Anda di halaman 1dari 11

TUGAS PARASITOLOGI

DISUSUN OLEH :
IHSAN ALMUHARDI
H1041151018

PROGRAM STUDI BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang

Cacing merupakan salah satu parasit yang menghinggapi manusia. Penyakit


infeksi yang disebabkan oleh cacing masih tetap ada dan masih tinggi
prevalensinya, terutama di daerah yang beriklim tropis seperti Indonesia. Hal ini
merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih perlu ditangani. Penyakit
infeksi yang disebabkan cacing itu dapat di karenakan di daerah tropis khususnya
Indonesia berada dalam posisi geografis dengan temperatur serta kelembaban yang
cocok untuk berkembangnya cacing dengan baik (Kadarsan,2005).

Sebagian besar infeksi dengan parasit berlangsung tanpa gejala atau


menimbulkan gejala ringan. Oleh sebab itu pemeriksaan laboratorium sangat
dibutuhkan karena diagnosis yang hanya berdasarkan pada gejalaklinik kurang
dapat dipastikan. Misalnya, infeksi yang disebabkan oleh cacing gelang (Ascaris
lumbricoides). Dalam identifikasi infeksinya perlu adanya pemeriksaan, baik dalam
keadaan cacing yang masih hidup ataupun yang telah dipulas. Cacing yang akan
diperiksa tergantung dari jenis parasitnya. Untuk cacing atau protozoa usus akan
dilakukan pemeriksaan melalui feses atau tinja (Kadarsan,2005).
Pemeriksaan feses di maksudkan untuk mengetahui ada tidaknya telur
cacing ataupun larva yang infektif. Pemeriksaan feses ini juga di maksudkan untuk
mendiagnosa tingkat infeksi telur cacing pada pasien yang di periksa fesesnya.
Prinsip dasar untuk diagnosis infeksi parasit adalah riwayat yang cermat dari
pasien. Teknik diagnostik merupakan salah satu aspek yang penting untuk
mengetahui adanya infeksi penyakit cacing, yang dapat ditegakkan dengan cara
melacak dan mengenal stadium parasit yang ditemukan. Sebagian besar infeksi
dengan parasit berlangsung tanpa gejala atau menimbulkan gejala ringan. Oleh
sebab itu pemeriksaan laboratorium sangat dibutuhkan karena diagnosis yang hanya
berdasarkan pada gejala klinik kurang dapat dipastikan (Gandahusada, Pribadi dan
Herry, 2000)
1.2 Rumusan masalah
Rumusan masalah yang dikemukakan dalam makalah ini adalah sebagai
berikut:
1) Apakah yang dimaksud cacing Ascaris lumbricoides ?
2) Bagaimana siklus hidup dari Ascaris lumbricoides ?
3) Bagaimana Morfologi tubuh dan telur Ascaris lumbricoides ?

1.3 Tujuan
Tujuan dari dikemukakaknnya makalah ini adalah sebagai berikut:
1) Mengetahui apakah yang dimaksud cacing Ascaris lumbricoides
2) Mengetahui bagaimana siklus hidup dari Ascaris lumbricoides
3) Mengetahui bagaimana Morfologi tubuh dan telur Ascaris lumbricoides
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Epidemiologi
Ascaris lumbricoides tersebar luas di seluruh dunia (kosmopolitan), terutama
di daerah tropis dan sub tropis yang kelembapan udaranya tinggi (Onggowaluyo,
2002). Berdasarkan survei yang dilakukan dibeberapa tempat di Indonesia,
prevalensi infeksi cacing gelang ini mencapai sekitar 60-90% dan merupakan
prevalensi terbesar dibandingkan infeksi cacing lainnya (Ismid et al., 2008). Di
dunia lebih dari 2 milyar orang terinfeksi berbagai jenis cacing. Jumlah orang yang
terinfeksi Ascaris lumbricoides di Asia, Afrika dan Latin Amerika adalah 1,2
sampai 1,4 milyar dengan rata-rata 1,8 sampai 10,5 juta per hari. Angka kematian
akibat cacing ini sekitar 3.000 sampai 60.000 per tahun (WHO, 2012).
2.2 Morfologi
Cacing dewasa berbentuk giling (silindris) memanjang, berwarna krem/ merah
muda keputihan dan panjangnya dapat mencapai 40cm. Ukuran cacing betina
20-35cm, diameter 3-6mm dan cacing jantan 15-31cm dan diameter 2,4mm. Mulut
cacing ini memiliki tiga tonjolan bibir berbentuk segitiga (satu tonjolan di
bagian dorsal dan dua lainnya di ventrolateral) dan bagian tengahnya terdapat
rongga mulut (buccal cavity). Cacing jantan mempunyai ujung posterior tajam
agak melengkung ke ventral seperti kait, mempunyai 2 buah copulatory spicule
panjangnya 2mm yang muncul dari orifisium kloaka dan di sekitar anus terdapat
sejumlah papillae. Cacing betina mempunyai ujung posterior tidak melengkung
ke arah ventral tetapi lurus. Cacing betina juga mempunyai vulva yang sangat
kecil terletak di ventral antara pertemuan bagian anterior dan tengah tubuh
dan mempunyai tubulus genitalis berpasangan terdiri dari uterus, saluran telur
(oviduct) dan ovarium. Cacing dewasa memiliki jangka hidup 10-12 bulan
(Rusmanto, 2012).
2.3 Siklus Hidup
Telur cacing yang telah dibuahi yang keluar bersama tinja penderita, di dalam
tanah yang lembap dan suhu yang optimal akan berkembang menjadi telur infektif
yang mengandung larva cacing. Infeksi terjadi dengan masuknya telur cacing yang
infektif ke dalam mulut melalui makanan atau minuman yang tercemar tanah yang
mengandung tinja penderita askariasis. Dalam usus halus bagian atas, dinding telur
akan pecah sehingga larva dapat keluar, untuk selanjutnya menembus dinding usus
halus dan memasuki vena porta hati. Bersama aliran darah vena, larva akan beredar
menuju jantung, paru-paru, lalu menembus dinding kapiler masuk ke dalam alveoli.
Masa migrasi ini berlangsung sekitar 15 hari. Dari alveoli larva cacing berpindah
ke bronki, trakea dan laring, untuk selanjutnya masuk ke faring, esofagus, turun ke
lambung akhirnya sampai ke usus halus. Sesudah berganti kulit, larva cacing akan
tumbuh menjadi cacing dewasa. Sirkulasi dan migrasi larva cacing dalam darah
tersebut disebut lung migration. Dua bulan sejak infeksi (masuknya telur infektif
per oral) terjadi, seekor cacing betina mampu mulai bertelur, yang jumlah produksi
telurnya dapat mencapai 200.000 butir per hari (Rusmanto, 2007).

Siklus Hidup Ascaris Cacing dewasa hidup dalam lumen usus halus. Seekor
cacing betina dapat menghasilkan sekitar 200.000 telur per hari, yang dikeluarkan
dengan tinja . Telur yang belum dibuahi dapat tertelan tetapi tidak infektif. Telur
yang telah dibuahi membentuk embrio dan menjadi infektif sesudah 18 hari sampai
beberapa minggu , bergantung pada kondisi lingkungan (optimum: lembab, hangat,
depending on the environmental conditions (optimum: moist, warm, tanah yang
tidak terkena cahaya matahari langsung. Sesudah telur-telur infektif di telan , larva
menetas , menginvasi mukosa usus, dan dibawa melalui saluran portal, kemudian
ke sirkulasi sistemik ke paru-paru . Larva selanjutnya matang di paru-paru (10
sampai 14 hari), menembus ke dinding alveoli, naik ke cabang bronkus ke
tenggorokan, dan ditelan . Setelah sampai di usus halus, mereka berkembang
menjadi cacing dewasa . Dibutuhkan antara 2 dan 3 bulan mulai dari menelan telur
yang infektif sampai menjadi betina dewasa yang dapat bertelur. Cacing dewasa
dapat hidup selama 1 sampai 2 tahun.
2.3 Morfologi Telur
Telur Ascaris lumbricoides ditemukan dalam dua bentuk, yang dibuahi
(fertilized) dan tidak dibuahi (unfertilized). Telur cacing ini memerlukan waktu
inkubasi sebelum menjadi infektif. Perkembangan telur menjadi infektif tergantung
pada kondisi lingkungan, misalnya temperatur, sinar matahari, kelembapan, dan
tanah liat. Telur akan mengalami kerusakan karena pengaruh bahan kimia, sinar
matahari langsung, dan pemanasan 70oC. Telur yang dibuahi berbentuk bulat
lonjong, ukuran panjang 45-75 mikron dan lebarnya 35-50 mikron. Telur yang
dibuahi ini berdinding tebal terdiri dari tiga lapis, yaitu lapisan dalam dari bahan
lipoid (tidak ada pada telur unfertile), lapisan tengah dari bahan glikogen, lapisan
paling luar dari bahan albumin (tidak rata, bergerigi, berwarna coklat keemasan
berasal dari warna pigmen empedu). Kadang-kadang telur yang dibuahi, lapisan
albuminnya terkelupas dikenal sebagai decorticated eggs. Telur yang dibuahi ini
mempunyai bagian dalam tidak bersegmen berisi kumpulan granula lesitin yang
kasar. Telur yang tidak dibuahi mempunyai panjang 88– 94 mikron dan lebarnya
44 mikron. Telur unfertile dikeluarkan oleh cacing betina yang belum mengalami
fertilisasi atau pada periode awal pelepasan telur oleh cacing betina fertil
(Natadisastra, 1996).
Diagnosis Diagnosis didasarkan pada identifikasi dari telur-telur (40-70
mikrometer x 35-50 mikrometer – gambar 2) dalam tinja.
Telur Ascaris yang sudah dibuahi, masih dalam tahap uniseluler, ketika
mereka dikeluarkan dalam tinja. Telur secara normal berada dalam tahap ini ketika
dikeluarkan di dalam tinja. (Perkembangan lengkap dari larva membutuhkan 18
hari pada kondisi yang mendukung) (Dawanto,2008).
Telur, belum dibuahi (kiri) dan sudah dibuahi (kanan).

Telur yang belum dibuahi. Pada lapisan luar terdapat penonjolan seperti
puting susu yang tampak jelas

Telur yang sudah dibuahi. Embrio terlihat dengan jelas di dalam telur
Telur yang belum dibuahi tanpa lapisan luar yang menonjol seperti putting
susu (dekortikasi)

Telur yang mengandung larva, yang akan menjadi infektif bila dicerna.

Dua telur yang telah dibuahi dari pasien yang sama, dimana embrio telah
mulai berkembang (hal ini terjadi ketika sample tinja tidak diproses selama
beberapa hari tanpa lemari es). Embrio pada tahap awal pembelahan (4-6 sel) dapat
secara jelas dilihat
Larva menetas dari sebuah telur
2.4 Terapi dan Pencegahan
Mebendazole, 200 mg, untuk dewasa dan 100 mg untuk anak-anak, selama
3 hari efektif. Higiene yang baik adalah upaya pencegahan terbaik.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimplan
1. Ascaris lumbricoides merupakan cacing tersebar luas di seluruh dunia
udaranya tinggi.Mempunyai bentuk tubuh betina lebih besar dari pada
jantan.
2. Ascaris lumbricoides merupakan cacing yang mempunyai siklus hidup
yang dimulai dari fas telur yang berada pada feses penderita. Telur akan
keluar ke lingkungan beserta dengan feses dan dapat mesuk ke tubuh apabila
memakan makanan dan minuman yang terkontaminasi telur. Didalam tubuh
telur akan berubah menjai larva dan berada dibagian usus lalu menyebar ke
seluruh tubuh dan dapat hidup selama 2 tahun.
3. Telur Ascaris lumbricoides terdiri dari dua fase yaitu fase dibuahi (fertilzed)
dan tidak dibuahi(unfertilized) dengan ukuran panjang 45-75 mikron dan
lebarnya 35-50 mikron.
Daftar Belakang
Darwanto. 2008. Atlas Parasitologi Kedokteran. Jakarta: Gramedia.

Gandahusada, Srisasi, 2001. Parasitologi Kedokteran. Jakarta: Fakultas Kedokteran UI.

Kadarsan,S. Binatang Parasit. Bogor: Lembaga Biologi Nasional-LIPI.

Rusmanto, Dwi, J Mukono. 2012. Hubungan Personal Higyene Siswa Sekolah Dasar
dengan Kejadian Kecacingan. The Indonesian Journal of Publick Health. Vol. 8: 105-
111.
Natadisastra D, dkk 1996, Penuntun Praktikum ilmu parasit (protozologi) untuk Fakultas
Kedokteran Universitas Padjajaran. FK. Unpad: Bagian Parasitologi.
Onggowaluyo, Jangkung Samidjo. 2002. Parasitologi Medik I Helmintologi Pendekatan
Aspek Identifikasi, Diagnosis, dan Klinik. Jakarta: Penerbit Buku EGC.
Sutanto, Inge, Is Suhariah, Pudji K sjarifudin, saleha sungkar. 2008. Parasitologi
Kedokteran Edisi Keempat. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia