Anda di halaman 1dari 9

SAP MANFAAT PENGGUNAAN MASKER

Topik : Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi


Sub Topik : Penggunaan Masker Baik Dan Benar
Sasaran : Keluarga Pasien
Tempat : Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Ntb
Hari/Tanggal : Sabtu,9 Februari 2019
Waktu : 1 X 30 Menit (Penyuluhan)

A. Latar Belakang
Rumah sakit adalah tempat dimana orang-orang sakit dirawat dengan
berbagai macam penyakit yang diderita. Dimana sebagai tenaga medis kita harus
memperhatikan cara perawatan pasien baik yang steril maupun non steril supaya
pasien tidak terkena infeksi diluar penyakitnya. Sebagian besar di rumah sakit
telah banyak ditemukan pasien terkena infeksi yang berasal diluar penyakit yang
diderita atau biasa disebut dengan istilah infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial
adalah infeksi yang diperoleh dari rumah sakit dan tidak diderita oleh psien
sebelumnya. Untuk mengurangi infeksi nosokomial supaya pasien tidak terkena
infeksi dari luar penyakitnya bisa dilakukan upaya pencegahan seperti sebelum
dan sesudah melakukan tindakan kita harus cuci tangan dengan langkah yang
benar.
B. Tujuan Instruksional Umum
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan tentang Pencegahan Infeksi Nosokomial
selama 1 x 30 menit diharapkan keluarga pasien mengerti tentang Pencegahan
Infeksi Nosokomial.
C. Tujuan Instruksional Khusus
a. Keluarga mampu memahami pengertian infeksi nosokomial
b. Keluarga mampu memahami tentang pencegahan infeksi nosokomial
c. Keluarga mampu memahami tentang 6 langkah cuci tangan dengan benar
D. Pokok Bahasan
Penggunaan masker dalam pencegahan dan pengendalian infeksi
E. Sub Pokok Bahasan
1. Pengertian infeksi
1
2. Proses dan Sumber Penyebaran Infeksi
3. Cara Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
F. Metode
1. Ceramah
2. Diskusi Kelompok
3. Tanya Jawab
G. Media
1. Leaflet
H. Kegiatan Penyuluhan
KEGIATAN
NO. WAKTU KEGIATAN PENYULUH
PESERTA
1. 5 menit Pembukaan :
1. Membuka kegiatan dengan 1. Menjawab salam
mengucapkan salam 2. Mendengarkan
2. Memperkenalkan diri 3. Memperhatikan
3. Menjelaskan tujuan dari 4. Memperhatikan
penyuluhan
4. Menyebutkan materi yang akan
diberikan
2. 15 menit Pelaksanaan :
1. Menjelaskan pengertian infeksi 1. Memperhatikan
2. Menjelaskan proses dan sumber 2. Bertanya dan
penyebaran infeksi menjawabpertany
3. Menjelaskan cara pengendalian dan aan yang
pencegahan infeksi diajukan
3. 5 menit Evaluasi :
1. Menanyakan kepada peserta 1. Menjawab
tentang materi yang telah diberikan, pertanyaan
dan reinforcement kepada pasien
dan keluarga yang dapat menjawab
pertanyaan
4. 5 menit Terminasi :
1. Mengucapkan terimakasih atas 1. Mendengarkan

2
peran serta peserta 2. Menjawab salam
2. Mengucapkan salam penutup

I. Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Peserta hadir di tempat penyuluhan
b. Penyelenggaraan Penyuluhan dilakukan di ruang tunggu ok cito
c. Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan 1 hari
sebelumnya (Satuan Acara Penyuluhan)
d. Tidak ada peserta penyuluhan yang meninggalkan tempat sebelum
penyuluhan selesai
e. Pada penyuluhan sarana dan prasarana yang menunjang telah tersedia
antara lain : leaflet dan absensi peserta penyuluhan
2. Evaluasi Proses
a. Masing-masing anggota tim bekerja sesuai dengan tugas
b. Peserta antusias terhadap materi penyuluhan, serta peserta yang terlibat
aktif dalam penyuluhan 50% dari yang hadir
3. Evaluasi Hasil
a. 100% sarana dan prasarana sudah lengkap
b. 90% kegiatan edukasi sudah dilakukan
c. 100% setiap anggota berjalan sesuai jobdesk
d. 100% kehadiran tepat waktu
e. 95% komunikasi antar peserta dan fasilitator berjalan dengan baik
f. 95% peserta mengerti dan memahami penjelasan yang diberikan oleh
penyuluh yaitu sesuai dengan tujuan khusus yaitu dengan mampu
menyawab post test

3
Lampiran 1
A. Pengertian Infeksi Nosokomial atau HAIs
Health-care Associated Infections (HAIs) adalah penyakit infeksi yang
pertama muncul (penyakit infeksi yang tidak berasal dari pasien itu sendiri)
dalam waktu antara dua sampai empat hari setelah pasien masuk rumah sakit atau
tempat pelayanan kesehatan lainnya yang berasal dari proses penyebaran di
sumber pelayanan kesehatan baik melalui pasien, petugas kesehatan,
pengunjung, maupun sumber lainnya dan mulai menunjukkan suatu gejala
selama seseorang itu dirawat atau setelah selesai dirawat.
Infeksi yang terjadi dirumah sakit atau dalam sistem pelayanan kesehatan
yang berasal dari proses penyebaran disumber pelayanan kesehatan, baik melalui
1. Pasien
Pasien merupakan unsur pertama yang dapat menyebarkan infeksi kepada
pasien lainnya, petugas kesehatan, pengunjung, atau benda dan alat kesehatan
yang lainnya.
2. Petugas kesehatan
Petugas kesehatan dapat menyebarkan infeksi melalui kontak langsung yang
dapat menularkan berbagai kuman ke tempat lain.
3. Pengunjung
Pengunjung dapat menyebarkan infeksi yang didapat dari luar ke dalam
lingkungan rumah sakit, atau sebaliknya yang dapat dari dalam rumah sakit
keluar rumah sakit.
4. Sumber lainnya
Sumber lain yang dimaksud disini adalah lingkungan rumah sakit yang
meliputi lingkungan umum atau kondisi kebersihan rumah sakit atau alat
yang ada dirumah sakit yang dibawa oleh pengunjung atau petugas kesehatan
kepada pasien dan sebaliknya.
B. Rantai Penularan Infeksi
Menurut Potter & Perry (2005) proses terjadinya infeksi seperti rantai yang
saling terkait antar berbagai faktor yang mempengaruhi, Proses tersebut
melibatkan beberapa unsur diantaranya:

4
1. Agen infeksi (infectious agent) adalah mikroorganisme yang dapat
menyebabkan infeksi. Pada manusia dapat berupa bakteri, virus, ricketsia,
jamur dan parasit.
2. Reservoir atau tempat dimana agen infeksi dapat hidup, tumbuh,
berkembang biak dan siap ditularkan kepada orang. Reservoir yang paling
umum adalah manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, tanah, air dan bahan-
bahan organik lainnya. Pada manusia: permukaan kulit, selaput lendir saluran
nafas atas, usus dan vagina
3. Port of exit (pintu keluar) adalah jalan darimana agen infeksi meninggalkan
reservoir. Pintu keluar meliputi : saluran pernafasan, saluran pencernaan,
saluran kemih dan kelamin, kulit dan membran mukosa, transplasenta dan
darah serta cairan tubuh lain.
4. Transmisi (cara penularan) adalah mekanisme bagaimana transport agen
infeksi dari reservoir ke penderita (yang suseptibel). Ada beberapa cara
penularan yaitu :
a. Kontak (contact transmission):
b. Langsung/direct: kontak badan ke badan pada saat pemeriksaan fisik,
memandikan pasien.
c. Tidak langsung/indirect: kontak melalui objek (benda/alat) perantara:
melalui instrumen, jarum, kasa, tangan yang tidak dicuci.
d. Droplet: partikel droplet > 5 μm melalui batuk, bersin, bicara, jarak
penyebaran pendek, tidak bertahan lama di udara, “deposit” pada mukosa
konjungtiva, hidung, mulut contoh: Difteria, Pertussis, Mycoplasma,
Haemophillus influenza type b (Hib), virus Influenza, mumps, rubella.
e. Airborne: partikel kecil ukuran < 5 μm, bertahan lama di udara, jarak
penyebaran jauh, dapat terinhalasi, contoh: Mycobacterium
tuberculosis, virus campak, Varisela (cacar air), spora jamur.
f. Vehikulum : Bahan yang dapat berperan dalam mempertahankan
kehidupan kuman penyebab sampai masuk (tertelan) pada pejamu yang
rentan. Contoh: air, darah, serum, plasma, tinja, makanan.
g. Vektor : Artropoda (umumnya serangga) atau binatang lain yang dapat
menularkan kuman penyebab cara menggigit pejamu yang rentan atau
menimbun kuman penyebab pada kulit pejamu atau makanan. Contoh:
nyamuk, lalat, pinjal/kutu, binatang pengerat.
5
5. Port of entry (Pintu masuk) adalah tempat dimana agen infeksi memasuki
pejamu (yang suseptibel). Pintu masuk bisa melalui: saluran pernafasan,
saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin, selaput lendir, serta kulit
yang tidak utuh (luka).
6. Pejamu rentan (suseptibel) adalah orang yang tidak memiliki daya tahan
tubuh yang cukup untuk melawan agen infeksi serta mencegah infeksi atau
penyakit. Faktor yang mempengaruhi: umur, status gizi, status imunisasi,
penyakit kronis, luka bakar yang luas, trauma atau pembedahan, pengobatan
imunosupresan. Sedangkan faktor lain yang mungkin berpengaruh adalah
jenis kelamin, ras atau etnis tertentu, status ekonomi, gaya hidup, pekerjaan
dan herediter.

C. Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi (PPI)


Proses terjadinya infeksi bergantung kepada interaksi antara suseptibilitas
pejamu, agen infeksi (patogenesis, virulesi dan dosis) serta cara penularan.
Identifikasi faktor resiko pada penjamu dan pengendalian terhadap infeksi
tertentu dapat mengurangi insiden terjadinya infeksi (HAIs), baik pada pasien
ataupun pada petugas kesehatan. (Depertemen Kesehatan, 2009).
D. Elemen yang Berperan Dalan PPI
1. Petugas kesehatan
2. Pasien
3. Keluarga pasien
4. Pengunjung Rumah Sakit
5. Setiap orang yang datang ke rumah sakit

6
E. Hal Penting tentang PPI yang Harus Diketahui Oleh Pasien dan
Keluarga Pasien:
1. Cuci tangan dengan cara yang benar di saat yang tepat
Tangan merupakan media transmisi patogen tersering di RS. Menjaga
kebersihan tangan dengan cuci tangan dengan baik dan benar dapat
mencegah penularan mikroorganisme dan menurunkan frekuensi infeksi
nosokomial. Teknik yang digunakan adalah teknik cuci tangan 6 langkah.
Dapat memakai sabun dan air mengalir atau handrub berbasis alkohol.
Kapan Mencuci Tangan?
a. Sebelum kontak dengan pasien
b. Sebelum melakukan tindakan aseptik dan bersih
c. Setelah terpapar cairan tubuh pasien
d. Setelah kontak dengan pasien
e. Setelah terpapar dengan benda-benda disekitar pasien
Alternatif Kebersihan Tangan
Handrub berbasis alkohol 70%:
a. Pada tempat dimana akses wastafel dan air bersih terbatas
b. Tidak mahal, mudah didapat dan mudah dijangkau
c. Dapat dibuat sendiri (gliserin 2 ml dan 100 ml alkohol 70 %)
d. Jika tangan terlihat kotor, mencuci tangan air bersih mengalir dan sabun
harus dilakukan
e. Handrub antiseptik tidak menghilangkan kotoran atau zat organik,
sehingga jika tangan kotor harus mencuci tangan sabun dan air mengalir
f. Setiap 5 kali aplikasi Handrub harus mencuci tangan sabun dan air
mengalir
g. Mencuci tangan sabun biasa dan air bersih mengalir sama efektifnya
mencuci tangan sabun antimikroba
h. Sabun biasa mengurangi terjadinya iritasi kulit

Enam langkah kebersihan tangan

Langkah 1 : Gosokkan kedua telapak tangan


Langkah 2 : Gosok punggung tangan kiri dengan telapak tangan kanan, dan
lakukan sebaliknya

7
Langkah 3 : Gosokkan kedua telapak tangan dengan jari-jari tangan saling
menyilang
Langkah 4 : Gosok ruas-ruas jari tangan kiri dengan ibu jari tangan kanan
dan lakukan sebaliknya
Langkah 5 : Gosok Ibu jari tangan kiri dengan telapak tangan kanan secara
memutar, dan lakukan sebaliknya
Langkah 6 : Gosokkan semua ujung-ujung jari tangan kanan di atas telapak
tangan kiri, dan lakukan sebaliknya
Untuk mencuci tangan :
1. Lepaskan perhiasan ditangan dan pergelangan.
2. Basahi tangan dengan air bersih dan mengalir.
3. Gosok kedua tangan dengan kuat menggunakan sabun biasa atau yang
mengandung anti septik selama 10-15 detik (pastikan sela-sela jari
digosok menyeluruh). Tangan yang terlihat kotor harus dicuci lebih lama.
4. Bilas tangan dengan air bersih dan mengalir.
5. Biarkan tangan kering dengan cara diangin-anginkan atau dikeringkan
dengan kertas tissue atau handuk pribadi yang bersih dan kering.
2. Penggunaan masker
Masker harus dikenakan bila diperkirakan ada percikan atau
semprotan dari darah atau cairan tubuh ke wajah. Selain itu, masker
mencegah penularan kuman patogen melalui mulut dan hidung.
Masker harus cukup besar untuk menutupi hidung, mulut, bagian
bawah dagu, dan rambut pada wajah (jenggot). Masker yang dipakai
dengan tepat terpasang pas nyaman di atas mulut dan hidung sehingga
kuman patogen dan cairan tubuh tidak dapat memasuki atau keluar dari
sela-selanya.
Langkah-langkah penggunaan masker:
a. Ambil bagian atas masker (biasanya sepanjang tepi tersebut ada stip
motal yang tipis).
b. Pegang masker pada 2 tali atau ikatan bagian atas belakang kepala
dengan tali melewati atas telinga.
c. Ikatkan dua tali bagian bawah masker sampai ke bawah dagu.
d. Dengan lembut jepitkan pita motal bagian atas pada batang hidung

8
DAFTAR PUSTAKA

Azwar, A, 1990, Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan, Jakarta, Yayasan. Mutiara.


Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta

Brooker, C. 2008. Ensiklopedia Keperawatan. Jakarta: EGC.

Depkes RI. 2010. Pusat Promosi Kesehatan Pedoman Pengembangan Kawasan


Tanpa Rokok: Jakarta: Kemenkes RI

Depkes RI. 2009. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit
dan Fasiltas Pelayanan Kesehatan Lainnya. SK Menkes No 382/Menkes/2007.
Jakarta: Kemenkes RI

Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses &.
Praktek. Edisi 4. Vol 1. Jakarta : EGC

http://web.rshs.or.id/limbah-rumah-sakit/

http://www.kompasiana.com/dr_wahyutriasmara/jangan-ajak-anak-anak-ke-rumah-
sakit_5520423aa333112745b65a6b