Anda di halaman 1dari 8

Jurnal AKK, Vol 2 No 2, Mei 2013, hal 48-55

MENGEMBANGKAN EVIDENCE BASED PUBLIC HEALTH (EBPH)


HIV DAN AIDS BERBASIS SURVEILANS

EVIDENCE BASED PUBLIC HEALTH (EBPH) DEVELOPMENT


HIV AND AIDS BASED SURVEILLANCE

Ridwan Amiruddin1
1
Bagian Epidemiologi
Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas, Makassar

Abstract

Public health surveillance is the data collection and analysis continuously and systematically
then it is disseminated (spread) to the parties who are responsible for the prevention of diseases and
other health problems. Surveillance constantly monitors the incidence and trends of disease, detects
and predicts outbreaks on populations, observes the factors that influence the incidence of diseases.
Furthermore, surveillance links the information to decision makers in order to prevent and control
disease, sometimes it is used the term epidemiologic surveillance. Both public health surveillance
and epidemiological surveillance are essentially the same as they use the same method and aim
which are to control public health problems. Epidemiology is known as the core of public health.
Surveillance by WHO explained that surveillance can be defined as the application of appropriate
epidemiological methodology and techniques to control diseases. A description of the pattern of
ongoing disease can be described several examples of activities carried out as follows: a. Detection
of acute changes occurring disease and its distribution, b. Identification and calculation of trends and
patterns of disease according to frequency of occurrence, c. Identification of risk factors and other
causes, such as vectors that can lead to disease later, and d. Detect changes in community health
services. Developing an integrated HIV and AIDS among all stakeholders is very important to follow
up on the efforts to establish evidence-based health policy.

Keywords : Surveillance Epidemiologic, Health Services, HIV AIDS, and Health Policy

A. Konsep Surveilans HIV dan AIDS ketersediaan subjek untuk diambil darahnya
1). Dasar surveilans kemudian diberikan konseling sebelum serta
(a). Tujuan dari surveilans AIDS ini sesudah test terhadap subjek dan yang
adalah memberikan suatu data terhadap terpenting harus rahasia agar subjek yag
pelayanan kesehatan di Indonesia agar diambil darahnya merasa nyaman dan tidak
melakukan suatu perencanaan, pelaksanaan timbul rasa khawatir misalnya tidak di beri
dan pemantauan terhadap penanggulangan nama bisa langsung nama kota atau nama
AIDS di Indonesia. Sedangakn definisi kasus samara saja.
AIDS guna keprluan surveilans sendiri adalah (c). Cara pencatatan kasus surveilans
seseorang yang HIV positif dan didapatkan AIDS yaitu yang pertama malakukan
minimal 2 tanda mayaor seperti diare kronis pemeriksaan fisik terhadap penderita yang
selama 1 bulan, berat badan menurun lebih mencurigakan terkena AIDS seperti terdapat 2
dari 10% dalam 1 bulan, demam tanda mayor serta 1 tanda minor, kedua yaitu
berkepanjangan, dll disertai dengan 1 tanda pemeriksaan laboratorium untuk menguatkan
minor yaitu seperti salah satunya batuk dugaan terhadap penderita, selanjutnya
menetap selama kuarang lebih 1 bulan dan pemeriksaan laboratorium akan menghasilkan
dermatitis generalisata yang disertai sensasi data apakah penderita positif AIDS atau tidak.
gatal. Apabila penderita positif menderita AIDS maka
(b). Prosedur pemeriksaan darah untuk wajib mengisi formuir penderita AIDS agar
penderita AIDS adalah yang pertama harus semua kasus dapat dilaporkan baik yang
mengisi informed consent yang artinya sudah meninggal atau yang masih hidup,

Correspondence : Ridwan Amiruddin, Bagian Epidemiologi 48 Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas, Jl. Perumdos
Tamalanrea Blok AI. 3 Makassar, HP : 08164384965, Email : ridwan.amiruddin@gmail.com
Jurnal AKK, Vol 2 No 2, Mei 2013, hal 48-55

untuk yang sudah meninggal meskipun kelompok yang lainnya karena dianggap
sebelumnya sudah lapor pada saat meninggal sebagai penyakit kutukan dari tuhan terhadap
juga wajib lapor, karena penguburan mayat balasan apa yang telah diperbuat, dan itu
positif AIDS berbeda dengan yang biasa. persepsi yang salah karena penularan
(d). Pelaporan kasus surveilans AIDS HIV/AIDS tidak hanya karena perilaku seks
yaitu dengan menggunakan formulir dari dengan berganti-ganti pasangan tetapi bisa
laporan penderita positif AIDS yang kemudian saja dari pisau cukur yang sebelumnya di
laporan kasus ini dikirim secepatnya tanpa gunakan oleh penderita HIV/AIDS, atau
menunggu suatu periode waktu dan harus mendapatkan donor darah dari penderita
dilaporkan pada saat menemukan penderita HIV/AIDS yang tidak ada sangkut pautnya
positif AIDS bisa melalui fax atau email untuk dengan hubungan seks.
sementara tetapi kemudian disusul dengan
data secara tertulis. 3). Survei Surveilans perilaku
Tujuan survey surveilans perilaku yaitu
2). Surveilans Sentinel HIV melakukan pemantuan terhadap perilaku
(a). Pengertiannya adalah melakukan seksual dari kelomok berisiko dari waktu ke
kegiatan untuk menganalisis secara terus waktu untuk menyediakan informasi guna
menerus untuk menurunkan risiko terjadinya menilai efektifitas dari upaya pencegahan
peningkatan serta penularan HIV dengan yang telah dilakukan serta mengembangkan
menggunakan populasi sentinel atau program selanjutya. Peranan dari surveilans
kelompok tertentu pada lokasi tertentu untuk perilaku ini adalah sebagai sitem peringatan
memantau prevalensi penyakit tertentu seperti dini, perencanaan suatu program pencegahan
HIV misalanya pada tempat lokalisasa atau dan penanggulangan dan membantu evaluasi
pada kelompok berisiko tertentu yaitu seperti program serta membantu menjelaskan
PSK, pengguna NAPZA dan waria agar dapat perubahan suatu prevalensi. Prinsip dari
melakukan pencegahan dan penanggulangn pelaksanaan surveilans perilaku sama dengan
HIV serta memberikan informasi terhadap surveilans HIV yaitu survei yang dilakukan
pelayanan kesehatan. berulang untuk mengumpulkan data tentang
(b). Tujuan surveilans sentinel HIV perilaku terhadap populasi berisiko tertular
sendiri adalah melakukan pemeriksaan seperti PSK, waria, pengguna NAPZA suntik
seroprevalens HIV pada kelompok risiko pada dll.
klinik, kemudian memantaun kecenderungan
infeksi HIV serta dampak dari pemberian 4). Surveilans Generasi Kedua
program pada kelompok tersebut. Surveilans ini lebih mementingkan
menyediakan data tentang proyeksi kasus penggunaan data mengenai perilaku terhadap
HIV/AIDS di Indonesia berdasarkan kegiatan suatu populasi, yang potensial tertular
analisis dan menyediakan informasi untuk HIV/AIDS sebagai informasi dan menjelaskan
perencanaan pencegahan dan tren HIV pada pada suatu populasi. Surveilans
penanggulangan terhadap pelayanan generasi kedua ini merupakan penggabungan
kesehatan. dari surveilans biologis dan surveilans
(c). Tes HIV dilakukan tanpa perilaku, informasi yang penting didapatkan
memberikan identitas dengan menggunakan dari surveilans generasi kedua ini adalah
kode tertentu yng tidak dapat dikaitkan dengan perilaku suatu populasi yang berisiko tertular
subjek yang diambil darahnya, misalnya HIV sebagai system kewaspadaan dini,
menggunakan nama kotanya saja atau nama kemudian mengambil informasi dari perilaku
samaran, yang tidak ada kaitannya dengan populasi berisiko tinggi untuk membuat suatu
subjek agar dapat menjaga kerahasiaan, program agar terpusat dan tepat pada
karena penderita HIV/ AIDS sekarang sasaran, serta mendapatkan informasi
cenderung terdiskriminasi dan dikucilkan dari terhadap perilaku apa saja yang bisa di ubah

49
Jurnal AKK, Vol 2 No 2, Mei 2013, hal 48-55

untuk mencegah penularan, dan melakukan 2. Surveilans epidemiologi di rumah


pengamatan perilaku suatu populasi yang sakit
sudah diberikan program kemudian di evaluasi Saat ini penderita penyakit menular yang
hasilnya apakah perilaku populasi tersebut dirawat d rumah sakit jumlahnya masih cukup
berubah yang artinya perilalku tersebut dapat besar. Suatu keadaan khusus dimana faktor
menurunkan prevalensi HIV pada populasi itu. lingkungan, secara bermakna dapat
mendukung terjadinya risiko meendapatkan
B. Metode Surveilans penyakit infeksi, sehingga tekhnik surveilans
Menyadari bahwa kesehatan termasuk kontrol penyakit pada rumah sakit
merupakan salah satu unsur kesejahteraan rujukan pada tingkat propinsi dan regional
umum, maka masalah pelayanan kesehatan memerlukan perlakuan tersendiri. Pada rumah
merupakan kepentingan nasional yang sangat sakit tersebut, terdapat beberapa penularan
mendasar. Dalam pada itu semakin maju penyakit dan dapat menimbulkan infeksi
suatu bangsa semakin besar dan meningkat nosokomial. Selain itu, rumah sakit mungkin
pula kebutuhan akan pelayanan kesehatan dapat menjadi tempat berkembangbiaknya
yang baik. serta tumbuh suburnya berbagai jenis mikro-
Dalam surveilans epidemiologi, kita organisme.
mengenal adanya surveilans epidemiologi Untuk mengatasi masalah penularan
penyakit menular, surveilans epidemiologi penyakit infeksi di rumah sakit maka telah
penyakit tidak menular, surveilans dikembangkan sistem surveilans epidemiologi
epidemiologi penyakit infeksi, surveilans yang khusus dan cukup efektif untuk
epidemiologi penyakit akut dan surveilans menanggulangi kemungkinan terjadinya
epidemiologi penyakit kronis. Terdapat penularan penyakit (dikenal dengan infeksi
beberapa persamaan dan perbedaan secara nosokomial) di dalam lingkungan rumah sakit.
konseptual antara kegiatan surveilans
epidemiologi penyakit akut dan kronis. C. Jenis Surveilans
Ruang lingkup surveilans epidemiologi Dikenal beberapa jenis surveilans: (1)
menurut tempatnya dapat dibedakan menjadi Surveilans individu; (2) Surveilans penyakit; (3)
2: yaitu surveilans epidemiologi dalam Surveilans sindromik; (4) Surveilans Berbasis
masyarakat dan surveilans epidemiologi di Laboratorium; (5) Surveilans terpadu; (6)
rumah sakit. Surveilans kesehatan (Murti,2010).

1. Surveilans epidemiologi dalam 1. Surveilans Individu


masyarakat Surveilans individu (individual
Surveilans epidemiologi ini dilakukan surveillance) mendeteksi dan memonitor
pada suatu wilayah administrasi atau pada individu-individu yang mengalami kontak
kelompok populasi tertentu. Dengan analisis dengan penyakit serius, misalnya pes, cacar,
secara teratur berkesinambungan terhadap tuberkulosis, tifus, demam kuning, sifilis.
data yang dikumpulkan mengenai kejadian Surveilans individu memungkinkan
kesakitan atau kematian, dapat memberikan dilakukannya isolasi institusional segera
kesempatan lebih mengenal kecenderungan terhadap kontak,sehingga penyakit yang
penyakit menurut variabel yang diteliti. dicurigai dapat dikendalikan. Sebagai contoh,
Variabel tersebut diantaranya adalah distribusi karantina merupakan isolasi institusional yang
penyakit menurut musim atau periode waktu membatasi gerak dan aktivitas orang-orang
tertentu, mengetahui daerah geografis dimana atau binatang yang sehat tetapi telah terpapar
jumlah kasus/penularan meningkat atau oleh suatu kasus penyakit menular selama
berkurang, serta berbagai kelompok risiko periode menular. Tujuan karantina adalah
tinggi menurut umur, jenis kelamin, ras, mencegah transmisi penyakit selama masa
agama, status sosial ekonomi serta pekerjaan.

50
Jurnal AKK, Vol 2 No 2, Mei 2013, hal 48-55

inkubasi seandainya terjadi infeksi (Last, memberikan informasi duplikatif, sehingga


2001). mengakibatkan inefisiensi.
Isolasi institusional pernah digunakan
kembali ketika timbul AIDS 1980an dan SARS. 3. Surveilans Sindromik
Dikenal dua jenis karantina: (1) Karantina total; Syndromic surveillance (multiple
(2) Karantina parsial. Karantina total disease surveillance) melakukan pengawasan
membatasi kebebasan gerak semua orang terus-menerus terhadap sindroma (kumpulan
yang terpapar penyakit menular selama masa gejala) penyakit, bukan masing-masing
inkubasi, untuk mencegah kontak dengan penyakit. Surveilans sindromik mengandalkan
orang yang tak terpapar. Karantina parsial deteksi indikator-indikator kesehatan individual
membatasi kebebasan gerak kontak secara maupun populasi yang bisa diamati sebelum
selektif, berdasarkan perbedaan tingkat konfirmasi diagnosis. Surveilans sindromik
kerawanan dan tingkat bahaya transmisi mengamati indikator-indikator individu sakit,
penyakit. Contoh, anak sekolah diliburkan seperti pola perilaku, gejala-gejala, tanda, atau
untuk mencegah penularan penyakit campak, temuan laboratorium, yang dapat ditelusuri
sedang orang dewasa diperkenankan terus dari aneka sumber, sebelum diperoleh
bekerja. Satuan tentara yang ditugaskan pada konfirmasi laboratorium tentang suatu
pos tertentu dicutikan, sedang di pospos penyakit. Surveilans sindromik dapat
lainnya tetap bekerja. Dewasa ini karantina dikembangkan pada level lokal, regional,
diterapkan secara terbatas, sehubungan maupun nasional. Sebagai contoh, Centers for
dengan masalah legal, politis, etika, moral, Disease Control and Prevention (CDC)
dan filosofi tentang legitimasi, akseptabilitas, menerapkan kegiatan surveilans sindromik
dan efektivitas langkah-langkah pembatasan berskala nasional terhadap penyakit-penyakit
tersebut untuk mencapai tujuan kesehatan yang mirip influenza (flu-like illnesses)
masyarakat (Bensimon dan Upshur, 2007). berdasarkan laporan berkala praktik dokter di
AS. Dalam surveilans tersebut, para dokter
2. Surveilans Penyakit yang berpartisipasi melakukan skrining pasien
Surveilans penyakit (disease berdasarkan definisi kasus sederhana (demam
surveillance) melakukan pengawasan terus- dan batuk atau sakit tenggorok) dan membuat
menerus terhadap distribusi dan laporan mingguan tentang jumlah kasus,
kecenderungan insidensi penyakit, melalui jumlah kunjungan menurut kelompok umur
pengumpulan sistematis, konsolidasi, evaluasi dan jenis kelamin, dan jumlah total kasus yang
terhadap laporan-laporan penyakit dan teramati. Surveilans tersebut berguna untuk
kematian, serta data relevan lainnya. Jadi memonitor aneka penyakit yang menyerupai
fokus perhatian surveilans penyakit adalah influenza, termasuk flu burung, dan antraks,
penyakit, bukan individu. Di banyak negara, sehingga dapat memberikan peringatan dini
pendekatan surveilans penyakit biasanya dan dapat digunakan sebagai instrumen untuk
didukung melalui program vertikal (pusat- memonitor krisis yang tengah berlangsung
daerah). Contoh, program surveilans (Mandl et al., 2004; Sloan et al., 2006). Suatu
tuberkulosis, program surveilans malaria. sistem yang mengandalkan laporan semua
Beberapa dari sistem surveilans vertikal dapat kasus penyakit tertentu dari fasilitas
berfungsi efektif, tetapi tidak sedikit yang tidak kesehatan, laboratorium, atau anggota
terpelihara dengan baik dan akhirnya kolaps, komunitas, pada lokasi tertentu, disebut
karena pemerintah kekurangan biaya. Banyak surveilans sentinel.
program surveilans penyakit vertikal yang Pelaporan sampel melalui sistem
berlangsung paralel antara satu penyakit surveilans sentinel merupakan cara yang baik
dengan penyakit lainnya, menggunakan fungsi untuk memonitor masalah kesehatan dengan
penunjang masing-masing, mengeluarkan menggunakan sumber daya yang terbatas
biaya untuk sumber daya masing-masing, dan (DCP2, 2008; Erme dan Quade, 2010).

51
Jurnal AKK, Vol 2 No 2, Mei 2013, hal 48-55

4. Surveilans Berbasis Laboratorium dan binatang serta organisme, memudahkan


Surveilans berbasis laboratorium transmisi penyakit infeksi lintas negara.
digunakan untuk mendeteksi dan menonitor Konsekunsinya, masalah-masalah yang
penyakit infeksi. Sebagai contoh, pada dihadapi negara-negara berkembang dan
penyakit yang ditularkan melalui makanan negara maju di dunia makin serupa dan
seperti salmonellosis, penggunaan sebuah bergayut. Timbulnya epidemi global (pandemi)
laboratorium sentral untuk mendeteksi strain khususnya menuntut dikembangkannya
bakteri tertentu memungkinkan deteksi jejaring yang terpadu di seluruh dunia, yang
outbreak penyakit dengan lebih segera dan manyatukan para praktisi kesehatan, peneliti,
lengkap daripada sistem yang mengandalkan pemerintah, dan organisasi internasional untuk
pelaporan sindroma dari klinik-klinik (DCP2, memperhatikan kebutuhan-kebutuhan
2008). surveilans yang melintasi batas-batas negara.
Ancaman aneka penyakit menular merebak
5. Surveilans Terpadu pada skala global, baik penyakit-penyakit lama
Surveilans terpadu (integrated yang muncul kembali (re-emerging diseases),
surveillance) menata dan memadukan semua maupun penyakit-penyakit yang baru muncul
kegiatan surveilans di suatu wilayah yurisdiksi (new emerging diseases), seperti HIV/AIDS,
(negara/ provinsi/ kabupaten/ kota) sebagai flu burung, dan SARS. Agenda surveilans
sebuah pelayanan publik bersama. Surveilans global yang komprehensif melibatkan aktor-
terpadu menggunakan struktur, proses, dan aktor baru, termasuk pemangku kepentingan
personalia yang sama, melakukan fungsi pertahanan keamanan dan ekonomi (Calain,
mengumpulkan informasi yang diperlukan 2006; DCP2, 2008).
untuk tujuan pengendalian penyakit.
Kendatipun pendekatan surveilans terpadu D. Karakteristik Data HIV dan AIDS
tetap memperhatikan perbedaan kebutuhan Dikenal beberapa jenis surveilans: (1)
data khusus penyakit-penyakit tertentu (WHO, Surveilans individu; (2) Surveilans penyakit; (3)
2001, 2002; Sloan et al., 2006). Karakteristik Surveilans sindromik; (4) Surveilans Berbasis
pendekatan surveilans terpadu: (1) Laboratorium; (5) Surveilans terpadu; (6)
Memandang surveilans sebagai pelayanan Surveilans kesehatan (Murti,2010).
bersama (common services); (2) Berdasarkan data resmi Kementerian
Menggunakan pendekatan solusi majemuk; (3) Kesehatan, sekitar 26. 400 pengidap AIDS
Menggunakan pendekatan fungsional, bukan dan 66. 600 pengidap HIV positif di Indonesia
struktural; (4) Melakukan sinergi antara fungsi tahun 2011 ini, lebih dari 70 persen di
inti surveilans (yakni, pengumpulan, antaranya adalah generasi muda usia
pelaporan, analisis data, tanggapan) dan produktif yang berumur di antara 20- 39 tahun.
fungsi pendukung surveilans (yakni, pelatihan Angka ini belum mencerminkan data yang
dan supervisi, penguatan laboratorium, sesungguhnya, karena AIDS merupakan
komunikasi, manajemen sumber daya); (5) fenomena gunung es, di mana yang terlihat
Mendekatkan fungsi surveilans dengan hanya sekitar 20 persen saja, sedangkan yang
pengendalian penyakit. Meskipun tidak diketahui jumlahnya akan lebih banyak.
menggunakan pendekatan terpadu, surveilans Saat ini Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA)
terpadu tetap memandang penyakit yang yang mengetahui diri mereka terinfeksi HIV
berbeda memiliki kebutuhan surveilans yang hanya sekitar 20 persen. Dengan kata lain, 8
berbeda (WHO, 2002). dari 10 ODHA tidak mengetahui bahwa diri
mereka sudah terinveksi HIV, dan bisa
6.Surveilans Kesehatan Masyarakat menularkan virus tersebut kepada orang lain.
Global Hal ini turut andil meningkatkan kasus HIV di
Perdagangan dan perjalanan Indonesia. Pengidap HIV bukan hanya
internasional di abad modern, migrasi manusia kelompok resiko tinggi saja, tetapi juga dari

52
Jurnal AKK, Vol 2 No 2, Mei 2013, hal 48-55

keluarga dan masyarakat biasa, termasuk ibu- kegiatan yang dilakukan adalah sebagai
ibu rumah tangga. Oleh karena, sangat berikut :
penting untuk melakukan deteksi dini infeksi a) Deteksi perubahan akut dari penyakit
HIV. Deteksi dini dapat dilakukan melalui yang terjadi dan distribusinya
konseling dan testing secara sukarela bagi b) Identifikasi dan perhitungan trend dan
mereka yang memiliki perilaku dengan resiko pola penyakit
tinggi tertular HIV, sebagai upaya pencegahan c) Identifikasi dan faktor risiko dan
agar tidak terinfeksi HIV. Berbagai upaya telah penyebab lainnya, seperi vektor yang
dilakukan oleh pemerintah dalam dapat menyebabkan sakit dikemudian
menanggulangi masalah HIV dan AIDS. Tetapi hari
epidemi HIV dan AIDS terus saja berlanjut d) Deteksi perubahan pelayanan
seiring dengan maraknya pemakaian narkoba kesehatan yang terjadi
di Indonesia. 2. Dapat melakukan monitoring
Di beberapa provinsi di Indonesia kecenderungan penyakit endemis.
sudah terjadi epidemi yang terkonsentrasi, di 3. Dapat mempelajari riwayat alamiah
mana kelompok populasi yang beresiko penyakit dan epidemiologi penyakit,
terkena HIV mencapai lebih dari 5 persen. khususnya untuk mendeteksi adanya
Bahkan di Provinsi Papua, ada KLB/wabah
kecenderungan generalized epidemic, di mana Melalui pemahaman riwayat penyakit,
masyarakat umum sudah terinfeksi lebih dari 2 dapat bermanfaat sebagai berikut :
persen, dengan rata-rata kasus 180,69. a) Membantu menyusun hipotesis untuk
Artinya, terdapat 180 orang terinfeksi HIV dasar pengambilan keputusan dalam
pada setiap 100 ribu penduduk di Papua. intervensi kesehatan masyarakat
Rincian hasil surveilans data HIV dan AIDS b) Membantu untuk mengidentifikasi
menurut berbagai karakter dapat di cermati penyakit untuk keperluan penelitian
pada lampiran. epidemiologi
c) Mengevaluasi program-program
E. Manfaat Hasil Surveilens dalam pencegahan dan pengendalian
Pengambilan Keputusan penyakit
Informasi kesehatan yang berasal dari 4. Memberikan informasi dan data dasar
data dasar pola penyakit sangat penting untuk untuk memproyeksikan kebutuhan
menyusun perencanaan dan untuk pelayanan kesehatan dimasa mendatang.
mengevaluasi hasil akhir dari intervensi yang Data dasar sangat penting untuk
telah dilakukan. Semakin kompleksnya proses menyusun perencanaan dan untuk
pengambilan keputusan dalam bidang mengevaluasi hasil akhir intervensi yang
kesehatan masyarakat, memerlukan informasi diberikan. Dengan semakin kompleksnya
yang cukup handal untuk mendeteksi adanya pengambilan keputusan dalam bidang
perubahan-perubahan yang sistematis dan kesehatan masyarakat, maka diperlukan
dapat dibuktikan dengan data (angka). data yang cukup handal untuk mendeteksi
Keuntungan dari kegiatan surveilans adanya perubahan-perubahan yang
epidemiologi disini dapat juga diartikan sistematis dan dapat dibuktikan dengan
sebagai kegunaan surveilans epidemiologi, data (angka).
yaitu : 5. Dapat membantu pelaksanaan dan daya
1. Dapat menjelaskan pola penyakit yang guna program pengendalian khusus
sedang berlangsung yang dapat dikaitkan dengan membandingkan besarnya
dengan tindakantindakan/intervensi masalah sebelum dan sesudah
kesehatan masyarakat. pelaksanaan program.
Dalam rangka menguraikan pola kejadian
penyakit yang sedang berlangsung, contoh

53
Jurnal AKK, Vol 2 No 2, Mei 2013, hal 48-55

6. Membantu menetapkan masalah kesehatan masyarakat, memerlukan informasi


kesehatan dan prioritas sasaran program yang cukup handal untuk itu pelaksanakan
pada tahap perencanaan program. surveilans yang handal harus dilaksanakan.
Beberapa hal yang harus diperhatikan
dalam membuat prioritas masalah dalam Daftar Pustaka
kegiatan surveilans epidemiologi adalah : Amiruddin, Ridwan. (2012). Surveilans
a) Frekuensi kejadian (insidens, prevalens Kesehatan Masyarakat. IPB
Press.Bogor.
dan mortalitas); Amiruddin. Ridwan. (2011). Epidemiologi
b) Kegawatan/ Severity (CFR, Perencanaan dan Pelayanan
hospitalization rate, angka kecacatan); Kesehatan. Makassar. Masagena
c) Biaya (biaya langsung dan tidak press. Jogjakarta.
langsung); Amon J.; Brown T.; Hogle J.; Macneil J.;
d) Dapat dicegah (preventability); Magnani R.; Mills S.;Pisani E.; Rehle
T.; Saidel T. (2000). Behavioral
e) Dapat dikomunikasikan
Surveillance Surveys (Bss) : Guidelines
(communicability); For Repeated Behavioral Surveys
f) Public interest Bensimon CM, Upshur REG. (2007). Evidence
And Effectiveness In Decisionmaking
7. Mengidentifikasi kelompok risiko tinggi For Quarantine. Am J Public
menurut umur, pekerjaan, tempat tinggal Health;97:S44-48.
dimana masalah kesehatan sering terjadi Centers for Disease Control and Prevention.
(2000). Monitoring Hospital-Acquired
dan variasi terjadinya dari waktu ke waktu
Infections To Promote Patient Safety--
(musiman, dari tahun ke tahun), dan cara United States, 1990-1999. MMWR
serta dinamika penularan penyakit Morb Mortal Wkly Rep.49(RR-8):149-
menular. 53.
DCP2. (2008). Public Health Surveillance. The
F. Penutup Best Weapon to Avert Epidemics.
Disease Control
Surveilans berbeda dengan
Departemen Kesehatan RI. Pedoman Nasional
pemantauan (monitoring) biasa. Surveilans Terapi Antiretroviral. Panduan
dilakukan secara terus menerus tanpa Tatalaksana Klinis Infeksi HIV pada
terputus (kontinu), sedang pemantauan Orang Dewasa dan Remaja.
dilakukan intermiten atau episodik. Dengan Departemen Kesehatan RI. Jakarta.
mengamati secara terus-menerus dan Erme MA, Quade TC. (2010). Epidemiologic
sistematis maka perubahan-perubahan Surveillance. Enote.
www.enotes.com/public-health.../
kecenderungan penyakit dan faktor yang
epidemiologic-surveillance. Diakses 21
mempengaruhinya dapat diamati atau Agustus 2010.
diantisipasi, sehingga dapat dilakukan Giesecke J. (2002). Modern Infectious Disease
langkah-langkah investigasi dan pengendalian Epidemiology. London: Arnold.
penyakit dengan tepat. Gordis, L. (2000). Epidemiology. Philadelphia,
Tujuan dari surveilans HIV dan AIDS PA: WB Saunders Co.
In Populations at risk of HIV. Family Health
adalah memberikan suatu data terhadap
International.
pelayanan kesehatan di Indonesia agar Murti, Bisma. (2010). Surveilan Kesehatan
melakukan suatu perencanaan, pelaksanaan Masyarakat
dan pemantauan terhadap penanggulangan Priority Project. www.dcp2.org/file/153/dcpp-
AIDS di Indonesia. Informasi kesehatan yang surveillance.pdf
berasal dari data dasar pola penyakit sangat USAID, FHI. (2007). Scaling Up the
penting untuk menyusun perencanaan dan Continuum of Care for People Living
with HIV in Asia
untuk mengevaluasi hasil akhir dari intervensi
WHO. (2007). Surveillance of Population at
yang telah dilakukan. Semakin kompleksnya High Risk for HIV Transmission. World
proses pengambilan keputusan dalam bidang Health Organization.
54
Jurnal AKK, Vol 2 No 2, Mei 2013, hal 48-55

WHO. (2007). Surveillance of HIV Risk Former Soviet Union. BMC Public
Behaviors. Participant Manual. World Health,2:3http://www.biomedcentral.co
Health Organization. m.
Erme MA, Quade TC. (2010). Epidemiologic
Surveillance. Enote.
www.enotes.com/public-health.../
epidemiologic-surveillance. Diakses 21
Agustus 2010.
JHU (=Johns Hopkins University). (2006).
Disaster Epidemiology. Baltimore, MD:
The Johns Hopkins and IFRC Public
Health Guide for Emergencies.
Last, JM. (2001). A Dictionary Of
Epidemiology. New York: Oxford
University Press, Inc.
Mandl KD, Overhage M, Wagner MM, Lober
WB, Sebastiani P, Mostahari F, Pavlin
JA, Gesteland PH, Treadwell T, Koski
E, Hutwagner L, Buckeridge DL , Aller
RD, Grannis S. (2004). Implementing
Syndromic Surveillance: A Practical
Guide Informed By The Early
Experience. J Am Med Inform Assoc.,
11:141–150.
McNabb SJN, Chungong S, Ryan M, Wuhib T,
Nsubuga P, Alemu W, Karande-Kulis
V, Rodier G. (2002). Conceptual
Framework Of Public Health
Surveillance And Action And Its
Application In Health Sector Reform.
BMC Public Health, 2:2
http://www.biomedcentral. Com
Pavlin JA. (2003). Investigation of Disease
Outbreaks Detected By “Syndromic”
Surveillance Systems.
Journal of Urban Health: Bulletin of the New
York Academy of Medicine, 80 (Suppl
1): i107-i114(1). Sloan PD,
MacFarqubar JK, Sickbert-Bennett E,
Mitchell CM, Akers R, Weber DJ,
Howard K. (2006). Syndromic
Surveillance For Emerging Infections In
Office Practice Using Billing Data. Ann
Fam Med 2006;4:351-358.
WHO. (2001). An Integrated Approach To
Communicable Disease Surveillance.
Weekly epidemiologicalrecord, 75: 1-8.
http://www.who.int/wer
_____. (2002). Surveillance: slides.
http://www.who.int
Wuhib T, Chorba TL, Davidiants V, MacKenzie
WR, McNabb SJN. (2002).
Assessment Of The Infectious
Diseases Surveillance System Of The
Republic Of Armenia: An Example Of
Surveillance In The Republics Of The

55