Anda di halaman 1dari 86

FASIES KARBONAT, FORMASI TONASA, CEKUNGAN

SPERMONDE, SULAWESI SELATAN

SKRIPSI

Disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh


gelar Serjana Program S-1 Teknik Geologi,
Fakultas Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran

Disusun Oleh:

FIKRI M
270110120043

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2017
LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL : FASIES KARBONAT, FORMASI TONASA, CEKUNGAN SPERMONDE,


SULAWESI SELATAN

PENYUSUN: FIKRI M
270110120043

Telah disetujui dan disahkan sebagai laporan skripsi di Jatinangor pada tanggal
Desember 2016.

Menyetujui,
Pembimbing Utama,

Dr. Sc. Yoga Andriana Sendjaja., ST., M,Sc.


NIP. 197210101999031002

Pembimbing Pendamping I Pembimbing Pendamping II

Dr. Eng. Agus Didit Haryanto, Ir., MT. Reza Mohammad Ganjar Gani,ST .,MT.
NIP. 196603101994031003 NIP. 197909272014041001

Mengetahui,
Dekan Fakultas Teknik Geologi
Universitas Padjadjaran,

Dr. Ir. Vijaya Isnaniawardhani, MT.


NIP. 196311171988101001
SARI

Cekungan Spermonde merupakan salah satu cekungan potensi hidrokarbon yang


terletak di Sulawesi Selatan. Formasi Tonasa terbentuk dibagian selatan pulau
Sulawesi dengan tren depresi NW-SE. Analisa fasies dan logging diseluruh
singkapan menunjukkan formasi Tonasa berumur Eosen Tengah – Oligosen dengan
produksi karbonat pada air dangkal yang dikenal sebagai Tonasa Platform
Karbonat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui fasies karbonat yang
berkembang pada daerah penelitian, fasies pengendapannya, dan juga distribusi
fasies secara lateral. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data batuan
inti, log sumur, sayatan tipis petrografi, biostratigrafi, XRD (X-Ray Diffraction),
dan SWC (Side Wall Core). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
analisa batuan inti untuk mengetahui litologi dan fasies pengendapan secara
langsung dari objek yang diteliti. Kemudian Analisa data log sumur untuk
membantu interpretasi fasies dan korelasi sumur, Daerah penelitian berkembang
tujuh litofasies yaitu : fasies bioklastik mudstone, fasies bioklastik packstone-
wackstone, fasies mudstone, fasies mudstone-wackstone interkalasi tipis lempung,
fasies lempung interkalasi tipis packstone, fasies bioklastik wackstone, dan fasies
bioklastik packstone. Berdasarkan analisa keseluruhan data daerah penelitian hanya
terdapat satu fasies karbonat yaitu : Fasies Platform Karbonat yang diendapkan
pada empat fasies pengendapan yaitu : Fasies pengendapan paparan dalam, fasies
pengendapan paparan tengah, fasies pengendapan paparan luar, dan fasies
pengendapan cekungan.

Kata kunci : Cekungan Spermonde, Fasies, Formasi Tonasa, Karbonat,


Lingkungan Pengendapan

i
ABSTRACT

Spermonde Basin is one of the potential hydrocarbon basins that located in South
Sulawesi. Tonasa Limestone Formation occur only to the south of a NW-SE
trending depression. Detailed facies mapping and logging throughout the area of
outcrop of the Tonasa Limestone Formation and subsequent petrographic analysis
of carbonate lithologies, have revealed that during the Middle Eocene – Oligocene
a widespread area of shallow water carbonate production, known as the Tonasa
Carbonate Platform.This study was conducted to determine the carbonate facies
develop and depositional facies and facies distribution also laterally. Data used in
this research such as core, well log, petrographic data, biostratigraphy, XRD (X-Ray
Diffraction), and SWC (Side Wall Core Description). The method used in this
research is the analysis of core rock to determine the lithology and depositional
facies directly from the object under study. Later analysis of well log data to assist
the interpretation of facies and correlation of wells,The research area consists of
seventh facies, such as: bioclastic mudstone facies, bioclastic packstone-wackstone
facies, mudstone facies, mudstone -wackstone intercalated clay facies, clay
intercalated packstone facies, bioclastic wackstone facies, and bioclastic packstone
facies. Based on the overall analysis of data the study area there is only one
carbonate facies, namely: Platform Carbonate facies deposited at four depositional
facies, namely: inner shelf depositional, middle shelf depositional, outer shelf
depositional, and basinal depositional.

Keyword : Carbonate, Depositional Environment, Facies, Spermonde Basin,


Tonasa Formation

ii
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim,

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan

Ridho-Nya serta perlindungan-Nya sehingga penulis dapat diberikan kemudahan dalam

kesulitan menyelesaikan penelitian tugas akhir ini.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada kedua orangtua terkasih yang tidak hentinya

memberikan dukungan yang tulus bagi penulis dan juga terimakasih sebesar-besarnya kepada

Bapak Dr. Sc. Yoga Andriana Sendjaja., ST., M,Sc., Bapak Dr. Eng. Agus Didit Haryanto,

Ir., MT., dan Bapak Reza Mohammad Ganjar Gani,ST .,MT. selaku Dosen Pembimbing yang

telah banyak memberikan bantuan dan bimbingan selama penulis melakukan penelitian ini

tak lupa juga pihak-pihak yang telah banyak membantu dalam pelaksanaan dan penyelesaian

laporan pemetaan geologi lanjut ini, antara lain :

1. Ibu Dr. Ir. Vijaya Isnaniawardhani, MT. selaku Dekan Fakultas Teknik Geologi

UNPAD.

2. Bapak Abdurrokhim, ST., MT., Ph.D. selaku Ketua Program Studi Teknik Geologi

UNPAD.

3. Ayah dan Bunda beserta adik-adik yang selalu memberikan semangat, motivasi, dan

doa-doa yang tidak ada hentinya selama penulis melakukan studi dan menyelesaikan

penelitian ini.

4. PT. PPTMBG LEMIGAS yang telah memberikan kesempatan melaksanakan tugas

akhir.

5. Kang Budi dan Kang Sulis atas bantuannya yang telah diberikan selama melaksanakan

tugas akhir di PT. PPTMBG LEMIGAS .

6. Robby Syahputra selaku sahabat seperjuangan yang selalu menemani hari-hari penulis

dalam menyelesaikan tugas akhir ini.

7. Anisa Ayu Lestari rekan seperjuangan yang selalu mengingatkan, mendoakan, dan

menemani penulis dalam menyelasaikan penelitian ini.

iii
8. Keluarga besar Katumiri dan Perguruan Dai-ichi, keluarga, teman-teman hebat yg

menemani keseharian penulis baik dalam suka mapun duka.

9. Segenap Keluarga 2012, terima kasih untuk segala motivasi, diskusi, dukungan baik

moril maupun materil dari kalian semua selama ini. Semoga kekeluargaan ini kekal

sampai kapanpun.

10. Keluarga seperjuangan lantai 2 gedung Eksploitasi 3 PT. PPTMBG LEMIGAS

senasib sepenanggungan selama menyelesaikan tugas akhir terimakasih atas waktu

dan pembelajarannya

11. Seluruh staf dosen dan tata usaha Fakultas Teknik Geologi UNPAD atas segala

bantuan dan dukungannya.

12. Para senior dan adik-adik HMG Unpad, terima kasih untuk bantuan, ilmu dan

motivasinya.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas kebaikan kepada Bapak, Ibu, Saudara, dan

teman-teman sekalian.

Laporan penelitian tugas akhir ini tentunya masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab

itu, saran dan kritik yang bersifat membangun sangat diharapkan untuk perbaikan dimasa yang

akan datang. Semoga laporan tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca pada

umumnya.

Jatinangor, Januari 2017

Penulis

iv
DAFTAR ISI

SARI…………………………..………………………………… .......................... i

KATA PENGANTAR .......................................................................................... iii

DAFTAR ISI ...........................................................................................................v

DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... viii

DAFTAR TABEL ..................................................................................................x

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1

1.1 Latar Belakang ...........................................................................................1

1.2 Ruang Lingkup dan Identifikasi Masalah ...................................................2

1.3 Maksud dan Tujuan.....................................................................................2

1.4 Manfaat Penelitian ......................................................................................3

1.5 Waktu dan Lokasi Penelitian ......................................................................3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...........................................................................4

2.1 Geologi Regional ........................................................................................4

2.1.1 Letak Geografis ..................................................................................4

2.1.2 Kerangka Tektonik dan Struktur Geologi Regional ............................6

2.1.3 Stratigrafi Regional .............................................................................9

2.2 Tinjauan Umum ........................................................................................11

2.2.1 Inti Batuan (Core) ..............................................................................11

2.2.2 Analisa Cutting .................................................................................11

2.2.3 SWC (Side Wall Core) ......................................................................12

2.2.4 XRD (X-Ray Diffraction) .................................................................12

2.2.5 Petrografi ..........................................................................................13

2.2.6 Biostratigrafi .....................................................................................13

2.2.7 Analisa Wireline Log ........................................................................13

v
2.2.8 Batuan Karbonat ................................................................................15

2.2.8.1 Defenisi ...................................................................................15

2.2.8.2 Komposisi Mineral Batuan Karbonat .....................................15

2.2.8.3 Faktor Pengendapan Karbonat ...............................................16

2.2.8.4 Klasifikasi Batuan Karbonat ..................................................17

2.2.8.5 Fasies dan Lingkungan Pengendapan Karbonat ....................19

2.2.9 Elektrofasies ......................................................................................23

2.2.10 Konsep Korelasi ..............................................................................26

BAB III METODE PENELITIAN .....................................................................28

3.1 Objek Penelitian ........................................................................................28

3.2 Alat – Alat Penelitian ................................................................................29

3.3 Tahap Penelitian ........................................................................................29

3.3.1 Tahap Persiapan ................................................................................29

3.3.2 Tahap Pengolahan Data ....................................................................30

3.3.3 Tahap Pembahasan dan Penyusunan Laporan ..................................31

3.4 Bagan Alir Penelitian ................................................................................31

BAB IV HASIL PENELITIAN ...........................................................................32

4.1 Litofasies ...................................................................................................34

4.1.1 Litofasies sumur BF-1 .......................................................................34

4.1.2 Litofasies sumur KF-1 ......................................................................36

4.1.3 Litofasies sumur TF-1 .......................................................................44

4.2 Biostratigrafi .............................................................................................45

4.2.1 Biostratigrafi sumur BF-1 .................................................................46

4.2.1.1 Umur dan Zonasi ...................................................................46

4.2.1.2 Zona Kedalaman Pengendapan ..............................................46

4.2.2 Biostratigrafi sumur KF-1 .................................................................47

vi
4.2.2.1 Umur dan Zonasi ...................................................................47

4.2.2.2 Zona Kedalaman Pengendapan ..............................................47

4.2.3 Biostratigrafi sumur TF-1 ..................................................................48

4.2.3.1 Umur dan Zonasi ...................................................................49

4.2.3.2 Zona Kedalaman Pengendapan ..............................................49

4.3 Elektrofasies ..............................................................................................51

4.3.1 Elektrofasies sumur BF-1 ..................................................................51

4.3.2 Elektrofasies sumur KF-1 ..................................................................53

4.3.3 Elektrofasies sumur TF-1 ..................................................................60

4.4 Rekontruksi Arsitektur Fasies Karbonat ...................................................60

4.4.1 Fasies Pengendapan...........................................................................63

4.4.2 Fasies Karbonat .................................................................................65

4.5 Korelasi Stratigrafi ....................................................................................66

4.6 Sejarah Pengendapan ................................................................................68

BAB V KESIMPULAN & SARAN ...................................................................71

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................73

vii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Peta lokasi Cekungan Spermonde ................................................... 4

Gambar 2.2 Peta isopach dan sebaran lokasi sumur ........................................... 5

Gambar 2.3 Peta anomali gaya berat (Pusat Survey Geologi, 2000) .................. 6

Gambar 2.4 Penampang seismik (PERTAMINA-BEICIP, 1992) ...................... 7

Gambar 2.5 Stratigrafi Cekungan Spermonde (LEMIGAS, 2005) ................... 10

Gambar 2.6 Pengambilan sampel sidewall core .............................................. 12

Gambar 2.7 Nilai densitas massa dasar batuan ................................................ 15

Gambar 2.8 Klasifikasi batuan karbonat menurut Dunham (1962) .................. 19

Gambar 2.9 Lingkungan pengendapan batuan karbonat menurut

(Reeckmann dan Friedman, 1981) ................................................. 23

Gambar 2.10 Model elektrofasies karbonat (Kendal, 2003) ............................ 24

Gambar 3.1 Bagan alir penelitian...................................................................... 31

Gambar 4.1 Kelengkapan data .......................................................................... 33

Gambar 4.2 Zona interval daerah penelitian ..................................................... 33

Gambar 4.3 Data batuan inti sumur BF-1 Fasies Bioklastik Packstone –

Wackstone ..................................................................................... 35

Gambar 4.4 Data bataun inti sumur BF-1 Fasies Bioklastik Mudstone............ 36

Gambar 4.5 Data batuan inti sumur KF-1 Fasies Mudstone ............................. 37

Gambar 4.6 Data batuan inti sumur KF-1 Fasies Mudstone – Wackstone

Interkalasi Tipis Lempung ............................................................ 38

Gambar 4.7 Data bataun inti sumur KF-1 Fasies Lempung Interkalasi Tipis

Packstone ...................................................................................... 39

Gambar 4.8 Data batuan inti sumur KF-1 Fasies Bioklastik Wackstone ......... 40

Gambar 4.9 Data batuan inti sumur KF-1 Fasies Mudstone ............................ 41
Gambar 4.10 Data batuan inti sumur KF-1 Fasies Bioklastik Wackstone ........ 42
viii
Gambar 4.11 Data batuan inti sumur KF-1 Fasies Bioklastik Packstone ......... 43

Gambar 4.12 Data batuan inti sumur KF-1 Fasies Bioklastik Mudstone ......... 44

Gambar 4.13 Elektrofasies sumur BF-1 ............................................................ 52

Gambar 4.14 Elektrofasies sumur KF-1 (Fasies Mudstone) ............................. 53

Gambar 4.15 Elektrofasies sumur KF-1 (Fasies Mudstone-Wackstone

Interkalasi tipis Lempung) .......................................................... 54

Gambar 4.16 Elektrofasies sumur KF-1 (Fasies Lempung Interkalasi

Tipis Packstone) .......................................................................... 55

Gambar 4.17 Elektrofasies sumur KF-1 (Fasies Bioklastik Wackstone).......... 56

Gambar 4.18 Elektrofasies sumur KF-1 (Fasies Mudstone) ............................. 57

Gambar 4.19 Elektrofasies sumur KF-1 (Fasies Bioklastik Wackstone).......... 58

Gambar 4.20 Elektrofasies sumur KF-1 (Fasies Bioklastik Packstone) ........... 59

Gambar 4.21 Elektrofasies sumur KF-1 (Fasies Bioklastik Mudstone) ........... 60

Gambar 4.22 Fasies pengendapan daerah penelitian ....................................... 65

Gambar 4.23 Jalur lintasan korelasi daerah penelitian...................................... 67

Gambar 4.24 Korelasi fasies pengendapan daerah penelitian ........................... 68

Gambar 4.25 Rekontruksi sejarah pengendapan ............................................... 68

ix
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Waktu kegiatan penelitian ................................................................... 3

Tabel 4.1 Data batuan inti sumur TF-1 Fasies Mudstone ................................. 45

Tabel 4.2 Data Biostratigrafi sumur BF-1......................................................... 47

Tabel 4.3 Data Biostratigrafi sumur KF-1 ........................................................ 48

Tabel 4.4 Data Biostratigrafi sumur TF-1 ......................................................... 50

Tabel 4.5 Litofasies yang berkembang didaerah penelitian .............................. 61

x
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Minyak dan gas bumi masih menjadi sumber energi yang paling dibutuhkan di

dunia dikarenakan nilai kalornya yang tinggi, sifat fluidanya yang mudah disimpan

dan didistribusikan, serta dapat menjadi bahan baku keperluan lain

(Koesoemadinata, 1980). Peningkatan akan kebutuhan energi ini harus diimbangi

oleh produksi yang terus meningkat padahal minyak dan gas bumi ini termasuk ke

dalam kategori sumberdaya energi fosil yang tidak terbarukan. Sehingga diperlukan

beberapa solusi dalam usaha peningkatan produksi minyak dan gas bumi yang

diantaranya adalah perluasan dan atau penambahan lapangan produksi,

pengembangan lapangan yang sudah ada dan upaya mempertahankan angka

produksi minyak dan gas bumi pada suatu lapangan agar tidak menurun.

Fasies analisis merupakan salah satu upaya dalam membangun pemahaman

yang lebih baik lagi terhadap reservoar yang menjadi objek penelitian yang

dimaksudkan untuk memberikan panduan dalam menambahkan produksi yang

dapat dihasilkan dari sebuah lapangan. Kegiatan yang dilakukan dapat meliputi :

membangun sejarah pengendapan pada interval penelitian, perhitungan nilai

parameter petrofisika dan penentuan fluida yang terkandung dalam Reservoar yang

ekonomis hingga saat ini hampir seluruhnya berupa batuan sedimen, baik itu

batupasir ataupun batugamping (karbonat). Batuan karbonat sangat menarik

sebagai reservoar karena porositas dan permeabilitas yang memiliki potensi sangat

besar disebabkan oleh pengaruh diagenesa yang dialami. Reservoar karbonat

dicirikan oleh keberagaman porositas dan permeabilitas yang sangat tinggi sebagai

hasil dari kompleksnya fasies asli dan pengaruh diagenesa .

1
2

Pengetahuan yang didapat dari mengidentifikasi dan mengklasifikasi tipe

batuan dan merekonstruksi model pengendapan karbonat akan membantu

subsurface geologist dalam eksplorasi maupun pengembangan reservoar karbonat

(Asquith, 1979).

Berdasarkan uraian diatas peneliti bermaksud mengadakan kajian terhadap

bentukan fasies pada batuan karbonat, dengan judul:

“ FASIES KARBONAT, FORMASI TONASA

CEKUNGAN SPERMONDE, SULAWESI SELATAN”

1.2 Ruang Lingkup dan Identifikasi Masalah

Penelitian ini hanya dibatasi untuk menentukan fasies, lingkungan

pengendapan, dan melakukan korelasi kronostratigrafi pada interval daerah

penelitian. Adapun identifikasi masalahnya yaitu :

1. Litofasies pada interval daerah penelitian

2. Elektrofasies pada interval daerah penelitian

3. Korelasi pada interval daerah penelitian

4. Fasies dan fasies pengendapan daerah penelitian

1.3 Maksud dan Tujuan

Maksud dari penelitian ini adalah untuk menentukan fasies, fasies pengendapan

dan distribusi secara lateral dari interval daerah penelitian. Tujuan yang ingin

dicapai dari penelitian adalah :

1. Mengetahui Litofasies pada interval daerah penelitian.

2. Mengetahui Elektrofasies pada interval daerah penelitian

3. Mengetahui distribusi batuan karbonat secara lateral daerah penelitian


3

4. Megetahui fasies dan fasies pengendapan daerah penelitian

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini dapat menggunakan data secara detail dalam

menganalisis, menginterpretasi, dan mengkorelasikan data bawah permukaan

dengan maksimal, dan juga dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam melakukan

pengembangan lapangan. Penelitian ini juga digunakan sebagai salah satu syarat

untuk mendapatkan gelar sarjana teknik pada Fakultas Teknik Geologi Universitas

Padjajaran, serta untuk menambah wawasan bagi pembaca pada umumnya dan

terkhusus untuk penulis sendiri.

1.5 Waktu dan Lokasi Penelitian

Daerah yang menjadi objek penelitian terletak di Formasi Tonasa,

Cekungan Spermonde, Sulawesi Selatan. Namun, seluruh kegiatan penelitian mulai

dari tahap persiapan, pengolahan data, serta penyusunan laporan dilakukan di

kantor PPTMGB LEMIGAS, Jakarta.

Penelitian ini dilaksanakan selama kurang lebih 3 bulan terhitung sejak 9

Mei 2016 hingga 28 Agustus 2016. (Tabel 1.1)

Tabel 1.1 Waktu kegiatan penelitian


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Geologi Regional

2.1.1 Letak Geografis

Cekungan Spermonde terletak di lepas pantai bagian selatan Pulau Sulawesi

pada 118,5° - 120,5° BT dan 5,5° - 6,5° LS (Gambar 2.1). Cekungan ini di bagian
utara berbatasan dengan daerah paparan lengan selatan pulau Sulawesi, sedangkan

di bagian timur dibatasi oleh deretan pulau-pulau kecil (Pulau Salayar) yang

bentuknya memanjang utara-selatan. Bagian Selatan Cekungan Spermonde dibatasi

oleh Laut Flores, sedangkan di bagian barat dibatasi oleh Paparan Doang (Doang
Platform).

Gambar 2.1 Peta Lokasi Cekungan Spermonde

4
5

Cekungan Spermonde memiliki luas area total sebesar 18.490 km2 dengan

keseluruhannya merupakan luas area lepas pantai yang sebagian besar wilayahnya
merupakan paparan karbonat (Kartaadipura dkk., 1982).

Penarikan batas cekungan ini didasarkan pada pola isopach dan dipotong

pada nilai 2.500 m (Gambar 2.2). Hal tersebut didukung pula oleh data anomali

gaya berat yang memperlihatkan nilai anomali lebih rendah dari area sekitarnya,

sehingga membentuk bentukan trough yang berarah relatif baratlaut-tenggara

(Gambar 2.3). Ketebalan sedimen berdasarkan data isopach berkisar antara 2.500 –
3.500 m, dan semakin menebal kearah tengah cekungan.

Gambar 2.2 Peta isopach dan sebaran lokasi sumur.


6

Gambar 2.3 Peta anomali gaya berat (Pusat Survei Geologi, 2000).

2.1.2 Kerangka Tektonik dan Struktur Geologi Regional

Secara tektonik, Cekungan Spermonde didominasi oleh pergerakan sesar

geser, kemungkinan berkaitan dengan sesar transform yang berkembang seiring

dengan terbentuknya Selat Makassar. Sesar ini berarah paralel utara baratlaut –

selatan tenggara berupa sesar mengiri (Zona Tanakeke dan Sangkarang). Hal ini

menyebabkan barisan sesar naik sebagai proses inverse (PERTAMINA-BEICIP,


1992).

Cekungan Spermonde merupakan bagian dari sistem pemekaran Paleogen,

hasil peregangan back-arc akibat subduksi di sebelah baratdaya Sulawesi

(Thompson dkk., 1991). Terdapat banyak patahan ektensional yang menunjukkan


aktivitas struktur inversi akibat tumbukan pada bagian timur Indonesia.
7

Arah kemiringan sesar di Cekungan Spermonde dan Sub-Cekungan Salayar

tegak lurus dengan kemiringan sesar di Cekungan Makasar Selatan, dan berarah

paralel dengan Adang Flexure (Thompson dkk., 1991). Beberapa kelurusan

dijumpai berarah NW-SW, sejajar dengan sumbu cekungan. Cekungan ini seperti

halnya Cekungan Makassar Selatan, pada mulanya merupakan bagian dari tepian

Daratan Sunda (Kalimantan) yang kemudian terpisah akibat pemekaran Selat

Makassar. Sedimentasi Cekungan Spermonde diendapkan pada batuan dasar yang

berumur Paleosen memiliki penampang seismik yang ditunjukkan pada (Gambar

2.4). Pada penampang tersebut terlihat bahwa cekungan ini berbentuk seperti half-

graben yang sesar utamanya berada di sisi sebelah baratdaya. Namun secara

keseluruhan, cekungan ini terbentuk sebagai pull apart basin yang dikontrol oleh

Sesar Mendatar Sangkarewang. Sesar-sesar lain yang berarah sama dan sesar

antitetik-nya membentuk graben-graben kecil di dalam cekungan. Di sebelah

timurlaut, terdapat Sesar Mendatar Mengiri Tanakeke yang terbentuk sebagai pop-
up atau tranpressional fault.

Gambar 2.4 Penampang seismik (PERTAMINA-BEICIP, 1992).


8

Dikatakan bahwa Paparan Spermonde terletak di sebelah baratdaya

Sulawesi, bagian selatannya membatasi sisi sebelah barat batas Cekungan

Spermonde (PERTAMINA-BEICIP, 1982). Beberapa kecenderungan arah positif

berarah baratlaut - tenggara ditemukan di dekat batas ini, yang terbesar memotong

Pulau Tanakeke. Beberapa patahan barat laut - tenggara ditemukan pada endapan

awal di area ini. Kompleksitas struktur bertambah ke arah bawah ditunjukkan pada
interpretasi seismik pada horison yang lebih dalam.

Titik kulminasi Zona Tanakeke berarah baratlaut dan tenggara tidak dapat

ditembus sumur SSA-1X dan Tanakeke-1. Lebih ke arah selatan horison seismik

menunjukkan adanya kemiringan ke arah selatan. Plunging anticline berarah

tenggara pada bagian selatan juga tidak dapat ditembus sumur ODB-1X. Ke arah

utara Pulau Tanakeke, beberapa titik kulminasi kecil ditemukan berada pada

antiklin baratlaut-tenggara. Arah antiklin, arah Takalar, dipisahkan oleh sinklin dari

arah Tanakeke. Sejajar dengan arah ini, arah Soreang diujicoba oleh sumur

Soreang-1S pada titik kulminasi selatan. sumur ini ditemukan tersebar tertutup
aspal pada karbonat Eosen Awal.

Secara keseluruhan, empat sumur telah dibor di sebelah selatan Paparan

Spermonde dan menghasilkan sedimen tebal berumur Pliosen – Paleosen. Hasil

pemboran menunjukkan sedimen Tersier berada pada sisi timur dan barat paparan,
ke arah bagian dalam Cekungan Spermonde.

Pada sebelah utara, kondisi paparan relatif tenang, dibatasi oleh arah sesar

tensional, seperti ditunjukkan oleh interpetasi seismik horison yang lebih dalam.

Terdiri dari titik kulminasi lebar dan landai dibandingkan bagian selatan Paparan

Spermonde. Tidak ada sumur dibor di area ini. Bagian barat dan utara paparan ini
dibatasi oleh Cekungan Makassar Selatan.
9

Di sebelah timur, Paparan Spermonde muncul pada Sulawesi bagian

baratdaya. Paparan dibatasi singkapan sedimen sepanjang batas barat Western

Divide Range. Batuan Pra-Tersier terlipat secara kuat terendapkan dengan

ketidakselarasan bersudut dengan sikuen tebal tediri dari batupasir, serpih,

batugamping, dan batubara berumur Tersier. Sisi sebelah selatan Western Divide

Range didominasi 2.950 m tinggian Gunungapi Lompobatang yang tertutupi oleh

produk volkanik yang belum terpadatkan. Arah umum sedimen Tersier di daratan
mengikuti arah lepas pantai baratlaut - tenggara.

2.1.3 Stratigrafi Regional

Cekungan Spermonde tersusun atas batuan sedimen Tersier yang

diendapkan di atas batuan dasar Mesozoikum (LEMIGAS, 2005). Batuan sedimen

Tersier tertua adalah Formasi Toraja dan Malawa, yang diendapkan pada saat

rifting. Bagian bawah formasi ini merupakan seri basal yang tebal di sekitar

tinggian. Di atasnya diendapkan batugamping dan sedimen klastik berupa

batulempung berumur Eosen Tengah - Oligosen (Formasi Tonasa). Pada Miosen

Bawah – Miosen Tengah mulai terjadi fase inversi dan pengendapan Formasi

Camba berupa serpih, batupasir dan sisipan batugamping. Fase regresi mulai terjadi

di dalam cekungan pada kala Miosen Akhir dan pada saat bersamaan diendapkan

batugamping dan serpih Formasi Walanae (Gambar 2.5). Pada kala Pliosen terjadi

tektonik yang mengakibatkan sedimen-sedimen yang sudah ada terlipat dan


tersesarkan.
10

Formasi Walanae

Formasi Camba

Formasi Tonasa

Formasi Malawa

Formasi Toraja

Gambar 2.5 Stratigrafi Cekungan Spermonde (LEMIGAS, 2005)


11

2.2 Tinjauan Umum


2.2.1 Batuan Inti (Core)

Pengertian core adalah sampel atau contoh batuan yang diambil dari bawah

permukaan dengan metode tertentu. Core umumnya diambil pada kedalaman

tertentu yang prosepektif oleh perusahaan minyak atau tambang untuk keperluan

lebih lanjut. Data core merupakan data yang paling baik untuk mengetahui kondisi

bawah permukaan, tetapi karena panjangnya terbatas, maka dituntut mengambil


data yang ada secara maksimal.

Data yang diambil meliputi jenis batuan, tekstur, struktur sedimen, dan sifat

fisik batuan itu sendiri. Tekstur dan struktur batuan sedimen dapat menggambarkan

sejarah transportasi pengendapan, energi pembentukan, genesa, arah arus,

mekanisme transportasi, dan kecepatan sedimen tersebut diendapakan. Sehingga

dari faktor – faktor tersebut dapat ditentukan fasies sedimen dan lingkungan
pengendapannya.

2.2.2 Cutting

Cutting merupakan serbuk bor berupa hancuran dari batuan yang ditembus

oleh mata bor (bit), serbuk bor inti diangkat dari dasar lubang bor ke permukaan

oleh gerakan lumpur pemboran yang digunakan untuk mengebor pada waktu

kegiatan pemboran berlangsung. Serbuk bor ini kemudian diperiksa oleh geologist

atau wellsite geologist yang sedang bertugas dilapangan pemboran tersebut,

sehingga kita dapat mengetahui batuan atau formasi apa yang sudah ditembus oleh
mata bor tersebut.
12

2.2.3 SWC (Side Wall Core)

Sidewall Core (Gambar 2.6) adalah metode pengambilan sampel core

dengan cara menembakkan sisi dinding sumur menggunakan coring bullet yang

terdapat pada sidewall sampling gun untuk ditembakkan dan bisa juga dengan

coring bit yang terdapat pada sidewall coring tool. Yang membedakan pengambilan

sampel sidewall core dengan coring biasa adalah pengambilan sampel untuk data

coring dilakukan dengan gerakan vertikal dari alat core sedangkan sidewall core

melakukan pengambilan core dari samping secara horizontal atau pertitik


kedalaman.

Gambar 2.6 Pengambilan sampel sidewall core

2.2.4 XRD (X-Ray Diffraction)

Analisis ini (x-ray diffraction) digunakan untuk mengetahui akan

kandungan mineral, persentase, dan tingkat kristalinitas mineral dari conto batuan

yang diambil dari hasil pemboran. Analisis XRD merupakan metode yang dapat

memberikan informasi mengenai jenis mineral yang terdapat dalam suatu conto
13

batuan yang diambil dari hasil pemboran dalam bentuk hasil data persentase

kandungan mineral.

2.2.5 Petrografi

Analisis petrografi rinci menggunakan mikroskop polarisasi untuk

mengidentifikasi karakteristik batuan, baik dari aspek mineralogi, tekstur

pengendapan, serta perkembangan proses-proses diagenesa yang telah berlangsung.

Ketiga aspek tersebut tahap selanjutnya dipakai sebagai acuan untuk mengevaluasi

sejauh mana pengaruhnya terhadap perkembangan kualitas batuan yang terdapat di


daerah tersebut.

2.2.6 Biostratigrafi

Biostratigrafi merupakan cabang dari ilmu stratigrafi yang berkaitan dengan

studi paleontologi pada batuan sedimen. Berbagai macam fosil dapat ditemukan

dalam batuan sedimen yang diednapkan pada lingkungan yang berbeda. Tujuan dari

analisis biostratigrafi adalah penentuan umur relatif batuan sedimen, penentuan

lingkungan pengendapan, paleokologi, paleotemperatur, paleomorfologi, analisis


cekungan, dan sebagai penunjuk dalam marker horizon untuk korelasi stratigrafi.

2.2.7 Analisa Wireline Log


Log adalah grafik kedalaman atau waktu dari set data yang menunjukkan
parameter yang diukur terus menerus dalam sumur. Log tidak sah untuk
mengkorelasikan dan menentukan dari fasies batu, seperti tahu bidang dan jenis
Kronostratigrafi dan jenis sistem saluran, tetapi penentuan fasies menggunakan data
log hanya merupakan hal yang spekulatif, sehingga perlu analisis data lain seperti
data inti dan biostratigrafi. Wire line log merupakan alat yang digunakan untuk
menangkap karakteristik batuan di bawah permukaan. Setiap alat log memiliki
14

spesifikasinya tersendiri, berikut beberapa macam log yang digunakan dalam


penelitian ini.

 Log Sinar Gamma (Gamma Ray Log)

Log Sinar Gamma adalah kurva yang menunjukkan besaran intensitas

radioaktif yang ada dalam formasi. Pada batuan sedimen unsur radioaktif

terkonsentrasi dalam serpih atau lempung sehingga besar kecilnya defleksi

menunjukkan ada atau tidaknya mineral lempung. Untuk batuan permeabel

yang clean kurva GR menunjukkan intensitas radioaktif yang rendah, sehingga

GR- nya juga rendah. Satuan yang digunakan dalam log sinar gamma ini adalah

API Unit (American Petroleum Institut Unit, APIU). Sumber yang digunakan untuk

pemancaran sinar gamma ini biasanya Cobalt-60 atau Cessium-137.Secara

kuantitatif log sinar gamma ini digunakan untuk mengetahui volume shale (serpih).

Sedangkan secara kualitatif log sinar gamma ini digunakan untuk menentukan
litologi, menentukan lapisan permeable, dan untuk korelasi antar sumur pemboran.

 Log Densitas

Log ini menunjukkan besarnya densitas dari batuan yang ditembus lubang bor,

sehingga dapat menentukan besarnya porositas. Disamping itu dapat mendeteksi

adanya hidrokarbon atau air bersama-sama dengan Log Neutron. Faktor-

faktor yang berpengaruh terhadap kurva ini antara lain litologi, dimana pada batuan

yang sangat kompak porositasnya mendekati harga nol atau densitas batuan
mempunyai harga tertinggi.
15

Gambar 2.7 Nilai densitas massa dasar batuan

2.2.8 Batuan Karbonat

2.2.8.1 Defenisi

Batuan karbonat adalah batuan dengan kandungan mineral karbonat lebih

dari 50% yang tersusun atas partikel karbonat klastik yang tersemenkan atau

karbonat kristalin hasil presipitasi langsung (Reijers & Hsu, 1986). Bates & Jackson

(1987) mendefenisikan batuan karbonat sebagai batuan yang komponen utamanya

adalah mineral karbonat dengan berat keseluruhan lebih dari 50% sedangkan

batugamping menurut defenisi Reijers & Hsu (1986) adalah batuan yang

mengandung kalsium karbonat hingga 95% sehingga tidak semua batuan karbonat
adalah batugamping.

2.2.8.2 Komposisi Mineralogi Batuan Karbonat

Suyoto (1993) merangkum mineral penting yang menyusun batuan karbonat

dengan persentase besar, diantaranya adalah :


16

 Aragonite (CaCO3) : Kristal orthorombik, bersifat tidak stabil, berbentuk

jarum atau serabut yang diendapkan langsung secara kimiawi langsung dari

presipitasi air laut.

 Kalsit (CaCO3) : Kristal hexagonal, bersifat cukup stabil, merupakan hablur

Kristal yang bagus dan jelas. Dijumpai sebagai hasil rekristalisasi aragonite,
serta sebagai semen pengisi ruang antarbutir dan rekahan.

 Dolomit (CaMg(CO3)2) : Kristal hexagonal, hamper sama dengan kalsit

namun secara petrografis dapat dibedakan dari indeks refraksinya. Dapat

terentuk sebagai presipitasi langsung air laut namun lebih sering sebagai

akibat dari penggantian mineral kalsit.

 Magnesit (MgCO3) : Kristal hexagonal, terbentuk sebagai akibat

penggantian dari kalsit dan dolomit, namun sering terjadi sebagai akibat dari
rombakan batuan yang mengandung magnesium silikat.

2.2.8.3 Faktor Pengendapan Karbonat

Faktor pengontrol produksi dan akumulasi karbonat dalam Fasies Model


(Walker, 1992) diantaranya adalah :

 Organisme, merupakan faktor yang sangat mengontrol pertumbuhan batuan

karbonat. Dapat berupa komponen utama yang menyusun batugamping,

produsen sedimen karbonat, organisme yang membentuk jejak dalam

aktivitasnya dan lain-lain.

 Iklim, terbagi menjadi iklim arid dan humid. Pada iklim arid, proses

evaporasi sangat besar pengaruhnya sehingga banyak menghasilkan

evaporit. Sedangkan pada iklim humid dengan kelembabannya yang sangat

tinggi dapat memperbesar tingkat erosi sehingga banyak pengaruh klastik

asal darat.
17

 Tektonik, menentukan setting pengendapan karbonat termasuk jenis

platform nya. Tektonik juga mengontrol laju penurunan ataupun kenaikan

permukaan tempat diendapkannya karbonat.

 Perubahan muka air laut, menentukan sikuen pengendapan dari karbonat.

Posisi muka air laut bergantung pada volume cekungan dan es yang

mencair. Naik turunnya permukaan air laut membentuk siklus yang sangat

mempengaruhi sedimentasi.

 Oseanografi, merupakan faktor pengontrol dari keadaan laut seperti

penetrasi cahaya (harus terkena cahaya matahari untuk kebutuhan

fotosintesis), temperatur air (tidak terlalu panas ataupun dingin), sirkulasi

air memadai, kadar oksigen cukup untuk kebutuhan hidup organsme,


salinitas cukup (>18%).

2.2.8.4 Klasifikasi Batuan Karbonat

Klasifikasi Dunham (1962) : Klasifikasi ini didasarkan pada tekstur deposisi

dari batugamping, karena menurut Dunham dalam sayatan tipis, tekstur

deposisional merupakan aspek yang tetap. Kriteria dasar dari tekstur deposisi yang
diambil Dunham (1962) berbeda dengan Folk (1959).

Kriteria Dunham lebih condong pada fabrik batuan, misal mud supported

atau grain supported bila ibandingkan dengan komposisi batuan. Variasi kelas-kelas

dalam klasifikasi didasarkan pada perbandingan kandungan lumpur. Dari

perbandingan lumpur tersebut dijumpai 5 klasifikasi Dunham (1962). Nama nama

tersebut dapat dikombinasikan dengan jenis butiran dan mineraloginya.

Batugamping dengan kandungan beberapa butir (<10%) di dalam matriks lumpur

karbonat disebut mudstone dan bila mudstone tersebut mengandung butiran yang

tidak saling bersinggungan disebut wackestone. Lain halnya apabila antar


18

butirannya saling bersinggungan disebut packstone / grainstone. Packstone

mempunyai tekstur grain supported dan punya matriks mud. Dunham punya istilah

Boundstone untuk batugamping dengan fabrik yang mengindikasikan asal-usul


komponenkomponennya yang direkatkan bersama selama proses deposisi.

Klasifikasi Dunham (1962) punya kemudahan dan kesulitan.

Kemudahannya tidak perlu menentukan jenis butiran dengan detail karena tidak

menentukan dasar nama batuan. Kesulitannya adalah di dalam sayatan petrografi,

fabrik yang jadi dasar klasifikasi kadang tidak selalu terlihat jelas karena di dalam

sayatan hanya memberi kenampakan 2 dimensi, oleh karena itu harus dibayangkan

bagaimana bentuk 3 dimensi batuannya agar tidak salah tafsir. Pada klasifikasi

Dunham (1962) istilah-istilah yang muncul adalah grain dan mud. Nama-nama

yang dipakai oleh Dunham berdasarkan atas hubungan antara butir seperti

mudstone, packstone, grainstone, wackestone dan sebagainya. Istilah sparit

digunakan dalam Folk (1959) dan Dunham (1962) memiliki arti yang sama yaitu

sebagai semen dan sama-sama berasal dari presipitasi kimia tetapi arti waktu
pembentukannya berbeda.

Sparit pada klasifikasi Folk (1959) terbentuk bersamaan dengan proses

deposisi sebagai pengisi pori-pori. Sparit (semen) menurut Dunham (1962) hadir

setelah butiran ternedapkan. Bila kehadiran sparit memiliki selang waktu, maka

butiran akan ikut tersolusi sehingga dapat mengisi grain. Peristiwa ini disebut post

early diagenesis. Dasar yang dipakai oleh Dunham untuk menentukan tingkat

energi adalah fabrik batuan. Bila batuan bertekstur mud supporteddiinterpretasikan

terbentuk pada energi rendah karena Dunham beranggapan lumpur karbonat hanya

terbentuk pada lingkungan berarus tenang. Sebaliknya grain supported hanya


19

terbentuk pada lingkungan dengan energi gelombang kuat sehingga hanya


komponen butiran yang dapat mengendap

Gambar 2.8 Klasifikasi batuan karbonat menurut Dunham (1962)

2.2.8.5 Fasies dan Lingkungan Pengendapan Karbonat

Pengertian Fasies menurut beberapa ahli : Fasies merupakan suatu tubuh

batuan yang memiliki kombinasi karakteristik yang khas dilihat dari litologi,

struktur sedimen dan struktur biologi memperlihatkan aspek fasies yang berbeda
dari tubuh batuan yang ada di bawah, atas dan di sekelilingnya.

Fasies umumnya dikelompokkan ke dalam facies association dimana

fasiesfasies tersebut berhubungan secara genetis sehingga asosiasi fasies ini

memiliki arti lingkungan. Dalam skala lebih luas asosiasi fasies bisa disebut atau

dipandang sebagai basic architectural element dari suatu lingkungan pengendapan


20

yang khas sehingga akan memberikan makna bentuk tiga dimensi tubuhnya
(Walker dan James, 1992).

Menurut Selley (1985, dalam Rizqi Amelia Melati 2011), fasies sedimen

adalah suatu satuan batuan yang dapat dikenali dan dibedakan dengan satuan batuan

yang lain atas dasar geometri, litologi, struktur sedimen, fosil, dan pola arus

purbanya. Fasies sedimen merupakan produk dari proses pengendapan batuan

sedimen di dalam suatu jenis lingkungan pengendapannya. Diagnosa lingkungan

pengendapan tersebut dapat dilakukan berdasarkan analisa faises sedimen, yang


merangkum hasil interpretasi dari berbagai data di atas.

Mutti dan Ricci Luchi (1972), mengatakan bahwa fasies adalah suatu

lapisan atau kumpulan lapisan yang memperlihatkan karakteristik litologi, geometri


dan sedimentologi tertentu yang berbeda dengan batuan di sekitarnya.

Fasies menurut Gressly (1938), Tiechert (1958), serta Krumbein dan Sloss

(1963), di artikan sebagai tubuh batuan yang memiliki sifat-sifat spesifik antara lain

warna, perlapisan komposisi, tekstur, fosil dan struktur sedimen, sedangkan

menurut Middleton (1978) dalam Suhendra (2010) fasies adalah kumpulan dari
sifat-sifat dari batuan. Pembagian fasies berdasarkan atas beberapa aspek yaitu :

a. Produk batuan

b. Genesa atau proses terbentuknya batuan

c. Lingkungan dimana batuan terbentuk

d. Aspek tektonik

Menurut Hukum Walter (Walter Law’s of Facies, 1984) variasi sedimen

untuk fasies yang sama adalah sama, sedimen pada fasies yang berbeda terletak
sebelah menyebelah. Kontak antar fasies bisa meliputi :
21

 Kontak non erosional, apabila fasies berkembang dan diikuti dengan fasies

yang lain sesuai dengan waktu.

 Kontak tegas, apabila erosi tidak ada / tidak berarti, dimana fasies terbentuk
dalam lingkungan pengendapan yang luas dengan dimensi yang besar.

Assosiasi fasies yaitu kumpulan fasies yang terbentuk bersama-sama dan

mempunyai hubungan, baik genesa maupun lingkungannya. Analisa fasies secara


vertikal dan teratur disebut sekuen.

Beberapa faktor yang mempengaruhi penyebaran dan perubahan fasies :

 Proses Sedimentasi : Proses sedimentasi sangat berpengaruh dalam

distribusi dan perubahan fasies, yang disebabkan oleh terjadinya progradasi.

 Suplai Material : Berpengaruh dalam pembentukan ketebalan fasies dan

macam material sedimennya.

 Iklim : Iklim secara luas memberikan perbedaan “source area” dan

lingkungan pengendapan.

 Tektonik : Tektonik merupakan penyebab perubahan fasies secara lokal

yang disebabkan oleh gerak-gerak vertikal dan kemiringan sesar blok.

 Perubahan Permukaan Air Laut : Perubahan permukaan air laut (trangresi

atau regresi) akan menyebabkan terjadinya perubahan kedalaman air laut,

sehingga sedimen yang dihasilkan menjadi berbeda.

 Aktifitas Biologis : Sedimen organik dapat berupa pertumbuhan koral dan

organisme lainnya yang membentuk lapisan cukup tebal. Dengan adanya

arus dan erosi, maka akan terendapkan organisme yang telah mati.

 Komposisi Kimia : Air Salinitas dan komposisi kimia air laut dan danau

bervariasi dari tempat yang satu dengan tempat yang lain sepanjang waktu

geologi.
22

 Vulkanisme : Aktifitas volkanisme pengaruhnya lokal, terutama pada

sedimen intrabasinal. Adanya gunung-gunung api dan munculnya pulau-


pulau adalah penyebab perubahan lingkungan secara cepat.

Reeckmann dan Friedman (1981) membagi lingkungan pengendapan karbonat

menjadi beberapa bagian yaitu :

1. Lingkungan Nonmarine

Endapan pada lingkungan ini bersifat sangat lokal. Dipengaruhi oleh air

meteorik, dan rentan terhadap diagenesis. Contohnya seperti endapan goa fosfat,

danau karbonat, dan mineralisasi yang berasosiasi dengan karst.

2. Lingkungan Marine

Lingkungan marine dapat dibagi menjadi shelf, slope dan cekungan laut

dalam. Lingkungan shelf dapat dibedakan berdasarkan beberapa kriteria yaitu

morfologi, rezim hidrodinamik, salinitas, dan penetrasi cahaya. Barrier atau shoal

merupakan fitur pengubah yang penting. Relief dari barrier berbeda-beda dan

berpengaruh secara langsung terhadap energi, temperatur, dan kimia dari air di

sekelilingnya.

Lingkungan shelf yang dibatasi oleh barrier dapat dibagi menjadi supratidal,

intertidal dan subtidal. Daerah supratidal merupakan area yang sangat jarang

terjamah oleh pasang dan surge. Lingkungan intertidal merupakan area antara

pasang dan surut air laut dimana batas genangan dan tidak tergenang terjadi.

Lingkungan subtidal merupakan area yang berada dibawah garis surut.

Setelah lingkungan shelf, terdapat barrier reef pada platform rimmed shelf

sebelum shelf berlanjut ke lingkungan slope. Barrier reef ini terbagi menjadi 3

bagian yaitu back reef, reef crest dan front reef. Lingkungan yang berada dibelakang

reef ini disebut juga inner shelf atau restricted marine. Sedangkan lingkungan yang
23

berada didepan reef disebut open marine yang terbagi menjadi outer shelf dan deep

ocean basin.

Lingkungan deep ocean basin bersifat seragam dengan fasies yang

monoton. Dibagi atas beberapa zona diantaranya bathyal (400-2000 m), abyssal

(2000-6000 m), dan hadal (lebih dari 6000 m). Produk sedimentasi yang didapat

berupa slumps, endapan talus, turbidit dan kipas laut dalam.


Environment and Paleogeography

Gambar 2.9 Lingkungan Pengendapan Batuan Karbonat (Reeckmann dan


Friedman, 1981)

2.2.9 Elektrofasies

Konsep motif log adalah suatu metode yang mengkorelasikan bentuk pola

log yang sama. Menurut Walker dan James (1992), pola-pola log menunjukkan

energi pengendapan yang berubah, yakni berkisar dari energi tingkat tinggi sampai

rendah. Dalam interpretasi geologi, suatu lompatan (looping) dilakukan dari energi

pengendapan sampai lingkungan pengendapan, pola-pola log selalu diamati pada

kurva gamma ray atau spontaneous potential, tetapi kesimpulan yang sama juga
dapat didukung dari log Neutron-Density.
24

Log sumur memiliki bentuk dasar yang bias mencirikan karakteristik suatu

lingkungan pengendapan. Bentuk – bentuk dasar tersebut dapat berupa cylindrical,

irregular, bell, funnel, symmetrical, dan asymmetrical ( Kendal, 2003), Gambar


2.15.

Gambar 2.10 Model elektrofasies karbonat ( Kendal, 2003)

Beberapa bentuk dasar Log sumur yang bisa mencirikan karakteristik suatu

lingkungan pengendapan yaitu: cylindrical, irregular, bell, funnel, symmetrical,


dan asymmetrical (gambar 2.13).

a) Cylindrical

Bentuk cylindrical diasosiasikan dengan akumulasi facies yang

heterogen pada lingkungan shallow water. Kondisi respon pertumbuhan reef


terhadap kenaikan muka air laut relatif yaitu keep-up carbonates shelf.
25

b) Serrated

Bentuk serrated di asosiasikan dengan endapan strom dominated shelf, dan

distal deep-marine slope yang umumnya mengindikasikan lapisan tipis silang


siur (thin interbedded) dengan shale.

c) Bell shaped

Trend menghalus kearah atas memperlihatkan penurunan nilai rekaman

kadar sinar gamma ke arah atas suatu paket batuan. Bentuk bell ini selalu

diasosiasikan sebagai fining upward. Bentuk bell merupakan rekaman dari

endapan tidal-channel fill, tidal flat, transgressive shelf. Kondisi respon

pertumbuhan reef terhadap kenaikan muka air laut relatif yaitu give-up
carbonates shel.f.

d) Funnel shaped

Bentuk funnel merupakan kebalikan dari bentuk bell dengan dampak

ketidaksesuaian batas geologi dan tata waktu/runtunannya, dan selalu

diasosiasikan sebagai coarsening-upward. Bentuk dari log gamma ray

memperlihatkan peningkatan rekaman kadar sinar gamma ray ke arah atas

dalam suatu paket batuan. Bentuk funnel merupakan hasil dari shoreline,

perubahan berkembanganya dari endapan clastic ke carbonates. Kondisi respon

pertumbuhan reef terhadap kenaikan muka air laut relatif yaitu catch-up
carbonates shelf.

e) Symmetrical shaped

Bentuk symmetrical merupakan keserasian kombinasi bentuk bell-funnel

yaitu merupakan kombinasi coarsening-fining upward. Bentuk symmetrical

merupakan hasil dari reworked offshore buildup, dari regresif ke transgresif


shoreface.
26

2.2.10 Konsep Korelasi

Menurut Tearpock and Bischke (1991), korelasi merupakan suatu pekerjaan

menghubungkan titik dengan titik lain pada penampang, dengan anggapan bahwa

titik – titik tersebut terletak pada bidang perlapisan yang sama, dimana bidang

perlapisan merupakan bidang kesamaan umur/ waktu dan bidang ini dijadikan dasar

penarikan garis korelasi. Korelasi dimaksudkan untuk mengetahui dan

merekonstruksi kondisi geologi bawah permukaan, baik kondisi stratigrafi maupun

kondisi struktur yang digunakan untuk keperluan pembuatan penampang dan


pemetaan bawah permukaan.

Korelasi log biasanya menggunakan data log SP dan GR. Korelasi log

dilakukan untuk mengetahui pola dan arah penyebaran lapisan batuan. Sebelum

memulai korelasi pada suatu area, sebaiknya dibuat suatu perencanaan yang disebut

log correlation plan. Log correlation plan bermanfaat untuk menentukan dari mana

sebaiknya korelasi dimulai dan log apa yang sebaiknya dipakai. Dengan demikian,

korelasi log akan lebih sistematik dan dapat memberikan tujuan yang ingin dicapai
dari korelasi tersebut (Tearpock and Bischke, 1991).

Pada kondisi bawah permukaan, korelasi dilakukan antar sumur yang

berdekatan dengan menggunakan data wireline log. Kolerasi tersebut sangat

penting artinya karena diperlukan untuk pembuatan penampang dan peta bawah

permukaan yang bermanfaat dalam penentuan geometri reservoar, strategi

produksi, cadangan terambil dan sebagainya (Allen and Chambers, 1994). Korelasi

well log harus dilakukan dengan mempertimbangan seluruh data yang tersedia,

sehingga kalibrasi dengan data core sangat diperlukan. Langkah pertama dalam

melakukan korelasi well log adalah mencari suatu unit litologi yang mewakili suatu

peristiwa stratigrafi yang menerus secara regional. Peristiwa tersebut biasanya


27

menandai terjadinya perubahan tiba-tiba dalam lingkungan pengendapan, misalnya

trangresi. Marker yang paling baik untuk korelasi stratigrafi adalah maximum

flooding surface (MFS) atau permukaan yang menunjukkan kenampakan khas


seperti batubara (coal) atau lapisan organic shale

(Allen, 1994). Marker ini merupakan hasil identifikasi pada log dan

digunakan untuk memudahkan dalam korelasi dan untuk estimasi sekecil mungkin
resiko kesalahan dalam korelasi.
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Objek Penelitian

Objek yang dikaji dalam penelitian ini adalah interval batuan karbonat yang

terdapat pada Formasi Tonasa. Data yang diperoleh dan diproses meliputi data

batuan inti, data log sumur, biostratigrafi, petrografi, Side Wall Core (SWC), X-Ray

Diffraction (XRD) dan data Mudlog. Keterangan data tersebut antara lain :

a. Data batuan inti yang hanya terdapat di 1 sumur yaitu sumur BF-1

b. Data log sumur dari 3 sumur yaitu usmur BF-1, KF-1, dan TF-1 yang

terdapat pada daerah penelitian berisi data log gamma ray, resistivitas, SP,

densitas, neutron, sonic dan caliper dengan kualitas baik, untuk mengetahui

kondisi litologi bawah permukaan, serta penyebaran litologi bawah

permukaan.

c. Data biostratigrafi yang diambil di beberapa titik dari permukaan hingga

batuan dasar dari sumur BF1. KF1 dan TF1.

d. Data petrografi dari sumur KF1 dan BF-1 yang diambil pada beberapa titik

sepanjang batuan inti.

e. Data Side Wall Core (SWC) dari sumur BF-1 KF1 dan TF1 yang diambil

pada beberapa titik sepanjang batuan inti.

f. Data X-Ray Diffraction (XRD) yang diambil dari beberapa titik sepanjang

batuan batuan inti sumur KF-1

g. Mudlog yang berupa data deskripsi cutting dari permukaan hingga batuan

dasar dari sumur BF1, KF1, dan TF1.

28
29

3.2 Alat – Alat Penelitian

Alat penelitian yang digunakan meliputi :

 Alat tulis

 Buku referensi

 Laptop

 Perangkat lunak komputer (Microsoft Office, Corel Draw X7, Peranti

Lunak Permodelan)

3.3 Tahap Penelitian

Secara umum penelitian terdiri dari tahap persiapan, pengolahan data, serta

pembahasan dan penyusunan laporan. Tahap-tahap ini meliputi analisis data batuan

inti (core), data log sumur, data biostratigrafi, data petrografi, data X-Ray

Diffraction dan data Side Wall Core (SWC). Data pendukung lainnya berupa data

Mudlog.

Penelitian dilakukan di workstation kantor LEMIGAS untuk mengolah

data-data yang tersedia seperti analisis batuan inti, analisa korelasi stratigrafi,

membuat elektrofasies, interpretasi lingkungan pengendapan hingga merekontruksi

sejarah pengendapan.

3.3.1 Tahap Persiapan

Tahap persiapan ini meliputi studi pustaka mengenai metode yang akan

dilakukan, studi mengenai geologi regional daerah penelitian, studi tinjauan umum

terhadap teori – teori dasar yang akan diaplikasikan, studi mengenai cara

pengoperasian perangkat lunak yang akan digunakan, serta pengumpulan data yang

akan dibutuhkan selama pengerjaan penelitian.


30

3.3.2 Tahap Pengolahan Data

a. Analisis dan Interpretasi Batuan Inti

Analisis batuan inti dilakukan untuk mengetahui litologi dan fasies

pengendapan secara langsung dari objek yang diteliti. Batuan inti dideskripsi dan

diinterpretasi untuk mengetahui bentuk litologi dan kondisi litologi pada saat

diendapkan. Hasil dari analisis pada batuan inti ini berupa kondisi tekstur dan

struktur sedimen batuan, keterdapatan organisme pada batuan (fasies) dan

interpretasi keadaan lingkungan pengendapan. Interpretasi terhadap lingkungan

pengendapan juga dibantu oleh data biostratigrafi.

b. Analisis Data Log Sumur

3 log sumur digunakan dalam penelitian ini. Dalam analisis log sumur, penulis

melakukan interpretasi berdasarkan elektrofasies, korelasi antar sumur berdasarkan

waktu. Interpretasi elektrofasies dilakukan untuk menentukan fasies pada sumur

yang tidak memiliki data batuan inti. Hasil analisa fasies dari batuan inti pada sumur

yang memiliki batuan inti dikalibrasikan dengan pola motif log gamma ray sumur

tersebut yang kemudian menjadi model untuk diaplikasikan ke sumur lainnya

sehingga fasies pada sumur lain dapat diketahui. Korelasi dilakukan setelah seluruh

fasies diketahui.

Korelasi antar sumur dilakukan dengan menggunakan prinsip

kronostratigrafi. Korelasi terhadap waktu juga dilakukan lebih mendetil dengan

mengkorelasikan sumur menggunakan zonasi umur kunci sehinga didapatkan garis-

garis yang menghubungkan titik yang memiliki waktu pengendapan yang sama.
31

3.3.3 Tahap Pembahasan dan Penyusunan Laporan

Tahap ini merupakan tahap akhir dari proses penelitian. Analisis dan

interpretasi yang telah dilakukan dibahas dalam bentuk laporan. Data yang telah

diolah akan menghasilkan hubungan antara fasies, lingkungan pengendapan,

distribusi fasies serta sejarah pengendapannya.

3.4 Bagan Alir Penelitian

Berikut adalah bagan dari alur penelitian (Gambar 3.1) ”Fasies Karbonat,

Formasi Tonasa, Cekungan Spermonde, Sulawesi Selatan”.

Gambar 3.1 Bagan Alir Penelitian


BAB IV

HASIL PENELITIAN

Analisis batuan dibawah permukaan memerlukan data-data geologi dan

geofisika seperti data batuan inti, log sumur, petrografi, dan lain-lain. Data ini

digunakan untuk mengetahui keadaan geologi bawah permukaan dan untuk

dianalisis sehingga dapat diketahui kondisi dan peluang ekonomis yang terdapat

didalam bumi.

Pemahaman dan keahlian geologi sangat dibutuhkan untuk

mengintegrasikan data-data dan mengolah serta menganalisis data tersebut agar

dapat digunakan berguna dalam meberikan informasi yang akurat. Dalam penelitian

ini, data yang digunakan berupa data batuan inti, log sumur, petrografi,

biostratigrafi, SWC (Side Wall Core), dan XRD (X-Ray Diffraction), (Gambar 4.1).

Data batuan inti merupakan batuan asli yang ada pada target bawah

permukaan yang digunakan untuk mengamati bentuk, jenis dan karakteristik batuan

secara langsung. Log sumur adalah beberapa kurva dari beberapa log yang

dijalankan melalui formasi-formasi dibawah permukaan sehingga akan didapatkan

gambaran-gambaran mengenai keadaan bawah permukaan yang meliputi energi

pengendapan, resistivitas, densitas, dan lain-lain. Dari data petrografi akan

didapatkan sayatan tipis yang menunjukkan komposisi batuan secara mikroskopis

dari berbagai kedalaman. Biostratigrafi digunakan sebagai sumber data yang

membantu dalam menganalisa umur dan kedalaman dari muka air laut sebuah

batuan sedimen pada saat pengendapan. data Side Wall Core (SWC) dan X-Ray

Diffraction (XRD) membantu dalam menganalisa batuan pertitik kedalaman.

32
33

Daerah yang menjadi objek penelitian adalah formasi Tonasa yang berada

pada cekungan Spermonde terdapat 4 sumur,akan tetapi hanya digunakan data dari

3 sumur (Gambar 4.2) yang digunakan dikarenakan sangat tidak lengkapnya data

dari 1 sumur. Selain data sumur, digunakan juga data core, biostratigrafi, SWC,

XRD, petrografi, dan data cutting. Data-data tersebut didapat dari PT.PPTMBG

LEMIGAS.

Data / Sumur BF-1 KF-1 TF-1

Wireline Log V V V

Core Report V V V

Petrografi V V X

Biostratigrafi V V V

SWC X V V

XRD X V X

Cutting V V V

Gambar 4.1 Kelengkapan Data

Gambar 4.2 Zona interval daerah penelitian sumur BF-1, KF-1, dan TF-1
34

4.1 Litofasies

Analisis litofasies (batuan inti) memiliki tingkat akurasi yang lebih baik dari

analisis pembacaan log, karena menunjukkan data bawah permukaan yang

sebenarnya. Deskripsi data batuan inti seperti core, side wall core, x-ray diffraction,

dan cutting tidak dilakukan sendiri, melainkan melihat dari well report pada sumur

tersebut. Nantinya hasil interpretasi litofasies ini akan diasosiasikan dengan data

elektrofasies.

Analisis litofasies dilakukan berdasarkan klasifikasi Dunham (1962). Akan


tetapi, hanya satu sumur yaitu sumur KF-1 yang memiliki ketersediaan data (core,

petrografi, biostratigrafi, data SWC, data XRD, dan cutting) yang baik itupun tidak

disetiap interval kedalaman, sedangkan dua sumur yang lain memiliki ketersedian

data batuan inti yang sedikit dan tidak lengkap . Sumur BF-1 hanya memiliki data

core, biostratigrafi, petrografi dan cutting. Sumur TF-1 hanya memiliki data core,

SWC, data biostratigrafi, dan cutting. Data petrografi batuan inti digunakan untuk

membantu analisis litofasies ini untuk melihat kandungan fossil Berikut hasil

analisis litofasies pada tiap sumur berdasarkan interval kedalaman yang ada

didaerah penelitian.

4.1.1 Litofasies Sumur BF-1

Litofasies pada sumur BF-1 secara keseluruhan menunjukan 2 variasi

litofasies. Dimana variasi tersebut dilihat dari tiap interval. Deskripsi data batuan

inti ini didapat dari ketersedian data pada well report, data petrografi, dan data

cutting. Terdapat fasies Bioklastik Packstone-Wackstone dan fasies Bioklastik

Mudstone.
35

 Interval 5323’-5667’

Secara umum berdasarkan dominansinya, fasies ini memiliki deskripsi batuan

inti Packstone-wackstone, setempat terdapat dolomit, warna abu-abu cerah, fosil

koral, alga, foraminifera calcareous, miliolod, porositas buruk, sortasi sedang,

hancuran skeletal angular – subangular. Diinterpretasikan pada interval ini

merupakan fasies Bioklastik Packstone – Wackstone, (Gambar 4.3).

Gambar 4.3 Data batuan inti sumur BF-1 Fasies Bioklastis Packstone-Wackstone

 Interval 5667’-6031’

Secara umum berdasarkan dominansinya, fasies ini memiliki deskripsi batuan

inti Mudstone, mulai kedalaman 5840’ kebawah batugamping berubah menjadi

arenaceous dan silty dan beberapa slightly argillaceous. Warna disebagian

berwarna abu-abu cerah, dan warna cokelat cerah, matriks dominan lumpur
36

karbonat, biomikrits dibangun dengan beberapa proporsi mikrofosil dan beberapa

hancuran makrofosil di mikrit matriks. Porositas buruk – sedang, sorting buruk,

hancuran skeletal angular – subangular. Diinterpretasikan pada interval ini

merupakan fasies Bioklastik Mudstone, (Gambar 4.4).

Gambar 4.4 Data batuan inti sumur BF-1 Fasies Bioklastik Mudstone

4.1.2 Litofasies Sumur KF-1

Litofasies pada sumur KF-1 secara keseluruhan menunjukan 6 variasi

litofasies. Dimana variasi tersebut dilihat dari tiap interval. Deskripsi data batuan

inti ini didapat dari ketersedian data pada well report, petrografi, dan XRD. Terdapat

fasies Mudstone, fasies Mudstone-Wackestone Interkalasi Tipis Lempung, fasies

Lempung Interkalasi Tipis Packstone , Fasies Bioklastis Wackstone, Fasies

Bioklastik Packstone, dan Fasies Bioklastik Mudstone.


37

 Interval 2530’-2700’

Secara umum berdasarkan dominansi, fasies ini memiliki deskripsi batuan

perlapisan batulempung – batugamping. Batulempung : warna abu-abu terang

kehijauan, setempat berwarna abu sangat cerah – abu cerah, beberapa ada yang

berwarna cokelat kekuningan – cokelat pucat, kompak – lunak, terkadang agak

keras, bersifat calcareous, terdapat jejak glaukonit dan pirit. Batugamping :

mudstone, berwarna abu – abu cerah , abu – abu kehijauan, kekerasan agak keras –

keras, mengandung banyak fosil , terdapat jejak pirit dan glaukonit, porositas buruk.

Diinterpretasikan pada interval ini merupakan Fasies Mudstone, (Gambar 4.5).

Gambar 4.5 Data batuan inti sumur KF-1 Fasies Mudstone

 Interval 2700’-3210’

Secara umum, berdasarkan dominansinya, fasies ini memiliki deskripsi batuan


inti perlapisan batulempung – batugamping. Batulempung : warna abu-abu olive –
38

hitam olive, setempat berwarna cokelat terang – abu-abu cokelat, subblocky-blocky,

karbonatan, kuarsa sedikit (2%), mengandung material carbonaceous (1%),

terdapat jejak pirit (1%), kalsit menjadi semen yang keterbentukannya merata

dibatuan (24%). Batugamping : mudstone-wackestone, warna abu kehijauan,

mikrokristalin, banyak mengandul fosil, terdapat glaukonit, porositas buruk.

Diinterpretasikan pada interval ini adalah fasies Mudstone-Wackstone Interkalasi

Tipis Lempung, (Gambar 4.6).

Gambar 4.6 Data batuan inti sumur KF-1 Fasies Mudstone-Wackstone


Interkalasi Tipis Lempung

 Interval 3210’-3590’

Secara umum, berdasarkan dominansinya, fasies ini memiliki deskripsi batuan

inti batulempung dengan lapisan tipis batugamping. Batugamping : packstone


39

dengan warna abu-abu olive setempat terdapat warna cokelat kekuningan pucat,

agak keras-keras, subblocky-blocky, mikrokristalin, chalky, banyak mengandung

fosil, porositas buruk. Batulempung : warna abu kehijauan – warna cerah abu-abu

olive, lunak – agak keras, subblocy-blocky. Diinterpretasikan pada interval ini

merupakan fasies Lempung Iterkalasi Tipis Packstone, (Gambar 4.7).

Gambar 4.7 Data batuan inti sumur KF-1 Fasies Lempung Interkalasi Tipis
Packstone

 Interval 3590’-4158’

Secara umum berdasarkan dominansinya, fasies ini memiliki deskripsi batuan

inti adalah wackstone. Wackstone warna abu-abu cerah, agak keras – keras,
umumnya lunak, subblocky-blocky, microkristalin-kristalin, argillaceous, terdapat
40

jejak glaukonit dan fosil, serta keterdapat pirit, porositas buruk, mengandung foram

plangtonik dan fragmen bioklastik, berasosiasi dengan foram besar, mengandung

material carbonaceous dan kuarsa, butiran mengambang di bagian matriks, dengan

matriks lumpur karbonat. Diinterpretasikan pada interval ini merupakan fasies

Bioklastik Wackstone, (Gambar 4.8).

Gambar 4.8 Data batuan inti sumur KF-1 Fasies Bioklastik Wackstone

 Interval 4158’-4412’

Secara umum berdasarkan dominansinya, fasies ini memiliki deskripsi batuan

inti adalah mudstone. Mudstone dengan struktur massive, warna abu-abu sedang –
41

abu-abu agak gelap, kekerasan agak keras-keras, subblocky-subpletty, terkadang

subfissile, calcareous, terdapat jejak glaukonit. Diinterpretasikan pada interval ini

merupakan fasies Mudstone, (Gambar 4.9).

Gambar 4.9 Data batuan inti sumur KF-1 Fasies Mudstone

 Interval 4412’-4695’

Secara umum, berdasarkan dominansinya, fasies ini memiliki deskripsi batuan

inti adalah wackstone. Mengandung fragmen moluska, miliolid, foraminifera

planktonik dan foraminifera bentonik, serta keterdapatan foraminifera besar dan

fragmen bioklastik, matriks berupa lumpur karbonat, porositas primer tersemenkan

oleh kalsit, terdapat material carbonaceous, terdapat sedikit dolomit, porositas

buruk, subangular-subrounded, butiran mengambang dibagian lumpur matriks.

Diinterpretasikan pada interval ini merupakan fasies Bioklastik Wackstone,

(Gambar 4.10).
42

Gambar 4.10 Data batuan inti sumur KF-1 Fasies Bioklastik Wackstone

 Interval 4695’- 4875’

Secara umum berdasarkan dominansinya, fasies ini memiliki deskripsi batuan

inti adalah packstone. Packstone dengan warna abu kecokelatan, kekerasan agak

keras-keras, sangat lunak, subblocky-blocky, mikrokristalin, tekstur berupa

sukrosik, chalky, argillaceous, mengandung fragmen moluska, foraminifera

bentonik dan foraminifera bioklastik, matriks berupa lumpur karbonat, terdapat

pirit, interkristalin merupakan porositas utama pada batugamping ini, porositas

buruk, subrounded. Diinterpretasikan pada interval ini merupakan fasies Bioklastik


Packstone, (Gambar 4.11).
43

Gambar 4.11 Data batuan inti sumur KF-1 Fasies Bioklastik Packstone

 Interval 4875’- 5195’

Secara umum berdasarkan dominansinya, fasies ini memiliki deskripsi batuan

inti adalah mudstone. Dibeberapa tempat terlihat keterdapatan lempung. Mudstone

dengan warna cokelat kehitaman, kekerasan agak keras-keras, terkadang ditemukan

dengan kekerasan sangat keras, mengandung banyak fosil, terdapat dolomit,

mengandung miliolid, mengandung moluska, Echinodermata dan fragmen


bioklastik, foraminifera bentonik yang berasosiasi dengan foraminifera besar,

semen berupa kalsit lumpur karbonat, porositas buruk, subangular-subrounded.

Diinterpretasikan pada interval ini merupakan fasies Bioklastik Mudstone, (Gambar

4.12).
44

Gambar 4.12 Data batuan inti sumur KF-1 Fasies Bioklastik Mudstone

4.1.3 Litofasies Sumur TF-1

Litofasies pada sumur TF-1 secara keseluruhan hanya menunjukan satu

litofasies yaitu fasies mudstone. Sumur TF-1 merupakan sumur yang paling sedikit
ketersediaan data batuan intinya, hanya terdapat data cutting dan data SWC pada

sumur ini. Deskripsi data batuan inti ini didapat dari ketersedian data pada well

report.

 Interval 728’- 3415’

Secara umum pada tiap interval data cutting dan data SWC (Tabel 4.1), tiap

fasies terdiri dari litologi batugamping dan batulempung. Batugamping memiliki

deskripsi warna putih, kompak, grained dengan berbutir baik, mudstone, micritic

groundmass, sedikit sparry calcite, semen dengan kandungan tinggi argillaceous,


45

porositas non porous. Di interpretasikan pada interval ini merupakan fasies

Mudstone.

Tabel 4.1 Data batuan inti sumur TF-1 Fasies Mudstone

4.2 Biostratigrafi

Setelah dilakukan analisa kandungan biota (fosil foraminifera planktonik,

bentonik ) terhadap perconto batuan inti, teras samping (SWC) dan keratan sumur

(cutting) dari batuan karbonat Formasi Tonasa yang berasal dari sumur BF - 1, KF

- 1, dan TF-1, hasil analisa dikelompokkan dalam bentuk berikut :


46

4.2.1 Biostratigrafi Sumur BF-1

Analisa biostratigrafi pada sumur ini (Tabel 4.2) dilakukan pada interval

kedalaman 5450’ – 5902’. Kelimpahan foraminifera fauna banyak dijumpai pada

interval kedalaman ini, seperti Pyrygro sp, dan Nummulites sp.

4.2.1.1 Umur dan Zonasi

Kemunculan awal fosil Coskinolina rotaliformis pada kedalaman 5450’


berdasarkan Adam (1970) dan Cole (1957) diinterpretasikan umur relatif batuan

karbonat interval 5450’ - 5902’ di sumur BF-1 tidak lebih muda dari Eosen Awal

(Tb).

4.2.1.2 Zona Kedalaman Pengendapan

Dengan kehadiran foraminifera besar, foraminfera bentonik, dan milliolid,

Diinterpretasikan Interval 5450’ – 5902’ pada sumur BF-1 terakumulasi di energi

rendah – sedang, dan sedikit terlindung dari laut terbuka. Diinterpretasikan zona

kedalaman pengendapan karbonat pada interval ini merupakan shallow inner

sublitoral (20M–50M). Dan pada kedalaman 5900’ kebawah lingkungan

pengendapan menjadi shallow inner sublitoral – litoral.


47

Tabel 4.2 Data biostratigrafi sumur BF-1

4.2.2 Biostratigrafi Sumur KF-1

Analisa biostratigrafi pada sumur ini (Tabel 4.3) dilakukan pada interval

kedalaman 2530’ – 5194’. Pada sumur KF-1 terlihat keberagaman fauna dan fosil

sehingga dapat menginterpretasikan umur dan zonasi serta zona kedalaman

pengendapan bataun karbonat.

4.2.2.1 Umur dan Zonasi

Pada interval 2530’-3820’ dengan data biostratigrafi yang tersedia

menunjukkan interval batuan karbonat sumur KF-1 pada interval ini berumur Eosen

Awal. Selanjutnya pada interval 3820’-4180’ dengan data biostratigrafi yang

tersedia menunjukkan interval batuan karbonat sumur KF-1 pada interval ini

berumur Eosen Tengah. Selanjutnya pada interval 4180’-5194’ dengan data

biostratigrafi yang tersedia menunjukkan interval batuan karbonat sumur KF-1 pada

interval ini berumur Eosen Akhir.

4.2.2.2 Zona Kedalaman Pengendapan

Pada interval 2530’-3820’ dengan data biostratigrafi yang tersedia


menunjukkan zona kedalaman pengendapan batuan karbonat pada interval ini
48

merupakan Shallow Outer Sublitoral - Upper Bathyal. Selanjutnya pada interval

3820’-4180’ dengan data biostratigrafi yang tersedia menunjukkan zona kedalaman

pengendapan batuan karbonat pada interval ini merupakan Shallow Middle

Sublitoral. Selanjutnya pada interval 4180’-5194’ dengan data biostratigrafi yang

tersedia menunjukkan zona kedalaman pengendapan batuan karbonat pada interval

ini merupakan Shallow inner Sublitoral – Shallow Middle Sublitoral.

Tabel 4.3 Data biostratigrafi sumur KF-1

4.2.3 Biostratigrafi Sumur TF-1

Analisa biostratigrafi pada sumur ini (Tabel 4.4) dilakukan pada interval

kedalaman 480’ – 3413,88’ yamg menunjukkan meningkatnya kelimpahan

foraminifera bentonik dan plangtonik pada interval ini.


49

4.2.3.1 Umur dan Zonasi

Kemunculan awal fosil Biplanispira sp pada kedalaman 690’ serta

ditemukan fosil lain seperti Nummulites gerthi, dan Asterocyclina sp,

diinterpretasikan umur relatif batuan karbonat interval 480’ – 1974’ di sumur TF-1

tidak lebih muda dari Eosen Awal (P16-P15).

Kemunculan awal fosil Truncorutaloides rohri (P14) pada kedalaman

1974’ diinterpretasikan merupakan fosil yang mengindikasikan umur relatif batuan

merupakan top dari Eosesn Tengah. Serta didukung dengan kemunculan fosil

Orbulinoides beckmanni dapat diinterpretasikan umur relatif batuan karbonat

interval 1974’-3721’di sumur TF-1 merupakan Eosen Tengah.

Sehingga dapat diinterpretasikan, umur relatif batuan karbonat interval

480’-3721’ di sumur TF-1 merupakan Eosen Awal – Eosen Tengah.

4.2.3.2 Zona Kedalaman Pengendapan

Kehadiran fauna yang hidup di zona kedalaman pengendapan Bathyal atau

Abyssal seperti Melonia pempiloides dan Melonis afinis dapat dilihat sampai

interval kedalaman 1860’. Dikedalaman 1302’ pada data SWC tidak banyak

menunjukkan kehadiran fauna yang hidup di zona kedalaman pengendapan shallow

water. Diinterpretasikan pada interval 480’-1860’ zona kedalaman pengendapan

batuan karbonat merupakan Bathyal-Abyssal (>200 M).

Kemunculan fosil Ceratocancris sp, Heterolepa sp di kedalaman 1860’

menunjukkan adanya perubahan zona kedalama pengendapan batuan karbonat

kearah lebih dangkal, sehingga diinterpretasikan zona kedalaman pengendapan

batuan karbonat pada interval 1860’-2580’ merupakan Outer Neritic (100M-


200M).
50

Selanjutnya, pada kedalaman 2580’ pada data SWC menunjukkan

kehadiran fosil Operculina sp, Operculina venosa, Nummulites djokjokartae,

Discocyclina dispansa diintrepretasikan pada interval 2580’-3230’ menunjukkan

zona kedalaman pengendapan batuan karonat merupakan shallow middle sublitoral

– shallow inner sublitoral (50M-100M).

Selanjutnya, pada kedalaman 3230’ dengan banyaknya kemunculan fauna

Operculina, Milliolid, dan Pararotalia diinterpretasikan pada interval 3230’-

3413.88’ menunjukkan zona kedalaman pengendapan batuan karbonat merupakan


shallow inner sublitoral (20M-50M).

Tabel 4.4 Data biostratigrafi sumur TF-1


51

4.3 Elektrofasies

Analisis elektrofasies secara kualitatif pada batuan karbonat dilakukan dengan

mengamati kenampakan pola-pola defleksi dari kurva log, baik secara tunggal

maupun kombinasi dari beberapa kurva log. Jenis-jenis log yang digunakan sebagai

dasar dalam analisis secara kualitatif ini, yaitu Log Gamma Ray, Log SP, Log

Resistivitas, Log Densitas dan Log Neutron serta Log Sonic.

Analisa wire line log dilakukan untuk memperoleh informasi perubahan dan

variasi litologi dan perkiraan fasies yang berkembang, selain itu analisa wire line
log juga bertujuan untuk mengetahui perubahan lingkungan pengendapan secara

vertical.

Kenampakan kurva log pada Log GR dan Log SP biasanya membentuk

suatu pola yang dapat memperlihatkan energi pengendapan yang berubah, yaitu

yang berkisar dari energi tinggi sampai energi rendah. Selain itu, defleksi-defleksi

kurva log secara garis besar dapat memberikan indikasi tertentu terhadap kondisi

geologi bawah permukaan.

Dari hasil interpretasi litologi sumur penelitian, diketahui litologi yang

tertembus pemboran terdiri dari batugamping dan batulempung.

4.3.1 Elektrofasies Sumur BF-1

 Fasies Bioklastik Packstone – Wackstone (Interval 5323’-5667’)

Fasies ini memiliki pola kurva gamma ray berbentuk bell yang menunjukkan

perubahan energi pengendapan dari energi tingkat tinggi ke energi tingkat rendah.

Perubahan ini menghasilkan pola retrogradasi yang disebabkan oleh penaikan muka

air laut. Penaikan muka air laut ini membuat pertumbuhan karbonat terhenti,
diinterpretasikan Give-up Carbonate. Dilihat dari pola kurva log resistivity yang
52

menengah dan berdasarkan litofasiesnya diinterpretasikan termasuk fasies

platform.

 Fasies Bioklastik Mudstone (Interval 5667’-6031’)

Fasies ini memiliki pola kurva gamma ray berbentuk cylindrical yang

menunjukkan energi pengendapan yang cenderung sama dari tiap waktu.

Diinterpretasikan sebagai Keep-up Carbonate. Kondisi ini terjadi saat puncak

karbonat yang hidup terjaga didekat permukaan air laut dangkal (Walker,1992).

Dilihat dari pola kurva log resistivity yang menengah dan berdasarkan litofasiesnya

diinterpretasikan termasuk fasies platform.

Gambar 4.13 Elektrofasies sumur BF-1


53

4.3.2 Elektrofasies Sumur KF-1

 Fasies Mudstone (Interval 2530’-2700’)

Fasies ini memiliki pola kurva gamma ray berbentuk serrated di asosiasikan

dengan endapan deep-marine slope yang umumnya mengindikasikan lapisan tipis

silang siur dengan shale. Terlihat dari perselingan litologi batugamping dan shale.

Dengan nilai resistivity yang relative rendah dan berdasarkan litofasiesnya

diinterpretasikan termasuk fasies platform (Gambar 4.14).

Gambar 4.14 Elektrofasies sumur KF-1 (Fasies Mudstone)

 Fasies Mudstone-Wackstone Interkalasi Tipis Lempung (Interval 2700’-

3210’)

Fasies ini memiliki 3 pola kurva gamma ray yaitu serrated kemudian bell dan

cylindrical. Pertama, pola serrated di asosiasikan dengan endapan deep-marine


slope yang umumnya mengindikasikan lapisan tipis silang siur dengan shale.
54

Terlihat dari perselingan litologi batugamping dan shale. Selanjutnya, pola Bell

yang menunjukkan perubahan energi pengendapan dari energi tingkat tinggi ke

energi tingkat rendah. Perubahan ini menghasilkan pola retrogradasi yang

disebabkan oleh penaikan muka air laut. Penaikan muka air laut ini membuat

pertumbuhan karbonat terhenti, diinterpretasikan Give-up Carbonate. Terakhir

menunjukkan pola cylindrical yang menunjukkan energi pengendapan selanjutnya

yang cenderung sama dari tiap waktu. Dan Dengan nilai resistivity yang relative

rendah dan berdasarkan litofasiesnya diinterpretasikan termasuk fasies platform

(Gambar 4.15).

Gambar 4.15 Elektrofasies sumur KF-1 (Fasies Mudstone-Wackstone Interkalasi

Tipis Lempung )
55

 Fasies Lempung Interkalasi Tipis Packstone (Interval 3210’-3590’)

Fasies ini memiliki 2 pola kurva gamma ray yaitu serrated dan funnel. Pola

serrated di asosiasikan dengan endapan dep-marine slope yang umumnya

mengindikasikan lapisan tipis silang siur dengan shale. Terlihat dari perselingan

litologi batugamping dan shale. Pola funnel menunjukkan perubahan energi

pengendapan dari energi tingkat rendah ke energi tingkat tinggi. Perubahan ini

menghasilkan pola progradasi yang disebabkan oleh penurunan muka air laut.

Dengan nilai resistivity yang relative rendah dan berdasarkan litofasiesnya

diinterpretasikan termasuk fasies platform (Gambar 4.16)

Gambar 4.16 Elektrofasies sumur KF-1 (Fasies Lempung Interkalasi Tipis

Packstone)
56

 Fasies Bioklastik Wackstone (Interval 3590’-4158’)

Fasies ini memiliki pola kurva gamma ray berbentuk cylindrical yang

menunjukkan energi pengendapan yang cenderung sama dari tiap waktu.

Diinterpretasikan sebagai Keep-up Carbonate. Kondisi ini terjadi saat puncak

karbonat yang hidup terjaga didekat permukaan air laut dangkal (Walker,1992).

Dilihat dari pola kurva log resistivity yang menengah dan berdasarkan litofasiesnya

diinterpretasikan termasuk fasies platform (Gambar 4.17)

Gambar 4.17 Elektrofasies sumur KF-1 (Fasies Bioklastik Wackstone)


57

 Fasies Mudstone (Interval 4158’-4412’)

Fasies ini memiliki pola kurva gamma ray berbentuk serrated di asosiasikan

dengan endapan deep-marine slope yang umumnya mengindikasikan lapisan tipis

silang siur dengan shale. Dengan nilai resistivity yang relative rendah dan

berdasarkan litofasiesnya diinterpretasikan termasuk fasies platform (Gambar 4.18)

Gambar 4.18 Elektrofasies sumur KF-1 (Fasies Mudstone)

 Fasies Bioklastik Wackstone (Interval 4412’-4695’)

Fasies ini memiliki pola kurva gamma ray berbentuk cylindrical yang

menunjukkan energi pengendapan yang cenderung sama dari tiap waktu.

Diinterpretasikan sebagai Keep-up Carbonate. Kondisi ini terjadi saat puncak

karbonat yang hidup terjaga didekat permukaan air laut dangkal (Walker,1992).

Dilihat dari pola kurva log resistivity yang menengah dan berdasarkan litofasiesnya

diinterpretasikan termasuk fasies platform (Gambar 4.19).


58

Gambar 4.19 Elektrofasies sumur KF-1 (Fasies Bioklastik Wackstone)

 Fasies Bioklastik Packstone (Interval 4695’- 4875’)

Faises ini memiliki pola funnel menunjukkan perubahan energi pengendapan

dari energi tingkat rendah ke energi tingkat tinggi. Perubahan ini menghasilkan pola

progradasi yang disebabkan oleh penurunan muka air laut. Diinterpretasikan

sebagai Catch Up Carbonate (semakin keatas, klastik menuju karbonat). Dengan

nilai resistivity yang relative rendah dan berdasarkan litofasiesnya diinterpretasikan


termasuk fasies platform (Gambar 4.20).
59

Gambar 4.20 Elektrofasies sumur KF-1 (Fasies Bioklastik Packstone)

 Fasies Bioklastik Mudstone (Interval 4875’- 5195’)

Fasies ini memiliki 2 pola kurva gamma ray yaitu symmetrical dan funnel. Pola

symmetrical merupakan hasil dari reworked offshore buildup, dari regresif ke

transgresif. Pola funnel menunjukkan perubahan energi pengendapan dari energi

tingkat rendah ke energi tingkat tinggi. Perubahan ini menghasilkan pola progradasi

yang disebabkan oleh penurunan muka air laut. Diinterpretasikan sebagai Catch Up

Carbonate (semakin keatas, klastik menuju karbonat). Dengan nilai resistivity yang

relative rendah dan berdasarkan litofasiesnya diinterpretasikan termasuk fasies

platform (Gambar 4.21)


60

Gambar 4.21 Elektrofasies sumur KF-1 (Fasies Bioklastik Mudstone)

4.3.3 Elektrofasies Sumur TF-1

 Fasies Mudstone (Interval 728’- 3415’)

Fasies ini memiliki pola kurva gamma ray berbentuk serrated di asosiasikan

dengan endapan deep-marine slope yang umumnya mengindikasikan lapisan tipis

silang siur dengan shale. Terlihat dari perselingan litologi batugamping dan shale.
Dengan nilai resistivity yang relative rendah dan berdasarkan litofasiesnya

diinterpretasikan termasuk fasies platform.

4.4 Rekontruksi Arsitektur Fasies Karbonat

Arsitektur fasies karbonat (Tabel 4.5) merupakan salah satu cara untuk

mengetahui distribusi fasies yang berkembang pada batuan karbonat. Untuk


61

mengetahui arsitektur suatu tubuh batuan karbonat diperlukan analisa bertahap

terhadap keragaman fasies yang berkembang.

Tabel 4.5 Litofasies yang berkembang didaerah penelitian

No Fasies Interpretasi

1 Batugamping Bioklastik Paparan dalam terlindung dari laut terbuka


Packstone - Wackstone dengan energi pengendapan rendah, zona
inner sublitoral. Banyak mengandung
foraminifera bentonik dan kerangka
bioklastik.

2 Batugamping Bioklastik Paparan dalam terlindung dari laut terbuka


Mudstone dengan energi pengendapan rendah, zona
inner sublitoral. Banyak mengandung
foraminifera bentonik dan kerangka
bioklastik.

3 Batugamping Mudstone Paparan luar zona outer sublitoral – upper


bathyal, dengan energi pengendapan
menegah. Shallow open platform. Banyak
mengandung foraminifera plangtonik.

4 Batugamping Mudstone – Paparan luar zona outer sublitoral - upper


Wackstone Interkalasi bathyal, dengan energi pengendapan
Tipis Batulempung menegah, shallow open platform. Banyak
mengandung foraminifera plangtonik.

5 Batulempung Interkalasi Paparan luar zona outer sublitoral – upper


Tipis Batugamping bathyal, dengan energi pengendapan
Packstone
62

menegah. Shallow open platform. Banyak


mengandung foraminifera plangtonik.

6 Batugamping Bioklastik Paparan tengah – paparan luar, zona middle -


Wackstone outer sublitoral, banyak mengandung
foraminifera plangtonik dan fragmen
bioklastik.

7 Batugamping Bioklastik Paparan dalam – paparan tengah , zona inner


Wackstone – middle sublitoral dengan energi
pengendapan rendah. Open – restricted
platform. Banyak mengandung kerangka
bioklastik dan foraminifera bentonik

8 Batugamping Bioklastik Paparan dalam – paparan tengah, zona inner –


Packstone middle sublitoral dengan energi pengendapan
menegah. Shallow open platform. Banyak
mengandung foraminifera bentonik dan
mollusca.

9 Batugamping Bioklastik Paparan dalam – paparan tengah, zona iiner –


Mudstone middle sublitoral dengan energi pengendapan
rendah. Restricted platform. Banyak
mengandung fragmen bioklastik dan
foraminifera bentonik.

10 Batugamping Mudstone Paparan dalam – paparan tengah, zona inner –


middle sublitoral. Banyak mengandung
foraminifera bentonik

11 Batugamping Mudstone
Paparan dalam – daerah cekungan, zona inner
sublitoral – abyssal. Banyak mengandung
63

foraminifera besar, foraminifera plantonik dan

bentonik.

4.4.1 Fasies Pengendapan

Model pengendapan yang digunakan dalam penentuan fasies pengendapan

adalah model fasies paparan Reckman dan Friedman (1982). Dari beberapa model

pengendapan yang disebutkan diatas, menunjukkan batas yang berangsur pada

setiap perubahan fasies pengendapan. Dengan demikian maka batas fasies

pengendapan merupakan batas yang diperkirakan kedudukannya (Gambar 4.22).

Fasies pengendapan yang berkembang pada daerah penelitian dapat dibagi menjadi

4 fasies pengendapan berdasarkan model paparan Wilson (1975), yaitu:

1. Fasies A: Fasies Pengendapan Paparan Dalam (Inner Shelf Depositional

Facies)

Karakteristik yang ditunjukkan oleh fasies ini adalah tingkat kelimpahan

organisme yang tinggi didominasi foraminifera bentonik, serta kehadiran Milliolid

yang merupakan organisme yang berkembang dengan baik pada daerah lagoon.

Tekstur batuan didominasi oleh wackstone, packstone, dan mudstone. Pola log GR

umumnya symmetrical shaped kombinasi dari bentukan funnel & bell shaped.

Fasies ini diinterpretasikan berkembang pada daerah dengan energi rendah.

2. Fasies B: Fasies Pengendapan Paparan Tengah (Middle Shelf Depositional

Facies)
64

Fasies ini dikarakteristikkan dengan tingkat kelimpahan organisme

menengah, didominasi oleh foraminifera bentonik dan foraminifera plangtonik

dalam jumlah yang sedikit. Kehadiran Milliolid menunjukkan fasies ini terbentuk

di daerah sekitar lagoon. Tekstur batuan yang berkembang adalah wackestone,

packestone, dan mudstone. Log GR menunjukkan pola cylindrical & symmetrical

shaped. Fasies ini di interpretasikan terbentuk pada daerah sekitar lagoon

berhubungan dengan laut terbuka dengan energi rendah – menengah.

3. Fasies C: Fasies Pengendapan Paparan Luar (Outer Shelf Depositional


Facies)

Fasies pengendapan ini dikarakteristikan oleh melimpahnya kandungan

foraminifera plangtonik. Fasies ini memiliki tekstur yang beragam, pada beberapa

kedalaman menunjukkan perselingan dengan batu lempung karbonatan. Komposisi

utama terdiri dari kerangka bioklastik dan foraminifera besar. Respon log GR

membentuk pola cilyndrical dengan perubahan yang drastis pada batas atas dan

bawahnya. Fasies ini diinterpretasikan terbentuk pada daerah paparan luar dengan

energi menegah - tinggi dan berbatasan dengan laut terbuka (outer shelf

environment).

4. Fasies D: Fasies Pengendapan Cekungan (Basinal Depositional Facies)

Batuan yang berkembang pada fasies ini didominasi oleh Batugamping

(Mudstone) dan batulempung dengan kelimpahan dan keragaman foraminifera

plangtonik yang sangat tinggi. Fasies ini dikarakteristikkan dengan pola log GR

symmetrical shaped. Fasies ini terbentuk pada daerah dengan energi rendah pada

laut terbuka (basinal environment).


65

Gambar 4.22 Fasies Pengendapan Daerah Penelitian

4.4.2 Fasies Karbonat

Hasil analisa keseluruhan data menunjukkan hanya terdapat satu fasies

karbonat pada daerah penelitian yaitu Fasies Karbonat Platform (Carbonate

Platform Facies). Berikut adalah penjabaran fasies karbonat yang berkembang

didaerah penelitian :

a. Fasies pengendapan yang berkembang adalah fasies pengendapan paparan

dalam hingga cekungan. Tekstur batuan yang berkembang umumnya

wackstone, packstone dan mudstone, dengan komponen utama berupa

kerangka bioklastik.

b. Analisa biostratigrafi menunjukkan tingkat kelimpahan foraminifera

bentonik yang sangat tinggi pada fasies pengendapan paparan dalam –

tengah, dan kelimpahan foraminifera plangtonik yang sangat tinggi pada

fasies pengendapan paparan luar - cekungan.

c. Pola log GR umumnya menunjukkan Bell, Funnel, Cylindrical, dan

Serrated mencerminkan tingkat energi yang beragam.


66

4.5 Korelasi Stratigrafi

Korelasi merupakan suatu operasional geologi yang menhubungkan suatu

titik dari suatu penampang sumur dengan titik – titik lain yang mempunyai

kesamaan. Pada korelasi ini datum primer yang digunakan adalah lapisan penunjuk

kisaran umur batas awal Eosen Awal.

Menurut Tearpock dan Bischke (1991), korelasi dapat diartikan sebagai

suatu metode untuk membedakan unit stratigrafi yang ekivalen dalam segi waktu,

umur dan posisi stratigrafi. Korelasi yang digunakan dalam penelitian ini

menggunakan konsep kronostratigrafi yaitu zonasi atau umur, untuk membuat

visualisasi distribusi umum secara lateral Formasi Tonasa pada interval daerah

penelitian.

Korelasi sumur (Gambar 4.23) dilakukan pada tiga sumur dengan 1 lintasan

yaitu sumur BF-1, TF-1, dan KF-1, dengan sumur TF-1 dan KF-1 sebagai sumur

kuncinya. Sebelum melakukan korelasi, jalur lintasan korelasi dibuat terlebih

dahulu agar dapat diketahaui hubungan posisi antara satu sumur dengan sumur

lainnya serta jarak masing-masing antara sumur. Berikut jalur lintasan korelasi

sumur :
67

Gambar 4.23 Jalur lintasan korelasi daerah penelitian

Korelasi yang dilakukan memiliki arah pengendapan yang sama dengan

arah pengendapan yang menunjukkan arah relatif barat – timur, sehingga hasil dari

korelasi ini dapat mengidentifikasikan perubahan fasies secara lateral dengan

menggunakan data batuan inti. Hasil korelasi menunjukkan bagian barat daerah

penelitian merupakan daerah yang lebih rendah dibandingkan bagian timur daerah

penelitian. Pada bagian barat daerah penelitian diinterpretasikan sebagai relief asal

dari paparan karbonat didaerah penelitian. Sedangkan pada bagian timur daerah

penelitian menunjukkan penyebaran batugamping yang mulai diselingi dengan


68

batulempung menunjukkan semakin dalamnya kolom air. Berikut hasil korelasi

sumur daerah penelitian (Gambar 4.24):

Gambar 4.24 Korelasi fasies pengendapan daerah penelitian

4.6 Sejarah Pengendapan

Rekontruksi sejarah pengendapan memanfaatkan penampang korelasi yang

sudah ada, dan datum biostratigrafi (top Eose Awal) digunakan sebagai horizon

pengikat. Pembuatan rekontruksi berdasarkan fasies pengendapan dikarenakan

sifatnya yang fleksibel dan sesuai dengan kaidah-kaidah stratigrafi. Pada

prinsipnya, batuan sedimen akan terendapkan pada suatu setting geografis

(lingkungan pengendapan) dan kurun waktu tertentu, dimana batuan yang lebih tua

akan terendapkan lebih dahulu yang kemudian diikuti oleh batuan yang lebih muda

(superposisi). Penyebaran batuan secara lateral tidak akan berhenti secara

mendadak, melainkan secara bertahap. Dengan menggunakan metode ini dapat

dilihat perubahan penyebaran fasies pengendapan pada satu kurun waktu tertentu,

sehingga rekontruksi sejarah pengendapan dapat dilakukan (Gambar 4.25).


69

Gambar 4.25 Rekontruksi sejarah pengendapan

Rekontruksi 1 Pada sumur penelitian BF-1 dan TF-1 merupakan daerah

paparan dalam terlindungi. Kehadiran batugamping pada sumur BF-1 dan TF-1

yang kaya akan foraminifera bentonik serta miliolid menujukkan fasies ini

terbentuk didaerah lagoon.

Rekontruksi 2 pada sumur BF-1 merupakan daerah paparan terlindungi,

sedangkan pada bagian barat daerah penelitian merupakan daerah paparan dalam

hingga paparan tengah yang sudah berasosiasi dengan laut terbuka (sumur TF-1 dan

KF-1). Kenaikan muka air laut yang terjadi secara bertahap mengakibatkan semakin

luasnya penyebaran daerah yang berasosiasi dengan laut terbuka, hal tersebut

ditandai dengan meluasnya fasies pengendapan paparan tengah yang kemudian

menutupi fasies paparan dalam. Kandungan organisme yang berkembang


70

menunjukkan daerah sekitar lagoon yang kemudian mulai mengalami perubahan

menjadi daerah yang berasosiasi dengan laut terbuka.

Rekontruksi 3 pada tahap ini terjadi kenaikan muka air laut (transgresi)

yang mengakibatkan perubahan fasies pengendapan menjadi fasies pengendapan

paparan tengah hingga paparan luar (sumur TF-1 dan KF-1). Pada sumur TF-1 dan

KF-1 dapat terlihat batugamping berselingan dengan batulempung yang

mengandung foraminifera plangtonik dalam jumlah yang cukup melimpah. Hal ini

menunjukkan perubahan lingkungan pengendapan dari paparan tengah menjadi


paparan luar yang sudah sangat dipengaruhi oleh laut terbuka. Sementara pada

sumur BF-1 menunjukkan kondisi perkembangan fasies pengendapan paparan

dalam yang masih terus berlanjut.

Rekontruksi 4 pada tahapan ini air laut terus mengalami peningkatan yang

mengakibatkan semakin terendamnya daerah penelitian. Pada bagian barat daerah

penelitian menunjukkan karakteristik daerah paparan luar hingga daerah cekungan.

Dimana batuan yang berkembang sudah didominasi oleh batugamping bersisipan

dengan batulempung dengan melimpahnya kandungan foraminifera plangtonik.


BAB V

KESIMPULAN

Hasil pengolahan, interpretasi dan analisis data daerah penelitian

menghasilkan beberapa kesimpulan yang mengacu pada tujuan daerah penelitian

yaitu :

1. Terdapat tujuh fasies yang berkembang didaerah penelitian yaitu : fasies

bioklastik mudstone, fasies bioklastik packstone-wackstone, fasies mudstone,

fasies lempung interkalasi tipis packstone, fasies mudstone-wackstone

interkalasi tipis lempung, fasies bioklastik wackstone, dan fasies bioklastik

packstone.

2. Hasil interpretasi keseluruhan data menunjukkan batuan karbonat daerah

penelitian tersusun atas empat fasies pengendapan :

 Fasies Pengendapan Paparan Dalam (Inner Shelf Depositional

Facies)

 Fasies Pengendapan Paparan Tengah (Middle Shelf Depositional

Facies)

 Fasies Pengendapan Paparan Luar (Outer Shelf Depositional

Facies)

 Fasies Pengendapan Cekungan (Basinal Depositional Facies)

3. Hasil analisa keseluruhan data menunjukkan hanya terdapat satu fasies

karbonat pada daerah penelitian yaitu Fasies Karbonat Platform (Carbonate

Platform Facies). Berikut adalah penjabaran fasies karbonat yang

berkembang didaerah penelitian :

 Fasies pengendapan yang berkembang adalah fasies pengendapan

paparan dalam hingga cekungan. Tekstur batuan yang berkembang

71
72

umumnya wackstone, packstone dan mudstone, dengan komponen

utama berupa kerangka bioklastik.

 Analisa biostratigrafi menunjukkan tingkat kelimpahan foraminifera

bentonik yang sangat tinggi pada fasies pengendapan paparan dalam

– tengah, dan kelimpahan foraminifera plangtonik yang sangat

tinggi pada fasies pengendapan paparan luar - cekungan.

 Pola log GR umumnya menunjukkan Bell, Funnel, Cylindrical, dan

Serrated mencerminkan tingkat energi yang beragam.

4. Korelasi yang dilakukan memiliki arah pengendapan yang sama dengan arah

pengendapan yang menunjukkan arah relatif barat – timur, sehingga hasil

dari korelasi ini dapat mengidentifikasikan perubahan fasies secara lateral

dengan menggunakan data batuan inti. Hasil korelasi menunjukkan bagian

barat daerah penelitian merupakan daerah yang lebih rendah dibandingkan

bagian timur daerah penelitian. Pada bagian barat daerah penelitian

diinterpretasikan sebagai relief asal dari paparan karbonat didaerah

penelitian. Sedangkan pada bagian timur daerah penelitian menunjukkan

penyebaran batugamping yang mulai diselingi dengan batulempung

menunjukkan semakin dalamnya kolom air.

SARAN

1. Perlu dilakukannya permodelan karbonat untuk mengetahui perubahan

fasies tiap waktu secara mendetil.

2. Kelengkapan data sangat membantu dalam menganalisa data daerah

penelitian menjadi lebih detil.


DAFTAR PUSTAKA

Asquith, G.B., 1979. Subsurface carbonate depositional models: a concise review.

Boggs, Sam Jr., 1995, Principles of Sedimentology ang Stratigraphy, Prentice Hall,
USA

Dunham, Robert J. 1962. Classification of Carbonate Rocks According to


Depositional Textures, AAPG Memoir 1.

Firmansyah, D.P. and Dewi, I.K., Fasies Batugamping Formasi Paciran


Berdasarkan Data Biostratigrafi, Sedimentologi Dan Petrografi.

Folk, Robert L. 1974. Petrology of Sedimentary Rocks. Texas : Hemphill


Publishing Co.

Harsono, Adi., 1997, Evaluasi Formasi dan Aplikasi Log, Edisi-8, Schlumburger
Oilfield Services, Jakarta

Hsu, K. J. and Reijers, T. J. A., 1986, Manual of Carbonate Sedimentology: A


Lexigcographical Approach, Academic Press, London

Kartaadiputra, L.W., Ahmad, Z. and Reymond, A., 1982. Deep-sea basins in


Indonesia.

Kendall. 2003. Carbonate and Relatives Change in Sea Level. Mar. Geol. 44

Koesoemadinata, R., P., 1980, Geologi Minyak dan Gas Bumi, Institut Teknologi
Bandung, Bandung

LEMIGAS, 2005, Kuatifikasi Sumberdaya Hidrokarbon, Volume II Kawasan


Timur Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi dan Gas
Bumi LEMIGAS, Jakarta.

Longman, M., W., 1981, A Process Approach to Recognize Facies of Reef


Complexes, SEPM Special Publicatio No. 30, p. 9-40

73
74

PERTAMINA dan BEICIP FRANLAB, 1992, Global Geodynamics, Basin


Classification and Exploration Play-types in Indonesia, Volume I hal.81 – 82,
PERTAMINA, Jakarta.

PERTAMINA dan BEICIP FRANLAB, 1982, Petroleum Potensial of Eastern


Indonesia, hal 147 – 149, PERTAMINA, Jakarta.

Reeckmann, Anne. and Friedman, Gerald M., 1982, Exploration for Carbonate
Petroleum Reservoirs,

John Wiley & Sons, New York

Tearpock., D. J. and Bischke., R. E. 1991. Applied Subsurface Geological Mapping,


PTR, Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey

Thompson, M., Reminton, C., Purnomo, J. and Macgregor, D., 1991. Detection of
Liquid Hydrocarbon Seepage in Indonesian Offshore Frontier Basins Using
Airborne Laser Fluorosensor (ALF) the Results of a Pertamina/BP Joint
Study.

Tucker, Maurice, et al. 1990. Carbonate Sedimentology. Oxford : Blackwell


Science Ltd

Walker, R.G and James, P. Noel. 1992. Facies Models : Response to Sea Level
Change, 2nd ed., Canada : Geological Assosiation of Canada

Wilson, J.L., 2012. Carbonate facies in geologic history. Springer Science &
Business Media.

Anda mungkin juga menyukai