Anda di halaman 1dari 8

4 Hal yang Perlu Direfleksi Guru Indonesia

Artikel ini membahas pandangan penulis seputar kesalahan guru dalam mengajar
yang perlu diperbaiki agar dapat membuat belajar lebih menyenangkan bagi siswa.
Memang nggak bisa dimungkiri, peran guru sangatlah besar dalam kehidupan
sosial bermasyarakat, terutama untuk membangun peradaban dan generasi masa
mendatang yang lebih baik. Nah, justru karena peran besarnya itulah… pada
peringatan hari pendidikan nasional ini, saya ingin mencoba mengajak kita semua
(khususnya para guru) untuk merefleksi bersama, terutama tentang sejauh mana
peran seorang guru dalam membangun semangat belajar kepada para muridnya.

Mungkin sudah bukan hal baru lagi kalo saya mengatakan bahwa profesi guru masih
dipandang sebelah mata di Indonesia. Sedikit-banyak mungkin karena masyarakat
Indonesia umumnya beranggapan bahwa tugas seorang guru hanya sekadar
mengajar di depan kelas dan memberi tugas kepada murid. Tapi menurut saya
pribadi, tugas utama seorang guru bukan hanya mengajar, tapi juga memberi contoh,
inspirasi, dan yang paling penting adalah membuat murid senang
belajar serta menikmati proses belajar itu sendiri.
Dalam perspektif ini, saya berpendapat bahwa tolak ukur keberhasilan seorang guru
itu bukan ditentukan oleh kepala sekolah maupun orangtua, tapi justru oleh murid-
muridnya. Keberhasilan guru utamanya tercermin pada perubahan positif yang
dialami oleh murid-muridnya. Perubahan positif itu bisa jadi macam-macam
indikatornya, dari mulai pemahaman murid akan materi pelajaran, rasa antusias
murid dalam mengikuti proses pembelajaran, dan yang paling penting adalah sejauh
mana murid menikmati proses belajar yang dijalaninya tersebut.

Sayangnya, dari pengalaman saya berkecimpung di dunia pendidikan (baik sebagai


siswi, mahasiswi, maupun guru), tidak semua guru sepakat dengan pandangan saya
di atas. Maksudnya, masih banyak guru yang tidak menjadikan “antusiasme
murid dalam belajar” sebagai tolak ukur utama dalam proses mengajar ; tapi
justru menciptakan semacam sistem yang membuat murid-murid belajar dengan
penuh keterpaksaan, seperti pemberian tugas dengan porsi yang tidak wajar,
memberi sanksi dan hukuman dengan cara yang kurang tepat sasaran, dan
sebagainya.

Dalam prakteknya, saya yakin setiap guru memiliki niat dan tujuan yang baik dalam
mendidik murid, saya juga mengerti bahwa setiap guru memiliki style dan caranya
masing-masing dalam menjalankan perannya sebagai pendidik. Saya sungguh sangat
memahami itu karena biar bagaimanapun saya sendiri pernah menjadi seorang guru
dan juga wali kelas. Namun terlepas dari itu, menurut saya ada beberapa ‘style‘ cara
mengajar yang saya kira perlu kita evaluasi lagi bersama. Karena saya khawatir,
banyak guru yang mungkin tidak menyadari bahwa cara mengajar yang selama ini
mereka terapkan itu kurang tepat dan bahkan berdampak negatif bagi para murid.
Okay, terlepas dari apakah pandangan saya ini tepat atau tidak, pada kesempatan
kali ini saya hanya ingin berbagi pendapat dan pandangan saya lebih jauh tentang
beberapa pendekatan guru dalam mengajar yang saya anggap keliru dan malah
memberikan efek negatif terhadap murid-muridnya. Perlu saya tekankan
bahwa mungkin beberapa point dalam artikel ini adalah pendapat pribadi saya dan
tidak mewakili sudut pandang Zenius secara umum. Semoga apa yang saya
sampaikan dalam kesempatan ini, bisa menjadi refleksi kita bersama di hari guru
nasional ini. Berikut adalah beberapa gaya pengajaran guru yang menurut saya keliru
dan perlu kita refleksi ulang bersama:

1. Tugas dan PR yang tidak tepat

Sebagai seorang yang pernah menjadi guru, saya mengerti bahwa jam mengajar guru
di sekolah terkadang terasa kurang untuk memastikan para murid untuk betul-betul
memahami materi yang dibahas. Oleh karena itulah, guru memberikan PR atau tugas
dengan harapan membantu para siswa memahami materi di luar jam kelas. Secara
umum, tujuan guru memberikan PR/tugas kurang-lebih seperti ini:

1. Mengevaluasi materi yang sudah dipelajari di kelas.


2. Mendorong murid untuk berlatih mengerjakan soal.
3. Mendorong murid untuk mendalami pemahamannya untuk topik tertentu.
Di satu sisi, saya juga mengerti maksud dan tujuan guru itu baik dalam memberikan
PR atau tugas, tapi saya kira ada saatnya PR/tugas yang diberikan tidak memberi
dampak positif bagi para siswa. Wah, memangnya ada ya kasus dimana tugas/PR
yang tidak memberi dampak positif, contohnya seperti apa? Sebagaimana yang telah
saya sampaikan sebelumnya, yang paling berhak mengevaluasi guru adalah murid-
muridnya, jadi coba yuk kita lihat beberapa curhatan murid zenius di bawah ini:

Dari beberapa potongan curhatan murid zenius ini, ada beberapa hal yang menurut
saya agak ironis. Kenapa ironis? Karena tidak sedikit siswa yang justru menganggap
bahwa tugas dan PR itu adalah beban yang menghalangi mereka untuk
BELAJAR. Nah loh, padahal kan justru niat guru awalnya memberikan tugas itu
supaya muridnya belajar, tapi dalam beberapa kasus malah menjadi halangan
mereka untuk belajar.

Hal menarik berikutnya yang saya lihat adalah hasil survei zenius yang dilakukan
pada 22 September 2014 hingga 15 Desember 2014 terkait persepsi siswa mengenai
tugas yang diberikan guru mereka. Berikut adalah hasil 1340 responden pelajar dari
berbagai pelosok Indonesia :

Survei zenius Sept – Okt


2014 terhadap 1340
responden siswa seluruh
Indonesia terkait
pemberian tugas oleh
Guru.

Berdasarkan data di
atas, kita bisa melihat
bahwa sebetulnya
sebagian besar siswa
beranggapan bahwa tugas yang diberikan guru itu penting, tapi lucunya sebagian
besar dari responden (dengan persentase yang sama yaitu 48%) juga berpendapat
bahwa tugas dari guru itu membebankan. Dari sini, secara sederhana saya bisa
mengambil kesimpulan bahwa sebetulnya sebagian besar siswa itu tidak
bermasalah dengan adanya tugas dari guru, akan tetapi bentuk tugas/ jumlah /
frekuensinya itulah yang menjadi masalah dan membebani siswa.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Universitas Oviedo Spanyol, tugas dan
PR akan memberikan dampak positif yang signifikan bagi pemahaman siswa jika
tugas dan PR tersebut dirancang agar siswa hanya membutuhkan waktu sekitar 60
menit dalam proses penyelesaiannya. Menurut penelitian tersebut juga, efektivitas
tugas dan PR ini akan terus berkurang jika waktu penyelesaiannya lebih dari 90
menit. Penelitian lain yang dilakukan oleh Stanford Graduate School of
Education juga menemukan bahwa mengerjakan PR dan tugas selama lebih dari tiga
jam setiap harinya akan memberikan efek negatif baik secara mental maupun fisik.
Menyingkapi hal ini, saya pribadi berpendapat bahwa PR dan tugas itu bisa jadi hal
yang positif, dengan catatan porsinya wajar. Jika ingin memberikan tugas dan PR
yang cukup banyak, sebaiknya guru memperpanjang tenggat waktu penyelesaian
tugas dan PR tersebut mengingat kemungkinan siswa mendapat tugas dan PR dari
guru mata pelajaran lain. Akan jauh lebih baik lagi, jika guru bisa memberikan tugas
yang justru bisa menjadi pemicu siswa untuk menikmati proses belajar itu sendiri,
memberi tantangan yang menarik bagi siswa untuk mencari tau lebih jauh materi
yang mereka pelajari, bukan justru menekan siswa untuk harus belajar.

Di sisi lain, saya juga tau bahwa tugas seorang pelajar ya memang belajar. Tapi perlu
kita sadari juga, bahwa definisi “belajar” bagi anak-remaja tidak hanya sebatas pada
dinding ruang kelas, PR, atau tugas dari sekolah saja. Saya percaya, ada banyak hal di
luar sana yang bisa menjadi bahan pembelajaran bagi siswa, di luar konteks
akademis, seperti bersosialisasi, membaca, menonton film yang bermanfaat,
berinteraksi lingkungan sosial, dan sebagainya. Intinya, jangan sampai
jumlah/frekuensi tugas yang diberikan oleh guru bukan memberikan dampak positif,
tapi membuat siswa merasa jenuh, tertekan, dan malah tidak menikmati proses
belajar itu sendiri.

2. Pendekatan cara mengajar yang kurang tepat


Mau tidak mau, kita harus mengakui bahwa para siswa seringkali punya pandangan
yang terpolarisasi terhadap cara mengajar guru-gurunya. Sederhananya, ada guru
yang dipandang oleh para siswa sebagai guru yang cara ngajarnya asik, seru, mudah
dipahami. Guru-guru seperti ini seringkali menjadi idola murid-murid bahkan jam
pelajarannya ditunggu-tunggu oleh para siswa. Sementara itu, di sisi lain ada juga
guru yang dipandang siswa sebagai guru yang cara mengajarnya membosankan, bikin
ngantuk, materinya tidak menarik, dll. Dua bentuk polarisasi dari cara pandang siswa
terhadap gurunya ini memang seringkali ada, bahkan bersifat kolektif. Kalo ada
beberapa anak yang menganggap gurunya ini membosankan, masa satu kelas akan
kompak menganggap guru tsb membosankan.

Menjadi seorang guru, memang bukan perkara yang mudah. Walaupun guru
memiliki niat baik untuk mengajar, mendidik, dan membagikan ilmunya… ada saja
murid yang ngobrol sendiri, ada yang ngelamun, ada yang main hape, ada yang
malah gambar-gambar, dan sebagainya. Hal ini tentu membuat guru merasa jengkel,
tidak jarang guru memutuskan untuk mengambil jalan tegas pada segala bentuk
tindakan yang tidak menghargai jalannya proses belajar mengajar. Di satu sisi, saya
mengerti bahwa setiap guru ingin merasa dihargai, tidak terlepas juga dengan saya.
Namun di sisi lain, saya kira kita jangan sampai hanya berhenti pada solusi memarahi
siswa. Karena sedikit banyak, hal itu justru akan menambah parah polarisasi cara
pandang siswa terhadap guru-gurunya. Udah gurunya membosankan, galak lagi.
Lengkaplah sudah.
Saya rasa, ada banyak cara yang bisa digunakan oleh guru untuk bisa “menguasai
kelas”, membawa suasana belajar yang menarik, seru, dan menciptakan atmosfir
belajar yang sehat bagi para siswa. Cara untuk menguasai audience memang tidak
mudah. Terus terang, sampai saat ini pun saya masih perlu banyak belajar untuk bisa
membuat nuansa belajar yang positif di kelas. Tapi, sedikit-banyak saya hanya ingin
berbagi beberapa tips yang mungkin bisa jadi masukan bagi guru-guru lain. Moga-
moga tips yang saya bagikan ini bisa berguna bagi rekan-rekan guru yang lain.
A. Bangun interaksi dan hubungan emosional dengan para murid di luar kelas
Saat menjadi seorang guru, saya selalu berusaha untuk tidak membatasi interaksi
saya kepada murid dalam lingkup akademis saja; tetapi saya mencoba memasuki
kehidupan mereka. Dari hanya sekadar mendengarkan keluhan dan curhatan
mereka, makan bersama, atau bahkan menyempatkan diri bergaul dengan mereka di
waktu luang… semua itu saya rasa sangat membantu saya untuk membangun nuansa
belajar yang positif di kelas.

Dengan membangun hubungan emosional dengan para murid, saya jadi jauh lebih
mudah untuk menguasai kelas, berinteraksi langsung dengan murid yang saya
anggap belum paham, membaca keinginan mereka, memahami cara mengajar
seperti apa yang diharapkan oleh mereka, dan sebagainya. Sebaliknya, mereka pun
jadi jauh lebih menghargai saya ketika mengajar, mereka jadi merasa enggan untuk
main hape, asik ngobrol sendiri, atau melakukan tindakan apapun yang menunjukan
sikap tidak menghargai usaha saya di kelas. Saya percaya, di sekolah seorang murid
memang perlu memahami pelajaran, sementara seorang guru perlu memahami
murid-murid mereka.

B. Fokus pada bagaimana cara membuat siswa menikmati proses belajar


Menurut pendapat saya pribadi, tugas seorang guru bukan hanya mengajar, tapi
yang lebih penting adalah membuat murid-muridnya suka belajar. Hal ini mungkin
terkesan sepele, tapi menurut saya cara pandang seperti ini krusial sekali dengan
bagaimana cara guru membawa materi di kelas.
Dari pengalaman saya menjadi murid, seorang guru yang berfokus hanya pada
konteks “mengajar”, mentransfer ilmu pada murid-muridnya, membawa misi agar
murid-muridnya mampu mengerjakan soal… seringkali justru kurang berhasil
membawa suasana kelas yang positif dan bersemangat untuk belajar. Di sisi lain,
seorang guru yang fokus untuk membangun nuansa belajar yang positif dulu di awal,
bercerita dulu tentang berbagai contoh nyata yang menggambarkan kenapa materi
tersebut penting untuk dikuasai, kenapa materi itu menarik dan seru untuk dibahas…
guru semacam ini lebih bisa membangun nuansa kelas yang siap menerima
pengajaran, sehingga proses belajar-mengajar jadi lebih menyenangkan, seru,
menarik, tidak membosankan, dan para siswa jadi lebih termotivasi belajar.

3. Memberi hukuman yang tidak menyelesaikan masalah.


Menjadi guru memang bukan pekerjaan yang mudah. Butuh kesabaran yang luar
biasa untuk dapat mengendalikan emosi dalam mengontrol para siswa. Dari
pengalaman saya menjadi guru dan wali kelas, memang selalu ada-ada saja ulah
murid yang menjengkelkan, dari yang sering terlambat, bikin ribut di kelas,
menyontek, lupa mengerjakan PR, dan sebagainya. Dalam hal ini, saya mengerti jika
guru menggunakan metode hukuman untuk dapat lebih mudah mengontrol,
mengendalikan perilaku siswa, sekaligus memberikan efek jera dan
bentuk peringatan bagi anak-anak yang lain. Di satu sisi, hukuman memang cara yang
paling praktis untuk membuat siswa berhenti melakukan kenakalan. Namun di sisi
lain, apakah hukuman yang diberikan betul-betul dapat menyelesaikan masalah?

Seorang psikolog klinis dari Columbia University, Laura Markham,


mengatakan bahwa hukuman tidak selalu mampu mengubah anak didik menjadi
lebih baik, terutama untuk jangka panjang. Sebaliknya, menurut pendapat
Laura, hukuman dari pihak otoritas (guru / orangtua) malah bisa membuat pihak
terhukum merasa rendah diri, hilang kepercayaan, kerenggangan hubungan
emosional, perasaan untuk terus memberontak, bahkan memicu kebohongan-
kebohongan untuk menutupi kesalahan lainnya. Saya pikir, hal ini juga bisa jadi
relevan dalam konteks hubungan guru dengan murid. Bentuk hukuman yang tidak
tepat sasaran bisa berpotensi membuat siswa untuk bersikap antipati terhadap guru,
bahkan membenci mata pelajaran yang diajarkan.
Dalam konteks ini, saya pribadi berpendapat bahwa sebagai guru, kita perlu
mengevaluasi penerapan “hukuman” sebagai alat kontrol di dalam kelas.
Terutama pada siswa yang sedang dalam umur-umur krusial untuk menumbuhkan
rasa kecintaan mereka terhadap sebuah ilmu. Saya pribadi sebetulnya kurang
sepakat dalam bentuk hukuman yang kurang relevan pada penyelesaian masalah.
Seperti contohnya : berdiri di depan kelas dengan satu kaki, lari keliling lapangan 10
keliling, mencabuti rumput, hormat di depan tiang bendera selama berjam-jam,
menulis berulang kalimat “aku tidak akan terlambat” sebanyak 100x, dan bentuk
hukuman sejenisnya yang tidak berfokus pada penyelesaian masalah.
Dalam hal ini, bukan berarti saya berpendapat bahwa tindakan menghukum itu sama
sekali tidak perlu. Memberi hukuman bisa jadi tepat jika proses itu memberikan
pengertian bagi siswa bahwa tindakan dia itu keliru. Berilah hukuman jika itu
membuat siswa memahami konsekuensi dan risiko yang relevan dari tindakannya.
Akan jauh lebih baik lagi, jika bentuk hukuman, teguran, sanksi, atau perintah dari
guru tersebut berorientasi pada penyelesaian akar masalah yang sesungguhnya,
bukan sekadar menjadi bentuk cara untuk mengontrol, memberi efek jera, memberi
contoh pada siswa lain, apalagi hanya untuk sekadar
melampiaskan emosi dan kejengkelan terhadap murid tersebut.

Saya pribadi dalam prakteknya lebih menyukai pendekatan personal bagi setiap
siswa yang bermasalah. Jika saya menemukan ada murid yang (katakanlah misalnya)
sering terlambat, biasanya saya panggil untuk mengetahui akar permasalahannya.
Jika ternyata akar masalahnya itu karena siswa tersebut memiliki kesulitan mengatur
pola tidur, maka saya akan mencoba untuk membantu memberikan arahan, saran,
atau mungkin perintah yang intinya berfokus untuk memberikan solusi terhadap
siswa tersebut. Karena saya kira, memberi hukuman hormat tiang bendera selama
berjam-jam tidak akan membantu memberi solusi dan menyelesaikan masalah
seorang anak yang punya kesulitan mengatur pola tidur.
4. Sikap antikritik dan tertutup pada evaluasi

Point terakhir yang mau saya sampaikan adalah hal yang saya kira perlu kita semua
renungkan, termasuk untuk diri saya sendiri. Menjadi seorang guru terkadang
membuat diri kita selalu berada dalam posisi yang ‘dominan’ di depan kelas.
Sehingga tidak jarang hal ini menumbuhkan sikap antikritik, tertutup pada evaluasi,
bahkan merasa diri paling mengerti “caranya mengajar” karena pengalaman
mengajar yang lama. Pada kesempatan ini, saya hanya ingin mengingatkan bahwa
kita semua adalah manusia biasa, yang tentu tidak luput pada kekeliruan. Oleh
karena itu, saya kira peran seorang guru (yang notabene sangatlah penting) juga
perlu diiringi rasa keterbukaan untuk dapat terus mengevaluasi diri dan terbuka pada
kritik.
Saya tau bahwa memang setiap guru memiliki cara yang unik dalam mengajar. Ada
yang pembawaannya cenderung serius, ada yang sambil bercanda, ada yang cuma
duduk di kursi sepanjang jam pelajaran berlangsung, ada yang kalo ngajar nggak bisa
diem, ada yang lebih suka menjelaskan secara satu arah, ada yang cenderung
mengajak 2–3 orang siswa berinteraksi, ada yang suka mengajak seluruh kelas
berdiskusi, dan sebagainya. Sebetulnya bagi saya, tidak masalah cara mengajar guru
itu seperti apa, selama tujuan proses mengajar itu tercapai, yaitu siswa
dapat memahami materinya dan juga menikmati proses belajar itu sendiri.

Masalahnya, agar tujuan dan proses mengajar itu tercapai… saya kira semua
pendidik, tidak terkecuali (termasuk saya sendiri) rasanya perlu berani
untuk mengevaluasi dirinya sendiri. Karena memang tidak bisa dipungkiri bahwa,
tidak semua style mengajar guru itu sukses dalam membuat murid paham dan
menikmati proses belajar. Sayangnya, beberapa kasus yang saya perhatikan, ada saja
oknum guru yang memiliki sikap antikritik, terutama jika mereka merasa sudah
memiliki pengalaman mengajar yang jauh lebih lama daripada rekan-rekan guru yang
lain.
Menurut pendapat saya, sikap seperti inilah justru yang bisa menjadi masalah yang
fatal dalam dunia pendidikan kita. Karena bagi seseorang tertutup pada evaluasi,
boleh jadi mereka memiliki pengalaman mengajar yang lama, tetapi sebetulnya,
mereka hanyalah mengulang pola mengajar yang keliru dan itu terus berulang
selama bertahun-tahun lamanya.

Untuk melahirkan generasi penerus yang lebih baik, saya kira para tenaga pendidik
perlu memiliki sikap terbuka pada kritik dan evaluasi. Apakah cara mengajar kita
selama ini sudah tepat? Apakah cara kita mengajar mampu membuat siswa paham
dengan materi yang dipelajari dan menikmati proses belajar?

Untuk membantu proses evaluasi diri guru, para siswa juga diharapkan berperan di
dalamnya. Tolak ukur keberhasilan guru dalam mengajar adalah siswa. Jadi kalau kita
ingin mengetahui sudah sejauh mana keberhasilan kita dalam mengajar, tanya
pendapat murid-murid kita ; bukan pendapat kepala sekolah, bukan pendapat
orangtua, bukan siapa-siapa melainkan murid kita sendiri. Bagikan angket anonim
yang berisi pertanyaan tentang kesan/cara mengajar kita selama ini. Saya percaya
jika setiap pendidik memiliki keterbukaan pada kritik dan saran, maka kualitas guru di
Indonesia akan semakin baik.