Anda di halaman 1dari 6

Strategi dan Manajemen Stres

Manajemen stres lebih daripada sekadar mengatasinya, yakni belajar


menanggulanginya secara adaptif dan efektif. Hampir sama pentingnya untuk
mengetahui apa yang tidak boleh dilakukan dan apa yang harus dicoba. Respon
pertama dan banyak orang terhadap stres biasanya menyalakan rokok, meraih
minuman keras, atau menenggak obat-obatan. Sebagian para pengidap stres di
tempat kerja akibat persaingan, sering melampiaskan dengan cara bekerja lebih
keras yang berlebihan. Ini bukanlah cara efektif yang bahkan tidak menghasilkan
apa-apa untuk memecahkan sebab dari stres, justru akan menambah masalah lebih
jauh. Sebelum masuk ke cara - cara yang lebih spesifik untuk mengatasi stresor
tertentu, harus dipertimbangkan bebetapa pedoman umum untuk memacu
perubahan dan penanggulangan. Pemahaman prinsip dasar, menjadi bagian
penting agar seseorang mampu merancang solusi terhadap masalah yang muncul
terut ama yang berkait dengan penyebab stres dalam hubungannya di tempat
kerja. Dalam hubungannya dengan tempat kerja, stres dapat timbul pada beberapa
tingkat, berjajar dari ketidakmampuan bekerja dengan baik dalam peranan tertentu
karena kesalahpahaman tentang apa yang diperlukan dari peranan boss atau
pegawai atau bahkan dari sebab tidak adanya ketrampilan (khususnya ketrampilan
manajemen) hingga sekadar tidak menyukai seseorang dengan siapa anda harus
bekerja secara dekat.

Perbedaan jenis kelamin penting sehubungan dengan bagaimana masalah


ditangani di dalam banyak bidang kerja, dan tidak pernah lebih besar
dibandingkan di sini. Bagaimana perilaku tertentu digambarkan akan sangat
bergantung pada jenis kelamin orang yang bertindak dengan cara itu. Kita semua
sadar, atau seharusnya sadar, bahwa apa yang dipandang sebagai asertif pada pria
kerap dipandang agresif untuk wanita. Bahkan keagresifan pria akan diterima
dalam keadaan tertentu, sedangkan pada wanita keagresifan biasanya di luar batas.
Ini juga berarti perilaku yang dapat diterima dan yang tepat untuk menghadapi
beberapa masalah ini mungkin bergantung pada apa anda seorang pria atau
wanita.
Memanajemen stres berarti membuat perubahan dalam cara anda berpikir
dan merasa, dalam cara anda berperilaku dan sangat mungkin dalam lingkungan
anda. Perubahan seperti ini mempengaruhi tidak hanya diri anda, tetapi juga orang
dengan siapa anda bekerja. Walaupun mungkin tidak cocok untuk membicarakan
semua perubahan yang anda buat atau ingin anda buat dengan orang di tempat
kerja, diskusi tetap diperlukan.

Sayang sekali, ternyata ada lebih banyak hal yang ditulis tentang politik
kantor dan kemajuan di dalam persaingan ketimbang yang ditulis tentang
hubungan yang positif di tempat kerja. Orang lain mungkin menjadi sumber stres,
tetapi juga dapat menjadi sumber dukungan, hiburan dan kepuasan. Hubungan
kerja yang baik dengan kolega dapat mengurangi stres sekaligus memberikan
sumber dukungan dalam manajemen stres. Beberapa pekerjaan tampaknya
mendorong bantuan timbal balik. Ironisnya, ini kerap merupakan pekerjaan
dengan stres tinggi, seperti polisi, dimana citra macho dan "keras" dihargai. Tidak
ada pekerjaan atau organisasi dimana hanya satu orang yang mengalami stres.
Mengasumsikan anda satu-satunya orang yang khawatir bernada campuran yang
tidak rasional dari kebodohan dan keangkuhan. Karena penyakit dan masalah
yang berhubungan dengan stres menyebabkan meningkatnya jumlah orang yang
hilang, kebutuhan untuk menghadapi persoalan tersebut secara bertahap dihadapi.

Dukungan dari individu atau kelompok kolega mungkin datang dalam


banyak samaran, yang berkisar dari bahu untuk menangis hingga bantuan positif
dan advis. Keluhan yang konstan tanpa usaha untuk mengubah masalah tidak
mempunyai efek dalam jangka panjang dan han ya menyebabkan perasaan umum
berupa pesimisme, ketakberdayaan dan keputusaan; namun, mampu berbagi
perasaan dengan orang didalam posisi yang sama dan mengetahui bahwa anda
tidak sendirian adalah pelepas - an yang penting dan sumber dukungan.
Seperti dijelaskan sebelumnya, situasi stres tidak selamanya berdampak,
khususnya pada penampilan kerja. Stres bisa berdampak positip atau negatif
tergantung pada reaksi karyawan dan sifat stres itu sendiri, apakah tergolong stres
ringan atau berat. Oleh karena itu, bagi pihak manajer- termasuk karyawan itu
sendiri dibutuhkan kiat-kiat khusus agar stres itu tidak menjurus pada hal-hal yang
bersifat negatip, syukur kalau bisa berpengaruh pada peningkatan kinerja
perusahaan. Setidaknya, dibutuhkan kiat-kiat tersendiri agar dampak negatip stres
dan situasi stres itu sendiri dapat dieleminasi. Dalam studi-studi stres, kiatkiat di
atas disebut strategi manajemen stres atau strategi adaptasi stres. Secara umum
strategi manajemen stres kerja dapat dikelompokkan menjadi:

Pertama, taktik yang bersifat personal, yakni strategi yang dikembangkan


secara pribadi atau individual. Strategi individual ini bisa dilakukan dengan
beberapa cara, antara lain:

(1) melakukan perubahan reaksi perilaku atau perubahan reaksi kognitif.


Artinya , jika seorang karyawan merasa dirinya ada kenaikan ketegangan, para
karyawan tersebut seharusnya time out terlebih dahulu. Cara time out ini bisa
macammacam, seperti istirahat sejenak namun masih dalam ruangan kerja; keluar
ke ruang istirahat (jika menyediakan); pergi sebentar ke kamar kecil untuk mem -
basuh muka dengan air dingin atau ber - wudlu bagi orang Islam; dan sebagainya.
Atau, melakukan kegiatan-kegiatan lain yang bisa mengendorkan ketegangan,
seperti bercanda dengan teman sekerja, mendengarkan musik, nonton televisi;

(2) Melakukan relaksasi dan meditasi. Kegiatan relaksasi dan meditasi ini
bisa dilakukan di rumah pada malam hari atau hari-hari libur kerja. Dengan
melakukan relaksasi, karyawan dapat mem - bangkitkan perasaan rileks dan
nyaman. Dengan begitu, karyawan yang melakukan relaksasi diharapkan dapat
mentransfer kemampuan dalam membangkitkan perasaan rileks ke dalam
perusahaan di mana mereka mengalami situasi stres. Lebih jauh, jika para
karyawan sudah mampu mentransfer perasaan rileks ke situasi stres di
perusahaan, mereka mampu beradaptasi dengan perasaan-perasaan semacam itu.
Dengan melakukan meditasi, para karyawan dapat memanfaatkan media meditasi
itu untuk mendapatkan posisi yang pas dan enak. Beberapa cara meditasi yang
biasa dilakukan adalah dengan menutup atau memejamkan mata, menghilangkan
pikiran yang mengganggu, kemudian perlahan-lahan mengucapkan doa atau
mantra yang dipercayai. Perlu diingat, dalam meditasi, posisi atau postur tubuh
tertentu sangat diperlukan agar diperoleh kenyamanan dan memudahkan
melakukan hubungan transendental;

(3) Melakukan diet dan fitnes. Beberapa cara yang bisa ditempuh adalah mengu -
rangi masukan atau konsumsi garam dan makanan mengandung lemak; memper -
banyak konsumsi makanan yang ber - vitamin seperti buah-buahan dan
sayursayuran, dan semacamnya; dan banyak melakukan olah raga, seperti lari
secara rutin, tenis, bulu tangkis, dan sebagainya (Baron dan Greenberg, 1990:246-
248).

Kedua, strategi berdasarkan organisasi. Seperti yang telah diungkapkan


dalam faktor penyebab stres, lingkungan organisasi mempunyai urunan yang
cukup besar pada situasi stres kerja. Oleh karena itu untuk mengembangkan
strategi organisasi, dibu - tuhkan pemahaman menyeluruh tentang karakteristik
organisasi terlebih dahulu, seperti komposisi kelompok kerja, penjadwalan kerja,
hubungan antar karyawan, dan sebagainya.

Manajemen stres melalui strategi organisasi dapat dilakukan dengan: (1)


melakukan perubahan fungsi dan struktur organisasi, seperti melakukan
desentralisasi. Desentralisasi ini dapat mengurangi stres pada pegawai karena para
pegawai dapat berpartisipasi lebih banyak dan secara aktif dalam proses
pengambilan atau pembuatan keputusan, khususnya keputusan yang berkaitan
dengan pekerjaan dan bidang mereka. Dengan demikian, hal ini dapat mengurangi
rasa kurang percaya diri dan perasaan tidak mampu; (2) Melakukan perubahan
pada pekerjaan-pekerjaan tertentu. Sifat bisa bersumber dari perasaan bosan
karena melakukan pekerjaan berulang-ulang. Karyawan yang melakukan
pekerjaan yang sama dalam waktu lama akan bosan dan merasa tidak ada
tantangan baru. Untuk itu, perlu perubahan pekerjaan, misalnya melakukan
pengayaan pekerjaan (usaha untuk mengembangkan/memperbanyak skope
pekerjaan) atau melakukan pembatasan perpindahan kerja ke tempat-tempat yang
tidak disukal karyawan; (3) melakukan program kesegaran asmani bersama, tentu
saja yang dikelola secara resmi oleh pihak perusahaan, seperti lari bersama, dan
sebagainya.

Beberapa Reaksi dan Akibat Sres Kerja

Reaksi terhadap stres dapat merupakan reaksi bersifat psikis maupun fisik.
Biasanya pekerja atau karyawan yang stres akan menunjukkan perubahan
perilaku. Perubah - an perilaku terjadi pada diri manusia sebagai usaha mengatasi
stres. Usaha me ngatasi stres dapat berupa perilaku melawan stres (flight) atau
freeze (berdiam diri). Dalam kehidupan sehan-hari ketiga reaksi ini biasanya
dilakukan secara bergantian, tergantung situasi dan bentuk stres. Perubahan-
perubahan ini di tempat kerja merupakan gejala-gejala individu yang mengalami
stres antara lain:

a. Bekerja melewati batas kemampuan

b. Keterlambatan masuk kerja yang sering

c. Ketidakhadiran pekerjaan

d. Kesulitan membuat keputusan

e. Kesalahan yang sembrono

f. Kelalaian menyelesalkan pekerjaan

g. Lupa akan janji yang telah dibuat dan kegagalan diri sendiri

h. Kesulitan berhubungan dengan orang lain

i. Kerisauan tentang kesalahan yang dibuat

j. Menunjukkan gejala fisik seperti: pada alat pencemaan, tekanan darah


tinggi, radang kulit, radang pemafasan.
Dapus :

Baron, RobertA., and Gerald Greenberg, Behavior in Organization:


Understanding and Managing the Human Side of Work, third edition,
(Boston: Allyn and Bacon, 1990).

Davis, Keith, and John W. Newstrom, Human Behavior at Work:


Organizational Behavior (New York: McGraw-Hill Book Company,
1989).