intervensi
4 Risiko aspirasi Jam: 19.08 WIB ʅ

S: - kelompok
1
O: BB: 1100 gram, terpasang OGT, reflek
hisap lemah, pasien telah diberikan ASI
melalui OGT sebanyak 5 cc pada pukul
13.30, 16.00, dan 18.30

A: risiko masih ada

P: lanjutkan intervensi no 1-6

Hari/ Tanggal: Kamis/ 31 Januari 2019 (shift malam)

Nama
No Diagnosa Evaluasi Perawat/
Mhs

1 Ketidakefektifan Jam: 19.00 WIB ʅ


pola napas
S: - kelompok
1
O:

Suhu 360C, N: 124x/mnt, RR: 48x/mnt,


pasien terpasang CPAP dengan peep 7 cm,
FiO2 35%, flow 6, retraksi dada (+), terdapat
otot bantu nafas, irama pernapasan irreguler,
pasien berada pada nest

A: masalah belum teratasi

P: lanjutkan intervensi no 1-10

2 Hipotermia Jam: 19.03 WIB ʅ

S: - kelompok
1
O:

Suhu 360C, N: 124x/mnt, RR: 48x/mnt,


akral teraba hangat, berat badan 1100 gram,
pasien berada dalam inkubator dengan suhu
320C, irama pernapasan irreguler, warna
kulit tampak kemerahan, pasien
mendapatkan terapi cairan D10 1/5 NS 100
cc/24 jam, pasien memakai pakaian kering
dan berada diatas nest yang kering, pasien
telah dibalur dengan minyak telon

A: masalah belum teratasi

P: lanjutkan intervensi no 1-11

3 Risiko infeksi Jam: 19.05 WIB ʅ

S: - kelompok
1
O:

Pasien telah mendapatkan terapi injeksi


antibiotik cinam 2 x 75 mg
Tidak ada benjolan dan kemerahan pada
pasien, pasien mendapatkan nutrisi ASI
10x5 cc melalui sonde, pasien tampak
bersih, popok diganti setelah pasie BAB
A: risiko masih ada
P: lanjutkan intervensi

4 Risiko aspirasi Jam: 19.08 WIB ʅ

S: - kelompok
1
O: BB: 1100 gram, terpasang OGT, reflek
hisap lemah, pasien telah diberikan ASI
melalui OGT sebanyak 5 cc pada pukul
18.30, 21.00, 23.30, dan 04.30

A: risiko masih ada

P: lanjutkan intervensi no 1-6


EVALUASI

Hari/ Tanggal: Jumat/ 01 Februari 2019 (shift siang)

Nama
No Diagnosa Evaluasi Perawat/
Mhs

1 Ketidakefektifan Jam: 19.00 WIB ʅ


pola napas
S: - kelompok
1
O:

Suhu 36,40C, N: 128x/mnt, RR: 32x/mnt,


pasien terpasang CPAP modifikasi, retraksi
dada (+), terdapat otot bantu nafas, irama
pernapasan irreguler, pasien berada pada
nest

A: masalah belum teratasi


P: lanjutkan intervensi no 1-10

2 Hipotermia Jam: 19.03 WIB ʅ

S: - kelompok
1
O:

Suhu 36,40C, N: 128x/mnt, RR: 32x/mnt,


akral teraba hangat, berat badan 1100 gram,
pasien berada dalam inkubator dengan suhu
320C, irama pernapasan irreguler, warna
kulit tampak kemerahan, pasien
mendapatkan terapi cairan D10 1/5 NS 100
cc/24 jam, pasien memakai pakaian kering
dan berada diatas nest yang kering

A: masalah belum teratasi

P: lanjutkan intervensi no 1-11

3 Risiko infeksi Jam: 19.05 WIB ʅ

S: - kelompok
1
O:

Bayi lahir pada usia kehamilan 26 minggu

Pasien mendapatkan terapi injeksi antibiotik


cinam 2 x 75 mg
Tidak ada benjolan dan kemerahan pada
pasien, pasien mendapatkan nutrisi ASI 8x5
cc melalui sonde
A: risiko masih ada
P: lanjutkan intervensi

4 Risiko aspirasi Jam: 19.08 WIB ʅ

S: - kelompok
O: BB: 1100 gram, terpasang OGT, reflek 1
hisap lemah, pasien telah diberikan ASI
melalui OGT sebanyak 5 cc pada pukul
15.00 dan 18.00

A: risiko masih ada

P: lanjutkan intervensi no 1-6


EVALUASI

Hari/ Tanggal: Sabtu/ 02 Februari 2019 (shift siang)

Nama
No Diagnosa Evaluasi Perawat/
Mhs

1 Ketidakefektifan Jam: 19.00 WIB ʅ


pola napas
S: - kelompok
1
O:

Suhu 37,10C, N: 88x/mnt, RR: 48x/mnt,


pasien terpasang CPAP modifikasi, retraksi
dada (+), terdapat otot bantu nafas, irama
pernapasan irreguler, pasien berada pada
nest

A: masalah belum teratasi


P: lanjutkan intervensi no 1-10

2 Hipotermia Jam: 19.03 WIB ʅ

S: - kelompok
1
O:

Suhu 37,10C, N: 88x/mnt, RR: 48x/mnt ,


akral teraba hangat, berat badan 1000 gram,
pasien berada dalam inkubator dengan suhu
320C, irama pernapasan irreguler, warna
kulit tampak kemerahan, pasien
mendapatkan terapi cairan D10 1/5 NS 100
cc/24 jam, pasien memakai pakaian kering
dan berada diatas nest yang kering

A: masalah belum teratasi

P: lanjutkan intervensi no 1-11

3 Risiko infeksi Jam: 19.05 WIB ʅ

S: - kelompok
1
O:

Bayi lahir pada usia kehamilan 26 minggu

Pasien mendapatkan terapi injeksi antibiotik


gentamicin 1 x 4 mg dan cinam 2 x 75 mg
Tidak ada benjolan dan kemerahan pada
pasien, pasien mendapatkan nutrisi ASI 8x5
cc melalui sonde
A: risiko masih ada
P: lanjutkan intervensi

4 Risiko aspirasi Jam: 19.08 WIB ʅ

S: - kelompok
O: BB: 1000 gram, terpasang OGT, reflek 1
hisap lemah, pasien telah diberikan ASI
melalui OGT sebanyak 5 cc pada pukul
15.00 dan 18.00

A: risiko masih ada

P: lanjutkan intervensi no 1-6

EVALUASI

Hari/ Tanggal: Minggu/ 03 Februari 2019 (shift pagi)

Nama
No Diagnosa Evaluasi Perawat/
Mhs

1 Ketidakefektifan Jam: 13.00 WIB ʅ


pola napas
S: - kelompok
1
O:

Suhu 35,80C, N: 88x/mnt, RR: 36x/mnt,


pasien terpasang CPAP modifikasi, retraksi
dada (+), terdapat otot bantu nafas, irama
pernapasan irreguler, pasien berada pada
nest

A: masalah belum teratasi


P: lanjutkan intervensi no 1-10

2 Hipotermia Jam: 13.03 WIB ʅ

S: - kelompok
1
O:

Suhu 35,80C, N: 88x/mnt, RR: 36x/mnt


akral teraba dingin, berat badan 1000 gram,
pasien berada dalam inkubator dengan suhu
320C, irama pernapasan irreguler, warna
kulit tampak kemerahan, pasien
mendapatkan terapi cairan D10 1/5 NS 100
cc/24 jam, pasien memakai pakaian kering
dan berada diatas nest yang kering

A: masalah belum teratasi

P: lanjutkan intervensi no 1-11

3 Risiko infeksi Jam: 13.05 WIB ʅ

S: - kelompok
1
O:

Bayi lahir pada usia kehamilan 26 minggu

Pasien mendapatkan terapi injeksi antibiotik


gentamicin 1 x 4 mg dan cinam 2 x 75 mg
Tidak ada benjolan dan kemerahan pada
pasien, pasien mendapatkan nutrisi ASI 8x5
cc melalui sonde
A: risiko masih ada
P: lanjutkan intervensi
4 Risiko aspirasi Jam: 13.08 WIB ʅ

S: - kelompok
1
O: BB: 1000 gram, terpasang OGT, reflek
hisap lemah, pasien telah diberikan ASI
melalui OGT sebanyak 5 cc pada pukul
09.00 dan 12.00
A: risiko masih ada

P: lanjutkan intervensi no 1-6

Hari/ Tanggal: Minggu/ 03 Februari 2019 (shift pagi)

Nama
No Diagnosa Evaluasi Perawat/
Mhs

1 Ketidakefektifan Jam: 19.00 WIB ʅ


pola napas
S: - kelompok
1
O:

Suhu 36,40C, N: 128x/mnt, RR: 32x/mnt,


pasien terpasang CPAP modifikasi, retraksi
dada (+), terdapat otot bantu nafas, irama
pernapasan irreguler, pasien berada pada
nest

A: masalah belum teratasi

P: lanjutkan intervensi no 1-10

2 Hipotermia Jam: 19.03 WIB ʅ

S: - kelompok
1
O:

Suhu 36,40C, N: 128x/mnt, RR: 32x/mnt,


akral teraba hangat, berat badan 1000 gram,
pasien berada dalam inkubator dengan suhu
320C, irama pernapasan irreguler, warna
kulit tampak kemerahan, pasien
mendapatkan terapi cairan D10 1/5 NS 100
cc/24 jam, pasien memakai pakaian kering
dan berada diatas nest yang kering

A: masalah belum teratasi


P: lanjutkan intervensi no 1-11

3 Risiko infeksi Jam: 19.05 WIB ʅ

S: - kelompok
1
O:

Bayi lahir pada usia kehamilan 26 minggu

Pasien mendapatkan terapi injeksi antibiotik


cinam 2 x 75 mg
Tidak ada benjolan dan kemerahan pada
pasien, pasien mendapatkan nutrisi ASI 8x5
cc melalui sonde
A: risiko masih ada
P: lanjutkan intervensi

4 Risiko aspirasi Jam: 19.08 WIB ʅ

S: - kelompok
1
O: BB: 1000 gram, terpasang OGT, reflek
hisap lemah, pasien telah diberikan ASI
melalui OGT sebanyak 5 cc pada pukul
15.00 dan 18.00

A: risiko masih ada

P: lanjutkan intervensi no 1-6