Anda di halaman 1dari 3

Analisis data

Pada pengenceran pertama (10-1) didapatkan hasil jumlah koloni sebanyak 83, dengan
angka lempeng total sebanyak 8,3x101. Pada pengenceran kedua (10-2 ) didapatkan hasil
jumlah koloni sebanyak 308, dengan angka lempeng total sebanyak 3,1x104 hal ini
menunjukkan bahwa hasil angka lempeng total TBUD (terlalu banyak untuk dihitung). Pada
pengenceran ketiga (10-3) didapatkan hasil jumlah koloni sebanyak 257, dengan angka
lempeng total sebanyak 2,6x104. Pada pengenceran keempat (10-4) didapatkan hasil jumlah
koloni sebanyak 507, dengan angka lempeng total sebanyak 5,1x105 hal ini menunjukkan
bahwa hasil angka lempeng total TBUD (terlalu banyak untuk dihitung). Pada pengenceran
kelima (10-5) didapatkan hasil jumlah koloni sebanyak 130, dengan angka lempeng total
sebanyak 1,3x106. Pada pengenceran keenam (10-6) didapatkan hasil jumlah koloni sebanyak
195, dengan angka lempeng total sebanyak 2,0 x108.

Dari hasil tersebut diambil hasil angka lempeng total yang paling besar dan paling
kecil. Dari perbandingan keduanya diperoleh hasil 2,4 x106. Berdasarkan perbandingan
tersebut mendapatkan hasil lebih dari 2 maka diambil hasil yang terkecil yaitu 8,3x101.

Pembahasan

Pangan merupakan kebutuhan yang paling mendasar bagi manusia, sehingga


ketersediaan pangan perlu mendapat perhatian yang serius baik kuantitas maupun
kualitasnya. Perhatian pemerintah terhadap ketersediaan pangan diimplementasikan melalui
program ketahanan pangan, agar masyarakat memperoleh pangan dalam jumlah yang cukup,
aman, bergizi, sehat, dan halal untuk dikonsumsi (Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat,
2004). Sifat kimia, biologis, dan fisik bahan pangan sangat memungkinkan berbagai macam
microorganism dapat tumbuh dengan baik dan pada bahan pangan yang biasanya bersifat
sangat spesifik dan sangat tergantung jenis bahan serta kondisi tertentu dari penyimpanannya
(Pratiwi&Anjarsari, 2002). Adanya mikroorganisme yang tumbuh di suatu bahan pangan
sangat berpengaruh pada kualitas produknya. Minuman kemasan dalam bentuk apapun
masih sangat rentan terkena bakteri karena kita tidak mengetahui secara langsung proses
produksinya. Pertama-tama kita melakukan pengenceran pada beberapa kosnsentrasi.

Masing-masing hasil tingkat pengenceran yaitu 10-1 , 10-2 , 10-3 , 10-4 , 10-5 , 10-6
diambil 1 ml untuk dipercikan diatas permukaan medium lempeng. Setelah cawan petri
ditutup, cawan petri diputar-putar sehingga percikan sampel merata pada permukaan medium
lempeng. Setelah rata sampel biakan tersebut kemudian diinkubasikan pada suhu 37º C, dan
ditunggu selama 1 x 24 jam. Setelah 24 jam sampel diamati dan dilakukan perhitungan
Angka Lempeng Total koloni bakteri dengan menggunakan colony counter.

Dari hasil tersebut diambil hasil angka lempeng total yang paling besar dan paling
kecil. Dari perbandingan keduanya diperoleh hasil 2,4 x106. Berdasarkan perbandingan
tersebut mendapatkan hasil lebih dari 2 maka diambil hasil yang terkecil yaitu 8,3x101.

Untuk menentukan layak atau tidak layaknya suatu bahan makanan untuk dikonsumsi,
maka harus dicocokkan dengan ketentuan Badan Pengawas Obat dan Makanan atau Badan
POM. Pada tabel ketentuan dari Badan POM dapat dilihat batas minimal koloni yang
digunakan untuk menentukan kelayakan minuman dikonsumsi. Sunkist yang digunakan
sebagai sampel penelitian termasuk dalam ketentuan bahan minuman, yaitu “golongan
minuman sari buah dan sari sayuran). Golongan ini memiliki batas maksimal jumlah koloni
1 x 104 cfu/g. Berdasarkan hasil hitungan ALT koloni di dapatkan angka 8,3 x 101 cfu/g atau
kurang dari batas maksimal yang ditentukan oleh Badan POM. Dengan kata lain dapat
dikatakan bahwa minuman sunkist yang dibeli dari supermarket layak untuk dikonsumsi.

Makanan yang tidak layak konsumsi merupakan makanan yang tidak memenuhi
standar mutu pangan yang telah ditentukan. Dalam Undang-Undang Pangan Tahun 1996
dijelaskan bahwa standar mutu pangan adalah spesifikasi atau persyaratan teknis yang
dilakukan tentang mutu pangan, misalnya, dari segi bentuk, warna, atau komposisi yang
disusun berdasarkan kriteria tertentu yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi, serta aspek lain yang terkait. Standar mutu pangan tersebut mencakup baik
pangan olahan, maupun pangan yang tidak diolah. Dalam pengertian yang lebih luas, standar
yang berlaku bagi pangan mencakup berbagai persyaratan keamanan pangan, gizi, mutu, dan
persyaratan lain dalam rangka menciptakan perdagangan pangan yang jujur, misalnya
persyaratan tentang bahan olahan dan pemasaran

Daftar rujukan

Badan Pengawas Obat dan Makanan(BPOM). 2009. Penetapan Batas Maksimum Cemaran
Mikroba dan Kimia dalam Makanan. Indonesia: Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat. 2004. Laporan Tahunan. Bandung: Dinas Peternakan
Provinsi Jawa Barat.
Pratiwi, R.,& Anjarsari. 2002. Deteksi Ergosterol sebagai Indikator Kontaminasi Bakteri.
Jurnal Teknologi dan Industri Pangan. 13 (3), 254.