Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH FARMASI PRAKTIS

BIANG KERINGAT

Dosen Pengampu:

Dosen Pengampu:
Prof. Dr. R.A. Oetari, SU., MM., M.Sc., Apt

KELOMPOK 18:
Disusun oleh:

1. Arum Surya Yunita 1920374093


2. Devri Windi Sari 1920374106

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
tentang “Biang Keringat” ini dengan baik meskipun banyak kekurangan
didalamnya. Dan juga kami berterima kasih kepada Prof. Dr. R.A. Oetari, SU.,
MM., M.Sc., Apt dosen mata kuliah Farmasi Praktis Universitas Setia Budi yang
telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai swamedikasi biang kerinat. Dan
harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun
menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa dalam percobaan ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna.Oleh sebab itu, kami berharap adanya
kritik, saran dan usulan yang bersifat membangun dari pembaca.Akhir kata,
semoga percobaan ini bermanfaat bagi semua pihak.

Surakarta, 5 Februari 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Halaman judul ................................................................................................i


Kata pengantar................................................................................................ii
Daftar isi .........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah .............................................................................2
1.3 Tujuan ...............................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Swamedikasi .....................................................................................3
2.2 Pengertian Miliaria ............................................................................3
2.3 Jenis-jenis Biang Keringat ................................................................4
2.4 Etiologi .............................................................................................7
2.5 Patofisiologi .....................................................................................7
2.6 Penatalaksanaan ................................................................................8
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan .......................................................................................9
Daftar pustaka ................................................................................................10

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit kulit merupakan salah satu penyakit yang masih sangat dominan
terjadi dan menjadi masalah kesehatan masyarakat Indonesia. Data Profil
Kesehatan Indonesia 2008 menunjukkan bahwa distribusi pasien rawat jalan
menurut International Classification of Diseases-10 (ICD-10) di rumah sakit di
Indonesia tahun 2008 dengan golongan sebab sakit “Penyakit Kulit dan Jaringan
Subkutan” terdapat sebanyak 64.557 pasien baru (Depkes, 2009). Hal ini juga
dibuktikan dari data Profil Kesehatan Indonesia 2010 yang menunjukkan bahwa
penyakit kulit dan jaringan subkutan menjadi peringkat ketiga dari 10 penyakit
terbanyak pada pasien rawat jalan di rumah sakit se-Indonesia berdasarkan jumlah
kunjungan yaitu sebanyak 192.414 kunjungan dan 122.076 kunjungan diantaranya
merupakan kasus baru (Kemenkes, 2011).
Biang keringat dikenal juga dengan istilah ruam panas atau miliaria yang
merupakan salah satu masalah kulit karena terjadinya sumbatan pada kelenjar
keringat. Biasanya bentuknya tampak kecil seperti benjolan merah muda, terasa
gatal atau terasa berduri (Zakharia, 2014). Biang keringat sering terjadi pada
negara-negara dengan iklim panas atau tropis seperti Indonesia akibat produksi
keringat yang berlebihan (Siregar, 2005)
Biang keringat sebenarnya merupakan kelainan kulit ringan, tetapi karena
seringkali terdapat kekeliruan pada perawatan kulitnya penyakit ini dapat
berlanjut menjadi bisul akibat infeksi bakteri atau dapat disertai infeksi jamur.
Oleh karena itu perlu perawatan khusus dan pengobatan yang tepat agar kulitnya
tetap bersih dan sehat (Siregar, 2005).

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah definisi biang keringat atau miliaria?
2. Bagaimana jenis-jenis biang keringat atau miliaria?
3. Bagaimana etiologi dari miliaria atau biang keringat?
4. Bagimana patofisiologi dari miliaria?
5. Bagaimana penatalaksanaan dari miliaria?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui definisi biang keringat atau miliaria
2. Mengetahui jenis-jenis biang keringat atau miliaria
3. Mengetahui etiologi dari miliaria atau biang keringat
4. Mengetahui patofisiologi dari miliaria
5. Mengetahui penatalaksanaan dari miliria

2
BAB II
ISI

2.1 Swamedikasi
Upaya masyarakat untuk mengobati dirinya sendiri dikenal dengan istilah
self medication atau swamedikasi (Departemen Kesehatan RI, 2006). The
International Pharmaceutical Federation (FIP) mendefinisikan swamedikasi atau
self-medication sebagai penggunaan obat-obatan tanpa resep oleh seorang
individu atas inisiatifnya sendiri (FIP, 1999). Sedangkan definisi swamedikasi
menurut WHO adalah pemilihan dan penggunaan obat modern, herbal, maupun
obat tradisional oleh seorang individu untuk mengatasi penyakit atau gejala
penyakit (WHO, 1998).
Menurut Anief (1997), keuntungan swamedikasi yaitu lebih mudah, cepat,
tidak membebani sistem pelayanan kesahatan dan dapat dilakukan oleh diri
sendiri. Bagi konsumen obat, pengobatan sendiri dapat memberi keuntungan yaitu
bila ia dapat menghemat biaya ke dokter, Menghemat waktu ke dokter, dan segera
dapat beraktifitas kembali.
Kekurangan, obat dapat membahayakan kesehatan apabila tidak digunakan
sesuai dengan aturan, pemborosan biaya dan waktu apabila salah menggunakan
obat, kemungkinan kecil dapat timbul reaksi obat yang tidak diinginkan, misalnya
sensitifitas, efek samping atau resistensi, penggunaan obat yang salah akibat salah
diagnosis dan pemilihan obat dipengaruhi oleh pengalaman menggunakan obat di
masa lalu dan lingkungan sosialnya (Supardi dkk, 2005).

2.2 Pengertian Miliaria (Biang Keringat)


Miliaria atau biang keringat adalah suatu keadaan tertutupnya pori-pori
keringat sehingga menimbulkan retensi keringat di dalam kulit (Harahap, 2000).
Menurut Natahusada (2011) miliaria merupakan kelainan kulit akibat retensi
keringat, ditandai dengan adanya vesikel milier. Penyakit miliaria disebabkan
oleh udara panas dan lembab yang mengakibatkan penguapan keringat tidak
sempurna (PERMENKES RI, 2014).

3
Biang keringat adalah kelainan kulit yang timbul akibat keringat berlebihan
disertai sumbatan saluran kelenjar keringat, yaitu di dahi, leher, dada dan
punggung serta tempat yang mengalami tekanan atau gesekan pakaian, dan dapat
juga di kepala. Keadaan ini biasanya di dahului oleh produksi keringat yang
berlebihan, dapat diikuti rasa gatal seperti ditusuk, kulit menjadi kemerahan dan
disertai banyak gelembung kecil berair (Budiarja dan Widaty, 2000).
Menurut Mayoclinic (2012), faktor risiko yang dapat menyebabkan biang
keringat adalah sebagai berikut:
a. Umur
Biang keringat dapat terjadi pada setiap orang, namun yang paling berisiko
adalah bayi.
b. Iklim tropis
Orang yang tinggal di daerah iklim tropis lebih berisiko daripada orang
yang tinggal di daerah beriklim sedang.
c. Aktivitas fisik
Semua kegiatan yang dapat menghasilkan keringat dan ketika tidak
menggunakan pakaian yang mudah menyerap keringat maka dapat
memicu biang keringat.

2.3 Jenis-jenis Biang Keringat


2.3.1 Miliaria Kristalina
Biang keringat jenis ini mempunyai tanda khas, yakni vesikula kecil-
kecil jernih seperti kristal dengan diameter 1-2 mm, menyerupai titik-titik
air pada kulit dan tanpa eritem. Biasanya tanpa simptom dan diketahui
secara kebetulan pada waktu pemeriksaan fisik. Sering terjadi pada daerah
intertriginosa, seperti pada ketiak dan leher, serta badan. Vesikula
mengelompok, mudah pecah pada waktu mandi atau karena gesekan ringan
(Siregar, 2005).
Biang keringat pada jenis ini terlihat vesikel berukuran 1-2 mm
terutama pada badan setelah banyak berkeringat, misalnya karena hawa
panas. Vesikel bergerombol tanpa tanda radang pada bagian badan yang
tertutup pakaian. Umumnya tidak memberi keluhan dan sembuh dengan

4
sisik yang halus. Pada gambaran histopatologik terlihat gelembung
intra/subkorneal. Pengobatan tidak diperlukan, cukup dengan menghindari
panas yang berlebihan, mengusahakan ventilasi yang baik, pakaian tipis,
dan menyerap keringat (Natahusada, 2009).
2.3.2 Miliaria Rubra
Miliaria rubra merupakan bentuk klinik yang sangat penting dan
ditandai dengan rasa gatal dan eritem. Lesinya berupa papula eritematus
dengan puncak dan pusatnya berupa vesikula. Lesinya ekstrafolikuler ini
membedakan dengan folikulitis. Papulanya steril atau terinfeksi sekunder
pada miliaria yang luas dan kronis (Siregar, 2005).
Miliaria rubra tidak mengenai muka dan bagian volar kulit, tetapi
mengenai permukaan kulit yang istirahat, terutama pada punggung dan
leher. Rasa gatal, dan kadang rasa panas seperti terbakar. biasanya timbul
bersamaaan dengan rangsang yang menimbulkan keringat. Miliaria rubra
yang luas dan berat dapat menyebabkan hiperpireksia dan lelah karena
panas (heat exhaustion) serta pingsan (Siregar, 2005).
Penyakit ini lebih berat daripada miliaria kristalina, terdapat pada
badan dan tempat-tempat tekanan atau gesekan pakaian. Terlihat papul
merah atau papul vesikular ekstrafolikular yang sangat gatal dan pedih.
Miliaria jenis ini terdapat pada orang yang tidak biasa pada daerah tropik
(IDAI, 2012).
Patogenesisnya belum diketahui pasti, terdapat 2 pendapat. Pendapat
pertama mengatakan primer, banyak keringat dan perubahar kualitatif,
penyebabnya adanya sumbatan keratin pada muara kelenjar keringat dan
perforasi sekunder pada bendungan keringat di epidermis. Pendapat kedua
mengatakan bahwa primer kadar garam yang tinggi pada kulit menyebabkan
spongiosis dan sekunder terjadi pada muara kelenjar keringat. Pada
gambaran histopatologik gelembung terjadi pada stratum spinosum sehingga
menyebabkan peradangan pada kulit dan perifer kulit di epidermis
(Natahusada, 2011).

5
2.3.3 Miliaria Profunda
Miliaria profunda merupakan bentuk yang jarang dijumpai. Kelainan
ini tidak gatal dan jarang memberi keluhan. Terutama ditemukan di badan,
lengan, dan tungkai. Kelainan kulit berupa bintik putih, keras, berukuran 1-3
mm dan tidak disertai dasar kemerahan (IDAI, 2012).
Penyakit ini umumnya mempunyai tanda berupa papula keputih-
putihan dengan diameter 1-3 mm. Biasanya pada punggung, tetapi juga
bagian ekstremitas. Ini merupakan vesikula yang letaknya lebih dalam (di
dalam dermis), sehingga bersifat kronis dan tampak sebagai papula (IDAI,
2012).
Tidak ada eritem dan gatal. Kalau luas, miliaria ini akan mengganggu
keluarnya keringat, sehingga menimbulkaan hiperhidrosis kompensasi di
wajah. Kalau banyak kelenjar keringat yang tidak berfungsi, sehingga
keringat yang harusnya keluar tidak terjadi, dan penderita perlu tempat yang
dingin. Penderita ini bisa menjadi lemah, dispnea, takikardia, bahkan suhu
bisa naik, dan penderita dapat pingsan di bawah keadaan heat stress.
Penderita tersebut disebut mengalami astenia anhidrotik tropikal (IDAI,
2012).
2.3.4 Miliaria Pustulosa
Miliaria pustulosa selalu didahului oleh penyakit kulit lain yang
menimbulkan kerusakan dan sumbatan saluran kelenjar keringat atau biang
keringat. Pustulanya jelas dan nonfolikuler. Rasa gatal sering terjadi pada
daerah-daerah intertriginosa. Penyakit dermatitis kontak, liken simpleks
kronikus dan intertrigo dapat menyebabkan timbulnya miliaria pustulosa
setelah beberapa minggu penyakit tersebut itu sembuh. Papula biasanya
steril, tetapi dapat juga berisi stafilokok dan/atau streptokok yang
nonpatogen (IDAI, 2012).

6
2.4 Etiologi Miliaria
Biang keringat disebabkan karena adanya sumbatan pada pori-pori saluran
keluarnya keringat sehingga keringat merembes pada pori kulit terdekat dan
mengakibatkan inflamasi/peradangan. Biang keringat berhubungan erat dengan
cuaca yang sangat panas, lembab atau dapat terjadi selama penyakit yang
menyebabkan berkeringat. Biang keringat juga diakibatkan dari ketidakmampuan
kulit untuk “bernafas” (berinteraksi dengan udara) karena pakaian yang terlalu
ketat atau tebal seperti kulit dan polyester (Levin, et al, 2012).
Sumbatan pada biang keringat ini dapat disebabkan oleh debu ataupun daki.
Saat tubuh banyak berkeringat, misalnya saat cuaca panas atau setelah demam,
adanya sumbatan tadi akan membuat keringat tertahan di bawah kulit, kemudian
membentuk tonjolan-tonjolan kecil berwarna merah karena terjadi peradangan
(Djunarko dan Hendrawati, 2011).
Faktor penyebab timbulnya keringat berlebihan yaitu :
a. Udara panas dan lembab dengan ventilasi udara yang kurang baik
b. Pakaian yang terlalu lembab dan ketat
c. Pakaian banyak memberikan pengaruh pada kulit, misalnya menimbulkan
pergeseran, tekanan yang berpengaruh terhadap terjadinya peningkatan
suhu tubuh.
d. Aktivitas yang berlebihan, misalnya berolahraga
e. Setelah menderita sakit panas
f. Penyebab lain berupa penyumbatan pori-pori yang berasal dari kelenjar
keringat. Sumbatan ini dapat diakibatkan debu atau radang pada kulit.
Butiran-butiran keringat yang terperangkap dibawah kulit akan mendesak
ke permukaan kulit dan menimbulkan bintik-bintik kecil yang terasa gatal.

2.5 Patofisiologi Miliaria


Pori-pori pada kelenjar keringat tersumbat pada biang keringat.
Ketidakmampuan sekresi keringat dan keluarnya keringat dari pori menyebabkan
dilatasi/pelebaran dan rupture/kerusakan pada lapisan epidermal pori keringat.
Keadaan ini menyebabkan inflamasi akut pada lapisan dermis yang menimbulkan
rasa perih, terbakar atau gatal (Levin, et al, 2012).

7
Terjadinya milliariasis diawali dengan tersumbatnya pori-pori kelenjar
keringat, sehingga pengeluaran keringat tertahan. Tertahannya pengeluaran
keringat ditandai dengan adanya vesikel miliar di muara kelenjar keringat lalu
disusul dengan timbulnya radang dan edema akibat perspirasi yang tidak dapat
keluar kemudian diabsorpsi oleh stratum korneum. (Dewi, 2010).

2.6 Penatalaksanaan Miliaria


2.6.1 Terapi non farmakologi
Terapi non farmakologi yang dapat diberikan meliputi: menggunakan
pakaian yang longgar, berwarna cerah dan tipis untuk melancarkan sirkulasi
udara, mengurangi keringat, berada ditempat yang sejuk. Pada anak-anak
sering mengganti popok dan menggunakan sabun antiseptiik ringan untuk
mengurangi ketidaknyamanan biang keringat (Padron.2006).
2.6.2 Terapi farmakologi
Pengobatan biang keringat dapat dilakukan dengan menggunakan bedak
tabur atau lotion khusus biang keringat. Lotion atau bedak tabur biasanya
mengandung calamine yang berfungsi untuk memberi sensasi dingin dan lembut
pada kulit sehingga mengurangi rasa gatal dan bekerja sebagai anti bakteri untuk
mencegah infeksi yang ditimbulkan karena garukan. Lotion atau bedak tabur
juga mengandung menthol yang memberikan sensasi dingin pada kulit. Sediaan
yang dapat digunakan adalah salicyl talk. Cara penggunaan bedak tabur dan
lotion adalah dengan mengaplikasikan terlebih dahulu di tangan baru kemudian
dioleskan pada daerah biang keringat dengan hati-hati dua kali sehari setiap habis
mandi dan kulit sudah dikeringkan. Obat untuk biang keringat yang beredar
dipasaran, antara lain : Bedak Minos (bedak tabur), Caladine (krim, lotion,
dan bedak tabur), Caladryl (lotion), Calamec (lotion), dan Calarex (lotion)
(Djunarko dan Hendrawati, 2011). Penggunaan antibakteri secara topikal dapat
membantu mencegah infeksi yang disebabkan bakteri (Bruckbauer dan Vogt,
2003). Selain itu, juga dapat digunakan krim hidrokortison sesuai anjuran
dokter atau apoteker (Babycenter Australia Medical Advisory Board, 2011).

8
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Miliaria yang merupakan salah satu masalah kulit karena terjadinya
sumbatan pada kelenjar keringat. Penyakit miliaria disebabkan oleh udara panas
dan lembab yang mengakibatkan penguapan keringat tidak sempurna. Faktor
risiko yang dapat menyebabkan biang keringat adalah umur, iklim tropis, dan
aktivitas fisik. Biang keringat dapat dibedakan menjadi empat jenis berdasarkan
letak saluran keringat yang tersumbat, yaitu: Miliaria crystallina, miliaria
pustulosa, miliaria profunda, dan miliaria rubra. Terapi non farmakologi yang
dapat diberikan meliputi: menggunakan pakaian yang longgar, berwarna cerah
dan tipis untuk melancarkan sirkulasi udara, mengurangi keringat, berada
ditempat yang sejuk. Pengobatan biang keringat dapat dilakukan dengan
menggunakan bedak tabur atau lotion khusus biang keringat. . Sediaan yang dapat
digunakan adalah salicyl talk.

9
DAFTAR PUSTAKA

Anief, M., 1997, Apa Yang Perlu Diketahui Tentang Obat, Cetakan Ketiga
(Revisi), Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Babycenter Australia Medical Advisory Board, 2011. Heat Rash,
http://www.babycenter.com.au/a548388/heat-rash. Diakses pada 4 Februari
2019.
Bruckbauer, H.R., Vogt, H.J., 2003, European Handbook of Dermatological
Treatments, 2nd edition, Springer, Berlin.
Budiarja, Siti Aisah dan Widaty Sandra. 2000. Perawatan Kulit Pada Bayi dan
Balita. Jakarta : FKUI Press.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2009. Profil Kesehatan Indonesia
2008. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.
Departemen Kesehatan RI, 2006, Pedoman Penggunaan Obat Bebas Dan Bebas
Terbatas Direktorat Bina Farmasi Komunitas Dan Klinik Ditjen Bina
Kefarmasian Dan Alat Kesehatan, Jakarta
Dewi, Vivian Nanny Lia. 2010. Asuhan Neonatus bayi dan Anak Balita Jakarta:
Salemba Medika.
Djunarko, I., Hendrawati, D.Y.(2011) Swamedikasi yang Baik dan Benar,
Yogyakarta : PT Citra Aji Parama.
Dover, J.S., Turkington, C., 2007, The Encyclopedia of Skin and Skin Disorders,
3rd edition, Facts on File Inc, New York, pp. 240.
FIP, 1999. Joint Statement By The International Pharmaceutical Federation and
The World Self-Medication Industry: Responsible Self-Medication, FIP &
WSMI, p.1-2.
Harahap, Marwali. 2000. Ilmu Penyakit Kulit. Cetakan I. Jakarta : Hipokrates.
IDAI, 2012. Buku Ajar Neonatologi. Jakarta: Sari Pediatri.
Levin, et al., (2012), Dermatologic Manifestation of Miliaria,
http://www.medscape.com/ reference/dermatolgy/miliaria, diakses pada tanggal
4 Februari 2019.
Natahusada. 2009. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta : FKUI Press.
Natahusada. 2011. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta : FKUI Press.

10
Padron, V.A. (2006) Dermatologic Disorders, in Berardi, R., et al., Handbook of
Nonprescription Drugs, 15th ed., section VIII, Washington DC : American
Pharmacists Association
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2014 Tentang Pemantauan
Pertumbuhan, Perkembangan, Dan Gangguan Tumbuh Kembang Anak.
Jakarta: Menkes RI.
Siregar, Robert. 2005. Psoriasis. Atlas Berwarna Sari Pati Penyakit Kulit. Edisi 2.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran. EGC.
Supardi S., Sampurno D. O., Notosiswoyo M., 1997, Pengaruh Penyuluhan Obat
Terhadap Peningkatan Perilaku Pengobatan Sendiri Yang Sesuai Aturan
(online) http//www.litbang.depkes.go.id/buletin/data/32_4-obat.pdf.
WHO, 1998, The Role of The Pharmacist in Self-Care and Self-Medication. The
Hague, The Netherlands.
Zakharia Angga. 2014. Perbandingan Daya Antibakteri Krim Tipe M/A Minyak
Atsiri Temu Putih dan Lotion Minyak Atsiri Temu Putih Terhadap
Staphylococcus epidermidis ATCC 12228. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas
Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

11
Lampiran 1. Dialog Swamedikasi Biang Keringat

Nn. Arum 23 tahun datang ke apotek USB untuk membeli obat dengan
keluhan gatal, merah ruam disekitar leher kaena sering melalukan aktivitas
olahraga di luar rumah.

A : Selamat pagi Bu,


Perkenalkan nama Saya Devri apoteker dari apotek USB, Ada yang bisa
Saya bantu?
P : Ini Mbak, kemaren itu lho Mbak siniku gatal-gatal, ruam-ruam gitu lho
Mbak, gak enak banget rasanya
(sambil menunjuk ke arah leher)
A : Silahkan duduk Bu.
(pasien dan apoteker duduk di ruang konseling)
A : Nama Ibuk siapa?
P : Nama Saya Arum
A : Alamatnya dimana Bu?
P : Alamatnya di Tegalmulyo
A : No. Hp Bu?
P : 646561
A : Ada riwayat alergi Bu?
P : Nggak ada sih...
A : Sebelumnya keluhan Ibuk yang anda rasakan seperti apa?
P : Ini lho Mbak, disini itu seperti gatal, terus merah-merah gitu seperti ada
bintik-bintiknya gitu sih...
A : Sebelumnya apa Ibuk sudah pergi ke dokter?
P : Belum..
A : Belum pernah,
Boleh Saya lihat Bu, bagaimana bentuk gatalnya?
(Apoteker melihat lokasi gatal yang dikeluhkan pasien)
P : Ini lho Mbak..
(Sambil menunjukkan lokasi gatal)
A : Oh iya... ada bagian lain mngkin yang gatal ?
P : Gak ada sih Mbak, cuman disini saja.

12
A : Disitu saja?
P : Iya, kemaren baru seesai olahraga. Aku sering banget ikut olahraga, ini
timbul setelah selesai olahraga.
A : Sebelumnya sudah dikasih apa Bu?
P : Belum pernah.
A : Belum pernah sama sekali?
P : Belum pernah.
A : Untk pengobatannya, nanti akan Saya kasih caladine lotion yang
mengandung calamine, yang berfungsi untuk mengatasi gatal dan juga
untuk memberikan sensasi sejuk karena ada rasa nyerinya.
A : Ada gejala lain yang mungkin Ibuk rasakan?
P : Tidak ada, cuman gatal-gatal dan merah saja yang Saya Rasakan
A : Untuk obatnya, harganya Rp 15.000
P : Pasien memberikan uang RP 15.000
A : Uangnya Saya terima ya Bu, 15.000 dan Saya ambilkan dulu obatnya.
A : Ini ya Bu, obatnya.
Cara pemakaiannya cukup setelah habis mandi anda oleskan ke area yang
gatal saja, untuk frekuensi pemakaiannya dilihat selama 7 hari. Jika tidak
ada perubahan segera hubungu dokter.
A : Bagaimana Bu, apa informasi yang Saya berikan sudah jelas?
P : Emmmm untuk penyimpanannya bagaimana ya?
A : Untuk penyimpanannya cukup disimpan pada tempat yang sejuk dan
terhindar dari sinar matahari.
A : Apa Ibu sudah faham?
P : Sudah.
A : Kalau begitu, tolong diulangi cara pemakaiannya!
P : Ini digunakan setelah mandi, dalam kondisi kulit yang bersih, kemudian
dioles secukupnya. Kalau lebih dari 7 hari pemakaian kondisi Saya tidak
membaik, Saya perlu ke dokter.
A : Apa ada pertanyaan lagi?
P : Sudah Mbak.
A : Ini obatnya ya Mbak..

13
(Sambil membungkus obat dan diberikan kepada pasien)
P : Iya, terima kasih.
A : Semoga lekas sembuh.

14