Anda di halaman 1dari 42

A.

Summary stabilisasi tanah dengan semen

Tujuan tata cara ini adalah untuk mendapatkan komposisi dan mutu stabilisasi
tanah dengan semen sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta mencegah
kegagalan dalam pelaksanaan di lapangan dalam pekerjaan konstruksi.

Persyaratan bahan dalam stabilitas tanah dengan semen, yaitu:

 Tanah

a. Semua jenis tanah cocok distabilisasi dengan semen terutama tanah yang
berbutir yaitu :
 tanah laterit atau lateritis
 tanah kepasiran
 sirtu
b. Perencanaan campuran harus disesuaikan dengan variabilitas material di lokasi
pelaksanaan.

 Semen

a. Semen yang digunakan untuk stabilisasi umumnya adalah semen portland tipe
I.
b. Harus dilakukan pengujian waktu ikat awal dari semen sesuai dengan peraturan
yang berlaku untuk pengujian

 Dilakukan ketika stabilisasi secara mekanis belum menghasilkan daya


dukung yang mampu menerima beban tanpa terjadi keruntuhan.

 Teknis pelaksanaanya dengan menghampar loose soil, mencampurnya


dengan semen (using pulvermixer), diberi air lalu dipadatkan.

 Sering diaplikasikan pada tanah berpasir

3. Cement Improved Silt-Clay Mix. Penambahan kadar semen dilakukan secara


bertahap dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan dengan tipe (2) untuk
mengurangi sifat kembang susut tanah dan meningkatkan daya dukung tanah
sesuai dengan kadar air yang ada di lapangan.

Apa itu Semen?

5. Cement-Treated Soil Pastes and Mortars. Tipe ini digunakan untuk kondisi
tanah dengan kadar air yang sangat tinggi dengan cara menginjeksi campuran
tanah – semen ke dalam tanah sebagai perkuatan. Pada umumnya ditambahkan
beberapa bahan kimia pembantu

STABILISASI TANAH MENGGUNAKAN SEMEN


(Perbaikan Tanah)
Kelompok E:
1. Debbie Maharani
2. Melly Nugraheni
3. Mutiara Prestika
4. Widi Tejakusuma
5. Frans Hasiholan
6. Nawawi
7. Yuda Ariza Ferdian
a). absorbsi air dan reaksi pertukaran ion
Bila Semen Portland ditambahkan pada tanah, ion kalsium Ca+++ dilepaskan
melalui proses hidrolisa dan pertukaran ion berlanjut pada permukaan partikel-
partikel lempung. Dengan reaksi ini partikel-partikel lempung menggumpal
sehingga mengakibatkan konsistensi tanah menjadi lebih baik.
1. Semen Portland Putih

2. Semen Portland Pozolan

3. Semen Portland

4. Semen Portland Campur

5. Semen Mansonry

6. Semen Portland Komposit

c). Reaksi pozolan


Dengan berlalunya waktu, maka silika (SiO2) dan alumina (Al2O3) yang
terkandung dalam tanah lempung dengan kandungan mineral reaktif, akan
bereaksi dengan kapur dan membentuk kalsium silikat hidrat seperti: tobermorit,
kalsium aluminat hidrat 4CaO.Al2O3.12H2O dan gehlenit hidrat
2CaO.Al2O3.SiO2.6H2O. Pembentukan senyawa-senyawa kimia ini berlangsung
terus-menerus untuk waktu yang lama sehingga berperilaku sebagai pengikat
(binder), dan menyebabkan tanah menjadi keras serta tidak mudah rapuh
(durable).
TATA CARA PEMBUATAN RENCANA STABILISASI TANAH DENGAN
SEMEN PORTLAND (2/2)
Jenis semen yang biasa digunakan adalah Semen Portland tipe I, tipe yang paling
umum digunakan.

Masalah yang dihadapi dalam penggunaan semen tipe ini adalah pada saat
digunakan pada tanah yang mengandung kadar air serta bahan organik, sulfat dan
garam-garaman dalam kadar yang tinggi. Kendala lain dari penggunaan semen
tipe ini adalah penyerapan air untuk hidrasi semen dan reaksi awal Ettringgite
relatif kecil yaitu 28% dari berat semen serta dapat terjadi keretakan.

Penambahan semen, akan meningkatkan daya dukung tanah dan memperbaiki


daya tahan tanah terhadap air (sweeling rendah) sehingga durabilitasnya
meningkat.

Kandungan semen yang tinggi, juga tidak akan berdampak baik. Karena
berpengaruh terhadap Kekakuan campuran (cracking).

Stabilisasi tanah dengan semen lebih cocok untuk jenis tanah tertentu yaitu tanah
kepasiran atau batu kerikil.

Pemeriksaan ketebalan, sebagai berikut :


1. ketebalan hasil stabilisasi tanah dengan semen diperiksa pada setiap jarak 50
meter;
2. tebal pada stabilisasi dengan semen yang sudah selesai, tidak boleh kurang dari
1,25 cm dari tebal rencana.
Ketentuan perawatan dan perlindungan, sebagai berikut :
1. setelah pemadatan lapangan stabilisasi tanah dengan semen harus ditutup untuk
menghindari perubahan kadar air selama 4 hari supaya dapat berhidrasi secara
sempurna;
2. selama masa perawatan, permukaan stabilisasi tanah dengan semen tidak boleh
dilewati lalu lintas atau alat-alat berat
STABILISASI TANAH MENGGUNAKAN SEMEN
Ketentuan pemadatan, sebagai berikut :
1. tebal padat setiap lapisan adalah 15 – 20 cm; jumlah lintasan ditentukan
berdasarkan percobaan alat; pemadatan harus mencapai 95% kepadatan
laboratorium;
2. bila akan memadatkan bagian berikutnya, bagian tepi yang akan disambung dan
sudah dipadatkan harus dipotong tegak lurus dan roda pemadat tidak menggilas
bagian yang sudah dipadatkan terlebih dahulu sewaktu menggilas bagian yang
baru;
3. selama melaksanakan pekerjaan stabilisasi tanah dengan semen, sebaiknya
dilakukan
4. sebelum waktu ikat awal terlampaui setelah selesai pencampuran tanah dengan
semen.
4. Plastic Soil-Cement. Tipe stabilisasi ini digunakan untuk tanah dengan kadar air
yang lebih tinggi misalnya untuk aliran irigasi, parit dan bangunan pengairan
lainnya. Hasil stabilisasi dapat memberikan perlindungan terhadap tanah dari
erosi.

Persiapan tanah di lapangan, harus memenuhi ketentuan berikut :


1) tanah dasar yang akan distabilisasi harus bebas dari bahan organis dan lainnya
yang tidak dikehendaki;
2) kadar air tanah harus tetap pada kadar air optimumnya;
3) tanah harus gembur 80% lolos saringan ASTM No. 4;
4) tebal padat harus memperhitungkan keofisien pemadatan waktu pekerjaan
pemadatan.
Stabilisasi tanah menggunakan semen

"STABILISASI DENGAN SEMEN"


Stabilisasi tanah adalah upaya rekayasa untuk memperbaiki mutu tanah yang tidak
baik dan meningkatkan mutu dari tanah yang sebetulnya sudah tergolong baik.
Tujuan dari stabilisasi tanah yaitu untuk meningkatkan kemampuan daya dukung
tanah dalam menahan serta meningkatkan stabilitas tanah.

semen diartikan sebagai bahan perekat yang memiliki sifat mampu mengikat
bahan – bahan padat menjadi satu kesatuan yang kompak dan kuat. (Bonardo
Pangaribuan, Holcim)

Bahan dasar semen pada umumnya ada 3 macam yaitu klinker/terak (70% hingga
95%, merupakan hasil olahan pembakaran batu kapur, pasir silika, pasir besi dan
lempung), gypsum (sekitar 5%, sebagai zat pelambat pengerasan) dan material
ketiga seperti batu kapur, pozzolan, abu terbang, dan lain-lain.

Jenis Semen menurut Standarisasi Nasional Indonesia (SNI) antara lain :

Klasifikasi stabilisasi tanah dengan semen ini kedalam 5 tipe (Kezdi, 1979 : 108)
yaitu :

Tahapan proses kimia pada stabilisasi tanah menggunakan semen

APA ITU STABILISASI TANAH?

TATA CARA PEMBUATAN RENCANA STABILISASI TANAH DENGAN


SEMEN PORTLAND (1/2)
Diartikan sebagai pencampuran antara tanah yang telah dihancurkan, semen dan
air, yang kemudian dipadatkan sehingga menghasilkan suatu material baru disebut
Tanah – Semen dimana kekuatan, karakteristik deformasi, daya tahan terhadap air,
cuaca dan sebagainya dapat disesuikan dengan kebutuhan untuk perkerasan jalan,
pondasi bagunan dan jalan, aliran sungai dan lain-lain (Kezdi, 1979 : 108)

b). reaksi pembentukan kalsium silikat dan kalsium aluminat


Contoh-contoh umum hidrasi adalah sebagai berikut:
2(3CaO.SiO2) + 6H2O 3CaO.2SiO2. 3H2+3Ca(OH)2
2(2CaO.SiO2) + 4H2O 3CaO.2SiO2. 3H2O+ Ca(OH)2
Dari reaksi-reaksi kimia tersebut di atas, maka reaksi utama yang berkaitan
dengan kekuatan ialah hidrasi dari A-lit (3CaO. SiO2) dan B-lit (2CaO.SiO2),
sehingga membentuk kalsium silikat dan kalsium aluminat yang mengakibatkan
kekuatan tanah meningkat.
Pengendalian mutu terdiri dari pengendalian mutu persiapan tanah dan
pengendalian mutu
stabilisasi tanah dengan semen, yang meliputi :
1. pemeriksaan kerataan;
2. pemeriksaan penggemburan;
3. pemeriksaan pencampuran;
4. pemeriksaan kepadatan;
5. pemeriksaan ketebalan;
6. perawatan.
SEKIAN DAN TERIMA KASIH :)
1. Soil-Cement. Tipe stabilisasi tanah-semen ini merupakan tipe yang umum,
dimana pencampuran tanah dan semen biasa digunakan untuk pondasi bangunan,
perlindungan tanah terhadap erosi danpembekuan tanah.

Stabilisasi Tanah Menggunakan Semen


Percobaan lapangan harus memenuhi ketentuan berikut :
1. percobaan pencampuran minimal sepanjang 200 m
2. homogenitas campuran di lapangan sangat tergantung dari faktor efisiensi (FE)
dari alat pencampur yang digunakan
3. kadar semen yang diperlukan di lapangan ditentukan dari kuat tekan bebas
4. pencampuran dan penghamparan secara merata dengan cara manual atau
dengan alat penyebar mekanik

2. Cement Improved Granuler-Soil Mix. Stablisasi tipe ini digunakan untuk


mengurangi sifat kembang susut dan sifat plastisitas tanah yang tinggi sehingga
dapat meningkatkan daya dukung tanah dengan jalan menambah sedikit kadar
semen sebesar yang diperlukan. Pada umumnya digunakan untuk perlindungan
tanah terhadap erosi dan pembekuan tanah.

Sumber : https://prezi.com/5ejlhxf2-ypr/stabilisasi-tanah-menggunakan-semen/

Stabilisasi tanah dengan semen


Stabilisasi Tanah Dengan Semen
Stabilisasi tanah dengan semen diartikan sebagai pencampuran antara tanah yang telah
dihancurkan, semen dan air, yang kemudian dipadatkan sehingga menghasilkan suatu
material baru disebut Tanah – Semen dimana kekuatan, karakteristik deformasi, daya
tahan terhadap air, cuaca dan sebagainya dapat disesuikan dengan kebutuhan untuk
perkerasan jalan, pondasi bagunan dan jalan, aliran sungai dan lain-lain (Kezdi, 1979 :
108)

Proses kimia pada stabilisasi tanah dengan Semen


Tahapan proses kimia pada stabilisasi tanah menggunakan semen adalah sebagai
berikut:
a. Absorbsi air dan reaksi pertukaran ion;
Bila Semen Portland ditambahkan pada tanah, ion kalsium Ca ++ dilepaskan melalui
proses hidrolisa dan pertukaran ion berlanjut pada permukaan partikel-partikel lempung,
Butiran lempung dalam kandungan tanah berbentuk halus dan bermuatan negatif. Ion
positif seperti ion hidrogen (H +), ion sodium (Na+), ion kalsium (K+), serta air yang
berpolarisasi, Dari reaksi-reaksi kimia tersebut di atas, maka reaksi utama yang berkaitan
dengan kekuatan ialah hidrasi dari A-lit (3CaO. SiO2) dan B-lit (2CaO.SiO2), sehingga
membentuk kalsium silikat dan kalsium aluminat yang mengakibatkan kekuatan tanah
meningkat.
Reaksi pozolan; semuanya melekat pada permukaan butiran lempung. Dengan reaksi ini
partikel-partikel lempung menggumpal sehingga mengakibatkan konsistensi tanah
menjadi lebih baik.
b. Reaksi pembentukan kalsium silikat dan kalsium aluminat;
Secara umum hidrasi adalah sebagai berikut:
2(3CaO.SiO2) + 6H2O 3CaO.2SiO2 . 3H2O+3Ca(OH)2
2(2CaO.SiO2) + 4H2O 3CaO.2SiO2 . 3H2O+ Ca(OH)2
Reaksi antara silika (SiO2) dan alumina (AL2O3) halus yang terkandung dalam tanah
lempung dengan kandungan mineral reaktif, sehingga dapat bereaksi dengan kapur dan
air. Hasil reaksi adalah terbentuknya kalsium silikat hidrat seperti: tobermorit, kalsium
aluminat hidrat 4CaO.Al2O3.12H2O dan gehlenit hidrat 2CaO.Al2O3.SiO2.6H2O yang
tidak larut dalam air. Pembentukan senyawa-senyawa ini berlangsung lambat dan
menyebabkan tanah menjadi lebih keras, lebih padat dan lebih stabil.
Jadi semen yang umum digunakan untuk stabilisai tanah dengan bahan semen
adalah ordinary portland cement atau dikenal sebagai semen tipe I.
Bahan Renolith
Renolith merupakan bahan cair yang berfungsi memperbaiki kondisi tanah dasar. Bahan
renolith yang penggunaannya dibantu dengan semen. Renolith akan meningkatkan
elastisitas, meningkatkan kekuatan tanah, menutupi pori-pori tanah sehingga tanah
menjadi lebih kedap air. Tanah yang bisa diperbaiki secara optimal adalah tanah yang
memiliki CBR minimal 6%.
Spesifikasi umum untuk Campuran renolith dalam Semen-Tanah
Untuk meningkatkan kinerja dalam pelaksanaan proses stabilisasi semen untuk
konstruksi dan untuk mengurangi kemungkinan kegagalan setiap stabilisasi semen
karena penyusutan dari semen – tanah, maka perlu tentang pengaturan secara benar
apabila dimasukkannya renolith dimasukkan dalam campuran semen – tanah.
Tabel. 3 Desain campuran Semen - Renolith untuk Berbagai Jenis Tanah
AASHTO ASTM Typical Typical Typical
soil classification Soil percentage percentage percentage of
classification
GW, GP, of cement of Renolit OMC
A-1-a GM, SW, 3-5 5 6%
SP, SM
GM, GP,
A-1-b 5-8 5 6%
SM,SP
GM, GC,
A-2 5-9 5-7 10% - 15%
SM, SC
A-3 SP 7-11 10 10%
A-4 CL, ML 7-12 10 12%
A-5 ML,MH,CH 10-13 10-12 12%
A-6 CL,CH 10-15 10-12 10% - 12%
A-7 MH, CH 10-16 10-12 10% - 12%
***OMC = Optimum Moisture Content /Kadar air optimun

Metode Penelitian
Metode penulisan yang digunakan yaitu dengan melakukan riset experimental kemudian
ditunjang dengan berbagai literatur yang erat hubungannya dengan pokok masalah.
Pengujian dilakukan dilaboratorium Mekanika Tanah Jurusan Teknik Sipil
Universitas Hasnuddin. Beberapa pengujian yang akan dilakukan :
1. Pengujian sifat fisik (kadar air, berat jenis, batas konsistensi dan analisis
granuler).
2. Pengujian sifat mekanik tanah (Kekuatan Tekan Bebas, permeabiliy , Proktor
standar, Swelling dan CBR rendaman).

Kombinasi Campuran
Dalam penelitian ini sampel uji terdiri dari masing-masing material asli dan campuran
yang dibuat berdasarkan variasi penambahan semen dan Renolith sebagai bahan
renolithnya yang jumlah penambahannya berdasarkan prosentase perbandingan berat
semen dengan tanah lempung dan perbandingan berat renolith dengan semen, Lama
waktu pemeraman ditentukan yaitu 0 dan 4 hari yang kemudian sampel berdasarkan
variasi penambahan renolith dan lama waktu pemeraman dibuat 2 sampel yang sama.
Dari kombinasi campuran pada ketiga jenis, tanah yang ada akan kami diperoleh
pengaruh renolith dan semen terhadap perbaikan tanah dasar .
Pengujian Sampel
Tentukan indeks propertis tanah. Sifat-sifat indeks ini diperlukan untuk mengklasifikasikan
tanah dalam menentukan jenis bahan stabilisasi dengan serbuk pengikat yang sesuai
dan menentukan perkiraan awal jumlah kadar bahan serbuk pengikat yang perlu
ditambahkan ke dalam tanah yang akan distabilisasi. Pengujian indeks ini adalah sebagai
berikut: Batas cair ( LL), sesuai dengan SNI 03-1967-1990; Batas plastis dan indeks
plastisitas sesuai dengan SNI 03-1966-1990; Berat jenis tanah sesuai dengan SNI 03-
1964-2008/ASTM D854-88(72)Kadar air sesuai dengan ASTM D 2216-(71) Analisa
saringan sesuai dengan SNI 03-1968-1990 Analisis hidrometer, sesuai dengan SNI 03-
3423-1994
Pengujian Sampel
Tentukan indeks propertis tanah. Sifat-sifat indeks ini diperlukan untuk mengklasifikasikan
tanah dalam menentukan jenis bahan stabilisasi dengan serbuk pengikat yang sesuai
dan menentukan perkiraan awal jumlah kadar bahan serbuk pengikat yang perlu
ditambahkan ke dalam tanah yang akan distabilisasi. Pengujian indeks ini adalah sebagai
berikut: Batas cair ( LL), sesuai dengan SNI 03-1967-1990; Batas plastis dan indeks
plastisitas sesuai dengan SNI 03-1966-1990; Berat jenis tanah sesuai dengan SNI 03-
1964-2008/ASTM D854-88(72)Kadar air sesuai dengan ASTM D 2216-(71) Analisa
saringan sesuai dengan SNI 03-1968-1990 Analisis hidrometer, sesuai dengan SNI 03-
3423-1994
a)Penyiapan benda uji;
1) Siapkan contoh tanah yang kering udara dengan cara digemburkan. Apabila contoh
tanah dalam kondisi basah, pengeringan dapat dilakukan dengan mengangin-anginkan
(air-dry)
2) Ambil contoh tanah yang lolos saringan No.4 (4,75 mm) dan disimpan dalam kantong
pada temperatur ruangan. Jika tanah tersebut mengandung agregat tertahan No 4 (4,75
mm) maka ambil material tanah yang lolos saringan 19 mm tetapi mengandung bahan
yang tertahan saringan No.4 (4,75 mm) maksimum 35%. Berat contoh tanah disesuaikan
dengan kebutuhan untuk masing-masing standar pengujian yang akan diterapkan;
3) Ambil contoh tanah secukupnya untuk pengujian kadar air awal (SNI 03-1965-1990).
b) Lakukan uji pemadatan ringan atau pemadatan berat, jika diperlukan, untuk
mendapatkan kadar air optimum dan kepadatan kering maksimum Lakukan uji kekuatan
tanah dengan uji kuat tekan bebas.
Lakukan uji kekuatan tanah dengan uji kuat tekan bebas sesuai dengan SNI 03-3638-
1994 atau uji CBR sesuai dengan SNI-1744-1989. Pengujian untuk tanah berbutir halus
dianjurkan menggunakan uji kuat tekan bebas, sedangkan uji CBR digunakan untuk
tanah berbutir kasar.

Analisis butiran dari grafik diatas, hasil uji analisa diatas kemudian presentasi tanah lolos
tersebut diplotkan kedalam klasifikasi tanah sistem USCS sehingga diketahui jenis tanah
yang diuji termasuk dalam klasifikasi tanah lempung inorganic, dengan tingkat Plastisitas
Tinggi (CH). Batas butir kasar dan tanah butir halus adalh ayakan no.200 (0,075 mm).
Jadi pada kurva tersebut tanah berbutir halus = 80,52% dan tanah butir kasar = 19,48%.

Tabel 4. Persentase analisis butiran tanah


Kriteria Tanah Analisis butiran tanah (%)
Pasir 19,48
Lanau 33,93
Lempung 46,59

B. Pengujian Sifat Mekanika Tanah Pengujian Pemadatan Tanah (Standart Proctor


Test)
Uji pemadatan standart ini di lakukan untuk mengetahui berat kering maksimum (MDD)
dan kadar air optimum (OMC)
Tabel 5. Hasil Pengujian Proctor Standar
Tanah+ Tanah+
Semen 5% Semen
Tanah
Pengujian +Renolith 10%+
Asli
5% Renolith
10%
Kadar Air 35,02 31,919 % 30,063 %
Optimun (ωopt) %
Berat Volume
1,308 1,348 1,401
kering
gr/cm³) gr/cm³) gr/cm³)
Maks (ɣ dry)

Analisis hasil uji pemadatan, Dari uji kepadatan Tanah asli variasi campuran semen dan
renolith (5% dan 10%) nampak pengaruh kadar air (W C) terhadap pemadatan. Kepadatan
tanah meningkat dengan bertambahnya Berat isi kering yang dipengaruhi oleh
penambahan semen dan renolith serta berkurangnya kadar air. meskipun air berfungsi
sebagai “pelumas”, tapi penambahan air yang berlebihan dapat mengakibatkan
kepadatan menurun karena air mengambil alih tempat-tempat yang semula ditempati
oleh butiran. Olehnya kadar air dimana kepadatan tanah maksimun dinamakan kadar air
optimun (ωc-opt).
Analisis terhadap tanah dasar (subgrade), Bahwa tanah dasar pada tanah galian
umumnya memiliki muka air tanah yang tinggi, sehingga harus dilengkapi dengan
drainase bawah tanah yang baik. kondisi yang terbaik yaitu dapat memelihara kadar air
dalam keadaan seimbang.

Pengujian CBR
A. CBR Tanpa rendaman ( Unsoaked )
Hasil dari pengujian CBR tanpa rendaman dengan variasi pencampuran semen dan
renolith dapat dilihat dalam tabel dan grafik gabungan dibawah ini:
Tabel 6 .Hasil pengujian CBR Tanpa rendaman
Nilai Rata-
Variasi Campuran rata CBR
unsoaked
Tanah+Semen 0%+Renolith 0% 18,355%
Tanah+Semen 5%+Renolith 5% 35,500%
Tanah+Semen 10%+Renolith
39,475%
10%

Analisis Hasil uji CBR tanpa rendaman. Tanah lempung semula memiliki
kekuatan bahan yang jelek ditandai dengan nilai indeks plastisitas tinggi, memiliki daya
rekat yang baik dan butirannya termasuk butiran halus dengan gradasi buruk.
Pencampuran dengan semen dan renolith renolit yang mampu bereaksi dengan tanah
sehingga membentuk gumpalan-gumpalan menjadikan butiran tanah lempung menjadi
besar, tekstur yang kasar dan sifatnya nonkohesif dapat mempengaruhi gradasi
butrannya dengan demikian dapat meningkatkan nilai CBRnya.

B. CBR rendaman (soaked)


Pengujian CBR rendaman adalah pengujian yang di lakukan didalam
Laboratorium mekanika tanah yang bertujuan untuk mencari besarnya nilai CBR, dan
nilai pengembangan CBR didalam keadan jenuh air. sehingga tanah mengalami
pengembangan yang maksimum, yang berarti tanah dan cetakan direndam didalam air
selama 4 hari.Hasil dari pengujian CBR tanpa rendaman dan CBR rendaman dengan
variasi pencampuran dapat dilihat dalam tabel 7 dan gambar 7 dibawah ini
Tabel 7 Hasil pengujian CBR rendaman
Nama
Vaiasi Pengujian
Campuran Nilai Rata-
rata CBR Soaked (%)
Tanah+Semen
2,801
0%+Renolith 0%
Tanah+Semen
20,700
5%+Renolith 5%
Tanah+Semen
49,410
10%+Renolith 10%

Analsisi Hasil pengujian CBR Rendaman. Dari tabel di atas diperoleh nilai CBR
rendaman tanah asli hanya 2,801% tidak memenuhi spesifikasi kekuatan tanah dasar
jalan raya yang dipersyaratkan (persyaratan nilai CBR >6%). Dengan stabilisasi semen
dan penambahan renolith 5% diperoleh nilai CBR 20,700 % sudah sesuai spesifikasi
kekuatan tanah dasar tapi bila mana diperuntukkan untuk lapis pondasi bawah harus
disarankan memakai variasi 10 % karena diperoleh nilai CBR rendaman 49,410% yang
memenuhi spesifikasi kekuatan untuk lapis fondasi bawah (persyaratan nilai CBR
rendaman >35%).
Perbandingan Nilai CBR tanpa rendaman dengan rendaman. .seperti pada Gambar 8
sebagai berikut:

Pengujian Free Swell (uji pengembangan)


Dari pengujian CBR rendaman didapatkan pula nilai-nilai hasil pengembangan. Dimana
nilai hasil pengembangan CBR rendaman dapat dilihat dalam Tabel dan Grafik di bawah
ini:
Tabel 8. Hasil nilai rata-rata uji pengembangan
Nilai rata-rata pengembangan
Waktu
Variasi Variasi Variasi
(jam)
0% 5% 10%
0,5 4,043947 3,342105 1,010987
1 4,979737 3,860132 1,336842
2 6,015789 4,110789 1,520658
3 6,466974 4,160921 1,570789
4 6,617368 4,194342 1,604211
24 6,918158 4,294605 1,671053
48 6,968289 4,595395 1,687763
72 7,001711 4,311316 1,704474
96 7,018421 4,311316 1,704474

Maka dapat diambil kesimpulan bahwa tanah asli lempung memiliki nilai tingkat
pengembangan sebesar 7,018 %. Dengan Nilai CBR = 2,59%. Pembesaran volume
tanah lempung akibat bertambahnya kadar air. Jadi potensi pembesaran volume ini
tergantung pada komposisi mineral, peningkatan kadar air, indeks plastis, kadar lempung
dan tekanan tanah penutup.

Mengerjakan proses stabilisasi Tanah lempung dengan teknik konstruksi yang sesuai.
Untuk menghasilkan kualitas yang baik dari pekerjaan konstruksi, selama proses
konstruksi tersebut harus diawasi dengan baik dan juga pekerjaan konstruksi tersebut
harus dikerjakan sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan. Pada proses pengerjaan
stabilisasi dengan semen dan renolith dilapangan ada beberapa hal penting yang harus
diperhatikan, yaitu kebutuhan kadar semen, renolith dan kadar air termasuk juga proses
pencampurannya,pemadatan dilapangan dan proses perawatan (curing). Pekerjaan
stabilisasi harus dikerjakan sesuai dengan waktu yang telah direncanakan, untuk
mencegah agar proses hidrasi semen tidak terjadi sebelum pemadatan akhir tercapai.
SUMBER : http://anakgeoteknik.blogspot.com/2011/02/stabilisasi-tanah-dengan-
semen.html

B. STABILITAS DENGAN KAPUR

Stabilitas tanah dengan kapur

1. 1. STABILITAS TANAH DENGAN KAPUR


2. 2. LATAR BELAKANG MASALAH Dalam pengertian luas, yang
dimaksud Stabilitas tanah adalah pencampuran tanah dengan
bahan tertentu, guna memperbaiki sifat-sifat teknis tanah
atau dapat pula , stabilitas tanah adalah usaha untuk merubah
atau memperbaiki sifat-sifat teknis tanah agar memenuhi
syarat teknis tertentu. Proses stabilisasi tanah meliputi
pencampuran tanah dengan tanah lain untuk memperoleh
gradasi yang diinginkan atau pencampuran tanah dengan
bahan-tambah buatan pabrik, sehingga sifat-sifat teknis tanah
menjadi lebih baik. Guna merubah sifat-sifat teknis tanah,
seperti : kapasitas dukung, kompresibilitas, permeabilitas,
kemudahan dikerjakan, potensi pengembangan dan
sensitifitas terhadap perubahan kadar air, maka dapat
dilakukan dengan cara penanganan dari yang paling mudah
sampai teknik yang lebih mahal seperti: mencampur tanah
dengan semen, kapur, abu terbang, dan lain-lain. Dalam hal ini
yang akan dibahas adalah stabilitas tanah dengan kapur.
Pengertian stabilitas tanah kapur. Stabilitas tanah kapur yaitu
mencampur tanah dengan kapur dan air pada lokasi pekerjaan
di lapangan untuk merubah sifat-sifat tanah tersebut menjadi
material yang lebih baik yang memenuhi ketentuan sebagai
bahan konstruksi yang diijinkan dalam perencanaan. Kapur
bereaksi dengan air tanah sehingga merubah sifat tanahnya,
mengurangi kelekatan dan kelunakan tanah. Sifat ekspansif
yang menyusut dan berkembang karena kondisi airnya akan
berkurang secara drastis karena butir kapur.
3. 3. DEFINISI STABILISASI TANAH Stabilisasi tanah pada
prinsipnya adalah untuk perbaikan mutu tanah yang kurang
baik. Menurut Bowles (1986), cara untuk melakukan stabilisasi
dapat terdiri dari salah satu tindakan sebagai berikut: 1.
Menambah kerapatan tanah 2. Menambah material yang tidak
aktif sehingga mempertinggi kohesi atau tahanan geser 3.
Menambah material untuk menyebabkan perubahan-
perubahan kimiawi dan fisik dari material tanah 4.
Menurunkan muka air tanah 5. Mengganti tanah-tanah yang
buruk Sementara itu, menurut Ingles dan Metcalf (1972),
stabilisasi dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu: 1.
Cara mekanis Perbaikan tanah dengan menggunakan cara
mekanis yaitu perbaikan tanah tanpa penambahan bahan-
bahan lainnya. Stabilisasi mekanis biasanya dilakukan dengan
menggunakan peralatan mekanis seperti mesin gilas,
penumbuk, peledak, tekanan statis, dan sebagainya. Tujuan
stabilisasi ini adalah untuk mendapatkan tanah yang berdaya
dukung baik dengan cara mengurangi volume pori sehingga
menghasilkan kepadatan tanah yang maksimum. Metode ini
biasanya digunakan pada tanah yang berbutir kasar dengan
fraksi tanah yang lolos saringan nomor 200 ASTM paling
banyak 25%.
4. 4. STABILISASI TANAH 2. Cara fisik Perbaikan tanah dengan
cara fisik ini yaitu dengan memanfaatkan perubahan-
perubahan fisik yang terjadi seperti hidrasi,
absorbi/penyerapan air, pemanasan, pendinginan, dan
menggunakan arus listrik. 3. Cara kimiawi Perbaikan tanah
dengan cara kimiawi adalah penambahan bahan stabilisasi
yang dapat mengubah sifat-sifat kurang menguntungkan dari
tanah. Metode stabilisasi ini biasanya digunakan untuk tanah
yang berbutir halus. Pencampuran bahan kimia yang sering
dilakukan adalah dengan menggunakan semen, kapur, abu
batubara, dan sebagainya. Metode stabilisasi yang paling
sering dilakukan adalah metode stabilisasi mekanis dan
kimiawi. Stabilisasi dengan semen cocok untuk tanah yang
tidak kohesif, yaitu tanah berpasir dan kerikil yang
mengandung sedikit tanah berbutir halus, sedangkan kapur
dan pozzolan cocok untuk tanah kohesif (Soedarmo dan
Purnomo, 1997). Kapur yang biasa digunakan dalam stabilisasi
adalah kapur hidup (quicklime, CaO) dan kapur padam
(calcium hydroxide, Ca(OH)2) yang merupakan produk
pembakaran batu kapur.
5. 5. DEFINISI KAPUR Kapur merupakan salah satu material
yang cukup efektif untuk proses stabilisasi tanah. Stabilisasi
tanah dengan kapur sangat lazim digunakan dalam proyek-
proyek konstruksi jalan dengan berbagai macam jenis tanah,
mulai dari tanah lempung biasa sampai tanah ekspansif. Kapur
yang biasa digunakan dalam stabilisasi adalah kapur hidup
CaO dan Ca(OH)2. Kapur yang digunakan dalam penelitian ini
adalah kapur bubuk (CaO) yang dibeli di toko material. Kapur
tersebut berasal dari batu kapur (CaCo3) yang telah dibakar
sampai dengan suhu 1000 C. Kapur hasil pembakaran apabila
ditambahkan air akan mengembang dan retak-retak. Banyak
panas yang keluar (seperti mendidih) selama proses ini,
hasilnya adalah kalsium hidroksida Ca(OH)2. Apabila kapur
dengan mineral lempung atau mineral halus lainnya bereaksi,
maka akan membentuk suatu gel yang kuat dan keras, yaitu
kalsium silikat yang mengikat butir-butir atau partikel tanah
(Ingles dan Metcalf, 1972).
6. 6. LANJUTAN,..... Ada beberapa jenis kapur antara lain : 1.
kapur tipe I adalah kapur yang mengandung kalsium hidrat
tinggi; dengan kadar Magnesium Oksida (MgO) paling tinggi
4% berat; 2. kapur tipe II adalah kapur Magnesium atau
Dolomit yang mengandung Magnesium Oksida lebih dari 4%
dan paling tinggi 36% berat; 3. kapur tohor (CaO) adalah hasil
pembakaran batu kapur pada suhu ± 90°C, dengan komposisi
sebagian besar Kalsium Karbonat (CaCO3); 4. kapur padam
adalah hasil pemadaman kapur tohor dengan air, sehingga
membentuk hidrat [Ca(OH)2]. Mekanisme dasar stabilisasi
dengan kapur : 1. Adanya ikatan ion Ca, Mg dan Na yang
menyebabkan bertambahnya ikatan antara partikel tanah. 2.
Adanya proses sementasi (antara kapur dan tanah sehingga
kekuatan geser/daya dukung tanah menjadi naik) 3. Stabilitas
tanah dengan campuran kapur hanya efektif digunakan untuk
tanah lempung dan tidak efektif untuk tanah pasir Material
yang diperlukan pada stabilitas tanah kapur : 1. Kapur
Berdasarkan SNI 03-4147-1996 Kapur yang digunakan sebagai
bahan stabilisasi tanah adalah kapur padam dan kapur tohor.
2. Tanah • Efektif digunakan pada tanah lempung yang
plastisitasnya tinggi. • Membuat struktur tanah jadi rapuh
sehingga mudah dipadatkan dengan konsekuensi nilai
kepadatan maksimum menjadi turun 3. Air • Air yang
digunakan adalah air yang tidak mengandung asam. • Air laut
boleh digunakan tapi tidak boleh mengalami kontak dengan
lapisan aspal
7. 7. Lanjutan.... Spesifikasi Persyaratan untuk Kapur 1. Calcium
oxide (CaO) kandungan Ca & MgO > 92 % 2. CO2 (oven) < 3 % ;
CO2 (lap) < 10 % 3. Calcium Hidroxide (Ca(OH)2) kandungan Ca
& MgO > 95 % 4. CO2 (oven) < 5 % ; CO2 (lap) < 7 % Efek
kandungan kapur terhadap kuat tekanbebas dari beberapa
jenis tanah
8. 8. Lanjutan.... Mekanisme Stabilisasi Kapur pada Tanah
Lempung Kriteria : • Lime Modification tujuan : meningkatkan
akses di tanah basah (reaksipenguapan akibat campuran air
dan kapur dalam tanah) persyaratan : batas plastis
meningkatkuat geser bertambahplastisitas
berkurangpersentase lolos saringan 3/16 bertambah • Lime
Stabilization tujuan : meningkatkan material lapisan tanah
dasarmeningkatkan material lapisan pondasipersyaratan :
daya dukung bertambahpengembangan berkurangplastisitas
berkurangkuat geser bertambah
9. 9. Lanjutan............... Kandungan Kapur yg Disarankan
10. 10. Lanjutan........ Sifat – sifat dari kapur antara lain : •
Mempunyai sifat plastis yang baik • Sebagai mortel, memberi
kekuatan pada tembok • Dapat mengeras dengan cepat dan
mudah • Mudah di kerjakan • Mempunyai ikatan yang bagus
dengan batu atau bata • Mengurangi sifat mengembang dari
tanah • Meningkatkan daya dukung dari tanah
11. 11. Lanjutan..... 1. tanah dasar yang akan distabilisasi harus
dibersihkan dari kotoran dan bahan organis serta bahan yang
tidak dikehendaki serta dijaga kelembabannya; 2. sebelum
diberi kapur untuk dicampur, tanah dipecah dan digemburkan
terlebih dahulu dengan alat yang sesuai dengan jenis tanah
yang akan digemburkan; 3. air yang digunakan harus bersih
tidak mengandung asam, alkali, bahan organik, minyak, sulfat
dan klorida di atas nilai yang diijinkan sesuai SK SNI T-14-
1992-03 tentang Tata Cara Pembuatan Rencana Stabilisasi
Tanah dengan Kapur. Percobaan Lapangan Pencampuran
kadar kapur yang sudah direncanakan di laboratorium,
diperiksa dengan faktor efisiensi pencampuran di lapangan
dengan ketentuan sebagai berikut : 1) rumus untuk
menghitung faktor efisiensi, yaitu : F.E = Kekuatan bahan yang
dicampur di lapangan kekuatan bahan yang dicampur di
laboratorium . . . . . . . . . . (1) Keterangan : Kekuatan bahan,
diuji dengan pengujian kuat tekan bebas. 2) faktor efisiensi
hubungannya dengan alat pencampuran, yaitu : alat
pembentuk mekanik : 40 – 50%; alat pencampur rotor : 60 –
80%; instalasi pencampur : 80 – 100%.
12. 12. Lanjutan....... 3) percobaan lapangan dilaksanakan dengan
membuat jalur percobaan minimum sepanjang 200 meter. 4)
selama percobaan harus dilakukan hal-hal, sebagai berikut :
kegemburan tanah; faktor efisiensi; derajat kepadatan yang
dicapai oleh alat pemadat; efektifitas alat pencampur; cara
perawatan. Pemadatan Ketentuan pemadatan, sebagai berikut
: 1) tebal padat setiap lapisan 15 – 20 cm, jumlah lintasan
untuk tebal lapisan padat disesuaikan dengan ruas percobaan;
2) panjang maksimum pemadatan disesuaikan dengan
kapasitas produksi dan kemampuan peralatan pemadatan; 3)
pemadatan harus mencapai 95% kepadatan laboratorium; 4)
bila akan memadatkan bagian berikutnya, bagian tepi yang
akan disambung dan sudah dipadatkan harus dipotong tegak
lurus dan roda pemadat tidak menggilas bagian yang sudah
dipadatkan terlebih dahulu sewaktu menggilas bagian yang
baru; 5) selama melaksanakan pekerjaan stabilisasi tanah
dengan kapur sebaiknya dilakukan dalam cuaca hangat.
13. 13. Lanjutan....... Perawatan dan Perlindungan Ketentuan
perawatan dan perlindungan, sebagai berikut : 1) lapisan
stabilisasi tanah dengan kapur harus dirawat untuk mencegah
kehilangan kadar air yang diperlukan untuk berhidrasi dengan
cara memberi penutup selama 4 hari; 2) selama masa
perawatan, permukaan stabilisasi tanah dengan kapur tidak
boleh dilewati lalu lintas atau alat-alat berat. Pengendalian
Mutu Pengendalian mutu terdiri dari pengendalian mutu
persiapan tanah dan pengendalian mutu persiapan tanah dan
pengendalian mutu stabilisasi tanah dengan kapur yang
meliputi : 1) pemeriksaan kerataan; 2) pemeriksaan
penggemburan; 3) pemeriksaan pencampuran; 4) pemeriksaan
kepadatan; 5) pemeriksaan ketebalan; 6) perawatan.
Pemeriksaan Kerataan Pemeriksaan kerataan, sebagai berikut
: 1) kerataan tanah harus diperiksa setiap jarak 25 meter
dengan menggunakan mistar pengukur kerataan panjang 3 m;
2) ketidakrataan di bawah mistar yang diijinkan, yaitu 1,5 cm;
3) bagian yang lemah seperti terlalu basah atau kurang padat
harus diperiksa secara visual dan ditangani menurut
ketentuan yang berlaku.
14. 14. Lanjutan....... Pemeriksaan Penggemburan Pemeriksaan
penggemburan dapat dilakukan dengan mengambil satu
contoh tanah yang sudah diproses untuk setiap 2 m2; proses
kegemburan dapat dikontrol dengan rumus : PK = A/B x
100% . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
(2) Keterangan : PK = proses kegemburan A = berat kering
tanah yang lolos saringan tanah No. 4 B = berat kering total
contoh (tidak termasuk kerikil yang tertahan saringan No. 4).
Pemeriksaan Pencampuran Pemeriksaan pencampuran,
sebagai berikut : 1) keseragaman bahan setelah pencampuran
dapat dilakukan secara visual; 2) membuat galian ke arah
melintang dengan ketebalan setebal hamparan setiap 50 m; 3)
bila hasil dari penelitian visual, campuran telah menunjukkan
keseragaman yang baik maka contoh dapat diambil untuk
dilakukan pengujian untuk mencari faktor efisiensi dari
pencampuran. Pemeriksaan Kepadatan Pemeriksaan
kepadatan, sebagai berikut : 1) kepadatan harus diperiksa
minimal satu titik untuk setiap 500 m2; 2) dilakukan dengan
memakai alat kerucut pasir, silinder tekan atau gelembung
balon karet bila masih kurang padat maka lintasan harus
ditambah seperlunya. Pemeriksaan Ketebalan Pemeriksaan
ketebalan, sebagai berikut : 1) ketebalan hasil stabilisasi
tanah dengan kapur harus diperiksa pada setiap jarak 50 m; 2)
tebal padat stabilisasi tanah dengan kapur yang sudah selesai
tidak boleh kurang dari 1,25 cm dari tebal rencana. Perawatan
Selama waktu perawatan perlu dilakukan pengamatan
kelembaban secara periodik setiap 24 jam, selama waktu
perawatan.
15. 15. Langkah-langkah cara pengerjaan stabilisasi tanah dengan
kapur di lapangan, sebagai berikut : Truk yang disiapkan untuk
kapur yang akan dicampur dengan tanah akan dicampur
dengan tanah Proses permberian Kapur ke tanah
16. 16. Lanjutan.... Proses pengadukkan/pencampuran
Kapurdengan tanahdengan tanah Proses pemberian air pada
campuran Kapur dan tanah Kapur dan tanah
17. 17. Lanjutan............ Proses pemadatan pada campuran Kapur
dan tanah
18. 18. CONTOH KASUS PENCAMPURAN TANAH DENGAN KAPUR
Contoh tanah pada penelitian ini diambil dari Lapangan Voli
GK Fakultas Teknik Universitas Indonesia. (Theodore Ignatius
Minaroy) Contoh tanah yang diambil merupakan contoh tanah
terganggu (disturbed) yang diambil dengan cara penggalian
menggunakan sekop pada kedalaman di bawah 0,5 meter.
Contoh tanah akan diuji batas-batas Atterberg-nya untuk
mendapatkan indeks plastisitasnya, dan selanjutnya dicampur
dengan kapur sebanyak 5%, 10%, 15%, 20%, dan 25%. Setelah
mengetahui kadar kapur yang paling efektif, campuran tanah
dan kapur tersebut akan dipadatkan menggunakan metode
Modified Proctor dengan mold ukuran besar untuk mengetahui
kadar air optimumnya. Kemudian, campuran tanah-kapur
dengan kadar air optimum akan diuji kekuatannya melalui uji
CBR, untuk mengetahui apakah campuran tersebut layak
dipakai sebagai lapisan pondasi bawah berdasarkan aturan
Standar Nasional Indonesia yang berlaku. Setelah melakukan
pengujian-pengujian awal, tanah akan dicampur kapur dengan
kadar 5%, 10%, 15%, 20%, dan 25%. Persentase kadar kapur
tersebut merupakan persentase dari berat kering tanah. Kapur
yang akan dipakai pun harus berada dalam kondisi benar-
benar kering (kadar air 0%). Sebelum melakukan pengujian,
Penulis mencari kadar air kapur dalam kondisi kering udara
terlebih dahulu. Ternyata didapatkan kadar airnya sebesar
0,09037%. Meskipun hampir tidak ada perbedaan yang berarti
antara kadar air kapur kering udara dengan kadar air kering
oven, dalam penelitian Penulis tetap memakai kapur dalam
kondisi kering oven untuk memastikan kadar airnya benar-
benar 0%. Pengujian pertama yang akan dilakukan adalah Uji
Atterberg Limit. Tanah asli diayak sampai lolos saringan
nomor 40 ASTM sampai mendapatkan kurang lebih 2,5
kilogram yang akan dibagi menjadi 5 contoh. Masing-masing
contoh akan dicampur kapur dengan kadar 5% sampai dengan
25% seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Setelah
mendapatkan nilai Indeks Plastisitas untuk masing-masing
contoh, Penulis menentukan campuran tanah dengan kadar
kapur berapa yang sekiranya paling efektif untuk dilakukan
pemadatan. Kemudian akan melakukan pemadatan dengan
kadar kapur tersebut saja berdasarkan alur yang telah
dijelaskan sebelumnya.
19. 19. CONTOH KASUS HASIL PENCAMPURAN TANAH DENGAN
KAPUR Sampel uji yang digunakan dalam penelitian adalah
sampel uji tanah residual yang diambil di lokasi Lapangan
sebelah Utara Gedung GK Fakultas Teknik Universitas
Indonesia, Depok. Sampel tanah tersebut diambil pada hari
Sabtu dan Minggu, 21-22 Agustus 2010 yang lalu. Tanah digali
mulai dari kedalaman 0,5 m dari permukaan tanah untuk
meminimalisir “kotoran” seperti akar, humus, sampah, dan
lainnya. Setelah digali, tanah langsung diayak di tempat
menggunakan ayakan besar dengan ukuran lubang setara
dengan saringan nomor 4 ASTM, barulah hasil ayakannya
dimasukkan ke dalam karung. Contoh tanah yang didapat
merupakan contoh tanah terganggu sebanyak sebelas karung.
Tanah yang belum lolos ayakan dipisahkan untuk dijemur
selama satu hari, kemudian ditumbuk sehingga bisa lolos
saringan nomor 4 ASTM. Setelah itu, tanah yang sudah lolos
saringan nomor 4 ASTM dihamparkan di loyang besar di dalam
laboratorium untuk mendapatkan kondisi kering udara. Supaya
kondisi keringnya merata, tanah tersebut diaduk secara
berkala. Setelah mempersiapkan contoh tanah untuk
pengujian, Penulis melakukan beberapa pengujian awal untuk
mengetahui data awal tanah residual tersebut, yaitu uji
Atterberg Limit, uji Spesific Gravity uji Compaction, dan uji
California Bearing Ratio. Selain itu, dilakukan juga
pemeriksaan XRF dengan membawa contoh tanah uji ke
laboratorium di Salemba. Pemeriksaan XRF bertujuan untuk
mengetahui komposisi kandungan kimia dalam contoh tanah
uji, seperti yang terlihat pada tabel 4.1 di bawah ini. Dari hasil
analisa kimia, kandungan utama penyusun tanah residual
Depok ini adalah SiO2 dan Fe2O3
20. 20. Atterberg Limit Untuk melakukan uji Atterberg Limit,
Penulis menyiapkan tanah lolos saringan nomor 40 ASTM
dengan kondisi kering udara sebanyak kurang lebih 3
kilogram. Tanah tersebut dicari kadar airnya, dan didapatkan
kadar air sebesar 8,3%. Kadar air ini nantinya akan berguna
untuk menentukan berat kapur yang harus ditambahkan untuk
membuat campuran tanah-kapur. Setelah mendapatkan kadar
air, Penulis melakukan uji Atterberg Limit sebanyak 2 kali, dan
hasil kedua percobaan tersebut dirata-rata. Dari uji Atterberg
Limit didapat nilai Batas Cair sebesar Indeks Plastisitas
sebesar 32,625. Nilai Indeks Plastisitas didapat dari
perhitungan LL – PL, dengan LL adalah batas cair tanah dan
PL adalah batas plastis tanah. Setelah melakukan pengujian
pada tanah asli, Penulis langsung melakukan pengujian
dengan lima contoh tanah lainnya yang telah dicampur dengan
kapur, masing-masing dengan kadar kapur sebesar 5%, 10%,
15%, 20%, dan 25%. Persentase kadar kapur ini diperoleh dari
berat kering tanah. Untuk setiap sampel uji, disiapkan 500
gram tanah lolos saringan nomor 40 ASTM dengan kondisi
kering udara. Sebagai contoh untuk menyiapkan contoh
campuran tanah dan kapur dengan kadar kapur 5%,
perhitungannya adalah sebagai berikut.
21. 21. Tanah dicampur dengan kapur, diaduk secara merata
sampai sudah kelihatan homogen menjadi satu kesatuan
campuran tanah-kapur, lalu kembali dimasukkan ke dalam
plastik untuk menjaga kadar airnya. Masing-masing contoh
tanah-kapur tersebut kembali diuji batas-batas Atterberg-nya.
Setelah mendapatkan nilai LL, PL, dan PI untuk masing-
masing contoh, nilai- nilai tersebut diplot ke dalam grafik
untuk mengetahui bagaimana perilaku tanah jika dicampur
dengan kapur. Gambar 4.2 Plastic Limit terhadap Persentase
Kadar Kapur Gambar 4.3 Indeks Plastisitas Setiap Persentase
Kadar Kapur
22. 22. Dari grafik Indeks Plastisitas di atas terlihat bahwa tren
nilai Indeks Plastisitas tanah akan menurun seiring
bertambahnya kadar kapur. Hal ini menunjukkan bahwa tanah
menjadi lebih berbutir, dan potensi engembangannya
(swelling) menjadi berkurang. Dengan begitu, penambahan
kapur akan meningkatkan mutu tanah dari segi kekuatannya.
Sifat- sifat ini sangat cocok jika diterapkan untuk perkerasan
jalan. Dari grafik tersebut juga terlihat bahwa nilai Indeks
Plastisitas tanah dengan kadar kapur 10%-lah yang paling
mendekati trend line, sehingga nantinya kadar kapur 10% yang
akan dipakai untuk pengujian karena dianggap paling efektif.
Selain melakukan uji Batas Cair dan Batas Plastis, Penulis
juga melakukan uji Batas Susut Gambar 4.4 Shrinkage Limit
terhadap Persentase Kadar Kapur
23. 23. HASIL PENGUJIAN TANAH YANG TELAH DISTABILISASI
DENGAN 10% KAPUR Setelah melakukan pengujian pada
tanah asli, akan dilakukan pengujian terhadap tanah yang
distabilisasi dengan kapur. Kadar kapur yang akan dipakai
adalah 10% dari berat kering tanah, sesuai dengan hasil
pengujian awal yang telah dijabarkan sebelumnya. Kadar air
optimum yang dipakai adalah kadar air 31,1%. Campuran
tanah dengan kapur tersebut akan diuji kekuatannya melalui
uji California Bearing Ratio dan uji Kuat Tekan Bebas. Sesuai
dengan alur penelitian yang telah dijelaskan pada bab
sebelumnya, masing-masing sampel akan diperam selama 6
jam, 1 hari, 3 hari, dan 7 hari.
24. 24. Perencanaan Tata cara pembuatan rencana stabilisasi
tanah dengan kapur untuk jalan. Mengacu pada SNI 03-3437-
1994. Adapun cara pelaksanaan atau penerapan di lapangan
dapat dilihat pada Langkah-langkah pengerjaan stabilisasi
tanah dengan kapur di lapangan berdasarkan foto di atas.
25. 25. Kesimpulan Dari penelitian yang dilakukan dapat diperoleh
beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Nilai kadar kapur
yang paling efektif untuk stabilisasi tanah residual Depok
adalah 10% dari berat keringnya. 2. Pencampuran tanah
dengan kapur akan menghasilkan campuran yang cenderung
berbutir. Tanah dengan campuran kapur akan cenderung
bersifat non-kohesif, sementara nilai CBR unsoaked-nya akan
lebih tinggi jika dibandingkan dengan tanah asli tanpa
campuran kapur. 3. Nilai CBR unsoaked campuran tanah-kapur
yang dipadatkan terlebih dahulu baru diperam dalam mold
lebih tinggi dibandingkan campuran tanah-kapur yang diperam
terlebih dahulu dalam plastik baru dipadatkan. Hal ini
dikarenakan jika tanah telah dicampur dengan kapur dan
kadar air sesuai target lalu diperam dalam plastik, campuran
tersebut akan menjadi berbutir dan sifat kohesifnya menjadi
menurun. Jika campuran tersebut langsung dipadatkan lalu
kemudian diperam dalam mold, campuran tersebut akan
menjadi padat terlebih dahulu, sehingga ketika diuji kekuatan
CBR-nya, nilai CBR yang diperoleh akan lebih tinggi. Hal yang
sama juga berlaku untuk Uji Tekan Bebas (UCT) akan
diperoleh nilai yang lebih tinggi jika campuran tanah-kapur
dipadatkan terlebih dahulu kemudian diperam dalam
desikator. 4. Nilai CBR unsoaked tanah asli sebesar 50,71%,
sementara nilai CBR unsoaked tanah dengan campuran 10%
kapur yang dipadatkan kemudian diperam selama satu hari
sebesar 78,27%. Untuk kondisi soaked, nilai CBR campuran
tanah dengan kapur relatif stabil di kisaran 10%, sementara
nilai CBR tanah asli sebesar 11,34%. 5. Berdasarkan nilai CBR
dan UCT, campuran tanah dengan 10% kapur akan mencapai
nilai tertingginya apabila diperam selama satu hari. 6. Untuk
campuran tanah dengan 10% kapur, nilai CBR unsoaked lebih
besar daripada nilai CBR soaked-nya. Hal ini berbeda dengan
penelitian sebelumnya oleh Fira Yolanda (2011) yang
mendapatkan bahwa untuk campuran tanah dengan 10%
semen, nilai CBR unsoaked justru lebih kecil daripada nilai
CBR soaked-nya.
SUMBER : https://www.slideshare.net/herewithsofian/stabilitas-tanah-
dengan-kapur
Dalam pengertian luas, yang dimaksud Stabilitas tanah adalah pencampuran
tanah dengan bahan tertentu, guna memperbaiki sifat-sifat teknis tanah atau dapat
pula , stabilitas tanah adalah usaha untuk merubah atau memperbaiki sifat-sifat
teknis tanah agar memenuhi syarat teknis tertentu.

Proses stabilisasi tanah meliputi pencampuran tanah dengan tanah lain


untuk memperoleh gradasi yang diinginkan atau pencampuran tanah dengan
bahan-tambah b uatan pabrik, sehingga sifat-sifat teknis tanah menjadi lebih baik.
Guna merubah sifat-sifat teknis tanah, seperti : seperti kapasitas dukung,
kompresibilitas, permeabilitas, kemudahan dikerjakan, potensi pengembangan dan
sensitifitas terhadap perubahan kadar air, maka dapat dilakukan dengan cara
penanganan dari yang paling mudah sampai teknik yang lebih mahal seperti:
mencampur tanah dengan semen, kapur, abu terbang, dan lain-lain. Dalam hal ini
yang akan dibahas adalah stabilitas tanah dengan kapur.
Pengertian stabilitas tanah kapur
Stabilitas tanah kapur yaitu mencampur tanah dengan kapur dan air
pada lokasi pekerjaan di lapangan untuk merubah sifat-sifat tanah tersebut
menjadi material yang lebih baik yang memenuhi ketentuan sebagai bahan
konstruksi yang diijinkan dalam perencanaan. Kapur bereaksi dengan air tanah
sehingga merubah sifat tanahnya, mengurangi kelekatan dan kelunakan tanah. Sifat
ekspansif yang menyusut dan berkembang karena kondisi airnya akan berkurang
secara drastis karena butir kapur.

Jenis – jenis Kapur


Ada beberapa jenis kapur antara lain :
• kapur tipe I adalah kapur yang mengandung kalsium hidrat tinggi; dengan kadar
Magnesium Oksida (MgO) paling tinggi 4% berat;
• kapur tipe II adalah kapur Magnesium atau Dolomit yang mengandung Magnesium
Oksida lebih dari 4% dan paling tinggi 36% berat;
• kapur tohor (CaO) adalah hasil pembakaran batu kapur pada suhu ± 90°C,
dengan komposisi sebagian besar Kalsium Karbonat (CaCO3);
• kapur padam adalah hasil pemadaman kapur tohor dengan air, sehingga
membentuk hidrat [Ca(OH)2].
Mekanisme dasar stabilisasi dengan kapur :
1. Adanya ikatan ion Ca, Mg dan Na yang menyebabkan bertambahnya ikatan antara
partikel tanah.
2. Adanya proses sementasi (antara kapur dan tanah sehingga kekuatan geser/daya
dukung tanah menjadi naik)
3. Stabilitas tanah dengan campuran kapur hanya efektif digunakan untuk tanah
lempung dan tidak efektif untuk tanah pasir
Material yang diperlukan pada stabilitas tanah kapur :
1. Kapur
Berdasarkan SNI 03-4147-1996 Kapur yang digunakan sebagai bahan stabilisasi tanah
adalah kapur padam dan kapur tohor.
2. Tanah
• Efektif digunakan pada tanah lempung yang plastisitasnya tinggi.
• Membuat struktur tanah jadi rapuh sehingga mudah dipadatkan dengan konsekuensi
nilai kepadatan maksimum menjadi turun
3. Air
• Air yang digunakan adalah air yang tidak mengandung asam.
• Air laut boleh digunakan tapi tidak boleh mengalami kontak dengan lapisan
aspal
Spesifikasi Persyaratan untuk Kapur
1. Calcium oxide (CaO) kandungan Ca & MgO > 92 %
2. CO2 (oven) < 3 % ; CO2 (lap) < 10 %
3. Calcium Hidroxide (Ca(OH)2) kandungan Ca & MgO > 95 %
4. CO2 (oven) < 5 % ; CO2 (lap) < 7 %

Sifat-sifat Kapur
Sifat – sifat dari kapur antara lain :
• Mempunyai sifat plastis yang baik
• Sebagai mortel, memberi kekuatan pada tembok
• Dapat mengeras dengan cepat dan mudah
• Mudah di kerjakan
• Mempunyai ikatan yang bagus dengan batu atau bata
• Mengurangi sifat mengembang dari tanah
• Meningkatkan daya dukung dari tanah

STABILISASI TANAH DENGAN KAPUR UNTUK JALAN


Bahan dan Peralatan yang Digunakan :

Persyaratan bahan adalah sebagai berikut :

1) tanah yang akan distabilisasi dengan kapur adalah tanah yang


berkohesi, berbutir halus atau lempung yang sama dengan yang
direncanakan di laboratorium sesuai SK SNI T-14-1992-03 tentang Tata
Cara Perencanaan Stabilisasi Tanah dengan Kapur;

2) kapur yang akan digunakan sebagai bahan stabilisasi di lapangan


adalah sama dengan jenis kapur yang digunakan dalam perencanaan
campuran stabilisasi tanah dengan kapur di laboratorium.

Peralatan yang digunakan harus layak pakai .


Alat penghampar, yaitu :

1) tangki air;
2) alat pemadat;
3) alat bantu.

Peralatan
Peralatan yang digunakan harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :
1) alat pencampur untuk pencampuran tanah dan kapur serta air di
lapangan dapat digunakan salah satu dari alat-alat berikut ini:

1. alat-alat pertanian, yaitu : alat pencampur pupuk alat pemecah


tanah dan alat pembajak tanah;

2. alat pembentuk mekanik;


3. pencampur berjalan yaitu : alat pencampur menerus dan tempat
pencampur berjalan;

4. pengaduk rotor:

5. cangkul mekanik atau sekop mekanik;

2) alat pembentuk permukaan tanah;


3) alat penghampar, yaitu :

1. truk jangkit;

2. alat penyebar mekanik;

3. alat manual.

4) tangki air yang dilengkapi distributor untuk menyiram pekerjaan


selama pencampuran dan pemadatan;
5) alat pemadat, yaitu :

1. pemadat roda karet 10 – 12 ton;

2. pemadat roda tandem 8 – 10 ton.

6) alat bantu, yaitu :

1. penggaruk;

2. sekop;

3. roda dorong dan alat bantu lainnya yang diperlukan.

Persiapan di Lapangan
Persiapan di lapangan, sebagai berikut :

1) tanah dasar yang akan distabilisasi harus dibersihkan dari kotoran dan
bahan organis serta bahan yang tidak dikehendaki serta dijaga
kelembabannya;

2) sebelum diberi kapur untuk dicampur, tanah dipecah dan


digemburkan terlebih dahulu dengan alat yang sesuai dengan jenis tanah
yang akan digemburkan;

3) air yang digunakan harus bersih tidak mengandung asam, alkali,


bahan organik, minyak, sulfat dan klorida di atas nilai yang diijinkan
sesuai SK SNI T-14-1992-03 tentang Tata Cara Pembuatan Rencana
Stabilisasi Tanah dengan Kapur.
Percobaan Lapangan
Pencampuran kadar kapur yang sudah direncanakan di laboratorium,
diperiksa dengan faktor efisiensi pencampuran di lapangan dengan
ketentuan sebagai berikut :
1) rumus untuk menghitung faktor efisiensi, yaitu :

F.E = Kekuatan bahan yang dicampur di lapangan


kekuatan bahan yang dicampur di laboratorium . . . . . . . . . .
(1)

Keterangan : Kekuatan bahan, diuji dengan pengujian kuat tekan bebas.

2) faktor efisiensi hubungannya dengan alat pencampuran, yaitu :

1. alat pembentuk mekanik : 40 – 50%;

2. alat pencampur rotor : 60 – 80%;

3. instalasi pencampur : 80 – 100%.

3) percobaan lapangan dilaksanakan dengan membuat jalur percobaan


minimum sepanjang 200 meter.
4) selama percobaan harus dilakukan hal-hal, sebagai berikut :

1. kegemburan tanah;

2. faktor efisiensi;

3. derajat kepadatan yang dicapai oleh alat pemadat;

4. efektifitas alat pencampur;

5. cara perawatan.

Pemadatan
Ketentuan pemadatan, sebagai berikut :
1) tebal padat setiap lapisan 15 – 20 cm, jumlah lintasan untuk tebal
lapisan padat disesuaikan dengan ruas percobaan;
2) panjang maksimum pemadatan disesuaikan dengan kapasitas produksi
dan kemampuan peralatan pemadatan;
3) pemadatan harus mencapai 95% kepadatan laboratorium;
4) bila akan memadatkan bagian berikutnya, bagian tepi yang akan
disambung dan sudah dipadatkan harus dipotong tegak lurus dan roda
pemadat tidak menggilas bagian yang sudah dipadatkan terlebih dahulu
sewaktu menggilas bagian yang baru;
5) selama melaksanakan pekerjaan stabilisasi tanah dengan kapur
sebaiknya dilakukan dalam cuaca hangat.
Perawatan dan Perlindungan
Ketentuan perawatan dan perlindungan, sebagai berikut :
1) lapisan stabilisasi tanah dengan kapur harus dirawat untuk mencegah
kehilangan kadar air yang diperlukan untuk berhidrasi dengan cara
memberi penutup selama 4 hari;
2) selama masa perawatan, permukaan stabilisasi tanah dengan kapur
tidak boleh dilewati lalu lintas atau alat-alat berat.

Pengendalian Mutu
Pengendalian mutu terdiri dari pengendalian mutu persiapan tanah dan
pengendalian mutu persiapan tanah dan pengendalian mutu stabilisasi
tanah dengan kapur yang meliputi :
1) pemeriksaan kerataan;
2) pemeriksaan penggemburan;
3) pemeriksaan pencampuran;
4) pemeriksaan kepadatan;
5) pemeriksaan ketebalan;
6) perawatan.

Pemeriksaan Kerataan
Pemeriksaan kerataan, sebagai berikut :
1) kerataan tanah harus diperiksa setiap jarak 25 meter dengan
menggunakan mistar pengukur kerataan panjang 3 m;
2) ketidakrataan di bawah mistar yang diijinkan, yaitu 1,5 cm;
3) bagian yang lemah seperti terlalu basah atau kurang padat harus
diperiksa secara visual dan ditangani menurut ketentuan yang berlaku.

Pemeriksaan Penggemburan
Pemeriksaan penggemburan dapat dilakukan dengan mengambil satu
contoh tanah yang sudah diproses untuk setiap 2 m2; proses kegemburan
dapat dikontrol dengan rumus :

PK = A/B x 100% . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . (2)

Keterangan :

PK = proses kegemburan
A = berat kering tanah yang lolos saringan tanah No. 4
B = berat kering total contoh (tidak termasuk kerikil yang tertahan
saringan No. 4).

Pemeriksaan Pencampuran
Pemeriksaan pencampuran, sebagai berikut :

1) keseragaman bahan setelah pencampuran dapat dilakukan secara


visual;
2) membuat galian ke arah melintang dengan ketebalan setebal
hamparan setiap 50 m;
3) bila hasil dari penelitian visual, campuran telah menunjukkan
keseragaman yang baik maka contoh dapat diambil untuk dilakukan
pengujian untuk mencari faktor efisiensi dari pencampuran.

Pemeriksaan Kepadatan
Pemeriksaan kepadatan, sebagai berikut :
1) kepadatan harus diperiksa minimal satu titik untuk setiap 500 m2;
2) dilakukan dengan memakai alat kerucut pasir, silinder tekan atau
gelembung balon karet bila masih kurang padat maka lintasan harus
ditambah seperlunya.

Pemeriksaan Ketebalan
Pemeriksaan ketebalan, sebagai berikut :
1) ketebalan hasil stabilisasi tanah dengan kapur harus diperiksa pada
setiap jarak 50 m;
2) tebal padat stabilisasi tanah dengan kapur yang sudah selesai tidak
boleh kurang dari 1,25 cm dari tebal rencana.

Perawatan
Selama waktu perawatan perlu dilakukan pengamatan kelembaban
secara periodik setiap 24 jam, selama waktu perawatan.

CARA PENGERJAAN
Langkah-langkah cara pengerjaan stabilisasi tanah dengan kapur di
lapangan, sebagai berikut :

1. siapkan tanah yang akan distabilisasi untuk pencampuran


stabilisasi tanah lempung dengan kapur dilakukan di tempat;

2. gemburkan tanah yang akan distabilisasi sesuai dengan sub bab


3.2;

3. hamparkan kapur yang akan dicampur secara merata dengan cara


manual atau dengan alat penyebar mekanik, sesuai dengan yang
dibutuhkan apabila pencampuran dilakukan di lokasi setempat;

4. aduk kedua bahan sampai merata, selama pengadukan dapat


ditambahkan air bila diperlukan dan pemberian air dilakukan
secara bertahap sampai memenuhi ketentuan yang berlaku;

5. sesuaikan dengan yang direncanakan dan kemampuan alat


pencampur tebal campuran di lapangan sebelum dipadatkan, yaitu
30 cm lepas;

6. padatkan tanah pada butir dengan menggunakan pemadat roda


karet atau yang sejenis sesuai dengan ketentuan Sub Bab 3.3;

7. lakukan pemadatan dari tepi menuju ke tengah sejajar sumbu


jalan pada bagian yang lurus; sedangkan pada tikungan dilakukan
dari bagian yang rendah ke bagian yang tinggi sejajar sumbu
jalan, demikian pula pada tanjakan, pemadatan dilakukan dari
bagian yang rendah menuju ke tempat yang tinggi sejajar sumbu
jalan;

8. lakukan pemadatan awal dengan pemadat roda karet; pada


lintasan pertama roda penggerak dari mesin penggilas
ditempatkan di depan; setelah pemadatan awal jika masih perlu
diratakan dan dibentuk, dipakai alat pembentuk mekanik;

9. lakukan pemadatan akhir dengan alat pemadat roda tandem,


setelah kerataan memenuhi persyaratan;

10. periksa kepadatannya dan ukur tebal lapisan padat setelah


minimum 4 lintasan;

11. usahakan konstruksi lapisan campuran tidak menjadi kering,


selama pelaksanaan dan selama masa perawatan;

12. lakukan pengendalian mutu selama pekerjaan berlangsung;


pengamatan kelembaban dilakukan untuk menentukan efektivitas
cara perawatan yang digunakan.

SUMBER : http://unitedgank007.blogspot.com/2016/01/stabilisasi-tanah-
kapur.html

enis-jenis tanah yang ada di dunia berbeda dari satu daerah ke daerah
lainnya tergantung pada lingkungan yang ada di dalam daerah tersebut
(Baca : fungsi lingkungan hidup bagi manusia).

1. Tanah Aluvial

Tanah aluvial merupakan jenis


tanah yang terjadi karena endapan lumpur biasanya yang terbawa
karena aliran sungai. Tanah ini biasanya ditemukan dibagian hilir karena
dibawa dari hulu. Tanah ini biasanya bewarna coklat hingga kelabu.

Karakteristik
Tanah ini sangat cocok untuk pertanian baik pertanian padi maupun
palawija seperti jagung, tembakau dan jenis tanaman lainnya karena
teksturnya yang lembut dan mudah digarap sehingga tidak perlu
membutuhkan kerja yang keras untuk mencangkulnya.

Persebaran
Tanah ini banyak tersebar di Indonesia dari sumatera, Kalimantan,
Sulawesi, papua dan jawa.

2. Tanah Andosol

Tanah andosol merupakan salah satu jenis tanah vulkanik dimana


terbentuk karena adanya proses vulkanisme pada gunung berapi. Tanah
ini sangat subur dan baik untuk tanaman.

Karakteristik
Warna dari tanah andosol coklat keabu-an. Tanah ini sangat kaya
dengan mineral, unsure hara, air dan mineral sehingga sangat baik
untuk tanaman. Tanah ini sangat cocok untuk segala jenis tanaman
yang ada di dunia. persebaran tanah andosol biasanya terdapat di
daerah yang dekat dengan gunung berapi.

Persebaran
Di Indonesia sendiri yang merupakan daerah cincin api banyak terdapat
tanah andosol seperti di daerah jawa, bali, sumatera dan nusa tenggara.

3. Tanah Entisol
Tanah entisol merupakan saudara dari tanah andosol namun biasaya
merupakan pelapukan dari material yang dikeluarkan oleh letusan
gunung berapi seperti debu, pasir, lahar, dan lapili.

Karakteristik
Tanah ini juga sangat subur dan merupakan tipe tanah yang masih
muda. Tanah ini biasanya ditemukan tidak jauh dari area gunung berapi
bisa berupa permukaan tanah tipis yang belum memiliki lapisan tanah
dan berupa gundukan pasir seperti yang ada di pantai parangteritis
Jogjakarta.

Persebaran
Persebaran tanah entisol ini biasanya terdapat disekitar gunung berapi
seperti di pantai parangteritis Jogjakarta, dan daerah jawa lainnya yang
memiliki gunung berapi.

4. Tanah Grumusol

Tanah grumusol terbentuk dari pelapukan batuan kapur dan tuffa


vulkanik. Kandungan organic di dalamnya rendah karena dari batuan
kapur jadi dapat disimpulkan tanah ini tidak subur dan tidak cocok
untuk ditanami tanaman.

Karakteristik
Tekstur tanahnya kering dan mudah pecah terutama saat musim
kemarau dan memiliki warna hitam. Ph yang dimiliki netral hingga
alkalis. Tanah ini biasanya berada di permukaan yang tidak lebih dari
300 meter dari permukaan laut dan memiliki bentuk topografi datar
hingga bergelombang. Perubahan suhu pada daerah yang terdapat tanah
grumusol sangat nyata ketika panas dan hujan.

Persebaran
Persebarannya di Indonesia seperti di Jawa Tengah (Demak, Jepara,
Pati, Rembang), Jawa Timur (Ngawi, Madiun) dan Nusa Tenggara Timur.
Karena teksturnya yang kering maka akan bagus jika ditanami vegetasi
kuat seperti kayu jati.

5. Tanah Humus

Tanah humus merupakan tanah yang terbentuk dari pelapukan tumbuh-


tumbuhan. Mengandung banyak unsur hara dan mineral dan sangat
subur.

Karakteristik
Tanah Humus sangat baik untuk melakukan cocok tanam
karena kandungannya yang sangat subur dan baik untuk tanaman.
Tanah ini memiliki unsur hara dan mineral yang banyak karena
pelapukkan tumbuhan hingga warnanya agak kehitam hitaman.

Persebaran
Tanah ini terdapat di daerah yang ada banyak hutan. Persebarannya di
Indonesia meliputi daerah Sumatera, Kalimantan, Jawa, Papua dan
sebagian wilayah dari Sulawesi.

6. Tanah Inceptisol
Inceptol terbentuk dari batuan sedimen atau metamorf dengan warna
agak kecoklatan dan kehitaman serta campuran yang agak keabu-
abuan. Tanah ini juga dapat menopang pembentukan hutan yang asri.

Karakteristik
Ciri-ciri tanah ini adalah adanya horizon kambik dimana horizon ini
kurang dari 25% dari horizon selanjutnya jadi sangatlah unik. Tanah ini
cocok untuk perkebunan seperti perkebunan kelapa sawit.Serta untuk
berbagai lahan perkebunan lainnya seperti karet.

Persebaran
Tanah inseptisol tersebar di berbagai derah di Indonesia seperti di
sumatera, Kalimantan dan papua.

7. Tanah Laterit

Tanah laterit memiliki warna merah bata karena mengandung banyak


zat besi dan alumunium. Di indonesia sendiri tanah ini sepertinya cukup
fimiliar di berbagai daerah, terutama di daerah desa dan perkampungan.

Karakteristik
Tanah laterit termasuk dalam jajaran tanah yang sudah tua sehingga
tidak cocok untuk ditanami tumbuhan apapun dan karena kandungan
yang ada di dalamnya pula.
Persebaran
Persebarannya sendiri di Indonesia meliputi Kalimantan, Lampung, Jawa
Barat, dan Jawa Timur.

8. Tanah Latosol

Jenis tanah ini juga salah satu yang terdapat di Indonesia, tanah ini
terbentuk dari pelapukan batuan sedimen dan metamorf.

Karakteristik
Ciri-ciri dari tanah latosol adalah warnanya yang merah hingga kuning,
teksturnya lempung dan memiliki solum horizon. Persebaran tanah
litosol ini berada di daerah yang memiliki curah hujan tinggi dan
kelembapan yang tinggi pula serta pada ketinggian berkisar pada 300-
1000 meter dari permukaan laut. Tanah latosol tidak terlalu subur
karena mengandung zat besi dan alumunium.

Persebaran
Persebaran tanah latosol di daerah Sulawesi, lampung, Kalimantan
timur dan barat, Bali dan Papua.

9. Tanah Litosol
Tanah litosol merupakan tanah yang baru mengalami perkembangan dan
merupakan tanah yang masih muda. Terbentuk dari adanya perubahan
iklim, topografi dan adanya vulkanisme.

Karakteristik
Untuk mengembangkan tanah ini harus dilakukan dengan cara
menanam pohon supaya mendapatkan mineral dan unsur hara yang
cukup. tekstur tanah litosol bermacam-macam ada yang lembut,
bebatuan bahkan berpasir.

Persebaran
Biasanya terdapat pada daerah yang memiliki tingkat kecuraman tinggi
seperti di bukit tinggi, nusa tenggara barat, Jawa tengah, Jawa Barat
dan Sulawesi.

10. Tanah Kapur

Seperti dengan namanya tanah kapur berasal dari batuan kapur yang
mengalami pelapukan.

Karakteristik
Karena terbentuk dari tanah kapur maka bisa disimpulkan bahwa tanah
ini tidak subur dan tidak bisa ditanami tanaman yang membutuhkan
banyak air. Namun jika ditanami oleh pohon yang kuat dan tahan lama
seperti pohon jati dan pohon keras lainnya.

Persebaran
Tanah kapur tersebar di daerah yang kering seperti di gunung kidul
Yogyakarta, dan di daerah pegunungan kapur seperti di Jawa Tengah,
Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur.

11. Tanah Mergel


Hampir sama dengan tanah kapur, jenis tanah ini juga berasal dari
kapur, namun dicampur dengan berbagai bahan lainnya yang
membedakan adalah ia lebih mirip seperti pasir. Tanah mergel terbentuk
dari batuan kapur, pasir dan tanah liat dan mengalami pembentukan
dengan bantuan hujan namun tidak merata.

Karakteristik
Tanah ini subur dan bisa ditanami oleh persawahan dan perkebunan.
Selain itu juga terdapat banyak mineral dan air di dalamnya.

Persebaran
Tanah ini banyak terdapat di daerah dataran rendah seperti di Solo
(Jawa Tengah), Madiun dan Kediri (Jawa Timur).

12. Tanah Organosol

Tanah organosol terbentuk dari pelapukan benda organic seperti


tumbuhan, gambut dan rawa. Biasanya terdapat di daerah yang memiliki
iklim basah dan memiliki curah hujan tinggi.

Karakteristik
Ketebalan dari tanah ini sangat minim hanya 0.5 mm saja dan memiliki
diferensiasi horizon yang jelas, kandungan organic di dalam tanah
organosol lebih dari 30% dengan tekstur lempung dan 20% untuk tanah
yang berpasir. Kandungan unsur hara rendah dan memiliki tingkat
kelembapan rendah (PH 0,4) saja.

Persebaran
Tanah ini biasanya ditemukan di daerah pantai dan hampir tersebar di
seluruh pulau di Indonesia seperti sumatera, papua, Kalimantan, jawa,
Sulawesi dan nusa tenggara.

13. Tanah Oxisol

Tanah oxisol merupakan tanah yang kaya akan zat besi dan alumunium
oksida. Tanah jenis ini juga sering kita temui di daerah tropis di
Indonesia dari daerah desa hingga perkotaan.

Karakteristik
Ciri-ciri dari tanah oxisol ini antara lain adalah memiliki solum yang
dangkal dan ketebalannya hanya kurang dari 1 meter saja. warnanya
merah hingga kuning dan memiliki tekstur halus seperti tanah liat.

Persebaran
Biasanya terdapat di daerah beriklim tropis basah dan cocok untuk
perkebunan subsisten seperti tebu, nanas, pisang dan tumbuhan
lainnya.

14. Tanah Padas


Tanah padas sebenarnya tidak juga bisa dibilang sebagai tanah karena
sangat keras hampir seperti dengan batuan.

Karakteristik
Hal ini dikarenakan kandungan air didalamnya hampir tidak ada karena
tanah padas sangat padat bahkan tidak ada air. Unsur hara yang ada di
dalamnya sangat rendah dan kandungan organiknya sangat rendah
bahkan hampir tidak ada. Tanah padas tidak cocok digunakan untuk
bercocok tanam.

Persebaran
Jenis tanah ini tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia secara
merata.

15. Tanah Pasir

Seperti dengan namanya tanah pasir merupakan pelapukan dari batuan


pasir. Tanah ini biasanya banyak di daerah sekitar pantai atau daerah
kepulauan.

Karakteristik
Tanah pasir tidak memiliki kandungan air dan mineral karena teksturnya
yang sangat lemah. Tanah pasir akan sangat mudah ditemukan di
daerah yang berpasir di Indonesia. Sebagai negara kepulauan, Indonesia
adalah salah satu negara dengan jumlah tanah pasir terluas di dunia.
Jenis tanaman yag cocok untuk tanah ini adalah umbi-umbian.
Persebaran
Hampir seluruh wilayah di Indonesia memiliki persebaran tanah pasir.

16. Tanah Podsol

Tanah podsol memiliki berbagai campuran tekstur mulai pasir hingga


bebatuan kecil.

Karakteristik
Ciri-ciri dari tanah podsol antara lain tidak memiliki perkembangan
profil, warnanya kuning hingga kuning keabuan serta memiliki tekstur
pasir hingga lempung. Kandungan organiknya sangat rendah karena
terbentuk dari curah hujan yang tinggi tapi suhunya rendah.

Persebaran
Persebaran tanah ini antara lain meliputi Kalimantan utara, Sulawesi
utara dan papua serta daerah lainnya yang tidak pernah kering alias
selalu basah.

17. Tanah Podsolik Merah Kuning

Tanah ini sangat mudah ditemukan di seluruh wilayah Indonesia karena


persebarannya yang hampir rata.
Karakteristik
Tanah ini bewarna merah hingga kuning dan kandungan organic serta
mineralnya akan sangat mudah mengalami pencucian oleh air hujan.
Oleh karena itu untuk menyuburkan tanah ini harus ditanami tumbuhan
yang memberikan zat organic untuk kesuburan tanah serta pupuk baik
hayati maupun hewani.

Persebaran
Tanah ini dapat digunakan untuk perkebunan dan persawahan serta
dapat ditemukan di Sumatera, Sulawesi, Papua, Kalimantan dan Jawa
terutama jawa bagian barat.

18. Tanah Liat

Tanah liat adalah jenis tanah


yang terdiri dari campuran dari aluminium serta silikat yang memiliki
diameter tidak lebih dari 4 mikrometer. Tanah liat terbentuk dari adanya
proses pelapukan batuan silika yang dilakukan oleh asam karbonat dan
sebagian diantaranya dihasilkan dari aktivitas panas bumi.

Karakteristik
Tanah liat tersebar di sebagian besar wilayah Indonesia secara merata.
Biasanya digunakan untuk membuat kerajinan hingga keperluan
lainnya. Tanah liat biasanya memiliki warna abu abu pekat atau hampir
mengarah ke warna hitam, biasanya terdapat di bagian dalam tanah
ataupun di bagian permukaan.

Persebaran
Tanah liat hampir tersebar secara merata di seluruh wilayah di
Indonesia, hanya yang membedakannya adalah kedalaman tanah
tersebut. Selain 18 Jenis tanah ada 10 jenis tanah lainnya yang ada di
Indonesia ataupun di dunia.

Sumber : https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/tanah/jenis-jenis-tanah

Tanah merupakan hasil pelapukan batuan, dimana merupakan salah satu


objek yang dipelajari dalam GEOLOGI. Masuk ke dalam subkategori
dari GEOLOGI TEKNIK.
Seperti yang sudah dijelaskan pada artikel mengenai Geologi Teknik
Sebagai Kekuatan dan Kelemahan Geologi, tanah memiliki beberapa
jenis tanah yang dipakai dalam penggolongan nama tanah di lapangan:

 Pasir dan Kerikil merupakan agregat yang memiliki sususan fragmen


angular atau sub angular dan tidak berkohesi. Ukuran partikel sebagai
berikut:
 > 8 inchi dapat disebut boulder
 1/8 - 8 inchi dapat disebut kerikil
 < 1/8 inchi dapat disebut pasir
 Harpan merupakan jenis tanah yang memiliki ketahanan sangat besar
terhadap alat bor.
 Lanau Anorganik merupakan jenis tanah yang memiliki butiran yang
halus dengan tanpa atau sedikit plastisitas
 Lanau Organik merupakan jenis tanah agak plasti yang memiliki
butiran yang halus dengan campuran bahan organik dan memiliki
permeabilitas yang sangat rendah
 Lempung merupakan agregrat pertikel yang berukuran mikroskopik
yang bersifat plastis dengan permeabilitas sangat rendah. Jika dalam kering,
lempung menjadi sangat keras.
 Lempung Organik merupakan lempung yang memimiliki sifat fisik dan
dipengaruhi dengan bahan organik. Rata-rata berwarna hitam atau abu-abu
tua.
 Gambut atau dapat disebut peat merupakan agregat yang agak
berserat dan berasal dari tumbuh-tubuhan.

Profile Tanah

Jika terdapat tanah campuran dengan susunan dari dua tanah yang berbeda,
maka penamaannya mengutamakan campuran yang paling domonan sebagai
kata benda dimana yang tidak dominan sebagai kata sifat. Misalkan:
Lempung pasiran merupakan tanah yang memiliki kandungan dominan sifat-
sifat lempung dengan sedikit kandungan pasir.
Untuk penamaan secara kualititatif, agregat pasir dan kerikil harus dinyatakan
dalam istilah: desnse (padat), medium (sedang), dan loose (lepas).
Sedangkan untuk penamaan lempung, harus dinyatakan dengan istilah: soft
(lunak), medium (sedang), stiff (kaku), dan hard (keras).

Klasifikasi dan Deskripsi Tanah

Untuk dapat mendeskripsikan tanah/batuan, kita harus melihat kepada


beberapa parameter yang saling berhubungan dengan material dan massa.
Seperti pada artikel sebelumnya yaitu: Deskripsi Batuan Beku, Deskripsi
Batuan Sedimen, tanah juga dapat dideskripsikan berdasarkan kepada
genesis, struktur, besar butir, kandungan utama, mienral yang terkandung.
Tujuan dari mendeskripsikan tanah adalah untuk menentukan jenis dari tanah
tersebut sehingga dapat diketahui mengenai sifat-sifat tanah tersebut.

Point penting dalam mendeskripsikan tanah yaitu:

 Deskripsikan sifat dari bahannya yaitu seperti warna, tekstur proporsi


S, M, C, bentuk partikel dan komposisi, tingkat pelapukan, strength,
konsistensi, plastisitas, Shear strength, kondisi kelembaban, kepadatan relatif
(density) & compactions.
 Deskripsikan sifat dari massa tanah yaitu struktur (contohnya
laminate, blocky, dan lain-lain), diskontinuitas tanah tersebut, profil
pelapukan. Untuk melakukan beberapa variabel deskripsi pada point ini dapat
dilakukan di laboratorium, sebagian besar dapat dilakukan di lapangan.
 Nama tanah yang dipakai adalah nama dominan beserta kandungan
minornya.

KLASIFIKASI TANAH (USCS)


Klasifikasi tanah sudah ditentukan yang digunakan untuk menentukan jenis
tanah agar dapat mengetahui gambaran sepintas tentang sifat-sifat tanah.
USCS (Unified Soil Classification System) merupakan salah satu cara
klasifikasi tanah yang sering digunakan yang diusulkan oleh Cassagrande.
Dasar klasifikasi USCS membedakan berdasarkan pada sifat tekstur tanah
dan melihat jenis ukuran butri tanah yang kemudian dibagi menjadi 3
kelompok, yaitu:

 Tanah berbutir halus merupakan tanah yang dapat lolos saringan 200
mesh lebih dari 50%.
 Tanah berbutir kasar merupakan tanah yang dapat lolos saringan >
200 mesh lebih dari 50%.
 Tanah organik.
Tanah dibagi dalam 15 simbol tertentu, yang berisi dari gabungan
atau individu dimana terdapat simbol-simbol komponen, gradasi dan batas
cair (wL). Berikut pembagiannya:

 Simbol komponen:
 Kerikil (G, gravel)
 Pasir (S, sand)
 Lanau (M, mo)
 Lempung (C, clay)
 Organik (O, organic)
 Gambut (Pt, peat)
 Simbol gradasi:
 Bergradasi baik (W, well graded)
 Bergradasi buruk (P, poor graded)
 Simbol batas cair:
 Batas cair tinggi (H, high plasticity)
 Batas cair rendah (L, low plasticity)
(catatan : batas cair didapat dari serangkaian test)

Jenis Tanah Prefiks Sub-kelompok Sufiks Simbol


Nama

Kerikil G Gradasi Baik W GW

Kerikil G Gradasi Buruk P GP

Pasir S Lanauan M SM

Pasir S Lempungan C SC

Lanau M Batas cair <50% L ML

Lempung C Batas cair <50% L CL

Organik O Batas cair >50% H OH

Gambut Pt

Contoh Klasifikasi tanah cara USCS

Dimana:

 SM = Pasir lanauan
 GP = Kerikil gradasi buruk
 MH = Lanau plastisitas tinggi (wL<50%)
 CL = Lempung plastisitas rendah (wL>50%)
Contoh:
SC = Pasir (S) lempungan (C)

GW = Kerikil (G) gradasi baik (W)

ML = Lanau (M) plastisitas rendah (L ; batas cair wL < 50 % )


CH = Lempung (C) plastisitas tinggi (H ; batas cair wL > 50 % )

Penentuan batas cair (wL) dapat dilakukan melewati beberapa uji di


laboratorium, yaitu :

 Uji batas cair (liquid limit)


 Uji kadar air tanah
 Uji batas plastis

Daftar Artikel:

1. Pengertian & Sejarah


 Duel Sengit: Fixists vs Mobilists
 Penjelasan Komposisi Isi Perut Bumi
 Sejarah Perkembangan Ilmu Geologi
 Pengertian dan Prospek Kerja Geologi

2. Petrologi
 Perputaran Rantai Siklus Batuan
 Penjelasan Perbedaan Antara Diskontinu dan Kontinu
Pada Deret Bowen
 Jenis dan Klasifikasi Batuan Beku
 Deskripsi Batuan Beku
 Batuan Sedimen Hasil PETSL
 Deskripsi Batuan Sedimen

3. Geologi Struktur
 Apa Pengertian dari Divergen, Konvergen, dan Transform?
 Gerak Vertikal dan Horizontal Kulit Bumi
 Are You “Pure”? Or “Simple”? Let’sTalk to The Shear Rock!
 Duplex Transtension - Transpression, Kombinasi Sesar Geser

4. Geoteknik
 Geologi Teknik Sebagai Kekuatan dan Kelemahan Geologi
 Batuan vs Tanah, Tidak serupa Tetapi Berhubungan
 Klasifikasi dan Deskripsi Tanah

5. Stragrafi
o Fluktuasi Naik dan Turun Muka Air Laut
6. Geomigas
o Drill Stem Test (DST) Formasi Geologi

Disini saya juga masih belajar mengenai geologi yang saya sharing kan dari
apa yang sudah saya dapat di bangku perkuliahan. Kritik, saran, dan koreksi
sangat saya hargai dan saya sangat berterima kasih. Terima kasih sudah mau
merelakan waktunya untuk membaca blog saya yang sederhana ini. Sekian
artikel saya mengenai Klasifikasi dan Deskripsi Tanah.

Sumber: Buku Responsi 2009, 2010, blog dosen saya Pak Zulfialdi, dan
bahan ajar selama kuliah.

Sumber : https://ilmubatugeologi.blogspot.com/2015/06/klasifikasi-dan-deskripsi-
tanah.html

Beri Nilai